Kamis, 31 Desember 2009

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Dalam kitab An-Nawâdir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Ia orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.

Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Diziarahi Rasulullah dan Para Sahabat

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.

Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Haedar Nashir

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” Tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman dan Ali. Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”

“Mereka ingin meziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan, “Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah).”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa. Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Pendidikan, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Jumat, 25 Desember 2009

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Bondowoso, Haedar Nashir. Dalam rangka menyemarakkan datangnya bulan Muharram 1439 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Jambesari Darus Sholah menggelar lomba mewarnai lambang NU untuk siswa taman kanak-kanak atau raudlatul athfal (TK/RA) sekecamatan setempat.

Perlombaan tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Jambe Anom, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Rabu (27/9).

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan NU Sejak Dini dengan Lomba Mewarnai

Ketua MWCNU Kecamatan Jambesari Darus Sholah Abdul Mufid menjelaskan, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mendidik generasi Islam sejak dini agar mengenal tahun baru Islam yang biasa dikenal dengan kalender hijriah.

"Kegiatan ini juga untuk mengenalkan sejak dini kepada anak-anak kepada NU," tambahnya.

Haedar Nashir

Melalui peringatan hari besar ini, anak-anak diharapkan bisa mengenang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi beberapa ratus tahun silam sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad, yang terjadi pada 10 Muharram.

Selain lomba, MWCNU Jambersari Darus Sholah juga menggelar agenda tahunan santunan anak yatim. Satunan kepada kaum duafa ini dilaksanakan MWCNU setempat tiap 10 Muharram tiba.

"Malam Sabtu nantinya akan di gelar istighotsah dan santunan anak yatim sebanyak 100 anak yatim serta pelantikan pengurus ranting MWCNU dan insyaallah Bapak Bupati Bondowoso hadir," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir

Minggu, 13 Desember 2009

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Oleh Gatot Arifianto

Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, gemah ripah loh jinawi. Namun sayangnya hal itu hanya pada teks, belum menjadi fakta. Organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan UNICEF pada akhir 2009 melakukan penelitian dan menyimpulkan sekitar 6 persen dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Nasib 94 persen sisanya bisa dikatakan mak jelas (tak jelas).

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jutaan Yatim Indonesia, Jihad yang Terlewatkan

Pada 2013, Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Hatta Rajasa, menyatakan jumlah anak yatim di Indonesia tercatat mencapai 3,2 juta. Jumlah terbanyak berada di Nusa Tenggara Timur, 492.519 anak dan Papua sejumlah 399.519 anak.

Salah satu akhlak dan moralitas orang-orang mulia ialah memiliki kasih sayang dan berbuat baik pada anak yatim. Dan perilaku tersebut, memiliki pahala setara dengan jihad.

Rasulullah SAW yang menurut santri senior, Gus Mus, bukan pencaci, bukan pencela, dan bukan orang kasar, bersabda: "Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya, dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad di jalan Allah. Dan kelak di surga bersamaku bagaikan saudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah." (HR Ibnu Majah).

Sayangnya, jihad tersebut terlewatkan hanya karena satu orang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga melakukan penistaan agama akibat pernyataan QS Al Maidah 51. Sehingga, calon petahana Gubernur DKI Jakarta itu "dikeroyok" ramai-ramai, dengan alasan jihad oleh sejumlah umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, Jawa Timur, Jawa Tengah, Padang, Sumatera Selatan, Lampung dan beberapa kota lain, Jumat 4 November 2016.

Haedar Nashir

Berapa kilometer meski ditempuh untuk jihad tersebut? Berapa ongkos dihabiskan untuk mencapai Jakarta (demo, red) dari luar daerah? Tentu tidak sedikit, selain untuk transportasi, tentu juga untuk konsumsi selama di perjalanan. Tapi "semangat" barangkali tidak memperhitungkan sisi tersebut. Barangkali yang lain, saudara-saudara kita yang secara undang-undang tidak terlarang untuk menyatakan pendapat memang berekonomi mapan, sehingga biaya tidak menjadi soal. Jika demikian, tentunya hal sangat menggembirakan.?

Di era Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan ada sekitar 4,1 juta anak Indonesia telantar. Korban perdagangan manusia 5.900 anak, bermasalah dengan hukum 3.600 anak, balita telantar 1,2 juta, lalu 34.000 anak jalanan yang dirawat di pondok pesantren, panti asuhan, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RSPA). Semuanya memerlukan perhatian.

Haedar Nashir

Saat ini pemerintah baru mampu memberikan bantuan langsung untuk menunjang pengasuhan anak yatim dan telantar sebesar Rp1 juta per tahun per anak. Jumlah penerima manfaat pada 25 Maret 2016 tercatat sekitar 5.000 anak. Capaian tersebut perlu diapresiasi kendati masih jauh dari data yang ada. Negara dengan beragam permasalahan ini tentunya akan kesulitan menyelesaikan permasalahan tersebut secara tunggal. Gotong royong sebagai budaya bangsa Indonesia salah satu solusi.

Selain itu, Al-Quran menyebut 23 kali mengenai "yatim" dan penggunaan kata-kata tersebut merujuk kepada kemiskinan dan kepapaan. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." (QS An-Nisa: 36).

QS Al-Baqarah 2:177 juga menyatakan: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim".?

Rasulullah SAW yang tetap bersikap lembut terhadap terhadap pengingkar perjanjian Hudaibiyah, Abu Sufyan juga bersabda: "Barang siapa yang memelihara anak yatim di tengah kaum muslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni." (HR Tirmidzi).

Jika jihad bertujuan untuk masuk surga, jutaan jalan jihad, anak anak yatim itu, semestinya tidak terlewatkan oleh seorang Ahok yang sudah meminta maaf. Ada Rp2,5 miliar dalam hitungan untuk keperluan konsumsi sederhana selama sehari di Jakarta, Rp50 ribu kali 50 ribu pendemo. Belum lagi biaya transportasi, baik ngeteng (naik kendaraan umum) oleh ratusan pendemo atau sewa ratusan kendaran untuk mencapai Jakarta demi demontrasi yang mustahil tanpa makian dan meninggalkan sampah.

Barangkali egois dan menunjukkan mayoritas lebih maslahat dan kelihatan jihad ketimbang menghimpun dan menyalurkan dana dikeluarkan hari ini bagi anak-anak yatim: jalan jihad yang ini kali sepi tanpa kegaduhan hanya karena seorang non muslim bernama Ahok. Adakah ia gajah dan kita semut?

Penulis adalah Founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Selasa, 24 November 2009

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan

Serang, Haedar Nashir

Sekitar 150 pelajar dan mahasiswa NU yang menamakan diri “Aliansi Mahasiswa dan Pelajar Peduli Pendidikan” berunjuk rasa di kawasan Kota Serang, Banten, Kamis (2/5) siang. Mereka menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional.

Aksi yang digelar bersamaan dengan hari pendidikan nasional (Hardiknas) ini diikuti peserta gabungan dari Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kota Serang, serta Pimpinan Komisariat  IPNU dan Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Akbaruddin, salah seorang pemimpin aksi, menilai pendidikan di Tanah Air masih belum sejalan dengan semangat konstitusi. Menurut dia, pemerintah masih gagal dalam hal pengelolaan, khususnya terkait persoalan kurikulum, sistem evaluasi belajar, dan infrastruktur pendidikan.

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Aksi, Pelajar NU Tuntut Pembenahan Pendidikan

“Perhatian dari pemerintah terkait permasalahan pendidikan yang melanda negeri ini kurang sekali, padahal pendidikan sangat penting untuk membangun peradaban bangsa,” kata Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah IPNU Banten ini.

Peserta aksi berpendapat bahwa ada kesenjangan antara peraturan dan realitas pendidikan yang ada. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, mereka menuntut pemerintah segera bertindak serius.

Butir tuntutan para pelajar dan mahasiswa NU ini, antara lain, berisi desakan kepada pemerintah agar memaksimalkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); tetap mempertahankan mata pelajaran muatan lokal, IPA, dan IPS; dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar yang berkompeten.

Haedar Nashir

Selain mengkritik soal pemerataan dan infrastruktur pendidikan yang tidak maksimal, peserta aksi juga menuntut penuntasan kasus carut-marutnya ujian nasional (UN) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Selasa, 10 November 2009

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Semarang, Haedar Nashir. Warga masyarakat RW 6 kelurahan Banjardowo, Genuk, Semarang mengelar pengajian dan ritual Nyadran yang sudah menjadi tradisi warga setempat khusunya daerah Tanggulangin Banjardowo. Pengajian dan Nyadran ini berlangsung di area makam Ibrahim Fatah di Tanggulangin, Kamis (29/5) malam.

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Menurut Ketua RW 6 Suparjo, kegiatan Nyadran dan pengajian di makam Wali Ibrahim Fatah merupakan progam yang diselenggaakan setiap tahunnya. Dalam setahun ada dua kegiatan besar, haul Ibrahim Fatah yang jatuh setiap bulan Syuro dan ritual Nyadran.

“Pada bulan Rajab ini, ritual itu dimaksudkan untuk mendoakan para arwah wali. Untuk paginya, ritual nyadran diperingati dengan pemotongan kambing dan makan bersama warga,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Pengajian ini menghadirkan KH Abdullah Badada dari Semarang sebagai penyampai taushiyah. Kata Kiai Abdullah, “Ada empat bulan utama. Salah satunya bulan Rajab yang mesti dimuliakan dengan banyak belajar sebab sekarang ini banyak akidah tersasar.”

Guru ngaji, sambung Kiai Abdullah, tidak bisa dilihat sekadar dari penampilan fisiknya seperti jenggot dan sorban. Tetapi lebih kepada keluasan ilmu. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 08 November 2009

PWNU Jatim Bakar 10 Ribu Sandal Berlafadz Allah

Surabaya, Haedar Nashir. Usai mendapatkan informasi dari media sosial tentang beredarnya sandal yang diduga di bagian telapaknya ada lafadz “Allah” di Gresik, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur langsung menindaklanjuti dengan menghubungi Banser dan PC GP Ansor Gresik untuk memastikan kabar itu.

PWNU Jatim Bakar 10 Ribu Sandal Berlafadz Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Bakar 10 Ribu Sandal Berlafadz Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Bakar 10 Ribu Sandal Berlafadz Allah

Alhasil, dari laporan itu, PWNU langsung mengambil sikap. Sebanyak sepuluh ribu sandal berlafadz Allah dibakar di depan kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Al Akbar Timur No 9. Surabaya, Selasa (13/10).

Long Hwa, pemilik perusahaan yang memproduksi sandal bermerk Glacio yang berlokasi di Wringinanom, Kabupaten Gresik itu, mengaku menyesal dan tak menyadari adanya lafadz itu. Dia menyatakan, meski sudah lama memproduksi sandal, produk Glacio baru satu tahun ia produksi.

Haedar Nashir

Hwa atas nama PT Pradipta Perkasa Makmur, pabrik pemilik dan pembuat sandal tersebut meminta maaf kepada seluruh umat Islam atas beredarnya produk alas kaki berlafaz Allah tersebut. Dia memesan matras cetakan Glacio dari Cina. Nanang, pencetak sandal, juga tidak mengetahui adanya lafaz Allah pada sandal tersebut. "Kami baru tahu setelah beredar kabar di media," kata Hwa.

Irhamto, pengacara Long Hwa, berharap kasus selesai dengan proses mediasi. Dan Irhamto meminta kepada warga yang sudah telanjur membeli untuk menukarnya. Adapun produk yang sudah tersebar dijanjikan akan ditarik kembali dari distributornya. "Sandal bisa ditukar langsung dan kami ganti, jelas Irhamto saat ditemui Haedar Nashir di lokasi pembakaran sandal itu.

Haedar Nashir

Prof Muzakki, Sekretaris PWNU Jawa Timur, mengimbau kepada masyarakat untuk bijak dengan menghentikan tindakan saling tuding, yang bisa menimbulkan kekerasan dan konflik atas nama agama. "Maafkan mereka karena faktor ketidaktahuan," kata Muzakki menunjuk kepada pengusaha produsen sandal bemerek Glacio itu. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Tokoh Haedar Nashir

Minggu, 01 November 2009

Indahnya Kebersamaan, NU dan Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal

Pati, Haedar Nashir - Pemerintah Kabupaten Pati memberikan apresiasi yang tinggi kepada dua organisasi Islam yang di Pati, NU dan Muhammadiyah, Jumat (5/8). Halal bihalal NU dan Muhammadiyah menjadikan perbedaan yang ada menjadi sebuah keberagaman dalam menuju kesatuan dan persatuan negara ini. Kebersamaan yang ditampilkan menjadi simbol keanekaragaman bukanlah menjadi tonggak perpecahan, tetapi menjadi bumbu dalam menciptakan rasa kesatuan.

"Halal bihalal bersama NU dan Muhammadiyah ini adalah wujud kepedulian warga Pati terhadap NKRI. Perbedaan pendapat yang belakangan ini sering kita dengar di antara keduanya menjadi suatu seni dalam keberagaman yang ada, ukhuwah harus selalu terjaga di antara sesama orang muslim," kata Bupati Pati Haryanto di sela-sela acara, Jumat (5/8).

Indahnya Kebersamaan, NU dan Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Indahnya Kebersamaan, NU dan Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Indahnya Kebersamaan, NU dan Muhammadiyah Gelar Halal Bihalal

Pertemuan langka ini mengangkat tema Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme menuju Pati yang Damai. Dengan harapan kedua ormas besar Islam yang ada senantiasa menjaga ukhuwah sesama umat Islam demi terlaksananya penegakan amar makruf nahi mungkar dan mendukung pembangunan di berbagai bidang.

Haedar Nashir

Ketua PCNU Pati Ali Munfaat menuturkan, perbedaan merupakan sebuah rahmat, tidak harus saling tuding atau menonjolkan perbedaan agar ukhuwah di antara sesama muslim selalu terjaga.

Demikian juga dituturkan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pati Asnawi. Menurutnya, halal bihalal antara NU dan Muhammadiyah bukan hanya sebuah acara seremonial belaka. Sinergi dan soliditas umat Islam demi terjalinnya kerukunan agar senantiasa dijaga.

Haedar Nashir

Tampak hadir para kiai dan ulama seluruh Kabupaten Pati dan juga pemuda Ansor dan Banser yang selalu berada di samping kiai dan ulama.

Ketua GP Ansor Kabupaten Pati Imam Rifai mengatakan, Ansor dan banser menjadi kader yang dinilai mampu dalam menjalankan roda organisasi sekaligus eksekutor sehingga Ansor menjadi sorotan berbagai kalangan belakangan ini.

"Ansor adalah gerakan pemuda yang selalu aktif, jadi harus kita maksimalkan demi terlaksanannya tujuan dan harapan NU," katanya kepada Haedar Nashir, Jumat (5/8) (Hasannudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Kajian, Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 27 Oktober 2009

Pendidikan di Indonesia

Oleh KH Azka Hammam Syaerozi

Dewasa ini pendidikan formal dipandang oleh masyarakat sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Dengan beranggapan bahwa hanya dengan pendidikan formal seseorang bisa dianggap berpendidikan. Hal ini tentu berakibat fatal bagi pendidikan yang berada di luar pendidikan formal atau yang biasa disebut sebagai pendidikan informal (baca: pesantren). Ada beberapa faktor yang menjadikan pola pikir masyarakat kita seperti itu.

Pertama, pendidikan formal adalah program pendidikan yang digalakkan langsung oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan ukuran pendidikan di negara kita ini condong dengan apa yang dianjurkan oleh pemerintah. Karena diadakan oleh pemerintah, maka banyak program-program dan fasilitas yang diberikan pemerintah bagi pendidikan ini. Sangat berbeda dengan pendidikan informal yang sepertinya dianggap anak tiri oleh pemerintah, meski beberapa dianggap keberadaannya, tetapi pendidikan informal tetap dipandang sebelah mata dan tetap tidak dijadikan ukuran seseorang dianggap berpendidikan.

Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan di Indonesia

Kedua, dalam pendidikan formal tenaga pengajar mendapatkan upah yang pasti dan terjamin langsung oleh pemerintah. Berbeda dari pendidikan pesantren pemerintah tidak memberikan jaminan secara pasti bagi setiap pengajarnya. Hal ini menjadikan pendidikan formal lebih dipercaya dan dianggap lebih prospektif dibandingkan dengan pendidikan pesantren.

Haedar Nashir

Ketiga, pendidikan formal memberikan ijazah yang secara de jure dianggap dan legal di kancah nasional maupun internasional. Hal ini berlawanan dengan pendidikan pesantren yang ijazahnya tidak diakui, atau bahkan tidak memiliki ijazah sama sekali.

Apa Hubungan antara Keduanya?

Sebenarnya, hubungan antara ilmu agama yang diadakan pesantren dan pendidikan umum yang diadakan sekolah formal itu sangat erat sekali. Ilmu pesantren adalah sebuah ‘asal’ yang menjadi tetap dan kokohnya sesuatu. Sedangkan ilmu umum adalah ‘cabang’ yang membentang luas dalam segala bidang kehidupan. Jika diibaratkan, pendidikan pesantren adalah makanan pokok, dan pendidikan formal adalah lauk pauknya. Maka tidaklah dinamakan makan jika seseorang hanya menyantap lauk pauk saja, dan jika hanya nasi saja maka tidak tercukupi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Haedar Nashir

Mana Yang Mesti Didahulukan?

Secara kurikulum, pendidikan pesantren (baca: agama) harus didahulukan karena pendidikan agama menanamkan tauhid, hukum dan akhlaq. Manusia hidup di dunia itu tentu harus bermodalkan tauhid yang benar dan kuat, mengetahui hukum-hukum agar tidak sembarang berperilaku dan juga harus bisa menerapkan akhlaqul karimah sebagai modal dasar dalam etika pergaulan sosial yang selaras dengan prinsip ajaran agama sebagai kasih sayang bagi seluruh alam.

Kurikulum di sekolah formal, meski telah mengajarkan pengenalan pendidikan agama dan moral dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi pengajaran yang hanya diberikan selama dua sampai tiga jam saja per pekan, tentu belumlah bisa mencukupi tujuan pendidikan agama sebagai penanaman karakter bagi siswa. Sebab pendidikan agama, tak cukup dengan hanya sebatas pengenalan. Di sinilah perlunya pendidikan madrasah diniyah, sebagai sarana menanamkan pendidikan karakter bagi siswa yang tidak berkesempatan untuk mempelajari nilai-nilai pendidikan pesantren.

Di tengah dua kutub tersebut sebagian pesantren telah menerapkan kurikulum terpadu yang mengajarkan para santrinya untuk menguasai materi pelajaran yang di sekolah formal, sekaligus dididik sebagaimana pesantren pada umumnya. Kombinasi kurikulum pendidikan pesantren dan kurikulum pendidikan formal ini telah berlaku di berbagai pesantren selama puluhan tahun silam. Banyak pesantren, kini telah membuktikan bahwa pelaksanakan pendidikan pesantren dan formal tidaklah harus meninggalkan salah satunya melainkan secara bersama-sama berjalan beriringan. Dengan berjalan beriringan seperti itu, maka akan terbentuklah pribadi yang berpendidikan secara kâffah.

Di antara Yang Menekuni Salah Satu dari Keduanya, Siapakah Yang Lebih Berkompeten?

Pribadi yang benar-benar berkompeten adalah yang benar-benar belajar, paham akan ilmu yang dipelajarinya, lalu mengamalkannya kepada masyarakat. Sebab jika tidak diamalkan, keduanya sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi masyarakat. Jika salah satu dari keduanya memandang sebelah mata, itu karena mereka tidak memaklumi nilai min dan plus yang ada pada keduanya.

Bagaimana Kita Menerapkan Ilmu Formal dan Ilmu Salaf di Tengah Masyarakat?

Kita bisa menerapkan keduanya dengan selalu berupaya berkarya semampunya ? ? dengan didasari tauhid yang benar, hukum, dan akhlaq. Sebagai komunitas pesantren yang hidup di antara dua dimensi ini, kalangan santri tidak perlu ikut memandang sebelah mata pada yang lain. Kita cukup menjaga hal-hal lama yang baik dan masih layak dan menyempurnakannya dengan mengadopsi hal-hal baru yang lebih baik dan layak.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Pemerintah Menyikapi Hal Ini?

Pemerintah sebaiknya memandang kedua sistem ini sebagai unsur yang saling menguatkan dalam membangun sumber daya manusia pada yang lebih baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.

*) Pengasuh Pesantren Putra-Putri Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon. Kini ia diamanahi sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat. (Tulisan ini sudah dimodofikasi setelah dikutip dari Majalah Salafuna, Edisi 32 Tahun 2013).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Daerah, Santri Haedar Nashir

Jumat, 23 Oktober 2009

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat

Sidoarjo, Haedar Nashir



Ketua Rijalul Ansor Cabang Sidoarjo Moch Syifa mengatakan, tantangan NU ke depan tidak hanya mengenai kelompok radikal, namun juga tentang bagaimana mencetak kader ulama.

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rijalul Ansor Sidoarjo Siapkan Kader Terjun ke Masyarakat

Pernyataan itu disampaikan Syifa pada acara Dirosah Kader angkatan perdana yang digelar oleh PC GP Ansor Sidoarjo di Pondok Pesantren Manbaul Quran Desa Gempolsampurno, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

"Yang dikhawatirkan NU bukan mengenai Wahabi dan sejenisnya, namun NU akan kawatir jika kehabisan kader ulama," kata Syifa, Ahad (8/10).

Ia menjelaskan, Dirosah Kader dilaksanakan dengan tujuan mencetak kader yang siap untuk mengisi mushala, masjid atau instansi yang sepi dari amaliyah nahdliyyah.

"Saya mendapat wejangan dari KH Soleh Qosim Ngelom Sepanjang untuk segera mencetak kader yang siap untuk diterjunkan di masyarakat mulai khotib, da’i, imam mushala maupun masjid," ujarnya.

Haedar Nashir

Syifa menambahkan, pada pelantikan pengurus Rijalul Ansor Pusat di Tambakberas Jombang beberapa bulan lalu, Gus Aam juga menyebutkan bagaimana kiprah Ansor ke depan dapat mengisi ruang-ruang yang hari ini direbut oleh pada dai dari kelompok diluar NU. 

Mengingat hal itu, Dirosah Kader menjadi sebuah hal yang urgent dalam menjawab tantangan NU ke depan.

"Ketika pengurus Rijalul Ansor dapat mengisi ruang tersebut di masyarakat, maka tidak menutup kemungkinan setiap momen apa pun pasti dapat mengupas tentang NU, karena pada hakikatnya amaliyah di masyarakat tak lepas dari apa yang telah dilestarikan oleh NU dari ajaran para Wali Songo," katanya.

Sementara itu Ketua PC GP Ansor Sidoarjo H Rizza Ali Faizin berharap, melalui kegiatan Dirosah Kader dapat tercipta kader Ansor yang memiliki karakter kerakyatan, karakter kebangsaan dan karakter dakwah.

Haedar Nashir

"Dirosah Kader ini tidak hanya berhenti disini, tetapi kader yang dilatih ke depan harus siap untuk didistribusikan mengisi ruang-ruang yang hari ini ditinggalkan oleh kader NU," kata Rizza.

Senada dengan dia, Ketua PCNU Sidoarjo H Maskhun menyatakan, Dirosah Kader diharapkan dapat mencetak para dai yang nantinya tidak hanya dikembangkan di dunia nyata tapi juga di media sosial. Ia juga berharap setelah kegiatan Dirosah Kader ada pelatihan khusus untuk medsos.

"Paling tidak nanti kita bekali dengan dzuu ilmin (mempunyai pengetahuan yang luas), dzuu siyasatin (punya strategi), dzuu haibatin (punya Wibawa)," pungkas ketua PCNU Sidoarjo H. Maskhun.

Dirosah Kader yang digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (7-8/10) itu dihadiri Ketua Rijalul Ansor Pusat Gus Aam, Ketua Rijalul Ansor Jatim, Ketua PCNU Sidoarjo dan Ketua DPRD Sidoarjo. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya Haedar Nashir

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Assalamu ‘alaikum wr. wb

Saya mau tanya terkait permasalahan qunut subuh. Saya Amrullah tinggal di Yogyakarta yang mayoritas masjid tidak qunut subuh. Setiap shalat jamaah subuh di masjid dekat saya tinggal. Imam berhenti agak lama ketika bangun dari rukuk pada rakaat kedua, tujuannya memberi kesempatan pada orang yang mau baca qunut.

Pertanyaannya (1) apakah yang dilakukan imam itu benar dan ada dasarnya? (2) Jika saya baca qunut sedang imam tidak membaca qunut, apakah shalat saya sah? (3) Ketika suatu saat saya menjadi imam, apa yang harus saya lakukan, qunut atau tidak? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Abdul Kafi Amrullah/Yogyakarta)

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Qunut Subuh Antara Imam dan Makmum (2)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan ini kami akan melanjutkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan saudara Abdul Kafi Amrullah dari Yogyakarta. Dua pertanyaan sudah kami jawab pada tulisan yang lalu. Sekarang, tinggal pertanyaan ketiga terkait bagaimana jika kita menjadi imam shalat Subuh di mana mayoritas makmumnya tidak mengakui legalitas syar’i doa qunut.

Dalam kasus ini setidaknya ada dua pilihan. Pertama, imam tidak usah membaca doa qunut. Imam Syafi’i konon pernah meninggalkan membaca qunut ketika shalat dengan para pengikut madzhab Hanafi di masjid sekitar Baghdad sebagaimana keterangan yang termaktub dalam kitab Al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah sebagai berikut:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Imam Syafi’i ra pernah meninggalkan do’a qunut ketika shalat Subuh bersama para pengikut madzhab Hanafi di dalam masjid mereka di sekitar Baghdad. Menurut para ulama madzhab Hanafi hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan Imam Syafi’I terhadap Imam Abu Hanifah (adaban ma’al imam). Tetapi menurut ulama madzhab syafi’i, Imam Syafi’i ketika itu berubah ijtihadnya,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darus Salasil, juz II, halaman 302).

Namun pilihan ini tentunya sedikit tidak membuat nyaman pihak imam, meskipun tidak merusak keabsahan shalatnya. Jika demikian, maka sebaiknya dicarikan pilihan kedua sebagai solusi yang saling melegakan baik imam maupun makmum.

Dari sinilah maka hemat kami diperlukan pilihan kedua. Namun masuk pada pilihan kedua kami akan menjelaskan sedikit tentang pengertian qunut dan tentang meninggikan suara bagi imam ketika membaca doa qunut atau merendahkannya. Kedua hal ini penting dijelaskan sebagai pijakan pilihan kedua.

Pengertian qunut secara bahasa adalah pujian. Sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahumaghfir li ya ghafur. Karenanya, jika tidak mencakup kedua hal tersebut bukan disebut qunut. Inilah pengertian yang masyhur di kalangan ulama madzhab Syafi’i.

( ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Qunut secara bahasa berarti pujian, sedang menurut syara’ adalah dzikir khusus yang mencakup pujian dan do’a seperti allahummaghfir li ya ghafur (Ya Allah, ampuni segala dosaku wahai dzat Yang Maha Pengampun). Dengan demikain seandainya tidak mencakup keduanya maka tidak disebut qunut,” (Lihat Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1417 H/1996 M, juz II, halaman 205).

Kemudian dalam madzhab Syafi’i sendiri terjadi silang pendapat mengenai meninggikan atau merendahkan suara dalam membaca doa qunut bagi imam. Ada dua pendapat sebagaimana didokumentasikan Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi.

Pertama pendapat yang menyatakan bahwa bagi imam sebaiknya membaca doa qunut dengan pelan atau merendahkan suaranya. Argumentasi yang disuguhkan sebagai dasar pendapat ini adalah karena qunut merupakan doa sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Sedangkan dalil yang digunakan untuk mendasari pandangan ini adalah ayat 110 surat Al-Isra`.

Pendapat kedua menyatakan sebaiknya imam meninggikan suaranya ketika membaca doa qunut sebagaimana ketika membaca sami’allahu liman hamidah, tetapi peninggian tersebut di bawah peninggian suara ketika membaca ayat Al-Qur`an. Dengan kata lain, peninggian tersebut didasarkan kepada qiyas atau analogi.

? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? [ ? :110 ] ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal kedua mengenai kondisi mengeraskan dan merendahkan suara ketika membaca do’a qunut dalam shalat. Apabila mushalli (orang yang shalat) itu shalat munfarid (shalat sendirian), sebaiknya ia memelankan suara ketika membaca do’a qunut. Sedangkan apabila ia menjadi imam maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa sebaiknya ia memelankan suara dalam membaca do’a qunut karena merupakan do’a. Sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Allah ta’ala berfirman: “Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya,” (QS Al-Isra` [17]: 110). Pendapat kedua menyatakan sebaiknya meninggikan suara dalam membaca do’a qunut sebagaimana meninggikan suara ketika membaca sami’allahu liman hamidah tetapi bukan seperti dalam membaca ayat,” (Lihat Al-Mawardi, Al-Hawi fi Fiqhis Syafi’i, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1414 H/1991 M, juz II, halaman 145).

Berangkat dari penjelasan di atas maka pilihan kedua adalah bagi imam tetap membaca doa qunut tetapi dengan bacaan yang minimalis dan suara rendah (pelan), seperti allahummaghfir lana ya ghafur wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.

Bacaan ini bisa dikategorikan doa qunut karena sudah dianggap mencakup doa dan pujian sebagaimana penjelasan definisi qunut di atas. Sedangkan merendahkan suara bagi imam dalam membaca doa qunut mengacu kepada pendapat pertama sebagaimana dikemukakan Al-Mawardi di atas.

Hemat kami pilihan kedua ini adalah yang paling bijak untuk diambil ketika seseorang yang menyakini legalitas syar’i membaca doa qunut dalam shalat Subuh, sedangkan makmumnya tidak.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapi perbedaan dengan bijak serta berusahalah mencari cara terbaik untuk keluar dari perbedaan tanpa harus mengorbankan apa yang kita yakini. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Meme Islam Haedar Nashir

Rabu, 21 Oktober 2009

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang

Cilegon, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon, Banten, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon untuk menutup semua tempat hiburan malam di Kota Cilegon. Pasalnya, keberadaan tempat hiburan tersebut, tidak memiliki izin secara resmi alias ilegal.

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cilegon: Pajak Hiburan Malam Perlu Ditinjau Ulang

“Kami minta kepada Pemkot Kota Cilegon untuk segera menutup tempat hiburan saat ini juga. PCNU Kota Cilegon yang akan mendampingi. Bahkan jika perlu kami yang menutup tempat hiburan bila Pemkot tidak peduli,” ujar Ketua PCNU Kota Cilegon, KH. Hifdlulloh kepada Haedar Nashir, Senin (11/3).

Selain itu, PCNU Kota Cilegon juga meminta DPRD Kota Cilegon, bersama Muspida segera mengambil langkah tegas agar semua tempat hiburan di Kota Cilegon ditutup. Karena tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Belum lagi keberadaan tempat hiburan tersebut, cenderung dijadikan tempat maksiat.

Haedar Nashir

Sementara itu Wakil Ketua PCNU, Inas Nasrulloh meminta agar Perda pajak hiburan yang telah disahkan agar ditinjau kembali. Ia mempertanyakan pertimbangan dewan atas pembentukan Perda tersebut. Soalnya, menurut Inas, pajak yang dipungut dari tempat hiburan sama halnya diambil dari barang haram seperti minuman keras dan kegiatan yang berbau maksiat. “Apakah tidak ada potensi lain yang lebih baik,” terang Inas.

Haedar Nashir

Menanggapi desakan para pengurus NU tersebut, Ketua DPRD Kota Cilegon, Arief Rifa’i Madawi menjelaskan bahwa penutupan tempat hiburan bukan kewenangan DPRD. Menurutnya yang memiliki kewenangan menutup tempat hiburan adalah Wali Kota. Sementara kapasitas dewan hanya menyampaikan rekomendasi ke Wali Kota. Meski demikian pihaknya menyatakan setuju dengan keinginan PCNU tersebut.

“Kami akan berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat Kota Cilegon, terutama bagi PCNU Kota Cilegon, DPRD akan menyampaikan rekomendasi kepada Wali Kota agar semua tempat hiburan ilegal ditutup,” janji Arief.

Redaktur    : A. Khoirul Anam 

Kontributor: Candra Zaini

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Senin, 19 Oktober 2009

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin Cicurug Sukabumi Ajengan KH Abdul Basith mengatakan, sebuah negara yang merdeka adalah ketika ada seorang masyarakat sakit, kemudian datang ke rumah sakit, ia tidak perlu membayar, tapi gratis.

Sekarang memang pemerintah Indonesia mengupayakan pelayanan kesehatan melalui BPJS, tapi program tersebut masih berbayar.

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Menggerakkan Ayat Jadi Klinik

Tak hanya itu, harga sandang pangan di negara merdeka seharusnya murah atau terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kalau bisa gratis.

“Sekarang ada beras raskin, itu bukan gratis, tapi masih membayar, itu namanya jualan,” katanya dalam bahasa Sunda ketika ditemui di kediamannya pada Senin (18/7). ?

Haedar Nashir

Ajengan yang Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi ini, tak hanya diam dengan keadaan itu. Ia mencari akal agar, tetangganya di desa ia tinggal, bisa gratis dalam pengobatan apabila ada yang sakit. Juga bisa membayar beras raskin bagi orang miskin.

Haedar Nashir

Ia pun teringat akan ayat dalam Al-Qur’an bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit (QS 3 Ali Imron ayat 134)

Tidak hanya mengetahui atau berbicara, dari ayat itu, ia mengupayakannya. Caranya adalah mendekati tokoh masyarakat untuk mengajak warga menyisihkan uang 500 rupiah per hari.

Ajakan Ajengan Basith itu gayung bersambut, setelah diadakan pertemuan warga sedesa, mereka sepakat dan melakukannya. Dan hasilnya mencengangkan, warga di Desa Nanggerang bisa mengumpulkan uang 25 juta per bulan.

Ketika uang itu dikumpulkan selama 2 tahun, warga Nanggerang mampu membeli mobil ambulans satu, klinik gratis satu, sekretariat Zakat Infak dan Sedekah, serta membebaskan pembelian raskin bagi warga tidak mampu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 25 September 2009

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Jombang, Haedar Nashir. Banjir besar menerjang sedikitnya 8 desa di Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Jumat (20/2) dini hari. Sebanyak 1,5 rumah warga, sekolah hingga kantor Polsek setempat terendam. Meski demikian, makam salah satu auliya, Mbah Sayid Sulaiman di Betek-Mancilan Mojoagung masih aman dari musibah ini.

"Alhamdulillah, sejak banjir tadi malam saya memantau lokasi menuju makam tidak banjir, mungkin di sekitar makam. Tapi kalau makam tidak," ujar Skaroni, salah satu Anggota BPD Desa Mancilan saat ditemui usai shalat Jumat.

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)
Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman (Sumber Gambar : Nu Online)

Banjir Terjang Mojoagung, Makam Sayid Sulaiman Aman

Dari pantauan Haedar Nashir, Jumat siang tadi makam seluas lebih dari satu hektar di Dusun Rejoslamet Desa Mancilan itu tampak kering. Beberapa orang bahkan datang melakukan ziarah di makam yang berbatasan antara Mancilan–Betek tersebut.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga terlihat di makam Sayid Abdurrahman Al Maghrobi dan Sayid Ahmad Al Maghrobi. Makam yang berada di sebelah Masjid Agung Mojoagung itu juga terbebas dari banjir.

Seperti diketahui, sejak Kamis (19/2) malam, banjir bandang akibat luapan sungai Gunting menerjang 8 Desa di Kecamatan Mojoagung, di antaranya Desa Kademangan, Janti, Mancilan, Kedunglumpang, Betek, Gambiran, serta Kauman.

Haedar Nashir

"Dari 8 desa itu, sekitar seribu orang hari ini mengungsi. Pengungsi kita tampung di tiga lokasi, yakni Masjid Janti, Masjid Gambiran, serta RTH Mojoagung," kata Nur Huda ketika ditemui di RTH Mojoagung.

Nur Huda mengatakan, tingginya curah hujan yang terjadi Kamis malam mengakibatkan dua sungai yang melintas di Mojowarno dan Mojoagung meluap. Akibatnya sekitar 1500 pemukiman warga dan beberapa fasilitas pemerintah, seperti sekolah, polsek dan kantor Pos terendam.

"Ketinggian air rata rata 70 centimeter. Bahkan ketinggian air yang berada di pemukiman mencapai 2 meter lebih," ujarnya seraya mengatakan banjir mulai surut, namun hingga siang tadi, beberpa pemukiman waga masih terendam banjir. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Hadits, Warta Haedar Nashir

Kamis, 10 September 2009

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Menguasai ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban disebutnya sebagai amalan paling mulia.

 

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Membangun Peradaban adalah Amalan Paling Mulia

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan kebesaran Mbah Hasyim (KH Hasyim Asyari), Mbah Wahab (KH Wahab Hasbullah) dan kiai-kiai besar lainnya. Kita harus terus belajar dan meningkatkan pengetahuan kita, kita harus membangun peradaban yang semakin baik," ungkap Kiai Said saat menjadi pembicara dalam sesi penguatan Rapat Konsolidasi Nasional Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulium (Unipdu), Jombang, Jawa Timur, Sabtu (14/4).

 

Kiai Said menambahkan, tidak mengandalkan kebesaran Kiai-kiai terdahulu bukan berarti melupakan jasa-jasanya. Sebaliknya, penguasan ilmu pengetahuan untuk tujuan membangun peradaban yang lebih baik adalan wujud penghargaan yang sebenarnya. "Membangun peradaban itu amalah paling mulia, karena dengan itu kita mengembangkan apa yang sudah dilakukan Kiai-kiai sepuh pendahulu kita," tambahnya tegas.

Haedar Nashir

Rapat Konsolidasi Nasional LKNU yang bertujuan untuk membantu peningkatan pelayanan kesehatan ke masyarakat diapreasi secara positif oleh Kiai Said, karena merupakan salah satu upaya untuk membangun peradaban yang lebih baik. Islam dijelaskannya memiliki sejarah besar di bidang ilmu pengetahuan, salah satunya kesehatan, dengan lahirnya ulama-ulama besar pencetus dan penemu sejumlah teknologi kedokteran.

"Kalau sekarang namanya apoteker. Jangan dikira yang mencetuskan orang Amerika, orang Eropa atau Australia. Ilmu apoteker pertama kali ditemukan oleh Az Zuhri, tokoh Islam, meski saat itu hanyalah cara-cara pengobatan herbal," urai Kiai Said.

Apresiasi positif juga diberikan terkait pilihan lokasi Rapat Konsolidasi Nasional LKNU di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur. Pilihan ini dianggap sebagai wujud semangat kembali ke pesantren yang dicetuskan oleh Kiai Said dalam Muktamar NU di Makasar.

Haedar Nashir

 

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Humor Islam, Santri Haedar Nashir

Kamis, 06 Agustus 2009

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Jombang, Haedar Nashir. Sekitar dua ribu anak muda Nahdlatul Ulama (NU) menghadiri Musyawarah Kamu (Kaum Muda) NU di halaman Universitas Wahab Chasbullah di Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. 

Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin mengarepasiasi positif kegiatan tersebut. "Ini positif, kaum muda bisa ikut terlibat dalam Muktamar NU ke-33. Karena itu, pemerintah tentu mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini," papar Menteri Lukman, Ahad (2/8).

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Diharap Beri Kontribusi untuk Nahdliyin dan Bangsa

Musyarawarah Kamu NU menurut dia, akan menjadi lebih penting dan bermakna jika memberikan kontribusi, sumbangan bagi kalangan Nahdliyin serta bangsa dan negara.

Haedar Nashir

"Kaum muda merupakan jantung pergerakan, berhimpunnya kaum muda NU ini merupakan potensi luar biasa, anak-anak muda kita ini luar biasa," kata Menteri Lukman yang membuka kegiatan Musyawarah Kamu NU itu pula.

Haedar Nashir

Potensi Kamu NU menurut Menteri Lukman sudah luar biasa dalam berbagai bidamg kehidupan dan tidak seperti dulu-dulu.

"Semoga hasilnya dari Kamu NU bisa menebar kebermanfaatan bagi sessama," demikian Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin pada kegiatan dihadiri KH Maimoen Zubair, Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdaltul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa, Alissa Wahid Koordinator Seknas Gusdurian. 

Musyawarah yang dibuka dengan tepukan rebana oleh Menteri Agama tersebut diikuti kaum muda NU di GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, PMII, KMNU, Gusdurian, dan lain-lain. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Minggu, 02 Agustus 2009

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Jombang, Haedar Nashir - Setelah menerima kunjungan mahasiswa The Kings College, New York, Amerika Serikat, Pesantren Tebuireng kembali menerima kunjungan mahasiswa asing dari Negeri Paman Sam, Sabtu (3/6). Kali ini, sebanyak 11 mahasiswa dari Miami Dade College berkunjung ke pesantren yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari.

"Kunjungan mereka difasilitasi oleh International Office Universitas Airlangga Surabaya," kata Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar.

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Miami Dade College Pelajari Multikulturalisme di Pesantren Tebuireng

Dalam kunjungan singkat ini, kata Gus Ghofar, para mahasiswa tampak sangat antusias dan terlibat dalam dialog yang sangat hangat.

Salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Politik, Enrique Sepulvedas, menanyakan bagaimana perlakuan terhadap non-Muslim di Pesantren Tebuireng. "Apakah Anda menerapkan kebijakan pintu terbuka untuk mereka yang berbeda agama?" tanya pria blasteran Spanyol-Prancis ini.

Haedar Nashir

Menjawab pertanyaan ini, Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan bahwa pihaknya sangat terbuka untuk kerja sama yang bersifat lintas etnis dan agama. Dalam beberapa kesempatan, pesantren yang kini diasuh oleh KH Salahuddin Wahid ini juga melakukan kerja sama kegiatan dengan berbagai pihak.

Haedar Nashir

"Di Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), bahkan ada salah satu pejabat di Unit Penjamin Mutu yang beragama Hindu," imbuh Pembantu Rektor II Unhasy Muhsin Kasmin. Pria yang telah puluhan tahun mengabdi di Pesantren Tebuireng ini menambahkan, ada juga dosen di Fakultas Teknologi Informatika yang beragama Katolik.

Joshua Elias, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, menanyakan pendapat pengurus Pesantren Tebuireng terhadap aspirasi penegakan syariat Islam di Indonesia. Terhadap pertanyaan ini, mantan Direktur Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) Mohammad Asad menjelaskan peran KH Abdul Wachid Hasyim sebagai salah satu perumus Pancasila.

Pria yang sedang menempuh S-3 di Leiden University Belanda itu menuturkan, pendiri Pesantren Tebuireng KH Hasyim Asyari adalah tokoh yang berperan penting dalam memadukan Islam dan nasionalisme melalui doktrin "Cinta Tanah Air adalah bagian dari iman" dan fatwa Resolusi Jihad.

"Jihad yang dimaksud bukanlah upaya memusuhi Barat atau non-Muslim, tapi melawan penjajah kolonial Belanda. Inilah salah satu pondasi nasionalisme di Indonesia," jelasnya.

Dengan gambaran itu, imbuh Asad, jelas sekali pandangan Pesantren Tebuireng terhadap Islam dan kebangsaan. "Kalau hari ini masih ada orang yang memaksakan syariat Islam menjadi dasar negara, atau mendesakkan berdirinya khilafah, maka orang itu mengajak mundur 30 tahun ke belakang," tandasnya.

Isu lain yang didiskusikan para mahasiswa Miami Dade College adalah soal kesetaraan perempuan dalam ajaran Islam. Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Marie Geraldine Georges, seorang mahasiswi kulit hitam yang menempuh studi di jurusan Antropologi.

"Saya melihat, yang hadir sekarang laki-laki semua. Apa memang perempuan tidak boleh berperan di sini?" tanya Maria dengan nada penasaran.

Menjawab pertanyaan tersebut, Muhsin Kasmin menyatakan bahwa perempuan mendapatkan peluang yang sama, sepanjang mempunyai kemampuan yang dipersyaratkan. "Salah satu sekolah di lingkungan Pesantren Tebuireng bahkan pernah dijabat oleh seorang perempuan selama beberapa periode. Kesempatan serupa juga diberlakukan di Unhasy," ungkapnya.

Asad menambahkan, Nyai Khoiriyah Hasyim, salah satu putri KH Hasyim Asyari, bahkan dikenal sebagai ulama perempuan yang sangat terkemuka di zamannya. "Beliau juga tercatat pernah menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama," ujarnya.

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi Prof Michael Lenaghan itu menyempatkan berziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di kompleks makam, mereka mendapatkan penjelasan bahwa para peziarah biasanya menyalurkan donasi atau infaq di kotak amal yang disediakan. Kotak amal ini dikelola oleh LSPT untuk pelayanan sosial, kesehatan, dan ekonomi bagi dhuafa di sekitar Pesantren Tebuireng.

Mendengar cerita itu, Michael Lenaghan spontan mengeluarkan dompetnya dan menanyakan lokasi kotak amal tersebut. Pria yang mengaku pernah tiga kali bertemu Gus Dur ini pun bergegas menuju kotak amal dan memasukkan selembar uang dolar Amerika.

Langkah dosen senior itu segera diikuti oleh dua mahasiswanya, Joshua Elias dan Enrique Sepulvedas. Ketika ditanya kenapa ikut memberikan donasi, pria paruh baya ini menjawab singkat, "Thats what friends do," ujarnya dengan nada bangga.

Selain donasi yang dimasukkan ketiga orang ini ke kotak amal, mereka secara kolektif juga menyerahkan donasi sebesar Rp. 1,5 juta kepada LSPT. Donasi ini diterima oleh Mohammad Asad mewakili pengurus LSPT. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, Nasional Haedar Nashir

Selasa, 19 Mei 2009

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Salatiga, Haedar Nashir

Pengurus Pesantren Sunan Giri bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah mengadakan halaqah pesantren dan wawasan kebangsaan serta workshop sistem manajemen pesantren (Simapes), Ahad (24/1/2016). Halaqah ini menghadirkan pembicara Kapolres Salatiga dan Komandan Kodim 0174 Salatiga keduanya berbicara mengenai penguatan pesantren dalam bingkai etika kehidupan bernegara dan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Hadir perwakilan dari Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi. Dia menyatakan bahwa RMI memfasilitasi dan meningkatkan ikhtiar pesantren melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan workshop.?

Hal ini sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V tentang Perangngkat Organisasi Pasal 17 ayat C 2015 menjelaskan bahwa RMI bertugas melaksanakan kebijakan NU dalam pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Pesantren ikut bersama membangun bangsa dan negara pada porsi masing-masing untuk mengantarkan akhlak santri dan meneladani sifat-sifat Nabi SAW.

"Dengan berbagai kegiatan tersebut, mutakhorrijin (alumni pesantren) diharapakan bisa berkiprah di masyarakat sebagaimana yang sudah disampaikan pendahulu kita," ungkap Gus Fad sapaan akrabnya.?

Haedar Nashir

Di samping itu, Gerakan Ayo Mondok tahun lalu perlu adanya tindak lanjut dari pengurus wilayah agar pesantren menjadi pilihan utama. Dengan demikian pesantren harus menyiapkan semuanya. Pesantren harus tahu tentang manajemen atau pengelolan yang baik.?

Terdapat dua langkah yang ditempuh pengurus RMINU Jateng. Pertama, memberikan pelatihan Simapes kepada pesantren. Kedua, menyelenggarakan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK). Ke depan pesantren harus menjadi percontohan dalam hal kebersihan. Semua itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak termasuk pesantren itu sendiri.

Pesantren memiliki dua tantangan besar yang menghadang ke depan. Pertama, dalam hal kebangsaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang didalamnya terdapat pesantren harus berani menaruh nyawa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Rakyat Indonesia. Kedua, pesantren itu sendiri harus tetap eksis sebagai lembaga kaderisasi ulama bukan malah menjadi tempat untuk mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Tantangan yang lain adalah pengembangan kemandirian ekonomi dan manajemen pesantren.?

Haedar Nashir

"Kami melibatkan pihak internal dan eksternal pesantren dalam workshop SIMAPES ini",” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Mukhtasit.?

Mukhtasit juga menegaskan, pesantren ke depan perlahan-lahan harus mampu mengimbangi perkembangan zaman dengan menata manajemen agar menjadi lebih baik. Acara ini dihadiri 50 santriwan-santriwati dari 15 pesantren di lingkungan Salatiga. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Daerah, Pendidikan Haedar Nashir

Senin, 11 Mei 2009

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah

Uwais al-Qarni, pemuda saleh asal Yaman, pernah kecewa berat saat jerih payahnya jauh-jauh pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah ternyata tak membuahkan hasil. Ketika itu ia hanya bertemu dengan istri beliau, A’isyah radliyallâhu ‘anhâ karena Nabi sedang keluar ke medan pertempuran.

Uwais juga tak mungkin menunggu orang yang sangat dirindukannya itu berlama-lama lantaran di Yaman ia sedang meninggalkan sang ibunda yang renta dan sakit-sakitan. Uwais memang terkenal sebagai pemuda dengan pengabdian kepada orang tua yang luar biasa. Rasulullah sendiri memberi catatan khusus kepadanya dan menyebut Uwais sebagai “penghuni langit”.

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Uwais al-Qarni Pingsan di Dekat Makam Rasulullah



(Baca: Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah)


Dalam kesempatan lain, pasca-wafatnya Nabi, ia pergi ke Madinah dalam suatu momen ibadah haji. Dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali, melalui cerita Abu Sulaiman, dikisahkan bahwa ketika Uwais sampai di pintu masjid Madinah, Uwais menerima kabar bahwa di masjid tersebut Nabi dimakamkan. Seketika itu ia pingsan.

Haedar Nashir

Saat siuman, Uwais berujar, “Keluarkan aku dari sini. Aku merasa tidak enak di negeri tempat bersemayamnya Rasulullah.”

Di sini Uwais kembali menunjukkan rasa cinta dan hormatnya kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Rasa tidak nyamannya, atau lebih tepatnya perasaan malu, muncul lantaran ia sesungguhnya tidak berkenan menginjak tanah suatu daerah yang di dalamnya terdapat jasad mulia Rasulullah. Uwais memosisikan Nabi yang sudah wafat selayak ketika beliau masih hidup.

Haedar Nashir

Imam al-Ghazali di kitab yang sama lantas menjelaskan tentang adab berziarah ke makam Rasulullah. Al-Ghazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa tadhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau.

Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui kedatangan para peziarah makamnya dan mendengar shalawat dan salam yang disampaikan kepada beliau. Sebuah hadits riwayat Nasai menjelaskan bahwa Allah mengutus malaikat yang bertugas menyampaikan salam kepada Nabi dari umatnya. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Warta, Syariah Haedar Nashir

Selasa, 28 April 2009

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Jepara, Haedar Nashir. Ketua PWNU Jawa Tengah, H Abu Hafsin mengatakan, di Thailand pernah mendiskusikan kepemimpinan di Asia. Salah satu bahasan diskusi itu, kepemimpinan di Indonesia era presiden KH Abdurrahman Wahid.

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Dari hasil diskusi yang diselenggarakan Bangkok Post tersebut menghasilkan empat hal negatif bahwasanya era Gus Dur sangat rentan digulingkan.

Hal itu dikemukakan Abu Hafsin saat memberikan pengarahan dalam Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah pada komisi organisasi bertempat di pesantren Al-Falah desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (6/1).

Haedar Nashir

Keempat hal tersebut dikatakan Abu, pada era Gus Dur tidak didukung oleh kekuatan ekonomi, birokrat, media dan konstituen. Padahal sebelum pendirian NU 1916, 2 tahun sebelumnya sudah ada Nahdlatut Tujar dan Tasywirul Afkar.

“Sebelum NU didirikan kekuatan ekonomi dan pemikiran diperkuat agar NU tetap bertahan,” sebutnya kepada pengurus PCNU, Banom, Lajnah dan MWCNU se-Jepara yang hadir.  

Haedar Nashir

Ke depan, berpijak dari hal itu NU harus memperkuat keempat komponen tersebut. “NU ke depan harus memperkuat lembaga perekonomian. Meskipun kita punya hak di pemerintahan tetapi tidak lantas manja dengan bantuan-bantuan tersebut. NU harus mandiri dalam bidang perekonomian,” paparnya.

Selanjutnya, ormas yang didirikan KH Hasyim Asyari lanjutnya harus memiliki kader politisi sebanyak-banyaknya yang punya komitmen terhadap NU dan Aswaja. Muaranya kader-kader NU yang bertebaran diharapkan menjadi tangan panjang kebijakan NU agar tetap eksis. Sedangkan di bidang media para warga NU khususnya santri harus melek media dan bisa menulis.

Selain memperkuat keempat kekuatan tersebut, Abu Hafsin juga mengetengahkan ancaman ideologi NU. Aliran-aliran yang hendak membumi hanguskan NU bebernya sudah door to door, dari rumah ke rumah.

“Semisal tradisi tahlilan oleh mereka disebutkan memang ada dalam kitab kuning (salaf, red) namun bagi mereka tidak termaktub dalam Al-Qur’an. Itu yang menjadi target “dakwah” mereka. Itu salah satu ancaman yang mesti kita waspadai,” himbaunya.

Dirinya yakin kekuatan NU kultural di desa-desa dan kampung-kampung masih eksis. Jamaah Habib Syekh dan Jamuro ditegaskannya juga menjadi salah satu penjaga Aswaja. Namun sekolah-sekolah umum yang belum terjamah NU telah dirasuki aliran-aliran tersebut.

Karenanya, siswa di sekolah imbuhnya yang merupakan kader potensial utamanya sekolah-sekolah NU perlu diselamatkan ideologinya agar tidak terjangkiti aliran-aliran salafi tersebut. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Rabu, 08 April 2009

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri

Surabaya, Haedar Nashir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, santri-santri yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMORA) menggelar kembali posko mudik. Organisasi mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kementerian Agama ini membuka Posko Mudik 2015 pada 11-15 Juli 2015.

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Layanan Kesehatan Gratis bagi Pemudik dari Komunitas Santri

Kali ini pos pelayanan tersebut didirikan di tiga lokasi, yakni di samping Masjid Roudlatus Shalihin Kragan, Rembang, Jawa Tengah; di depan Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur; dan sebelum pintu masuk Jembatan Suramadu, Surabaya.

Dalam posko itu, para perantau yang sedang dalam perjalanan pulang kampung akan mendapatkan sejumlah fasilitas gratis, antara lain pemeriksaan medis, konsultasi kesehatan, takjil, tempat istirahat, informasi seputar mudik, dan lain-lain. Panitia juga bekerja sama dengan pengurus masjid, dinas kesehatan daerah dan Polres sekitar lokasi posko.

Haedar Nashir

Sebelumnya posko dibuka dengan khataman al-Qur’an di tiga lokasi tersebut. Menurut Misbahul Huda, ketua panitia, dengan khataman, pihaknya berharap posko mudik yang dilaksanakan dapat berjalan lancar dan bermanfaat.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, tujuan CSSMORA mengadakan posko mudik adalah untuk mengembangkan keilmuan santri yang didapat di bangku kuliah, melatih diri lebih aktif, kreatif, dan tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi saat praktik di lapangan atau masyarakat.

"Ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbunga. Lewat posko mudik ini, diri kita dilatih bagaimana mengahadapi masyarakat, meningkatkan kepedulian, dan membangun karakter saling berbagi,” ungkap Misbah yang menjaga lokasi posko di Surabaya saat diminta konfirmasi Haedar Nashir, Ahad (12/07). (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Sabtu, 07 Maret 2009

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Jakarta, Haedar Nashir?

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta melantik Pimpinan Cabang Pergunu Jakarta Barat di aula Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Barat bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional akhir pekan lalu.?

Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jakarta Barat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jakarta Barat Dilantik

Kegiatan tersebut dirangkai dengan sarasehan bertema "Membendung Radikalisme dengan Pengutan Pemahaman Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyah".

Ketua PC Pergunu Jakarta Barat H. Nur Sehat mengungkapkan, Pergunu merupakan pilihan yang tepat bagi guru untuk memperjuangkan nilai-nilai Aswaja dan nilai kebangsaan melalui jalur pendidikan.?

Haedar Nashir

“Kerana melalui guru, nilai kebangsaan ala NU akan ditanamkan menjadi karakter peserta didik,” katanya melalui siaran pers Selasa (25/10).?

Lebih lanjut, Nur Sehat yang kepala SMPN 207 menjelaskan keberadaan Pergunu juga diharapkan mampu membendung berkembangnya paham radikalisme di lingkungan sekolah. Karena paham tersebut kalau dibiarkan berkembang akan menjadi bom waktu bagi NKRI.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta Aris Adi Leksono dalam sambutannya menekankan bahwa nilai dan prinsip perjuangan Pergunu selaras dengan NU.?

Maka, menurutnya Pergunu wajib memperjuangkan paham Aswaja An-Nahdliyah melalui jalur pendidikan. Maka dari itu, anggota Pergunu harus memiliki empat kompetensi yang menjadi amanat undang-undang, juga harus memiliki kompetensi ideologis berbasis Aswaja Annahdliyah.

Lebih lanjut, Aris menekankan pentingnya guru dalam naungan Pergunu dalam praktek pembelajaran mengambil referensi dari ulama salafunassolikh. Pandahulu NU, dalam mendidik selalu memegang teguh keikhlasan dan ruh jihad sebagai seorang guru yang peka dan peduli pada peserta didiknya. "athoriqotu ahammu minal maadah, wal mudarrisu ahammu minat thoriqoh, wa ruuhul mudarrisu ahammu minal mudarrisi binafsihi".

Sebagai narasumber sarasehan Aswaja, KH Mujib Qulyubi, Katib Syuriyah PBNU, dan Jakfar Amirudin, Ketua LP Maarif DKI Jakarta yang juga Anggota Komisi Pusat Badan Akreditasi Sekolah dan Madrasah.?

Menurut Kiai Mujib, paham Aswaja sudah teruji dalam lintasan sejarah mampu menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan kedamaian.?

“Kiprah NU sebagai organisasi kemasyarakatan juga sudah mendapatkan pengakuan, baik secara nasional maupun internasional. Salah satu buktinya adalah hari ini kita peringati hari Santri.”

Sementara itu, Jakfar Amirudin mengungkapkan perlu mengemas paham Aswaja An-Nahdliyah dengan medotologi yang modern. Bagaimana kemudian dakwah Aswaja ini memanfaatkan media IT yang sekarang cepat. Dengan kemasan jenaka dan kata-kata atau kalimat yang familier di semua kalangan, khususnya kalangan remaja, pemuda, dan belajar. Untuk itu, LP Maarif DKI Jakarta mengajak bersinergi dengan Pergunu dalam merumuskan konsep dan gerakan Aswaja dengan sajian yang kompatibel dengan perkembangan zaman.?

Hadir dalam pelantikan dan sarasehan Aswaja tersebut H. Solahi, Kepala Kantor Kemenag Kota Jakarta Timur, AKBP Fauzan, Waka Polres Jakarta Barat, KH Fahrurrozi, Ketua PCNU Jakarta Barat, Kepala Badan Kesmas Wali Kota Jakarta Barat, segenap banom dan lembaga NU se-Jakarta Barat, Pengurus MWCNU, serta organisasi profesi guru lainnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Khutbah Haedar Nashir

Senin, 02 Maret 2009

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Pendidikan, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 21 Februari 2009

Bangun Kemandirian, Pelajar NU Banjarsari Gelar Workshop Kewirausahaan

Banyumas, Haedar Nashir - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Banjarsari Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas menggelar workshop kewirausahaan, Selasa (3/10). Pendidikan ini diikuti oleh lima puluh pelajar NU se-Banjarsari di rumah makan Dcost Ajibarang.

Pembina IPNU Banjarsari, Wawan, mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memberi pengetahuan seputaran dunia usaha kepada kader-kader IPNU dan IPPNU Banjarsari. Acara ini bertujuan untuk memberikan memotivasi kepada mereka yang nanti akan menapaki dunia usaha.

Bangun Kemandirian, Pelajar NU Banjarsari Gelar Workshop Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun Kemandirian, Pelajar NU Banjarsari Gelar Workshop Kewirausahaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun Kemandirian, Pelajar NU Banjarsari Gelar Workshop Kewirausahaan

"Kita jelaskan kepada mereka tentang peluang-peluang usaha yang kira-kira bisa dikembangkan, kita motivasi mereka agar selepas sekolah atau kuliah nanti terdorong untuk berwirausaha," katanya.

Aktivitas berwiraswasta tidak melulu harus dengan modal besar. Selama ini orang banyak takut menjadi pebisnis karena terbayang-bayang modal yang besar, harus ini itu dan sebagainya. "Mulailah dengan usaha yang kecil-kecilan dulu, asalkan lancar," jelasnya.

Haedar Nashir

Ketua IPNU Banjarsari Farkhan berharap pendidikan kewiraswastaan ini bisa menjadi penyemangat untuk mereka memulai usaha. "Walau masih muda, masih punya kewajiban belajar, tapi tidak apa-apa, kan bisa menambah uang jajan mereka sendiri," ucapnya. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri, Amalan Haedar Nashir

Senin, 02 Februari 2009

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus harian GP Ansor Pringsewu sukses menggelar roadshow Hari Santri di pesantren Al-Hidayah Keputran kecamatan Sukoharjo. Kini mereka kembali menggelar roadshow ke-2 di pesantren Madarijul Ulum, Pujodadi kecamatan Pardasuka, Jumat (23/10) sore. Di putaran kedua ini, mereka fokus pada program santunan.

"Masih dalam rangka memperingati dan memeriahkan Hari Santri, sesuai agenda kami, sore ini giliran kecamatan Pardasuka. Jika kemarin ada Donor Darah Santri, pada roadshow ke-2 ini kami fokuskan pada santunan anak yatim dan pemberian bingkisan untuk santri," kata Wakil Ketua GP Ansor Pringsewu M Fathul Arifin.

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Santuni Yatim di Pesantren Madarijul Ulum

Sementara untuk kegiatan Donor Darah Santri tidak dapat dilakukan di pesantren Madarijul Ulum ini, karena dari tim Dinas Kesehatan Pringsewu berhalangan hadir. Untuk itu mereka juga mohon maaf kepada seluruh santri di sini.

Haedar Nashir

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Sekretaris GP Ansor Pringsewu Henudin yang ikut mendampingi dalam kegiatan tersebut.

"Memang seharusnya ada Donor Darah, tetapi kami menggantinya dengan pemberian bingkisan untuk santri, dan mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi mereka," jelas Henudin.

Haedar Nashir

Pada perjalanan berikutnya kami akan mengadakan kegiatan serupa di Ambarawa pada Sabtu (24/10). “Kami sedang mengupayakan agar tim Dinkes besok bisa hadir sehingga kegiatan Donor Darah Santri dapat dilakukan," imbuhnya.

Pengasuh pesantren Madarijul Ulum KH Santibi mengungkapkan terima kasih dan mendukung penuh kegiatan seperti ini kendati kegiatan donor darah tidak jadi digelar di pesantrennya ini.

"Saya sangat berterima kasih kepada GP Ansor Pringsewu yang telah menyelenggarakan kegiatan ini di pesantren Madarijul Ulum, mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan dan bisa bermanfaat bagi umat," tambahnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, RMI NU Haedar Nashir