Jumat, 31 Maret 2017

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Way Kanan, Haedar Nashir?

Memperingati Hari Lahir KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gusdurian Lampung menggelar Doa Lintas Agama Untuk Gus Dur dan Bakti Sosial Penyembuhan Alternatif Aji Tapak Sesontengan (ATS) di dua kecamatan daerah dipimpin Bupati Raden Adipati Surya.?

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Gusdurian Lampung Peringati Hari Lahir Gus Dur

Penggiat Gusdurian Markus Tri Cahyono, di Blambangan Umpu, Kamis (3/8) menjelaskan, kegiatan bekerja sama dengan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Way Kanan dan Paguron Swarna Raya Yayasan Aji Tapak Sesontengan Global Indonesia tersebut mengambil tema Merawat Warisan Kebhinekaan, Menebar Warisan Jenius Leluhur Nusantara.

Kegiatan digelar di dua tempat mulai pukul 13.00-17.00 WIB. Pertama di RK IV, Madiun, Kelurahan Campur Asri, Kecamatan Baradatu, Jumat 4 Agustus yang merupakan hari kelahiran Gus Dur. Kemudian di Bale Banjar Adat Sari Agung, Kampung Bali Sadhar Tengah, Kecamatan Banjit, Sabtu 5 Agustus.

Haedar Nashir

Masyarakat yang menderita penyakit asam urat, hernia, kencing nanah, lemah jantung, diabetes, lemah syahwat, stroke, paru-paru, kista, kanker payudara, rematik, pengeroposan tulang bisa menyembuhkan penyakitnya tanpa biaya.

Hanya saja, bagi yang Muslim diharapkan membaca tiga kali Al Fatihah dihadiahkan bagi Gus Dur, untuk keselamatan bangsa Indonesia dan seluruh penyelenggara kegiatan. Untuk yang non muslim, dipersilakan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dengan tujuan sama.

"Setelah atau sambil menunggu penyembuhan, kami akan mengajak masyarakat berfoto membawa pesan-pesan inspiratif Gus Dur mengenai keberagaman dan kemajemukan. Ini yang kami sebut sebagai merawat kebhinekaan," kata Markus lagi.

Adapun yang dimaksud menebar warisan jenius leluhur nusantara ialah berkumpul dan berdialog dengan masyarakat untuk merampungkan masalah melalui penyembuhan penyakit medis dan non medis dengan ATS, ilmu kuno peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang mudah digunakan siapapun yang telah diaktivasi, cukup 15 hingga 30 menit sudah bisa praktik.

Saat ini, ATS sudah banyak dimanfaatkan di mancanegara seperti di Hongkong, Singapura, Polandia, Belanda, Jepang, Amerika, Meksiko, Australia, Belgia hingga Spanyol sehubungan bisa dipelajari oleh siapa pun mulai dari anak kecil dan orang tua. Aktivasi ATS 085382008080. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Pesantren, Warta Haedar Nashir

Kamis, 30 Maret 2017

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

Di antara ibadah yang disunahkan Rasulullah ialah shalat witir. Saking tegasnya kesunahan ini, sebagian ulama mewajibkan shalat witir seperti yang dikenal dalam madzhab Hanafi. Ketegasan anjuran ini diperkuat dengan kesaksian para sahabat. Beberapa orang sahabat seperti Abu Hurairah dan Abu Dzar diwasiatkan oleh Nabi SAW agar tidak meninggalkan shalat witir.

Menurut Badruddin Al-‘Ayni dalam ‘Umdatul Qari’, pesan Rasulullah SAW ini memiliki hikmah. Di antara hikmahnya, agar para sahabat terbiasa witir, menunjukkan kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya pada malam hari. Witir sangat dianjurkan karena shalat termasuk kategori ibadah badaniyah yang paling mulia dan utama.

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rasulullah SAW di Balik Shalat Witir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Anjuran witir sebelum tidur mengisyaratkan agar sahabat membiasakannya, sekaligus tanda kewajiban witir, dan waktu pelaksanaannya malam hari. Sementara malam merupakan waktu paling baik untuk santai, tidur, dan istirahat.”

Sebenarnya, shalat witir lebih baik dikerjakan di akhir malam atau menjelang waktu shubuh. Namun bila khawatir tidak bangun pada waktu itu, Rasulullah SAW menganjurkan pelaksanaannya sebelum tidur. Hal ini dijelaskan oleh hadits riwayat Jabir, Rasulullah SAW berkata:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah terlebih dahulu. Sementara orang yang yakin bangun di akhir malam, kerjakanlah witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama,” (HR Muslim).

Menurut hadits ini, shalat di akhir malam disaksikan oleh para malaikat. Tentu makhluk agung itu tidak hanya sekedar melihat. Mereka sekaligus membawa rahmat untuk makhluk bumi.

Dalam hadits lain dikatakan, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya pada akhir malam, sehingga siapapun yang berdo’a kepada-Nya akan dikabulkan, (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, News Haedar Nashir

Rabu, 29 Maret 2017

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pasca diluncurkannya Numart oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo melalui Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Sidoarjo beberapa watu lalu, kini pusat perbelanjaan swalayan Numart semakin dikunjungi pembeli.

Pasalnya, Numart tak hanya menjual aneka macam produk makanan maupun minuman dari kalangan pengusaha Nahdlatul Ulama, Numart juga menyediakan produk-produk kosmetik maupun perlengkapan rumah tangga.

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo

Dengan kelengkapan produk yang dijual oleh Numart, para pembeli mengaku antusias berbelanja di Numart karena harga di Numart terbilang sangat murah dan produknya juga berbeda dengan swalayan lainnya.

Produk yang dipasarkan ini terdapat dari hasil buatan anggota Badan Otonom Nahdlatul Ulama Sidoarjo seperti Ansor, Muslimat dan Fatayat NU. Selain itu, pengelolah Numart juga membuka bagi pengusaha warga Nahdliyin lainnya untuk berjualan atau menitipkan di Numart.

Dengan adanya Numart ini omset penjualan setiap bulanya meningkat 50 persen hingga 75 persen. Dari hasil penjualan tersebut, pihak pengelolah Numart akan menyisahkan 10 persen yang diperuntukkan untuk sosial.

Haedar Nashir

"Numart akan bermanfaat bagi umat karena akan memberikan donasi kepada Numart setempat yang dibuka di banyak cabang. Donasi itu sendiri akan dicatat melalui perbankan, sehingga hasil Numart akan kembali ke masyarakat setempat dan disalurkan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa," kata manajer Numart Sidoarjo, Guruh Sugeng Mulyono, Selasa (31/1).?

Haedar Nashir

Guruh menambahkan, tujuan Numart ini salah satunya untuk meningkatkan perekonomian dikalangan warga Nahdliyin. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Sidoarjo akan terus mengembangkan Numart di 18 kecamatan yang ada Sidoarjo dan bekerjasama dengan pengusaha dari kalangan Nahdliyin.

Diharapkan dengan adanya Numart ini perekonomian warga NU (Nahdliyin) di kabupaten Sidoarjo semakin maju karena persaingan usaha di bidang swalayan maupun minimarket semakin ketat.

Numart sendiri juga hadir di setiap acara NU dimanapun berada. Seperti pada saat acara Musker perdana PCNU Sidoarjo, yang digelar di pondok pesantren Al-Amanah, Junwangi, Krian pada hari Sabtu, 28 Januari 2017 lalu. Numart hadir di tengah-tengah warga Nahdliyin untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Pendidikan, Cerita Haedar Nashir

Minggu, 26 Maret 2017

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Oleh KH Afifuddin Muhajir

Istilah Islam Nusantara agaknya ganjil didengar. Sama dengan Islam Malaysia, Islam Saudi, Islam Amerika, dan seterusnya, karena bukankah Islam itu satu, dibangun di atas landasan yang satu, yaitu Al-Quran dan Sunah. Memang betul Islam itu hanya satu dan memiliki landasan yang satu. Akan tetapi selain memiliki landasan nash-nash syariat (Al-Quran dan Sunah).

