Jumat, 01 Desember 2017

LAZISNU Dirikan Posko Banjir

Jakarta, Haedar Nashir. Banjir besar yang melanda Jakarta telah menimbulkan penderitaan bagi banyak orang. Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU)  telah mendirikan posko banjir di gedung PBNU jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Posko buka selama 24 jam.

“Kami menerima bantuan apa saja yang bisa dibutuhkan oleh masyarakat yang menjadi korban banjir. Bantuan bisa berupa barang atau uang dan bisa ditransfer ke sejumlah rekening Lazis NU,” kata Direktur Lazis NU Amir Makruf.

LAZISNU Dirikan Posko Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Dirikan Posko Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Dirikan Posko Banjir

Informasi lebih lanjut dalam langsung menghubungi call center Lazis NU di 0813 9800 9800.

Haedar Nashir

Hari ini Lazis NU telah memberikan bantuan dan pengobatan massal kepada korban banjir di Pandeglang Banten.

Haedar Nashir

“Bantuan yang diberikan akan kami distribusikan secepatnya kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Amir.

Ia menjelaskan, untuk proses evakuasi, Lazis NU percaya pemerintah bersama aparat TNI dan Polri akan mampu mengatasi. Lazis NU akan konsentrasi pada proses recovery baik di pengungsian atau pemberian bantuan pasca banjir.

 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Tegal Haedar Nashir

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) SMK Raudlatul Malikiyah Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo menggelar lomba paduan suara dan lomba puisi, Rabu (11/11).

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Raudlatul Malikiyah Gelar Lomba Paduan Suara dan Puisi

Lomba yang digelar sejak pagi hari ini diikuti oleh seluruh siswa SMK Raudlatul Malikiyah. Satu persatu perwakilan setiap kelas menampilkan kelompok paduan suaranya dan membawakan puisi hasil karyanya.

“Lomba ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan bangsa yang telah gugur berjuang melawan penjajah sekaligus meneladani perjuangannya yang tidak pantang menyerah supaya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ketua PK IPPNU SMK Raudlatul Malikiyah Sri Wahyuni.

Haedar Nashir

Menurut Sri Wahyuni, lomba paduan suara dan lomba puisi ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang diberikan oleh generasi muda akan perjuangan yang dilakukan para pahlawannya.

“Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ini merupakan salah satu bentuk penghargaan yang kami berikan atas pengorbanan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk meraih kemerdekaan dari tangan penjajah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Melalui lomba ini Sri Wahyudi mengharapkan agar dari diri para pelajar ini nantinya tumbuh semangat patriotisme dan nasionalisme untuk bersama-sama mengisi pembangunan.

“Salah satu bentuk nyata dari pelajar dalam mengisi pembangunan adalah belajar demi menggapai cita-cita. Semoga nilai-nilai kepahlawanan ini bisa terus terpatri agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, AlaNu, Olahraga Haedar Nashir

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari

Makassar, Haedar Nashir. Puluhan Anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dipimpin Kasatkornas H Alfa Isnaeni ziarah ke makam pahlawan Indonesia sekaligus Afrika Selatan (Afsel), Syekh Yusuf Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama sufi asal Sulawesi Selatan yang menyebarkan agama Islam di Afrika, Rabu (29/3).

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)
Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari (Sumber Gambar : Nu Online)

Dipimpin Kasatkornas, Banser Ziarah ke Makam Syekh Yusuf Al-Makassari

"Menjadi keharusan bagi kami untuk mendoakan dan meneladani sosok pahlawan dan ulama Nusantara yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kultural, bukan gaya sok dan paling benar," ujar Alfa Isnaeni.

Setelah diasingkan pemerintah kompeni, Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani yang lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 berupaya membawa misi Islam di Afrika Selatan. Pengajar Tarekat Khalwatiyah itu wafat di Cape Town, Afrika Selatan, 23 Mei 1699.

