Minggu, 31 Desember 2017

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Jombang, Haedar Nashir - Terhitung sebulan, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Karanglo, Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur berdiri. Saat ini sejumlah pengurus sedang menyiapkan momen pelantikan untuk pengesahan.

Namun, meski belum dilantik, para Pengurus Ranting IPNU-IPPNU Karanglo mulai membangun keakraban dengan masyarakat dengan cara membudayakan silaturrahim kepada warga dan sejumlah tokoh masyarakat.

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanglo Bersilaturahim dengan Pelajar dan Masyarakat

Salah satu pengurus IPPNU Ranting Karanglo Izzatul Mufidati menuturkan, sejak sepekan lalu, dirinya dan pengurus yang lain berkeliling desa mendatangi beberapa kediaman tokoh masyarakat. Hal itu untuk meminta mereka berkenan menjadi pembina IPNU-IPPNU Ranting Karanglo.

"Tanggal 20 Januari lalu, saya dan pengurus lainnya sowan ke rumah Pak Hadi, salah satu tokoh masyarakat di desa untuk merunding beliau menjadi pembina sekaligus meminta saran," tuturnya, Kamis (26/1).

Haedar Nashir

Dijelaskan Izzah, setiap pengurus mengunjungi beberapa tokoh masyarakat, ia mengaku selalu direspon positif dan diberikan saran positif pula. "Kalau sulit, jangan patah semangat, karena pasti ada jalan lain," kata Izzah menirukan ucapak Pak Hadi saat itu.

Haedar Nashir

Prihal sama juga didapati pengurus saat bersilaturrahim kepada tokoh masyarakat yang lain. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Meme Islam, Lomba Haedar Nashir

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan

Sukoharjo, Haedar Nashir. Sebanyak 150 anggota GP Ansor dan Fatayat NU se-Solo Raya mengikuti sosialisasi empat pilar kebangsaan di Rumah Aspirasi, Kartasura, Sukoharjo, Kamis (21/4) kemarin. ?

Dalam sosialisasi tersebut Anggota DPR RI, Mohammad Toha mengatakan, nilai-nilai perjuangan dan rasa nasionalisme harus terus dihidupkan terutama bagi generasi muda saat ini. Hal ini sangat penting untuk mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia.

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Fatayat NU Soloraya Ikuti Pelatihan 4 Pilar Kebangsaan

"Sebagai Banom dari organisasi terbesar seperti NU, mempertahankan NKRI adalah harga mati. Para pejuang bangsa ini, sudah mengorbankan harta dan nyawa untuk negara kesatuan Republik Indonesia. Untuk itu, perjuangan mereka harus dilanjutkan," kata anggota DPR dari Fraksi PKB ini sambil berharap GP Ansor dan Fatayat bisa menjadi pengawal utuhnya NKRI.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa sangat penting memberikan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan. Sehingga masa depan bangsa akan lebih tegak dan kokoh dalam menuju cita-cita proklamasi.

Sementara itu pengasuh Pesantren Al-Muayyad Windan, M. Dian Nafi yang menjadi salah satu nara sumber dalam seminar tersebut menjelaskan tentang keadilan sosial. Baginya bangsa Indonesia perlu bersyukur karena keadilan merupakan pondasi yang ditegaskan di dalam dasar negara dan dijabarkan ke dalam peraturan perundang-undangan yang ditetapkan.

"Keadilan sosial merupakan penghargaan negara atas kenyataan kodrati manusia yang dianugrahi daya cipta dan fasilitas kehidupan untuk menjaga harkat dan membangun martabat dirinya," jelasnya.

Haedar Nashir

Kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan tersebut diselenggarakan oleh MPR RI bekerjasama dengan Lembaga Pelatihan Pendidikan Latihan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPLPM) Madani dan Kesbangpolimas Kabupaten Sukoharjo.? (Mashri/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, IMNU, Humor Islam Haedar Nashir

Jejak Gus Dur di Pulau Flores

Oleh Didik Fitrianto. Mantan presiden Indonesia yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Flores selain Bung Karno adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sikap Gus Dur yang selalu menyerukan perdamaian dan toleransi mempunyai kesamaan dengan nafas orang Flores yang sangat mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Bagi masyarakat Flores Gus Dur bukanlah sekadar mantan presiden tetapi juga tokoh yang menjadi panutan dan referensi soal kehidupan beragama yang belum tergantikan sampai saat ini, terutama pembelaan beliau terhadap kaum minoritas dan tertindas

Jejak Gus Dur di Pulau Flores (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Gus Dur di Pulau Flores (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Gus Dur di Pulau Flores

Tidak banyak catatan mengenai perjalanan Gus Dur di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tetapi ‘jejak’ Gus Dur tentang konsistensinya akan perdamaian, toleransi, dan pembelaannya terhadap kaum minoritas begitu ‘membekas’ di hati saudara-saudara kita di Pulau Flores. Dalam kunjungan penulis di berbagai pelosok Flores saat mendiskusikan tentang perdamaian dan toleransi antar umat beragama dengan berbagai lapisan masyarakat, nama Gus Dur selalu disebut-sebut. Perbendaraan kata yang selalu muncul saat nama Gus Dur disebut adalah tokoh sederhana, tulus dan pemberani. Ketika penulis bertanya mengapa Gus Dur? Jawab mereka karena Gus Dur adalah tokoh muslim yang selalu membawa kedamaian, sepanjang hidupnya baik melalui perkataan, tindakan, maupun? kebijakannya saat menjadi presiden beliau tidak pernah menyakiti kami.

Pada tahun 2005 Gus Dur pernah mengunjungi kota Maumere, salah satu kota di Flores, di kota yang mempunyai julukan nyiur melambai ini Gus Dur melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, sekolah calon Pastor terkemuka dan disegani di Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Gus Dur bertemu untuk berdialog dengan para calon Pastor yang kelak akan ikut andil merawat kebhinekaan di republik ini, Gus Dur percaya membangun toleransi di Indonesia yang penuh keberagaman salah satunya dengan jalan dialog yang tulus. Gus Dur meyakini toleransi tidak akan terwujud apabila kecurigaan selalu ada diantara umat beragama, untuk itu membangun kepercayaan dan dialog tanpa henti selalu disuarakan Gus Dur dimanapun beliau berada.

Haedar Nashir

Mencari jejak Gus Dur berupa prasasti maupun monumen tidak akan kita temukan di Pulau Flores. Tetapi akan banyak kita temukan “jejak” Gus Dur di hati dan ingatan masyarakat Flores untuk mengenang sosok yang sangat mencintai perdamaian ini. Pribadi? Gus Dur yang sederhana, terbuka dan tanpa basa-basi membuat ketokohan Gus Dur selalu dikenang, dicintai dan dihormati. Toleransi di Pulau Flores harus kita akui sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Gus Dur lahir, tetapi apa yang dilakukan beliau untuk mewujudkan kehidupan beragama yang saling menyanyangi dan melindungi memperkuat keyakinan masyarakat di Pulau Flores bahwa toleransi adalah budaya agung yang mereka miliki yang harus dipertahankan sampai kapan pun.

Haedar Nashir

Tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan di Indonesia menurut Gus Dur bisa terwujud apabila fondasi dalam kehidupan bermasyarakat kokoh. Salah satu fondasi yang menjadi perhatian Gus Dur adalah Pluralisme dan kebhinekaan. Gus Dur menyadari Indonesia dibangun diatas keanekaragaman agama, suku dan bahasa. Untuk itu sepanjang hidupnya beliau mendedikasikan waktunya untuk merawat dan menjaganya demi keutuhan bangsa. Walaupun terkadang apa yang dilakukan Gus Dur tersebut menuai kecaman dan penolakan dari sebagian umat Islam sendiri yang menganggap apa yang dilakukan beliau bertentangan dengan ajaran Islam. “Gitu aja kok repot” kata Gus Dur untuk menanggapi serangan dari orang-orang yang dangkal dalam berpikir. Bagi Gus Dur ada dua acuan untuk mengawal pluralisme dan kebhinekaan, yaitu konstitusi dan subtansi nilai-nilai keislaman luhur. Yaitu Islam yang berorientasi pada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Di Pulau Flores Gus Dur mendapatkan realitas kehidupan masyarakatnya yang menunjukkan nilai-nilai Islami walaupun mayoritas adalah non muslim. “Ra’aitul Islama dunal muslimin, wa ra’aitul muslimin dunal islam” yang artinya, “Nilai-nilai Islami terlihat di tengah masyarakat nonmuslim, sementara umat Islam hidup tanpa nilai-nilai Islam” pernyataan cendikiawan? muslim Muhammad Abduh tersebut menjadi relevan dengan apa yang dirasakan Gus Dur di Pulau Flores.

Mungkin agak berlebihan tetapi pengalaman penulis selama lima tahun berinteraksi dengan masyarakat Flores merasakan hal sama di mana toleransi dan penghormatan akan kebhinekaan menjadi urat nadi masyarakatnya. Gus Dur dan Pulau Flores memiliki ikatan batin yang sangat kuat, di pulau ini Gus Dur menemukan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan dari berbagai keyakinan dan kepercayaan. “Jejak” Gus Dur tentunya akan terus dikenang tidak hanya di tanah Flores tetapi di semua tanah yang selalu menyerukan perdamaian.

* Penulis adalah Gusdurian, bekerja di Wetlands International Indonesia, tinggal di Maumere-Flores, NTT

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Kajian, Hikmah Haedar Nashir

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Jakarta, Haedar Nashir - Pelajar NU Lamongan merespon segera arahan pengurus Nahdlatul Ulama terkait pemutaran film Kalam-Kalam Langit. Mereka menggelar acara nonton bareng film bermuatan pendidikan itu. Mereka mencoba mengapresiasi produksi film yang mengangkat tradisi pesantren ke layar lebar.

Ketua IPNU Lamongan Muhlisin menjelaskan bahwa film ini sangat mendidik karena mengangkat budaya pendidikan pesantren yang selama ini menjadi cirri khas pendidikan warga NU. Tak hanya itu, film karya sutradara Tarmidzi Abka ini bercerita tentang kisah kearifan masyarakat yang berdasarkan naungan pesantren dan nilai-nilai Islam yang kuat serta nilai-nilai budaya yang ada di wilayah Lombok Barat.

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Lamongan Apresiasi Film Kalam-Kalam Langit

Film ini menceritakan seorang pemuda yang gigih dalam belajar memahami dan menghafalkan Al-Qur’an hingga mahir dalam qira’atul Qur’an. Hanya sayangnya niat itu ditentang oleh ayahnya yang selalu member peringatan agar tidak memperjualbelikan kalam-kalam Illahi demi mendapatkan popularitas di kawasan pesantren.

Haedar Nashir

Lebih menarik lagi film ini melibatkan KetuaUmum NU KH Said Aqil Siroj.

“Lewat nonton bareng ini kami ingin mengajak seluruh kader dan warga NU khususnya untuk ikut mengapresiasi film ini. Ini karya kader NU. Kalau tidak kita yang mengapresiasi, lalu siapa lagi?” pungkas Muhlisin. (Red Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Kyai, Budaya Haedar Nashir

Sabtu, 30 Desember 2017

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Demak, Haedar Nashir. “Lihatlah, lihatlah tukang rosok itu. Dia tetap berusaha untuk makan meski keadaan sudah sangat menghawatirkan. Hanya tukang rosok itu yang? tidak mengeluh dengan keadaan desa ini.”

“Ini bukan masalah mengeluh ataupun sabar menghadapi ujian, Pak Bob. Masalah ini menyangkut warga saya. Saya bertanggung jawab dengan keadaan ini, Pak Bob.”

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpisahan, Santri Futuhiyah Pentaskan Teater

Itulah sepenggal adegan dialog dari lakon "Hujan di Ujung Senja" yang? akan dibawakan kelompok terater Fatah dari Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak. Lakon "Hujan Di Ujung Senja" akan dipentaskan dalam rangka Haflah Akhiris Sanah, Khotmil Kutub, dan Muwaadaah atau upacara perpisahan Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah, Rabu (13/5) malam, di halaman pesantren setempat.

Haedar Nashir

Lakon “Hujan Di Ujung Senja” karya dari Miftahul Khoir memuat kritik terhadap menurunnya moral anak bangsa. Karya ini berawal dari puisi, yang kemudian diubah menjadi naskah drama.

Haedar Nashir

“Sebuah karya yang berawal dari puisi ketika saya galau di suatu senja melihat menurunnya moral anak bangsa dan akhirnya menjadi naskah drama ‘Hujan di Ujung Senja’,” kata Khoir.

Sang sutradara, Sholihul Hadi, juga akan menambahkan beberapa adegan yang menggelitik dan lelucon pada seni pertunjukkan yang semua para pemainnya adalah santri ini.

“Ya, walaupun waktu latihan sangat singkat sekali, hanya sebulan, kami yakin akan memberikan pengalaman baru bagi santri dalam pementasan terater nanti. Ini juga dalam rangka melestarikan pagelaran seni di lingkungan pesantren,” jelas Bang Khul, panggilan akrabnya.

Lakon ini nanti akan dipentaskan oleh 15 santri. Berbagai karakter dimasukkan dalam cerita tersebut.

“Banyak hal saya peroleh saat latihan seperti kedisiplinan, konsentrasi, tanggungjawab, dan lain-lain,” kata Adib Hidayatulloh,? mengungkapkan kegembiraanya atas pengalaman pertamanya ini. (Ben Zabidy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Solo, Haedar Nashir. Setelah beberapa bulan dinanti, majalah Serambi Al-Muayyad kembali terbit. Majalah yang dikelola para santri pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo ini, akan diluncurkan saat peringatan haul KH Umar Abdul Mannan, Jumat (18/7) mendatang.

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)
Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur (Sumber Gambar : Nu Online)

Edisi Keenam ‘Serambi Al-Muayyad’ Segera Meluncur

Kepada Haedar Nashir, seorang redaktur Serambi Al-Muayyad Miftahul Abrori menuturkan, edisi keenam ini membahas hubungan antara tiga sesepuh sekaligus pendiri pesantren Al-Muayyad. Mereka ialah KH Abdul Mannan, KH Ahmad Umar dan KH Ahmad Shofawi.

“Salah satu penulis Muhammad Ishom mengangkat tulisan ini agar lebih banyak orang memahami hubungan para sesepuh. Sebab sebelumnya, kami sering ditanya perihal tersebut. Mereka yang bertanya tidak hanya dari kalangan internal pesantren Al-Muayyad, tetapi juga dari kalangan masyarakat luas,” terang Miftah.

Haedar Nashir

Redaksi Serambi Al-Muayyad kali ini, Miftah melanjutkan, menyajikan kisah inspiratif seseorang warga negara Indonesia dalam menjaga keimanannya selama tinggal di Negeri Paman Sam. Redaksi juga mengulas tema terkait Pilpres, Ramadhan, dan Piala Dunia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri, Ubudiyah, Aswaja Haedar Nashir

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi

Jepara, Haedar Nashir. Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan menggelar Pemilihan Umum ketua IPNU-IPPNU dan OSIS. Pemilu yang menjadi sarana pembelajaran berdemokrasi? ini diikuti seluruh elemen madrasah yang terdiri dari guru, karyawan dan siswa.

