Senin, 28 Maret 2016

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

Jakarta, Haedar Nashir. Untuk penguatan kader, PP GP Ansor akan mengadakan Kursus Keaswajaan yang akan diluncurkan pukul 15.00, Kamis sore, 26 Juli 2012 di kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat. Kursus ini akan dibuka oleh KH Malik Madani, Katib Aam PBNU.

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Siap Luncurkan Kursus Keaswajaan

“Kursus Keaswajaan ini sedikitnya akan diikuti oleh enam puluh peserta. Selain kader PP GP. Ansor, para peserta terdiri dari jajaran Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, Pengurus Anak Cabang GP Ansor DKI Jakarta, IPNU, dan PMII,” ungkap Hasan Sagala, panitia Kursus kepada Haedar Nashir di aula lantai dasar kantor PP GP Ansor, jalan Kramat Raya nomor 65.A, Jakarta Pusat, Rabu (25/7) malam.

Menurut Sagala, dari enam puluh peserta, panitia kursus akan membagi mereka menjadi dua; kelas A dan kelas B. Mereka akan mengikuti kursus tersebut selama enam kali pertemuan sesuai jadwal yang ditentukan panitia.

Haedar Nashir

Dalam jadwal kursus, kepanitiaan menetapkan hari Senin dan Rabu bagi peserta kelas A. Sementara jadwal kursus bagi peserta kelas B adalah hari Selasa dan Kamis. Pembagian jadwal dan kelas seperti ini bertujuan untuk mengondisikan forum lebih efektif.

Haedar Nashir

Para peserta akan menerima materi keaswaajaan baik dari pelbagai sisi, antara lain sejarah, tauhid, syariah, tasawuf, dan politik. Materi aswaja akan diuraikan secara komprehensif dari pelbagai aspek. Selain mengejar pembahasan komprehensif, panitia juga menyediakan pengisi materi yang mumpuni untuk memngupas materi secara mendalam.

Pengisi materi antara lain adalah KH Malik Madani, KH Tolchah Hasan, KH Mashdar F. Mas’udi, dan KH Yahya C. Staquff. Uraian mendalam mereka diharapkan dapat membekali para peserta kursus dengan kematangan materi aswaja.

Penyelenggaraan kursus ini diadakan dalam rangka pelaksanaan PO baru yang diatur belakangan dalam Konbes di PP Alhamid, Cilangkap, Jakarta Timur, tambah Sagala. Selain itu, lewat kursus ini, GP Ansor bermaksud untuk memperkuat pemahaman aswaja di tingkat bawah. Karena, mereka berhadapan langsung dengan tantangan-tantangan dari luar.

Kata Sagala, pembekalan ini juga bisa dianggap sebagai matrikulasi bagi kader-kader GP. Ansor yang baru mengenal permukaan aswaja. Forum kursus ini dapat mengakomodir para peserta untuk bersama meningkatkan sinergi dalam sebuah gerakan yang berhaluan aswaja.

Kursus ini akan konsentrasi membahas hanya materi aswaja. Forum ini tidak menyinggung materi-materi lain yang tidak terkait aswaja, tandas Sagala. ? ? ?

?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Aswaja, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Maret 2016

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, Indonesia sedang mengalami krisis kebangsaan yang akut. Kondisi ini tercermin dari begitu bebasnya orang asing melenggang di Tanah Air, bahkan melebihi warga pribumi sendiri.

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebablasan, Indonesia Sikapi Orang Luar di Tanah Air

”Coba bayangkan, orang luar negeri dengan begitu mudah mengembangkan agen di sini. Membentuk perwakilan-perwakilan di tengah-tengah masyarakat kita. Orang-orang Saudi membangun pesantren, madrasah, yayasan, dengan sangat mudah,” ujar Kang Said, sapaan akrabnya.

Kang Said menyampaikan hal itu saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 Ikatan Alumni Pergerakan Mahahsiswa Islam Indoesia (IKA-PMII) bertema”Menegaskan Kedaulatan Indonesia di Tengah Percaturan Geolpolitik Dunia” di Jakarta, Senin (1/7).

