Minggu, 28 Desember 2014

Upaya HTI Cari Pembenaran Khilafah dari Pendiri NU

Oleh M Abdul Fatah

Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman berdialog dengan aktivis mahasiswa Hizbut Tahrir dan beberapa wacana di dunia maya ketika berbicara tentang Nahdlatul Ulama dan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Artikel ini juga tidak hendak menyudutkan atau mencemarkan nama HTI, melainkan sebagai upaya klarifikasi dan “menjaga diri” dari ideologi yang bertentangan dengan garis perjuangan NU. HTI sebagai organisasi yang bervisi besar, yaitu hendak mendirikan kekhalifahan Islam di dunia, dalam ajakannya seringkali menggunakan penguatan argumen dengan berupaya menghubung-hubungkan persamaan visi antara NU dan HTI. Antara lain sebagai berikut.

Upaya HTI Cari Pembenaran Khilafah dari Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya HTI Cari Pembenaran Khilafah dari Pendiri NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya HTI Cari Pembenaran Khilafah dari Pendiri NU

1. HTI mengatakan bahwa Hadrassyekh KH Hasyim Asyari mempunyai keterkaitan pemikiran dengan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani. Hal ini didasarkan pada sejarah ketika KH. Hasyim Asyari belajar ke Mekah yang salah satu gurunya adalah Syekh Yusuf an-Nabhani, ulama besar Sunni Syafi’i yang merupakan kakek dari Syekh Taqiyuddin an-Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir). Informasi tentang hubungan guru-murid ini memang benar. Namun, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani sendiri tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh sang kakek yang berhaluan Sunni Syafii. Syekh Taqiyuddin merupakan aktivis dan tokoh gerakah Ikhwanul Muslimin sebelum kemudian membelot dan mendirikan gerakan sendiri bernama Hizbut Tahrir yang secara metode dan mazhab fiqih berbeda dari Aswaja An-Nahdliyah.

2. Untuk menjaring simpatisan Nahdliyin, HTI biasanya mengatakan bahwa KH Hasyim Asyari berkeinginan untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam naungan sistem Islam yang satu (baca: khilafah). Hal ini mereka dasarkan atas gambar bola dunia dalam lambang NU. Saya rasa ini keliru besar. Karena lambang Nahdlatul Ulama tidak pernah diciptakan oleh siapapun, melainkan berawal dari mimpi KH Ridwan Abdullah setelah lama berikhtiar dan shalat istikharah. Kiai yang bertugas membuat lambang NU tersebut bermimpi melihat gambar indah di langit biru yang jernih. Gambar itulah yang kemudian dijadikan lambang NU atas persetujuan KH Hasyim Asyari. Sedangkan gambar bola dunia yang diikat oleh tali tambang dengan 99 lilitan tersebut bermakna kokohnya ukhuwah islamiyah dan insaniyah. Bukan penyatuan umat Islam dalam negara khilafah.

Haedar Nashir

3. Komite Hijaz yang diketuai oleh KH Wahab Chasbullah pun tak luput untuk dijadikan bahan argumen khilafah. Komite Hijaz dijadikan dalil bahwa embrio NU waktu itu mengakui dan berperan aktif pada kehilafahan Islam yang ada di Arab Saudi. Padahal Kiai Wahab dan kiai pesantren waktu itu bermaksud untuk melakukan upaya penolakan atas puritanisasi Islam oleh Wahabi khususnya ada pembongkaran makan Rasul beserta keluarga dan sahabatnya, bukan soal dukung mendukung khilafah.

Haedar Nashir

Argumentasi penyamaan visi NU dengan HTI runtuh pada puncaknya ketika KH Hayim Asyari menfatwakan Resolusi Jihad pada 22 okt 1945. Hadratussyekh Hasyim Asyari memfatwakan wajib membela tanah air (bukan membela agama) kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya pada radius 94 kilometer. Silakan pelajari latar belakang Resolusi Jihad NU. Di situ kita dapat melihat tingginnya nasionalisme dan patriotisme dalam diri Hadratussyekh Rais Akbar KH Hasyim Asyari yang tidak ada sama sekali dalam visi dan tradisi HT(I).

Penulis adalah aktivis NU Kultural; alumni Pondok Pesantren Darullughah Wal Karomah, Probolinggo, Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 27 Desember 2014

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

Kediri, Haedar Nashir - Pesantren Al-Falah Ploso adalah lokasi kedua di Kediri yang dikunjungi Tim Kirab Resolusi Jihad 2016, pada Ahad (16/10) pagi. Ketua tim H Isfah Abidal Aziz menyampaikan tujuan kedatangan tim, yakni silaturahmi dan meminta wejangan.

Pengasuh Pesantren Al-Falah KH Nurul Huda Jazuli berkenan memberikan sambutan. Ia menyatakan sangat gembira atas kehadiran tim. Ia berharap perjalanan tim kirab akan membawa barokah, hikmah, faidah, serta makna yang berarti untuk perjuangan para santri pembela akidah ahlusunah wal jamaah.

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Pesantren Ploso: Banyak Fitnah, NU Harus Bersatu

“Jangan sampai santri dan NU bergeser dari tujuan awal dan ajaran aswaja yang sudah sejak dahulu dipelihara para kiai dan ulama,” kata Kiai Nurul Huda.

Menurut Kiai Nurul Huda, saat ini banyak fitnah terhadap NU. Tetapi NU harus tetap dijaga. NU hadir untuk keselamatan dan kelanggengan ajaran aswaja.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Harus pula disadari NU dan santri paling menjadi andalan dalam membantu kondusifitas dunia. Dengan kata lain, keamanan dunia berada di tangan NU dan para santri. Selama NU dan santri belum bergeser dari tujuan awal, insya Allah dunia aman.

Ia mengatakan, seandainya pergeseran itu terjadi, maka akan sangat berbahaya. Karena satu per satu kiai meninggal dunia, santri muda harus bersiap mengambil peran menjadi penerus.

Selanjutnya, antara kiai dan santri harus saling mendukung. Dalam hal ini saling memberi nasihat berlaku baik dari atas (kiai) maupun ke bawah (santri). Tidak perlu lagi hanya kiai yang memberi nasihat, sementara santri diam saja. Sebab santri paling tahu keadaan dan kemajuan terkini. Saran-saran yang memang baik dari santri kepada kiai adalah diperlukan.

Kiai Nurul Huda mengharapkan kekompakan antarkiai. Jangan karena bukan pengurus, lalu tidak mau membangun NU lagi.

Semua itu bertujuan dalam perjuangan mempertahankan NU dengan semboyan li i’lai kalimatilah. Semboyan itu menandakan bahwa kita berjuang demi Allah.

Di penghujung sambutan, Kiai Nurul Huda berharap tahun-tahun mendatang, pelaksanaan kirab bisa lebih ditingkatkan dan dipersiapkan lebih baik. Apabila hal itu bisa terlaksana akan menunjukkan kekuatan dan kebesaran NU.

Sambutan kunjungan ke Pesantren Al-Falah Ploso ditutup dengan doa oleh KH Zainudin Jazuli. Tim kemudian meneruskan perjalanan yakni ziarah ke makam KH Ahmad Sidiq dan KH Hamim Jazuli (Gus Miek), untuk selanjutnya ke makam Presiden RI Soekarno di Blitar. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Hikmah Haedar Nashir

Rabu, 24 Desember 2014

Khofifah Sebut Kaum LGBT Sasar Anak Kurang Mampu

Jakarta, Haedar Nashir

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menilai kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender atau "LGBT" menyasar anak-anak kurang mampu.

Khofifah Sebut Kaum LGBT Sasar Anak Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Sebut Kaum LGBT Sasar Anak Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Sebut Kaum LGBT Sasar Anak Kurang Mampu

"Sebulan lalu saya datang ke Lombok dan ada yang mensasar anak-anak laki SMP kurang mampu kemudian mereka dikasih hadiah, dua minggu setelah itu laki-laki itu sudah berbeda, mereka pakai lipstik dalam waktu sangat singkat," kata Mensos di sela-sela rapat kerja dengan Komisi VIII di gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa.?

Selain itu, kata Mensos, anak-anak itu juga menjadi korban perdagangan orang sehingga masalah ini harus dilihat secara komprehensif.?

"Mereka diperdagangkan dengan memanfaatkan kemiskinan keluarga mereka. Saya khawatir ada rekayasa sosial," ucap Mensos.

Mensos juga menyatakan bahwa tugas pihaknya mengembalikan kaum "LGBT" ke fungsi sosialnya agar mereka bisa memaksimalkan fungsi sosialnya seperti semula.

Haedar Nashir

Lebih lanjut, Mensos mengatakan secara khusus di Kementerian Sosial tidak ada terminologi LGBT.?

"Adanya kelompok Orang Dengan HIV Aids (ODHA) di mana selama ini ada yang terinfeksi dan terisolasi dari lingkungannya. Jadi, kalau secara struktural tidak ada yang menangani khusus "LGBT" tetapi ada direktorat yang menanganinya, yaitu Kasubdit ODHA," ucap Mensos. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Olahraga, Amalan Haedar Nashir

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

Purworejo, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati HUT ke-68 Republik Indonesia, para ? pecinta alam asal Purworejo, Jawa Tengah, melakukan pendakian Gunung Sumbing, Jumat (16/8). Yang menarik, selain mengibarkan bendera merah putih, peserta dari IPNU Cabang Purworejo mengibarkan bendera NU sebagai lambang kesetiaan NU terhadap NKRI.

Koordinator kegiatan Bejo Suhartanto (40) mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk memupuk rasa cinta kepada Negara, kewajiban mengisi kemerdekaan bagi peserta sebagai generasi penerus bangsa serta motivasi hidup yang bisa diambil dari sepanjang perjalanan. Hal itu sesuai dengan tema pendakian yaitu ekspedisi merah putih.?

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendera NU Berkibar di Gunung Sumbing

“Di puncak Sumbing kita menggelar upacara bendera. Walaupun dengan perlengkapan dan peralatan seadanya, namun upacara tersebut berlangsung dengan hikmad.”ujar lelaki yang akrab dipanggil mbah Bejo ini, Ahad (18/8) kemarin.?

Haedar Nashir

Bejo menambahkan, selain upacara bendera juga dilaksanakan refleksi perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Pada refleksi tersebut, para peserta diajak berdiskusi tentang pentingnya memahami hakekat perjuangan para pahlawan.?

Haedar Nashir

“Jutaan pahlawan gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Semua tahu tentang hal itu, namun banyak yang tidak memahaminya sehingga hal itu menjadi penting untuk kita refleksikan kemarin.”imbuhnya.