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Islam juga memiliki acuan maqasidus syariah (tujuan syariat). Maqasidus syariah sendiri digali dari nash-nash syariah melalui sekian istiqro (penelitian).

Ulama kita zaman dahulu sudah terlalu banyak yang dilakukan. Di antaranya adalah melakukan penelitian dengan menjadikan nash-nash syariat, hukum-hukum yang digali daripadanya, ?illat-?illat dan hikmah-hikmahnya sebagai obyek penelitian. Dari penelitian itu diperoleh simpulan bahwa di balik aturan-aturan syariat ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu terwujudnya kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

Haedar Nashir

Kemaslahatan (ma?la?ah) semakna dengan kebaikan dan kemanfaatan. Namun, yang dimaksud dengan maslahat dalam konteks ini adalah kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyatul khams), yaitu hifzhud din, hif?hul ?aql, hif?hun nafs, hifzhul mal, dan hifzh al-?ir?.

Ulama Ushul Fiqih membagi maslahat pada tiga bagian. Pertama, maslahat mu?tabarah, yaitu maslahat yang mendapat apresiasi dari syariat melalui salah satu nashnya seperti kearifan dan kebijakan dalam menjalankan dakwah islamiyah. Kedua, maslahat mulgoh, yaitu maslahat yang diabaikan oleh syariat melalui salah satu nashnya seperti menyamaratakan pembagian harta pusaka antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ketiga, maslahat mursalah, yaitu kemaslahatan yang terlepas dari dalil, yakni tidak memiliki acuan nash khusus, baik yang mengapreasiasi maupun yang mengabaikannya seperti pencatatan akad nikah.

Haedar Nashir

Tujuan negara dalam Islam sejatinya sejalan dengan tujuan syariat, yaitu terwujudnya keadilan dan kemakmuran yang berketuhanan yang Maha Esa, negara yang memiliki dimensi kemaslahatan duniawi dan ukhrowi seperti tersebut sesungguhnya sudah memenuhi syarat untuk disebut negara khilafah, sekurang-kurangnya menurut konsep al-Mawardi. Dalam hal ini menurutnya, “? ? ? ? ? ? ? ? ?”, kepemimpinan negara diletakkan sebagai kelanjutan tugas kenabian dalam menjadi agama dan mengatur dunia.

Maqasidus syari?ah sekurang-kurangnya penting diperhatikan dalam dua hal:

1. Dalam memahami nushushus syariah, nash-nash syariat yang dipahami dengan memperhatikan maqasidus syari?ah akan melahirkan hukum yang tidak selalu tekstual tetapi juga kontekstual.

2. Dalam memecahkan persoalan yang tidak memiliki acuan nash secara langsung. Lahirnya dalil-dalil sekunder (selain Al-Quran dan Sunah) merupakan konsekuensi logis dari posisi maslahat sebagai tujuan syariat. Di antara dalil-dalil sekunder adalah al-Qiyas, Isti?san, Saddudz dzari?ah, ?Urf, dan Masla?ah Mursalah seperti disinggung di atas.

Al-Qiyas ialah memberlakukan hukum kasus yang memiliki acuan nash untuk kasus lain yang tidak memiliki acuan nash karena keduanya memiliki ?illat (alasan hukum) yang sama.

Isti?san ialah kebijakan yang menyimpang dari dalil yang lebih jelas atau dari ketentuan hukum umum karena ada kemaslahatan yang hendak dicapai.

Saddudz dzari?ah ialah upaya menutup jalan yang diyakini atau diduga kuat mengantarkan pada mafsadat.

?Urf adalah tradisi atau adat istiadat yang dialami dan dijalani oleh manusia baik personal maupun komunal. ?Urf seseorang atau suatu masyarakat harus diperhatikan dan dipertimbangkan di dalam menetapkan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Mengabaikan ?urf yang sahih seperti tersebut bertentangan dengan cita-cita kemaslahatan sebagai tujuan (maqasidus) syari?ah.

Sebagian ulama mendasarkan posisi ?urf sebagai hujjah syar?iyyah pada firman Allah,

? ? ? ? ? ? ?

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-A?raf: 199)

Dan sebagian yang lain mendasarkan pada hadis riwayat Ibn Mas?ud,

? ? ? ? ? ? ? ?

“Apa yang oleh kaum muslimin dipandang baik, maka baik pula menurut Allah.”

As-Sarakhsi mengungkapkan dalam kitab al-Mabsu?,

? ? ? ?

“Yang ditetapkan oleh ?urf sama dengan yang ditetapkan oleh nash.”

Pada titik ini perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah budaya karena yang pertama bersifat ilahiyah sementara yang kedua adalah insaniyah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipraktikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniyah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan.

Selain nususus syari?ah dan maqasidus syari?ah, Islam juga memiliki mabadi?us syari?ah (prinsip-prinsip syariat). Salah satu prinsip syariat yang paling utama sekaligus sebagai ciri khas agama Islam yang paling menonjol adalah al-wasa?hiyyah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Allah swt dalam firman-Nya,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (al-Baqarah: 143)

Wasa?hiyyah yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata moderasi memiliki beberapa makna. Salah satu maknanya adalah al-waqi?iyyah (realistis). Realistis di sini tidak berarti taslim atau menyerah pada keadaan yang terjadi, akan tetapi berarti tidak menutup mata dari realitas yang ada dengan tetap berusaha untuk menggapai keadaan ideal.

Banyak kaidah fiqih yang mengacu pada prinsip waqi?iyyah, di antaranya:

?? ?

Kemudaratan harus dihilangkan.

? ? ? ? ? ? ?

Dalam kondisi sempit ada kelapangan, dan dalam kondisi lapang di situ ada kesempitan.

? ? ? ? ? ?

Menolak kerusakan didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan.

? ? ? ? ? ? ? ?

Turun ke  realitas yang lebih rendah ketika tak mungkin mencapai idealitas yang lebih tinggi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Beradaptasilah dengan mereka selama kamu ada di kediaman mereka, dan hormatilah mereka selama kamu ada di kampung mereka.

Dakwah beberapa Wali Songo mencerminkan beberapa kaidah di atas. Secara terutama adalah Kalijaga dan Sunan Kudus. Sunan Kalijaga misalnya sangat toleran pada budaya lokal. Ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjauh jika pendirian mereka diserang. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis (penyesuaian antara aliran-aliran) dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut tidak hanya kreatif, tapi juga sangat efektif (wa yadkhuluna fi dinillahi afwaja). Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak.

Demikian juga dengan metode Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Ada cerita masyhur, suatu waktu ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tablighnya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang berarti “Seekor Sapi”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Suatu pendekatan yang agaknya mencopy-paste kisah 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Perlu juga dikemukakan perbedaan prinsip antara fiqih ibadat (ritual) dan muamalat (sosial). Salah satu kaidah fiqih ibadat mengatakan “? ? ? ? ? ?”, Allah tidak boleh disembah kecuali dengan cara yang disyariatkan-Nya. Sebaliknya kaidah fiqih muamalat mengatakan, “? ? ? ? ?”, muamalat itu bebas sampai ada dalil yang melarang.

Paparan di atas dikemukakan untuk menjelaskan manhaj Islam Nusantara sebagaimana dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahlis Sunah di negara ini dalam periode berikutnya.

Islam Nusantara ialah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat.

Satu lagi contoh penting dari bagaimana ulama Nusantara memahami dan menerapkan ajaran Islam adalah lahirnya Pancasila. Pancasila yang digali dari budaya bangsa Indonesia diterima dan disepakati untuk menjadi dasar negara Indonesia meskipun pada awalnya kaum muslimin keberatan dengan itu. Pasalnya yang mereka idealkan adalah Islam secara eksplisit yang menjadi dasar negara. Namun, akhirnya mereka sadar bahwa secara substansial Pancasila adalah sangat Islami. Sila pertama yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid dalam akidah keislaman. Sedangkan sila-sila yang lain merupakan bagian dari representasi syariat.