Haedar Nashir

”Coba dibalik kita membangun pesantren di Arab Saudi sampai tenggorokan protol (putus) tidak akan kesampaian. Sampai leher putus tidak akan terlaksana. Itu baru satu contoh. Betapa kebangsaan kita terancam,” ujarnya.

Haedar Nashir

Tak hanya Islam garis keras, lanjut Kang Said, kebebasan luar biasa tersebut juga berlaku bagi ideologi-ideologi lain, seperti liberalisme, dan lain-lain. ”Sudah kebablasan kita ini,” tuturnya.

Menurut Kang Said, Indonesia penting mengembalikan jati diri bangsa, salah satunya melalui jalur pendidikan. Kemendikbud dinilai hingga sekarang belum sukses mengupayakan hal ini meskipun dengan dukungan anggaran yang sangat fantastis.

”Jati diri bangsa harus kita perkuat, kalau tidak jati diri bangsa kita akan terkikis, paling tidak termarginalkan,” paparnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 22 Maret 2016

Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda

Makkah, Haedar Nashir

Dua belas negara, memakan waktu sembilan bulan, dan menempuh jarak ribuan kilometer, telah ditempuh oleh dua orang warga Afrika Selatan ini untuk mewujudkan mimpinya naik haji ke Makkah. Dua warga Cape Town itu, Nathim Cairncross (28) dan Ahmad Haron (25) hanya menggunakan sepeda untuk melintasi benua Afrika yang panas menuju Arab Saudi.



Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Warga Afsel Naik Haji dengan Bersepeda

Keduanya melintasi perbatasan Arab Saudi pada akhir Oktober lalu, tiba hampir tiga pekan sebelum ritual haji dimulai di Makkah. Rangkaian ibadah haji dimulai Ahad kemarin, 14 November 2010.

Ide menunaikan ibadah haji dengan menggunakan sepeda itu muncul dari Haron Desember 2009. Kala itu, ia menyampaikan ide tersebut kepada sahabatnya Cairncross setelah membaca tulisan mengenai ibadah haji yang dihadiri lebih dari dua juta umat Muslim dari seluruh dunia ini.

Haedar Nashir

Dalam kehidupan, saya mempunyai prinsip, ujar Cairncross kepada Al Jazeera. Jika saya bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, di akhirnya pasti akan didapat. Setelah sembilan bulan mengayuh sepeda melintasi Afrika menuju Timur Tengah, tentu saja, saya mendapatkan nilai lebihnya.

Perjalanan melintasi Benua Afrika itu dimulai pada 7 Februari 2010, di pagi yang dingin dan berhujan di sebuah masjid di Cape Town. Sekitar 500 orang mengiringi kepergian keduanya seraya memanjatkan doa keselamatan. Berbekal peta, mereka menyusuri negara-negara di Afrika yang gersang.

Haedar Nashir

Kami bukan pengendara sepeda yang profesional, ujar Cairncross. Tapi kami telah latihan fisik sejak dua bulan sebelum berangkat, seperti mendaki gunung, berlari di pantai, dan berenang.

Untuk mewujudkan rencana itu, keduanya tidaklah mudah. Ada pula sebagian masyarakat yang coba menghalangi kepergian itu dengan alasan mustahil bisa dilakukan. Namun tanpa rasa takut, teman-teman mereka ikut merancang perjalanan haji itu, berkonsultasi dengan departemen lalu lintas Afrika Selatan untuk memastikan keduanya bisa bersepeda dengan aman, mengurus visa, dan meminta nasihat medis dari dokter. Kami sampai dikatakan orang gila, ucap keduanya.

Dalam perjalanan panjang itu, keduanya melalui negara di antaranya Botswana, Zimbabwe, Mozambik, Malawi, Tanzania, dan Zanzibar. Setiap hari, mereka bersepeda sepanjang 80-100 kilometer, dimulai sejak usai salat Subuh dan berhenti saat waktu malam. Terkadang, keduanya bermalam di penginapan, berkemah, atau di masjid.