Salah seorang peserta Ahmad Naufa Khoirul Faizun (24) mengaku banyak mengambil pelajaran dan bangga bisa mendaki gunung dengan ketinggian 3371 meter diatas permukaan laut tersebut meski banyak rintangan yang menghampiri.?

“Ketika pendakian anggota kita ada yang sakit, terpelanting dan hampir putus asa, namun anggota lain memotivasi dan saling membantu hingga kebersamaan begitu menyatu. Kekuasaan Allah benar-benar saya rasakan ditengah belantara dan jalan curam yang jika saja ada hujan tentu kita sudah tak tahu lagi nasibnya.” Ujarnya.

Lebih lanjut Naufa mengatakan, kesan yang diambil dari pendakian ini adalah pelajaran berbagi satu sama lain. Menurutnya sesuatu yang mustahil bisa mencapai puncak Sumbing tanpa kebersamaan, perasaan senasib antar peserta serta kekompakan. “Kita tidak mungkin bisa mencapai puncak kalau kita tidak membunuh ego. Sikap itu tentu sangat positif kalau bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.”tandasnya.

Pendakian yang bertajuk Ekpedisi Merah Putih tersebut diikuti oleh gabungan dari berbagai element pecinta alam yang ada di Purworejo diantaranyaIkatan Ikatan Pelajar NU (IPNU) Cabang Purworejo (Gema Muda Ganesha Pecinta Alam) Gemapala SMA N1 Purworejo serta Pecinta Alam SMK 2 (PA SKANIDA) Purworejo.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukman Khakim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Sejarah, Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 29 November 2014

Mantan Sinuhun

Suatu ketika, dalam kunjungannya ke Solo, Gus Dur berkumpul bersama sejumlah rekan-rekannya antara lain Sinuhun Paku Buwono XII, AS Hikam dan lainnya. Mereka berkumpul bersama dalam sebuah obrolan ringan.

“Kita ini ternyata semuanya sama-sama mantan,” kata Gus Dur di tengah pembicaraan.

“Lha kok bisa, Gus?” tanya Sinuhun

Mantan Sinuhun (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Sinuhun (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Sinuhun

“Lha saya, mantan presiden. Hikam ini mantan menteri. Lha yang belum ada, tinggal mantan Sinuhun, panjenengan apa mau jadi mantan Sinuhun?” jawab Gus Dur.

Mendengar jawaban tersebut, semua menjadi tersenyum. Sinuhun yang biasanya terlihat serius pun, kali ini tidak bisa menahan diri untuk tertawa. “Hehe, masa mantan Sinuhun Gus,” kata Sinuhun.

Sebab, mantan sinuhun berarti masa jabatan sebagai seorang raja telah habis karena mangkat alias meninggal. (Ajie Najmuddin)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Selasa, 25 November 2014

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan

Brebes, Haedar Nashir. Dengan mengantongi nilai 285, grup hadrah Muslimat NU Salem berhasil menjadi juara 1 pada pentas Kesenian Hadrah tingkat Kabupaten Brebes 2017.

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Salem Juara Hadrah Ya Lal Wathan

Pentas ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Juara 2 di raih Muslimat Bumiayu (280,3) dan juara 3 Muslimat Larangan (273,8). 

Sedangkan juara harapan secara berurut diraih Muslimat NU Kersana (273,5), Bulakamba (261,67), dan Banjarharjo (259,8).

Ketua Panitia Hj Farikha menjelaskan, Pentas yang dilombakan itu diikuti 12 peserta se Kabupaten Brebes di gelar di halaman Kantor Kementerian Agama Brebes, Sabtu (4/11). 

Haedar Nashir

Lomba ini merupakan untuk yang kedua kalinya sebagai kemitraan antara Muslimat NU dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah. Tiap peserta membawakan tiga buah lagu yakni Mars dan Hymne Muslimat NU serta Ya Lal Wathan. 

Ketua PC Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menjelaskan, lagu Ya Lal Wathon, merupakan spirit perjuangan yang diciptakan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1934. 

“Lagu ini mampu mengobarkan semangat para santri dalam syair bahasa arab, sehingga Belanda tidak mengerti arti yang terkandung di dalam syair tersebut,” ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah Nur Hasanah yang ikut menyaksikan pagelaran pentas kesenian hadrah tersebut mengaku gembira dengan semangat ibu-ibu Muslimat berkesenian Hadrah. Menurutnya, kesenian Islam hadrah wajib dilestarikan oleh Muslim Indonesia. 

Haedar Nashir

Jangan sampai kekayaan kesenian daerah kita seperti seni hadrah ini diambil oleh orang lain. “Jangan sampai kita berteriak, kalau kesenian milik kita di klaim oleh Negara lain,” tandasnya. 

Nguri-nguri budaya Islam, menurutnya harus terus digelorakan. Dengan adanya pentas hadrah, ghirah (semangat) para ibu-ibu Muslimat makin kencang. Pentas ini sangat positif, terutama dalam pandangan arus bawah, ketimbang budaya barat yang tidak mengandung nilai-nilai pendidikan. 

“Muslimat NU dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memiliki keselarasan dalam mengembangkan dan membudayakan kesenian daerah, maka kita bersinergi,” ujar Nur Hasanah yang juga dewan pakar di jajaran PW Muslimat NU Jateng itu. 

Juara 1 pada event ini, akan diuji kepiawaiannya pada pentas yang sama di tingkat eks Karesidenan Pekalongan di Pemalang pada akhir November mendatang. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Habib, Sunnah Haedar Nashir

Jumat, 21 November 2014

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Jakarta, Haedar Nashir
Sekelompok LSM, dan para aktivis sosial lintas agama yang dipelopori PBNU mendeklarasikan Jaringan Solidaritas untuk Korban Busung Lapar (JSKBL). Deklarasi dilakukan di gedung PBNU, Jln. Kramat Raya 164, Senin (4/7).

Hadir dalam kesempatan deklarasi, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GKR Hemas, Ketua PBNU, Andi Jamaro Dulung, Romo Frans Magnis Suseno, Koordinator JSKBL, Dr. Musdah Mulia, Ketua LKKNU, Otong Abdurahman, dan para aktivis yang tergabung di dalamnya.

Gerakan ini, kata Musdah dalam sambutannya dimaksudkan sebagai gerakan kepedulian terhadap maraknya kasus busung lapar di tanah air. Gerakan ini difokuskan untuk menyelamatkan anak-anak yang terancam kelaparan, gizi buruk, busung lapar, dan kematian dini.

"Kita tidak bisa menutup mata, mencuatnya kasus ini karena adanya ketidakadilan ekonomi, maraknya tindakan korupsi dan rapuhnynya institusi demokrasi. Karenanya kami berharap dukungan dari semua pihak untuk membantu saudara kita yang mengalaminya," ujar penulis buku Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Perspektif Islam ini.

Untuk itu, lanjut Musdah, kami telah membentuk 9 tim kerja yang masing-masing menangani divisi tertentu yang dibagi berdasarkan kelompok dan institusi agar gerakan solidaritas ini lebih fokus. Tim itu diantaranya, tim kerja kampanye, tim kerja advokasi, tim kerja jaringan, tim kerja pendataan, tim kerja medis, tim logis dan pendanaan, tim media, tim analisis kebijakan dan tim kerja bantuan kemanusiaan.

Sementara itu wakil koordinator JSKBL, Benny Susetyo Jr mengatakan gerakan solidaritas ini bukan semata-mata gerakan spontanias karena mencuatnya kasus busung lapar, tetapi sebuah gerakan yang sistematis, terstruktur dan memiliki agenda yang jelas untuk menangani munculnya kasus serupa di tanah air. "Kami memiliki program jangka pendek, menengah dan jangka panjang dan sekarang kumpulnya kami disini sekaligus membahas program kerja tersebut," ujarnya.

Sekadar diketahui, LSM yang tergabung dalam solidaritas ini antara lain Suara Ibu Peduli, Kalyanamitra, Perempuan Indonesia, Komisi Hak-KWI, Koalisi untuk Indonesi Sehat, Infid, Elsam, LBN Jakarta, Sanggar Ciliwung, Koalisi Perempuan Indonesia, Fatayat NU, LKKNU, Jaringan Mitra Perempuan Jabotabek, Institut Ecosos, Prakarsa, Perdhaki, KPI Jabar, ICRP, Yayasan Jurnal Perempuan, dan lainnya. (cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Solidaritas untuk Busung Lapar Dideklarasikan

Selasa, 18 November 2014

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Pamekasan, Haedar Nashir. Kerusuhan yang merenggut nyawa dan korban materi Sampang menjadikan umat Islam beraliran Sunni tercoreng. Pasalnya, tak sedikit media massa yang memberitakan bahwa kejadian biadab tersebut diaktori oleh kelompok Sunni. 

“Bukan beraliran Sunni. Sekalipun kelompok yang bertindak di luar ajaran Islam tersebut mengaku beraliran Sunni, itu tak benar. Hanya oknum belaka. Sebab, aliran Sunni melarang keras setiap tindak kekerasan berbaju agama,” tegas Ketua PCNU Pamekasan KH Abd Ghoffar saat dihubungi Haedar Nashir kemarin (27/8).

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pamekasan: Ulama Sunni Tercoreng

Koordinator Forum Ormas Islam Pamekasan ini mensinyalir kuat, pasti terdapat pihak ketiga yang berupaya memantik kembali kerusuhan tersebut. Sebab, sebagaimana diketahui, kasus penindasan terhadap kaum Syiah di Sampang sudah lama bergulir.

Karena itu, pengasuh Pondok Pesantren Riyadus Sholihin, Pamekasan ini sangat menyayangkan manakala pihak berwajib kemudian tidak bekerja ekstra mengusut kasus tersebut.

Haedar Nashir

“Polisi harus tanggap apa motifnya, siapa saja yang terlibat di dalamnya, serta proses investigasi mesti jujur,” pungkasnya. 

 

Haedar Nashir

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor  : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Pahlawan Haedar Nashir

Sabtu, 15 November 2014

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Pribadi Rasulullah SAW itu sederhana. Beliau dan para sahabatnya selalu hidup dalam keterbatasan, tapi mereka tetap teguh dalam barisan tauhid walaupun dalam keadaan sangat lapar.

    

Keserderhanaan pribadi Rasulullah SAW dan para sahabat dikisahkan oleh Abu Hurairah,”Demi Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, (terkadang) aku tidur di atas tanah dengan perut lapar, dan (terkadang) aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar.”

