Minggu, 30 April 2017

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

Pati, Haedar Nashir. Akibat terlalu berorientasi pada ilmu fikih dengan pencekatan yang cenderung hitam putih, kesenian saat ini mengalami jarak dalam kehidupan para santri di berbagi pesantren, padahal pada masa lalu seni dan sastra sangat dekat dengan pesantren.



Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Terlalu Berorientasi Fikih, Kesenian Berjarak dengan Pesantren

“Pesantren dengan metode pengajaran menggunakan syiir, nadhoman, puji-pujian merupakan ekspresi seni, tapi sekarang telah mengalami penurunan,” tutur Zawawi Imron, dalam dialog Sastra dan Pesantren di Pati, Sabtu (14/7).

Dikatakannya, pada masa-masa pesantren dekat dengan ajaran tasawuf, berbagai bentuk kesenian dengan mudah dapat diakomodasi dan diterima. Melebihi aturan halal haram dalam fikih, tasawuf membuat ibadah menjadi lebih dalam dan bemakna dan diekpresikan dalam berbagai bentuk yang indah.

Haedar Nashir

“Ditunjuknya bilal sebagai muazdin pada zaman Rasulullah menunjukkan unsur keindahan juga sangat dekat dengan ajaran Islam,” tuturnya.

Haedar Nashir

Namun demikian, berkaitan dengan karya sastra, belakangan ini pesantren mengalami perkembangan yang luar biasa. Saat ini penerbit LKiS dan sejumlah penerbit lain yang memiliki orientasi yang sama telah memiliki divisi khusus yang menerbitkan karya para santri sehingga dalam satu tahun, bias diterbitkan puluhan karya sastra.

Untuk mengembangkan kesenian di berbagai daerah atau pesantren, Zawawi yang dikenal sebagai penyair Clurit Emas ini mengusulkan dibentuknya Dewan Kesenian yang mengadakan pertemuan rutin untuk membahas berbagai karya dari anggotanya yang bisa ditampilkan setiap pertemuan.

Saat ini ia juga merupakan salah satu pengajar di Ponpes Al Amin Prenduan dengan sanggar seninya yang memungkinkan para santri untuk mengekpresikan berbagai karya seni yang mereka hasilkan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Khutbah, Olahraga Haedar Nashir

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Pesantren Raudlatul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah didirikan oleh Almaghfurlah KH Suyuthi Abdul Qodir pada awal 1950-an. Sejak awal berdirinya, pesantren ini terus-menerus mengalami perkembangan dinamis.

Dari hanya belasan santri yang mondok hingga membengkak menjadi 5426 santri pada Am Dirasiy 2014/2015. Dari hanya memiliki sarana prasarana pendidikan yang amat sederhana hingga prasarana pendidikan dan kesehatan yang cukup representatif. Rumah Sakit As-Suyuthiyyah menjadi bukti pesantren ini sangat peduli kesehatan santri dan warga sekitar.

Setelah Sang Pendiri wafat pada Selasa 4 Dzulqa’dah 1979, putra-putra kebanggaan Mbah Suyuthi pun “turun gunung” untuk mengawal Pesantren Guyangan. Sayangnya, KH Salim Suyuthi (putra kedua, wafat 2001) dan KH M Humam Suyuthi (putra kelima, wafat 2010) tidak berumur panjang.

Kiai Salim dan Kiai Humam dipanggil ke haribaan-Nya dalam usia relatif muda. Akhirnya, tersisalah KH Faruq Suyuthi yang setia mendampingi adik bungsunya, KH M Najib Suyuthi, memegang tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Guyangan hari kini.

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Pesantren ini, Hafalan Mengasah Kecerdasan

Menurut Kiai Najib, santri Guyangan tidak hanya diajarkan intelektual. Namun juga ? menekankan pentingnya akhlakul karimah. “Santri Raudlatul Ulum harus lolos ujian munaqasyah, harus hafal juz amma, harus mencapai nilai standar. Berapa kali sepanjang belum memenuhinya, maka dia akan mengulang,” tegasnya.

Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, Pesantren Guyangan mengacu pada materi-materi pelajaran berbasis kitab kuning. Selain itu, juga dilengkapi dengan kurikulum Kemenag dan Kemendikbud. Wal hasil, seluruh mata pelajaran untuk setiap jenjang bisa mencapai angka 30-an. Untuk sekolah lain tidak lebih 20 mata pelajaran.

Hafalan, syarat kenaikan kelas

Haedar Nashir

Setiap santri Guyangan harus siap dengan aneka syarat kenaikan kelas. Syarat mutlak kenaikan kelas di semua jenjang pendidikan antara lain: untuk tingkat Ibtidaiyah, Diniyah, dan Tsanawiyah harus hafal Nahwu (al-Nahwu al-Wadlih) dan Shorof (al-Amtsilat al-Tashrifiyah), untuk tingkat Tsanawaiyah harus hafal Nahwu 1000 bait (Alfiyah Ibnu Malik), untuk tingkat Aliyah harus hafal matan al-Qawaid al-Fiqhiyah 525 bait.

Tradisi menghafal ini, bagi Kiai Najib, sangat mendukung dalam memahami kitab kuning. Pemberlakuan syarat hafalan ini telah dilakukan sejak Raudlatul Ulum didirikan. Tujuannya, memberi bekal santri mengasah kecerdasan. Untuk madrasah atau pesantren di Pati, tinggal Guyangan dan Mathaliul Falah Kajen asuhan KH MA Sahal Mahfudh yang masih mempertahankan hafalan sebagai kenaikan kelas secara turun-temurun.

Haedar Nashir

Kecuali Persyaratan di atas, khusus para santri kelas XII MA dinyatakan tamat dari Pesantren Raudlatul Ulum apabila lulus Ujian Munaqasyah. “Ujian khusus kelas XII (3 Aliyah-red) ini meliputi Baca Kitab Kuning, Hafalan Al-Qur’an 1 Juz, Conversation Bahasa Inggris, Muhadatsah Bahasa Arab, dan membuat Karya Tulis Ilmiah,” papar Kiai Najib.

Selain itu, para santri juga diharuskan meraih nilai standar 75. Tentang Kelakuan, Kerajinan/Kedisiplinan, Kerapian dan Kebersihan, setiap santri? juga harus meraih minimal nilai B dalam aspek ini.

Karena sudah teruji sejak awal, santri Guyangan pun tampil percaya diri ketika lulus. Menurut Ahmad Minan Abdillah, salah seorang pengajar di Guyangan, alumni Guyangan tercatat melanjutkan pengembaraan intelektualnya di 31 kampus baik negeri maupun swasta di dalam negeri. “Selebihnya di 11 kampus mancanegara. Mayoritas di Al-Azhar Kairo Mesir,” ujar salah satu cucu Mbah Suyuthi ini.

Gus Minan menambahkan, tak heran jika Pesantren Raudlatul Ulum memiliki hubungan baik dengan Al-Azhar. Sehingga dosen pengajar bahasa Arab berkebangsaan Mesir pun diperbantukan di Guyangan oleh pihak Al-Azhar.

Dari tahun ke tahun, Pesantren Raudlatul Ulum selalu meraih prestasi gemilang baik di bidang Intelektual, Olah Raga dan Seni mulai tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. Prestasi tingkat nasional antara lain masuk sepuluh besar Debat Bahasa Inggris, Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats (MFKT) di Jambi. Juara I, Juara III, Juara Harapan II dan III pada Lomba Penulisan Proposal Wirasantri Mandiri Tingkat Nasional di Solo.

“Santri Guyangan juga menjuarai Musabaqoh Qiro’atul Kutub (MQK) Tingkat Nasional di Banjarmasin (Tingkat Ula Bidang Akhlaq, Lughoh, dan Tafsir) serta Juara Lomba Mengarang Berbahasa Inggris Tingkat Nasional, dan Juara II bidang Nahwu dan Tarikh pada Musabaqoh Fahmi Kutubit Turats Tingkat Nasional di NTB,” ujar Gus Minan.

Man jadda wajada

Sedari awal, Santri Guyangan telah akrab dengan kitab kuning. Untuk tingkat tsanawiyah, misalnya, mereka belajar Alfiyah Ibn Malik (Nahwu/Shorof), Tuhfat al-Thullab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Bulugh al-Maram (Hadis), Dasuqi ala Ummi al-Barahin dan al-Husun al-Hamidiyyah (Tauhid), Ta’lim al-Muta’allim (Akhlaq), Lathaif al-Isyarat (Ushul Fiqh).

“Lalu, Jauhar al-Maknun (Balaghah), Matn al-Rahabiyah (Ilmu Faraid), Durus al-Falakiyah (Ilmu Falak), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Mukhtashar Syafi (Ilmu Arudl). Nah, untuk Arudl ini hanya santri putri yang mempelajarinya,” ujar Kiai Najib.

Sedangkan untuk jenjang Aliyah, lanjut Kiai Najib, Fath al-Wahhab (Fiqh), Tafsir al-Jalalain (Tafsir), Tajrid al-Sharih (Hadis), Maraqi al-Ubudiyyah (Akhlaq), Tarikh al-Tasyri’ al-Islamiy (Sejarah Islam), Ghayat al-Wushul (Ushul Fiqh), Uqud Al-Juman (Balaghah), Fath al-Rauf al-Mannan (Ilmu Falak).

“Kemudian, al-Asybah Wa an-Nadhair (Qawaid al-Fiqhiyyah), Minhat al-Mughits (Musthalah Hadis), Ilmu Tafsir al-Suyuthi (Ilmu Tafsir), dan Idhahu al-Mubham (Mantiq). Nah, kalau Mantiq ini hanya dipelajari santri putra,” papar bapak dua anak ini.

Muatan lokal yang masih utuh dan asli ini, tambahkan Kiai Najib, lalu dijumlah dengan kurikulum lainnya sehingga total 32 mata pelajaran. “Ini tentu sangat berat. Meski demikian, Insya Allah ini tidak memberatkan dan menjadi beban sepanjang para santri memiliki komitmen dan kesungguhan. Saya sering katakan pada anak-anak, man jadda wajad (siapa sungguh-sungguh, akan sukses),” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Anam)

Foto: Salah satu gedung pendidikan pesantren Roudlotul Ulum yang berdiri megah di Desa Guyangan





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 29 April 2017

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Jakarta, Haedar Nashir. Selalu terdapat strategi unik dalam berdakwah, tetapi seringkali orang tidak paham apa yang sebenarnya dilakukan, bahkan ditentang habis-habisan karena dianggap menyalahi pakem yang sudah berlaku umum. Gus Dur seringkali mengalami hal ini.

Salah satu amalan Gus Dur adalah berziarah ke makam-makan pendahulu yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Tapi ada kalanya mantan ketua umum PBNU ini memiliki maksud lain dalam berziarah.

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan

Di Kroya Jawa Tengah, terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai jujukan ziarah kelompok abangan. Tentu saja, di sana mereka bukan membaca tahlil atau yasin, tetapi tradisi tersendiri di luar nilai-nilai keislaman.

Haedar Nashir

Ketika terdapat kesempatan, Gus Dur menziarahi makam tersebut. Kontan saja, para kiai di Kroya protes, mengapa berziarah ke tempat itu yang sudah terkenal menjadi “sarangnya” kelompok abangan dalam menjalankan ritual.?

Haedar Nashir

“Apa Gus Dur tidak tahu ini. Mengapa harus menziarahi makam itu, yang sudah jelas-jelas tokoh abangan” kata sejumlah kiai kepada Gus Dur sebagaimana disampaikan ke sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Bukan Gus Dur namanya kalau berpikir konvensional. Ia pun menjelaskan “Saya ke sana kan dalam rangka tahlilan, bukan yang lain“

Pelan tapi pasti, setelah diziarahi Gus Dur, makam tersebut semakin ramai, tetapi ada yang berbeda, mereka yang berziarah merubah ritual-ritualnya dengan tahlil dan amalan Islam lain sampai akhirnya tradisi non Islamnya berganti tanpa ada pemaksaan atau klaim bid’ah, sesat dan sejenisnya yang ujung-ujungnya malah menimbulkan perlawanan. ?

Gus Dur juga menziarahi makam Kiai Mahfud, tokoh Angkatan Umat Islam (AUI) dari pesantren Semolangu Kebuman yang tertembak di Gunung Srandil yang ikut membela perjuangan melawan penjajah Belanda, tetapi dituduh memberontak.

“Beliau ingin meluruskan bahwa banyak jasa yang telah ditorehkan Kiai Mahfud dalam membela tahan air,“ ujar Marsudi.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Kamis, 27 April 2017

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pekalongan, Haedar Nashir. Bangunan megah dua lantai di atas lahan seluas 6.728 meter persegi Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Ahad kemarin (7/11) diresmikan penggunaannya oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Mohammad Adnan, MA.

Gedung yang diberi nama Gedung Aswaja merupakan bangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Dimana pada tahap pertama ini yang sudah selesai dibangun ruang pengelola, ruang rapat mini dan sedang. Kemudian sarana pendukung berupa kantor unit usaha simpan pinjam syariah BMT SM NU dan kafe santri serta fasilitas area parkir.

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pembangunan tahap kedua berupa gedung pertemuan berkapasitas 2000 kursi yang terletak di belakang bangunan induk saat ini masih dalap tahap proses pengerjaan pondasi.

Haedar Nashir

Ketua PWNU Jateng sangat berharap gedung aswaja tidak sekedar untuk tempat rapat maupun pertemuan berskala besar, akan tetapi lebih dari itu gedung aswaja harus menjadi pusat penanaman nilai nilai aswaja, khususnya kepada generasi muda yang saat ini menjadi sasaran empuk kelompok teroris.

Haedar Nashir

"Gedung Aswaja harus bisa menjadi benteng terhadap maraknya kelompok aliran keras yang didengungkan oleh para teroris," ujarnya.

Dikatakan, PCNU dan warga Nahdliyyin Kota Pekalongan patut berbangga atas usaha keras pengurus dalam merealisasikan bangunan Gedung Aswaja yang cukup megah ini. Pasalnya, PWNU Jateng saja hanya memiliki bangunan di atas lahan seluas 3000 meter persegi, sedangkan kantor PCNU Kota Pekalongan dua kali lipatnya.

Tentu, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan biaya operasionalnya dan mengisi kegiatan gedung aswaja untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat, ujar Adnan.

Gedung Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dimiliki Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus bisa menjadi sarana pelatihan dan pendidikan akhlak yang saat ini sedang krisis di kalangan generasi muda.

Jika ini bisa dilakukan, maka Kota Pekalongan akan dijadikan barometer dalam pembangunan akhlaq yang berbasis ajaran aswaja, dan PCNU PCNU yang lain harus bisa mencontohnya.

Lebih lanjut dikatakan, ideologi yang dibawa para teroris yang beraliran keras, sangat tidak tepat diterapkan di bumi Indonesia yang cinta damai. Maka sikap toleran, kebersamaan dan keadilan yang menjadi ciri khas ajaran aswaja harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adnan, nama Gedung Aswaja membawa konsekuensi dalam bentuk kegiatan yang kongkrit dalam pembinaan ummat. Karena sikap sikap yang dikembangkan Nahdlatul Ulama secara prinsip beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam menata masyarakat agar lebih baik dalam kehidupan sehari hari.

Acara peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita dihadiri oleh utusan Pengurus Ranting NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kota Pekalongan. Kemudian Pengurus cabang, Badan Otonom, lembaga dan lajnah tingkat cabang serta tamu undangan seperti Damndim 0710, Wakapolres Pekalongan Kota serta puluhan tamu undangan lainnya.

Momentum peresmian gedung aswaja sekaligus dimanfaatkan PCNU untuk menggelar musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke - 2 NU Kota Pekalongan tahun 2010. Beberapa agenda yang terkait dengan pengembangan gedung aswaja menjadi bahasan pokok dalam muskercab tersebut. Pasalnya, pembangunan gedung yang menghabiskan dana hingga milyaran rupiah belum termasuk rencana pembangunan gedung pertemuan.

Di samping itu, konsolidasi organisasi juga menjadi materi bahasan terkait adanya beberap ranting yang sampai saat ini belum melakukan reformasi pengurus, meski SK nya telah kedaluwarsa. Ditargetkan akhir 2010 ini masalah konsolidasi dapat tuntas dan rencana pelatihan manajemen pengurus yang dijadwalkan pada awal 2011 nanti bisa segera digelar.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pekalongan H. Mohammad Bowo Leksono, SH., MM dalam  sambutannya mengatakan, warga nahdlliyin Kota Pekalongan harus jeli menangkap peluang terhadap program program pemerintah yang digulirkan, sehingga peran pembangunan masyarakat tidak saja menjadi kewajiban pemerintah saja, akan tetapi ada peran peran dari masyarakat yang harus dijalankan, sehingga bisa seiring dan sejalan

Bowo mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Pekalongan siap membantu berbagai kesulitan yang dialami Nahdlatul Ulama, termasuk terhadap persoalan penyelesaian pembangunan gedung pertemuan yang saat ini baru berupa pondasi.

