Kamis, 06 Juli 2017

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan

Jenewa, Haedar Nashir. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR), Selasa (17/10), mendesak Bangladesh untuk mempercepat pemeriksaan terhadap para pengungsi Rohingya yang mencapai 15.000 orang yang kini terdampar di dekat perbatasan.

Belasan ribu Muslim Rohingya itu berada di sana setelah menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh menyusul tragedi kekerasan yang berlangsung di negara bagian Rakhine.

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan

PBB mengimbau Bangladesh segera memindahkan dari perbatasan demi keselamatan dan tersedianya kondisi yang lebih baik.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi kemanusiaan di Bangladesh, di mana ribuan pendatang baru terdampar di dekat perbatasan," juru bicara UNHCR Andrej Mahecic dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, seperti dikutip Reuters.

"Masalahnya berkaitan dengan penyaringan, pemerintah yang berdaulat perlu tahu siapa yang akan masuk ke wilayahnya," tambahnya. 

Haedar Nashir

Beberapa waktu lalu, otoritas Bangladesh sempat menghancurkan kapal-kapal milik Rohingya menyusul tudingan adanya penyelundupan methamphetamine, salah satu jenis narkoba yang dinilai sangat berbahaya.

Haedar Nashir

(Baca: Ada Eksploitasi Penderitaan Rohingya untuk Selundupkan Narkoba?)

 

Beredar dugaan bahwa perjalanan Rohingya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan memasukkan barang haram tersebut ke Bangladesh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 04 Juli 2017

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

Way Kanan, Haedar Nashir

Kabupaten Way Kanan, Lampung, memiliki luas sekitar 392.163 hektar atau 3.921,63 kilometer persegi, didiami oleh 415.078 jiwa dari 274.230 kepala keluarga. Berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) Badan Pusat Statistik (BPS) setempat 2013, jumlah penduduk miskin tercatat 32.791 kepala keluarga.

"Pengembalian donasi waralaba ke daerah merupakan salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut," ujar Ketua Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/3).

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

Berdasarkan data BPS itu, jumlah penduduk miskin dimaksud adalah rumah tangga sasaran penerima manfaat dan kuantum penyaluran beras program Penyaluran Beras Rumah Tangga Miskin (Raskin) Tahun 2013.

Haedar Nashir

Tertinggi di Kecamatan Blambangan Umpu dengan jumlah rumah tangga miskin 4.998 KK atau sekitar 15,24 persen dan jumlah penduduk miskin terendah terdapat di kecamatan Bahuga dengan jumlah penduduk miskin sebesar 786 KK atau sekitar 2,4 persen.

"Donasi dari sisa pembelian masyarakat di waralaba-waralaba yang ada menurut sejumlah pekerja tersalur ke pusat waralaba perdagangan retail tersebut. Lalu digunakan untuk apa, disalurkan ke mana, bagaimana penyalurannya, untuk siapa dan di mana?" ujar mantan Sekretaris Jenderal Denting Biola untuk Indonesia itu lagi.

Haedar Nashir

Penggiat Gusdurian di Lampung ini berpendapat, akan lebih maslahat kalau jumlah donasi terhimpun oleh waralaba dari masyarakat Way Kanan disalurkan kembali ke daerah berada di selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan ini guna membantu 32.791 KK yang tercatat masih miskin.

"Perusahaan perdagangan retail tidak akan rugi karena setiap donasi masuk selalu tercatat jumlahnya, konsepnya dari masyarakat dan dikembalikan ke masyarakat. Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan mengharapkan pemerintah daerah mengambil kebijakan agar donasi waralaba bisa dikembalikan dan selanjutnya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu," ujar alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) itu pula.

Sejumlah masyarakat setempat menyatakan belum pernah mendengar perusahaan perdagangan retail di Way Kanan yang terdata lebih dari 10 itu menggelar kegiatan sosial seperti sunatan massal.

Hal senada juga ditegaskan Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Way Kanan Sutrisno Utomo.

"Belum pernah tahu atau mendengar ada kegiatan sosial seperti sunatan massal digelar oleh waralaba yang ada di daerah ini," ungkap Sutrisno. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Santri, Nasional Haedar Nashir

Senin, 03 Juli 2017

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

Tanah di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fauzain basah oleh sisa-sisa air siraman pohon di atasnya. Endapan airnya memberikan warna tanah lebih kuat dibanding tanah kering yang tidak menerima tetesan air. Demikian suasana hampir setiap sore MI Al-Fauzain di Pondok Pinang Timur kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.Rutinitas ini dilakukan hampir setiap hari oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Ustadz Imran Rosyid. Bendahara MI Al-Fauzain ini dengan telaten merawat sedikitnya tujuh tanaman yang memagari gedung MI Al-Fauzain.

Pengelola MI Al-Fauzain memandang anak-anak warga di kota besar manapun termasuk anak warga di ibu kota membutuhkan pendidikan agama yang cukup. Kecuali itu, pihak pengelola prihatin melihat anak-anak kota yang kalah oleh polusi transportasi dan industri kota besar.

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

“Anak-anak juga perlu oksigen yang cukup untuk perkembangan fisik dan otak mereka,” kata Wakil Kepala MI Al-Fauzain Iis Supriatin.

Madrasah Ibtidaiyah Al-Fauzain yang sejak 1958 mengalami perkembangannya sendiri seiring perubahan kota Jakarta yang begitu cepat. Warga di sekitar madrasah yang semakin berkurang tahun demi tahun karena tergusur pembangunan juga memengaruhi suasana madrasah. Posisi gedung sekolah kini diapit oleh dua gedung pencakar langit yang menjulang di bagian selatan. Sementara di sisi utaranya terdapat masjid dan beberapa rumah warga yang masih bertahan.

Haedar Nashir

Dengan lahan yang terbatas, pihak pengelola memanfaatkannya untuk lahan hijau. Para guru menanam antara lain pohon Melati Jepang, Belimbing, Pepaya, Jambu, Palem, Kamboja Bangkok. Sebagian diperoleh dari membeli. Sebagian lagi didapat dari bantuan relawan di luar madrasah.

Dari semua pohon itu, mereka lebih banyak menanam Mali-mali Pucuk Merah dengan nama latin Leea Rubra. Pucuk Merah ini dominan mengisi lorong sekolah dari mulai gerbang utama hingga gerbang sekolah. Daun tumbuhan perdu ini diyakini dapat menyembuhkan luka. Mereka membeli hampir semua tanaman itu.

Haedar Nashir

“Perawatannya mudah. Cukup dipupuk dan disiram,” ujar Kepala MI Al-Fauzain Ustadz Hasanuddin.

Berbagai upaya dilakukan pihak madrasah untuk menciptakan lingkungan yang sejuk, segar, dan bersih. Dengan menanam dan merawat pohon di lingkungan madrasah, para guru setempat memberikan teladan nyata yang layak dicontoh para murid. Wali murid sendiri bisa “belajar” bagaimana menciptakan lingkungan yang hijau di lingkungan rumah mereka.

“Kita ingin penghijauan. Polusi di Jakarta sudah terlalu parah,” kata Iis yang setiap harinya mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Selain menanam pohon, dewan guru memberlakukan “Jum’at bersih”. Para siswa dan guru mengawali belajar di hari Jum‘at dengan melakukan bersih-bersih. Mereka memungut sampah-sampah yang berserakan di kelas, halaman, dan lingkungan madrasah. Mereka mengumpulkannya ke dalam wadah sampah.

“Bagus untuk membiasakan tertib buang sampah di tempatnya dan bersih-bersih lingkungan,” kata Iis.

Lingkungan yang bersih dan sejuk ini menempatkan para murid dalam posisi nyaman beraktivitas, belajar, bermain, dan berolahraga. Tidak heran kalau murid-murid MI Al-Fauzain ini berhasil merebut juara III sepak bola yang melibatkan antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah sekelurahan Pondok Pinang pada 2014 lalu.

“Kita tidak punya lapangan besar. Sebenarnya lahan di sini tidak memadai untuk olahraga murid. Dengan lahan ala kadarnya, kita belikan mereka gawang sepak bola tiga tahun lalu,” ujar Hasanuddin.

Warga di sekitar madrasah semakin sedikit. Kehadiran gedung pecakar langit mengisoalasi termasuk ruang gerak madrasah. Sekarang sebuah gedung tengah dibangun yang rencananya untuk pemukiman bersusun, apartemen. Suara bising aktivitas proyek menggangu siang dan malam.

Di tengah kelahiran gedung-gedung itu, para guru madrasah ini terus berupaya menciptakan lingkungan bersih dan hijau untuk muridnya. Mereka tidak berhenti merawat pohon untuk asupan paru-paru anak-anak warga kota. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaNu, Syariah Haedar Nashir

Kamis, 29 Juni 2017

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Solo, Haedar Nashir. Salah satu hasil putusan Sidang Komisi Organisasi dalam Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8) menetapkan bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali masuk menjadi Badan Otonom (Banom) NU.

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Terkait hal ini, Ketua Umum PC PMII Kota Surakarta, Ahmad Rodif Hafidz menyatakan siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. 

“Prinsipnya kita siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. Apapun keputusannya,” tegasnya saat dihubungi Haedar Nashir, Rabu (5/8).

Haedar Nashir

Meski begitu, Rodif menyatakan keputusan PMII kembali menjadi Banom NU,  sejatinya bukanlah domain dari NU secara kelembagaan. Sikap dari cabang-cabang PMII hari ini baik yang pro maupun kontra juga tidak serta-merta menjadi keputusan PMII secara kelembagaan.

Haedar Nashir

“NU boleh mengeluarkan putusan tersebut, namun bagaimana sikap PMII harus diputuskan melalui forum tertinggi organisasi, yakni Kongres PMII,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam Kongres PMII nantinya, apa yang menjadi keputusan NU ini ibarat arahan dari orang tua yang perlu dipertimbangkan oleh PMII. Namun jangan sampai ada intervensi dari NU dalam Kongres PMII.

“Kami meyakini bahwa PMII sudah mampu berpikir bagaimana baiknya hubungan PMII dengan NU,” lanjut Rodif.

Memikirkan dan mengurusi NU

Rodif menambahkan, PC PMII Kota Surakarta sependapat dengan pernyataan Ketua Umum PB PMII periode 1977-1981, KH Ahmad Bagja dalam sambutannya di acara Halal bi Halal Keluarga Besar PB IKA PMII dan PB PMII, beberapa waktu lalu.

“Benar apa yang dikatakan KH Ahmad Bagja, justru PMII hari ini dan ke depan harus lebih memikirkan dan mengurusi NU agar lebih baik. Karena ironisnya justru seringkali kader PMII yang sibuk bertengkar di NU,” kata Rodif.

Lebih lanjut, Rodif menegaskan, baik menjadi Banom NU ataupun tidak, PMII Kota Surakarta tetap teguh dalam memperjuangkan dakwah Islam Aswaja di kalangan mahasiswa dan siap membantu mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang siap menghadapi juga menyelasaikan berbagai permasalahan bangsa.

“Selagi telah dipertimbangkan secara matang dan hasilnya baik, kami siap apapun keputusannya baik dari NU maupun PMII,” tutupnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, Haedar Nashir. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

Haedar Nashir

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Haedar Nashir

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, PonPes Haedar Nashir

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Sleman, Haedar Nashir. Keberadaan pondok pesantren dalam rentang sejarahnya perlu selalu dibaca sebagai warisan dan juga kekayaan budaya-intelektual Nusantara. Oleh karena peran sejarah yang dimainkannya, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren perlu dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Demikian KH Jazilus Sakhok Ph.D yang akrab disapa Gus Sakhok membuka diskusi bersama tamu kunjungan dari APTEP (Asia Pasific Theologi Encounter  Programe) di STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jumat (8/05), pagi.

"Pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral dan nilai Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari" terang Gus Sakhok.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, pesantren merupakan hasil pergulatan dan dialektika kebudayaan yang kreatif, antara tradisi, masyarakat, dan pola interaksi kiai-santri-kitab kuning. Karenanya keunikan pesantren juga terlihat pada sifat akulturatif yang menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif, sehingga terhindar dari konflik.

"Salah satu unsur dari pesantren yang berperan penting dalam membentuk karakter Islam yang jauh dari karakteristik ekstrem dan radikal adalah kitab kuning. Kitab kuning adalah tradisi klasik warisan Wali Songo dan para ulama Nusantara. Kitab kuning itu mencermikan kelembutan Islam, sebab terdapat akulturasi budaya di dalamnya," imbuhnya.

Haedar Nashir

Gus Sakhok mengatakan, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai rujukan dan paduan nilai-nilai universal dalam menyikapi perubahan zaman. Aspek dinamis yang diperlihatkan kitab kuning adalah adanya transfer pembentukan tradisi keilmuan tauhid-fiqih-sufisme yang didukung penguasaan ilmu-ilmu instrumental, seperti nahwu dan sharaf (adab).

"Karenanya, tanpa kitab kuning dalam pengertian yang lebih luas, tradisi intelektual di Indonesia agaknya sulit untuk keluar dari kecenderungan ekstremitas pemahaman keagamaan," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Berita, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 25 Juni 2017

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kini telah berusia 57 tahun. Organisasi yang didirikan di Surabaya tersebut, telah memiliki kader dari Sabang sampai Merauke. Para alumnusnya telah memasuki beragam bidang, baik di kemayarakatan maupun di pemerintahan.?

Meski demikian, organisasi yang baik adalah organisasi yang melihat masa lalu, potensi saat ini dan terutama tantangan masa depan. Agar PMII bisa terus eksis menjadi organisasi di kalangan mahasiswa.?

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Sebagai salah satu upaya menjawab atau saran untuk PMII, Abdullah Alawi dari Haedar Nashir mewawancarai salah seorang alumnusnya, Juri Ardiantoro, yang saat ini menjadi salah seorang Ketua PBNU dan pernah menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Berikut petikannya: ? ?





Bagaimana melihat kaderisasi PMII hari ini?

Haedar Nashir

Kaderisasi harus diperluas orientasinya tidak hanya sekadar menambah jumlah kader. Tapi menambah bobot kader. Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. Dan mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu.

Caranya agar PMII bisa seperti itu bagaimana?

Harus ada pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah. Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah, seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip tata, nilai, ideologi harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan, ya harus memperhatikan karakater atau keunikan daerah. Sehingga kader PMII tidak setiap kader PMII harus ke Jakarta. Caranya harus pemetaan kader dulu yang membangun satu strategi penguatan kelembagaan dan kader serta bisa memanfaatkan sumber daya di lokal. Jadi, tidak harus ke Jakarta.

Haedar Nashir

Kenapa politik masih pusat perhatian PMII?

Makanya harus diperluas framenya, PMII tidak melulu urusan politik. Dunia profesional harus digeluti. Kalaupun politik, adalah politik dalam upaya penyiapan kader kepemimpinan bangsa, yang lebih luas, bukan sekadar anggota DPR.

Hubungan dengan alumni untuk membangun upaya PMII seperti itu?





Alumni harus menjadi inspiratif, bukan sekadar membangun patronase. Kelemahan organisasi mahasiswa itu kan alumninya membangun patronase sehingga membangun blok-blok. Nah, itu yang tidak bagus. Alumni harus bisa mengemong semua. Ini kader siapa, itu kader siapa. Nah, ini mestinya tidak begitu.?

Selain itu, tantangan PMII ke depan itu apa?

Salah satu tantangan organisasi Islam itu sekarang adalah memoderasi menguatnya kelompok garis keras di kalangan anak muda. Bagaimaana memoderasi radikalisme di kalangan anak muda ini yang harus digarap PMII. Jagan asyik di dunianya, lupa urusan gerakan keislaman di kalangan muda yang sudah mulai menguat unsur-unsur Islam garis kerasnya. Bukan hanya membaca buku, tapi memperkuat gerakan praksis untuk memoderasi gerakan Islam garis keras itu.?

PMII mampu melakukan hal itu? ?

Ya mampu karena PMII itu kan sudah menjadi organisasi besar ya, hampir di seluruh daerah mempunyai basis. Cuma ya itu tadi, orientasinya harus diubah tidak hanya urusan politik. Tapi kalaupun politik harus politik tingkat tinggi, jangan melupakan urusan lokal, mushala, kampus.?

Sebagai alumnus PMII, bagi Anda, apa manfaat berorganisasi di PMII itu?

Pada zaman saya itu kan di PMII menjadi tempat, menjadi media dimana kita diperkenalkan dengan bagaimana cara mengkonkretkan semangat kepemudaan yang berbasis agama. Itulah manfaatnya. Kemudian dengan ber-PMII, kita punya pandangan lebih luas, tidak sempit karena bertemu dengan banyak orang dan bertemu banyak perspektif pemikiran, banyak orang; dan kita juga bertemu dengan banyak potensi di tempat lain yang mungkin tidak kita temukan kalau tidak ikut organisasi. ?

Apa pesan pribadi kepada kader-kader PMII di seluruh Indonesia?

Mumpung masih muda dan PMII, berorganisasi tidak sekadar ingin bergaul atau memperoleh status di organisasi, tapi berorganisasi harus memiliki makna untuk dirinya sendiri dan bagi organisasi sendiri, dan bagi masyarakat pada umumnya. Jadi, organisasi menjadi alat untuk memberdayakan dirinya sebelum juga memberdayakan lingkungannya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Haedar Nashir