Di saat bermalam itu, tak jarang keduanya menceritakan kisah perjalanan dan tujuannya. Masyarakat setempat banyak yang tersentuh dan kemudian membantu memberikan penginapan dan makan gratis. Selama di perjalanan itu, keduanya juga memanfaatkannya untuk menjelaskan tentang Islam dan ibadah haji kepada penduduk yang dijumpai.

Dengan bersepeda, anda dapat berbicara dengan banyak orang, tutur Cairncross. Namun jika menggunakan pesawat atau mobil, Anda tak akan mendapatkan kesempatan seperti itu. Selama perjalanan, Anda juga bisa belajar lebih banyak, mengenali diri anda sendiri. Ini merupakan pengalaman yang nyata.

Perbedaan bahasa terkadang menjadi kendala selama perjalanan. Lantas masalah ban bocor, rantai sepeda rusak, atau sadel yang bermasalah. Namun mereka bersyukud karena selama perjalanan tak pernah mendapatkan masalah keamanan. Meski tak mempunyai uang yang banyak, keduanya tak pernah kesulitan mendapatkan tempat bermalam atau makan.

Dalam perjalanan itu, keduanya bahkan sempat singgah ke Yerusalem dan mengunjungi Masjid Aqsha. Melintasi perbukitan Petra dan Laut Mati di wilayah Yordania. Keduanya singgah terlebih dahulu di Madinah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah. Seperti halnya ketika memulai perjalanan, keduanya tiba di Makkah dengan naungan awan mendung yang pekat.

Sungguh luar biasa, ungkap Cairncross bahagia. Guntur dan kilat menyambut kedatangan kami di Makkah untuk melihat Kabah pertama kalinya.

Melakukan tawaf dengan pakaian ihram dengan hujan yang mengguyur, sepertinya Allah memberikan rasa kasihnya kepada kita. Semoga Allah menerima usaha keras kita ini. (bil/kemenag)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Pendidikan Haedar Nashir

Presiden Diminta Segera Ambil Alih Penanganan Lumpur Porong

Surabaya, Haedar Nashir. Berlarut-larutnya penanganan semburan lumpur di Porong semakin memprihatinkan banyak orang. Penderitaan itu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terkena dampak langsung, namun juga mereka yang menjadi dampak antaranya. Sementara Timnas penanggulangan lumpur yang seharusnya bertanggung jawab menghentikan semburan itu, nyaris tak mendapatkan hasil.

“Pemerintah harus segera mengambil alih penanganan bencana lumpur di Porong ini,” kata Ketua PWNU Jawa Timur KH Ali Maschan Moesa di Surabaya, Kamis (22/2) siang.  Ali menyatakan kesimpulan itu bukan hanya pendapat dirinya, namun kesimpulan akhir sekaligus rekomendasi dari seminar internasional tentang lumpur Porong pada tanggal 20-21 Pebruari kemarin. Seminar yang berlangsung di BPPT itu diselenggarakan oleh IAG (Ikatan Ahli Geologi) dan BPPT dengan mengundang para pakar geologi dari berbagai negara maju.

Senin, 21 Maret 2016

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi

Purworejo, Haedar Nashir. Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2017 diperingati oleh berbagai kalangan santri di seluruh penjuru Tanah Air dengan berbagai ritual seperti pembacaan shalawat, kirap dan upacara bendera, hendaknya dimaknai sebagai momentum bagi santri untuk lebih tafaqquh fiddien, menggali inspirasi dari ulama dan kiai, serta lebih berinovasi.

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Momentum untuk Berinovasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Momentum untuk Berinovasi

Demikian disampaikan Muslikhin Madiani dalam amanat upacara Peringatan Hari Santri yang diselenggarakan oleh MTs dan MA An-Nawawi di halaman sekolah setempat, Ahad (22/10) pagi.