Seandainya kaum muslimin ngotot dengan Islam formalnya dan kelompok lain bersikeras dengan sekulerismenya barang kali sampai saat ini negara Indonesia belum lahir. Itulah pentingnya berpegang pada kaidah “? ? ? ? ? ?”, menolak mudarat didahulukan daripada menarik maslahat.

Pemahaman, pengalaman, dan metode dakwah ulama Nusantara, sejauh ini telah memberikan kesan yang baik, yaitu Islam yang tampil dengan wajah semringah dan tidak pongah, toleran tapi tidak plin-plan, serta permai nan damai.

Saat ini, dunia Islam di Timur Tengah tengah dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi perusakan-perusakan tersebut. Maka cara berislam penuh damai sebagaimana di Nusantara ini kembali terafirmasi sebagai hasil tafsir yang paling memadai untuk masa kini.

Yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana nilai-nilai keislaman yang telah dan sedang kita hayati ini, terus dipertahankan. Bahkan, kita harus berupaya ‘mengekspor’ Islam Nusantara ke seantero dunia, terutama ke bangsa-bangsa yang diamuk kecamuk perang tak berkesudahan, yaitu mereka yang hanya bisa melakukan kerusakan (fasad) tapi tidak kunjung melakukan perbaikan (sholah). Tugas kita adalah mengenalkan Allah yang tidak hanya menjaga perut hamba-Nya dari kelaparan, tapi juga menenteramkan jiwa dari segala kekhawatiran,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Quraisy: 3-4). Wallahu A’lam.

*) KH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU. Ia merupakan guru utama fiqih dan ushul fiqih di Ma’had Aly Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo. Tulisan ini dikutip dari situs jejaring Ma’had Aly setempat. Ia baru saja meluncurkan karya Fathul Mujib sebagai syarah kitab Taqrib.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Tokoh Haedar Nashir

Sabtu, 25 Maret 2017

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas

Depok, Haedar Nashir. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis menyebutkan, ada sahabat Nabi Muhammad yang masuk surga karena kecintaannya kepada surat Al-Ikhlas. Suatu saat ada sahabat yang selalu membaca surat pendek tersebut setiap kali menjadi imam salat. Lalu ada jamaah shalat yang bosan karena sahabat tersebut membaca surat itu. ?

“Terus ditanya Nabi Muhammad, ‘kenapa baca Qulhu (surat Al-Ikhlas) terus?’ Sahabat tersebut menjawab, ‘saya paling seneng yang ada di dalam Al-Qur’an itu surat Al-Ikhlas. ‘Karena Anda mencintai Al-Ikhlas, Allah mencintai Anda dan memasukkan anda ke surga’,” kata Kiai Cholil di Pesantren Cendekia Amanah Depok, Selasa (26/8).

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas

Di lain cerita, lanjut Kiai Cholil, ada juga sahabat yang mengaku tidak bisa membaca selain surat Al-Ikhlas. “Karena Anda mewajibkan baca Qulhu, maka Allah mewajibkan Anda untuk masuk surga,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia berpendapat kenapa orang-orang tua dulu seringkali baca surat Al-Ikhlas, terutama saat salat Tarawih. Karena meskipun surat pendek, tetapi manfaatnya sangat besar sekali.?

Haedar Nashir





Kenapa surat Al-Ikhlas dibaca tiga kali?

Kiai Cholil menerangkan, alasan mengapa surat Al-Ikhlas dibaca tiga kali saat tahlil, yaitu karena surat tersebut adalah sepertiga dari Al-Qur’an. Menurut dia, Al-Qur’an itu terbagi menjadi tiga yaitu hukum, janji, dan sifat Allah.

Haedar Nashir

“Asma sifat Allah ya Qulhu ini. Baca Qulhu sekali itu seperti baca sepertiga Al-Qur’an. Kalau baca tiga kali, sama dengan baca khatam Al-Qur’an,” ucapnya.

Ia mencotohkan, Ali bin Abi Thalib membaca surat Al-Ikhlas tiga kali sebagai mahar saat menikahi Fatimah binti Muhammad.?

“Sayyidina Ali bisa ngatamin Al-Qur’an dalam sekejap untuk Siti Fatimah sebagai maharnya, bisa. Apa? Baca Qulhu,” ceritanya. (Muchlison Rohmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Kamis, 23 Maret 2017

Makna Penyucian Jiwa

Oleh M Sadullah

--Jiwa adalah ruh. Dengan ruh, manusia bisa mengenal kebaikan dan juga bisa menangkap hal-hal yang baik bagi dirinya. Tidak hanya sebagai fungsi jasadinya saja, tetapi juga sebagai fungsi intelektual, penalaran, dan emosional. Oleh karena adanya sebuah ruh tersebut, fungsi-fungsi di atas dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Penyucian Jiwa

Marilah kita membayangkan sebuah besi. Besi itu fisiknya kuat. Dapat dipakai untuk konstruksi bangunan, menopang jembatan, menahan beban ratusan ton pada setiap harinya, lalu lalang kendaraan dengan muatan yang sangat berat. Ketika besi dicampur dengan baja, maka akan menjadi sedemikian tahan untuk menerima beban yang sangat berat. 

Pertanyaannya, Apakah besi suatu saat akan berkarat dan berkurang fungsinya? Jawabannya adalah iya. Pengurangan fungsi dan kekuatan terjadi karena karat tersebut. Demikian pula dengan ruh kita, suatu saat akan mengalami sifat dan hal-hal yang mengganggu fungsi dan kegunaan utama ruh itu sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, akan berakibat pada berkurangnya fungsi dalam menangkap kebaikan. Pada saat itulah kita membutuhkan upaya untuk menyucikan jiwa kita. 

Haedar Nashir

Terkait konsep tentang penyucian jiwa, hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT melalui, “Qad aflaha man tazakka”(sungguh bahagialah orang yang dapat menyucikan dirinya). Pada ayat selanjutnya diterangkan, “wadzakarasma rabbihi fa shalla” (kemudian mengingat Allah, asma Allah dan kemudian shalat). 

Mengingat di sini dapat bermakna mengingat Asma Allah, bisa juga bermakna lebih meningkat lagi yaitu mengingat Allah.Atau dapat pula dimaknai dengan hadirnya hati di dalam menyebut asma Allah, yaitu lisan kita menyebut dan hati kita mengingat-Nya. Lebih tinggi lagi dari hal tersebut adalah menghadirkan kebaikan-kebaikan di dalam pikiran, hati, dan perbuatan kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Itulah tingkatan berdzikir yang sangat tinggi. 

Haedar Nashir

Berdzikir kepada Allah bisa berarti menyebut asma Allah, misalnya melafadzkan kata ”Allah, subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar dan hauqalah. Demikian bacaan dzikir bisa kita pelajari, terutama yang ma’tsurat seperti yang telah diajarkan oleh Rasullullah SAW. 

Kita menyebut asma Allah saja, sudah terbimbing pelan, selanjutnya berangsur ke pikiran dan hati kita. Apabila kita dapat memasukkan asma Allah yang baik itu dalam memori kita, berarti kita menyertakan ingatan kita pada saat menyebut nama Allah, maka kita mencapai tahap yang nomer dua. Apabila kita berusaha atau mewujudkan kebaikan yang Allah berikan kepada kita menjadi perbuatan, ucapan dan sikap kita, maka kita mencapai tahap dzikir yang nomer tiga, yaitu tahap dzikir yang sangat tinggi.

Mengapa kita perlu menyucikan jiwa? Penyucian jiwa itu menjadi penting, karena iman dan kebaikan manusia itu mengalami  pasang surut. Oleh karena manusia itu hidup dalam pergaulan antar sesamanya, perasaan manusia tidak semuanya stabil terus menerus, melainkan kadang-kadang sedih, bergembira, bersemangat, kurang semangat, maka penyucian jiwa itu penting bagi kita. 

