Minggu, 05 November 2017

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Saya hidup di lingkungan yang mayoritas non-Muslim. Belum lama ini salah satu tetangga saya yang non-Muslim mengalami musibah. Hubungan kami sebagai tetangga sangat baik meski berbeda keyakinan.

Yang ingin saya tanyakan adalah apa hukumnya memberi sedekah kepada yang non-Muslim yang sedang mengalami musibah, di mana tentunya dalam hal ini ia membutuhkannya? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Jakarta).

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memberi Sedekah Kepada Non-Muslim

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Haedar Nashir

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Musibah memang tidak pandang bulu, siapa saja bisa terkena musibah. Ketika di antara kita ada yang tertimpa musibah, maka sudah sepatutnya kita memberikan bantuan, baik moral maupun material.

Haedar Nashir

Jika kita memberikan sesuatu atau bersedekah kepada saudara kita sesama Muslim, tentu tidak ada masalah. Namun pemberian atau sedekah kepada saudara kita yang non-Muslim acapkali menimbulkan kecurigaan dari kalangan tertentu.

Para ulama telah sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat (al-aqarib) itu lebih ditekankan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Umat Islam sepakat bahwa bersedekah kepada kerabat dekat lebih utama dibanding dengan orang lain,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz VI, halaman 235).

Sampai di sini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian muncul ketika sedekah diberikan kepada orang non-Muslim. Mengenai status hukum pemberian atau sedekah kepada non-Muslim ternyata tidak luput dijelaskan oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi dalam kitab tersebut.

Dalam kitab tersebut, beliau menyatakan bahwa sebaiknya atau disunahkan sedekah itu diberikan kepada orang-orang saleh, orang-orang baik, orang-orang yang mampu menjaga kehormatannya, dan yang membutuhkankan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Disunahkan sedekah dikhususkan diberikan kepada orang yang saleh, yang baik, yang bermartabat, dan orang membutuhkan” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lantas pertanyaan bagaimana jika sedekah diberikan kepada non-Muslim, apakah diperbolehkan? Dalam hal ini, Muhyiddin Syarf An-Nawawi menyatakan bahwa jika sedekah itu diberikan kepada non-Muslim seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh. Insya Allah ada pahalanya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Jika seseorang memberikan sedekah kepada orang fasik atau kafir seperti orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi maka boleh, dan dalam hal ini ada pahalanya,” (Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, juz VI, halaman 237).

Lebih lanjut Muhyiddin Syarf An-Nawawi mengutip pernyataan Yahya Al-Imrani— penulis kitab Al-Bayan—yang menyatakan bahwa menurut Ash-Shamiri, sedekah tersebut boleh juga diberikan kepada non-Muslim harbi. Dalil yang diajukan adalah firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 8: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan’. Tawanan dalam konteks ini adalah non-Muslim harbi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Penulis kitab Al-Bayan mengatakan bahwa menurut Ash-Shamiri boleh juga sedekah diberikan kepada kafir harbi. Sedangkan dalil yang dijauhkan Ash-Shamiri untuk mendukung pendapatnya adalah firman Allah SWT: ‘Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan,’ (Surat Al-Insan [76]: 8). Sebagaimana diketahui bahwa tawanan adalah orang kafir harbi,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majemu’ Syarhul Muhadzdzab, Juz VI, halaman 237).

Jika penjelasan singkat ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka jawabannya adalah boleh memberikan sedekah kepada tetangga non-Muslim yang sedang tertimpa musibah.

Ulurkan bantuan kepada siapa saja yang memang membutuhkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, PonPes Haedar Nashir

Sabtu, 04 November 2017

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

Brebes, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Brebes kembali menggelar lomba baca puisi religi karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tingkat Kabupaten Brebes. Acara yang berlangsung di aula Gedung NU Brebes pada Minggu (14/11) ini mendapat antusias yang tinggi, terutama dari kalangan pelajar dan pemuda di Kabupaten Brebes.

Lomba baca puisi religi yang diikuti sekitar 50 peserta ini bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah Brebes dan Badan Narkotika Kabupaten Brebes. Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, SE melalui Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Brebes Drs. Atmo Tan Sidik mengapresiasi ide cerdas dakwah lewat seni ini, terlebih dalam lomba yang diikuti pemuda dan pelajar ini disisipi sosialisasi bahaya narkoba.

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Ini Gelar Lomba Baca Puisi Gus Mus

“Dakwah dengan berkesenian adalah langkah yang cerdas, terlebih tema lomba membangun generasi bangsa yang bebas narkoba sangat tepat dengan kondisi generasi muda saat ini,” kata Atmo.