Meski tidak sebesar tahun lalu, paling tidak bantuan ini dapat meringankan beban panitia pembangunan yang harus merogoh kocek tidak kurang dari 1,9 milyar untuk menyelesaikan pembangunan gedung pertemuan. (iz)

Hadir dalam acara pembukaan selain Ketua PWNU Jawa Tengah, juga Ketua DPRD Kota Pekalongan HM. Bowo Leksono, Anggota DPRD Kota Pekalongan mantan anggota dewan, sesepuh NU dan mantan aktifis NU, Rais dan Ketua PCNU Batang, Kabupaten Pekalongan dan Pemalang serta utusan dari lembaga, lajnah, banom NU Cabang dan utusan dari  WC Ranting NU se Kota Pekalongan. (iz)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

Jakarta, Haedar Nashir. Lepasnya masjid-masjid yang dulu dikelola oleh warga NU harus menjadi keprihatinan bersama agar hal tersebut tidak terus berlangsung. NU secara organisatoris dengan seluruh perangkatnya harus berusaha mempertahankan masjid yang ada agar tak lagi lepas ke tangan pihak lain.

Demikian dikatakan Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi dalam pertemuan di Gd. PBNU bersama dengan sejumlah badan otonom NU dalam upaya mengembalikan peran NU diberbagai masjid yang belakangan ini mulai surut. “Kalau perlu masjid-masjid milik warga NU diberi papan nama untuk memperjelas identitasnya,” tandasnya.

Direktur P3M tersebut mengelompokkan masjid dalam dua kategori. Pertama, masjid komunitas yang dimiliki oleh kelompok-kelompok keagamaan seperti NU, Persis, Muhammadiyah dan lainnya. Kedua adalah masjid yang dibangun oleh pemerintah atau masyarakat.

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar: Masjid-masjid NU Harus Dipertahankan

“Pemasangan nama di masjid yang memang benar-benar milik warga NU bisa meningkatkan rasa memiliki dan menjaga sekaligus pemenuhan kebutuhan akan rumah kultural keagamaan,” tuturnya.

Selanjutnya ia juga memperkirakan bahwa masjid-masjid yang saat ini masih berstatus sebagai masjid publik di masa yang akan datang juga akan dipaksa untuk memperjelas identitasnya. Hal yang sama telah berlaku di gereja yang semuanya memiliki kaitan dengan kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Dalam hal ini pemerintah juga berkepentingan terhadap identitas masjid berkaitan dengan pembinaan yang akan dilakukan karena masjid merupakan tempat tumbuhnya berbagai gagasan, mulai dari gagasan yang baik sampai gagasan yang buruk.

Masdar berpendapat bahwa upaya untuk menghilangkan labelisasi masjid sebagai bagian dari NU muncul pada tahun 1970-an. Akibat tekanan politik Orba, mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai orang NU ditindas. Sampai saat ini trauma tersebut masih dirasakan oleh sebagian orang dan ditakutkan suatu saat akan muncul kembali.

Haedar Nashir

Upaya untuk mempertahankan masjid tersebut harus dilakukan secara integral dan komprehensif? dengan melibatkan seluruh komponen NU. “Saat masjid tersebut sudah diperjelas status NU-nya, Lembaga Wakaf harus membantu melakukan sertifikasi tanah. sementara badan-badan otonom NU harus memiliki basis di situ,” tegasnya.

Hal ini dilakukan berdasarkan pengalaman yang ada dimana ada kelompok lain yang berusaha merebut masjid tersebut dengan mengganti para takmirnya, ajarannya bahkan sampai sertifikasi tanahnya sehingga identitas NU hilang dari masjid tersebut. “Mereka menggunakan dalil bahwa masjid adalah rumah Allah yang bisa dimasuki oleh siapa saja, padahal tujuannya untuk menyebarkan ajarannya sendiri,” tegasnya.

Selanjutnya dimasa mendatang, pesantren-pesantren juga harus diperjelas identitasnya sebagai pesantren NU. Ini berkaitan dengan tumbuhnya pesantren-pesantren baru yang tidak menerapkan ajaran aswaja.

Terdapat beberapa indikator bahwa masjid tersebut sebagai masjid NU. Biasanya adanya bedug atau logo NU di dinding atau dalam lembaran waktu sholat. Sesudah kumandang adzan dan sebelum sholat ada puji-pujian kepada allah SWT, sholawat untuk kanjeng Rasulullah SAW atau nasehat kebaikan untuk sesama.

Biasanya sesudah sholat, dibacakan wirid atau doa bersama dipimpin oleh imam, dihangatkan dengan salam-salaman dan bacaan salawat. Secara berkala mereka menyelenggarakan doa bersama dengan ratiban, manaqiban, istighotsah atau salawatan dalam barzanji atau diba’iy serta tahlilan dan doa.

Paling tidak masjid tersebut tidak membid’ahkan bacaan usholli ketika takbiratul ihram, basmalah sebelum baca fatihah dan surat, qunut dalam salat subuh, adzan 2 kali sebelum khutbah jum’at tarawih 20 rakaat, tahlilan, mauludan, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an dan lainnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 21 April 2017

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

Jakarta, Haedar Nashir.

Kepala Satuan Koordinasi Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, di Jakarta, Selasa (28/11) menegaskan, Banser merupakan pesantren sehingga tidak layak bagi kader berpikiran sempit tentang organisasi itu.

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Salah, Banser Itu Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Salah, Banser Itu Pesantren

"Kalau kiai mengantar ilmu pada santri, mengelola pesantren. Maka yakinkan juga bahwa Banser adalah pesantren kedisplinan diri, pesantren bela negara, pesantren penjaga Pancasila, pesantren untuk mendulang dan menebar amaliah Nahdlatul Ulama dalam kerangka Aswaja," kata dia.

Ia menambahkan, Banser ialah kader inti Gerakan Pemuda Ansor. Tentu dalam harakah atau gerakan menjadi berbeda dengan kader yang tidak inti.

Haedar Nashir

"Sungguh sangat beruntung bagi Banser disebut sebagai sebagai kader inti. Jadi sesuaikan perilaku di lapangan. Kalau remeh-temeh, tingkat pengabdian rendah, apa pantas disebut kader inti?" kata dia lagi di Markas Komando Satkornas Banser.

Kader inti jika dikirim komandannya, baik pimpinan Ansor atau komandan Banser atas persetujuan Ansor untuk menjadi instruktur, menurut dia, tidak boleh menolak.

"Seperti ? itu konsekuensi menjadi kader penggerak, tidak boleh diam, harus jadi penggerak, disiplin dan bertanggungjawab. Banser ialah pengembang program-program sosial Ansor. Apa yang Ansor perintahkan, laksanakan. Apa yang Ansor putuskan, ? Banser harus melaksanakan dan mengawal, bukan sebaliknya," kata dia mengingatkan.

Haedar Nashir

Kasatkornas Banser itu menambahkan, menjadi Banser harus berusaha memantaskan, mematutkan diri dengan apa yang dilakukan kiai-kiai Nahdlatul Ulama.

"Baru setelah kita memantapkan niatan itu, terus dan teruslah beribadah kepada Allah," demikian Alfa Isnaeni. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, News, Berita Haedar Nashir

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Jakarta, Haedar Nashir. Dua lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dan Lembaga Pusat Informasi Dakwah (LPID) yang semuanya dikelola oleh warga NU menyelenggarakan halal bi halal di Gd. PBNU, Kamis malam (15/11).

Acara halal bi halal yang diselenggarakan mulai pukul 19.00 WIB ini dipenuhi oleh para pengurus dan jamaah yang menjadi binaan kedua organisasi ini. Hadir dalam acara tersebut Ketua LDNU KH Nuril Huda dan Ketua LPID KH Syukron Makmur. Sementara PBNU diwakili oleh KH Tolhah Hasan.

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU dan LPID Adakan Halal bi Halal

Sebelum memimpin LPID, KH Syukron Makmun sendiri merupakan mantan ketua LDNU selama tiga periode pada era Gus Dur sehingga pertemuan ini layaknya seperti kangen-kangenan dengan pengurus lama. Para pengurus LPID lainnya juga merupakan para kiai dan ulama dari kalangan nahdliyyin.

Ketua Panitia H Baden Badruzzaman menjelaskan bahwa upaya untuk mempererat silaturrahmi melalui halal bi halal ini salah satunya juga untuk mengantisipasi maraknya aliran sesat yang kini kerap kali muncul dan meresahkan masyarakat.

Sementara itu, H. Ahmad Jauhari yang mewakili LDNU mengungkapkan bahwa tantangan dakwah dimasa depan menjadi semakin berat. Jika saat ini umat Islam dengan gampang bisa sholat, tahlil dan sholawat dengan gampang, apakah hal yang sama bisa terjadi pada 50 tahun ke depan. Dibeberapa daerah yang umat Islamnya minoritas, seperti di Bali, NTT dan Manado, mereka kesulitan untuk menjalankan ibadah.

“Karena itu, rahmat Allah berupa penduduk beragama Islam yang mayoritas ini harus disyukuri dengan saling bekerjasama, mendukung dan mendorong pengembangan dakwah,” katanya.

Haedar Nashir

Sementara itu KH Syukron Makmun yang merupakan dai kawakan ini menjelaskan berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam seperti liberalisasi, sekulerisasi sampai dengan penanaman cara berfikir Barat pada umat Islam.

Haedar Nashir

Liberalisasi yang dilakukan dalam rangka memperlemah iman umat Islam ini disebarkan dengan kedok modernisasi, padahal tujuannya adalah untuk membunuh umat Islam. Menurutnya, kini sudah banyak umat Islam yang mengaku memiliki pemikiran baru, padahal sebenarnya mereka hanya mentransfer dari Barat.

“Kini seorang ustadz tidak boleh menegur perempuan yang membuka auratnya karena ini melanggar HAM,” katanya.

Untuk melawan ini, kini LPID telah menyiapkan penerbitan sejumlah buku seperti Apakah Bid’ah Itu, Pluralisme Menuju Pemurtadan, Sekularisme Membunuh Syariat Islam, Liberalisme dan Yahudi, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan musafahah atau ramah tamah diantara hadirin. Undangan juga disuguhi musik gambus ala padang pasir untuk menghibur mereka dengan lagu-lagu Islami. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Olahraga, Internasional Haedar Nashir

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang

Jombang, Haedar Nashir. Untuk menyambut sekaligus memandu para peserta Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Agustus mendatang, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang akan membuka posko di empat titik perbatasan kota.

"Keempat lokasi tersebut adalah di seluruh perbatasan terluar Kabupaten Jombang," tandas Ketua PC GP Ansor Jombang,? Zulfikar Dawam Ikhwanto kepada Haedar Nashir, Kamis (16/4). Lokasi-lokasi itu antara lain Kecamatan Perak yang mempertemukan Jombang dengan Kabupaten Nganjuk, Ploso sebagai kawasan perbatasan dengan Kabupaten Lamongan, Mojoagung sebagai kecamatan terluar dengan Kabupaten Mojokerto, serta Bareng untuk perbatasan dengan Kabupaten Kediri atau Blitar.

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Muktamirin, Ansor Siapkan 4 Posko di Perbatasan Jombang

Keberadaan posko tersebut dirasa penting sebagai bentuk penyambutan kepada muktamirin. "Kalau peserta yang diangkut armada dengan pengawalan petugas, mungkin tidak perlu pemandu menuju lokasi," katanya.

Haedar Nashir

Namun seperti kebanyakan kegiatan muktamar, maka peserta yang datang bisa lebih banyak dari peserta resmi yang akan mengikuti sejumlah sidang. Bahkan dalam perkiraan Saifulah Yusuf, panntia daerah wilayah Jawa Timur, ada sekitar 50 ribu penggembira yang dikenal dengan muhibbin akan memadati Jombang.

Haedar Nashir

"Keberadaan posko tidak semata sebagai syiar dan penghormatan kepada muktamirin, juga sebagai rest area atau tempat peristirahatan setelah menempuh perjalanan darat yang demikian jauh," kata PNS bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Jombang ini. Di setiap posko juga akan disediakan sejumlah fasilitas, termasuk tukang pijat dan warung, lanjutnya.

Gus Atok, sapaan akrabnya juga menyampaikan bahwa keberadaan posko bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. "Karena itu di posko bisa dibuka warung yang menyediakan makanan, minum serta kebutuhan bagi para musafir," terangnya. Para istri pengurus Ansor di sekitar posko bisa menjual kopi dan berbagai kebutuhan perjalanan dengan tambahan fasilitas pijat gratis, lanjutnya.

Ia membayangkan bahwa keberadaan posko tersebut akan sangat membantu bagi para peserta yang belum begitu mengenal dengan baik lokasi sidang dan sejumlah kegiatan selama muktamar berlangsung. "Apalagi lokasi sidang dan penginapan peserta ada di 4 pesantren," ungkapnya. Belum lagi tambahan alun-alun untuk siudang pleno, pemukaan dan penutupan, dan gedung olah raga untuk registrasi peserta dan panggung hiburan.

Di sejumlah titik strategis, Ansor juga akan menurunkan ratusan relawan. Dari mulai menjaga fasilitas umum, sudut yang rawan tindak kriminalitas, juga petunjuk bagi para warga dan peserta yang ingin mendapatkan informasi seputar Jombang dan muktamar. "Karena para relawan Ansor adalah warga asli Jombang, diharapkan bisa memberikan informasi lebih rinci sesuai yang dibutuhkan," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an?

Assalamualaikum. Nama saya Khanza dari Manado Sulut. Saya ingin menanyakan tentang bagaimana hukumnya seorang wanita yang sedang haid lalu belajar dan mengajarkan Al-Quran? bolehkah atau tidak? Karena sejauh ini pendapatnya berbeda, ada yang membolehkan juga ada yang tidak. Terkadang juga menjadi bahan perdebatan. Untuk itu saya mohon penjelasannya. Syukron.

Jawaban

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkan Wanita Haid Mengajar Al-Qur’an?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Bahwa dalam masalah membaca Al-Qur’an bagi orang yang sedang haid memang terdapat perbedaan di antara para ulama. Pada dasarnya menurut jumhurul ulama orang yang sedang haid tidak diperbolehkan membaca Al-Qur`an. Hal ini didasarkan kepada beberapa dalil. Di antaranya adalah firman Allah SWT:  

? ? ? ? - ?: 79

Haedar Nashir

“Tidak ada yang menyentuhnya (al-Qur`an) kecuali hamba-hamba yang disucikan” (Q.S. Al-Waqi’ah [56]: 79)

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: " ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ?

“Dari Ibnu Umar ra ia berkata: Rasulullah saw bersbada: Tidak boleh orang yang haid dan orang yang dalam keadaan junub membaca ayat Al-Qur`an” (H.R. Ad-Daruquthni)

Namun jika perempuan yang haid ketika membaca al-Quran tujuannya bukan membaca, tetapi misalnya tujuannya adalah untuk mengajar atau membenarkan bacaan yang salah maka dalam kasus seperti ini diperbolehkan. Hal ini sebagaimana orang yang dalam keadaan junub yang masih diperbolehkan membaca Al-Quran selama tidak diniati untuk membaca (misalnya untuk tujuan berdoa, yang ada ayat Al-Qur’annya).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  - ? ? ? ? ? ?-? ? ?. 52

“Dan haram membaca al-Qur`an bagi semisal orang junub dengan tujuan membacanya walaupun dibarengi dengan tujuan lainnya, dan menurut pendapat yang kuat tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya. Dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya (al-Qur`an) seperti membenarkan bacaan yang keliru, mengajarkannya, mencari keberkahan dan berdoa,”. (Abdurrahman Ba’alwi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, h. 52)

Bahkan madzhab maliki memperbolehkan perempuan yang haid membaca Al-Quran secara mutlak. Bahkan bagi perempuan yang mengajar atau diajar (guru-murid) yang dalam kondisi haid boleh juga menyentuh mushaf. Alasannya adalah bahwa orang junub itu bisa dengan mudah menghilangkan hal yang bisa membuatnya dilarang untuk menyentuh al-Quran yaitu hadats besar dengan cara mandi besar. Kondisi tersebut berbeda dengan orang yang sedang haid atau nifas. Hal ini didasarkan pada keterangan dibawah ini:    

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? 18? ?. 322 - 

“Kalangan dari madzhab maliki berpendapat bahwa orang yang haid boleh baginya membaca Al-Qur`an dalam kondisi masih mengeluarkan darah secara mutlak, baik dalam keadaan atau tidak, atau adanya kekhawatiran lupa hafalan Al-Qur’an-nya atau tidak. Adapun setelah haidnya terputus maka ia tidak boleh membacanya sebelum mandi besar, baik dalam keadaan junub atau tidak, kecuali ia khawatir akan lupa hafalannya”. (Wazarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah Kuwait, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Dar as-Salasil, juz, 18, h. 322 H)    

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?   ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1? ?. 150-. “(Kecuali bagi orang yang mengajar atau orang yang belajar meskipun dalam kondisi haid atau junub), artinya haram bagi mukallaf menyentuh mushhaf dan membawanya kecuali dalam kondisi sebagai pengajar atau orang yang belajar maka boleh bagi keduanya menyentuh sebagian  atau papan tulis yang bertuliskan ayat-ayat Al-Quran (lauh) dan seluruh mushhaf meskipun keduanya dalam keadan haid ata nifas kerena ketidakmampuan keduanya untuk menghilangkan penghalang. Hal ini berbeda dengan orang junub karena kemampuannya untuk menghilangkan penghalang dengan mandi atau tayammum” (Abi al-Barakat Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ad-Dardidi, Asy-Syarh ash-Shaghir ‘ala Aqrab al-Masalik ila Madzhab al-Imam Malik, Bairut-Dar al-Ma’arif, juz, 1, h. 150).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Jadi yang bisa kami simpulkan, banyak ulama yang memperbolehkan para ustadzah atau guru mengaji (TPA/TPQ) tetap mengajar meskipun sedang dalam keadaan haid. Demikian juga para murid perempuan yang sedang belajar mengaji.

Semoga kita dimudahkan dalam belajar agama, serta dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Ahlussunnah, Internasional Haedar Nashir

Selasa, 18 April 2017

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI

Polman, Haedar Nashir - Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) Angkatan ke-IV di masjid Raya Desa Sattoko Kecamatan Mapilli Kabupaten Polman, Sulawesi Barat (Sulbar). Selama tiga hari, Sabtu-Senin (23-25/7), 62 peserta menerima sejumlah materi penguatan ke-NU-an dan keindonesiaan.

Hadir pada kegiatan ini Instruktur PP GP Ansor Mas’ud Saleh, Annangguru Ustad Zainul Abidin, sejumlah PW GP Ansor, dan seluruh Kader GP Ansor Polman. Kegiatan pembukaan semakin ramai dan antusiasnya dengan pemerintah dan masyarakat setempat ikut menghadiri kegiatan tersebut.

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI

Ketua GP Ansor Polman Busra dalam sambutannyya menyampaikan bahwa DTD ini merupakan komitmen pengurus dalam melanjutkan jejang kaderisasi.

Haedar Nashir

“Khusus untuk kepengurusan kami, DTD ini merupakan yang ke-IV dan insya Allah kami akan terus melanjutkan kegiatan seperti ini guna mengajak para pemuda polman yang berlatarkan NU kultural untuk bergabung bersama barisan GP Ansor,” kata Busra.

Haedar Nashir

Sementaran Mas’ud Saleh menyampaikan kepada hadirin untuk menyayangi NU karena NU sayang kita.

“Bahwa NU lahir dalam semangat kebangsaan dan keislaman Indonesia sehingga citra Indonesia yang Islami dan keislaman yang indonesiawi? itulah yang diajarkan oleh NU, terlebih tradisi budaya masyarakat Sulawesi Barat sedari dulu bercirikan Islam Aswaja An-Nahdhiyah,” ungkap Mas’ud.

Ia mengajak segenap kader untuk konsisten dalam ber-NU, “Mari meraih ridha Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW dengan cara menjadi kader NU yang istiqamah sebagaimana pesan Hadrattusyekh KH Hasyim Asy’ari,” tutup Mas’ud.

Peserta yang mengikuti DTD kali ini berasal dari berbagai kecamatan. Pendidikan ini berakhir pada senin dinihari dengan jumlah peserta yang dibaiat berjumlah 62 kader. (Sudianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Doa Haedar Nashir

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan

Padang, Haedar Nashir

Suasana memeriahkan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-82 di Propinsi Sumatera Barat mulai terasa. Setidaknya, suasana tersebut diawali Pengurus Wilayah NU Sumbar dengan silaturrahim jajaran Pengurus Cabang NU se-Sumbar.

Selain silaturrahim, diadakan pembekalan untuk kalangan pengurus NU di tingkat kabupaten dan kota di Sumbar, Sabtu-Minggu, (5-6/1 ) di Gedung Bintang Sembilan, Padang. Pembekalang meliputi materi pengembangan pertanian, pendidikan serta pengembangan organisasi NU di Ranah Minang ini.

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan

Sekdaprov Yohanes Dahlan berharap, agar NU betul-betul mengembangkan pendidikan di daerah ini. Kita tahu, bahwa kelahiran NU dilatar belakangi dengan masalah dakwah dan pendidikan. Maka sudah sewajarnya pendidikan menjadi agenda utama dalam mengembangkan organisasi di Sumbar ini.

Ketua PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Dr. H. Fathoni Rodli berharap, agar LP Ma’arif NU dikelola dengan basis manajemen, bukan lagi dengan berbasis kharismatik, seperti diawal NU lahir di nusantara ini. Dengan berbasis manajemen itulah, kita mampu memenej NU yang begitu besar, dengan berbagai dinamikanya.

“Dulu, betapa banyak tokoh Minangkabau ini yang berhasil dibidang pendidikan, politik serta sejumlah prestasi lainya ditingkat nasional. Namun, akhir-akhir ini jarang sekali kita mendengar, nama orang Minang yang menonjol di tingkat nasional. Ini merupakan tantangan kita bersama, termasuk juga NU Sumbar,“ kata Sekretaris Daerah Propinsi Sumatera Barat Yohanes Dahlan saat membuka pembekalan.

Acara pembekalan dihadiri jajaran PWNU Sumbar, seperti Rais Syuriyah Drs. H. Amiruddin, Wakil Rais Drs. H. Bagindo Letter, Wakil Ketua Drs. Zamhar Baheram, Ir. H. A. Khusnun Aziz, MM, Sekretaris Firdaus, SS, Ketua LP Ma’arif NU Sumbar, Drs. Ideal Alimuddin, M. Hi,.

Haedar Nashir

Sekretaris PWNU Sumbar, Firdaus, SS, menyebutkan, pembekalan pengurus PC NU Kabupaten/Kota se-Sumbar terkait dengan suasana Harlah NU ke-82 tahun. Peserta disamping dibekali dengan materi dari PP. LP. Ma’arif, juga materi dari konsultan pertanian. Diharapkan, peserta yang mengikuti memiliki wawasan pendidikan melalui program LP Ma’arif dan pertanian. Sehingga diharapkan mampu mengembangkan pertanian yang notabene banyak dimiliki oleh warga NU di berbagai nagari di Sumbar ini.

Terkait dengan suasana Harlah NU ke-82, direncanakan Istiqhosah NU 13-14 Januari 2008 di Pasaman Barat. Insya Allah Istighosah itu akan dihadiri Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH. Dr. Hasyim Muzadi dan Prof. Dr. KH. Syaid Agil Siraj sebagai pemberi tausiyah. Rencananya kegiatan Istighosah dihadiri lebih kurang sepuluh ribu warga nahdiyin se Sumbar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa NU eksis di Sumbar dan memiliki agenda besar untuk memajukan kehidupan dan kemaslahatan warganya pada khususnya dan masyarakat Sumbar umumnya, kata Firdaus.

Haedar Nashir

Dari silaturrahmi tersebut, Wakil Lembaga Dakwah NU Sumbar Reza Fahmi berharap konsolidasi PW dan PC-NU Sumbar dipandang penting untuk dilakukan secara berkala. Mengingat NU merupakan sebuah ormas yang sesungguhnya telah melekat dalam kultur masyarakat Minang. Dimana nilai filosofis Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai pemikiran NU.

“Sebuah hal yang tragis, apabila hingga hari ini masih ada di kalangan anggota nahdiyin yang malu untuk menyatakan diri sebagai warga NU. Justru sebaliknya warga NU Sumbar perlu bangga terhadap keberadaan dirinya sebagai anggota ormas Islam terbesar di tanah air,” kata Reza. (arm)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 16 April 2017

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi

Bandung,Haedar Nashir

Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Jawa Barat mengadakan kegiatan Reuni Alumni dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil). Salah satu buah dari pertemuan tersebut adalah perencanaan pembuatan gedung sekretariat 3 Lantai.

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi

Menurut Ketua Pelaksana kegiatan tersebut Muhtarom, biaya untuk pembangunan gedung dan pembelian tanah sudah terkumpul sebagian.

"Barusan, seperti yang kita dengar sudah terkumpul 150 meter dari (target) 500 meter untuk pembangunan gedung Ika PMII," katanya pada Reuni Alumni IKA-PMII, di kampus UNINUS, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Jawa Barat, Pada (21/8).

Haedar Nashir

Rencananya, gedung akan dibuat tiga lantai sebagai sentral dari kegiatan PMII seperti pelatihan, kaderisasi dan pusat komunikasi para alumni.

Haedar Nashir

"Di atas tanah 500 meter ini akan dibangun 3 lantai. Lantai pertama untuk aula, lantai kedua untuk kantor IKA dan lantai ketiga untuk kantor yayasan," jelasnya.

Setelah Muswil, lanjutnya, ke depan akan dimatangkan persiapan pembangunan perguruan tinggi yang akan dikelola oleh para alumni.