Atas jasanya menyebarkan Islam tanpa membedakan warna kulit, Syekh Yusuf tidak saja dikenang masyarakat Afsel dengan pemberian gelar As-salam. Pemerintah Afsel secara resmi juga menetapkan Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional pada 23 September 2005. Adapun di Indonesia, keputusan penetapan Pahlawan Nasional bagi Syekh Yusuf pada 9 November 1996.

Haedar Nashir

Makam terakhir Syekh Yusuf yang diberi gelar masyarakat seempay Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan guru penyelamat kita dari Gowa) itu berada di perbatasan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar, terletak di kompleks berada di tepi jalan raya.

Sekitar 15 menit, puluhan anggota Banser yang berasal dari 19 provinsi di Indonesia, berhimpun di areal makam dengan bagian atap berbentuk kubah untuk mendoakan Syekh Yusuf. (Gatot Arifanto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Haedar Nashir

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu

Subang, Haedar Nashir. Diantara misi yang dibawa oleh Rasulullah SAW ke alam dunia ini adalah mengangkat derajat wanita yang pada saat itu tidak ada harga dirinya. Sehingga Rasulullah menyampaikan ajaran kepada umat Islam untuk selalu taat, patuh dan menghormati kepada kedua orang tua terlebih lagi kepada seorang ibu.

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Maulid NU Subang: Hormati Orang Tua, Patuhi Ibu

Demikian disampaikan KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Kabupaten Subang, Jawa Barat saat mengisi kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diprakarsai oleh Jamaah Jimat (Pengajian Malam Jumat) di Desa Rancabango, Patokbeusi, Subang, Kamis (28/12) malam

Dikatakan Kiai Musyfiq, Ibu merupakan sosok penting dalam lingkungan keluarga khususnya dalam rangka melaksanakan proses pendidikan bagi anak, karena melalui kreatifitas seorang ibu, anak bisa menjadi sholeh dan berguna bagi umat manusia dan ataupun bisa juga malah sebaliknya.?

Untuk menguatkan argumentasi tersebut, Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengutip kisah yang ada di dalam Al-Quran.

Haedar Nashir

"Kita lihat kisah Nabi Musa, beliau hidup dan dibesarkan di lingkungan istana Firaun yang kafir bahkan dia sendiri mengaku sebagai Tuhan, tapi kenapa Nabi Musa malah menjadi anak shaleh bahkan diangkat menjadi Nabi?" tanya Kiai Musyfiq yang kemudian langsung disampaikan jawabannya.

Nabi Musa, lanjut Kiai Musyfiq, menjadi anak yang shaleh karena mendapat pendidikan dari seorang ibu angkat bernama Asiyah binti Muzahim, walaupun pada saat itu ia menjadi Istri Firaun yang dzalim, namun Asiyah mempunyai budi pekerti yang luhur sehingga ia berhasil mendidik dan membesarkan Nabi Musa menjadi seorang anak yang shaleh.

"Sebaliknya kita bisa lihat pada kisah Kanan putera Nabi Nuh, walaupun Kanan hidup di lingkungan seorang Nabi tetapi dia malah durhaka kepada ajaran yang dibawa oleh ayahnya sendiri, itu terjadi karena Kanan mendapat pendidikan dari seorang ibu yang tiada lain adalah istri Nabi Nuh yang durhaka dan tidak beriman kepada ajaran yang dibawa oleh suaminya sendiri,” tegasnya.

Haedar Nashir

Kiai Musyfiq pun menambahkan, sosok ibu dalam keluarga bisa dikatakan cukup penting dalam menentukan kepribadian seorang anak, untuk itu ia berpesan kepada para ibu agar senantiasa selalu mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik supaya bisa menghasilkan generasi muslim yang sholeh, beriman, kuat dan bermartabat. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Kajian Haedar Nashir

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita

Oleh Chepry Hutabarat



“… Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur kecuali Surga.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Haji Mabrur dan Kesalehan Sosial Kita



Pada hakikatnya seluruh ibadah-ibadah yang diwajibkan atas manusia oleh Allah SWT adalah sebuah sarana untuk melatih kepekaan manusia atas keadaan di lingkungan sosialnya. Seperti shalat misalnya, dalam anjuran shalat berjamaah terkandung sebuah makna tentang bagaimana sikap seorang pemimpin (imam) dan orang yang dipimpin (makmum). Begitu pun ibadah zakat dan berpuasa, di dalamnya sarat dengan kandungan moral sosial. Puasa dan zakat adalah sarana untuk melatih dan membangun kepekaan sosial kita selaku umat Muslim atas apa yang dirasakan oleh mereka yang kehidupannya kurang beruntung. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana dengan ibadah haji?

Seperti ibadah-ibadah lainnya, ibadah haji juga adalah sebuah praktik olahraga dan olah spiritual guna menjadikan kita melek atas kenyataan sehari-hari yang kita alami di sekitar kita selama hidup. Haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi umat Muslim sedunia. Keutamaan ibadah haji salah satunya tercermin dari sabda Rasulullah, “Sebaik-baik amal ialah; Iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, kemudian jihad fi sabilillah, kemudian haji mabrur.” Keberadaan haji sebagai ritual keagamaan pada akhirnya bertujuan untuk membuang sifat kebinatangan yang ada di dalam diri manusia, setelah melaksanakan haji diharapkan manusia menjadi lebih bersih dan suci.

Haedar Nashir

Makna dari kata hilangnya sifat kebinatangan di dalam diri manusia dan menjadi pribadi yang lebih baik dan bersih inilah yang disebut sebagai mabrur dalam terminologi haji. Dilihat dari akar katanya, kata “mabrur” berasal dari kata “barra” yang berarti berbuat baik dan patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata “birrun, al-birru” yang artinya kebaikan. Berangkat dari pemahaman ini, kita seharusnya menyadari dengan penuh, bahwasannya ibadah haji merupakan momentum bagi setiap pribadi Muslim untuk lebih meningkatkan kepedulian mereka atas lingkungan sekitarnya. Hal ini juga berarti, jika setelah melaksanakan ibadah haji seseorang tidak meningkat kesalehan sosialnya, maka dapat dikatakan bahwa ibadah haji yang telah dilaksanakanya belum berhasil atau haji yang mardud (ditolak).

Haedar Nashir

Ibadah haji oleh para ulama ditempatkan sebagai rukun Islam yang kelima. Haji menjadi rukun terakhir ibadah seorang hamba pada Tuhan. Ibadah haji yang dilaksanakan atas dasar istitha’ah (mampu) ini jangan direduksi maknanya. Kata mampu (istitha’ah) bagi sebagian besar umat Muslim (di Indonesia khususnya), hanya diartikan sebagai kemampuan secara materi. Kita cenderung menghilangkan bahwa kata mampu juga bermakna kemampuan kita secara spiritual. Pemahaman yang parsial inilah yang menyebabkan ibadah haji seperti hilang hakikat spiritual dan fungsi sosialnya. Mereka yang berangkat haji, hanya menjadikan kemampuan materi sebagai standar untuk menjalankan ibadah haji. (Taufik Abdullah:1989)

Wajar jika di negeri ini banyak koruptor yang menggunakan uang hasil korupsinya untuk berhaji, dan hasilnya adalah tidak ada kesinambungan batiniyah yang berakibat langsung pada kehidupan sosial pasca mereka pulang dari berhaji. Sejatinya, sebagai rukun Islam terakhir, haji menjadi semacam perayaan dari perjalanan ruhaniah yang begitu panjang, yang dilakukan oleh umat Muslim. Ini menekankan kepada kita bahwa ibadah haji merupakan tahap akhir sekaligus titik awal bagi diri kita (kesalehan individual) menuju pribadi Muslim yang lebih baik sekaligus mampu memberikan kebaikan kepada orang lain (kesalehan sosial). (Amirul Ulum: 2015)

Kesalehan Sosial

Terdapat sebuah kisah tentang makna sosial haji yang terkenal dalam tradisi sufi. Alkisah ketika sedang menjalankan ibadah haji, ada seseorang yang tertidur ketika sedang melakukan wukuf di tengah panasnya padang Arafah. Dalam tidurnya seseorang itu kemudian bermimpi berjumpa dengan Rasulullah SAW. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan kekasih Allah SWT yang tidak tiap orang dapat menjumpainya, ia kemudian memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah. “Wahai kekasih Allah SWT, siapakah di antara kami semua yang sedang melaksanakan haji ini, diterima ibadahnya dan menjadi haji yang mabrur oleh Allah SWT?” Rasulullah SAW kemudian dengan nada berat menjawab “Tak seorang pun dari kalian yang diterima hajinya, kecuali seorang tukang cukur tetanggamu”. Mendengar jawaban dari Baginda Rasululah SAW, orang tersebut termenung, betapa tidak, ia sadar bahwa tukang cukur yang dimaksud adalah tetangganya yang miskin dan tidak pergi berhaji saat ini.

Tak lama kemudian ia terbangun, dan dengan perasaan gundah gulana, ia merenung mencari makna di balik mimpi yang dialaminya itu. Sekembali dari Mekkah, segera ia menemui tukang cukur yang dimaksud Rasulullah SAW dalam mimpinya itu. Ia menceritakan segala pengalaman selama berhaji dan pengalaman spiritual lewat mimpi yang dialaminya itu. Lantas ia akhirnya bertanya pada tukang cukur itu, “Amalan dan ibadah apakah yang telah anda lakukan, sehingga Baginda Rasulullah SAW mengatakan bahwa anda telah menjadi haji yang mabrur?”

Mendapati cerita dan pertanyaan dari tetangganya itu, si tukang cukur kemudian terharu dan sujud syukur, kemudian dia menjelaskan bahwa sebenarnya ia telah lama mengidamkan untuk menunaikan ibadah haji. Bertahun-tahun ia menabung guna mewujudkan cita-citanya itu, dan pada saat tabungannya telah cukup untuk berangkat haji, bersiap-siaplah ia untuk berangkat melaksanakan haji. Tapi kemudian, belum lagi ia berangkat, ia mendapat kabar bahwa salah seorang tetangganya tertimpa musibah: seorang anak yatim sedang sangat membutuhkan pertolongan guna pengobatan atas sakit parah yang dialaminya. Mendapati kenyataan tersebut, ia kemudian mengurungkan niatnya untuk haji, dan menyumbangkan seluruh tabungannya guna menyelamatkan anak yatim tetangganya itu. (Said Agil Siroj: 2015)

Mendengar cerita si tukang cukur itu, orang yang baru selesai melaksanakan haji itu kemudian tertunduk malu. Ia sadar, kita kadang begitu mengebu-gebu dalam mencari ridha Allah SWT, dan karenanya menutup mata kita atas apa yang terjadi atas diri orang lain. Ibadah-ibadah kita kemudian menjadi tidak suci lagi, karena di dalamnya tersemat egoisme, ditumpangi nafsu dan jauh dari hakikat ibadah itu sendiri, yaitu rahmatan lil’alamin.

Berangkat dari cerita di atas, kita seharusnya belajar, untuk kembali memaknai ibadah haji yang selama ini kita pahami. Ibadah haji dalam konteks hari ini, sangat naïf jika hanya dipandang sebagai ritual keagamaan yang sifatnya individual, kita harus juga mampu menjadikan haji sebagai ibadah sosial. Di dalam ritual haji, semua umat Muslim menjadi sama, tidak ada yang membedakan secara tampilan fisik satu sama lain. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa kita sebagai umat manusia pada satu titik adalah satu. Ke-satu-an di tengah pluralitas inilah yang seharusnya kita maknai untuk saling peduli dan memperhatikan satu sama lain. Pernahkah kita terpikir, di saat ratusan ribu umat Muslim di negeri ini melaksanakan ibadah haji, di sisi yang lain kebodohan dan kemiskinan masih juga menjadi masalah terbesar di republik ini. Terlebih kepada mereka yang melaksanakan haji lebih dari sekali, hal ini sungguh memilukan. Alangkah zalimmnya perbuatan tersebut. Di tengah krisis perekonomian negeri ini, masih begitu banyak yang umat Muslim yang tertutup pintu hatinya, semata hanya mengejar derajat kesalehan individualnya semata dengan berangkat berhaji. Alangkah bijak dan mabrurnya mereka yang menunda ritual haji mereka, kemudian menyumbangkan uang dan bekal untuk berhaji mereka guna kemaslahatan orang banyak.

Pada akhirnya penulis berharap agar kita terus memaknai keberadaan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Semoga dengan adanya ibadah haji yang tiap tahun dilaksanakan ini, mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan kesalehan individual kita menuju kesalehan sosial, karena sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Wallahu’alam.

Referensi

Shahih at-Targhib, No. 1096

Taufik Abdullah, Islam Dan Pembentukan Tradisi di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, Cet. I, hlm. 58.

Amirul Ulum, Muassis Nahdhatul Ulama, Yogyakarta: Pustaka Musi, 2015, Cet I, hlm 45.

Baca KH said Agil Siroj, “Urgensi Kajian Islam Nusantara” dalam Harianto Oghie dan Fatkhu Yasik (ed.), Islam Nusantara: Meluruskan Kesalahpahaman, Jakarta: LP Ma’arif Pusat, 2015, Cet. I, hlm. 29.

* Penulis adalah Founder #PoskoNoesantara; tinggal di Sukarame, BandarlampungDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

Pamekasan, Haedar Nashir. Sekitar 70 kader Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menerangi Kota Pamekasan dengan seratus obor. Tak hanya itu, untuk menyambut tahun baru Hijriyah tersebut, mereka menabuh rebana pada Senin (4/11) malam.

Mahasiswa mahasiswi itu mulai bergerak dari Kantor PC PMII di Jalan Brawijaya. Kemudian beriringan menuju monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan. Mereka mengelilingi monumen itu sembari membuat lingkaran. Di sini, dilakukan orasi kebangsaan secara bergantian. Istighasah juga didengungkan guna mendoakan para pejuang Islam di gugur di Pamekasan.

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pamekasan Nilai Umat Lupakan Visi Hijriyah

“Arek Lancor ini, merupakan salah satu monument bersejarah. Di sinilah tak sedikit para pejuang Islam mati di medan laga melawan para penjajah,” ungkap Ketua Umum PC PMII Pamekasan, Didik Ahmad.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, umat Islam selama ini cenderung memaknai hijrah sebatas pada tataran tekstual dan konseptual saja. Hijrah lebih dipahami sebagai fenomena historis yang muaranya pudar seiring perkembangan zaman.

“Kesesuaian dari uraian tersebut bisa dikait-hubungkan pada kebiasaan umat Islam ketika menyambut perubahan kalender Hijriyah yang lebih menitiktekankan pada "sambutan seremonial" daripada "sambutan substansial". Akibatnya, ruh dari fenomena hijrah kian tak terasa dalam kehidupan nyata,” terang Didik.

Haedar Nashir

Bila dicermati, katanya, hijrah memiliki visi reformatoris dalam konteks kehidupan sosio-kultural yang melampaui batas ruang dan waktu. Visi reformatoris tersebut terbukti dengan lahirnya Piagam Madinah yang jadi landasan kehidupan bersama masyarakat yang dipimpin Nabi Muhammad di Madinah. Piagam itu muncul sebagai bagian dari agenda besar fenomena hijrahnya Nabi beserta umatnya.

“Ada banyak mutiara hikmah yang bisa digali dari Piagam Madinah tersebut untuk kemudian dikontekstualisasikan ke dalam berbagai kehidupan di era saat ini. Di antara isi Piagam Madinah yang sangat menarik direnungkan di tengah kehidupan globalisasi ini adalah pertama, pentingnya memelihara kehidupan bersama, gotong royong dalam memecahkan berbagai problematika kehidupan yang dihadapi,” ungkap Ketua KOPRI Pamekasan, Zahratun.

Mahasiswi akhir Universitas Islam Madura (UIM) melanjutkan, setiap warga berkewajiban untuk menjaga dan mempertahankan teritorial dan keamanan komunitas atau negaranya dari agresi negara lain yang berusaha untuk mencampuri dan atau menguasainya.

Ia melanjutkan, pentingnya sikap keterbukaan merupakan visi reformatoris yang ketiga. Dan yang keempat adalah kebebasan menganut suatu agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

“Visi reformatoris hijrah tadi tentu sangat penting untuk diapresiasi dalam segala zaman. Jauh sebelum negara-negara modern kini mendeklarasikan pentingnya kebebasan beragama, melalui Piagam Madinah, sejatinya Nabi telah menyemaikan satu pesan abadi terbentuknya pilar-pilar kehidupan masyarakat yang berperadaban (civil society),” tukas Zahroh, panggilan akrab Zahratun.

Dalam konteks tersebut, sela Sudarsono, aktivis PMII lainnya, visi reformatoris hijrah itu menjadi sangat penting untuk direnungkan serta dikontekstualisasikan dalam rangka menciptakan masyarakat yang berperadaban. Tentu saja, masyarakat berperadaban itu tercapai manakala visi reformatoris hijrah bisa diterjemahkan ke dalam berbagai sisi kehidupan: social, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.

“Dalam arti kata, prinsip-prinsip hijrah tersebut mesti ditarik ke dalam universalitas kehidupan sehingga bisa mewarnai hingga masyarakat berperadaban yang dicitakan sebagai masyarakat ideal menjadi kenyataan,” tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Warta Haedar Nashir

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Tehran, Haedar Nashir. Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki mengungkapkan bahwa era senjata nuklir saat ini sudah berakhir karena sudah tidak lagi bisa membawa perubahan dan mengatasi berbagai krisis.



Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

Menlu Iran: Era Senjata Nuklir Sudah Berakhir

Pernyataan itu dikemukakan Mottaki dalam sebuah pertemuan dengan Ketua Standing Committe Masalah Luar Negeri Norwegia Olan Akselsen di Tehran, Selasa (26/6).

"Program nuklir Iran adalah untuk tujuan damai," terang Mottaki dalam pembicaraannya dengan Akselsen.

Haedar Nashir

Mottaki mengatakan, kerjasama antara pemerintah Iran dan Norwegia adalah untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Haedar Nashir

"Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Iran selalu mengutamakan dialog dan tidak mempunyai catatan sebagai bangsa yang arogan dan melakukan agresi terhadap negara-negara lain," kata Mottaki.

Menlu itu juga mengatakan bahwa setidaknya 130 rencana penanganan krisis di Palestina telah mengalami kegagalan selama 60 tahun terakhir ini karena kurangnya perhatian terhadap akar-akar masalah penyebab krisis.

Mottaki menunjuk adanya upaya-upaya yang sengaja dibuat yang menyebabkan perpecahan di Lebanon dan mengatakan bahwa "sebuah pengertian di antara kelompok-kelompok di Lebanon akan menjadi satu-satunya solusi atas krisis di negara tersebut."

Dia mengingatkan bahwa tindakan-tindakan teroris saat ini dapat menjadi bagian dari sebuah konspirasi besar yang digunakan untuk menebarkan ketidakamanan di kawasan.

Mottaki mendesak Eropa segera memainkan peranan yang lebih aktif di Lebanon. Demikian sumber Irna melaporkan.

Sementara itu, Akselsen menekankan pentingnya meningkatkan saling pengertian mengenai Islam dan Barat, dan mengatakan upaya ini adalah salah satu agenda dari kepentingan kedua negara.

Anggota parlemen Norwegia itu meminta Iran untuk mempengaruhi kelompok-kelompok Lebanon guna mengatasi krisis di negara tersebut. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Khutbah, RMI NU Haedar Nashir