Prof M Adnan dalam bukunya, Ta’yid Al Islam, disana dikutip bahwa hati manusia itu bisa berkarat. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa obat bagi hati yang berkarat itu?”. Jawabnya, “Membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian”.  Apa maksud dari hati yang berkarat itu? Artinya, kalau suatu saat hati kita merasa sulit menerima nasihat, sulit melaksanakan kebaikan,  putus harapan, lemah harapan dan lain sebagainya, saat itulah hati kita diperlukan penyucian jiwa untuk menjaga kesetabilan jiwa kita.

Apakah dalam penyucian jiwa itu harus menyertakan jasad, akal dan kalbu? Jawabnya, “betul”. Dalam penyucian jiwa, Allah SWT memberikan modal kepada kita yang berupa akal pikiran dan panca indera. Tidak hanya itu saja, ternyata Allah SWT memberikan kepada kita semua berupa ruh. Karena dengan ruh tersebut yang paling peka dalam menangkap kebaikan, yang dibantu dengan akal dan panca indera. 

Menurut keterangan Sayid Naqib Al Athas yang dikutip dari Imam Ghazali, ada sesuatu yang disebut dengan jiwa. Didalam jiwa ternyata ada akal. Dimana akal tersebut tidak sendirian dalam membentuk jiwa kita. Ia berkaitan dengan kalbu dan nafs. Akal adalah satu jenis kecakapan yang ada dalam diri kita yang membuat kita sadar dan memiliki kecerdasan. 

Dengan kecerdasan tersebut maka kita dapat mempunyai penalaran. Dengan penalaran maka kita bisa menyusun abstraksi, dan pengetahuan yang makin lama terhimpun semakin banyak. Itulah kemampuan akal manusia. 

Dalam jiwa juga ada kalbu (qalbu). Ketika kita melihat sesuatu sebagai bimbingan dari Tuhan, cahaya dari Tuhan, misalnya ini baik, ini menyelamatkan, maka pada saat itulah sisi kalbu yang bekerja. Contohnya, kalau kawan kita terbaring di rumah sakit maka kita akan merasa bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat kesehatan yang kita miliki. 

Selain itu, ada nafs. Nafs ini sesuatu yang berurusan dengan badan. Contohnya adalah, kalau kita membutuhkan makan dan minum, maka kita merasakan haus dan lapar. 

Maka dari itu, disebut menyucikan jiwa apabila kita mengasah akal kita agar menjadi lebih cerdas, mengasah kalbu kita agar lebih peka dengan kebaikan, dan mengasah nafs kita agar peka terhadap gejala-gejala badaniyah yang kesemuanya kita arahkan dalam kebaikan. 

Mudah mudahan dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa ini kita semua mendapat berkahnya bulan Ramadhan, ibadah kita diterima oleh Allah, Amal kebaikan kita dilipat gandakan dan kualitas puasa kita lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Wallahu A’lam.

M Sa’dullah, (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas dan Sekretaris LBM PCNU Banyumas).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Internasional Haedar Nashir

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Surabaya, Haedar Nashir. H Abdul Halim Iskandar sebagai Ketua Panitia Daerah Kirab Hari Santri Nasional menandaskan siap mengawal kesuksesan kegiatan ini. Hal tersebut sebagai upaya untuk melanjutkan cita-cita para ulama dalam menjaga Ahlussunnnah wal Jamaah dan Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Penegasan ini disampaikan Gus Halim, sapaan akrabnya saat memberikan sambutan atas nama panitia. "Hari santri sebagai langkah untuk meneguhkan panji-panji kebangsaan dan kebangsaan," katanya di area Tugu Pahlawan Surabaya, Ahad (18/10) pagi.

Ketua DPRD Jawa Timur ini juga mengingatkan kepada sejumlah pihak yang mempersoalkan keberadaan Hari Santri Nasional. "Santri itu tidak pernah berbuat ulah, tapi jangan diusik," katanya. Kalau kemudian ada yang melakukan itu, maka ia bersama elemen santri yang lain tidak segan-segan melakukan perlawanan, lanjutnya.

Haedar Nashir

"Kami sebagai santri hanya menunggu komando dari kiai," tandas Gus Halim. Kalau kemudian kiai memberikan aba-aba untuk menyerang mereka yang mempersoalkan Hari Santri Nasional, maka dengan segala kepatuhan akan melaksanakan perintah tersebut, lanjutnya.

Gus Halim juga mengemukakan sejumlah acara pendukung untuk semakin mengenalkan Hari Santri Nasional. "Tadi pagi ada fun run yang diikuti sepuluh ribu peserta," katanya. Besok (19/10) ada seminar nasional yang mengungkap resolusi jihad, serta 22 Oktober mendatang diselenggarakan teatrikal Resolusi Jihad.

Haedar Nashir

Dengan berpidato penuh semangat dan mengenakan pakaian ala Bung Tomo, Gus Halim tidak lupa mengucapkan terimakasih atas upaya berbagai kalangan sehingga 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Selasa, 21 Maret 2017

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Sumenep, Haedar Nashir?

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda ? (GP) Ansor Kecamatan Pragaan menggelar safari ramadhan yang diisi dengan khatmil Qur’an secara bergantian di setiap ranting kecamatan Pragaan. Safari pertama kali dimulai di ranting Kaduarah Timur, Rabu (31/5) yang dimulai pukul 14.00 WIB.

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Safari tersebut merupakan agenda permanen tiap bulan Ramadhan. Pengurus baik Ranting dan PAC wajib hadir untuk mengikutinya.

Ketua PAC GP Ansor Pragaan Moh. Qudsi mengatakan, Safari Ramadhan diinstruksikan pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Sumenep.

Haedar Nashir

"Saya yakin PAC dan pengurus ranting GP Ansor yang barada di Kecamatan lainnya juga kompak dalam mengikuti Safari Ramadhan. Dikarenakan agenda ini murupakan instruksi langsung dari pengurus PC Sumenep," tambahnya Qudsi.

Ketua Ranting GP Ansor Kaduarah Timur Masduqi, yang ditunjuk sebagai tuan rumah Khatmil Qur’an mengaku senang dengan kegiatan tersebut.?

Haedar Nashir

"Kehadiran teman-teman semua merupakan kebanggaan bagi saya selaku tuan rumah," terangnya pungkasnya. (Zainal Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Senin, 20 Maret 2017

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Sang Proklamator lahir di tanggal 6 Juni dan wafat 21 Juni. 1 Juni juga menjadi Hari Lahir Pancasila, yang ditandai dengan pidato bersejarah Bung Karno di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang isinya menjadi cikal-bakal Pancasila.

Di samping itu, bulan Juni 2017 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana merupakan bulan suci Islam yang pada tanggal 17 Ramadhan menjadi hari diturunkannya Al-Quran (Nuzulul Qur’an). Dalam kalender hijriyah, di bulan Ramadhan ini pula Kemerdekaan RI tercapai, yakni tepatnya 9 Ramadhan 1364 H.

Momentum istimewa bagi Indonesia dan Islam ini dimanfaatkan tokoh muda nahdliyin yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek, Muchamad Nur Arifin untuk me-launching buku baru sekaligus buku perdananya yang berjudul “Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran” diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Arifin merupakan Pengurus Lesbumi PBNU dan Ketua Bidang Kominfo Ansor Jawa Timur.

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Dalam bukunya ini, Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang nilai-nilai dasar ideologi keindonesiaan. Namun berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya, buku ini menggunakan perspektif tafsir Al Quran. Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya.

Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, menurut Prof. Mahfud M.D, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” tuturnya.

Buku ini hadir pada saat yang tepat: saat keislaman dan keindonesiaan dipertentangkan, Pancasila versus Khilafah. Di tengah maraknya kalangan hingga ormas muslim radikal yang mempertentangkan Pancasila dan Islam sembari menawarkan gagasan khilafah atau syariat Islam bagi negeri ini.?

Buku ini menyuntikkan kembali kesadaran tentang betapa berharganya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman kita. Bahwa semua itu sudah tuntas dirumuskan oleh para founding fathers kita. Tak ada lagi dikotomi antara Indonesia dan Islam. Keduanya lebur, sinergis, sekaligus beyond, seperti yang bisa kita lihat pada figur Bung Karno.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, komentar Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, “buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam.”