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Makan dan Kebersahajaan Rasulullah

Tidak saja soal makanan, Rasulullah dalam hal tidur, beralaskan tikar dan rumahnya sangat sederhana. Kalau ada pakaian yang sobek atau koyak, beliau sendiri yang menambalnya, tidak menyuruh istrinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur. Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.”

Haedar Nashir

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai shalat.

Haedar Nashir

Pernah Baginda pulang pada waktu pagi, dan tentulah amat lapar saat itu. Namun dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada, karena ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,”Belum ada sarapan, ya Humaira? (Humaira adalah panggilan mesra untuk sayidatuna ‘Aisyah yang berarti “Wahai yang kemerah-merahan”).

Aisyah menjawab dengan agak serba salah,”Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah.”

Rasulullah lantas berkata,”Kalau begitu, aku puasa saja hari ini.” Tak sedikitpun tergambar rasa akesal di wajahnya.

Sayidatuna ‘Aisyah mengisahkan kesederhanaan Rasulullah SAW tidak pernah memenuhi perutnya. Ketika bersama keluarganya, beliau tidak pernah minta makan kepada istri-istrinya. Jika mereka menghidangkan makanan , beliau pun makan. Beliau memakan apa yang dihidangkan mereka, dan meminum apa yang dihidangkan mereka.”

Walau Nabi Muhammad SAW penuh kesederhanaan, bahkan terkadang tak jarang makan, beliau tetap tegar menjalankan risalah kenabian yang melekat pada dirinya. Pernah suatu ketika, saat beliau menjadi imam shalat, para sahabat melihat gerakan Baginda Nabi antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutuk, seolah-olah sendi-sendi pada tubuh manusia yang paling mulia itu bergeser.

Usai shalat, Sayidina Umar bin Khatab yang tidak tahan melihat keadaan Nabi, langsung bertanya,”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung penderitaan yang amat berat. Sakitkah, Ya Rasulullah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar,” jawab beliau dengan wajah yang senantiasa tersenyum.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali engkau menggerakan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh engkau? Kami yakin, engkau sedang sakit,” umar mendesak, cemas.

Akhirnya Rasulullah SAW mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut Baginda yang kempis, kelihatan dililit sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Nabi bergerak.

“Ya Rasulullah, adakah bila engkau mengatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat engkau?”

Lalu Baginda Nabi menjawab dengan lembut, “Tidak, para sahabatku. Aku tahu, apapun akan engkau korbankan demi rasulmu. Namun apakah akan aku jawab di hadapan Allah nanti bahwa aku, sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya? Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih lebih lagi tiada yang kelaparan di akhirat kelak.”

Mengenai makan dan minum, Rasulullah SAW adalah orang tidak kecanduan terhadapnya. Nabi menganjurkan agar mengurangi keperluan makan minum dan tidur.    

Al Miqdam ibn Ma’dikarib berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda,”Anak Adam tidak memenuhi suatu bejana yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa potong makanan untuk menguatkan punggungnya. Jika memerlukan lebih banyak lagi, sepertiganya untuk minum dan sisanya untuk bernafas. Sebab akibat dari banyak makan dan minum adalah banyak tidur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban). (Aji Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, News, Tegal Haedar Nashir

Jumat, 14 November 2014

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menilai, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sering mendapatkan gangguan. Padahal, korupsi adalah masalah utama yang harus diperjuangkan untuk memujudkan negara hukum.

Gus Sholah menyampaikan hal tersebut dalam Halaqoh Kebangsaan dengan tema “Masa Depan Pemberantasan Korupsi” di Aula Yusuf Hasyim Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (28/3). Hadir dalam kesempatan ini anggota Tim 9, di antaranya Prof Jimly Assidiqie (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), Johan Budi (Plt Pimpinan KPK), dan Dr. Bambang Widjayanto dan (pimpinan KPK nonaktif).

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Kita Tak Ingin Pelemahan KPK Kembali Terjadi

"KKN, dalam hal ini korupsi, saat reformasi adalah masalah utama yang diperjuangkan untuk diperangi. Dan kita paham waktu itu lembaga hukum tumpul, maka dibentuk KPK," ujar Cucu Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari ini.

Haedar Nashir

Namun, lanjut Gus Sholah, KPK sering mendapatkan gangguan. Hal ini seperti yang terjadi pada mantan ketua KPK, Antasari Azhar, kemudian Bibit dan Candra. Dan sekarang kasus Abraham Samad dan Bambang W.

Haedar Nashir

"Kita tidak ingin kasus gangguan terhadap KPK terulang kembali," tandasnya menyikapi ditersangkakannya dua pimpinan KPK Abraham Samad dan Bambang Widjajanto atas kasus yang dinilai hanya dicari-cari. "Kalau hanya mencari-cari persoalan atau kasus seseorang, semua orang pasti memiliki masalah, termasuk AS dan BW," ujarnya.

Gus Sholah juga mempertanyakan sikap Presiden terkait penangan korupsi ini. Karena hukum saat ini dinlai tajam ke bawah dan tumpul ke atas. "Saya tidak paham apakah Presiden ngerti apa tidak soal ini," imbuhnya.  

Rencananya, rekomendasi para kiai pesantren dalam halaqoh yang salah satunya menghasilkan dukungan pengutaan kelembagaan hukum untuk memberantas korupsi itu akan disampaikan ke Presiden, DPR, serta pihak-pihak yang terkait dengan lembaga antikorupsi di Indonesia. "Yang paling urgen adalah pengutan kelembagaan hukum, untuk memberantas korupsi, ini yang penting disampaikan," tandasnya.

Sementara itu, sebelumnya Prof Jimli Asshidiqi dalam pemaparannya mengatakan bahwa kasus yang menimpa pimpinan KPK, yakni Abraham Samd dan Bambang Widjayanto, merupakan upaya pelemahan. Selain itu KPK juga diserang dengan kriminalisasi para penyidiknya, juga para pegiat antikorupsinya. "Dulu pernah terjadi pada Antasari Azhar kemudian Bibit-Candra, saya khawatir peradilan sesat atas kasus Antasari Azhar terjadi lagi," tutur anggota Tim 9 ini.  (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Jumat, 31 Oktober 2014

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari

Jakarta, Haedar Nashir. Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) telah berperan menjadikan anak bangsa berpaham moderat dan toleran juga komitmen pada NKRI. Karakter dan moralitas anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah atas, diperkuat hingga tumbuh menjadi pribadi muslim yang tangguh.

Namun agaknya upaya itu akan pupus di tengah jalan, seiring dengan rencana kebijakan Sekolah Lima Hari (Full Day School) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Karenanya Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP-FKDT) menyatakan menolak atas rencana itu.

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Madrasah Diniyah Se-Indonesia Tolak Sekolah Lima Hari

Lukman Hakim Ketua Umum DPP-FKDT menegaskan sekolah lima hari akan berpotensi mengakibatkan pendangkalan pendidikan agama, internalisasi akhlakul karimah dan nilai-nilai kebangsaan.?

“Kami mendesak kepada Mendikbud agar membatalkan rencana itu karena akan membuat MDT dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) terancam gulung tikar,” ujar Lukman Hakim lewat keterangan tertulisnya kepada Haedar Nashir, Selasa (13/6).

Kebijakan itu dinilai oleh Alumni UIN Walisongo ini, perlu dikaji ulang secara komprehensif, agar eksistensi MDT tetap berlanjut. Selama ini, masyarakat dengan pemerintah sudah berbagi peran dengan baik dalam hal waktu belajar. MDT mengambil waktu siang-malam hari sementara pendidkan formal di sekolah dan madrasah di pagi hingga siang hari.?

Haedar Nashir

Lukman meminta Mendikbud untuk konsen menyelesaikan masalah-masalah pendidikan nasional yang krusial seperti, masih terdapat disparitas pendidikan antara sekolah negeri dengan swasta, antara sekolah unggulan dan reguler.?

Profesionalitas guru yang belum sesuai harapan masyarakat. Selain itu nasib pendidikan daerah diperbatasan Negara mendesak diperhatikan, banyak gedung sekolah yang reot nyaris roboh, anak putus sekolah dan adanya SD yang harus digabungkan (merger) dengan SD lainnya karena kekurangan peserta didik.

Haedar Nashir

Dengan kebijakan itu, layanan Pendidikan Keagamaan Islam yang berpotensi terkena dampaknya adalah 76.566 MDT dengan 6.000.062 santri dan 443.842 ustadz. Ada 134.860 Pendidikan Al-Quran, 7.356.830 santri dan 620.256 ustadz. Sementara ada 13.904 Pondok Pesantren, 3.201.582 santri dan 322.328 ustadz. Padahal lembaga keagamaan Islam ini telah ? tumbuh berkembang atas inisiatif dan partisipasi masyarakat.?

Saat ini, DPP FKDT membawahi 32 Dewan Pengurus Wilayah (DPW), 420 Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan 1.112 Dewan Pengurus Anak Cabang yang secara kontinu menjadi jembatan antara MDT dengan pemerintah dan pihak lainnya.

“Berkurangnya waktu efektifitas belajar pada MDT, TPQ dan Pesantren akibat kebijakan FDS, akan mengakibatkan penyelenggaraan pendidikan tidak optimal. Pembelajaran Al-Quran, kajian kitab kuning dan pengetahuan dasar-dasar agama Islam akan terganggu,” kata Alumni Fakultas Dakwah UIN Walisongo ini.

Lukman khawatir jika MDT, TPQ dan Pondk Pesantren yang selama ini menjadi benteng Islam moderat dan nasionalisme ini hancur, maka kita akan kehilangan investasi kebangsaan.?

“Jangan sampai kebijakan full day scholl malah akan mematikan sesuatu yang telah lama kita miliki dan berjasa besar pada pengembangan karakter, akhlakul karimah dan penguatan komitmen kebangsaan,” tandas Lukman. (Ruchman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Aswaja, Ulama Haedar Nashir

Jumat, 24 Oktober 2014

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi

Bandarlampung, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq Faqih,  mengatakan, santri merupakan penegak nilai kemanusiaan sehingga harus mempunyai visi dan kreatif.

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Penegak Nilai Kemanusiaan, Bukan Kesenangan Duniawi

"Santri harus punya visi ke depan, proaktif dalam banyak masalah, selalu berpikir kreatif," paparnya pada Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama dan Tahlil Mengenang Guru, Ulama, Birokrat Drs H M Thabranie Daud digelar di Gedung PWNU Lampung, Jalan Cut Meutia 28 Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung, Sabtu (31/10) malam.

Kalau santri hanya berpikir urusan perut dan kesenangan duniawi, maka, ujar Anggota Komisi 8 DPR RI, dia bukan santri. "Kalau ada santri jadi anggota DPR, maka politik santri bukan untuk memperkenyang perut," ujar cucu KH Zaenal Mustofa itu lagi.

Haedar Nashir

Ratusan warga NU memenuhi Kantor PWNU malam itu, termasuk sesepuh NU Lampung Muhammad Shobary, dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Sapta Niwandar. Di hadapan mereka, Maman menambahkan, santri ialah yang memikirkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan ditegakkan.

Haedar Nashir

Laitul Ijtima di PWNU Lampung biasa digelar sebulan sekali. Sebelum Maman memberikan mauidhah hasanah, Rahman dari Pondok Pesantren Bustanul Falah Bandar Lampung membacakan Ikrar Santri diawali syahadat.

Santri NKRI berikrar, sebagai santri NKRI berpegang teguh pada aqidah, nilai dan ajaran Ahlusunah wal Jamaah.

Santri NKRI berikrar, bertanah air satu satu, tanah air Indonesia, berideologi satu, ideologi Pancasila.

Hadir pula dalam Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama PWNU Lampung Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri beserta jajaran, politisi PDI Perjuangan Eva Dwiana, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, dan Ketua PC GP Ansor Lampung Barat Radityo AN.

Terilhat pula Ketua PW Hipsi Lampung H Abdul Karim, Ketua PW Fatayat NU Khalida, Ketua PW IPNU Lampung Aan Uly Rosyadi, KMNU Unila dan para santri pada kegiatan diisi renungan mengenai NU hingga dosa jemaah. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 17 Oktober 2014

PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar workshop E-Pendidikan bertajuk “Budaya Digital dan Pemanfaatannya dalam Kegiatan Belajar Mengajar” yang digelar di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.



PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPNU Gelar Workshop E-Pendidikan

Kegiatan ini dalam rangka menghadapi era digital yang semakin berkembang di kalangan pelajar di Indonesia.

“Workshop E-Pendidikan ini diharapkan menghasilkan gagasan optimalisasi teknologi di bidang pendidikan baik bagi siswa maupun guru,”? ujar Ketua PP IPNU Khoirul Anam HS dalam sambutannya, Senin, (29/12) di Jakarta.

Selain itu, lanjut Khoirul Anam, kegiatan ini merupakan respon PP IPNU terhadap penggunaan internet di kalangan pelajar, khususnya pelajar NU.

Haedar Nashir

“Tapi pendidikan berbasis internet ini tentu perlu pendampingan agar teknologi bisa dimanfaatkan dengan hal-hal yang bersifat positif,” tambah Khoirul Anam.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Dr. Ir. Ari Santoso, DEA menuturkan, bahwa potensi pendidikan di kalangan pelajar NU sangat besar, karena mencakup pesantren dan madrasah.

“Pustekkom mau tidak mau membutuhkan madrasah dan pesantren dalam mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi meski mereka di bawah naungan Kementerian Agama,” terang Ari yang hadir dalam kegiatan ini.

Merujuk data Dirjen Pendis Kemenag, Ari menjelaskan, jumlah institusi pesantren dan madrasah lebih banyak dibandingkan jumlah peserta didiknya. Meski demikian, tambah Ari, sebaran jumlah institusi per daerah tidak terdata.

“IPNU harus mengelola itu sehingga pendidikan berbasis teknologi dapat tersebar dengan baik,” papar Ari yang membawakan presentasi bertema “Membangun Generasi Digital di Lingkungan Pesantren” dalam workshop ini.

Haedar Nashir

Kegiatan ini di hadiri oleh jajaran pengurus pusat, pengurus wilayah, dan pengurus cabang IPNU khususnya DKI Jakarta serta pengurus PP IPPNU. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 16 Oktober 2014

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat

Bondowoso, Haedar Nashir - Pengurus harian GP Ansor Kecamatan Jambesari Dharus Sholah (DS) bersama IPNU dan IPPNU setempat mengadakan jalan-jalan sehat (JJS) dalam rangka menyambut 1 Muharram 1438 H. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat dari tingkatan pelajar, guru, MI/SD. MTs/SMP, MA/SMA/SMK, serta jajaran pemerintahan setempat.

Mereka berkumpul di Kantor Kecamatan Jambesari Dharus Sholah Kabupaten Bondowoso Sabtu (17/9) pagi. Mereka bertolak dari pendopo kkecamatan untuk kemudian menyusuri empat desa setempat.

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaur dengan Masyarakat, GP Ansor Jambesari Gelar Jalan Sehat

Ketua GP Ansor Jambesari Dharus Sholah Barurrallah (Bahrul) mengatakan, massa bertolak di depan halaman pendopo kecamatan, lalu mengelilingi empat desa dan mengakhiri perjalanan di tempat bertolak.

"Yang melepas peserta JJS ini adalah penasehat GP Ansor Bondowoso H Ahmad Dhafir," kata Bahrul.

Haedar Nashir

Ia berharap kegiatan ini bisa membangun solidaritas sosial dan? mempererat rasa nasionalisme kebangsaan dalam bernegara dan bersosial dan beragama.

Sementara H Ahmad Dhafir mengatakan, hari ini kita bersama-sama melaksanakan jalan-jalan sehat. “Ini tentu bentuk kebersamaan kita? mempersiapkan masa depan anak-anak kita, karena bagaimana juga pemuda hari ini adalah calon pemimpin di masa depan.”

Haedar Nashir

Lanjut Dhafir, harapan kita pada jalan sehat ini adalah bagaimana membangun kebersamaan ke depan terutama dalam membangun Kecamatan Jambesari.

Tampak hadir Ketua MWCNU Jambesari Dharus Sholah Ustd Abdul Mufid, Kepala UPTD Jambesari, Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil, Camat Jambesari, jajaran muspika Jambesari. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Fragmen Haedar Nashir

Rabu, 15 Oktober 2014

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan

Bandar lampung, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah lembaga kajian dan pengembangan sumber daya manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Propinsi Lampung mengadakan workshop penguatan kelembagaan di kantor Dinas Pendidikan Propinsi Lampung, belum lama ini.

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Lampung Gelar Workshop Penguatan Kelembagaan

Workshop ini bertema "Revitalisasi Peran dan Penguatan Karakter Kelembagaan dan Lakpesdam dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan dan Kelompok Marginal di Propinsi Lampung."

Kegiatan ini di buka secara resmi oleh Walikota Bandar Lampung HERMAN H.N. Dalam pengarahanya, walikota berpesan agar NU, dalam hal ini Lakpesdam NU, dapat berkontribusi langsung dalam upaya penanggulangan kemiskinan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat lapisan bawah.

Haedar Nashir

"NU sudah banyak berperan bahkan sebelum kemerdekaan sehingga melahirkan kader-kader pejuang tidak hanya untuk umat, tapi juga bangsa dan negara kita," ujarnya.

Haedar Nashir

Walikota juga berharap Lakpesdam NU sebagai lembaga yang berkonsentrasi pada penberdayaan umat dapat secara cerdas dan produktif berupaya mengentaskan kemiskinan dan mampu meningkatkan ketahanan ekonomi warganya.

Acara pembukaan ini juga di hadiri langsung beberapa jajaran Pengurus besar NU, PP Lakpesdam NU, KH Ngaliman Marzuki selaku Pengurus Wilayah NU Propinsi Lampung, anggota DPRD Prov. Lampung serta para peserta workshop dari masing-masing utusan PCNU dan PC Lakpesdam NU se-Provinsi Lampung.

Setelah istirahat siang sekitar pukul 13.00 WIB, acara dilanjutkan dengan diskusi panel, hari pertama dengan narasumber Drs. H. Herman H.N,M.M (Walikota Bandar Lampung), Drs.H.Munzir.A.Syukri, MM (Wk. ket. Komisi III DPRD lampung), Rivan Novendra Salim (Ketum BPD HIPMI lampung) yang mengusung tema: "Penanggulangan kemiskinan dalam Perspektif Pemerintah, Pelaku Usaha dan Ulama."

Workshop yang di hadiri sekitar 50 peserta ini berlangsung hangat dan interaktif karena masing-masing peserta sesuai dengan daerahnya mempresentasikan dinamika NU dan problematikanya dalam sesi dialog dengan para narasumber.

Sementara di hari kedua, workshop menghadirkan sejumlah pemateri, yaitu DR. H. M. Mukri,M.A (Rektor IAIN Raden Intan Bandar Lampung dan mantan ket. GP.Ansor Lampung), K.H. Abrori Akwan (Sesepuh NU lampung/mustasyar PWNU Lampung) dan K.H. Sujadi Saddad yang saat ini menjabat sebagai Bupati Kab.Pringsewu dan masih aktif mengemban amanah sebagai Mustasyar NU di dua kabupaten Pringsewu dan Tanggamus. Ketiga narasumber ini lebih menekankan tentang NU masa Depan dan masa Depan NU.

Sementara Kiai Abror menekankan pentingnya nilai-nilai khidmah dalam melayani umat. "Pengurus Wilayah (NU) harus tahu pojoknya Lampung. Begitu juga pengurus cabang (harus) hapal dan mau blusukan dengan daerahnya sampai ranting," terangnya.

Sedangkan DR. H. M. Mukri, M.A mengungkapkan kebanggaanya karena distribusi kader NU saat ini merata dan hampir masuk di semua lini dan profesi.

"Bahkan Mendiknas kita ini NU tulen Lho, namanya Muhammad NU (M.Nuh, read), ya kan?" candanyanya yang dsambut tawa peserta workshop. 

Sesi terakhir yang dimoderatori DR. M.Syukur, M.Ag, ini makin gayeng dan interaktif saat Bupati pringsewu KH Sujadi Saddad menceritakan suka dukanya saat dulu menjadi aktivis NU, khususnya Lakpesdam NU, yang menurutnya, adalah lembaga penggemblengan agar kader NU tahan banting dalam berkhidmat melayani umat yang tentu saja butuh pengorbanan.

Pihaknya menyampaikan apresiasinya terkait terbitnya media lokal di lingkungan NU yang saat ini baru dari PCNU Pringsewu melalui LTN NU, yaitu Buletin Aswaja.

"Inilah salah satu bentuk pelayanan melalui media informasi untuk Nahdliyyin," katanya seraya menunjukkan ke peserta sebuah bulletin mini dengan dominasi warna hijau.

Workshop selama dua hari ini akhirnya ditutup secara resmi oleh Wakil Walikota Bandar lampung.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Selasa, 14 Oktober 2014

Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor

Bogor, Haedar Nashir. Pondok Pesantren (PP) Daarul ‘Uluum Lido terletak di Desa Ciburuy Cigombong Bogor, atau perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat. Pondok pesantren ini berada di area tanah 9,75 hektar, terletak di daerah perbukitan yang sejuk dan berudara segar. Di Pesantren ini terdapat kolam pemancingan dengan pemandangan menawan.

Sistem pendidikan di PP Daarul ‘Uluum Lido dikelola dengan menggabungkan antara pendidikan kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, kurikulum Kementerian Agama, dan pesantren berbasis modern melalui penyelenggaraan pola pendidikan Mu’allimin atau TMI (Tarbiyah al Mua’llimiin al-Islamiyyah).

Hingga tahun 2016 ini, PP Daarul ‘Uluum memiliki lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta Madrasah Aliyah (MA), dengan jumlah santri mencapai hampir 2000 orang. Santri-santri yang belajar di PP Daarul ‘Uluum Lido tidak hanya berasal dari Kabupaten Bogor dan Sukabumi, tetapi juga dari daerah lain seperti Jakarta, Bekasi, Banten, Jawa Tengah, Madura dan Bali.

Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Mondok Berasa Piknik? Datang ke Pesantren Daarul ‘Uluum Bogor

Banyaknya jumlah santri, fasilitas yang lengkap, dan berbagai kegiatan yang ada, menjadikan PP Daarul ‘Uluum Lido berkembang pesat. Kemajuan dan perkembangan tersebut bukan karena upaya yang dilakukan hanya satu dua hari. Jauh sebelumnya, pendiri Pondok Pesantren Daarul `Uluum, KH Ahmad Dimyati berjuang mendirikan dan menegakkan lembaga pendidikan tersebut.

Bahkan hingga sekarang, pesantren ini masih menghadapi berbagai tantangan. M Affan ? Afifi SHI, salah satu putra KH Ahmad Dimyati menuturkan, masyarakat asli sekitar pondok masih ada saja yang menganggap keluarga pendiri pesantren sebagai warga pendatang, walaupun sudah hampir 20 tahun mereka tinggal dan menetap di Ciburuy.?

Haedar Nashir

Selain itu, karena di sekitar Ciawi dan Sukabumi banyak pabrik, masyarakat memandang pondok pesantren ini sama dengan perusahaan-perusahaan yang hanya berorientasi bisnis. Akibatnya, pihak pesantren harus memberikan bantuan setiap ada kegiatan.?

Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pengurus Yayasan Salsabila, yayasan yang menaungi Pondok Pesantren Daarul ‘Uluum Lido itu juga mengatakan, sebagai upaya untuk mendekatkan antara pesantren dengan warga sekitar, sejak awal pendiriannya, warga sekitar digratiskan untuk mengikuti pendidikan di PP Daarul ‘Uluum, tentu saja dengan mengikuti aturan yang berlaku.

“Sayangnya hanya ada dua santri yang masuk pesantren dan bisa betul-betul jadi kader,” kata pria yang juga Bendahara GP Ansor Kabupaten Bogor itu.

Untuk biaya operasional pesantren, Daarul ‘Uluum Lido memiliki sejumlah unit usaha, antara lain bergerak dalam bidang agrowisata dan percetakan.

Para pengurus PP Daarul ‘Uluum menyadari bahwa masyarakat sekitar kurang tertarik dengan pendidikan Islam. Oleh karena itu, selain ingin melahirkan generasi yang ahli dzikir dan ahli pikir, ? PP Daarul ‘Uluum terus berupaya untuk bisa masuk ke dalam masyarakat sekitar. (Kendi Setiawan/Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Doa Haedar Nashir

Sabtu, 11 Oktober 2014

Fathanah Mana?

Kiai Mishbahul Munir, pengasuh Pondok Pesantren al-Mishbah Jakarta, pernah bertanya kepada salah seorang santrinya tentang empat sifat wajib bagi rasul.

”Apa saja sifat-sifat wajib bagi rasul? Sebutkan!”

”Shidiq, Amanah, Tabligh....” Suasana hening sejenak.

Fathanah Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)
Fathanah Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)

Fathanah Mana?

”Kurang satu lagi,” sergah Kiai Mishbah.

”Sudah, Yai.”

”Fathanah mana?”

”Fathanah dipanggil KPK, Yai.”

Haedar Nashir

”Cengengesan. Itu Ahmad Fathanah!” (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Sabtu, 27 September 2014

Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan

Malang, Haedar Nashir

Warga NU Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur menggelar halal bihalal di Aula Pertemuan PG Krebet Baru. Agenda rutin tiap tahun tersebut dihadiri ribuan warga NU dan pengurus lembaga dan banomnya, santri, dan masyarakat umum. Selain pengurus MWCNU, hadir anggota Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, Pergunu dan LP Ma’arif, dan anggota IPNU dan IPPNU.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PBNU yang menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur H. Syaifullah Yusuf tersebut didahului dengan laporan kegitan MWCNU Bululawang selama setahun. Laporan tersebut disampikan Ketua MWCNU H. Ahmad.

Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Halal Bihalal NU Bululawang: Laporan Tahunan Sampai Pelantikan

Panitia Halal bihalal yang berlangsung Ahad (7/8) Hasan Bashori, mengatakan, kegiatan tersebut diharapakan menjadi forum silaturrahim antarbanom NU. Silaturahim menjadi ajang meningkatkan keberlangsungan dan keaktifan NU dalam perjuangan li ilalikalimatillah ala manhaj ahlussunnah wal-jamaah an-nahdliyah. Serta lebih mensinergikan program-progaram kerja serta memfokuskan dalam masalah tindakan preventif dari rongrongan akidah dari kalangan lain.

Haedar Nashir

Rais Syuriyah MWCNU Bululawang KH Syamsul Ma’arif memberikan wawasan keorganisasian. Menurut dia, kuantitas NU yang besar harus diiringi dengan menjadikan organisasi ini lebih baik dan menarik bagi warga NU sendiri dan warga lain.

Untuk tujuan itu, kata dia, sebaiknya didahului dengan menjadi pribadi yang menarik sehingga orang lain mudah terpikat. Tentunya menjadi pribadi menarik harus berkaca pada yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan akhlak yang baik dan berpengetuhuan yang luhur.

Haedar Nashir

Halal bihalal tersebut diwarnai dengan kegiatan lain yaitu pelantikan Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Bululawang masa khidmah 2016-2018. Kepengurusan tersebut terbentuk hasil Konferancab VIII di Pondok Pesantren Irsyadut Tholibin Senggrong pada18 Juni lalu. Konferancab tersebut mengamanahkan Wildan Arifullah sebagai Ketua IPNU dan Devi Safitri sebagai Ketua IPPNU.

Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pelepasan calon jamaah haji. Para calon “tamu Allah” ini didoakan alim ulama dan para hadirin agar menjad haji yang mabrur. (Luthfie Muhammad/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur

Sidoarjo, Haedar Nashir. Kantin yang berada di Sekolah Menengah Kejuruan Plus Nahdlatul Ulama (SMK Plus NU) Sidoarjo ini setiap harinya selalu menerapkan sifat dan sikap jujur dalam melakukan transaksi jual beli yakni dengan menciptakan kantin yang diberi nama ‘kantin kejujuran’.

Meskipun di belakang sekolah tersebut terdapat beberapa kantin, namun kantin kejujuran ini tetap menjadi rujukan bagi para siswa untuk mencari kebutuhan sekolah. Di dalamnya terdapat beberapa macam barang dagangan seperti obat-obatan (sirup dan lainnya), buku, pulpen, makanan ringan, air mineral, nasi bungkus, dan sebagainya.

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangun ‘Kantin Kejujuran’, SMK NU Sidoarjo Latih Siswa Hidup Jujur

Kantin yang mempunyai ukuran 3x6 meter itu dibangun sejak tahun 2014 lalu. Menurut Ketua OSIS SMK plus NU Sidoarjo Tri Dewi Nurjanah kelas XI Farmasi mengatakan, bahwa sekolah membiasakan berlaku dan berprilaku jujur sehingga bisa terwujud hingga ke masyarakat luas.?

Haedar Nashir

"Hal ini tidak lain untuk membiasakan kejujuran. Karena dengan kebiasaan itu nanti kedepannya akan jujur terus. Dan selama ini alhamdulillah tidak ada yang tidak jujur," tuturnya, Rabu (25/3).

Sementara itu, Kepala SMK Plus NU Sidoarjo M Fathul Jinan mengatakan, bahwa dengan adanya kantin kejujuran itu para siswa tidak lagi membeli apa yang menjadi kebutuhannya di tempat lain. Dengan adanya kantin kejujuran ini mereka akan menerapkan dan membiasakan jual beli dengan jujur.

Haedar Nashir

"Target kami adalah untuk melatih riyadho dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan membiasakan berbuat dan bersikap jujur, dalam kehidupan sehari-harinya mereka akan terbiasa jujur. Kelak ketika mereka sudah terjun di masyarakat, untuk berkata dan berbuat jujur pun mereka sudah bisa," ungkap Fathul Jinan. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Amalan, Habib Haedar Nashir

Rabu, 24 September 2014

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres

Jakarta, Haedar Nashir?



KH Said Agil Husin Al Munawar memimpin shalat atas jenazah KH Hasyim Muzadi di Masjid Al-Hikam, Depok, Jawa Barat pada Kamis sore (16/3). Para pelayat antusias mengikuti shalat tersebut sehingga masjid tidak muat.?

Oleh karena itu, sempat ada usulan dari para pelayat untuk melakukan shalat jenazah dua kali. Namun, karena waktu telah sore, keluarga memutuskan satu kali shalat jenazah. Para pelayat yang tidak mendapat tempat di masjid, melakukan shalat jenazah di halaman masjid. Mereka berjajar membentuk barisan rapi.

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi Dimakamkan Secara Militer Dipimpin Wapres

Jenazah kemudian dibawa ke lokasi makam yang dipilih Kiai Hasyim semasa hidup, yaitu dekat Pesantren Al-Qur’an di Kompleks Pesantren Al-Hikam. Prosesi pemakaman dilakukan secara militer yang dipimpin Wakil Presiden RI Jusuf Kalla.?

Beberapa tokoh terlihat mengikuti prosesi tersebut di antaranya Ketua MPR RI H. Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Menteri Sosial Hj. Khofifah Indar Parawans, Ketua BNP2TKI H. Nusron Wahid.?

Wartawan dan para fotografer mengabadikan suasana tersebut. Di antara fotografer ada yang naik ke atap bus mengabadikan prosesi itu.

Haedar Nashir

Prosesi pemakaman diliputi suasana agak mendung, tetapi tidak hujan. Sempat gerimis turun, sehingga udara cukup lembab, tapi kemudian berhenti lagi. Angin bertiup semilir mengipasi keringat para pelayat. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Humor Islam, Santri Haedar Nashir

Minggu, 21 September 2014

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah

Artinya: “Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya...” (HR Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Haedar Nashir

Maksud penggalan hadits tersebut adalah bahwa wukuf di Padang Arafah sedemikian penting melebihi pentingnya rukun-rukun haji lainnya, seperti thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, sa’i dari Shafa ke Marwah, dan sebagainya. Seseorang tidak bisa disebut telah melaksanakan ibadah haji jika tidak melaksanakan wukuf ini. Maka mereka yang sakit pun harus datang ke Arafah untuk wukuf meski harus ditandu.

Haedar Nashir

Selain itu, wukuf di Arafah merupakan pertemuan manusia terbesar di dunia yang berlangsung setiap tahun karena pada hari itu seluruh jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkonsentrasi di Arafah. Di Padang Arafah inilah mereka bertemu dan berdoa memohon ridha dan ampunan Allah SWT. Mereka bersimpuh di hadapan Allah dengan harapan-harapan yang sama meskipun mereka berbeda dalam warna kulit, ras, suku, dan bahasa. Di padang Arafah ini pula mereka berbaur menjadi satu dalam kebesaran Allah SWT.

Maka sejatinya esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat diantara manusia yang disimbolkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Sedangkan warna putih dari baju ihram itu sendiri menggambarkan kesucian mereka di hadapan Allah SWT. Oleh karena esensi ibadah haji adalah persamaan derajat, maka tidak mengherankan pengalaman spiritual ibadah haji bisa mengubah cara pandang seseorang. Sebagai contoh adalah Malcolm X yang semula sangat rasis kemudian berubah menjadi anti-rasis setelah mendapat pengalaman berharga dari wukuf di Padang Arafah.

Pengalaman tersebut meyakinkan Malcolm X bahwa semua orang adalah sama. Artinya setiap orang adalah setara. Mereka harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain meskipun mungkin mereka berbeda dalam hal-hal duniawi, seperti status sosial, warna kulit, budaya, asal usul keturuan dan sebagainya. Hal yang membedakan diantara mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. Orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji diharapkan memiliki kesadaran tinggi akan makna kesetaraan ini. Tidak sebaiknya mereka justru lupa akan makna baju ihram yang pernah dipakainya.



Siapakah Malcolm X?



Malcolm X adalah seorang kulit hitam Amerika, anak seorang pendeta Kristen Baptis, yang kemudian memeluk Islam setelah bergabung dengan sebuah organisasi bernama The Nation of Islam. Ini terjadi setelah ia banyak berdiskusi dan membaca buku-buku Islam di balik jeruji besi. Ia dijebloskan ke penjara karena kasus perampokan yang dilakukannya pada tahun 1946 ketika berusia 20 tahun.

Di dalam penjara, ia sangat tertarik terhadap konsep-konsep ajaran Islam. Ia hidup di zaman rasisme Amerika yang berlangsung dari abad 17 hingga tahun 1964 dimana pada waktu itu orang-orang kulit hitam dilarang berbaur dengan orang-orang kulit putih. Mereka diperlakukan secara diskriminatif baik secara sosial, politik, budaya maupun ekonomi.

Sekeluarnya dari penjara pada tahun 1952, ia terus mendalami Islam dan tetap bergabung dengan The Nation of Islam. Organisasi ini terutama beranggotakan orang-orang Afro-Amerika Muslim yang berjuang untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat dan berdiri sendiri sebagai negara yang terpisah. Di dalam organisasi ini ia terpilih menjadi juru bicara dan sering memberikan ceramah atau pidato dalam berbagai forum termasuk dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.



Pengalaman Wukuf di Arafah


Pada tahun 1964, Malcolm X menunaikan ibadah haji di Makkah dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga sewaktu menjalankan wukuf di Arafah. Malcolm X adalah orang yang sangat benci kepada orang-orang kulit putih sebagai reaksi keras atas sikap diskriminatif mereka terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, ia terbengong-bengong di Makkah ketika mendapati banyak orang yang sedang menunaikan ibadah haji ternyata berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.

Kenyataan tersebut sangat mengejutkan dirinya sebab di Amerika hal seperti ini tidak ia jumpai. Hal yang ia ketahui sebelum keberangkatnnya ke Tanah Suci adalah bahwa Islam itu bukan agama untuk orang-orang kulit putih, tetapi untuk mereka yang berkulit hitam seperti dirinya dan orang-orang berkulit warna seperti orang-orang Asia.

Puncak kebingungan Malcolm X yang kemudian memberinya pencerahan adalah ketika berwukuf di Padang Arafah di mana ia makan sepiring dengan orang-orang kulit putih. Ia minum dengan gelas yang sama dengan orang-orang kulit putih. Ia istirahat dan tidur sebantal dengan orang-orang kulit putih. Ia sholat berjamaah dengan orang-orang kulit putih. Ia berdoa bersama orang-orang kulit putih.

Orang-orang kulit putih yang ia jumpai sedang beribadah haji itu adalah orang-orang paling putih diantara yang putih. Mereka bermata paling biru diantara yang bermata biru. Mereka berrambut paling pirang diatara yang berambut pirang. Namun mereka semua beragama Islam.

Di sinilah di Padang Arafah Malcolm X menyadari bahwa apa yang ia pahami tentang Islam sebagaimana yang diajarkan di dalam The Nation of Islam belum atau tidak sesuai dengan Surat Al Hujurat ayat 13 sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan besuku-suku agar kalian saling mengenal.

Kata ? dalam ayat di atas artinya “supaya saling mengenal”. Kata ? itu sendiri berasal dari akar kata ? yang artinya mengenal. Disinilah ada hubungan yang jelas mengapa padang tempat wukuf itu disebut Padang Arafah, yakni karena di padang ini umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu pada hari dan tanggal yang sama untuk saling mengenal dengan cara berinteraksi satu sama lain.

Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah wukuf, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah SAW yang pernah beliau sampaikan pada saat melaksanakan Haji Wada` sekitar tahun 10 Hijriyah. Diantara isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut:

"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, dan kebangsaan, tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang berkulit terang dengan orang berkulit hitam; dan sebaliknya orang berkulit hitam dengan orang berkulit terang, kecuali karena takwanya kepada Allah.”

Isi khutbah Rasulullah SAW di atas menyadarkan Malcolm X bahwa Islam yang dia pahami dalam The Nation of Islam belum sesuai dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam ternyata adalah agama universal untuk seluruh bangsa tanpa memandang warna kulit. Maka sekembalinya Malcolm X ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz, ia menyatakan keluar dari organisasi itu dan mengikuti paham Islam Sunni.

Dikenang sebagai Tokoh Perdamaian



Keluarnya Malcolm X dari The Nation of Islam ternyata justru menaikkan reputasinya sebagai tokoh yang menyerukan persaudaraan diantara sesama manusia tanpa rasisme. Ketokohannya hampir menyaingi popularitas Presiden John F. Kennedey pada waktu itu. Ia tampil sebagai tokoh yang bisa diterima banyak kalangan termasuk mereka yang berkulit putih. Di kemudian hari ia mendapat pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh perdamaian setelah berakhirnya politik rasisme di negara itu.

Nama Malcolm X pun diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota New York setelah ia tewas tertembus peluru pada tanggal 21 Pebrauri 1965 ketika sedang berpidato. Penembakan itu dilakukan oleh sebuah konspirasi politik yang tidak menginginkan reputasinya terus menanjak menyaingi tokoh-tokoh lainnya di Amerika Serikat, termasuk tokoh-tokoh dalam The Nation of Islam sendiri. Tokoh muda Muslim ini wafat dalam usia 39 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

Sabtu, 20 September 2014

1000 Pendekar Pagar Nusa Siap Hadiri Kongres

Jakarta, Haedar Nashir. Seribu pendekar Ikatan Pencak Silat (IPS) Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa siap menghadiri Kongres II Pagar Nusa yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan Jawa Timur, pada (9-12/7) mendatang.

Menurut Sekretaris Umum Pagar Nusa M. Fathurohman, seribu orang yang akan hadir itu terdiri dari dua jenis peserta yaitu peserta penuh yang memiliki hak suara dan bicara pada kongres; dan  peserta peninjau, yang memiliki hak bicara, saran, tapi tidak memiliki hak suara. 

1000 Pendekar Pagar Nusa Siap Hadiri Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
1000 Pendekar Pagar Nusa Siap Hadiri Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

1000 Pendekar Pagar Nusa Siap Hadiri Kongres

Lebih jauh Fathurohman menjelaskan, peserta itu berasal dari Pengurus Wiilayah, dan Pengurus Cabang Pagar Nusa seluruh Indonesia, serta undangan. 

Haedar Nashir

“Pengurus Wilayah Pagar Nusa sekarang sudah 21 wilayah dan 220 Pengurus Cabang. Peserta dari wilayah akan mendelegasikan 5 orang, sedangkan dari PC 3 orang,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Fathurohman, cabang-abang Pagar Nusa tersebar luas di seluruh Indonesia melalui jalur kiai-kiai di pesantren, masjid, dan cabang-cabang NU.  

“Setiap kiai di Nusantara, pada dasarnya adalah ahli beladiri silat. Mereka, selain ahli ilmu agama juga ahli beladiri. Dengan demikian, komunikasi pendirian PagarNusa pun melalui kiai dan pesantren,” tambahnya.

Beberapa agenda yang akan digelar pada Kongres II Pagar Nusa bertema Meneguhkan Solidaritas dan Kepatriotan untuk Kewibawaan Bangsa yang Bermartabat ini adalah ceramah umum Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan tema Mempertegas Komitmen Kebangsaan; Partisipasi Pendekar Pagar Nusa dalam Rangka Menjaga Kewibawaan Bangsa Indonesia yang Bermartabat.

Kemudian sarasehan bertema Pencak Silat; Warisan Leluhur yang Hampir Punah? dengan narasumber Menteri Pariwisata RI, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Ketua Umum PB IPSI dan Ketua Umum Pagar Nusa.

Selanjutnya, membahas dunia pengobatan yang akan menyandingkan Permadi dari pengobatan alternatif dan Kementerian Kesehatan RI dari sudut pandang pengobatan modern.

Agenda berikutnya adalah rapat-rapat komisi. Tapi sebelum itu, PBNU akan memberikan pengarahan mengenai Pagar Nusa; Partisipasi Kebangsaan dan ke-NU-an.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Pendidikan Haedar Nashir

Jumat, 05 September 2014

Gandeng NU, Baznas Probolinggo Salurkan 1.700 Paket Sembako

Probolinggo, Haedar Nashir. Selama bulan suci Ramadhan 1437 H, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Probolinggo melakukan pentasyarufan (pendistribusian) Zakat, Infaq dan Sodakoh (ZIS) berupa 1.700 paket sembako kepada kaum dhu’afa se-Kabupaten Probolinggo. Total anggaran yang dikucurkan untuk paket sembako ini mencapai Rp 255.000.000.

“Dari 1.700 paket sembako tersebut, 1.650 paket diantaranya disalurkan ke 330 desa/kelurahan se-Kabupaten Probolinggo. Dimana tiap desa/kelurahan mendapatkan jatah 5 orang kaum dhu’afa. Sementara 50 paket yang lain akan disiapkan sebagai cadangan,” kata Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo H Ahmad Muzammil.

Gandeng NU, Baznas Probolinggo Salurkan 1.700 Paket Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng NU, Baznas Probolinggo Salurkan 1.700 Paket Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng NU, Baznas Probolinggo Salurkan 1.700 Paket Sembako

Untuk penyaluran paket sembako ini, Baznas bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Kraksaan. “Diharapkan nantinya penyaluran sembako ini bisa tepat sasaran,” tegasnya.

Selain itu, juga disalurkan 300 paket sembako kepada abang becak dan 100 paket sembako untuk fakir miskin se-Kecamatan Kraksaan. Penyaluran paket sembako ini dilakukan bersamaan dengan peringatan Nuzulul Qur’an di halaman Masjid Agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan, Jum’at (24/6) sore. Total anggarannya mencapai Rp 22.000.000.

Disamping juga 400 paket sembako untuk masyarakat Kecamatan Kraksaan. Terdiri dari 250 paket untuk janda miskin pesisir pantai, 50 paket untuk abang becak dan 100 paket untuk pedagang emperan Pasar Paiton. Total anggarannya mencapai Rp 22.000.000. Untuk sembako ini diserahkan pada kegiatan buka bersama Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Pasar Paiton, Ahad (26/6) sore.

Haedar Nashir

Menurut Muzammil, dana dari pengadaan paket sembako ini diperoleh dari pengumpulan zakat selama bulan suci Ramadhan. Disamping juga mendapatkan limpahan dari pengumpulan zakat Korpri PNS di lingkungan Kabupaten Probolinggo.

“Kalau berbicara tentang zakat, tentunya ini memberikan hak kepada yang berhak menerima. Kita hanya sebatas memfasilitasi antara kewajiban orang yang memenuhi syarat dan menyampaikan kepada yang berhak menerima zakat (mustahiq),” terangnya.

Melalui penyerahan paket sembako ini Muzammil mengharapkan mudah-mudahan muzaqqi (wajib zakat) yang sudah melaksanakan kewajibannya merealisasikan sebagian hartanya menjadi nilai ketaqwaan kepada Allah SWT.

Haedar Nashir

“Dari segi ibadah sosial menunjukkan bahwa zakat itu bukan hanya ritual keagamaan, namun disisi yang lain ada ritual ibadah sosial. “Disamping juga bisa berbagai kebahagiaan bagi fuqoro dan masaqin di hari raya Idul Fitri,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 31 Agustus 2014

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta

Jepara, Haedar Nashir. H Aguk Irawan MN, novelis produktif kelahiran Lamongan, Jawa Timur, 1 April 1979 mempunyai ketertarikan untuk menuliskan kisah romantisme cinta KH Abdurrahman Wahid dan Hj Sinta Nuriyah.

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelis Aguk Siapkan Buku Kisah Cinta Gus Dur–Sinta

Hal itu diuraikannya saat ditemui Haedar Nashir usai bedah buku “Maha Cinta” di pesantren Az-Zahra Sekuro Mlonggo Jepara, Sabtu (13/12) malam.

Menurut dia, saat ini penulisan sedang dalam proses penggarapan. Dalam buku itu, ia banyak menggali pada sektetaris Gus Dur, Salamun Ali, membaca buku karya Greg Berton dan menggali data dari sumber lain.

Haedar Nashir

Ditulisnya buku itu, jelas novelis best seller “Penakluk Badai: Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari” ingin meneladani cinta Gus Dur. Kisah cinta Gus Dur–Sinta berawal dari keinginan KH Wahab Hasbullah hendak menjodohkan mereka.

Waktu itu, mantan Presiden RI itu masih menempuh studi di Baghdad, namun tak kunjung usai. Di masa-masa PDKT itu, Sinta kerap mengirim surat untuk kekasihnya, Gus Dur. Surat antara Jombang-Baghdad.

Haedar Nashir

Salah satu isi surat Ibu Sinta untuk kekasihnya, waktu itu, Gus Dur boleh gagal dalam menempuh studi, namun sangat berharap kekasihnya tidak gagal dalam cinta.

Kemudian, setelah menjadi suami Gus Dur merupakan sosok yang hormat terhadap istri. “Gus Dur merupakan figur yang hormat terhadap istri. Tidak pernah berkeluh kesah secara langsung dihadapan istri,” kata pengurus bidang Riset dan Pengembangan PP LKKNU ini.

Suatu ketika teh buatan Sinta tidak sesuai harapan Gus Dur. Lalu ia mengirim sepucuk surat dan meminta Sinta meminum sisa tehnya. Hal lain tentang Gus Dur yang romantis sering memberikan Sinta sekuntum bunga.

Terkait judul buku, ia masih merahasikannya. Baginya buku yang ia tulis hendak meneladani kisah cinta Gus Dur-Sinta Nuriyah. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Makam Haedar Nashir

Jumat, 29 Agustus 2014

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah

Jakarta, Haedar Nashir. Pola pendidikan pesantren dengan sistem pondok telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Hal ini dinyatakan oleh Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Akhyar saat memberikan materi dalam kegiatan Halaqah Nasional Penyusunan Kerangka Kurikulum Ma’had Aly yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dengan menggandeng Lakpesdam PBNU, Kamis (2/6) di Jakarta.

Dalam forum yang dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini, Kiai Miftah menceritakan bahwa dahulu Rasulullah mengumpulkan sekaligus memondokkan sekitar 400 sahabat di Suffah yang secara rutin mengadakan pengajian dan transfer ilmu.

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Miftahul Akhyar: Pola Pendidikan Pesantren adalah Warisan Rasulullah

“Keterangan tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, siapapun nantinya yang meneruskan thalabul ilmi sebagai amanat ilmiah, maka mereka itulah teman-temanku di surga,” terang Kiai Miftah yang hadir bersama Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dan Waketum PBNU KH M. Maksoem Mahfoedz.

Sebagai warisan Rasulullah, lanjut Kiai Miftah, pesantren secara konsisten memberikan pengajaran dan pemahaman Islam yang baik dan benar dengan sumber kitab-kitab klasik karangan berbagai ulama masyhur.

Haedar Nashir

“Selain mencetak generasi mandiri, pesantren juga menghasilkan generasi yang pinter dan bener,” ujarnya.

Dalam konteks Ma’had Aly, imbuhnya, lembaga pendidikan tinggi di pesantren ini harus tetap mewarisi karakter pesantren yang senantiasa menjunjung tinggi keilmuan dan menjaga tradisi yang baik dari para pendahulu (sahabat Nabi dan para ulama).

Haedar Nashir

Kiai asal Jawa Timur ini menegaskan bahwa prinsip ilmu agama yang nanti dikembangkan di Ma’had Aly jangan lepas dengan konteks masyarakat global. Karena menurutnya, perubahan di masyarakat merupakan ayat-ayat Kauniyah dalam sudut pandang teologis.

Lebih jauh, Kiai Miftah menjelaskan, pendidikan di lingkungan pondok pesantren saat ini menghadapi berbagai tantangan globalisasi dengan liberalisasi di berbagai bidang.?

“Oleh karena itu, penyusunan kurikulum bisa diarahkan pada 3 pokok meliputi, Grand Strategi, Grand Design, dan Grand Control. Hal ini agar produk pendidikan pesantren tetap menemui relevansinya dengan perubahan masyarakat di zaman global. Karena secara keilmuan, pesantren sebetulnya sudah mendunia dengan mengkaji berbagai literatur ulama-ulama dunia,” papar Kiai Miftah.

Seperti diinformasikan sebelumnya bahwa Kementerian Agama telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang Izin Pendirian Ma’had Aly pada Pondok Pesantren, Ahad (29/5/2016) lalu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ada 13 Ma’had Aly yang telah menerima SK dan masing-masing membuka satu dari 6 pilihan program studi, yaitu Sejarah dan Peradaban Islam, Fiqih dan Ushul Fiqih, Tafsir dan Ilmu Tafsir, Hadits dan Ilmu Hadits, Aqidah dan Filsafat, serta Tasawuf dan Tarekat. (Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Senin, 25 Agustus 2014

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku

Sumenep, Haedar Nashir. Perjalanan kreatif seorang penulis layak untuk diungkap ke permukaan agar menjadi referensi bagi yang ingin memahami sebuah karya, dan bagi yang ingin ikut ? berkiprah dalam khazanah tulis-menulis.

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi MWCNU Gapura Mengadakan Bedah Buku

Hal diatas itulah yang mendorong aktifis Lesbumi MWC NU Gapura menggelar sebuah diskusi sastra bertajuk "Bedah Buku Kumpulan sajak Taneyan" karya penyair Mahwi Air Tawar, pada hari Jumat pagi, 30 Oktober 2015.

Sebagai penyair kelahiran Sumenep, Mahwi Air Tawar berusaha tidak membuang jejak kemaduraannya dalam setiap karya yang ditulisnya baik berupa puisi maupun cerpen.

Haedar Nashir

Kegiatan yang digelar Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya NU) ? menambah semarak kegiatan bersastra di kabupaten Sumenep yang memang identik sebagai kota sastra di Madura.