"Memang sekarang ada beberapa tanah yang diwakafkan ke yayasan untuk pembangunan perguruan tinggi, mudah - mudahan bisa terwujud," ujarnya.

Ketua Alumni IKA PMII Jabar Numan Abdul Hakim mengaharapkan agar para alumni bisa di garda terdepan menyelesaikan persoalan bangsa.

"PMII harus tampil, katakanlah, menjadi peniup peluitnya ketika tidak ada yang tidak beres baik itu sistem politik, sistem sosial dan sebagainya," ujarnya.

Dia juga mengimbau agar alumni PMII berkiprah di NU. "Kita berharap, (alumni) PMII tidak berhenti ketika dia punya jabatan saja, termasuk memikirkan NU sebagai organisasi sosial yang dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat," lanjutnya.

Tampak hadir pada kegiatan tersebut, Ketua Mabin PB IKA PMII KH Ahmad Bagdja, dan sekitar 350 alumni dari berbagai daerah di Jawa Barat. (Bakti Habibie/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Tokoh Haedar Nashir

Jumat, 14 April 2017

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an

Brebes, Haedar Nashir. Di saat anak-anak sekolah di berbagai tingkatan baik SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA? berangkat upacara HUT ke-70 RI, ratusan anak di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Harapan Umat Brebes, Jateng justru meliburkan siswanya. Terang saja, sekolah yang terletak di Jalan Yos Sudarso tersebut tidak mengadakan upacara 17-an.

Keberanian Kepala Sekolah tidak menggelar upacara mendapat reaksi keras dari para orang tua murid dan mendapat sorotan dari elemen masyarakat termasuk media sosial. Bahkan Dandim 0713/Brebes? dan Polres Brebes langsung mengadakan klarifikasi ke sekolah tersebut.

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an (Sumber Gambar : Nu Online)
SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an (Sumber Gambar : Nu Online)

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an

Dandim 0713 Brebes, Letkol Inf Efdal Nazra mengatakan, setiap sekolah wajib melaksanakan upacara bendera dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. Itu sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Karena itu, sebagai penerus bangsa berkewajiban mengisi kemerdekaan sebaik mungkin.

Haedar Nashir

"Saya baru tahu ada sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera hari ini. Saya akan cek dulu, dan apa alasanya tidak melaksanakan upacara bendera itu," tandasnya.

Kepala Sekolah SD IT Harapan Umat Brebes, Ratoni saat dikonfirmasi mengakui kalau sekolahnya tidak melaksanakan upacara 17-an. Meski mengakui, tetapi dia membantah kalau upacara 17-an tidak dilaksanakan karena sebenarnya sudah dilakukan dengan menggabungkan upacara hari pramuka pada 14 Agustus lalu.

Haedar Nashir

Ketika didesak apa bukti-buktinya melaksanakan upacara 17-an antara lain pembacaan teks proklamasi, Ratoni tampak gelagapan tidak bisa menunjukan bukti-buktinya.? "Ini memang kebijakan sekolah kami. Tapi, bukan berarti kami tidak menghargai Hari Kemerdekaan RI. Sebab, kegiatan upacara itu sudah dilaksanakan pada 14 Agustus lalu bersamaan peringatan Hari Pramuka," bantahnya.

Ratoni yang biasa disapa Ahmad Fatoni ini juga beralasan kenapa tidak melaksanakan upacara 17-an karena siswanya banyak yang jauh seperti dari Losari, Larangan dan yang jaraknya jauh. Lagi pula tanggal 17 Agustus adalah tanggal merah yang artinya hari libur. Selain itu, sekolah juga tidak mendapat arahan dari Dinas Pendidikan, terkait kewajiban melaksanakan upacara bendara HUT Kemerdekaan RI. "Atas pertimbangan ini, kami berinisiatif meliburkan seluruh siswa," paparnya

Anggota DPRD Kabupaten Brebes, Pamor Wijaksono sangat menyayangkan dan menyesalkan tindakan sekolah tersebut. Kebijakan yang diterapkan itu dinilai salah. Apalagi, bagi siswa SD. Sebab, pendidikan nasionalisme sejak dini sangat penting. Karena itu, pihaknya meminta dinas terkait untuk mengambil langkah atas kejadian tersebut.

"Itu jelas salah, karena semua sekolah wajib melaksanakannya. Ini penting bagi penanaman nasionalisme pada anak-anak sebagai penerus bangsa," tandasnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Selasa, 11 April 2017

Memilih Susu Meninggalkan Arak

Diceritakan dalam kitabnya Ahmad Ad-Dardiri Ala Qishshati Mi’raj bahwasanya Rasulullah SAW dalam perjalanannya setelah menjalankan sholat bersama para Nabi di Baitul Maqdis merasa sangat haus. Sebelum ia ucapkan keadaannya tiba-tiba Jibril telah datang dengan membawa dua cawan yang berisi susu dan arak yang segar.

Nabipun segera mengambil cawan yang berisi susu dan meminumnya, seraya Jibril berkata Kau mengambil yang benar. Andaikan Kau ambil arak pastilah umatmu kelak akan hidup dalam kesesatan. Diriwayatkan pula dari sebagian perawi bahwa Jibril datang dengan membawa tiga macam minuman yaitu susu, madu dan khamar.

Pilihan Rasulullah SAW terhadap susu adalah pilihan yang tepat. Karena air susu adalah air yang sangat cocok untuk manusia dan disukai oleh segenap makhluk. Susu mengandung kesehatan, kekuatan, dan zat yang mengenyangkan. Demikian yang terurai dalam ayat 66 dalam surat An Nahl:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Memilih Susu Meninggalkan Arak (Sumber Gambar : Nu Online)
Memilih Susu Meninggalkan Arak (Sumber Gambar : Nu Online)

Memilih Susu Meninggalkan Arak

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya

Menurut penafsiran sebagian ulama, susu dengan segala kebaikan kandungan zatnya bagaikan agama Islam yang penuh dengan kesempurnaan. Dan menurut ulama lain, susu diibaratkan sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagai kelompok mayoritas yang berpegang tegung pada ajaran Rasulullah SAW.

Haedar Nashir

Demikianlah posisi air susu yang keluar antara kencing dan darah. Seperti Ahlussunnah wa Jama’ah yang lahir dan berkembang diantara dua kutub besar Qadariyah dan Jabariyah. dalam konteks kekinian posisi air susu dapat diibaratkan sebagai anjuran untuk memosisikan diri di tengah tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kirim. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Cerita, News Haedar Nashir

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya

Pati, Haedar Nashir. Rais Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Sahal Mahfudh, Senin 17 Desember 2007 kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Tidak seperti biasanya, kali ini, diadakan acara istimewa oleh para kerabat dekat. Ada potong tumpeng, bahkan ada yang sempat menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Saya belum pernah mengadakan acara seperti ini. Biasanya hanya selametan keluarga, baca manaqib, tahlilan dan selesai. Tetapi saya bahagia, kata Mbah Sahal saat menyambut para tamu di aula Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya

Sekitar seratus orang menghadiri acara ulang tahun Mbah Sahal. Sebagian besar tamunya adalah para pengurus NU, MUI dan para pengasuh pondok pesantren di lingkungan Kajen.

Di hari ulangtahunnya itu dua buku diterbitkan untuk Mbah sahal. Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh dan Pandu Ulama, Ayomi Umat: Kiprah Sosial 70-Tahun KH Sahal Mahfudh”. Buku yang kedua ini diterbitkan oleh MUI, berisi biografi singkat Mbah Sahal dan komentar para tokoh.

Sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri Mardiyanto, dan Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma, dalam buku itu, memuji kiprah Mbah Sahal baik di NU maupun MUI. Kontan, dirinya merasa tidak nyaman.

Haedar Nashir

Dua buku yang terbit sekarang ini isinya kok ngalem-ngalem saya semua. Terlalu banyak memuja-muja malah nanti bisa jadi kultus individu. Masih banyak yang bisa dikiritisi tentang diri saya,"katanya.

Mbah Sahal kemudian berpaling dari aula yang terletak di lantai dua kompleks Pesantren Maslakul Huda. "Supaya bebas bicara dan mengkritik tidak sungkan-sungkan saya minta izin meninggalkan ruangan ini, katanya.

Haedar Nashir

KH Thalchah Hasan, Wakil Rais Am PBNU, dalam buku "Pandu Ulama, Ayomi Umat" itu mengungkapkan kekagumannya kepada sosok ketuanya. Mbah Sahal sering mendapat kritikan karena akhir-akhir ini dinilai pendiam. Namun menurut Kiai Thalchah, Mbah sahal adalah seorang yang alim dan wara atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak layak diungkapkan.

"Wara’ ini sangat penting mendapatkan penekanan di sini. Selain itu, beliau berpenampilan sederhana sekali, bisa diterima oleh bermacam-macam orang, dan bisa hidup dengan berbagai golongan," kata Kiai Thachah. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Lomba, Pesantren Haedar Nashir

Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara

Semarang, Haedar Nashir?

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Mukhsin mengungkapkan,? Mbah Sholeh mampu menjadi jangkar kebudayaan yang bisa kita nikmati sekarang ini. Ia menulis karya-karyanya, termasuk kitab tafsir Faidlur Rahman? menggunakan arab-pegon menjadi kekuatan tersendiri dalam menyampaikan gagasan dan keilmuan Islam.





Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara

"Mbah Sholeh bisa menajamkan kebudayaan kita," kata Mukhsin saat mengisi diskusi? Intelektualisme Islam Nusantara, di Masjid Raya Baiturrahman, Semarang, Ahad (19/6).?





Haedar Nashir



Mbah Sholeh Darat yang hidup pada akhir abad 19 mampu menjadi simpul gerakan ulama Nusantara. Ia berguru kepada ulama lokal hingga Makkah.

Haedar Nashir



Pada zaman itu, Mbah Sholeh Darat tak hanya hidup sendiri. Banyak ulama seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Mahfudz Termas dan Syekh Nawawi Banten. Mereka melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka.

Selain itu, ada hubungan kuat antara guru dan murid yang terus terjaga sehingga perjuangannya dapat dilanjutkan, misalnya Hadhratus Syeikh Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah) yang keduanya merupakan murid Mbah Sholeh Darat.

Mukhsin menyebut, Mbah Sholeh sebagai salah satu peletak dasar pesantren di Nusantara. Disamping mengajar, Mbah Sholeh juga menuliskan gagasan-gagasan aslinya. Ia mampu meletakkan tradisi studi Islam dengan menyimpulkan jejaring pesantren yang nantinya berkembang di Nusantara dan menjadikan tafaqquh fi al-din sebagai jalan menguatkan intelektualisme.? (M Zulfa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah

Bandarlampung, Haedar Nashir - Menikah adalah sunah Nabi. Barang siapa tidak mengikuti sunnah Nabi maka Ia bukan termasuk ummatnya. Tetapi dalam mengambil keputusan untuk menikah, Seseorang harus menata niat agar apa yang dilakukannya benar-benar akan bernilai ibadah.

Demikian dijelaskan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nur Syam saat memberikan mauizhatul hasanah pada walimatul arasy pernikahan putri Mustasyar PWNU Lampung yang juga Rektor UIN Lampung Muhammad Mukri di GSG UIN Bandarlampung, Sabtu (29/7).

Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Motif-motif Terlarang dalam Menikah

Mantan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya ini memberikan rumus khusus bagi siapapun yang akan menjalin ikatan suci dan sakral ini. "Agar menikah tidak salah arah rumusnya adalah 3 (tiga) J 2 (dua) M," katanya.

J yang pertama adalah jangan memiliki niatan menikah karena fisik semata. Fisik akan mengalami penuaan. Ketika memiliki niatan karena fisik, maka seseorang akan kecewa karena tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya dengan kekal.

Haedar Nashir

J yang kedua adalah Jangan menikah karena status sosial. "Jabatan status sosial juga tidak akan abadi dimiliki seseorang. Sebagai contoh jangan ada sampai niatan mempelai putra menikahi mempelai putri karena ia anak Rektor UIN Lampung," ingatnya.

Haedar Nashir

J yang ketiga adalah jangan menikah karena faktor harta. Karena menurutnya harta pada hakikatnya bukanlah milik kita. Semua adalah titipan yang akan kembali diambil oleh yang punya.

Nur Syam mengajak semua orang yang akan menikah untuk memegang erat prinsip 2 M yaitu M yang pertama adalah menikahlah karena cinta dan kasih sayang. "Ini sesuai dengan tujuan menikah dalam Al-Quran, yaitu sakinah mawaddah warahmah. Jangan diplesetkan buat rumah satu untuk si Sakinah, satu untuk si Rahmah, dan satu untuk si Mawadah ya?" candanya disambut tawa semua yang hadir.

M yang kedua yaitu menikahlah karena Allah. "Menikahlah lillah. Karena ibadah ini adalah sunah rasul yang akan membawa keberkahan hidup. Semoga abadi sampai akhir hayat. Memiliki rumah tangga yang berkah penuh kebahagiaan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Sabtu, 08 April 2017

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim

London, Haedar Nashir. Pemimpin keagamaan Iran mengharamkan chatting online antara laki-laki dan perempuan yang tidak punya hubungan keluarga.

Ayatollah Ali Khamenei lewat situsnya menerbitkan fatwa larangan chatting online tersebut.

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)
Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim (Sumber Gambar : Nu Online)

Iran Haramkan Chatting Cowok-Cewek bukan Muhrim

Khamenei juga menyebut chating online sebagai kelakuan tidak bermoral.

Haedar Nashir

Fatwa tersebut diterbitkan menyusul larangan penggunaan WeChat, aplikasi di smartphone untuk berkirim pesan.

Facebook dan Twitter serta jejaring lainnya sudah dilarang di Iran.

Haedar Nashir

Khamenei ditanya tentang chatting online antar lelaki dan perempuan dan dia menjawab sebagaimana dikutip Dailymail:  "Mengingat perilaku tak bermoral yang sering terjadi, maka hal tersebut tidak diperbolehkan."

Di sisi lain, meskipun ada larangan, banyak pejabat Teheran memiliki akun baik Facebook maupun Twitter.

Salah satunya adalah Presiden Hassan Rowhani yang memiliki 163 ribu follower di Twitter.

Banyak warga Iran "mengakali" larangan itu dengan menggunakan proxy server agar tetap bisa mengakses jejaring sosial. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Kamis, 06 April 2017

Hati-Hati Tawaran Umrah Super Murah

Jakarta, Haedar Nashir. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Abdul Djamil meminta masyarakat agar berhati-hati dengan penawaran umrah supermurah, terlebih untuk saat ini terdapat agen perjalanan yang menawarkan paket lengkap senilai Rp15 juta.

"Kami menengarai ada umrah supermurah. Dirjen PHU ini tidak mau hanya jadi penonton atas fenomena itu tetapi menindaklanjutinya dengan pendekatan penegakkan hukum," kata Abdul di kantornya, Jakarta, Senin.

Hati-Hati Tawaran Umrah Super Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-Hati Tawaran Umrah Super Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-Hati Tawaran Umrah Super Murah

Umrah supermurah sejauh ini menjadi strategi pemasaran sejumlah agen perjalanan wisata religi. Terkadang harga yang ditawarkan kurang masuk akal, seperti Rp15 juta sudah paket lengkap. Padahal uang sejumlah itu biasanya hanya cukup untuk digunakan sebagai biaya transportasi saja.

Haedar Nashir

"Maka dari itu, pastikan fasilitas yang ditawarkan paket itu benar-benar ada atau tidak. Misalkan mereka menawarkan hotel nyaman tapi ditemui di lapangan sebaliknya maka sebaiknya dilaporkan saja," kata dia.

Haedar Nashir

Abdul menyarankan masyarakat selalu jeli dan kritis terhadap penawaran paket umrah supermurah. Lebih jauh, dia mengharapkan mereka mau mengecek agen umrah itu resmi atau tidak.

"Cek di laman haji.kemenag.go.id saja untuk memastikan agen itu resmi atau tidak. Jika di laman tidak ada agen itu maka bisa dipastikan itu tidak resmi. Terdapat 655 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) resmi dan di luar itu pasti tidak resmi karena saat ini sudah dilakukan moratorium pemberian ijin PPIU," kata dia.

Lebih lanjut dia menyampaikan lima cara agar masyarakat terhindar dari permainan PPIU nakal. Di antaranya dengan memastikan agen perjalanan itu resmi, memastikan penerbangan dan jadwal keberangkatan, memastikan program layanan, memastikan hotel dan terakhir agar memastikan visa.

"Apabila kelima hal itu sudah dilakukan dengan baik maka kemungkinan jemaah umrah terlantar tidak terjadi," katanya.

Sebagaimana diberitakan pada akhir 2014, sebanyak 240 jamaah umroh asal Indonesia terlantar di Bangkok, Thailand. Mereka terlantar di negara tersebut karena belakangan diketahui pesawat yang dipakai tidak memiliki izin mendarat d Jeddah, Arab Saudi.

Pada medio Januari 2015 juga terjadi penelantaran 659 jamaah umroh oleh agen nakal.

Terdapat juga kasus lain ketika jamaah umroh bisa melakukan ibadahnya tetapi mereka tidak dapat pulang karena diduga ada kesalahan teknis dari agen perjalanan dalam pengurusan visa jamaah.

Umroh sendiri dikatakannya semakin diminati masyarakat akibat antrian jemaah haji Indonesia.

Untuk berhaji mereka harus mengantri 16-20 tahun sehingga ada kecenderungan masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah.

Pada Januari 2015, kata Abdul, jumlah jemaah umroh menunjukkan angka yang besar mencapai 135.000 dan diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Rabu, 05 April 2017

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh

Jakarta, Haedar Nashir. Konfederasi Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) meminta Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk selalu melibatkan organisasi buruh dalam program-program pembinaan dan pengembangan kapasitas serikat pekerja atau serikat buruh.

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembinaan Pekerja oleh Kemenaker Perlu Libatkan Organisasi Buruh

"Sarbumusi melihat itu sebagai bagian dari pengembangan resources dan kapasitas pengurus organisasi buruh oleh Kementerian Ketenagakerjaan," ujar Presiden Konfederasi Dewan Pimpinan Pusat Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (23/8).

Syaiful menegaskan, Sarbumusi dalam melakukan perannya sebagai serikat pekerja atau serikat buruh di Indonesia sangat jelas.

Sarbumusi secara kelembagaan mengalami kemajuan cukup signifikan. Dari saat verifikasi keanggotaan pada 2015 yang mencatat 125.000 anggota, saat ini sudah memiliki 11 DPW tingkat provinsi, 75 DPC tingkat kabupaten/kota dan 213 Basis tingkat perusahaan yang tersebar di 8 Federasi Sarbumusi, dengan total keanggotaan 245.000 orang.

Haedar Nashir

"Angka itu hasil update verifikasi anggota tahun 2017," paparnya.

Sarbumusi saat ini sedang mengembangkan kelembagaan Lembaga Bantuan Hukum Sarbumusi sebagai bentuk penguatan dan pembelaan atas hak-hak buruh.

Haedar Nashir

Sarbumusi menyadari peran serta Lembaga Bantuan Hukum sebagai garda terdepan dalam pembelaan hak-hak buruh dan kasus-kasus hubungan industrial yang mendera buruh seluruh Indonesia.

"Dengan menyadari peran serta tersebut, Sarbumusi pada 24-27 September 2017 akan menyelenggarakan Simposium Nasional Advokasi Perburuhan Sarbumusi yang dirangkai dengan Harlah Sarbumusi ke 62 Tahun yang rencananya akan diselenggarakan di Pasuruan, Jawa Timur," kata Syaiful lagi.

Mantan Ketua Umum PB PMII itu beserta jajaran pengurus Sarbumusi mengaku telah menyampaikan hal itu kepada Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan meminta Menteri Hanif hadir dalam acara Harlah Sarbumusi ke-62 Tahun. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Rais Syuriah NU Cepogo KH Muhammad Suparno Wafat

Boyolali, Haedar Nashir



Kabar duka kembali datang dari NU Soloraya. Beberapa hari lalu, Mustasyar PCNU Sukoharjo KH Agung Syuhada wafat. Kini, Senin (28/8), Rais Syuriah MWCNU Cepogo Boyolali KH Muhammad Suparno berpulang ke Rahmatullah.

Menurut keterangan dari pihak keluarga, almarhum meninggal pada pukul 00.30 WIB di kediamannya Sambungrejo Mliwis Cepogo Boyolali, karena sakit.

Rais Syuriah NU Cepogo KH Muhammad Suparno Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriah NU Cepogo KH Muhammad Suparno Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriah NU Cepogo KH Muhammad Suparno Wafat

Ketua PC GP Ansor Boyolali Khoirudin Ahmad mengungkapkan, semasa hidupnya Kiai Suparno dikenal sebagai sosok yang teguh dalam memperjuangkan dakwah Islam, khususnya di Cepogo.

“Selain di menjadi Rais Syuriah NU di Cepogo selama dua periode, beliau juga mengasuh beberapa majelis ta’lim mujahadah Asmaul Husna dan Jamuna,” terang Khoirudin.

Saat berita ini ditulis, diperoleh keterangan jenazah Kiai Suparno yang juga pengasuh Pesantren Bani Syansuri akan dimakamkan pada Senin Pukul 13.00 WIB di Pemakaman Kampung Sambungrejo.

Haedar Nashir

Lahu alfatihah! (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Selasa, 04 April 2017

Agus M. Herlambang Ketum PB PMII Periode 2017-2019

Jakarta, Haedar Nashir?



Agus M. Herlambang akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) pada Kongres ke-19 di kota Palu, Sulawesi Tengah pada Ahad pagi (21/5).

Agus M. Herlambang Ketum PB PMII Periode 2017-2019 (Sumber Gambar : Nu Online)
Agus M. Herlambang Ketum PB PMII Periode 2017-2019 (Sumber Gambar : Nu Online)

Agus M. Herlambang Ketum PB PMII Periode 2017-2019

Menurut salah seorang peserta di arena kongres, kader PMII Cabang Jombang, Jawa Timur tersebut memperoleh dukungan 165 suara, menyisihkan pesaing terdekatnya Iden Robet Ulum, kader PMII Malang, yang meraih 78 suara. Peserta lain yang juga hadir di kongres, Ridwan menyatakan hal sama dengan mengirim screenshot hasil pemilihan suara.?

Pada putaran pertama, Agus memimpin perolehan suara dari 14 calon lain. Berikut raihan suara pada putaran pertama: Zainal Abidin: 8, Ahmad Zaerudin: 19, M. Syarif Hidayatullah: 11, Sabolach El Kalamby: 6, Taufik Nurrohim : 19, M. Zeny Zarqowi: 20, Rizavan S. Thoriqi: 1, Arief Hermanto: 26, Agus Herlambang: 64, Luqi Saadilah: 0, Ayi Sopwanul Umam: 0, Junaidi: 1, Chandra Wahyudi: 0, Iden Robet Ulum: 39, Mulyadin Permana: 5. Adapun surat suara sah: 215 dan tidak sah: 25.?

Beberapa menit sebelumnya, Septi Rahmawati terpilih sebagai Ketua Kopri PB PMII mengungguli dua pesaing lainnya pada pemilihan putaran kedua.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Sabtu, 01 April 2017

Halal Bihalal Muslim-Non Muslim, PCNU Jepara Wujudkan Ukhuwah Wathaniyah

Jepara, Haedar Nashir - PCNU Jepara menyelenggarakan open house di Gedung NU Jepara, Jalan Pemuda Nomor 51, Jumat (30/6) siang. Pada pertemuan halal bihalal ini tampak ratusan orang yang terdiri atas perwakilan PCNU, banom, lembaga dan MWCNU se-Jepara, mantan Kankemenag Jepara H Muhdi, dan sejumlah pemuka agama dari kalangan kristiani dan katolik.

Tokoh umat kristiani yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKSAG) juga turut hadir. Mereka adalah Pdt Danang Kristiawan (GITJ/ketua), Pdt Priyo Kuncoro (GKKD/wakil ketua), Linggom Manurung (GKMI/bendahara) serta Yuli (Katolik), dan Maria (GBT Alika).

Halal Bihalal Muslim-Non Muslim, PCNU Jepara Wujudkan Ukhuwah Wathaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal Muslim-Non Muslim, PCNU Jepara Wujudkan Ukhuwah Wathaniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal Muslim-Non Muslim, PCNU Jepara Wujudkan Ukhuwah Wathaniyah

Rais Syuriyah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar (Mbah Ubaid) menyampaikan, kegiatan diadakan dalam rangka kumpul kenegaraan, ukhuwah wathaniyah.

Kepada nahdliyyin Jepara Mbah Ubaid mengingatkan bahwa Islam tidak hanya menyuruh meminta maaf pada Idul Fitri. “Setiap hari meminta atau diminta kita harus saling maaf-memaafkan,” tuturnya mengakhiri uraian halal bihalal.

Haedar Nashir

Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq mengapresiasi pertemuan ini. “Alhamdulillah tradisi ini semakin meriah dibanding tahun sebelumnya,” pujinya.

Kepada MWCNU, banom dan lembaga, ia mengingatkan agar segera menyelesaikan laporan untuk kepentingan Muskercab Ke-3 PCNU Jepara yang rencananya akan diselenggarakan di Madrasah Ismailiyyah Kecamatan Nalumsari pada 9 Juli mendatang.

Haedar Nashir

“Organisasi NU tujuannya untuk umat. Tidak hanya untuk warganya sendiri juga harus memberikan berkah kepada yang lain,” kata kiai yang sering disapa Mbah Yatun ini.

Halal bihalal itu diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin KH Masduqi dan ditutup dengan mushafahah (bersalam-salaman). (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir