Minggu, 26 Februari 2017

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi

Jakarta, Haedar Nashir

Terkait satuan pendidikan muadalah, Pemerintah seyogianya tidak memaksakan standarisasi pendidikan keagamaan, melainkan mendorong pesantren untuk mengembangkan dan mempertahankan secara mandiri sesuai ciri kekhasan masing-masing satuan pendidikan.

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Muadalah, Pemerintah Tak Perlu Paksakan Standarisasi

Demikian salah satu butir rekomendasi hasil riset Penyelenggaraan Satuan Pendidikan Muadalah di Pondok Pesantren yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2015.

Dalam penelitian pada 11 pesantren yang tersebar di empat provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta ditemukan bahwa masing-masing pesantren, baik model salafiyah maupun Kulliyatul Muallimin Islamiyah (KMI), memiliki karakter tersendiri.



Haedar Nashir

Secara kurikulum, tujuh penyelenggara pendidikan muadalah salafiyah berbasis kitab kuning, sementara empat penyelenggara lainnya berbasis pada dirasah islamiyah. Dari segi pendidikan umum, model muallimin telah terpenuhi dan bahkan melampaui dari apa yang dipersyaratkan, sementara model salafiyah relatif hanya sebagian saja yang terpenuhi lantaran mereka mengembangkan istilah tersendiri. Belum ada standar yang sama soal kurikulum pendidikan umum.

Menurut hasil penelitian ini, kurikulum pendidikan umum merupakan salah satu masalah yang perlu diatasi, di samping juga kompetensi pendidik pelajaran umum, tenaga kependidikan pustakawan, pembiayaan, dan akreditasi.  Gap atau kesenjangan antara realitas dan idealitas sekaligus menjadi daftar kebutuhan yang perlu dipenuhi.

Haedar Nashir

Karena itu, riset juga merekomendasikan agar pemerintah perlu segera membuat pedoman penyusunan standar isi mata pelajaran pendidikan umum khas bagi satuan pendidikan muadalah yang berbeda dengan standar isi satuan lainnya.

Dalam aspek penilaian dan kelulusan, penyelenggara muadalah bisa dikatakan telah melakukan proses-proses penilaian dengan tahapan yang sesuai standar: penilaian harian, mid semester, semester dan ujian muadalah. 

Untuk meningkatkan kajian keislaman, Puslitbang Penda juga mengusulkan agar Pemerintah selain menganggarkan untuk ruang perpustkaan perlu juga memfasilitasi pengadaan kitab-kitab keislaman dan memberikan akses berlangganan bahan/kitab rujukan kontemporer dari berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah maupun Barat.

Dalam hal pengelolaan, perlu dilakukan penyusunan pedoman pengelolaan pendidikan satuan muadalah yang aplikatif dan mudah dilakukan. Namun, unsur intervensi pemerintah juga tidak terlalu menonjol. Sebelum diterbitkan pedoman perlu disosialisasikan terlebih dahulu kepada pesantren. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Anti Hoax Haedar Nashir

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Jakarta, Haedar Nashir. Selama ini Ma’had Aly merupakan pendidikan tingkat tinggi khas pesantren yang konsisten mengajarkan ilmu-ilmu agama berbasis kitab kuning. Oleh Karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentu menyambut baik pengakuan negara atas legalitas Ma’had Aly.

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Sambut Baik Pengakuan Negara atas Legalitas Ma’had Aly

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz saat menghadiri Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di The Media Hotel Jakarta.

Konsekuensi dari legalitas tersebut, lanjut Maksoem, Ma’had Aly harus merumuskan berbagai standar, kualifikasi, dan kurikulum agar eksistensinya menemukan relevansi dan signifikansi. “Siginifikansi inilah yang menjadikan peran Ma’had Aly sesuai dengan perubahan masyarakat di era global,” ujar Guru Besar UGM ini.

Dia juga menegaskan bahwa lulusan Ma’had Aly merupakan produk pendidikan tinggi khas pesantren. Sebab itu, Prinsip kemandirian dan pemahaman Islam secara substantif harus terus dipertahankan.

Dalam konteks penyusunan kurikulum, Maksoem menerangkan bahwa kurikulum sepenuhnya menjadi kewenangan lembaga tersebut. Namun demikian, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga perlu memberikan atau mengusulkan kerangka sehingga Ma’had Aly tetap menemukan relevansinya dengan perubahan sosial masyarakat.

Haedar Nashir

Hadir beberapa tokoh penting dalam halaqoh ini diantaranya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Ketua PP Lakpesdam PBNU H Rumadi, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag H Mohsen, A’wan PBNU Hj Sri Mulyati, dan beberapa pimpinan Ma’had Aly. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Kamis, 23 Februari 2017

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Haedar Nashir yang kami hormati, syarat orang yang masuk Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Lantas bagaimana jika ada orang yang tidak bisa bicara atau bisu mau masuk Islam, apakah syahadat yang diucapkan melalui bahasa isyarat itu sudah dianggap sah sehingga orang tesebut dihukumi sebagai Muslim setelah mengucapkannya? Selanjutnya sebagai tambahan, apakah hukumnya belajar bahasa isyarat. Mohon penjelasannya, karena ada orang bisu yang non-Muslim hendak masuk Islam tetapi kebingungan bagaimana cara bersyahadatnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Adi/Jakarta)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Status Syahadat Orang Bisu? (1)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Ada dua pertanyaan yang diajukan kepada kami. Pertama mengenai syahadat orang yang bisu. Kedua mengenai hukum mempelajari bahasa isyarat. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan yang pertama terlebih dahulu. Sedang untuk jawaban pertanyaan kedua insyaallah akan segera menyusul pada kesempatan berikutnya.

Haedar Nashir

Seorang non-Muslim yang hendak masuk Islam maka harus membaca dua kalimat syahadat sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Sampai di sini tidak ada kendala berarti. Namun kendala akan muncul manakala orang yang mau masuk Islam memiliki keterbatasan dalam berbicara seperti orang bisu sehingga ia tidak serta merta bisa mengucapkan dua kalimat syahadat yang dapat dipahami oleh pihak lain.

Karena keterbatasan ini maka yang dilakukannya adalah membaca dua kalimat syahadat dengan bahasa isyarat. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, apakah syahadat orang bisu dianggap absah sebagai bukti ia masuk Islam?

Haedar Nashir

Para ulama telah sepakat bahwa Allah SWT tidak akan memberikan beban taklif kepada para hamba-Nya melebihi batas kemampuanya. Ini merupakan prinsip umum dalam hukum Islam dan merupakan bentuk karunia serta rahmat Allah SWT. Kesepakatan para ulama tersebut salah satunya didasarkan kepada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Allah tidak memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya,” (Surat Al-Baqarah ayat 286).

Salah satu contoh yang sudah maklum adalah kebolehan mengqashar, menjamak, dan tidak berpuasa bagi musafir dengan ketentuan yang telah ditetap oleh syara`. Seseorang yang sakit dan tidak bisa shalat dengan berdiri, maka diperbolehkan baginya shalat sambil duduk. Jika masih tidak bisa maka sambil tidur. Jika memang sudah tak sanggup dengan tidur, maka boleh dengan isyarat. Karena itu kemudian dikatakan dalam salah kaidah fikih bahwa “Al-masyaqqah tajlibut taysir,” (Kesulitan dapat menarik kemudahan).

Atas dasar ini, maka menurut hemat kami syahadat orang bisu adalah absah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam sepanjang bahasa isyarat yang digunakan dapat dipahami. Kendatipun ada pendapat (qila) yang menyatakan bahwa syahadat orang bisu dengan bahasa isyarat tidak dianggap abasah sebagai bukti bahwa ia masuk Islam. Pandangan kedua ini merujuk pada pembacaan tekstual terhadap pendapat Imam Syafi’i (zhahiru nashshil Imam As-Syafi’i).

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Masalah cabang, keislaman orang bisu melalui bahasa isyarat yang dapat dimengerti dianggap sah. Tetapi dalam pendapat lain dikatakan, keislaman seseorang tidak diakui kecuali apabila setelah mengucapkan syahadat dengan bahasa isyarat ia menjalankan shalat. Ini adalah zhahir pendapat Imam Syafi’i yang terdapat dalam kitab Al-Umm,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, Beirut, Al-Maktab Al-Islami, juz VII, halaman 282).

Namun, menurut An-Nawawi, pendapat Imam Syafi’i ini harus dibaca dalam konteks ketika isyarat yang digunakan orang yang bisu tersebut tidak dapat dipahami. Lain halnya ketika bahasa isyarat tersebut dapat dipahami maka dianggap absah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat yang benar dan dikenal adalah pendapat pertama. Sedangkan pendapat Imam Syafi’i itu mesti dipahami dalam konteks ketika (syahadat) dengan bahasa isyarat tidak bisa dimengerti,” (Lihat An-Nawawi, Raudlatut Thalibin wa ‘Umdatul Muftiyin, juz VII, halaman 282).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Syariah, Khutbah Haedar Nashir

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Jombang, Haedar Nashir. Panitia kegiatan haul Gus Dur ke-4 PP Tebuireng, Jombang, Lukman, mengatakan terus melakukan komunikasi dengan aparat untuk persiapan acara haul yang rencananya dihadiri langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Pejabat akan Dampingi Presiden Hadiri Haul Gus Dur

Pihaknya juga menyebut seluruh warga yang membawa undangan bisa diperbolehkan masuk, namun harus melewati pengamanan yang sudah ditetapkan oleh Paspampres.

"Ada sekitar 5.000 kursi yang disiapkan dan kami berharap jumlah itu mencukupi," kata Lukman.

Haedar Nashir

Dalam rombongan Presiden tersebut, sejumlah menteri sudah memastikan akan hadir di antaranya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Menteri Agama Suryadharma Ali, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, dan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.

Haedar Nashir

Tentang tradisi ziarah, ia mengatakan aktivitas akan normal seperti biasa. Para peziarah tetap dipersilakan untuk berziarah di makam yang ada di PP Tebuireng, namun saat kunjungan Presiden akan lebih diperketat.

Presiden SBY dijadwalkan akan melakukan kunjungan kerja di Jawa Timur, pada Jumat-Minggu (3-5/1). Rombongan Presiden akan singgah ke Museum Trowulan, Mojokerto, lalu melanjutkan kunjungan ke Jombang di antaranya ke PT Usaha Sejahtera Bersama, di Kecamatan Diwek, dan acara haul almarhum Gus Dur ke-4 di PP Tebuireng.

Pada Sabtu, rombongan menuju PT Bumi Menara Internusa dan berkunjung ke "Jatim Expo" Surabaya serta beristirahat di sebuahh hotel di Surabaya hingga kembali ke Jakarta pada Sabtu (5/1).

Petugas Kepolisian Resor Jombang, Jawa Timur, menurunkan sekitar 815 personelnya untuk pengamanan saat kedatangan Presiden dalam haul ke-4 almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Pengamanan kami di ring tiga yang kami khususkan untuk pengamanan jalur, termasuk di lokasi yang akan didatangi Presiden," kata Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Jombang AKP Sugeng Widodo di Jombang, Rabu.

Ia mengatakan 815 personel itu merupakan gabungan dari unsur Polri, Brimob, sampai intelijen. Tim mulai bertugas saat hari "H" kedatangan Presiden mulai di perbatasan Kabupaten Jombang-Mojokerto, sampai seluruh jalur masuk ke Jombang.

Namun, arus lalu lintas akan tetap berjalan dengan normal, termasuk yang melewati "fly over" di Peterongan, Kabupaten Jombang. Kendaraan akan diminta untuk menepi ketika rombongan datang, agar lalu lintas lancar.

Ia juga menyebut sampai saat ini belum ada tembusan unjuk rasa yang dimungkinkan akan terjadi menyambut kedatangan rombongan Presiden, namun ia memastikan tim siap mengawal jika ada unjuk rasa.(antara/mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, RMI NU, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Selasa, 21 Februari 2017

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Oleh Anggi Afriansyah

Akhir pekan ini, Ahad, 18 September 2016 Pondok Pesantren Cipasung akan menyelenggarakan Peringatan Haul ke-39 Almaghfurlah KH Ruhiat (pendiri Ponpes Cipasung) dan Peringatan Haul ke-9 Almaghfurlah KH M. Ilyas Ruhiat (Pimpinan Pesantren Cipasung 1977-2007). Peringatan haul ini menjadi momen yang tepat untuk mempelajari rekam jejak kedua Ajengan tersebut dalam kontribusinya bagi dunia pendidikan, khususnya di tataran priangan.?

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Majukan Pendidikan dari Pesantren Cipasung

Sosok KH Ruhiat dikenal sebagai tokoh yang memiliki keberanian besar dalam perjuangan melawan penjajah. Bersama KH Zaenal Mustafa asal Ponpes Sukamanah, ia aktif berjuang hingga harus rela keluar masuk penjara. Sedangkan, KH Ilyas Ruhiyat, sering disebut Ajengan Santun menjadi Rais Aam PBNU tahun 1994-1999. Keduanya sangat aktif di Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). ?

Mendidik umat

Ponpes Cipasung sudah eksis sejak tahun 1931. Situasi perjuangan kemerdekaan sangat kental ketika itu. Periode di mana perjuangan bangsa sedang bergejolak. Pada awal berdiri, sudah ada 40 orang yang menjadi santri dan belajar dengan K.H. Ruhiat secara langsung. Tak lama kemudian beliau mendirikan Sekolah Agama (Madrasah Diniyah) untuk membina anak-anak usia muda, disusul pendirian Kader Muballigh wal Musyawirin sebagai medium pelatihan dakwah dan musyawarah bagi santri-santri yang sudah dewasa. Di tengah keterbatasan dan berulang kali keluar masuk penjara karena melawan pemerintah kolonial, KH Ruhiat tetap konsisten memperjuangkan pendidikan di pesantren yang ia pimpin.?