Acara yang digelar sejak pukul delapan pagi bertempat di aula kantor MWC NU Gapura - Sumenep menghadirkan Syaf Anton Wr dan Ust. Nono Suwarno sebagai pembedah antologi Taneyan. (Dayat/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 23 Agustus 2014

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum

Di tengah kepungan sejumlah madrasah dan sekolah umum di sekitarnya, madrasah salaf ini tetap teguh mempertahankan kemurnian tradisi salafiyahnya. Tradisi kurikulum berbasis kitab salaf tetap lestari, hafalan kitab kuning, hingga memulai tahun ajaran baru yang berbeda dengan sekolah atau madrasah yang lain.

Pasalnya, madrasah kuno yang mengajarkan 70 persen pelajaran agama dan 30 persen pelajaran umum ini memulai pelajarannya pada bulan Syawwal, bukan Juli seperti sekolah lain. Meski lebih banyak agamanya, pada tahun 1951 disusun kurikulum resmi pelajaran umum yang memasukkan Bahasa Inggris dengan pengajar KH M Rodli Sholeh, salah seorang Rais Syuriyah PBNU, dari Jakarta.

Madrasah apakah itu? Dialah Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM). Madrasah yang akrab disebut Mathole’ ini kini berdiri megah di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Kulon Banon, sebelah barat maqbarah waliyullah Syeikh Ahmad Mutamakkin.

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertahankan Ciri “Salafiyah” di Tengah Kepungan Madrasah Umum

Selain Mathali’ul Falah, terdapat beberapa lembaga pendidikan lainnya yang melayani para santri di Kajen. Sebut saja Madrasah Salafiyah, Madrasah PRIMA, Madrasah PGIP Hadiwijaya, dan SMK Cordova. Di luar Kajen, sejumlah terdapat madrasah milik desa sebelah seperti Khoiriyah (Waturoyo), Darun Najah (Ngemplak), Manabi’ul Falah (Ngemplak). Masing-masing madrasah satu dengan lain saling melayani tanpa adanya konflik.

PIM didirikan oleh KH Abdussalam pada tahun 1912. Tujuan utamanya mendidik dan mempersiapkan kader-kader bangsa sebagai insan yang memahami agama secara mendalam (tafaqquh fi al-din) baik teori maupun praktik. Harapannya, alumni perguruan ini mampu berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (sholih) dalam semangat ketuhanan yang luhur dan terpuji sebagaimana diteladankan Rasulullah SAW (akrom).

Perguruan ini dalam perjalanannya tidak pernah berhenti membimbing siswanya menuju titik kulminasi, yakni “Tafaqquh fi al-Din menuju Insan Sholih-Akrom”. Tujuan inilah yang sampai sekarang dijadikan sebagai pijakan dan visi utama dari penyelenggaraan pendidikan di Mathole’.

Setelah satu abad terlewati (1912-2015), perguruan ini terus mengalami banyak perkembangan di sana-sini. Pada awal berdirinya ketika dipimpin sang pendiri, perguruan ini akrab disebut “Sekolah Arab”. Kemudian pada masa berikutnya ketika dipimpin sang putra, KH Mahfudh Salam (1922-1944), perguruan ini diberi nama Mathali’ul Falah (tempat munculnya orang-orang sukses) dengan kurikulum klasikal dari shifir awwal, tsani dan tsalis.

Haedar Nashir

Pada masa kepemimpinan putra yang lain, KH Abdullah Zen Salam, yang dibantu KH Muhammadun Abdul Hadi (1945-1963), mulai dikembangkan sistem penjenjangan: kelas 1-6 Ibtidaiyah dan kelas 1-3 Tsanawiyah. Selanjutnya di era kepemimpinan KH MA Sahal Mahfudh (1967-2014) dikembangkan lagi menjadi Aliyah untuk putra dan Mu’alimat untuk putri, serta Diniyah Ula dan Wustho. Pendirian Diniyah ini dimaksudkan untuk menampung lulusan SD dan SMP dengan materi agama khusus. Sepeninggal Kiai Sahal, sang Rais Aam Syuriah PBNU tiga periode pada Januari 2014, perguruan ini dipimpin KH Ahmad Nafi’ Abdillah, putra KH Abdullah Salam.

PIM Kajen ini merupakan satu-satunya madrasah yang menggunakan nama resmi “Perguruan Islam.” Ini tentu bukan tanpa maksud, namun ada tujuan di baliknya. Konon, muncul cerita kenapa Kiai Sahal memberi nama “Perguruan Islam” pada Mathali’ul Falah bukan “Madrasah” lantaran spirit dinamisme. Artinya, Kiai Sahal berharap para guru dan anak didik PIM rajin membaca dan mengikuti perkembangan ilmu dan informasi sehingga tidak ketinggalan zaman. Istilah anak muda sekarang disebut “kudet” alias kurang apdet (update-red).

Kukuh Berdiri di Kampung Santri

Perguruan Islam Mathali’ul Falah yang kukuh berdiri di “kampung santri” bernama Kajen ini tentu tak bisa lepas dari sejarah Kajen itu sendiri. Kajen merupakan sebuah desa kecil di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Dari ibukota Pati, Kajen berjarak kurang lebih 18 Km ke utara. Jika kita berkunjung ke sana dari Semarang, kita bisa naik bus jurusan Surabaya, lalu turun terminal Pati atau halte Puri, sebuah perempatan yang sangat terkenal di daerah itu.

Haedar Nashir

Dari terminal atau Puri, pengunjung naik bus jurusan Tayu turun di pertigaan Desa Ngemplak. Lalu berlanjut naik kendaraan kecil lainnya seperti ojek atau delman yang selalu setia mengantar hingga Desa Kajen. Kajen adalah desa yang sangat padat penduduknya, kendati di luar desa tersebut masih membentang sawah dan tegal yang luas. Luas tanah Kajen sekitar 66.660 ha (0.65 km2) yang terdiri dari 4.710 ha tanah tegalan. Sisanya merupakan tanah pekarangan dan bangunan rumah penduduk.

Secara administratif, Kajen berbatasan dengan empat desa yang mengitarinya. Di sebelah selatan berbatasan dengan Ngemplak Kidul, timur dengan Sekarjalak, utara dengan Waturoyo, dan barat dengan Ngemplak. Kajen praktis di tengah-tengah. Desa yang tak punya sawah atau tambak ini terdiri atas 11 RT dan 2 RW dengan jumlah penduduk asli kurang lebih 3700 jiwa.

Di Kajen terdapat tak kurang dari 40 pesantren. Hampir setiap rumah para kiai atau guru Mathole’ dan beberapa madrasah lainnya merupakan tempat mukim santri. Setidaknya 7000 santri mukim di desa ini. Di antara para kiai, santri, dan warga tercipta hubungan simbiosis mutualisme sehingga Kajen sangat memenuhi syarat disebut sebagai “kampung santri”. Tidak ada konflik terbuka antarkiai, juga tidak ada kesan persaingan antarpesantren.

Santri Wajib Nulis “Skripsi”

Selain ada hafalan kitab kuning sebagai syarat kenaikan kelas sebagaimana tradisi di Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan, satu keunikan Mathole’ adalah tradisi mencipta “skripsi” menjelang kelulusan. Tradisi ala kampus ini disebut KTA (Karya Tulis Arab). Dalam menyusun karya tulis ber-Bahasa Arab ini, para santri didampingi seorang musyrif (pembimbing). Membuat KTA menjadi syarat wajib bagi siswa kelas tiga aliyah. Tanpa membuatnya, seorang siswa tidak bisa mengikuti ujian catur wulan.

Tradisi ini mulai diwajibkan sejak tahun 1998. Tujuan program ini untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tulis-menulis di kalangan pesantren yang kian surut. Diharapkan budaya serta kemampuan tulis siswa meningkat sehingga ke depan bisa menghasilkan karya yang bermanfaat. Setelah penulisan KTA selesai, penulisnya lalu diuji untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami dan menguasai terhadap apa yang ditulisnya. Ujian ini ibarat pertanggungjawaban terhadap apa yang ditulis. Di sinilah nilai-nilai amanah serta tanggung jawab ditanamkan.

Menurut KH Abdul Ghaffar Rozien, santri PIM sudah sejak Ibtidaiyyah dibekali nahwu, sharaf, dan ilmu tatabahasa arab lainnya. Sejak Aliyah mereka mendapatkan ilmu balaghah. Bahkan, di setiap jenjang ada praktik Insya’ (mengarang bahasa arab). KTA dimaksudkan sebagai salah satu media bagi santri PIM mempraktikkan teori dan kecakapan berbahasa Arab secara akademik.

Gus Rozien, sapaan akrabnya, menambahkan, melalui program itu pula para santri memulai riset sederhana. Tentu saja, mereka harus membaca berbagai macam buku referensi. Dari sini mereka berlatih berpikir akademis. Dengan demikian, mereka akan terbiasa menghadapi berbagai macam bentuk tulisan dan perbedaan pendapat ilmiah. “KTA ini dijadikan salah satu indikator keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab sekaligus sebagai bahan evaluasi,” ujar putra Kiai Sahal ini.

Tak ayal, tradisi ini membentuk tradisi intelektual alumninya. Pengaruh alumni dan PIM Kajen dalam konteks Jawa Tengah, bahkan nasional, sungguh terasa dan cukup menjadi pusat inspirasi berbagai kalangan. Transformasi sosial di PIM telah menelorkan sejumlah intelektual muda seperti Imam Aziz, Ulil Abshar Abdalla, Badriyah Fayumi, Marwan Ja’far, dan Abdul Ghaffar Rozien.

Imam Aziz, salah satu Ketua PBNU, saat jadi aktivis di Yogyakarta mendirikan lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS). Ulil Abshar Abdalla dikenal sebagai penggagas Jaringan Islam Liberal yang cukup menghebohkan. Badriyah Fayumi merupakan anggota FKB DPR yang mengawal kebijakan di bidang Pendidikan. Marwan Ja’far setelah terpilih kedua kalinya sebagai anggota DPR belakangan dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Lalu, Abdul Ghaffar Rozien penjaga gawang di Kajen sekaligus direktur Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA).

Sebagai penerus Kiai Sahal Mahfudh, Gus Rozien berkomitmen tetap teguh mempertahankan substansi salafiyah kendati zaman terus berganti. Manfaatnya tentu saja memelihara tradisi, ilmu, dan akhlaq ulama salaf. “Tentu saja kami melakukan penyesuaian yang diperlukan agar santri PIM menjadi insan shalih serta dapat menyesuaikan diri dengan zaman dan lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (Musthofa Asrori)

?

Foto: Salah satu sudut Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Doa Haedar Nashir