Dalam satu subbab khusus, buku ini juga mengupas tentang titik temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama (NU): ijtihad kebangsaan Bung Karno bertemu dengan ijtihad keislaman NU di “terminal” bernama Pancasila. Sesuatu yang disebut oleh penulis buku ini sebagai sinergi yang apik: tokoh besar nasionalis bertemu dengan ormas besar religius dalam sebuah gagasan yang menyatukan kedua latar belakangnya tersebut, yakni nasionalisme-religius. Perpaduan yang memberikan kontribusi tak ternilai bagi Indonesia.

Identitas buku:

Judul : Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran

Penulis : Muchamad Nur Arifin

Penerbit : Mizan

Terbit : Juni, 2017

Peresensi: Husen Jafar, peneliti dan esais, mengeloka komunitas @SejarahRI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 18 Maret 2017

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Purworejo, Haedar Nashir. Puluhan anggota Corp Brigade Pembangunan (CBP) Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Purworejo membersihkan sampah-sampah di obyek wisata alam pantai Jatimalang Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, pada Selasa (22/10).

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Lingkungan, Pelajar NU Bersih-bersih Pantai

Ketua PC IPNU Kabupaten Purworejo, Sofyan Rizali Zain mengatakan, CPB ini merupakan badan semi otonom dibawah organisasi IPNU yang fokus terhadap permasalahan-permasalahan kemanusiaan, kepedulian lingkungan dan kegiatan-kegiatan sosial.

“Kami sifatnya hanya mewadahi para pelajar yang memiliki minat pada bidang lingkungan. Kegiatan-kegiatan seperti ini, tentu menjadi alternatif bagi mereka untuk beraktifitas secara positif,” terangnya.

Haedar Nashir

Lebih lanjut ia mengatakan, terkait dengan kegiatan kemanusiaan pihaknya mengaku juga turut berpartisipasi terhadap penanggulangan gunung Merapi di Magelang serta longsor di Bruno beberapa waktu yang lalu.

“Hal tersebut tentu menjadi program organisasi untuk turut serta membantu masyarakat yang mengalami kesusahan. Pada saat terjadi letusan Merapi kita melakukan aksi galang dana di Purworejo kemudian menyalurkannya ke Magelang melalui PC IPNU Magelang,”imbuhnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, kegiatan-kegiatan seperti ini cukup efektif untuk menanamkan kepakaan sosial terhadap para anggota CBP yang rata-rata merupakan pelajar ini.

Selain itu, kata dia, guna meningkatkan kemampuan serta ketrampilan saat terjun di lapangan, pihaknya juga membekali anggota CPB dengan melakukan pelatihan-pelatihan terkait penanganan bencana, pertolongan pertama serta ketrampilan lainnya.

“Sejak masuk para anggota ini kita diklat selama tiga hari dan kita bekali dengan berbagai materi yang mereka butuhkansaat menjalankan tugas-tugas di lapangan. Kami juga terus mengajak para pelajar agar mau bergabung dengan kegiatan-kegiatan kami,”tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan bakti lingkungan bersih bersih Pantai Jatimalang, Anis Makhrus mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang.

“Ada dua agenda yang akan kita lakukan pada peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, yakni bersih-bersih Pantai Jatimalang serta bersih-bersih jalur pendakian Gunung Merbabu 27 hingga 28 Oktober besok,” ujarnya.

Anis menambahkan, alasan dipilihnya pantai Jatimalang ini sebagai lokasi bakti lingkungan karena pantai ini merupakan salah satu obyek wisata alam andalan di Kabupaten Purworejo.

Namun, dia berpendapat, kepedulian pengunjung untuk menjaga kebersihan pantai masih cukup minim. Selain itu, menurutnya pihak pemerintah juga terlihat kurang serius mengelola obyek wisata ini.

“Ini merupakan wujud keprihatinan kami terhadap kondisi pantai yang kotor ini. Kita juga tidak sepenuhnya menyalahkan pengunjung karena pihak pengelola juga tidak menyediakan tempat pembuangan sampah,” katanya.

Anis berharap, melalui kegiatan ini menjadi bisa memberikan contoh kepada pengunjung yang lain untuk peduli terhadap permasalahan kebersihan lingkungan. “Pada kegiatan ini kami juga mengkampanyekan budaya bersih lingkungan kepada pengunjung yang lain,” pungkasnya. (Lukman Hakim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Budaya Haedar Nashir

Jumat, 17 Maret 2017

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Jombang, Haedar Nashir. Semangat menghidupkan kembali diskusi sastra di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur terasa saat Peluncuran sekaligus Bedah Kumpulan Puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ karya 13 mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unhasy semester IV, Senin (23/5).

Terlebih lagi, dukungan dan respon positif disampaikan oleh Wakil Rektor II Unhasy H Muhsin Ks, yang hadir pada acara tersebut. “Ini adalah sebuah karya yang perlu diapresiasi,” ungkapnya.

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas Hasyim Asy’ari Jombang Hidupkan Kembali Kajian Sastra

Wakil Rektor Unhasy asal Demak tersebut juga berpesan untuk menghidupkan gemar membaca. Karena membaca menjadi kekuatan dalam membentuk pola pikir yang baik, termasuk mendalami sastra.

Di lingkungan Unhasy yang berbasis pendidikan pesantren, menurut Muhsin, terdiri dari 3 prinsip. Yaitu, agama, ilmu dan budaya. “Agama itu memberikan kita ketentraman dan ketenangan. Ilmu itu memberikan kemudahan, membuat hidup kita jadi enak. Sedangkan budaya membuat hidup menjadi indah. Karena itu usaha untuk menghidupkan ketiga hal tersebut harus dilakukan,” ungkapnya.?

Haedar Nashir

Budayawan Binhad Nurrohmat yang hadir sebagai pembicara mengingatkan, bahwa diskusi sastra bukan hal baru di Tebuireng. Tercatat, pada tahun 75-an, Pesantren Tebuireng pernah mengundang Penyair dan Sastrawan WS Rendra. “Ini artinya, Tebuireng sudah mengawali dunia sastra tersebut.”?

Dunia pesantren sendiri, lanjut Binhad, sarat dengan karya sastra. Nadzom-nadzom yang banyak ditemukan dalam literatur klasik adalah salah satu bentuk sastra yang tidak lepas dari dunia santri.?

Binhad juga mengingatkan, sastra lekat dengan budaya kritik. Karena itu, keberanian meluncurkan karya harus dibarengi dengan kesadaran untuk dikritisi. Dalam kritiknya, Binhad mengingatkan untuk membiasakan dalam forum-forum kritik. Sebagaimana buku kumpulan puisi “Cerita Rantau di Balik Senja“ tersebut tidak lepas dari kritik.?

“Beberapa puisi masih lemah. Jelas terlihat karena bekal dan senjata belum lengkap. Senjata tersebut seperti kekuatan metafora, kekayaan diksi, simbol, musikalitas bahasa dan lain sebagainya,” jelasnya.

“Sebab, seorang penyair biasanya punya ide. Akan tetapi ide yang tidak didasari oleh alat dan senjata penyair, maka bisa jadi ide tersebut tidak tersampaikan dengan baik,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lajutnya, sebuah karya juga perlu ditashih atau diuji dan dikaji. Proses pengkajian dan pentashihan tersebut dilakukan dalam forum-forum diskusi. Karena itu, sebuah forum diskusi sastra penting artinya untuk dihidupkan. “Sehingga sebelum dicetak, perlu dikaji atau ditashih, sehingga karya sastra menjadi semakin baik,” katanya. (Machtumah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax, AlaNu Haedar Nashir

Rabu, 15 Maret 2017

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kajian mengenai pesantren kini tidak lagi terjebak pada dikotomi tradisional dan modern. Fenomena labelisasi agama dan ‘revolusi mental’ yang melahap hampir semua isu kebangsaan telah menggiring pesantren bertransformasi menjadi entitas sosial yang tetap layak untuk dikaji. Martin van Bruinessen, Indonesianis asal Belanda, bahkan pernah membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi lembaga pendidikan yang adaptif terhadap laju modernisasi.