Haedar Nashir

Menariknya, KH Ruhiat juga memberikan porsi yang besar bagi kemajuan pendidikan santri putri. Terbukti dari pendirian Kursus Mubalighoh bagi santri putri. Sesuatu yang sangat progresif untuk masa-masa penjahan ketika itu. Kursus Mubalighoh menjadi wahana pelatihan dakwah bagi santri putri dan arena kaderisasi penceramah perempuan. KH Ruhiat sepertinya menyadari bahwa perempuan-perempuan cerdas merupakan aset penting bagi masyarakat. Karena dari rahim perempuan cerdaslah anak-anak bangsa lahir.?

Pasca kemerdekaan Indonesia menjadi momen pertumbuhan lembaga pendidikan formal di bawah naungan Ponpes Cipasung. Perlahan tapi pasti lembaga-lembaga pendidikan formal didirikan. Mulai dari unit pendidikan terendah yaitu Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi didirikan oleh Ponpes Cipasung. Lembaga-lembaga tersebut didirikan untuk mengakomodir perubahan zaman. Tak hanya diberikan pemahaman yang mumpuni tentang keagamaan, santri pun mesti dibekali kecapakan-kecakapan hidup teknis melalui pendidikan dan pelatihan. Modal dasar pendidikan ini menjadi pegangan bagi para santri untuk mengabdi di masyarakat.

Jika melihat rentang sejarah, pendidikan formal di Ponpes Cipasung sudah mulai didirikan lima tahun pasca kemerdekaan Indonesia. Tahun 1950 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI) yang kemudian pada tahun 1953 berubah menjadi Sekolah Menengah Islam Pertama, tahun 1954 didirikan Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB) dan kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan tahun 1959 didirikan Sekolah Menengah Atas Islam (SMAI). Sekolah Persiapan IAIN (SP IAIN) Sunan Gunung Djati cabang Cipasung yang kemudian pada tahun 1978 diubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Cipasung.

Haedar Nashir

Tak hanya mengakomodir pendidikan dasar dan menengah, Ponpes Cipasung pun menginisiasi pendidikan tinggi. Sejak tahun 1965 didirikan Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Islam Cipasung (PTI Cipasung), tahun 1982 juga didirikan Fakultas Syariah. Kedua Fakultas tersebut menjadi cikal bakal berdirinya Institut Agama Islam Cipasung (IAIC). Pada tahun 1992 didirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Cipasung melengkapi jenjang pendidikan dasar di Ponpes Cipasung.?

Kemudian, tak hanya bergerak pada pendidikan tinggi bidang keagamaan, pada tahun 1997 didirikan Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung (STTC), pada tahun 1999 didirikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cipasung, pada tahun 2000 dibuka Program Pasca Sarjana UII Jogyakarta kelas khusus Cipasung.

Pendidikan anak usia dini juga menjadi salah satu prioritas penting sehingga membuat Ponpes Cipasung mendirikan TK Islam Cipasung pada tahun 2003. Pada tahun 2009 didirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Cipasung dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan KH Ilyas Ruhiat. ?

Perjalanan sejarah Pondok Pesantren Cipasung dalam memperjuangkan pendidikan anak bangsa secara detil dapat dibaca di website resmi Ponpes Cipasung (www.ponpescipasung.com). Dalam rentang waktu tersebut Ponpes Cipasung sudah mendirikan beragam institusi pendidikan di bawah naungan pesantren. Upaya tersebut merupakan bagian penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mendidik anak bangsa melalui pendidikan di pesantren.?

Keteladanan

Keteladanan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat menjadi kunci bagi keberlanjutan perjuangan pendidikan Islam di Jawa Barat. Bagaimana pendidikan Islam dapat bersinergi dengan baik dengan pendidikan modern. Proses pendidikan yang tak menjadikan lulusan pesantren menjadi gemar menebar kebencian terhadap yang berbeda paham. Kedua ulama tersebut mencontohkan dengan baik bagaimana umat Islam dapat berkontribusi secara optimal bagi negeri ini. Para santri yang ditempa di pesantren setelah lulus akan berbaur dengan masyarakat serta aktif terlibat dalam proses pembangunan bangsa.?

Ponpes Cipasung sudah memberi teladan bagaimana seorang santri dapat menjadi sosok yang menghadirkan kedamaian dan keteduhan. ? Contoh yang secara nyata diberikan oleh para ulama dan ustadz/ustadzah di Pesantren Cipasung. Mereka memberikan teladan melalui laku harian dan aktivitas nyata yang bermanfaat bagi bangsa. Perjuangan KH Ruhiat dalam membangun Ponpes Cipasung dilanjutkan oleh putra-putri dan cucunya.?

Sosok KH Ilyas Ruhiat mengutip catatan Iip D. Yahya, penulis Buku Ajengan Santun, Biografi KH Ilyas Ruhiat, sebagai seorang pejuang sederhana. Bukan orator handal yang membakar massa di podium, bukan penulis piawai yang merangkai kata-kata. KH Ilyas menurut Iip merupakan guru yang ingin agar murid-muridnya mudah menangkap yang diajarkannya. Beliau adalah pengamal tasawuf, yang sanggup untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain dan selalu mampu mengendalikan emosi.

Contoh nyata lainnya dapat dilihat dari perjuangan putra-putri dari KH Ilyas Ruhiat dalam menebar kebermanfaatan bagi sesama. Putra pertamanya, Acep Zamzam Noor, merupakan seniman yang banyak menghasilkan karya. Putri kedua, Ida Nurhalida dikenal sebagai seorang pendidik dan sosok pejuang kesetaraan perempuan. Sedangkan putri ketiganya, Enung Nursaidah menjadi salah satu tokoh inspirasi yang tercatat pada buku “Dari Inspirasi Menjadi Harapan, Perempuan Muslim Indonesia dan Kontribusinya Kepada Islam yang Pluralis dan Damai” diterbitkan oleh LBH APIK.?

Menebar kebermanfaatan bagi sesama merupakan cita-cita bagi setiap santri yang mengenyam pendidikan di pesantren. Kekhawatiran bagi santri adalah ketika ilmu yang didapatnya tidak dapat diaplikasikan dalam keseharian, tidak bermanfaat bagi masyarakat.?

Berdirinya beragam institusi pendidikan formal dan informal dibawah naungan pesantren merupakan salah satu tujuan agar penyebaran kebermanfaatan dapat dirasakan dalam daya jelajah yang lebih jauh. Alumni Ponpes Cipasung tak hanya menjadi ulama atau kyai, tetapi juga menjangkau profesi lain seperti politisi, birokrat, pengusaha, pendidik, seniman, wartawan dan bidang pekerjaan lainnya.

Pengabdian pesantren bagi komunitas masyarakat memang penting. Pesantren menjadi mercusuar yang memberikan wajah islam yang rahmatan lil alamin. ? Perjuangan K.H. Ruhiat menjadikan Ponpes Cipasung mendidik umat merupakan ikhtiar berharga bagi bangsa. Sebagai kontribusi besar tak hanya untuk umat Islam tapi juga untuk bangsa. Perjuangan besar yang harus dilanjutkan oleh para santrinya.?

Sebagai penutup, karya puitis dari Acep Zamzam Noor dapat menjadi renungan, hari esok adalah perjalananku sebagai petani, membuka ladang-ladang amal dalam belantara yang pekat. Maka, sebagai santri, kita harus terus berjuang, membuka ladang kebajikan, menebar kebermanfaatan, bekerja nyata untuk negeri tercinta.***

?

Penulis adalah Peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, pernah nyantri di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Syariah, Kyai Haedar Nashir

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Batang, Haedar Nashir. Para pendekar Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tidak hanya berpartisipasi mengamankan arus mudik. Di posko Pagar Nusa, para pemudik yang kecapekan bisa mampir beristirahat sembari menikmati pijat gratis.

“Program posko Pagar Nusa ini meliputi terapi sentuh, pijat refleksi, pijat listrik, akupresure metafisika (pijat tenaga dalam). Semua gratis,” kata koordinator Posko Mudik Batang Jawa Tengah, Harun Heru Supriyanto, dihubungi Haedar Nashir, Ahad (4/8).

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)
Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa (Sumber Gambar : Nu Online)

Capek Perjalanan Mudik? Mampir Pijat di Posko Pagar Nusa

Senin hari ini, posko mudik Pagar Nusa yang berada di Jalan Raya Batang dan Sabah akan didatangi langsung oleh Dewan Ketabiban Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

Di posko Pagar Nusa yang berada di pos Dishub Kominfo, Pagar Nusa juga memberikan layanan informasi mudik, terkait rute utama dan jalur-jalur alternatif.

Selain itu, partisipasi utama Pagar Nusa adalah menciptakan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik.

Haedar Nashir

Menurut Harun yang juga pengurus bidang pelatihan untuk wasit dan juri Pimpinan Pusat Pagar Nusa, pihaknya telah menempatkan para pendekar di beberapa tempat strategis di sepanjang arus mudik, wilayah Batang, Jawa Tengah.

“Kami juga melakukan ronda keliling di sepanjang jalan kabupaten Batang,” katanya.

Program posko mudik Pagar Nusa Batang ini merupakan tahun tahun keempat. Tahun-tahun sebelumnya mereka membuka posko sendiri.

Haedar Nashir

“Dulu kita membikin posko sendir i, tapi hanya sedikit pemidik yang mau singgah. Sekarang kita bergabung dengan Dishub Kominfo. Tempatnya juga lebih strategis,” kata Harun.

 

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Fragmen, Kiai Haedar Nashir

Rabu, 15 Februari 2017

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Pacitan, Haedar Nashir. Ada banyak cara dilakukan untuk memeriahkan datangnya tahun baru Islam. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh keluarga besar GP Ansor Pacitan yang menggelar Gebyar 1 Muharram 1437 H dengan tema ‘Islam Nusantara: Agama yang berbudaya, budaya yang beragama’, Selasa malam (14/10) di kawasan wisata pantai selatan Pacitan, Jawa Timur.

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Khoirul Anam, Ketua GP Ansor Pacitan mengatakan, pihaknya sengaja memperingati tahun baru hijriyah dengan menggelar pagelaran budaya karena didasari rasa keprihatinan atas banyaknya kebudayaan lokal yang mulai hilang tergeser kemajuan zaman.

"Kami ingin mengangkat dan menampilkan kembali kearifan lokal seperti sepak bola api Brojo Geni dan pembacaan Sholawat Khataman Nabi yang biasa dilakukan oleh para sesepuh terdahulu saat datangnya tahun baru hijriyah," katanya dihadapan ratusan anggota banser dan masyarakat.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, ditampilkan permainan sepak bola api brojo geni yang dilakukan oleh para santri dari Pondok Tremas Pacitan. Sebelumnya para santri telah melakukan tirakat dengan berpuasa selama seminggu dan telah melewati serangkaian proses latihan.?

Permainan sepak bola api brojo geni dilakukan layaknya pertandingan futsal. Tetapi mereka tidak menggunakan sepatu. Bola yang digunakan merupakan bola khusus yang terbuat dari sabut kelapa. Kemudian bola api itu direndam ke dalam minyak tanah dan disulut api hingga terbakar. Butuh kemampuan khusus untuk memainkan permain ala pesantren itu. Mereka yang pemberani yang sanggup berebut bola dan menendangnya ke gawang.

Haedar Nashir

Antusias pemain dan penonton sepak bola api cukup besar sehingga pertandingan berlangsung dengan semarak. Selama permainan berlangsung, dibacakanlah sholawat dan syi’iran Jawa yang dibawakan oleh jam’iyyah sholawat dari MWCNU Kecamatan Kebonagung Pacitan.

Menurut Agus Susanto salah satu panitia mengatakan, filosofi permainan bola api yang diajarkan oleh kiai kepada para santrinya mempunyai makna yang dalam. Ketakwaan dilambangkan dengan puasa sebelum memulai permainan, pengendalian nafsu dilambangkan dengan bola api yang selalu menyala dan berbuat baik kepada sesama yang dilambangkan kerjasama saling menghargai antar-pemain. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Pekalongan, Haedar Nashir. Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah Syirkah Muawanah Nahdlatul Ulama (KSPPS SMNU) Kota Pekalongan mulai tahun 2017 dan seterusnya akan membagikan keuntungan usaha kepada siswa berprestasi di lingkungan NU.

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Bagikan Beasiswa kepada Siswa Berprestasi

Koperasi yang semula bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Nahdlatut Tujjar itu mulai beroperasi tahun 2004. Kini telah membukukan aset sebesar Rp 119 milyar dengan anggota pendiri sebanyak 85 orang dan ribuan anggota. Koperasi tersebut telah memiliki 1 kantor cabang utama dan 12 kantor cabang yang tersebar di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang.

"Pemberian beasiswa kepada anak yang berprestasi di sekolah lingkungan Nahdlatul Ulama adalah sebagai bentuk kepedulian KSPPS SM NU yang dirintis sejak 13 yang lalu," ujar Sulaeman Ketua KSPPS SM NU Kota Pekalongan pada saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Gedung Aswaja Ahad (12/3).

Dikatakan, sebelumnya PSPPS SMNU juga sudah melakukan dukungan ke lembaga pendidikan khususnya kepada siswa yang kurang mampu, yakni di SMA Hasyim Asyari Pekalongan. Akan tetapi mulai tahun 2017, pihaknya memberikan kepada siswa berprestasi ke seluruh sekolah di lingkungan LP Maarif NU, yakni MI/SD, SMP/MTS, MA/SMA/SMK se-Kota Pekalongan.

Dana yang diberikan selama 6 bulan dan bisa ditarik setiap bulannya untuk biaya SPP dan lain lain diberikan dalam bentuk tabungan siswa. Meski nilainya belum signifikan, dirinya berharap bantuan beasiswa berprestasi bisa membantu anak anak termotivasi untuk lebih giat belajar. Dirinya berjanji setiap tahunnya akan ada peningkatan nilai beasiswa, ujar Sulaeman yang juga pensiunan Bank Mandiri.

Haedar Nashir

Kehadiran KSPPS SMNU berdampak signifikan bagi PCNU Kota Pekalongan khususnya. Karena lembaga keuangan mikro ini adalah wujud kepercayaan warga Nahdliyin kepada lembaga keuangan syariah. Meski di Kota Pekalongan tumbuh dengan subur lembaga semacam itu, tapi tak menyurutkan langkah warga Nahdliyin dan masyarakat umum mempercayakan transaksinya di lembaga yang dikelola anak anak muda NU. (Abdu Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Makam Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 14 Februari 2017

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung

Bandarlampung, Haedar Nashir - Setelah melewati seleksi ketat untuk mendapatkan Beasiswa Sarjana melalui Persatuan Guru NU atau Pergunu Provinsi Lampung, sebanyak 11 pelajar Lampung berhasil terpilih. Seleksi beasiswa yang dilaksanakan untuk tahun ketiga ini meliputi administrasi, mengaji Al-Quran, tes potensi akademik (TPA), wawancara siswa, wawancara orangtua, serta minat dan bakat.

"Seleksi program ini kami melibatkan pihak akademisi dan internal Pergunu Lampung untuk bidang Mengaji Al-Quran, tes potensi akademik (TPA), wawancara, serta minat bakat. Selamat dan sukses karena telah melewati proses tahapan seleksi," kata Ketua Pergunu Lampung H Jamaluddin Malik, Ahad (9/7).

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

11 Pelajar Raih Beasiswa Penuh Sarjana Melalui Pergunu Lampung

Ia menambahkan, para pelajar yang terseleksi ini akan menempuh pendidikan beasiswa penuh di Institut KH Abdul Chalim Mojokerto, Jawa Timur. Program beasiswa penuh S-1 dari Pergunu ini merupakan program berkelanjutan, bahkan hingga jenjang S-3.

Haedar Nashir

Pada kesempatan ini Ketua Tim Seleksi Beasiswa H Erzati Abbas berharap para penerima beasiswa untuk menjaga nama baik keluarga dan juga Pergunu Lampung.

Haedar Nashir

"Anda merupakan orang-orang yang terpilih dan diberikan kesempatan, karena banyak di luar sana yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tetapi terhambat berbagai kendala. Jadi manfaatkan beasiswa ini sebaik-baiknya," ucap Penasehat Pergunu Lampung yang juga Dosen UIN Raden Intan Lampung ini.

Salah satu Anggota Tim Dwi Rohmadi juga berpesan agar para penerima beasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Hal ini dapat ditempuh dengan cara belajar dan berprestasi.

"Tugas mahasiswa adalah belajar. Menuntut ilmu itu kewajiban kita sebagai umat Islam. Jadi Anda kuliah itu diniatkan sebagai ibadah," ujarnya.

Para pelajar terpilih ini direncanakan akan diberangkatkan menuju Mojokerto, Jawa Timur pada 10 Agustus 2017. Pelepasan yang akan dilaksanakan di Kantor bersama LP Maarif NU Lampung dan Pergunu Lampung ini direncanakan akan dilepas oleh Kepala Kanwil Kemenag Lampung. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Fragmen Haedar Nashir

Mencetak "Agent Of Change" Melalui Pesantren

Peresensi: Heri Kurniawan

Judul Buku: Menggerakkan Tradisi

Penulis: Abdurrahman Wahid

Mencetak Agent Of Change Melalui Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencetak Agent Of Change Melalui Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencetak "Agent Of Change" Melalui Pesantren

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, 2007

Tebal: xxii+275 halaman

Haedar Nashir

Sepanjang pengetahuan yang telah tersebar selama ini di kalangan akademisi, aktivis, intelektualis, sepertinya hanyalah mahasiswa yang paling pantas diposisikan sebagai penyandang gelar istilah agent of change (agen perubahan). Padahal, potensi besar seperti itu pun dimiliki oleh lembaga pendidikan non-formal, seperti halnya pesantren. Inilah salah satu dampak dari pemerintahan Orde Baru (Orba) dalam upayanya mengaburkan nilai-nilai sejarah perjuangan panjang nenek moyang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, hanya demi membangun doktrin sejarah bahwa, perjuangan politik mencapai kemerdekaan tidak lebih dari perjuangan bersenjata. Padahal, kita tahu, pasukan tentara baru terbentuk setelah bangsa ini diorganisasikan dalam Republik.

Haedar Nashir

Orba telah mengebiri peran penting lembaga berbasis keagamaan ini dalam sejarah nasional yang pantasnya mendapat penghargaan besar. Tapi, kenapa justru mendapat ketidak-aku-an pemerintah. Dalam konteks perjuangan melawan pemerintah kolonial, pesantren mampu mencetak pejuang-pejuang pergerakan nasional, seperti halnya, tokoh-tokoh; Soekarno, Sjahrir, dan Bung Tomo dengan organisasinya Boedi Utomo yang melahirkan kesepakatan bersama para pemuda-pemudi dalam wadah Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober. Lebih parah lagi, lembaga berlatar belakang tradisi budaya ini sempat pula dicurigai sebagai sarang kejumudan, konservatisme, ia menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan yang digalakkan pemerintah sekitar tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an. Di sekitar tahun 2004-an ke belakang, pesantren disebut sebagai sarang teroris.

Akibat, tidak banyak yang mengenal sosok, seperti, KH Wahab Chasbullah dari Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, KH Hasyim Asari dari Tebuireng, Jombang, dalam konteks keperjuangannya yang keras telah mampu memobilisasi massa menyerang tentara asing yang ingin menduduki pemerintahan di wilayah Surabaya dan sekitarnya. KH Wahab Chasbullah yang sejak di Mesir menjadi pengikut Sarikat Islam (SI) telah mendirikan Madrasah Nahdhatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) di Surabaya. Madrasah yang menjadi kawah candradimuka generasi muda ini berkembang pesat sampai Gresik, Malang, Pasuruaan, Semarang, Sidoarjo dan Lawang. Satu tahun kemudiaan, tepatnya tahun 1918, ia juga mendiriakan Organisasi Sosial Ekonomi bernama Nahdhatut Tujar (Kebangkitan Para Pedagang). Organisasi inilah yang nantinya menjadi embrio dan berkembang menjadi NU, bahkan menjadi dapur pemikiran NU sendiri. Organ-organ ini, meski berlatar belakang pesantren, jika pandang dari sisi waktu maupun pengaruhnya, tidak kalah dibanding dengan organisasi-organisasi seperti yang digagas Bung Tomo dan kawan-kawan dalam memperjuangkan bangsa ini.

Untuk itulah, merubah kembali paradigma lama dengan yang baru adalah suatu keharusan. Artinya, bukan hanya mahasiswa saja yang pantas dan mampu untuk diikutsertakan sebagai subyek pembangunan bangsa pada saat ini, melainkan lembaga dengan latar belakang kultural, non-formal ini pun layak digabungkan dalam golongan agent af change. Bahkan, jika dilihat dari sejarah tradisi perjuangannya yang panjang, jelas-jelas pesantren telah membuktikan dirinya mampu menjadi agent of change. Gus Dur sendiri—terlepas dari latar belakang kepesantrenannya—menyebut pesantren sebagai subkultural, walaupun masih dalam tataran ideal.

Sebagaimana diuraikan dalam banyak penjelasan sosiologis, sebuah subkultural, minimal harus memiliki keunikan sendiri dalam aspek-aspek berikut; cara hidup yang dianut, pandangan hidup dan tata nilai yang diikuti, serta hirarki kekuasaan intern tersendiri yang ditaati sepenuhnya. Bagi Gus Dur, pesantern sangatlah dinamis, bisa berubah, dan mempuyai dasar-dasar yang kuat untuk ikut serta mengarahkan dan menggerakkan perubahan yang diinginkan. Eksistensi pesantren, sebagai sebuah lembaga kehidupan yang menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini; terdapatnya sejumlah penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantern; berlangsungnya pembentukakan tata nilai yang tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbolnya; adanya daya tarik keluar sehinga memungkinkam masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup yang ada di masyarakat itu sendiri; dan berkembangnya suatu proses pengaruh-memengaruhi dengan masyarakat di luarnya, yang akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang secara universal diterima kedua belah pihak, adalah kriteria yang dirasa cukup oleh Gus Dur menggolongkan "pesantren sebagai subkultural".

Tujuaan Gus Dur menulis buku ini tak lain adalah respon positif munculnya anggapan bahwa pesantren adalah sarang kejumudan, konservatisme, menjadi penghalang besar bagi usaha-usaha pembangunan. Karena, pesantren baginya, sangatlah dinamis, bisa berubah dan mengubah karena memilki dasar-dasar kuat untuk ikut mengarahkan dan mengerakkan perubahan dalam konteks pembangunan bangsa ke depan.

Pesantren sendiri telah sejak lama memegang sistem kepengurusan yang oleh Gus Dur dikatakan sangatlah demokratis yang saat ini mejadi topik berbincangan aktual setiap bangsa. Sistem kepengurusan pesantren adakalanya berbentuk sederhana, di mana kiai memegang kepimpinan mutlak dalam segala hal. Sedangkan, kepemimpinan itu sering kali diwakilkan kepada ustaz senior selaku "lurah pondok". Dalam pesantren yang telah mengenal bentuk organisasi yang lebih komplek, peranan "lurah pondok" ini digantikan oleh susunan pengurus lengkap dengan pembagiaan tugas masing-masing walaupun adakalanya ketuanya masih dinamai "lurah pondok" juga. Walaupun telah berbentuk sebuah pengurus yang bertugas melaksanakan segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya pesantern sehari-hari, kekuasaan mutlak senantiasa masih berada di tangan sang kiai. Dan, sekalipun susunan pimpinan pesantren masih terdapat jarak tak terjembatani antara kiai serta keluarganya di satu pihak dan para asatiz serta santri di lain pihak, kiai bukan primus intern peres, melainkan bertindak sebagai pemilik tunggal (directeur eigenaar).

Buku ini bisa dikatakan sebuah kontribusi bagi lembaga pesantren yang jarang ditempatkan pada wilayah startegis dalam setiap pembangunan nasional. Akan pula menjadi referensi perbandingan di mata pemerintah dalam membangun kembali bangsa Indonesia ke depan. Karena, tanpa adanya campur tangan dari lembaga-lembaga seperti pesantren yang memilki legitimasi tradisi kebudayaan yang kuat, bisa dimungkinkan tidak akan bisa berjalan mulus pembangunan tersebut. Usaha-usaha pembangunan memang dapat mengabaikan kebudayaan, namun usaha-usaha itu tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pembangunan mempengaruhi kebudayaan, atau dipengaruhi oleh kebudayaan.

Setidaknya ada tiga alasan yang bisa menempatkan kebudayaan sebagai alat yang memungkinkan pembangunan bisa berlangsung dengan sukses dalam pendahuluan buku Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah Pendekatan terhadap Antropologi Terapan di Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor, 1987) oleh Nat. J. Colletta. Pertama, unsur-unsur budaya mempunyai legitimasi tradisional di mata orang-orang yang menjadi sasaran program pembangunan. Kedua, unsur-unsur budaya secara simbolis merupakan bentuk komunikasi paling berharga dari penduduk setempat. Ketiga, unsur-unsur budaya mempunyai aneka ragam fungsi (baik yang wujud maupun yang samar) yang menjadikannya sebagai sarana paling berguna untuk perubahan.



Peresensi adalah alumnus Pondok Pesantren (Ponpes) Khozinatul Ulum, Banan, Gunung Rejo, Kedungpring, Lamongan. Saat ini, mengabdi di Ponpes Mahasiswa Hasyim Asyari DI Yogyakarta.
Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba Haedar Nashir

Senin, 13 Februari 2017

Santri Harus Turun Glanggang

Brebes, Haedar Nashir. Kondisi negara yang diliputi dengan Korupsi dari tingkat atas hingga bawah, menjadi keprihatinan bersama. Sehingga Santri sangat dinanti turun glanggang untuk ikut memberantas korupsi. Jika dibiarkan saja, maka negara akan hancur.

Santri Harus Turun Glanggang (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Harus Turun Glanggang (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Harus Turun Glanggang

Ajakan tersebut disampaikan Ketua Mahkamah Kontitusi (MK) Mahfud MD, saat mengunjungi Pesantren Al Hikmah I Benda Sirampog Brebes, Sabtu (16/2) lalu.

"Orang-orang pesantren selalu tampil untuk menyelamatkan negara, maka ketika negara kita sedang dilanda banjir Korupsi maka santri harus turun glanggang untuk memperbaiki kondisi negara,” ajaknya.

Haedar Nashir

Korupsi sekarang, kata Mahfud, sudah akut dan pemberantasannya sangat sulit karena yang terjadi para pemimpin negeri ini saling sandra. Pemimpin yang ada sudah terlibat korupsi sehingga tidak dapat memberantas korupsi secara tuntas.

Haedar Nashir

Dalam catatan Mahfud MD, sejak paska reformasi sampai sekarang ada 263 pemimpin daerah yang terlibat kasus pidana dan 80 persennya adalah kasus korupsi. “Reformasi yang katanya mau memberantas KKN malah melanjutkan korupsi,” ujarnya.

Begitupun praktek mafia peradilan, benar-benar terjadi di negeri ini, hukum bisa dibeli dan direkayasa. Tuntutan hukum dapat dikompromikan dengan menyuap jaksa, hakim dan juga polisi, sehingga seorang yang tersangkut hukum bisa dihukum ringan bahkan bebas. 

"Peradilan dapat dibeli beramai-ramai oleh para terdakwa, sehingga tidak ada lagi keadilan di negeri ini," kata Mahfud.

Kondisi tersebut tidak mungkin dibiarkan dan untuk membenahinya ditunggu orang-orang dari pesantren untuk selamatkan negara dari kehancuran. Keunggulan pendidikan di pesantren yang didasari agama yang cukup dan mengedepankan moral orang pesantren layak untuk menjadi pemimpin.

"Sekarang sudah terbukti orang pesantren memiliki keunggulan, lembaga-lembaga negara yang bersih dipimpin dan didominasi oleh lulusan pesantren," tandas Mahfud. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Pendidikan, Amalan Haedar Nashir

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan

Bandarlampung, Haedar Nashir - Sebagai penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Tetapi sampai saat ini perkembangan ekonomi syariah belum memperlihatkan tren positif. Hal ini terlihat sejak tahun 1994 sampai dengan saat ini, pengguna jasa ekonomi syariah di Indonesia baru mencapai 5 % dari total umat Islam Indonesia.

Fakta ini disampaikan oleh salah satu Dewan Perbankan Syariah Provinsi Lampung Alamsyah saat menjadi keynote speaker pada acara bedah buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah kerja sama Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung dan MUI Provinsi Lampung di Aula Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Selasa (12/12).

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan

Padahal menurutnya, ekonomi syariah sangat penting bagi umat Islam dalam melakukan amaliah perekonomian sehingga sesuai dengan kaidah dan hukum dalam agama. Ketika semua hasil pergerakan ekonomi dilakukan sesuai dengan kaidah syari maka tentunya harta yang didapatkan akan berkah.

Haedar Nashir

"Mari Syiarkan Ekonomi Syariah dan Syariahkan Ekonomi Indonesia. Umat Islam wajib kaya. Karena ketika umat Islam tidak menguasai ekonomi ini merupakan sumber kemunduran umat Islam," ajaknya di depan peserta bedah buku yang terdiri dari para Ulama dan pengurus MUI Lampung serta Ormas Islam ini.

Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung ini mengingatkan juga bahwa salah satu permasalahan saat ini yang dihadapi umat Islam adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Hal ini merupakan target dari pihak luar untuk melemahkan umat Islam.

Haedar Nashir

"Satu keluarga miskin memiliki potensi 10 kali lipat menghasilkan keluarga miskin. Kefakiran akan mampu membuat orang menjadi kufur," tegasnya.

Awan PWNU Lampung ini mengingatkan agar para kiai lebih concern terhadap permasalahan ekonomi umat dengan memberikan motivasi kewirausahaan sehingga umat mampu lebih baik tingkat ekonominya.

"Setidaknya satu bulan sekali ada materi khutbah Jumat terkait dengan penguatan ekonomi umat. Karena permasalahan dan pembahasan yang dihadapi umat bukan hanya surga, neraka, pahala dan dosa tetapi persoalan ekonomi juga selalu dihadapi dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Selain Alamsyah, ada tiga narasumber lain yang mengisi materi pada acara tersebut. Ketiga pemateri tersebut adalah Kepala OJK Provinsi Lampung Indra Krisna, Ketua Umum MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid, dan Pakar Perbankan Syariah Ridwansyah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Sabtu, 11 Februari 2017

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Harian GP Ansor Pringsewu akan menggunakan sistem online untuk merekrut calon anggota Ansor dan Banser. Sistem ini rencananya akan diberlakukan saat rekrutmen calon peserta PKD Ansor dan Diklatsar Banser Angkatan II yang akan diselenggarakan pada akhir Desember 2015 ini.

Sistem itu saat ini sedang dikerjakan. Targetnya pada awal Oktober sudah bisa diuji coba dan dipakai dalam rekrutmen.

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online

Menurut Sekretaris Bidang Pendidikan, Kaderisasi, dan Ideologi Henudin, "Sudah saatnya Ansor Pringsewu menerapkan program-programnya melalui teknologi supaya akses informasi lebih cepat dan mudah. Jangan sampai organisasi sebesar ini ketinggalan zaman dan tidak ngerti teknologi alias gaptek."

Haedar Nashir

Saat ? rapat koordinasi bidang kaderisasi di Sekretariat GP Ansor Ambarawa, Ahad (6/9) sore, Henudin menambahkan bahwa sistem ini akan menyatu pada web-blog GP Ansor Pringsewu. Ia berharap ketika calon peserta PKD Ansor dan Diklatsar Banser Angkatan II mendaftarkan diri, mereka secara tidak langsung dapat mengetahui informasi-informasi tentang ke-NUan, Ke-Ansoran, ke-Banseran, dan lain sebagainya.

“Sehingga ketika mereka digembleng pada kegiatan itu, mereka sudah memiliki pengetahuan tentang ke-NUan dan sebagainya.”

Haedar Nashir

Calon peserta yang akan mendaftarkan diri, kata Henudian, cukup masuk ke laman http://ansorpringsewu.blogspot.co.id kemudian pilih tab Registrasi, mengisi data secara lengkap berdasarkan form yang tersedia di sana. Setelah data lengkap maka calon peserta akan mendapat balasan melalui email ataupun kontak sesuai dengan data yang dikirim.

Jika peserta mengalami kesulitan, tersedia pula form manualnya dan peserta bisa mengunduhnya sendiri kemudian melengkapinya. Kemudian form langsung diserahkan ke Sekretariat PAC GP Ansor di masing-masing daerahnya untuk diverifikasi. Peserta yang sudah diverifikasi bisa mengikuti kegiatan PKD Ansor atau Diklatsar Banser Angkatan II. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Fragmen, News Haedar Nashir

Jumat, 10 Februari 2017

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan

Jakarta, Haedar Nashir. NU selalu membuka forum bahtsul masail ketika ada masalah yang berkembang di masyarakat untuk dicarikan solusinya. Forum tersebut tidak hanya pada Muktamar, Konbes, atau Munas, dan tidak hanya di tingkat pusat, tapi PWNU atau PCNU. Bahkan di tingkat Ranting.

Baru-baru ini, PBNU menggelar bahtsul masail perihal kewarganegaraan ganda yang diadakan di Gedung PBNU, Selasa (20/9) siang. Para kiai berdiskusi dengan pelbagai kalangan dengan latar belakang yang beragam untuk membahasnya. Senjata para kiai dalam berduskusi tersebut adalah ilmu fiqh. Kenapa ilmu fiqih?

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan

Menurut Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, ilmu tersebut berupaya menyelesaikan masalah, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, bahkan politik. “Penyelesaiannya kan fiqih. Solusinya itu fiqih,” katanya kepada Haedar Nashir beberapa waktu lalu ketika ditanya tentang fungsi ilmu fiqih. ?

Haedar Nashir

Fiqih itu cara berpikir secara kontekstual untuk menyelesaikan masalah. “Ilmu fiqih itu ilmu duniawi, ilmu untuk bisa menyelesaikan persoalan. Fiqih itu kan ijtihadi, istinbati, bagaimana membuat ijtihad dan istinbat dari nash-nash yang ada maupun dari pendapat-pendapat yang sudah ada,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ketika tidak ada pendapat, lanjutnya, maka kita melakukan istinbat jama’i. Ketika ada pendapat, tapi sudah tidak relevan lagi, kita melakukan telaah ulang.

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomudin di gedung PBNU, Jakarta Rabu (21/9) mengatakan, di tangan orang yang menguasai perangkat ilmu fiqih, perbuatan mukallaf, apa saja yang dilakukan orang ada hukumnya. Semua perbuatan manusia ada hukumnya, termasuk garuk-garuk, hukumnya mubah atau boleh.

“Untuk menyatakan sesuatu perbuatan itu dilarang, harus bisa menunjukkan dalil yang melarang. Jika suatu perbuatan tidak ada dalil yang melarangnya maka hukumnya mubah dilakukan,” jelasnya.

Sumber hukum dalam Islam itu Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Tetapi ada namanya ijma’ yang disepakati yang tidak boleh bertentangan dengan dua hukum pokok, Al-Qur’an dan Sunah. Jika tidak dijelaskan dalam ketiganya itu dilakukan dengan qiyas, menyamakan kasus hukum baru dengan lama yang ada nashnya karena ada alasan kesamaan hukum. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Halaqoh Haedar Nashir

Kamis, 09 Februari 2017

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura menggelar acara pengesahan anggota baru yang dilaksanakan di komplek Pesantren Al Fattah Krapyak Kec. Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah.

Menurut Rosyid salah satu koordinator PN Kartasura, pengesahan anggota angkatan ketiga ini diikuti oleh 53 peserta.  "Turut kami undang pula saudara anggota Pagar Nusa  se-Solo Raya dan sekitarnya", ungkapnya kepada Haedar Nashir, Kamis (6/11).

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru

Adapun tujuan pengesahan agar para anggota benar-benar mengerti terhadap  visi dan misi Pagar Nusa, yaitu ber-Aqidah ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan asas organisasi Pancasila, ungkapnya

Haedar Nashir

Selain itu, agar para anggota Pagar Nusa Solo Raya yang baru disahkan untuk terjalin silaturrahim lebih erat lagi, pungkasnya.

Haedar Nashir

Sementara dalam acara yang digelar semenjak pukul 20.00 hingga 04.30 tersebut, tampak digelar acara tasyakuran serta khataman al Quran. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Ulama, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 05 Februari 2017

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI

Mataram, Haedar Nashir



Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengakui saat ini DPP PDIP masih terus melakukan komunikasi dan dialog untuk menjaring calon Gubernur DKI Jakarta, termasuk berkomunikasi dengan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah.?

"Dialog-dialog secara instens terus kami lakukan, termasuk dengan NU dan Muhammadiyah. Karena, kita tahu mereka merupakan organisasi yang berkeringat membentuk negeri ini, bersama PDIP," kata Hasto Kristiyanto seusai membuka Rapat Kerja DPD PDIP se-Nusa Tenggara Barat di Mataram, Selasa.

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI

Ia menjelaskan, dalam menjaring calon pemimpin, terlebih lagi DKI Jakarta, PDIP sangat terbuka menerima masukan dari siapapun. Baik itu dari partai politik (parpol) maupun organisasi lain, seperti NU dan Muhammadiyah. Hal ini dilakukan untuk mencari pemimpin atau kepala daerah yang bagus.

"Kami sangat menerima masukan dari organisasi keagamaan terbesar itu," ujarnya.?

Haedar Nashir

Untuk itu, kata dia, PDIP menghadapi pilkada DKI, pihaknya menggunakan sistem jemput bola," ucapnya.

Sementara itu, ditanya peluang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Hasto mengakui masih terbuka ruang bagi Tri Rismaharini untuk bisa diusung menjadi calon Gubernur DKI Jakarta menantang petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Ibu kota sebagai kebanggaan kita. Tentu saja PDIP akan membuka diri terhadap hadirnya pemimpin terbaik untuk membangun DKI. tentu saja setiap pemimpin yang memiliki karakter karena keberpihakan kepada wong cilik," jelasnya.?

Haedar Nashir

Namun demikian, meski berpeluang untuk dicalonkan menjadi Cagub DKI, keputusan akhir ada pada Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, sebagai representase dari pemetaan politik. Hasil survei dan bagaimana suara dari struktur partai yang nanti menjadi penggerak.(Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah

Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Haedar Nashir

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

Haedar Nashir

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya. ?

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh? belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Ulama Haedar Nashir

Rabu, 01 Februari 2017

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu

Tegal, Haedar Nashir 

Hasil seleksi santri berpretasi TK/TPQ Muslimat NU Kabupaten Tegal, yang dilaksanakan pada 8 Seprtember 2012, bertempat di Gedung NU Slawi, menetapkan Sebagai santri terbaik diraih dari TK/TPQ Bojong. Hal itu diketahui pada saat halal bihalal Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU) yang digelar, Sabtu (15/9).

Dalam kesempatan itu, hasil seleksi 10 terbaik santri TPQ Muslimat NU Kabupaten Tegal, yakni peringkat pertama diraih dari TPQ PAC Bojong yang bernama Atqiatul Maulidah, dan ranking dua dari TPQ yang sama atas nama M Yunar Arsyadani. Sementara peringkat ketiga dari Kecamatan Dukuhturi, atas nama Dewi Arum Maulida, disusul PAC Talang, PAC Jejeg, Balapulang, Suradadi, dua siswa dari PAC Tarub, dan peringkat ke 10 dari PAC Talang.

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu (Sumber Gambar : Nu Online)
Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu (Sumber Gambar : Nu Online)

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu

Dalam seleksi tersebut, setelah seleksi yang dilakukan di tingkat kecamatan dan dilanjut ditingkat Kabupaten, para santri di uji masalah tartil quran, ghorib dan tajwid.

Haedar Nashir

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Hj Umi Azizah yang juga Ketua YPMNU Kabupate Tegal, menuturkan, bahwa seleksi yang dilakukan oleh YPMNU Kabupaten Tegal ini dilakukan sebagai ajang evaluasi bagi santri yang berumur dibawah 10 tahun. Ditingkat kabupaten pada seleksi tahun ini hanya diikuti oleh 14 anak cabang.

“Ini sebagai bahan evaluasi, sejauh mana pembelajaran yang dilakukan ditingkat TPQ. Namun demikian dari hasil seleksi ini, para santri hasilnya cukup membanggakan, karena para santri dari YPMNU telah banyak yang mengikuti seleksi di luar atau yang ngadain pemkab banyak yang masuk dan meraih prestasi,” kata Hj Umi Aziazah.

Dikatakanya, dengan kegiatan seleksi seperti ini, diharapkan pembelajaran yang dilakukan di tiap-tiap TPQ dapat semakin baik dan meningkat dalam mutu pendidikanya.

Haedar Nashir

Sementara, salah satu santri asal Bojong yang meraih peringkat dua, M Yunar Arsyadani yang pada saat acara halal bihalal tampil dihadapan par atamu undangan, merasa senang karena hasil pembelajaran yang dilakukan selama ini bisa memberikan nama baik daerah asalnya.

“Kami senang dan mudah-mudahan apa yang kami pelajari bermanfaat,” ungkapnya. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz TGL

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, IMNU, Quote Haedar Nashir