Haedar Nashir

Menurutnya, kemampuan Wali Songo dalam membumikan ajaran Islam di Indonsia ini patut menjadi renungan kita, tidak hanya mengandalkan logika saja tidak cukup, maka melalui seni lah akhirnya agama Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Untuk itu, melalui lomba baca puisi religi ini, diharapkan para pemuda generasi penerus bangsa mampu mengaktualisasikan diri dengan baik dan memiliki jiwa seni yang tinggi sehingga terhindar dari bahaya narkoba.

Haedar Nashir

Melalui lomba baca puisi karya Gus Mus ini, peserta diharapkan tidak hanya dapat membacakan puisi karya-karyanya. Juga dapat mengartikulasikan setiap kata yang sehingga didapat nilai filosofi dan ruhiyah yang tinggi.

Sementara itu, Ketua Cabang IPNU-IPPNU Brebes Zaki Al Aman, SPd mengatakan bahwa dipilihnya puisi kaya Gus Mus adalah selain beliau tokoh NU, juga karyanya mempunyai nilai sastra dan religi yang tinggi dan tentunya sudah dikenal di seluruh Indonesia.

Pengurus BNK Brebes, Lukman Suyanto, SH memberikan sosialisasi bahaya narkoba bagi generasi muda, dan mengingatkan akan bahaya penjajahan dengan narkoba. Menurutnya dalam 30 tahun mendatang bukannya tidak mungkin bangsa Indonesia sudah terjajah oleh kekuatan asing. Untuk itu, narkoba yang dijadikan alat jajahan bangsa lain harus disadari oleh generasi muda.

Turut hadir Pengurus NU Cabang Brebes Imam Badjuri, MPd mewakili Ketua PC NU Brebes.

Setelah melalui penjurian yang ketat, akhirnya Rr Adinda Prameswari? dari Brebes menjadi Juara 1, juara 2 Siti Cahaya dari Kota Tegal, juara 3 Amalia Hardiyanti dari Brebes. Selain mendapatkan piala Ketua PC NU Brebes, Ketua BNK dan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Brebes, pemenang juga mendapatkan sejumlah uang pembinaan. (Wasdiun/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, AlaNu Haedar Nashir

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa, Berita Haedar Nashir

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

Solo, Haedar Nashir. Forum Silaturrahmi Warga Nahdlatul Ulama Surakarta (Fosminsa) belum lama ini mengadakan pelatihan kefasilitatoran. Hal tersebut diungkapkan salah satu penggerak Fosminsa, Tohar Muhlasin, saat ditemui Haedar Nashir, Jumat (27/9) lalu.

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Warga NU Surakarta Latihan Jadi Fasilitator

“Tujuan pelatihannya agar kader NU bisa memfasilitasi sebuah forum, juga dapat menjadi leading di dalamnya,” kata Tohar.

Para peserta yang mendapatkan pelatihan itu yakni para anggota Banom NU, di antaranya IPNU, IPPNU, Fatayat dan PMII. Pascapelatihan mereka diharapkan dapat memegang sendiri sebuah forum.

Haedar Nashir

Di dalam pelatihan tersebut, Tohar yang juga menjadi pemateri memaparkan teknik untuk menjadi seorang fasilitator yang handal. “Seorang fasilitator, dia harus banyak menggali pertanyaan dan mendata dari forum,” terang Tohar yang juga kader PMII Solo.

Haedar Nashir

Selain diberikan teori, para peserta juga diberikan kesempatan untuk praktik langsung ilmu yang baru didapatkan. Sebagian dari mereka ditunjuk, maju ke depan untuk belajar memfasilitasi forum.

Salah satu peserta, Habibi, menuturkan mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Ketua IPNU Solo itu mengatakan untuk menjadi fasilitator handal mesti banyak jam terbang dan sering dilatih. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, AlaSantri, Kiai Haedar Nashir

Jumat, 03 November 2017

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Boyolali, Haedar Nashir - Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, dalam rangka pembangunan gedung SD NU Terpadu (Boarding School), yang berlokasi di Desa Gombang, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sawit. Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menyelenggarakan acara ngunduh mantu, Ahad (8/1).

Konsep ngunduh mantu? adalah acara budaya lokal dalam penggalangan dana organisasi sehingga membuat masyarakat dari luar NU juga tertarik mengikutinya.

Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngunduh Mantu, NU Sawit Raih Dana 80 Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

"Ngunduh Mantu", NU Sawit Raih Dana 80 Juta

Meski demikian, di Boyolali sendiri, konsep ngunduh mantu ini bukanlah yang pertama kali diselenggarakan. Acara serupa, juga pernah dilakukan pengurus MWCNU Musuk, saat membangun gedung NU setempat, beberapa tahun yang lalu.

Haedar Nashir

Layaknya acara ngunduh mantu yang sesungguhnya, acara ngunduh mantu di NU Sawit pun dilaksanakan dari pagi hingga malam. Para tamu yang datang, silih berganti, mengalir seperti air, mulai pagi hingga malam. Layaknya acara ngunduh mantu mereka memasukkan amplop sumbangan ke dalam kotak yang telah disediakan.

Sebelumnya, panitia telah membagikan ulem (undangan) kepada calon tamu, yang di dalamnya telah tertera infaq minimal Rp. 50.000,- beserta jam undangan. Para tamu yang hadir, juga disuguhi penampilan 3 tim hadrah dan juga mendengarkan pengajian yang digilir selama 3 sesi.

“Pengajian dilaksanakan dalam 3 sesi, yaitu pagi pada pukul 09.00 - 12.00, siang pada pukul 13.00 - 15.00 dan malam pada pukul 19.30 sd 21.30. Pembicaranya pun ada 3, yakni Kiai Budi Santoso, Kiai Sujarwadi dan Rais Syuriah MWCNU Sawit, KH Joko Parwoto,” papar salah satu panitia yang juga Ketua PAC GP Ansor Sawit, Munshorif.

Haedar Nashir

Di akhir acara, setelah dihitung dana yang masuk ke kotak, terkumpul kurang lebih Rp. 80 juta.

Ketua panitia, Inpurwanta, berharap meski perolehan dana sedekah jariah cukup besar, tapi masih jauh dari kebutuhan untuk pembangunan, yakni Rp. 120 juta.

”Hingga saat ini pembangunannya baru dapat 45% dan masih membutuhkan bantuan dana yang besar,” terang Inpur, yang juga Sekretaris MWCNU Kecamatan Sawit itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Kajian, Santri Haedar Nashir

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

Bogor, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Bogor mengelar acara santunan kepada anak yatim di Pesantren Sunanul Huda, Kecamatan Lewiliang, Bogor, Jawa Barat, Ahad (5/7). Kegiatan sosial ini merupakan agenda rutin Muslimat NU Bogor.

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bogor Santuni 400 Anak Yatim Tiap Bulan

“Kegiatan ini kami lakukan rutin hampir setiap bulan di kediaman ayah kami dan kami merasa senang bisa berbagi dengan sesama. Kami mengundang hampir 400 anak yatim di setiap kegiatan,” kata Ketua PC Muslimat NU Bogor Nita Sari.

Nita berharap kegiatan ini bisa juga dilaksanakan oleh setiap Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU yang ada di Kabupaten Bogor. Pihaknya mengajak kepada masyarakat Muslim di bulan yang penuh rahmat ini untuk selalu ingat dengan mereka yang kurang beruntung.

Haedar Nashir

Program yang digagas H Sasmita, ayah kandung Nita Sari, ini dinilai cukup meringankan beban mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Kegiatan digelar di kediaman H Sasmita di Pesantren Sunanul Huda.

Haedar Nashir

Ketua Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Bogor Lukmanul Hakim yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, selaku pengusaha ia mendorong agar kegiatan mencintai anak yatim ini tidak hanya berlangsung di bulan Ramadhan dan bersifat ceremonial belaka. Tetapi, lebih mengarah kepada jangka panjang misalnya melalui beasiswa atau yang lainya.

Selain ketua HPN Bogor, hadir pula Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nu (IPNU), tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah setempat. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Makam, Ulama Haedar Nashir

Kamis, 02 November 2017

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Jakarta, Haedar Nashir

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari Banten. Salah seorang Mustasyar PBNU, KH Syatibi Syarwani meninggal dunia, Jumat (15/9), sekitar pukul 12.00 WIB. Rumah duka beralamat di Kampung Langana, Desa Sukaharja, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak.

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, Mustasyar PBNU KH Syatibi Syarwani Tutup Usia

Informasi tersebut disampaikan staf Syuriyah PBNU Mahbub Ma’afi. Kabar duka yang menyebar ke berbagai media sosial ini pun mengundang ungkapan belasungkawa dan doa warga NU.

Kiai Syatibi termasuk di antara nama-nama yang pernah direkomendasikan masuk dalam daftar anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, 2015 lalu. Ulama kharismatik ini aktif di NU sejak muda.

Haedar Nashir

Atas kiprah dan jasanya, ia disebut-sebut sebagai salah satu “paku bumi” atau penyangga NU Banten. Meski usia melebihi 80 tahun, Kiai syatibi hampir tak pernah absen di acara-acara penting yang diadakan NU.

Kiai Syatibi mengemban amanah sebagai mustasyar PBNU hasil Muktamar Ke-33 NU untuk periode 2015-2020. Namun, perjalanan tugas mesti terhenti di tengah jalan karena pulang ke rahmatullah. Lahul fatihah. (Mahbib)



Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Fragmen, Khutbah Haedar Nashir