Di depan 1500-an santri, mantan ketua PC IPNU Purworejo itu juga memaparkan peran santri mulai dari Komite Hijaz, perjuangan melawan kolonialime asing, Revolusi Kemerdekaan, pengukuhan Bung Karno sebagai waliyyul amri ad-dhoruri bis-syaukah sampai peristiwa penumpasan pemberontakan yang tsk lepas dari peran santri dalam memperjuangkan, menjaga dan merawat Islam dan NKRI.

Muslikhin berharap, para santri masa kini meneladani apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu serta tak larut dalam arus zaman.

"Hari Santri ini adalah bentuk pengakuan bangsa dan negara kepada santri. Sudah selayaknya, kita semua - terutama para generasi muda - berlajar dari para ulama, kiai dan santri yang telah banyak berkontribusi untuk NKRI," terangnya.

Haedar Nashir

Upacara bendera merah putih berjalan dengan penuh khidmad. Tak seperti upacara pada umumnya, pra santri memakai peci, baju putih serta sarung dalam mengikutinya. 

Muslikhin berharap, dengan adanya upacara Hari Santri Nasional ini, para siswa dan siswi semakin mencintai ulama dan para pejuang yang telah berdarah-darah mendirikan NKRI, serta pemantil untuk lebih giat dalam belajar dan berinovasi.

"Karena dewasa ini banyak yang mempertentangkan Islam dengan NKRI, jadi upacara ini juga sekaligus untuk terus memupuk nasionalisme para santri," pungkasnya. (Ahmad Naufa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 14 Maret 2016

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Jombang, Haedar Nashir. Suasana halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang Jawa Timur ramai oleh banyak tokoh. Tenda berukuran besar menutup pintu halaman depan kantor pesantren. Sejumlah tokoh penting di Jawa Timur berkenan hadir memadati area Muskerwil.

Tokoh yang tampak hadir pada pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Pertama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur masa khidmat 2013-2018 di kursi depan, Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar, Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua), Gubernur Jatim H Soekarwo beserta wakilnya, Saifullah Yusuf.

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Muskerwil NU Jatim Bertabur Tokoh

Sementara jajaran pimpinan PPBU yang tampak hadir Ketua Majlis Pegasuh KH Hasib Wahab Chasbullah, KH Ketua Umum Yayasan M Irfan Sholeh,? Bupati Jombang Ec Nyono Suharli Wihandoko bersama wakilnya, Hj Mundjidah Wahab.

Haedar Nashir

Kecuali itu, sejumah pejabat di tingkat provinsi berkenan datang memenuhi undangan Muskerwil di samping sejumlah kiai dan tokoh cabang NU di tingkatan kota dan kabupaten se-Jawa Timur.

Haedar Nashir

Sebenarnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dijadwalkan hadir. “Namun ia tengah menyiapkan acara penyambutan tamu dari Jordania yang akan berkunjung ke PBNU,” tandas Ketua PBNU Saifullah Yusuf, Selasa (25/2).

Pembukaan Muskerwil berlangsung di tengah hujan cukup lebat sejak menjelang Magrib. Bahkan sejumlah pintu masuk sempat tergenang air. Rombongan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur juga harus disambut dengan payung menuju dalem kasepuhan.

“Hujan diluar perkiraan,” kata Ketua PC Fatayat NU Jombang Ema Ummiyyatul Chusnah. Ning Ema rela menunggu undangan sembari membawa payung. Pakaian sejumlah kiai dan gus di PPBU juga terlihat basah lantaran harus terlibat dalam mengatur jalan menuju dalem kasepuhan.

“Semua pimpinan daerah dan kiai diterima di sini,” tandas dr H Edy Labib Patriadin.

Namun saat pembukaan jam 19.30 WIB dimulai, hujan reda. Para undangan dan peserta Muskerwil memasuki ruangan utama. Sejumlah kiai dan tokoh memberikan sambutan dan pengarahan pada acara yang akan berlangsung hingga Kamis (27/2).

“Hadirnya para tokoh, kiai dan ulama serta pejabat merupakan kebanggan bagi pesantren kami,” tandas KH Hasib Wahab Chasbullah. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Tegal, Quote Haedar Nashir

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

Pamekasan, Haedar Nashir. Ratusan bendera Nahdlatul Ulama (NU) masuk ke pelosok-pelosok desa. Rumah-rumah penduduk yang tergolong fakir miskin menatap bendera tersebut dengan wajah berbinar.

Mereka mendapatkan santunan dari ratusan siswa-siswi SMP Ma’arif 1 Pamekasan yang menyalurkan zakatnya didampingi dewan guru, Senin (19/6). Sedikitnya terdapat 150 zakat fitrah diberikan kepada kaum fakir miskin di dua desa, yaitu Terrak dan Mangar, Tlanakan.

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMP Ma’arif 1 Pamekasan Santuni Fakir Miskin

"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial para siswa terhadap fakir miskin," ungkap Moh. Fadoli selaku Pembina OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan.

Melalui kegiatan blusukan membagikan zakat fitrahnya, pihak sekolah mendambakan siswa-siswinya menjadi pribadi yang dermawan. Sebab, Nabi Muhammad SAW mengajarkan tangan di atas lebih utama daripada tangan di bawah.

Haedar Nashir

Moh. Rosi, ketua OSIS SMP Maarif 1 Pamekasan menegaskan, ratusan zakat tersebut tidak serta merta langsung disalurkan. Melainkan, para siswa-siswi SMP Maarif 1 Pamekasan terlebih dahulu menjalani ritual keagamaan yang bernafaskan sunnah Nabi Muhammad SAW.?

"Kami mengawalinya dengan shalat dhuha dan tadarus Al-Quran. Semoga kita mendapatkan ridla Allah melalui berkah Ramadan dan pembersihan harta lewat zakat fitrah," ujar Rosi.

Usai shalat Dluha dan tadarus, siswa-siswi dibagi 8 kelompok. Selanjutnya, mereka menyebar sesuai lokasi sasaran pendistribusian. Dewan guru tampak berbinar mendampingi mereka. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Syariah, RMI NU, Nusantara Haedar Nashir

Selasa, 08 Maret 2016

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Banyumas, Haedar Nashir. Warga Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen Banyumas, Jawa Tengah khususnya warga jamiyah Nahdlatul Ulama kembali tengah berencana kembali membangun Masjid Jami At Taqwa yang akhir Januari 2014 lalu, roboh diterpa gempa bumi.

Desain dan anggaran untuk pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen hingga kemarin pertengahan April 2014 ini masih terus dibahas. Pasalnya pembangunan masjid ini  perlu perencanaan desain konstruksi yang matang. Selain itu, anggaran pembangunan masjid juga masih terus dikumpulkan dari berbagai sumber.

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Korban Gempa Akan Dibangun Kembali

Dalam musyawarah panitia pembangunan Masjid Jami At Taqwa Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen, Kamis (17/4) malam terungkap selain menghimpun swadaya dari masyarakat dan donatur lainya, panitia juga tengah menunggu kepastian bantuan penanganan gempa yang dijanjikan Pemkab Banyumas.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Pembangunan Masjid, Yul Khoerudin mengatakan usai gempat terjadi  hingga pertengahan April 2014 ini telah terkumpul uang bantuan sebanyak 107 juta. Selain itu juga ada sekitar 425 sak semen, 315 dus keramik dan berbagai material bangunan lainnya.

Haedar Nashir

"Kami harap berbagai bantuan yang terkumpul bisa menjadi modal awal pembangunan. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami," kata Yul Khoerudin.

Tokoh ulama setempat, Habib Muhammad Al Habsyi yang juga takmir masjid mengatakan, panitia pembangunan terus bermusyawarah secara rutin tiap minggu untuk membahas langkah lanjutan untuk pembangunan masjid ini.

Komunikasi dan koordinasi panitia dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lain juga terus diintensifkan untuk memperlancar proses pembangunan kembali masjid warga ini.

"Kami dari warga juga tidak akan berpangku tangan terkait penanganan pasca musibah gempa yang membuat ambruk masjid kami. Makanya kami dari panitia bersama pemerintah akan duduk bersama untuk membahas secara matang konsep detail dan anggaran pembangunan masjid ini. Semoga secepatnya pembangunan ini terealisasi," jelasnya.

Petugas Posko Bencana Gempa Masjid Jami At Taqwa, Muhammad Tohar Fauzi mengatakan bagi siapa saja yang terketuk hatinya untuk membantu pembangunan masjid dapat langsung menghubungi petugas posko bencana di nomor ponsel 081391131030 (Muhammad Tohar Fauzi) atau dating langsung ke Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas.

Selain itu, panitia pembangunan masjid juga menerima bantuan melalui rekening BRI Syariah KCP Ajibarang 1015829687.

Seperti diketahui, akibat gempa bumi yang berpusat di wilayah barat daya Kebumen akhir Januari 2014 lalu, membawa dampak bagi rusaknya ratusan rumah di Desa Karangklesem Kecamatan Pekuncen. Efek terdahsyat dari gempa juga mengakibatkan Masjid Jami At Taqwa di Desa Kranggan Kecamatan Pekuncen ambruk. Pasca ambruk, warga bersama pemerintah daerah dibantu berbagai pihak lain mengadakan perataan lokasi masjid dan merencanakan pembangunan kembali.(susanto/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Berita, Pertandingan Haedar Nashir

Rabu, 02 Maret 2016

IPNU-IPPNU Pamekasan Berupaya Gerakkkan 13 Anak Cabang

Pamekasan, Haedar Nashir

Pengurus Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Pamekasan terus menguatkan sayap organisasi. Upaya menyegarkan kepengurusan di 13 kecamatan, pengurusa tidak henti-hentinya turun ke bawah.

Terbaru, organisasi yang dinakhodai Kadarisman tersebut melantik para pengurus Pimpinan Komisariat MTs dan MA Al-Huda, Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, Jumat (3/2). Selain dihadiri pengurus PC IPNU-IPPNU Pamekasan, acara tersebut juga diramaikan oleh Ketua Yayasan Al-Huda Neng Aisyah El-Asadiyah Shidqie.

IPNU-IPPNU Pamekasan Berupaya Gerakkkan 13 Anak Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Pamekasan Berupaya Gerakkkan 13 Anak Cabang (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Pamekasan Berupaya Gerakkkan 13 Anak Cabang

Sekretaris PC IPNU Pamekasan Zainal Abidin menegaskan, pelantikan tersebut dilakukan guna menjalankan amanah organisasi. Yakni, menyegarkan kepengurusan hingga tingkat bawah organisasi pelajar NU.

Haedar Nashir

"Pelantikan ini sebagai syiar dan penyadaran betapa aktif di organisasi itu punya beban psikologis. Beban tersebut berupa amanah menghidupkan dan menggerakkan roda organisasi," tegas Zainal.

Mahasiswa Pascasarjana STAIN Pamekasan tersebut menambahkan, pihaknya beserta pengurus lainnya kini juga sedang proses menghidupkan pimpinan anak cabang dan pimpinan komisariat maupun pimpinan ranting di 13 kecamatan yang ada di Pamekasan.

Haedar Nashir

"Fokus kami bulan ini ialah menyegarkan struktur kepengurusan hingga tingkat bawah. Kalau di daerah Kecamatan Larangan ini, alhamdulillah organisasi pelajar NU terus bergeliat," tegasnya.

Usai di daerah Larangan, PC IPNU-IPPNU Pamekasan mencanangkan agenda menghidupkan PAC IPNU-IPPNU Kadur yang dulu sempat menjadi organisasi percontohan di Kabupaten Pamekasan. Sayang, karena krisis kader, kini mengalami kevakuman.

"Kita upayakan untuk hidup dan aktif kembali. Naik turun semangat berorganisasi itu hal biasa. Tapi, harus ada yang menjaga ritme semangat tersebut. Ini tugas kita semua, utamanya tokoh-tokoh NU yang mesti peduli terhadap kaderisasi," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Nasional, PonPes Haedar Nashir