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemilihan Ketua IPNU Sarana Pembelajaran Demokrasi

Muhammad Arif Budiman, ketua kegiatan mengatakan sebelum pemilihan telah diadakan beberapa rangkaian kegiatan diantaranya adalah debat kandidat dan mimbar bebas.

“Sebelumnya panitia telah menggelar debat kandidat dan mimbar bebas sebagai sosialisasi visi dan misi kepada seluruh elemen MA Walisongo,” bebernya kepada Haedar Nashir, Senin (15/10).

Haedar Nashir

Budiman memaparkan, pemilihan umum ketua IPNU-IPPNU dan OSIS diikuti masing-masing 4 kandidat. Kandidat ketua IPNU yaitu M Habibullah (X A), Fakhurrois Hidayat (X B), Ahmad Auliya Asror (XI IPA) dan M Syihabuddin (XI IPS). Sedangkan IPPNU adalah Maftuhatun Nurul Millah (X A), Maisa Laili Safitri (X B), Nur Isti Uswatun Khasanah (XI IPA) dan Dini Indra Sari (XI IPS).

Untuk OSIS yaitu Mafaza Nur Aliyah (X A), Ahmad Slamet (XI IPS), Ni’matul Munafi’ah (X B) dan Nor Syarifudin (XI IPA).?

Haedar Nashir

“Dari nama-nama yang diajukan untuk menjadi calon ketua IPNU-IPPNU dan OSIS telah kami lakukan seleksi, baik secara administratif maupun wawancara sehingga hasilnya masing-masing organisasi diikuti oleh 4 kandidat terbaik untuk merebutkan satu kursi,” paparnya.

Pendidikan Kewargaan

Waka kesiswaan Muhlisin mengungkapkan, kegiatan bertujuan memberikan civic education (pendidikan kewargaan) kepada pemilih pemula. “Kegiatan ini untuk mempersiapkan pemilih pemula menghadapi pemilihan umum pada tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Muhlisin pemilihan juga berguna untuk mencetak pemilih yang aktif. “Pada pemilihan ini, seluruh siswa kami wajibkan untuk memilih agar pada pemilu-pemilu kedepan siswa akan aktif untuk mengikuti pesta demokrasi sehingga angka golput di negara ini bisa menurun,” imbuhnya.

Hal senada dilontarkan Rohmadi, kepala madrasah. Menurutnya siswa harus dibekali pendidikan kewargaan sejak di bangku sekolah. “Pendidikan Kewarganegaraan yang didapatkan di kelas harus diaplikasikan. Pemilihan Ketua IPNU-IPPNU dan OSIS ini merupakan salah satu aplikasinya,” lontarnya.

Ia berharap kepada seluruh siswa dapat mengikuti kegiatan dengan baik. “Siswa-siswi harus mengikuti pemilihan umum dari awal hingga akhir dengan baik sehingga pendidikan kewargaan akan tertanam benar pada diri peserta didik,” harapnya.

Salah satu pemilih, Siti Romdlo Zairotul Ula antusias mengikuti kegiatan tersebut. “Saya antusias mengikuti pemilihan umum ini, karena baru pertama kalinya di gelar secara langsung,” akunya.

Dari 202 pemilih, IPNU yaitu M Habibullah (48), Fakhurrois Hidayat (14), Ahmad Auliya Asror (94) dan M Syihabuddin (43) dan 3 suara batal. Untuk IPPNU yaitu Maftuhatun Nurul Millah (29), Maisa Laili Safitri (21), Nur Isti Uswatun Khasanah (62) dan Dini Indra Sari (86) dan batal 4 suara.?

Sedangkan OSIS hasilnya Mafaza Nur Aliyah (45), Ahmad Slamet (101), Ni’matul Munafi’ah (4), Nor Syarifudin (49) dan 3 dianggap batal.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Nahdlatul, Doa Haedar Nashir