Nurcholish Madjid pernah memberikan analisis bahwa tahun 2020 merupakan saat kebangkitan kaum santri, yang seringkali disebut sebagai kalangan tradisionalis itu. Analisis tersebut didasarkan pada tumbuhnya generasi santri yang meraih pendidikan tinggi sehingga akan mengimbangi eksistensi kalangan modernis yang lebih dulu mengenyam pendidikan tinggi.

Namun kebangkitan itu tidak diperoleh serta-merta. Sejak dulu, progresivitas gerakan dan pemikiran kaum santri seringkali dianggap sebagai ancaman bagi segelintir pihak. Dalang pembantaian pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan isu dukun santet pada tahun 1998 adalah tudingan-tudingan negatif yang telah didapatkan oleh kalangan pesantren sejak masa lampau.?

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan Dunia Kecil Bernama Ciputat

Kondisi di masa kini juga masih belum jauh berbeda. Pesantren sebagai properti layak jual bagi kepentingan politis, pesantren sebagai penyemai paham radikalisme, hingga penggunaan narkoba di kalangan pesantren adalah isu terkini yang menjadi trending topic masyarakat kita.?

Dalam konteks pendidikan juga tidak kalah pelik. Pada masa lalu, lulusan pesantren dianggap tidak memiliki legalitas sehingga mereka tidak berhak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas. Kini, kaum santri bisa bernafas lega setelah pemerintah mengakui pesantren penyelenggara pendidikan keagamaan terutama setelah lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jauh sebelum terbitnya undang-undang tersebut, tahun 1980an dapat disebut sebagai permulaan proses kebangkitan kaum santri. Pada masa tersebut pemerintah dan dunia global mulai melirik kaum santri sebagai bagian penting pengembangan bangsa. Lulusan pesantren mulai diberi jalan untuk menempuh pendidikan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri.

Laku hidup kaum santri memang terlihat getir bagi para periset. Namun bagi para penulis buku ini, kehidupan ‘kaum sarungan’ adalah sebuah pembuktian bahwa pesantren tidak identik dengan keterbelakangan dan prediksi tentang masa depan yang suram.

Haedar Nashir

Dari Pesantren untuk Dunia menyajikan tujuh belas tulisan mengenai pengalaman hidup para santri yang kini menjadi dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Karya ini bukan kajian yang serius dan akademik, namun buku ini diprediksi mampu menunjukkan peran dan kontribusi kaum santri dalam perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.

Buku ini ditulis oleh para dosen-santri yang telah mengalami pergulatan dalam merasakan manisnya hasil perjuangan yang diperoleh dari dalam pesantren. Atas hasil jerih payahnya itu, mereka merasa memiliki hutang kepada masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka menyadari betul akan harapan bangsa yang disandarkan pada pundaknya.

Singkatnya, buku ini ditulis sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan pendidikan masyarakat Indonesia. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta secara rutin menghasilkan tokoh intelektual muslim berkaliber internasional mulai dari Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, hingga Komaruddin Hidayat. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran strategis lembaga ini sebagai laboratorium yang menghasilkan generasi kaum santri sehingga menjadi intelektualis muslim yang berwawasan global.

Ciputat adalah rumah kedua bagi mereka bahkan dapat dikatakan sebagai pesantren kedua setelah mereka lulus dari pesantren yang sebenarnya. Seperti halnya pesantren yang adaptif dan progresif, Ciputat juga selalu berkemas menjawab tantangan modernisasi.?

Haedar Nashir

Para dosen-santri ini seolah ingin mengatakan pada kalangan pesantren bahwa para santri harus memiliki cita-cita yang mulia, menggapai pendidikan yang tinggi, dan tidak melupakan jatidirinya sebagai pembelajar yang sabar. Kesabaran dan cita-cita inilah yang mampu menghantarkan para penulis meraih pendidikan maksimal di tingkat doktor (S3) bahkan beberapa diantaranya menjadi profesor dan pernah menduduki jabatan strategis di negara ini.? Dari pesantren dan Ciputat yang terbelakang, kini mereka muncul sebagai tokoh-tokoh berwibawa dalam menghadapi derasnya tantangan modernisasi dunia.

Akhirnya, buku ini seolah ingin menegaskan kebenaran prediksi Nurcholish Madjid di atas. Kaum santri kini mulai diperhitungkan sebagai elemen masyarakat yang mampu memberikan pengaruh bagi sekitarnya. Kebangkitan ini akan terus berjalan dan berharap tidak kembali menjadi terpuruk.

Ringan dan santai ala novel menjadi karakter penulisan buku ini. Bagi mereka yang ingin berkenalan, belajar mencintai, dan bernostalgia dengan dunia pesantren sangat disarankan untuk membaca buku ini.?

Pesantren dulu, kini, dan nanti masih akan tetap menjadi pesantren yang sebenarnya. Selamat membaca!





Info Buku

Judul : Dari Pesantren untuk Dunia: Kisah-kisah Inspiratif Kaum Santri

Editor : Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Edisi : Pertama

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Prenada Media Group

Peresensi

Muhammad Nida’ Fadlan

Peneliti PPIM UIN Jakarta dan Alumnus Pesantren Buntet, Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

Surabaya, Haedar Nashir

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur secara khusus mengajak Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau PW LTNNU untuk mengawasi mutu siaran televis dan radio. Hal tersebut penting untuk meningkatkan mutu siaran dan sebagai kontrol masyarakat.

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)
KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

"LTN punya tugas untuk turut mengawasi sejumlah siaran yang ditayangkan media radio serta televisi," kata Komisioner KPID Jatim, Mohammad Dawud, Ahad (18/1). Apalagi pada saat yang bersamaan mulai digalakkan pencegahan situs dan organiasasi yang menyecarkan teror.

Dalam pandangan Mohammad Dawud, KPID sendiri sangat terbuka atas keluhan masyarakat yang melakukan protes bila ditemukan muatan yang menyebarkan kebencian, tidak menghargai perbedaan dan ajakan tidak pantas lainnya.

"Apalagi LTN memiliki jaringan komunikasi dengan kepengurusan serupa di tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur. Cukup sediakan kader dan waktu untuk bisa memantau siaran di berbagai daerah,” kata Sekretaris PW ISNU Jatim ini

Haedar Nashir

M Dawud kemudian memberikan masukan bahwa cara yang bisa dilakukan bila ternyata menemukan siaran yang tidak pantas, maka cukup melayangkan surat ke KPID Jatim dengan menyertakan waktu dan tanggal serta dimana menangkap siaran yang meresahkan tersebut. "Selanjutnya kami dari KPID yang akan menindaklanjuti laporannya," ungkapnya.

Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR sangat mengapresiasi ajakan tersebut. "Kami memang memiliki jaringan sampai ke kabupaten dan kota di Jatim, meskipun harus terus dijalin," katanya. Bahkan keberadaan pemantau media memang telah direkomendasikan saat rapat koordinasi dengan kepengurusan LTN se-Jatim beberapa waktu berselang.

Haedar Nashir

"Tinggal bagaimana mengintensifkan komunikasi dan memberikan informasi ini kepada kepengurusan di daerah," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Dengan semakin banyak pihak yang mengawasi mutu siaran, ia mengharapkan kian banyak tayangan yang mendidik masyarakat.

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini juga berharap agar frekwensi yang telah diberikan pemerintah dimaknai sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. "Bukan malah menebar keburukan apalagi teror," katanya.

Pada saat yang sama, alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap agar pemerintah tegas. "Kami mendukung dan mendesak pemerintah untuk menutup gerakan penyebar terorisme baik di televisi dan radio, termasuk di dunia maya," tandasnya. Karena, lanjutnya, dari sejumlah media inilah gerakan teror akan merayu masyarakat untuk bertindak yang destruktif.

Bagi Gus Najib, tindakan pemerintah dengan menutup website, akun facebook dan media sosial lain dapat juga dilakukan kepada radio dan televisi. "Ini untuk menuutup gerak yang mengarah kepada terorisme," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Haedar Nashir

Selasa, 14 Maret 2017

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Jombang, Haedar Nashir. Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Ma’ruf menggelar jumpa pers setelah PMII ditetapkan menjadi Badan Otonom (Banom) NU melalui putusan di Sidang Komisi Organisasi Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8).

Aminuddin menilai, bahwa putusan tersebut tetap akan dibawa ke forum tertinggi PMII, yaitu kongres. “Yang jelas, PMII akan konsisten dengan dakwah Aswaja NU,” ujarnya dihadapan puluhan wartawan berbagai media di Media Centre Muktamar NU di SMAN 1 Jombang.

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Komisi Organisasi Tetapkan PMII Jadi Banom NU, Ini Sikap PB PMII

Ditanya apakah intinya PMII menolak keputusan Muktamar NU, Aminuddin menjawab bukan demikian artinya. “Karena sebagai sebuah organisasi, PMII memiliki mekanisme tersendiri dalam memutuskan itu, yakni melalui kongres,” jelasnya.

Haedar Nashir

Secara historis, ideologis, dan filosofis, lanjut Aminuddin, PMII berkomitmen untuk terus mengikuti NU dalam rangka dakwah Aswaja di kampus.

Haedar Nashir

Sebab itu, imbuhnya, pihaknya memohon kepada para alumni yang bertindak sebagai Muktamirin agar tetap memasukkan poin interdependensi ke dalam draft AD/ART NU.

“Dari memutuskan untuk independen di tahun 1972 dalam Perjanjian Munarjati, kita menjadi interdependen di tahun 1991 di Jakarta, artinya masih mengikuti NU meski tidak secara struktural,” paparnya.

Dalam sejarahnya, PMII memutuskan independen karena alasan politik. "Sekarang NU sudah kembali ke khittah 1926, sudah tidak masuk ke dalam ranah politik praktis sehingga PMII pun harus kembali ke pangkuan NU untuk menjadi Banom," ujar KH Nuril Huda, salah satu pendiri PMII beberapa bulan sebelum Muktamar NU digelar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax Haedar Nashir

Senin, 13 Maret 2017

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, Haedar Nashir. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

Haedar Nashir

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Haedar Nashir

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Kamis, 09 Maret 2017

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pondok pesantren Al-Istiqomah Sukoharjo menggelar acara wisuda khotmil Quran, sadranan dan khaflah akhirussanah selama dua hari, Selasa-Rabu (25-26/6). Hari pertama diisi dengan sema’an al-Quran, sedangkan hari kedua dilaksanakan kegiatan sadranan, pawai ta’aruf oleh siswa/siswi PAUD, TK, Madin, bhakti sosial, dan acara wisuda khatmil Quran.

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Istiqomah Gelar Wisuda Akhirussanah

Menurut pengasuh Pesantren Al-Istiqomah, KH Ismail Thoyib, acara wisuda tahun ini sangat istimewa, karena ada mahasiswi IAIN Surakarta yang mondok di Al-Istiqomah dan dapat menyelasikan Al-Quran bilghaib 30 Juz.

"Ini merupakan kebahagiaan bagi kami, dan semoga ke depan banyak santri-santri mahasiswi IAIN yang mengikuti jejak mereka," tutur Ismail yang juga wakil Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo. 

Haedar Nashir

Sementara itu, KH Syarif Rahmat yang mengisi tausiyah puncak acara menyatakan, nabi-nabi terdahulu berimukjizat berbentuk fisik, seperti tongkat Nabi Musa yang membelah air, Nabi Nuh dengan perahunya dan lain-lain. Sedangkan Nabi Muhammad diberi mukjizat Quran yang memiliki kekuatan dhahir maupun spiritual.

"Salah satu contoh kekuatan al-Quran adalah menjelaskan tentang ibadah sholat yang memiliki tiga dimensi. Pertama spiritual (ketenangan hati); kedua medikal (kesehatan jasmani); dan ketiga sosial (menumbuhkan sifat toleran, harmonis dan tawadhu)," jelasnya yang juga Pengasuh Pesantren tahfidz Ummul Quro Pondok Cabe Tangerang. 

Haedar Nashir

Puncak acara Haflah ini dihadiri tokoh-tokoh NU seperti KH Abdurrozaq Shofawi Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, KH Ahmad Jablawi Pengasuh Pesantren Popongan Klaten, Nyai Maemunah Pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Grobogan. Acara juga dimeriahkan oleh group rebana Jamuro (jama’ah Muji Rosul) pimpinan Gus Karim Solo.

Pesantren Al-Istiqomah berlokasi di Pucangan Kertasura Sukoharjo. Pesantren ini merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ingin mencetak insan yang Qurani, mulai dari tingkat anak-anak sampai mahasiwa.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor  : Ahmad Rosyidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, AlaSantri Haedar Nashir

Senin, 06 Maret 2017

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Bojonegoro, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Baureno Bojonegoro mengadakan kegiatan donor darah di kantor MWCNU kecamatan Baureno, Ahad (13/1). Kegiatan rutin ini didukung oleh Palang Mereh Indonesia (PMI) Cabang Bojonegoro.

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutin, PAC IPNU-IPPNU Baureno Galang Aksi Donor Darah

Donor darah umum ini dimulai pada pukul 07.00 –12.00 WIB diikuti oleh pengurus, anggota, alumni dan juga masyarakat kecamatan Baureno.

Masyarakat mengikuti tahap demi tahap untuk lolos sebagai pendonor. Meski demikian, banyak juga yang tidak bisa mendonorkan darah mereka karena terkendala tensi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Haedar Nashir

Ali, staf unit transfusi darah PMI Bojonegoro dalam kesempatan itu mengatakan, donor darah sangat dianjurkan dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh dan meremajakan darah.

Ketua PAC IPNU Baureno Yajma’uddin mengatakan, donor darah ini merupakan kegiatan rutinan yang di adakan tiap  3 bulan sekali. Selain sebagai kegiatan sosial kegiatan ini juga sebagai ajang temu dengan alumni IPNU Baureno.

Haedar Nashir

“Saat ini sedang musim penghujan. Banyak sekali penyakit yang membutuhkan bantuan darah. Harapan kami kegiatan ini agar tetap eksis  sehingga dapat menumbuhkan jiwa sosial serta solidaritas yang tinggi bagi masyarakat,” katanya.

“Semoga solidaritas masyarakat semakin meluas di wilayah Baureno serta pendonor yang bisa bergabung lebih banyak lagi,” tambahnya.  

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : PAC IPNU Baureno

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Olahraga Haedar Nashir

Jumat, 03 Maret 2017

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Oleh A Mustofa Bisri

Akhirnya setelah sekian lama mendambakan dan tak kunjung mempunyai anak, permohonan Nabi Ibrahim agar dianugerahi anak dikabulkan oleh Tuhannya. Allah menganugerahi seorang anak yang sabar. Ketika di anak sudah cukup dewasa untuk membantu ayahnya bekerja, tiba-tiba sang ayah memberitahukan bahwa ada isyarat Tuhan untuk menyembelih si anak. “Bagaimana pendapatmu?” kata sang ayah. Dengan tenang, si anak menjawab, “Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insyaallah ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.”

Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorban Tak Sekadar Berkurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorban Tak Sekadar Berkurban

Ketika bapak-bapak itu bertekad bulat berserah diri sepenuhnya untuk melaksanakan perintah Allah dan Nabi Ibrahim telah merebahkan anak kesayangannya itu di atas pelipisnya, ketika itu pula keduanya membuktikan kepatuhan dan kebaktian mereka. Dan, Allah pun mengganti si anak dengan kurban sembelihan berupa kambing yang besar.

Meskipun ritual kurban (dengan “u”) konon sudah dilakukan sejak putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil, peristiwa yang dituturkan dalam kitab suci Al Qur’an itulah yang menjadi dasar persyaratan kurban setiap Idul Adha (Hari Raya Kurban).

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya dan putranya ikhlas dijadikan kurban demi Tuhan mereka. Bagi Nabi Ibrahim dan putranya, Tuhan adalah nomor satu. Allah adalah segalanya. Siapa pun dan apa pun tidak ada artinya dihadapan-Nya. Demi dan untuk-Nya, apa pun ikhlas mereka korbankan; sampai pun anak atau nyawa sendiri.?

Inti Berkurban

Jadi inti makna kurban di Hari Raya Kurban memang berkorban. Namun, lihatlah, bahkan untuk sekedar mengorbankan hewan, banyak orang mampu yang masih “menawar-nawar” atau menitipkan kepentingan sendiri sebagai “kompensasi”

Apakah mereka ini mengira bahwa kurban (daging ternak) itu benar yang “dituntut” Tuhan sebagai bukti kecintaan dan kebaktian? Tidak. Sama sekali bukan daging-daging dan darah-darah hewan itu yang mencapai Allah, melainkan ketakwaan. Pengorbanan. “Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya” (Al Qur’an22;37).

Pengorbanan tidak hanya menyembelih kurban. Pengorbanan adalah atau mestinya merupakan pantulan dari kecintaan dan kebaktian itu. Dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa agung kebaktian seseorang.

Kita bisa saja mengaku cinta atau mengabdi kepada pujaan kita. Kita bisa saja menyatakan hal yang mulia demi Tuhan, demi tanah air, demi rakyat, demi siapa atau apa pun yang kita cintai. Namun tanpa kesediaan kita berkorban untuknya, pernyataan itu tidak ada artinya.?

Bahkan ,jika kita menawar-nawar di dalam pengorbanan kita, kata “demi”-“demi” itu hanyalah omong kosong belaka. Dalam pengorbanan, tak ada perhitungan untuk rugi atau tuntutan kompensasi apapun. Dalam pengorbanan hanya ada ketulusan.

Hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi kepada Allah seperti Nabi Ibrahim dan putranya, akan siap dan rela berkorban apa pun, yang paling berharga, atau yang remeh, termasuk ego dan kepentingan sendiri-bagi dan demi Tuhannya. Demi melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya siap dan rela mengalahkan egonya dan mengesampingkan kepentingan sendiri.

Apabila Tuhan, misalnya melarang perbuatan merusak, hamba yang sungguh mencintai dan mengabdi Tuhannya akan menghindari perbuatan perusak meski bertentangan dengan kehendaknya. Dia misalnya, tak akan melakukan perbuatan korupsi, tidak melakukan tindakan teror, tidak berurusan dengan narkoba, dan tindakan merusak lainnya, meski dirinya merasa berkepentingan untuk melakukan hal itu.?

Pemimpin berkorban

Warga negara yang sungguh mencintai dan mengabdi tanah arinya akan dengan sendirinya siap dan rela berkorban apa saja bagi dan demi tanah airnya, meski tidak pernah menyatakannya. Sebaliknya, mereka yang sering menyatakan cinta tanah air, tetapi tidak sudi mengorbankan sedikit waktu dan pikiran untuk kepentingan tanah airnya, jelas mereka pembohong besar.

Pemimpn yang selalu menyatakan diri sebagai abdi rakyat, tetapi tidak pernah rela berkorban meski sekedar waktu dan perhatian untuk rakyat, bahkan lebih sering mengorbankan rakyat, cepat atau lambat pasti akan ketahuan palsunya dan rakyat akan mencampakkannya.

Akhirnya, Idul Adha atau Hari Raya Kurban juga sering disebut Lebaran Haji. Pada Saat itu memang kaum Muslimin yang mampu sedang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci.

Satu satunya ibadah dan rukun Islam yang di negeri ini ditangani secara “serius” oleh pemerintah. Ibadah ini pun memerlukan pengorbanan yang tidak kecil. Masih di Tanah air, jemaah calon haji sudah harus mengorbankan waktu, harta, tenaga, pikiran sering kali juga ? perasaan.

Dalam ritual haji, kaum Muslimin diingatkan dengan peragaan diri tentang kehambaan, kesetaraan, dan kefanaan manusia; bahkan tentang hari kemudian. Dengan demikian, jika itu semua dihayati, akan atau semestinya dapat menguban sikap dan perilaku mereka. Konon salah satu tanda haji mabrur, yang pahalanya tiada lain: surga, ialah merubahan sikap perilaku.?

Yang sebelum haji malas beribadah, misalnya, sesudahnya menjadi rajin. Sebelumnya sangat, sesudahnya santun. Sebelumnya korup, sesudahnya jujur. Demikian seterusnya. Bukan yang sebelum dan sesudah haji tetap saja sikap perilakunya atau malahan lebih buruk lagi.

Wallahualam. Selamat Hari Raya Kurban, Selamat Lebaran Haji

* Wakil Rais Aam PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, IMNU, Lomba Haedar Nashir

Rabu, 01 Maret 2017

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Jombang, Haedar Nashir. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap protein masih memprihatinkan. Karenanya, diperlukan peran berbagai kalangan agar menambah konsumsi protein ? lewat makan ikan menjadi salah satu tradisi di masyarakat.

Ajakan tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid. Dalam pandangan Gus Sholah, sapan akrabnya, peran tersebut dapat diambil ? d oleh santri untuk turut berperan aktif mengkampanyekan budaya makan ikan di tengah masyarakat.

Salah satu caranya, kata Gus Sholah, adalah dengan meningkatkan budidaya perikanan air tawar berbasis pesantren. Dengan meningkatnya budaya makan ikan, diharapkan akan turut meningkatkan konsumsi protein masyarakat.

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Ajak Santri Kampanyekan Makan Ikan

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat membuka Pelatihan Pembesaran Ikan Lele dengan Sistem Bioflok di Gedung Diklat Pesantren Tebuireng II di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Jombang, Senin (24/7) awal pekan ini. Pelatihan yang diikuti peserta dari beberapa pesantren di Jombang ini merupakan kerjasama antara Pesantren Tebuireng dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan menghadirkan instruktur dari Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi.

Gus Sholah menuturkan, pelatihan yang telah diikuti empat angkatan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pada pertengahan November 2016 lalu. "Saat itu, Bu Susi mengajak Pesantren Tebuireng untuk turut berperan aktif membantu pemerintah dalam kampanye budaya makan ikan dan menantang para santri untuk merintis usaha budidaya ikan air tawar," ungkap Gus Sholah.

Usai pembukaan pelatihan untuk angkatan ketiga dan keempat tersebut, para peserta juga diajak mengikuti panen perdana hasil kegiatan peserta pelatihan angkatan sebelumnya. Panen perdana dipimpin oleh Nyai Hj. Farida Salahuddin (istri Gus Sholah) didampingi beberapa pejabat dari BPPP Banyuwangi dan Dinas Perikanan Jombang.

Haedar Nashir

Kepada para santri, Nyai Farida berpesan agar kepercayaan sekaligus tantangan yang diberikan oleh KKP dapat dijaga dengan baik dan amanah. "Minimal, hasil budidaya ikan lele ini nanti harus bisa memenuhi kebutuhan Jasa Boga di Pesantren Tebuireng. Jadi, pondok tidak perlu lagi memesan ikan lele dari luar," harapnya.

Mudir Pesantren Tebuireng Lukman Hakim menuturkan, ikan lele yang dipanen secara perdana merupakan hasil budidaya peserta pelatihan angkatan pertama dan kedua. "Secara keseluruhan, sudah ada 120 orang yang ikut pelatihan. Mereka berasal dari Pesantren Tebuireng dan sembilan pesantren lainnya," ungkap pria kelahiran Banten ini.

Saat ini, tutur Lukman, Pesantren Tebuireng sedang menyiapkan 24 buah kolam lele berdiameter tiga meter bantuan dari KKP. "Mulai awal Agustus, akan ada 40 kolam yang dikelola untuk usaha budidaya ikan lele," ujarnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir