Senin, 23 Desember 2013

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

Jakarta, Haedar Nashir. Arus deras globalisasi telah menghasilkan dampak positif dan negatif dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kenyataan ini harus disiasati agar umat Islam tidak hanyut yang mengakibatkan hilangnya identitas sebagai bangsa.

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, NU mengajak untuk kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini,” seru Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam acara halal bihalal dan peluncuran Munas dan Konbes NU, Selasa (4/9), di Jakarta.

Menurutnya, kondisi ini juga menuntut adanya keterbukaan budaya. Namun, di era globalisasi kemampuan umat beragama dalam beradaptasi akan selalu dibutuhkan.

Haedar Nashir

“NU sejak lama sudah lama punya prinsip pertahankan budaya, petahankan tradisi, pertahankan jati diri, tapi juga ambil ilmu-ilmu yang semakin maju,” tandasnya.

Haedar Nashir

Dalam acara yang dirangkai dengan Halal Bialal ini, Kang Said menjelaskan tentang relevansi tema Munas dan Konbes NU yang digelar di Cirebon, 14-17 September 2012 mendatang. Tema tersebut adalah Kembali ke Khittah Indonesia 1945, Meningkatkan Khidmat NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

“Yang tiada lain adalah kembali pada semangat Proklamasi, kembali kepada nilai-nilai Pancasila dan kembali berpegang pada amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” tuturnya.

Dengan kembali ke nilai dasar, demikian Kang Said, kita akan selamat dari gelombang globalisasi. Bahkan sebaliknya, mengendalikan globalisasi untuk menciptakan negara yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana dicita-citakan 67 tahun lalu. 

“Perlu kita segarkan dan tegaskan kembali saat ini,” pungkasnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 21 Desember 2013

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di tingkat pusat diminta melakukan kajian ulang atas undang-undang yang mengatur pelaksanaan ujian nasional. Penetapan standar tinggi kelulusan sekolah akan mengorbankan banyak pihak, terutama siswa sendiri.

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional

Permintaan disampaikan pengurus LP Ma’arif dari Solokuro, Kabupaten Lamongan saat bersilaturrahim ke PBNU. PP Maarif NU yang diwakili oleh Sri Mulyati, Wakil Ketua PP LP Maarif NU, didampingi beberapa pengurus PP LP Ma’arif menyambut ke para tamu di ruang pertemuan lantai 5 kantor PBNU Jakarta, Senin (19/11).

Aturan yang ada saat ini dinilai akan menyulitkan alumni lembaga pendidikan di bawah ma’arif untuk memasuki jenjang pendidikan di level perguruan tinggi. “Lagi-lagi pelajar menjadi korban akibat kebijakan tersebut,” kata Aryoto Alwan, seorang perwakilan dari Selokuro.

Haedar Nashir

Aryoto, pendidik yang juga pandai berbahasa Jerman ini mengusulkan agar lembaga sebesar Maarif NU melakukan advokasi nasib para pelajar di daerah pada level kebijakan Kemendiknas. Kebijakan itu diharapkan agar memberi nafas bagi karir pendidikan pelajar di daerah.

Aryoto yang datang bersama rombongan satu bus, menyepakati isu tersebut yang nantinya dibahas dalam Rakernas PP LP Maarif NU pertengahan Desember mendatang.

Haedar Nashir

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, RMI NU Haedar Nashir

Kamis, 12 Desember 2013

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting

Brebes, Haedar Nashir - Eva Trisnawati dari Desa Kluwut kembali menerima amanah menggerakkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Bulakamba Kabupaten Brebes masa khidmah periode 2016-2021. Eva dipilih dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Fatayat NU di Madrasah TPQ Muslimat NU Kluwut, Bulakamba, Kamis (4/2).

Eva terpilih dalam persidangan yang dipimpin Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah. Eva pada periode ini bertekad mengembangkan Fatayat lebih maju lagi terutama dalam peningkatan ekonomi keluarga.

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting

Kalau program yang dilaksanakan pada periode sebelumnya adalah program Baitul Mal wat Tamil (BMT), kini ia akan mengembangkannya hingga ke tingkat ranting (desa). Koperasi simpan pinjam ini, menurut Eva, sangat menolong para anggotanya yang membutuhkan permodalan dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

“Fatayat beranggotakan ibu-ibu muda yang masih sangat produktif, jadi ketika menggiatkan UMKM pun, banyak yang sukses,” kata Eva.

Haedar Nashir

Selain itu, dirinya juga akan lebih meningkatkan kualitas wanita dalam berbagai bidang. Ia bermaksud melakukan peningkatan pengetahuan dan pemberdayaan wanita dalam bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan.

“Kami pun tak segan-segan membantu pemerintah kabupaten Brebes dalam hal pemberdayaan wanita seperti Keluarga Berencana maupun Taman Pendidikan Al-Quran,” terangnya.

Haedar Nashir

Terkait dengan banyaknya keluarga muda yang tergiur dengan ajakan ke berbagai aliran, Eva menegaskan Fatayat akan lebih mengintensifkan pengajian rutin.

“Pengajian rutin seperti jamiyahan Raboan, Kamisan, Jumatan maupun Kliwonan meski kelihatannya sepele tetapi mampu menepis berbagai ajakan aliran-aliran di luar Aswaja NU seperti Gafatar, ISIS dan sebentuknya,” kata Eva.

Konferancab Fatayat NU Kecamatan Bulakamba antara lain menetapkan program kerja lima tahun ke depan, laporan pertanggungjawaban pengurus, dan pemilihan pengurus baru. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Ulama Haedar Nashir

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

Subang, Haedar Nashir?

Diantara ulama nusantara yang lahir di tanah pasundan adalah KH Ahmad Zakariya atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Rende Bandung dan KH Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur Purwakarta. Kedua ulama karismatik ini punya kisah menggelitik sebagaimana diungkapkan KH Nawawi, Pabuaran, Subang.

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

"Waktu mesantren di Mekkah, Mama Rende seniornya Mama Sempur," ungkap Kiai Nawawi beberapa waktu yang lalu.

Suatu hari, kata Kiai Nawawi, Mama Sempur hendak mempelajari sebuah kitab, namun sayangnya ia tidak mempunyai kitab tersebut. Hingga akhirnya Mama Sempur sowan kepada Mama Rende. "Di sana Mama Sempur menemukan kitab yang dicari, akhirnya Kitab tersebut dipinjam oleh Mama Sempur," tambah mantan Rais PCNU Subang itu.?

Suatu hari, kata dia, Mama Rende hendak membaca kitab ini, ia baru ingat bahwa kitabnya masih dipinjam oleh Mama Sempur, hingga akhirnya Mama Rende mengajak santrinya bernama Mansur untuk silaturahim ke Sempur, Purwakarta.

"Sampai Sempur sudah malam, Mama Rende tidur di bawah bedug. Santri Mama Sempur kaget karena saat hendak menabuh bedug subuh, ada seseorang yang tidak dikenal, barulah diketahui bahwa orang tersebut adalah Mama Rende, sahabatnya Mama Sempur," ujarnya.

Haedar Nashir

Ditambahhkannya, usai shalat subuh keduanya mengobrol, Mama Rende mengeluarkan bako mole, melinting lalu merokok. Sesaat kemudian sambil guyon Mama Sempur menyindir Mama Rende karena merokok.

"Masih merokok, ajengan?" kata Kiai Nawawi meniru pertanyaan Mama Sempur.

Pertanyaan tersebut dianggap cukup menohok, karena diketahui Mama Sempur bukanlah perokok aktif, tanpa pikir panjang, Mama Rende pun akhirnya menjawab. "Lebih baik merokok daripada pinjam kitab tapi tidak dipulangkan," jawab Mama Rende.

Usai saling melontarkan sindiran, kedua ulama tersebut kemudian melanjutkan obrolan namun tetap dalam susana keakraban. "Saya tahu cerita ini dari ajengan Mansur, dulu dia sering ke sini, dia santri yang ikut mengantar Mama Rende ke Pesantren Sempur,” kata Kiai Nawawi menutup kisahnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Senin, 25 November 2013

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan

Way Kanan, Haedar Nashir. Pesantren Assiddiqiyah 11, Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung, Selasa (19/7) menggelar Masa Taaruf Santri (Mastasa). Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto yang diminta menyampaikan materi kemasyarakatan mengajak santri untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

"Kata masyarakat berasal dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Sakai sambayan dalam bahasa Lampung yang berarti gotong-royong merupakan contoh wujud interaksi, bertegur sapa antara orang-orang di dalam masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Nilai tersebut harus tetap ada," kata Gatot, di Gunung Labuhan.

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan

Mengajak berdiskusi, Ketua Bidang Media dan Publikasi DPP Sarbumusi NU itu mengajak 29 santri peserta mastasa untuk menyampaikan pengetahuan masing-masing mengenai masyarakat.

"Meski Ketua Ansor, ketika masuk pesantren saya adalah santri yang harus tunduk pada peraturan yang ada. Sederhananya, kita sama-sama belajar, saya bisa menjadi guru teman-teman, dan sebaliknya juga demikian. Kader NU harus terampil, silakan maju kedepan," ujarnya.

Haedar Nashir

Sejumlah santri menjawab masyarakat mempunyai peraturan atau tatanan masing-masing yang telah disepakati. Antara satu kampung dengan kampung lain ada perbedaan.

"Misalnya di pesantren ini, kita ada peraturan tidak membuang sampah sembarangan," kata Intan, santri pesantren asuhan Kiai Imam Sayuthi Murtadlo itu.

Aktivis Gusdurian itu selanjutnya mengajak santri bermain games membangun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Para santri yang dibagi tiga kelompok diminta memperkirakan sendiri biaya dihabiskan untuk pembangunan, tercapai mufakat Rp15 juta.

Dana pembangunan sebagai gambaran partisipasi pembangunan dihasilkan dari sumbangan santri yang berperan sebagai anggota masyarakat. Peci, tas, dasi, kaus kaki, jam tangan, gelang dinominalkan dengan harga tertentu. Kelompok yang menghimpun dana mendekati kebutuhan pembangunan puskesmas dinyatakan sebagai pemenang.

Hasilnya, santri menyimpulkan masyarakat merupakan himpunan orang-orang yang tunduk pada peraturan berlaku yang ada, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, memiliki pemimpin. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan dicita-citakan bersama, perlu pengorbanan, keikhlasan, kerjasama, menghargai pendapat orang lain.

Haedar Nashir

"Hal tersebut berlaku pula bagi daerah dan negara. Saya hanya memfasilitasi teman-teman untuk tidak takut berpikir dan berpendapat, dan ternyata bisa. Insya Allah, teman-teman akan menjadi orang hebat," pungkas Gatot. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Warta Haedar Nashir

Selasa, 19 November 2013

Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini

Oleh M. Faizi?

Menurut informasi dari ceramah Kiai As’ad Syamsul Arifin, kira-kira di tahun 1920, terjadi pertemuan ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlahnya 66 ulama. Menakjubkan, karena mereka datang secara bersamaan, mengunjungi Kiai Muntaha, menantu Syaikhana Khalil, di Jangkebuan, Bangkalan.?



Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Cikal-bakal Lahirnya NU Berawal dari Langgar Ini



Adapun tujuan mereka tersampaikan oleh salah seorang ulama yang menyatakan, bahwa mereka ingin meminta bantuan Kiai Muntaha untuk menyampaikan aspirasi mereka sebab mereka tidak berani untuk menyampaikannya secara langsung kepada Kiai Kholil.



Haedar Nashir



“Apa kepentingannya?” kata Kiai Muntaha





“Begini, sekarang sudah ada kelompok-kelompok yang sangat tidak suka terhadap ulama-ulama salaf, tak suka pada karangan kitab-kitab ulama salaf. Yang mau mereka ikuti hanya Al-Qur’an dan Hadits saja. Selain ini sudah tidak perlu diikuti. Lalu, bagaimana peninggalan pelopor-pelopor terutama Wali Songo kalau (pemahaman) seperti ini yang diterapkan di Indonesia? Sebab, rupanya, kelompok ini (melakukan gerakan) melalui (bantuan) kekuasaan pemerintah jajahan, pemerintah Hindia Belanda. Mari dimaturkan kepada Kiai Kholil!”

Haedar Nashir





Sementara ulama-ulama itu bermusyawarah dan Kiai Muntaha belum juga berangkat untuk menjumpai Kiai Kholil demi menyampaikan pemikiran para ulama tersebut, Kiai Kholil justru lebih dulu menugaskan Kiai Nasib untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang belum diajukan tersebut.?





Kiai As’ad—yang ketika itu memang sedang nyantri di Bangkalan—menirukan perintah Kiai Kholil kepada Kiai Nasib sebagai berikut:





“Nasib, sini, kemari. Begini, kasih tahu, ya, sama Muntaha. Di dalam Al-Qur’an sudah ada keterangan, sudah cukup.?





? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?





“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (At-Taubat: 32). Sudah, ini kasih tahu. Cukup sudah. Jadi, kalau sudah dikehendaki oleh Allah Taala, pasti terjadi kehendak Allah Taala. Tak akan gagal. Kasih tahu, ya, sama Muntaha!”





* * *





Kira-kira, demikianlah gambaran musyawarah dan instruksi Kiai Kholil bin Abdul Lathif tatkala itu. Dari hasil musyawarah yang dilakukan oleh ulama-ulama di Bangkalan tersebut itulah lantas muncul gagasan didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) beberapa tahun kemudian.





Nah, langgar dalam foto ini adalah Langgar Kiai Muntaha, terletak di Jangkebuan. Lokasinya ini berada kira-kira 1 kilometer arah timur laut Mertajasa, Maqbarah Syaikhana Kholil bin Abdul Lathif, Bangkalan. Menurut penuturan Kiai Afif, tidak ada yang berubah dari langgar yang saat ini dirawat oleh KH Hamid Kholily tersebut. Secara keseluruhan, bangunan masih utuh. Hanya bagian ubin yang diperbaiki. Dan, di langgar inilah ke-66 ulama itu bertemu sebagaimana disampaikan.









Penulis adalah seniman dari Pesantren Annuqoyah, Guluk-Guluk

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Ubudiyah Haedar Nashir

Selasa, 12 November 2013

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Yogyakarta, Haedar Nashir. Tahun 2017 ini Yogyakarta menjadi tempat bertarungnya sekitar 2000 siswa madrasah dengan level prestasi tingkat nasional dan internasional.

Mereka berkompetisi di ajang Ajang Kreasi Seni dan Olahraga Madrasah (Aksioma) dan Kompetisi Sains Madrasah (KSM) 2017 pada 7-12 Agustus 2017.

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

2000 Siswa Madrasah Berprestasi Bertarung di Ajang Aksioma-KSM Yogyakarta

Kompetisi dipusatkan di dua tempat yaitu Stadion Mandala Krida dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Siswa Madrasah dari semua jenjang ini memperebutkan supremasi tertinggi di antara para siswa madrasah seluruh Indonesia.

Pembukaan kegiatan Aksioma-KSM 2017 ini dipusatkan di Stadion Mandala Krida, Senin (7/8) malam. Berbagai penampilan seni dan budaya disuguhkan dengan baik oleh siswa dari sejumlah siswa di Yogyakarta, salah satunya dari MAN 2 Yogyakarta.

Haedar Nashir

Lengkap dengan busana ala Keraton, mereka menampilkan karnaval budaya dengan pergerakan lincah menelusuri salah satu sudut stadion Mandala Krida.

Ribuan siswa berprestasi dari 34 Provinsi itu siap berkompetisi secara sportif. Mereka bangga memilih madrasah sebagai tempat menempuh ilmu dan akhlak.

"Saya bangga menjadi bagian dari siswa madrasah. Saya sangat siap berkompetisi dengan siswa-siswi lain dari seluruh Indonesia," ujar Kholida Nailul Muna, siswa MAN 3 Bantul, DIY juara ajang matematika internasional di Vietnam pada Juli 2017 lalu.

Senada dengan Kholida, Satria Widyanto yang merupakan siswa Madrasah Muallimin Yogyakarta juga siap mempertahankan emas yang dia peroleh dalam ajang KSM di Pontianak.

"Saya meraih emas di KSM Pontianak, saya siap menghadapi teman-teman dari seluruh Indonesia. Saya bangga madrasah," ujarnya mengucapkan rasa antusiasmenya.

Haedar Nashir

Seluruh kontingen yang mengisi penuh setiap tribun stadion menyambut penuh gembira dan semangat untuk menghadapi ajang sains ini.

Selain 2000 kontingen, Kantor Wilayah Kementerian Agama di seluruh provinsi juga mengirimkan sekitar 10.000 pendamping yang terdiri dari guru, pelatih, Kepala Kanwil, dan para kepala bidang.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengku Buwono X. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita, Sholawat Haedar Nashir

Pelajar NU di Jombang Diimbau Susun Program Kebutuhan Pelajar

Jombang, Haedar Nashir

Empat Pengurus Pimpnan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PAC IPNU-IPPNU) di Kabupaten Jombang dikukuhkan dalam waktu bersamaan di Aula Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat, Ahad (24/1/2016). Empat PAC tersebut di antaranya dua PAC di Kecamatan Perak dan dua yang lain Kecamatan Megaluh.?

Setelah dilantik, empat PAC tersebut diimbau segera menyusun program-program yang dibutuhkan IPNU-IPPNU untuk pelajar ditempat masing-masing, mereka juga didorong menemukan inovasi-inovasi dalam merumuskan dan menjalankan program-programnya. Hal ini dilakukan agar mereka aktif berkarya mendampingi ranting-ranting di bawahnya.

Pelajar NU di Jombang Diimbau Susun Program Kebutuhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU di Jombang Diimbau Susun Program Kebutuhan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU di Jombang Diimbau Susun Program Kebutuhan Pelajar

Ketua Piimpinan Cabang (PC) IPPNU Jombang, Qurrotul Aini menegaskan bahwa sejumlah agenda yang dirumuskan masing-masing PAC IPNU-IPPNU merupakan kegiatan realistis yang dibutuhkan pelajar.?

“Semoga tidak pelantikannya saja yang semarak, tapi juga kegiatan-kegiatannya juga bisa bermanfaat untuk IPNU-IPPNU dan pelajar,” katanya usai melakukan prosesi plantikan, Ahad (24/1).

Haedar Nashir

Disamping itu Aini, sapaan akrabnya berharap kepada pengurus IPNU-IPPNU dari ranting hingga PAC untuk ikut berperan aktif menyukseskan pelantikan PC IPNU-IPPNU Jombang yang akan digelar pada pertengahan bulan Februari mendatang.?

“Kita juga punya gawe (agenda) pelantikan pengurus cabang IPNU-IPPNU pada pertengahan bulan depan, mereka juga harus ikut serta menyukseskan pelantikan tersebut,” ujarnya.

Sementara Ketua PAC Megaluh, Asmo E Afandi mengatakan, keberlangsungan organisasi sangat ditentukan oloeh kesolidan dan kerja keras anggota dengan pengurus dalam mejalankan mandat organisasinya. Afandi mengajak kepada pengurus yang baru dilantik itu untuk membangun kerja sama yang baik demi memaksimalkan menjalankan program.?

“Saya mengajak kepada jajaran pengurus dan anggota untuk saling mendorong dalam kesuksesan kegiatan yang akan segera kita rumuskan bersama,” ungkapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail Haedar Nashir

Kamis, 31 Oktober 2013

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian

Kudus, Haedar Nashir - Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengha KH Yusuf Chudlori mengatakan, KH Abdurrahmana Wahid (Gus Dur) pada masa hidupnya selalu menanamkan kepada masyarakat bahwa Islam adalah agama kedamaian di bumi.

Gus Dur, kata kiai muda yang biasa disapa Gus Yusuf ini, dalam menunjukkan Islam mengutamakan kedamaian, memberi contoh kisah KH Chudlori yang didatangi dua kelompok masyarakat desa Tepus, Magelang yang meminta fatwa penggunaan bondo desa .

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Selalu Tanamkan Islam sebagai Agama Kedamaian

Kedua kelompok tersebut, lanjut  Gus Yusuf, saling berebut antara digunakan membeli gamelan ataukah merehab masjid. “Tanpa diduga, KH Chudlori tidak menjawab untuk rehab masjid, melainkan mendahulukan membeli gamelan dengan alasan demi kerukunan,” jelasnya pada puncak acara “Gebyar seni budaya dan peringatan haul ke-6 Gus Dur” yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lesbumi Kudus di  Komplek Kampung Festival Bambu Wulung, Desa Ngembalrejo, Kudus, Ahad Malam (31/1).

Gus Yusuf menambahkan, kisah tersebut ditafsirkan Gus Dur bahwa KH Chudlori lebih mementingkan masyarakat guyub rukun. Ketika masyarakatnya rukun, masjid akan tumbuh dengan sendirinya. “Dari sinilah Gus Dur menanamkan Islam hadir tidak untuk memecah-belah, tetapi untuk memberi kedamaian," ujar kiai putra KH Chudlori ini.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kemudian Gus Yusuf merasa prihatin kondisi masyarakat Indonesia belakangan yang mengalami krisis kepercayaan. Masyarakat, katanya, banyak yang bangga menjadi orang (bangsa) lain daripada menjadi orang Indonesia. Hal ini banyaknya orang berpenampilan atau gaya pakaiannya berubah sehingga tidak mencerminkan warga Indonesia.

 

"Gus Dur itu apa adanya, tidak jaim, tidak usah gaya. Selama berkualitas seperti beliau dimana pun orang akan menghormati. Tetaplah menjadi Indonesia , menjadi warga NU. Itu cara Gus Dur memberi keteladanan," terangnya.

Gus Dur juga mengajarkan kelembutan, kasih sayang serta menyanyangi semua komponen masyarakat lintas suku ras dan agama. Gus Dur dicintai banyak orang karena mencintai banyak orang. "Sudah 6 tahun beliau wafat, tetapi warisan kasih sayang, ajaran keteguhan sikapnya, belajar mencintai NKRI harus tetap tumbuh dalam jiwa kita. Cita-cita besar Gus Dur perihal kemanusiaan, kedamaian dan NKRI harus kita perjuangkan bersama," harap Gus Yusuf.

Turut hadir dalam acara ini putri bungsu Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid, tokoh NU, budayawan, politisi dan kaum nahdliyin Kudus. Bintang Aksi Yunior Bintha Athivata beserta ibunya, Hj Nuzumul Laily. Serta dan sastrawan Kudus ikut menyemarakkan suasana dengan pentas membaca puisi. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Nusantara, Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 29 Oktober 2013

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat

Surabaya, Haedar Nashir. Panitia Daerah (Panda) Muktamar ke-33 NU kembali menggelar acara pra muktamar dengan konsep yang berbeda. Kali ini Panda mengonsep dialog interaktif bersama Bapak Chairul Tanjung, CEO Trans Corp di halaman timur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Jum’at (3/7).

Dialog yang bertemakan Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat itu dihadiri oleh ratusan orang. Mereka terdiri dari para pengusaha muda, pengusaha santri dan para jamaah Masjid Al-Akbar Surabaya.?

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Sejahtera, Pertumbuhan Ekonomi Melaju Pesat

Hadir juga KH Miftachul Akyar, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah, Mantan Menteri Pendidikan RI, Prof M Nuh, Direktur Masjid Al Akbar. Tentu Ketua dan Sekretaris Panda Muktamar ke-33 NU turut hadir.

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Gus Ipul atas nama Ketua Panitia Daerah mengucapkan terima kasih kepada Bapak Chairul Tanjung yang bersedia hadir dalam dialog interaktif ini. Gus Ipul berharap dengan adanya dialog bersama Pak CT (Chairul Tanjung) dapat memberikan motivasi kepada kita semua untuk memulai usaha.

Haedar Nashir

Baginya, warga NU harus pintar, cinta tanah air itu semua itu sudah ada di NU. Namun orang kaya ini yang masih sedikit di NU, bisa dihitung angkanya. "Kalau warga NU sejahtera maka pertumbuhan ekonomi melaju cepat," terangnya.

Kiai Mutawakil juga menyampaikan apresiasi kepada panitia daerah yang telah mengadakan acara dialog interaktif bersama Pak CT. "Ini langkah cerdas yang diambil oleh Panda. Karena inilah yang menjadi kebutuhan masyarakat terutama warga NU," terang Kiai Mutawakkil.

Dalam penyampaiannya, Pak CT menyayangkan minimnya umat muslim yang menguasai sektor perekonomian. Dari 88 persen umat muslim, hanya 22 persen yang berperan di dunia usaha dan menguasai sektor perekonomian.

"Umat Islam di Indonesia harus siap membangun perekonomian mandiri, kalau tidak, Indonesia akan menjadi ladang basah bagi negara lain, apalagi tahun ini akan ada MEA," pesannya. ? (Rofii Boenawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Berita Haedar Nashir

Minggu, 27 Oktober 2013

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah

Wonosobo, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mendorong keterlibatan pemerintah Indonesia dalam membantu menyelesaikan konflik Suriah yang saat ini sudah menelan lebih dari 100 ribu nyawa.

“Saat ini masih ada kesempatan sebelum terlambat,” katanya dalam konferensi pers setelah pembukaan rapat pleno PBNU, Sabtu (7/9).

Ia menegaskan, langkah militer yang digagas oleh Amerika Serikat sejumlah negera sekutunya tidak akan menyelesaikan masalah.?

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Dorong Pemerintah Indonesia Fasilitasi Penyelesaian Konflik Suriah

“Dialog merupakan cara terbaik dalam menyelesaikan masalah ini,” tegasnya.

Haedar Nashir

Kiai Said berharap pemerintah Indonesia berperan lebih aktif dalam mendorong negara-negara Muslim secara bersama-sama menyelesaikan masalah tersebut.

OKI, menurut Kang Said, sejauh ini tidak jelas peran yang dilakukannya. “OKI itu seperti la yamuutu wa la yahya, (tidak kehilatan hidup atau matinya). Ya daripada tidak ada,” tandasnya.?

Haedar Nashir

Dalam pertemuan G20 di Rusia, SBY menegaskan penolakannya atas upaya penyelesaian konflik Suriah dengan cara-cara kekerasan, apalagi tanpa mandat dari PBB.

“Menurut pandangan saya adalah, masyarakat internasional (internastional community), yang diberikan mandat oleh perserikatan bangsa-bangsa untuk melaksanakan sejumlah tugas, yang mengandung tiga elemen tadi tentu tidak semua dilaksanakan oleh international community. Selebihnya dilaksanakan oleh bangsa Syiria, pemerintah Syiria, pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Syiria sendiri," kata Presiden dalam keterangan pers di St Petersburg, Jumat sore waktu setempat, seperti dilansir oleh Antara. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Kajian Haedar Nashir

Minggu, 20 Oktober 2013

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat

Jombang, Haedar Nashir. Untuk kali kedua, Raja Dangdut H Rhoma Irama berkeliling ke Jawa Timur. Hal itu dilakukan guna mengenal lebih dekat para tokoh dan warga Nahdlatul Ulama.

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bang Haji Ajak Jamaah Bershalawat

Sabtu (10/5) malam, Bang Haji, sapaan akrabnya berkesempatan melangsungkan silaturahim ke sejumlah kiai dan pengasuh pondok pesantren di Jombang. Raja Dangdut itu hadir dalam rangka haul KH Bisri Syansuri di Pondok Pesantran Mambaul Maarif Denanyar. 

Tampak hadir sejumlah tokoh seperti Muhaimin Iskandar (Ketua Umum DPP PKB dan Menakertrans), Saifullah Yusuf (Ketua PBNU dan Wakil Gubernur Jatim), Ida Fauziyah (Ketua Umum PP Fatayat NU) serta para pejabat dari Pemprov Jatim dan pengurus partai lainnya.

Haedar Nashir

Yang menarik, di ujung sambutan yang mengatas namakan keluarga,  Muhaimin Iskandar mendaulat Raja Dangdut itu untuk memimpin pembacaan shalawat.  "Kita ingin mendengarkan suara Bang Haji melantunkan shalawat," kata Cak Imin. 

Haedar Nashir

"Kita yakin, suara Bang Haji dapat memukau para hadirin," katanya. "Dan kalau sudah memukau, kita yakin jamaah akan mengikuti apa yang dikatakan Bang Haji," tandas keponakan KH Abdurrahman Wahid ini.

Permintaan yang tiba-tiba ini cukup merepotkan Bang Haji yang saat itu didampingi grup shalawat al-Banjari dari Pesantren Mambaul Maarif.

Namun Bang Haji tampak segera menguasai panggung dan memilih shalawat Badar untuk mengajak ribuan jamaah yang hadir untuk bershalawat. 

Dalam pandangan Bang Haji, shalawat adalah ajakan untuk mengenal dan mencintai sosok baginda Nabi Muhamaad SAW. Kegemaran bershalawat adalah di antara manifestasi kecintaan kepada beliau. 

"Apalagi Allah telah memberikan jaminan akan dibalasnya shalawat kita dengan berkali lipat," katanya seraya menyitir sebuah hadits.

Bersama sejumlah kiai dan tokoh serta jamaah yang hadir, Bang Haji melantunkan Shalwat Badar. Suaranya yang khas benar-benar mampu membawa jamaah melantunkan shalawat tersebut dengan khidmat.

Sebelum ke pesantren ini, Bang Haji  berada di Tuban,  bertemu Bupati Tuban Fathul Huda, yang  dilanjutkan  silaturahmi dengan  pengasuh dan santri Pondok Pesantren Langitan, Tuban, yang langsung dilanjutkan untuk berziarah ke makam KH Abdullah Faqih.

Sebelum ke Denanyar, Rhoma  berziarah ke makan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Pesantren Tebuireng, sekaligus menemui sang pengasuh, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.  

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Daerah, Nasional Haedar Nashir

Senin, 30 September 2013

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Bila Pondok Pesantren Jamsaren diklaim sebagai pondok pesantren tertua di Pulau Jawa, barangkali memang ada benarnya. Sebab, pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Veteran 263 Serengan Solo ini sudah berdiri sekitar tahun 1750.

Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas), Kiai Hasan Gabudan dan lain sebagainya. Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamsaren: Pesantren Tertua di Surakarta

Namun sayangnya, meskipun pernah disinggahi banyak ulama besar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Pondok Jamsaren hampir tak terlihat lagi kultur ke-Aswajaannya. Hal ini menurut penghulu kraton disebabkan karena pada perkembangannya jarang ada ulama, khususnya dari golongan ulama Aswaja, yang mau mendekat ke kraton, seperti yang dilakukan wali songo atau ulama kraton zaman dulu.

“Ada semacam terputusnya rantai mata sejarah pada pondok ini,” kata Tafsir Anom, KRT Muh. Muhtarom kepada Haedar Nashir, Sabtu (9/2) lalu.

Haedar Nashir

Pondok Jamsaren juga pernah mengalami masa vakum. Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.

Haedar Nashir

Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau, yang kemudian menjadi pesanren, tersebut. Bangunan pondok dibuat lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula. Bersamaan itu pula Sunan Pakubuwono X mendirikan Madrasah,yang diberi nama Madrasah Mambaul Ulum Surakarta.

Materi yang diajarkan adalah kitab-kitab klasik (kitab kuning) berbahasa Arab dan diterjemahkan dengan bahasa Jawa Pegon (bahasa yang disesuaikan dengan susunan bahasa Arab), seperti Nahwu Shorof, Tajwid, Qiroah, Tafsir, Fiqh, Hadits, Mantiq, Tarikh dan Tasawwuf. Metode pengajaran pun dengan cara sorogan (maju satu per satu), sebagian yang lain dengan cara wekton atau blandongan (cara berkelompok), masing-masing membawa kitab sendiri.

Para santri tidak hanya datang dari Solo sekitar, tetapi juga datang dari daerah lain di Pulau Jawa, di antaranya Tegal, Semarang, Banten, Jombang, dan Mojokerto. Pada 1908, mushala pondok pesantren diganti dengan bangunan masjid tembok dan berlangsung hingga sekarang. Pada 1913, sistem pengajian sorogan diganti dengan sistem kelas.

Mencetak Ulama dan Pemimpin Besar

Dalam perkembangannya, pada tahun 1923 M, KH. Idris wafat (dimakamkan di pajang Makam Haji) kemudian diganti oleh KH. Abu Amar (Kyai Jamsari/Kyai Ngabei projowijoto). Pada tahun 1965 KH.Abu Umar wafat. Beliau digantikan oleh putranya, yang salah satunya di ganti oleh KH. Ali Darokah sebagai ketua.

Pondok jamaren mulai thun 1965-1997, secara langsung dipimpin oleh KH. Ali Darokah yang dibantu oleh pengurus pondok. dimana struktur pondok terdiri dari lurah pondok, sekretaris. bendahara, wali santri pondok, staf pengajar, staf keamanan, dan staf dakwah. Pada tanggal 8 juli 1997 KH. Ali Darokah wafat. Sepeninggal beliau pengelolaan Pondok diserahkan kepada pengurus harian pondok dan pengurus pelaksana harian pondok.

Pada periode ini selain pengajian sistem kelas dengan materi pelajaran agama juga diberi materi pelajaran umum untuk menunjang prestasi santri. Pada tahun pertama santri diwajibkan untuk menghapal juz Amma sebagai alah satu bekal santri dalam kehidupan bermasyarakat kelak. 

Sebagai salah satu institusi pendidikan yang telah ditempa oleh perubahan zaman selama berpuluh-puluh tahun, maka dalam mensikapi dunia pendidikan pada dekade ini. Pondok Pesantren Jamsaren menawarkan suatu alternatif sitem pendidikan dimana santri digembleng dengan pengetahuan pendidikan agama islam di pesantren, di sisi lain santri menuntut ilmu pengetahuan umum di sekolah formal dengan harapan agar kelak menjadi profesional muda yang berjiwa Ulama dan pemimpin yang berguna bagi bangsa, agama dan negara.

Beberapa nama besar pernah lahir dari pondok ini, di antaranya Munawir Sazali (mantan Menteri Agama RI) dan Miftah Farid (Ketua MUI Jabar). Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Jamsaren kemudian bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 17 September 2013

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Penulisan sejarah hidup dan perjuangan ajengan Sunda (Jawa Barat) masih terbilang langka, termasuk di Cianjur. Padahal daerah tersebut banyak melahirkan ajengan yang memiliki jaringan kaliber nasional, bahkan yang dikenal sampai mancanegara.

Perjuangan para ajengan yang senantiasa menjadi pemimpin dan panutan masyarakat tidak kecil. Selain mencerdaskan masyarakat, mereka juga bahkan memperjuangankan dan merebut kemerdekaan. Namun, sekali lagi, peran para ajengan tersebut masih dalam cerita lisan.?

Oleh karena itulah Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin mengupayakan menuliskannya pada buku berjudul “Ulama Jumhur dari Cianjur”. Menurut penulis buku tersebut, pada pengantarnya, memamg sejarah dan perjuangan ajengan terus hidup karena diceritakan dari mulut ke mulut.

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Namun, cerita tersebut dikenal terbatas pada lingkup keluarga pesantren dan para santrinya. Sebagian ada yang dituliskan dalam bentuk selebaran yang dibuat pada momentum haul seorang ajengan, sebagian di beberapa media cetak dan daring. (hal. Xiiv)

Kedua penulis mengaku mendasarkan penulisannya pada sumber tersebut, pihak keluarga dan para santri ajengan-ajengan tersebut.?

Haedar Nashir

Buku menyebutkan, sebetulnya Cianjur dihuni manusia sejak 3000-4000 tahun lalu. Bukti keberadaannya adalah situs gunung Padang, berupa bukit batu megalitikum. Hanya punden berundak itu yang menunjukkan adanya ciri-ciri bahwa manusia pernah ada waktu itu.

Kemudian penulis menarik sejarah pendirian Cianjur dari masa datangnya Dalem Cikundul atau dikenal sebagai Raden Aria Waratanudatar I. Ia adalah putra dari Wangsa Goparana, keturunan Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam.?

Raden Aria Waratanudatar I mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan Islam ke wilayah Priangan Barat dengan menetap di daerah Cianjur sekarang. Ia hijrah ke daerah itu dengan membawa sekitar 313 kepala keluarga.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Gunung Jati, Cirebon. Sehingga suasana keberagamaan Islam di wilayah barunya itu sangat terasa karena dipimpin seorang dalem yang ahli agama. Dalem inilah yang kemudian banyak melahirkan kiai. (hal 8-10).?

Buku ini memuat 25 profil ajengan. Mereka adalah kiai yang lahir di Cianjur dan menyebarkan agama di Cianjur seperti Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi, beberapa kiai kelahiran Cianjur yang terkenal di luar daerah seperti Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh, kiai yang dibuang Belanda ke Cianjur yaitu KH Asnawi Banten, kiai kelahiran daerah lain yang terkenal yang sebelumnya pernah berguru di Cianjur seperti KH Sohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), serta kiai dari luar negeri (Singapura) yang memiliki hubungan dengan Cianjur, Guru Haji Isa.?

Salah satu kiai dalam buku tersebut adalah Mama Ajengan Syatibi. Ia adalah guru dari ajengan-ajengan Jawa Barat. Silsilah leluhur terhubung kepada Rasulullah SAW karena masih keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.?

Pada masa nyantrinya, Mama Ajengan Syatibi dikenal cerdas. Pada usia 16 tahun, ia berguru kepada Mama Ajengan Adzro’i, Garut. Di pesantren tersebut ia mampu menghafalakan kitab Nadhom Al-Maqsud, Kailany, Amrity, Alfiyah ibnu Malik, Samarqandy, Jauhar Maknun, dalam waktu 40 hari.?

Mama Syatibi kemudan berguru kepada Mama Gudang, Tasikmalaya, selama 9 tahun. Kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke tanah suci Makkah, kepada Syekh Hasbullah.?

Ada cerita kecerdasan Mama Syatibi ketika berguru kepada Syekh Hasbullah. Suatu ketika, Syekh Hasbullah meminta semua muridnya untuk meneliti kitab Tuhfatu Muhtaj kemudian menuangkan penelitian tersebut dalam bentuk catatan. Para muridnya mengikuti anjuran tersebut, termasuk Mama Syatibi.?

Keesokan harinya, Syekh Hasbullah memeriksa buku muridnya. Ia tertegun ketika mendapati catatan Mama Syatibi.?

Kemudian Syekh Hasbullah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa pengajian kitab Tuhfatul Muhtaj dibatalkan karena ia harus berguru terlebih dahulu kepada Mama Syatibi. (hal. 26)

Namun sayangnya, buku tersebut tidak melacak secara detil tahun-tahun penting dan karya para ajengan tersebut. Serta banyak salah ketik yang tidak perlu, yang tentunya mengganggu pembaca. Dan tentu saja, sebagaimana diakui penulisnya, masih banyak fragmen hidup kiai yang ditulis yang tidak tercantum. Juga ajengan-ajengan lain yang belum termasuk dalam buku tersebut.?

DATA BUKU

Judul : Ulama Jumhur dari Cianjur

Penulis ? ? ? ? : Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin

Penerbit : Yaspumah Cianjur

Cetakan 1 : 2016?

ISBN : -

Tebal : 120 halaman

Peresensi : Abdullah Alawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Pesantren, Nasional Haedar Nashir

Jumat, 06 September 2013

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Jakarta, Haedar Nashir

Khofifah Indar Parawansa kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama periide 2016-2021. Ia memimpin salah satu badan otonom NU tersebut untuk keempat kalinya dengan cara aklamasi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Jumat (25/11).

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021 (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ditetapkan Pimpin Muslimat NU 2016-2021

Menteri Sosial RI tersebut langsung ditetapkan Pimpinan Sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pimpinan Pusat Muslimat NU 2011-2016 Hj Mahfudloh Ali Ubayd. Pada pukul 01.53, Mahfudloh mengetuk palu sidang tiga kali sebagai penanda sahnya Khofifah menjadi Ketua Umum.

Sebelumnya, seluruh Pimpinan Wilayah menerima tanpa syarat LPJ tersebut. Para Ketua PW juga menyatakan bahwa Pimpinan Cabang di wilayahnya menerima LPJ tersebut sekaligus meminta Khofifah memimpin kembali.

Haedar Nashir

Bukti penerimaan dan dukungan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah dengan menyerahkan berkas tertulis kepada Pimpinan Sidang. Penerimaan dan permintaan tersebut termasuk dari Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia, Sudan, dan Arab Saudi. (Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Olahraga, Nahdlatul Haedar Nashir

Jumat, 16 Agustus 2013

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Pacitan, Haedar Nashir. PCNU Pacitan kembali mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak musibah di dua belas kecamatan di Pacitan. Bantuan diserahkan langsung kepada pengurus MWC-NU dan Banomnya dan kemudian disalurkan kepada warga.

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pacitan Kirim Bantuan di 12 Kecamatan Terdampak Musibah

Saat pemberangkatan distribusi bantuan di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu pagi (23/12). Ketua PCNU KH Mahmud melaporkan, bantuan yang disalurkan ini merupakan bentuk pertanggungjawaban amanah dari warga masyarakat yang turut membantu korban musibah di Pacitan. 

"Sejak musibah  banjir 28 November lalu, NU Pacitan mendirikan posko NU-Care dan LazizNU. Sejak itu bantuan terus mengalir dari warga NU dan masyarakat Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Luar Jawa, bahkan ada dari luar negeri seperti PCINU Hongkong dan Taiwan," katanya.

Kiai Mahmud berterima kasih atas keterlibatan semua pihak yang memiliki kepedulian dan solidaritas tinggi kepada warga yang tertimpa musibah. Selama posko berdiri, PCNU Pacitan menerima berbagai jenis bantuan. Tak terkecuali bantuan dana. "Hingga hari ini pelaporan kita buat. Total dana yang masuk adalah Rp883.025.600 hampir satu miliar. Alhamdulillah," katanya.

Haedar Nashir

Sesuai dengan arahan pengurus NU dan pemerintah kabupaten, dana tersebut akan disalurkan untuk membantu perbaikan fasilitas umum yang bersifat keagamaan.

"Dana ini akan kita salurkan kepada fasilitas umum yang berkaitan dengan keagamaan, seperti masjid, Madrasah Diniyah, MTs Maarif, dan fasilitas umum lainnya," jelasnya.

Selain menyalurkan bantuan logistik, PCNU juga kembali mengirimkan ratusan relawan dari anggota Banser. Mereka membantu di daerah terdampak bencana.

"Hari ini hadir di tengah kita, ratusan anggota Banser dari berbagai daerah di Jawa Timur yang turut membantu di daerah terdampak bencana di Desa Nglinggangan Kecamatan Pringkuku," imbuhnya.

Kiai Mahmud menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kesiapsiagaan Banser selama musibah melanda Pacitan. 

Haedar Nashir

Tampak dalam pemberangkatan distribusi bantuan, sejumlah pengurus PCNU, lembaga dan Badan Otonomnya.

Wakil Bupati Pacitan Yudhi Sumbogo. Selanjutnya, bantuan tersebut dikirim ke seluruh kecamatan dengan menggunakan beberapa kendaraan. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, IMNU Haedar Nashir

Rabu, 07 Agustus 2013

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar

Jakarta, Haedar Nashir - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Daerah Istimewa Yogyakarta sowan kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Mereka diterima di gedung PBNU, Jakarta Jumat sore (5/2).

Wakil Ketua IPNU PW DI Yogyakarta Muhammad Saiful Al Ayyubi mengatakan maksud kedatangannya adalah memintawejangan, dan nasihat Kiai Said. “IPNU Yogya ingin lebih aktif lagi dan sekaligus memperkenalkan pengurus baru masa khidmah 2015-2018,” jelas pimpinan rombongan tersebut.

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Tak Diridhai Allah, NU Pasti Sudah Bubar

Mahasiswa Universitas Islama Negeri Sunan Kalijaga tersebut menambahkan, salah satu permasalahan utama yang dihadapi IPNU Yogyakarta adalah minimnya kader dari Yogya sendiri. Kebanyakan penggeraknya adalah mahasiswa dari berbagai kota.

Menanggapi hal itu, kiai yang akrab disapa Kang Said menyampaikan beberapa hal. Menurut dia, peran IPNU di sekolah-sekolah umum harus lebih ditingkatkan, meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi isu-isu yang sedang berkembang, terus memelihara kearifan lokal yang ada selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam. ?

Haedar Nashir

“Kalau NU tidak diridhai oleh Allah, pasti sudah bubar. Dan yakinlah apa yang kita lakukan untuk NU itu tidak akan sia-sia,” tegas Kiai Said.

Haedar Nashir

Mmenurut dia, buktinya hingga hari ini NU masih tegak berdiri dan semakin besar. Tentu saja seharusnya diiringi semakin besar perannya bagi umat dan bangsa.

Kiai kelahiaran Cirebon ini juga menyinggung Islam Nusantara. Ia menegaskan kepada pelajar NU akan pentingnya menerapkan Islam Nusantara yang ramah, toleran dan menerima budaya lokal.

Karena, lanjutnya, sekarang sangat marak aliran-aliran baru masuk ke Indonesia dan mengusung paham radikalisme agama, sering menyalahkan pihak lain bahkan mengkafirkan. Hal tersebut tidak sesuai dengan agama dan kepribadian bangsa Indonesia. (Ahmad Muchlishon/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Santri Haedar Nashir

Senin, 05 Agustus 2013

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura

Sukoharjo, Haedar Nashir - M Arief Boy Widyanto terpilih sebagai Ketua baru pengurus Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Anak Cabang Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Pria yang akrab disapa Kang Boy itu meneruskan estafet kepemimpinan yang sebelumnya dipegang Ghulam Abdurrahman.

Pada Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Kartasura yang digelar di Baturetno Wonogiri, selama dua hari, Sabtu-Ahad (4-5/3), selain Kang Boy, kandidat lain yang maju untuk menajdi calon ketua, yakni Salim Ukhrowi dan Abid Nurtajjali.

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ya Ahlal Wathan” Jadi Syarat Ketua Pagar Nusa Kartasura

Yang unik, para calon diberikan beberapa syarat, salah satunya dapat menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Ya Ahlal Wathan. Usai beberapa syarat yang lain dipenuhi, dilanjutkan dengan proses pemilihan, yang dilakukan secara terbuka.

Pada akhirnya, mayoritas peserta konferensi memilih Boy untuk menjadi ketua baru Pagar Nusa Kartasura. Dalam sambutannya, Boy meminta agar semua pihak turut mendukung dalam kepengurusan yang ia pimpin.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

"Terima kasih kepada sedulur semua, yang telah mengamanati saya sebagai nahkoda kepengurusan Pagar Nusa Kartasura ini, semoga sedulur-sedulur juga ikut membantu dan berperan aktif dalam pengembangan Pagar Nusa Kartasura ini,” kata dia.

Boy juga memaparkan keinginannya, yakni membuat Pagar Nusa semakin mendunia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, News Haedar Nashir

Minggu, 04 Agustus 2013

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali

Bangkalan, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menggelar doa bersama ziarah menyusul keprihatinan mereka atas becana yang melanda Indonesia belakangan ini. Sebanyak 240 peserta kegiatan ini mengunjungi enam makam wali di Jatim dari Syaikhona Kholil Bangkalan hinga Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik.

Rombongan peziarah merampungkan kegiatan ini Ahad (16/20) dini hari sejak pemberangkatan pada Sabtu pagi. Mereka terdiri dari perwakilan Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Bangkalan dan Pimpnan Cabang GP Ansor Bangkalan sendiri.

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Bencana, GP Ansor Bangkalan Ziarahi Makam Para Wali

Di sejumlah makam tersebut, para pemuda NU ini berdoa untuk keselamatan bangsa secara umum. Mereka juga memanjatkan doa untuk kesuksesan Pemilu 2014 yang sebentar lagi akan dilaksanakan.

Haedar Nashir

“Kita punya kepentingan terhadap keselamatan bangsa dan suksesnya pemilu karena bagaimanapun juga ini terkait masa depan bangsa kita secara keseluruhan,” ujar Ketua PC GP Ansor Bangkalan Hasani Zubair.

Hasani mengatakan, GP Ansor Bangkalan ingin kegiatan ini mampu mendorong generasi muda NU tetap istiqamah dengan praktik keagamaan ala Ahlusunnah wal Jamaah.? Atas suksesnya program ziarah dan doa bersama ini, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada semua anak cabang yang telah berpartisipasi meskipun waktu persiapan yang cukup singkat. (Red: Mahbib)

Haedar Nashir

Foto: suasana tahlil di makam Syaikona Kholil Bangkalan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

Sabtu, 27 Juli 2013

Kapolda Lampung Akan Tindak Jika Pawai HTI Bawa Simbol Anti-NKRI

Bandarlampung, Haedar Nashir



Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI di Kota Bandarlampung, Lampung akan menggelar Masyirah Panji Rasulullah pada Ahad 16 April 2017.?

Kapolda Lampung Irjend Pol Sudjarno menegaskan, pihaknya akan mengambil tindakan jika dalam kegiatan HTI tersebut terdapat bendera atau simbol yang tidak seideologi atau anti-NKRI.

Kapolda Lampung Akan Tindak Jika Pawai HTI Bawa Simbol Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Lampung Akan Tindak Jika Pawai HTI Bawa Simbol Anti-NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Lampung Akan Tindak Jika Pawai HTI Bawa Simbol Anti-NKRI

"Terima kasih kepada GP Ansor dan Banser serta warga NU yang sudah bersama-sama kami menjaga NKRI," ungkapnya saat menemui Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Lampung beserta jajaran, Rabu (12/4).

Kepolisian berharap agar semua elemen tidak melakukan hal-hal di luar ranahnya. "Saya minta Ansor dan Banser untuk mengajak dulu. Artinya semua masih bisa diakomodir dan diatasi oleh Polda," pintanya dan berharap tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama.?

Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim menegaskan bahwa ormas yang mengusung ideologi khilafah jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila. Jika Ormas ini dibiarkan terus berkembang akan menjadi sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI.

Haedar Nashir

Pawai yang juga dilakukan di beberapa provinsi tersebut, menurutnya, seakan-akan ingin mempertunjukkan power dan menantang elemen yang menjaga NKRI.?

"Jika mereka akan mengadakan kegiatan ya silakan. Tapi jangan ada bendera, jangan ada simbol-simbol," katanya dengan meminta Kepolisian untuk mengawasi dan menghentikan jika di dalamnya ada kegiatan penanaman ideologi yang mengancam NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Warta, Nasional, Kyai Haedar Nashir

Kamis, 25 Juli 2013

Solusi Mudah Belajar Ilmu Falak !

Judul: Ilmu Falak Praktis (Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahnya)

Penulis : Ahmad Izzuddin

Penerbit: Pustaka Rizki Putra

Solusi Mudah Belajar Ilmu Falak ! (Sumber Gambar : Nu Online)
Solusi Mudah Belajar Ilmu Falak ! (Sumber Gambar : Nu Online)

Solusi Mudah Belajar Ilmu Falak !

Cetakan: Pertama, Agustus 2012

Tebal: 291 halaman

ISBN: 978-979-9430-77-9

Haedar Nashir

Harga : Rp. 40.000,-

Peresensi: Dito Alif Pratama

Kemanakah kiblat shalat kita, Kapankah awal waktu Shalat, kapankah awal dan akhir Ramadhan, apakah terjadi perbedan, kapankah kita disunnahkan shalat gerhana matahari dan gerhana bulan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari pertanyaan dalam kajian ilmu Falak yang kerap memberi kesan di masyarakat bahwa ilmu Falak itu sulit dan rumit.

Haedar Nashir

Saya rasa, pertanyaan semacam itu bukan lagi persoalan yang harus terus dibincang. Dengan semakin majunya tekhnologi dan banyaknya ilmuwan dan pemerhati Falak, ssudah barang tentu akan makin tambah semakin banyak terobosan, langkah serta solusi mudah mempelajari ilmu falak.

Salah satunya adalah buku ini, sebuah buku mahakarya hasil analisis dan pemikiran Ahmad Izzuddin berjudul Ilmu Falak Praktis: Metode Hisab-Rukyat Praktis dan Solusi Permasalahanya, mencoba menepis anggapan ilmu Falak itu sulit dan membingungkan, ia hendak menegaskan kepada masyarakat luas bahwa mempelajari ilmu Falak itu mudah dan harus terus dikembangkan. 

Di awal buku ini ia coba paparkan sekilas tentang pengertian ilmu Falak, dalam pandanganya ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit, khususnya bumi, bulan, dan matahari pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi. Sejatinya  ilmu Falak merupakan ilmu penting yang juga harus dikuasai demi memenuhi hajat hidup manusia modern saat ini, khususnya masyarakat Muslim untuk memenuhi hajat ibadah mereka, mulai dari persoalan menghadap arah kiblat, menentukan waktu shalat, awal bulan Qomariyah hingga penentuan awal dan akhir gerhana bulan dan matahari.

Dalam hal menentukan arah kiblat misalnya, ia coba tawarkan cara mudah menentukan arah kiblat secara praktis dan tanpa mengeluarkan banyak biaya, yaitu metodeTongkat istiwa.dengan metode ini, kita cukup dengan hanya meletakkan sebuah tongkat di tanah yang bidang dan terkena sinar matahari, dalam kurun waktu tertentu kita akan bisa menentukan arah kiblat dengan sangat mudah. Tongkat Istiwa pun dapat dikatakan cara yang lebih teliti daripada sebelumnya. Hal ini dikarenakan cara ini menggunakan alam sebagai media untuk menentukan koordinat geografis. (Hlm. 32)

Dalam buku ini, Izzuddin juga coba paparkan beberapa software dan progam penunjang kemudahan belajar dan memahami ilmu Falak, seperti software mudah menetukan arah kiblat dan langkah-langkah menggunakanya, antara lain, Qibla Locator, Google Earth, Mawaqiit, Al-Miiqat, dan sebagainya (Hlm. 74)

Izzuddin yang juga merupakan Doktor ilmu Falak pertama di IAIN Walisongo Semarang hendak menyapa masyarakat luas untuk mau mempelajari ilmu Falak bersama-sama, terlebih agar masyarakat bisa mempunyai pondasi dan ilmu falak yang nantinya menunjang kepribadian mereka untuk semakin bijak ketika dihadapkan dengan persoalan sosial yang terjadi, khususnya dalam menyikapi perbedaan penentuan awal bulan Qomariyah.

Dalam buku ini, Izzuddin coba menawarkan sebuah solusi ampuh guna menyamakan persepsi tersebut. Solusi yang hendak disampaikan adalah bagaimana mengkompomikan dua mazhab besar yang metode nya berbeda, yaitu hisab dan rukyah, dengan kata lain menghisabkan rukyah dan merukyahkan hisab.

Dalam pandanganya, dua metode yakni hisab dan rukyah merupakan dua metode yang saling melengkapi. Metode hisab sebagai prediksi sebelumnya masih berstatus hipotesis verifikatif yang masih memerlukan observasi (rukyah) sehingga kontinyuitas rukyat dengan dibuktikan dengan hasil hisab harus selalu dilakukan setiap akhir bulam Qomariyah sehingga tidak terbatas rukyat pada akhir bulan Sya’ban, akhir bulan Ramadhan, dan akhir bulan Dzulqo’dah. Pada akhirnya, standarisasi ketinggian hilal (irtifa’ul hilal) dapat dihasilkan sebagai hasil kompromi metode hisab dan rukyah secara empiris ilmiah. (Hlm.145)

Semuanya akan bisa terealisasikan manakala didukung dengan sikap lapang dada tiap-tiap ormas, tidak mengedepankan ego golongan dan yang terepenting adalah mau bersatu menyatukan persepsi demi sebuah kebersamaan. 

Ditulis dengan gaya tulisan bahasa yang renyah dan mudah dicerna, Buku ini hendak memberikan pencerahan bagi masyarakat, tidak hanya kaum akademisi tetapi juga masyarakat awam akan solusi mudah mempelajari ilmu Falak. Buku ini layak dibaca oleh masyarakat, terlebih mereka yang ingin mendalami ilmu falak, Agar kedepanya ilmu falak bisa terus dikembang dan dilestarikan.

* Pemerhati Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Jakarta, Haedar Nashir



Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Rabu (16/11) petang, berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Ia menyampaikan keprihatinan terhadap aksi demo 4 November lalu yang semula damai namun berakhir ricuh pada malam harinya.

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Ia menjelaskan bagaimana sejumlah oknun pendemo menggunakan bambu runcing dan beberapa alat lainnya untuk melukai polisi. Polisi, katanya, menyadari bahwa ada pihak tertentu yang memang menginginkan aksi demo berujung rusuh. Karenanya, polisi saat itu berusaha hanya bertahan untuk menghindari ketegangan yang kian panas.

"Akhirnya banyak sekali anak buah kami yang menjadi korban," tuturnya di hadapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waktum PBNU H Maksum Mahfudz, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU Eman Suryaman, dan beberapa pengurus lainnya.

Ia secara khusus juga meminta PBNU untuk mendinginkan suasana menyusul belum tuntasnya polemik soal pernyataan gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang berujung demo hingga dua kali di Ibu Kota. Ia berharap tak ada demo susulan.

Haedar Nashir

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyambut baik kunjungan Kapolda Mtro Jaya. NU, katanya, sejak awal berkomitmen untuk meredam situasi agar tak berakhir rusuh. "PBNU percayakan kepada proses hukum," tegasnya.

Ia menilai aksi demo susulan sudah di luar persoalan kasus penistaan agama apabila targetnya adalah memaksa polisi untuk menahan Ahok sebagaimana kabar yang ia dengar. Menurutnya, langkah tersebut adalah bentuk tidak menghargai proses hukum.

Haedar Nashir

Sikap PBNU ini juga selaras dengan seruan Kapolda Metro Jaya agar masyarakat tenang dan tidak melakukan tekanan pada proses hukum. "Apalagi kalau terkait (desakan politik kepada, red) petinggi negara, aksi ini berarti sudah inkonstitusional," tambah Iriawan.

Iriawan saat itu didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya Brigjend Suntana, Direktur Intelkam PMJ Kombes Merdisyam, Kapolres Metro Jakpus Kombes Dwiyono, dan Korspripim PMJ AKBP Arsal. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Pemurnian Aqidah, RMI NU Haedar Nashir

Selasa, 16 Juli 2013

PMII Umaha Kader Mahasiswa Baru Jadi Generasi Inklusif

Pasuruan, Haedar Nashir. Di tengah isu intoleransi di Indonesia tahun 2015 ini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo mengadakan Mapaba (Masa Kesetiaan Anggota) ke-14 dengan mengangkat tema "Mewujudkan Generasi Intelektualis, Inklusif dan Demokratis".

PMII Umaha Kader Mahasiswa Baru Jadi Generasi Inklusif (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Umaha Kader Mahasiswa Baru Jadi Generasi Inklusif (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Umaha Kader Mahasiswa Baru Jadi Generasi Inklusif

Mapaba kali ini dilaksanakan pada Jumat hingga Ahad, 13-15 November 2015, di Pondok Pesantren Al-Karomah Ketanireng Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Sedikitnya 60 mahasiswa mengikuti masa penerimaan angota baru PMII tersebut.

Selama dua hari, para peserta mendapatkan materi seputar ke-PMII-an, Islam Nusantara (ke-Aswaja-an), nilai dasar pergerakan (NDP), sejarah negara bangsa Indonesia, mahasiswa dan tanggung jawab sosial, serta studi gender.

Haedar Nashir

Ketua komisariat PMII Umaha Doni S Nugroho berharap, kampus yang baru saja resmi menjadi universitas itu dapat menjadi punggawa penting dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama. "Dimulai dengan mengader maba (mahasiswa baru) menjadi agen ‘penular ajaran’ Ahlussunnah wal Jamaah An-nahdliyah dengan Mapaba PMII ke-14 ini, Umaha mampu menjadi punggawa," harap Doni, Senin (16/11).

Haedar Nashir

Ketua PC PMII Sidoarjo Gigin Anggi Zuarinsa mengungkapkan, pihaknya berupaya membantu pengurus komisariat agar 60 orang tersebut tetap utuh hingga menjadi kader di dalam proses PKD (Pelatihan kader dasar) selama 6 bulan ke depan.

"Insya Allah kami akan launching buku kendali pengembangan diri anggota untuk memonitor sejauh mana keyakinan anggota menjadi anggota mutaqid PMII. Penilaian tersebut berdasarkan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik," ungkap Gigin. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Sabtu, 13 Juli 2013

Kang Said Tinjau Pembangunan Gedung NU Sulsel

Makassar, Haedar Nashir. Selain melantik pengurus NU Makassar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang kerap disebut Kang Said mengunjungi pembangunan pusat kegiatan NU Sulawesi Selatan, Selasa (13/5) siang. Kang Said mengucapkan rasa syukurnya di hadapan jajaran pengurus NU Sulsel atas penyelesaian pembangunan yang sudah mencapai 85%.

Kang Said Tinjau Pembangunan Gedung NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Tinjau Pembangunan Gedung NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Tinjau Pembangunan Gedung NU Sulsel

Didampingi jajaran pengurus NU Sulsel, Kang Said meninjau pembangunan gedung bersama civitas akademika Universitas Islam Makassar (UIM). Ketua panitia pembangunan tidak lain Rektor UIM Ibu Andi Majdah M Zain.

Dalam sambutan Ibu Andi Majdah menjelaskan sejarah berdirinya UIM. Di hadapan Ketua Umum PBNU, Ibu Andi Majdah mengatakan UIM pertama kali dirintis para ulama NU di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali.

Haedar Nashir

“Pada tahun 2011 perguruan ini disahkan dengan status kepemilikannya dipegang NU Sulsel di mana sebelumnya belum secara tertulis milik NU,” kata Ibu Andi Majdah dengan bangga.?

Haedar Nashir

Ia melanjutkan, kemajuan pendidikan NU khususnya perkembangan UIM menjadi kesyukuran tersendiri bagi pengurus Nahdlatul Ulama. “Kami akan mengawal kemajuan UIM untuk menjadinya lebih baik.” (Andi M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Senin, 08 Juli 2013

Kader PMII ini Bikin Power Bank dari Batu Batrai

Mataram, Haedar Nashir. Salah seorang mahasiswa kreatif yang ada di salah satu perguruan tinggi di Nusa Tenggara? Barat (NTB) adalah Muhammad Nur. Mahasiswa IKIP Mataram semester 6 Jurusan Pendidikan Fisika ini menciptakan sebuah Inovasi baru yakni power bank dari tenaga Batrai.

Mahasiswa kelahiran Sumbawa 21 Maret 1993 dari pasangan Syamsuddin dan Nurmin dari tiga orang bersaudara ini aktif di Organisasi Lendiknal (Lembaga Pendidik Profesional) sebagai ketua umum dan Pergerkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Budi Utomo sebagai ketua kaderisasi Komisariat IKIP Mataram. Ia membuktikan bahwa mahasiswa organisatoris juga mampu berprestasi dalam kreatifitas. ?

Kader PMII ini Bikin Power Bank dari Batu Batrai (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII ini Bikin Power Bank dari Batu Batrai (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII ini Bikin Power Bank dari Batu Batrai

Berawal dari tugas kuliah yang diberikan salah seorang Dosen di IKIP Mataram, Nur panggilan akrabnya melihat penggunaan Handphone dan gedget yang sangat luar biasa meningkat. Kebanyakan orang hari ini tidak bisa lepas dari yang namanya handphone dan gedget.

Haedar Nashir

Percobaan pertama kemudian dilakukan dengan membuat Catur (Cas Tenaga Surya). Percobaan-percobaan demi percobaan dalam membuat catur ini tetapi kemudian mendapat kendala yakni tenaga yang dihasilkan dari panel surya yang dibuat hanya menghasilkan 2 volt sedangkan dalam pengecasan hp dibutuhkan tenaga sekitar 5 volt.

Gagal bukan berarti menyerah kepada kekalahan melainkan menjadikan itu sebagai referensi untuk percobaan selanjutnya. Mulai dari coba-coba menggantikan tenaga surya dengan tenaga batrai yang kemudian dirangkai dengan rangkaian seri power bank dan itu berhasil dilakukan.

Haedar Nashir

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan rangkaian ini sangat simpel dan mudah dicari, ditoko elektronik. Alat-alatnya antara lain Dioda 1N001, C L7805 / transistor, Capasitor 16 Volt 100?F, Resistor 100 ohm ½ watt ,Resistor 1 kilo ½ watt, LED, Soket USB, Saklar mini dan? Baterai 9 volt atau 12 volt. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Kabel, Papan USB, Gunting / tang potong, Solder dan Timah, sedangkan untuk kasing dibuat dari bekas kartu perdana.

Menurut Nur dana yang dibutuhkan dalam pembuatan power bank ini hanya menghabiskan 15 ribu rupiah sangat ekonomis jika kita bandingkan dengan power bank biasa yang harganya sampai 150 ribuan.

Kelebihan dari power bank yang dibuat dari tenaga batrai ini adalah dapat mengecas HP untuk beberapa kali, Baterai hp tidak akan mengalami drop dengan sumber DC yang kecil, dapat dibuat sendiri tentunya dengan harga yang murah dan baterai dapat diganti dengan mudah. Cocok sekali bagi anda yang berpergian jauh ke gunung hanya membawa batrai yang bisa di ganti-ganti dan hp anda tetap bisa digunakan tentunya.

Dengan inovasi yang dibuat oleh mahasiwa M. Nur ini berhasil menjadi juara dalam lomba Karya Ilmiah diberbagai event. Sekarang dia menjadi tutor di salah satu sekolah Madrasah Aliyah Negeri di Kota Matram hanya untuk mengajarkan anak-anak siswa membuat power bank dari tenaga batrai ini.

Harapannya kepada pemerintah adalah mendapatkan bantuan dalam pengerjaan karyanya. Menurutnya, karyanya ini masih banyak kekurangan yang harus disempurnakan lagi untuk kedepannya dan berkeinginan untuk diproduksi masal sehingga pemanfaatan energi yang seperti ini bisa dilakukan sehingga bisa menghemat energi listrik.

Yas Arman Prayatna, sekertaris bidang kaderisasi PC PMII Mataram, mahasiswa akhir IKIP Mataram

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 28 Juni 2013

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Takmir Masjid-PBNU menggelar acara Shalawat Nariyah dan Pelatihan Takmir Masjid se-Jakarta Selatan angkatan ke-1 bersama Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj.

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said

?

Acara yang bertempat di PP Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diasuh oleh Kiai Said Aqil Siroj ini selain diikuti oleh puluhan ta’mir masjid dari Kecamatan Jagakarsa, juga dihadiri oleh utusan LTM PCNU Kab. Bogor, LTM PCNU Kab. Tegal, dan puluhan ta’mir masjid dari Kota Tangerang.

Rangkaian acara ini diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 5 paket di mana satu paketnya sebanyak 4444 kali shalawat.

Haedar Nashir

“Shalawat Nariyah memiliki banyak faedah. Jika membaca shalawat ini maka apa yang dicita-citakan akan terkabul secara cepat, juga bermanfaat sebagai tolak bala,” kata Kiai Said Aqil seusia pembacaan shalawat.

Selepas pembacaan shalawat, acara langsung dilanjutkaan dengan Pelatihan. Hadir dalam pelatihan ini KH Abdul Manan A. Ghani (Ketua PBNU Bidang Masjid dan Dakwah), H Mansur Syaerozi (Ketua LTM PBNU), KH. Sholeh Qosim (Wakil Ketua LTM PBNU), dan Ustadz Iwan, seorang muharrik masjid dari Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor.

Kiai Manan menegaskan betapa pentingnya masjid dalam sejarah Islam. “Islam lahir dari masjid dan dikembangkan melalui masjid,” jelasnya.?

Haedar Nashir

“Masjid merupakan pusat pergerakan dan penyebaran agama Islam. Dimulai dari Masjid Quba, lalu Masjid Nabawi, dan seterusnya,” imbuh Kiai Manan.

Sementara itu H Mansur menjelaskan perihal pentingnya masjid untuk beroperasi secara mandiri. Melalui tema Membangun Kemandirian Keuangan Masjid, Mansur menyatakan bahwa peredaran uang terbesar ada di masyarakat.?

“Untuk menjalankan roda pemerintahan, negara menyusun APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). APBN tidak lain diperoleh dari rakyat, minta ke masyarakat, melalui pajak dan cukai,” jelas Mansur.

“Oleh karena itu, ta’mir masjid harus mendekati masyarakat, mendekati jamaahnya, tidak lain dengan program-program yang mereka butuhkan,” tambahnya.

Setelah itu Mansur menjelaskan strategi pendapatan masjid melalui Gismas (Gerakan Infak Sedekah Memakmurkan Masjid dan Masyarakat).

Penjelasan Mansur dilanjutkan oleh Ustadz Iwan yang memberikan testimoni proses perjuangan bagaimana menggerakkan Gismas di Kecamatan Tenjo.

“Ada ustadz yang tidak setuju, ada yang menuduh uangnya akan saya ambil, ada yang marah lalu meremas kaleng Gismas sampai peot dan membantingnya ke tanah di hadapan saya,” papar Ustadz Iwan.

“Saya tidak marah. Saya hanya menanggapinya dengan pertanyaan detail ada berapa fakir miskin dan yatim piatu di daerah situ, dan apakah sudah ada jalan untuk membantunya,” tambahnya.

“Dari situ biasanya mereka mulai terbuka,” imbuhnya.

Acara pelatihan ini dilanjutkan dengan tanya jawab dan masukan-masukan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kemasjidan.

Acara ini ditutup langsung oleh Ketua Umum PBNU. Disampaikan oleh Kiai Said dalam sesi penutupan bahwa pembacaan Shalawat Nariyah sudah mencapai lebih dari satu milyar dari target yang direncanakan.

“Sepuluh persen saja yang ikhlas, dan yang dikabulkan, itu sudah mampu menyelamatkan kita dan membawa keberkahan bagi Indonesia,” tutup Kiai Said yang kemudian dilanjutkan doa dan salam-salaman yang diiringi Shalawat Badar. Red: Mukafi Niam ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Pertandingan, Santri Haedar Nashir

Senin, 24 Juni 2013

Ratusan Anak Jalanan Bersholawat di Alun-alun Karanganyar

Karanganyar, Haedar Nashir. Shalawat terbukti tak hanya diminati kalangan santri. Ratusan anak jalanan di Karanganyar pun ikut bershalawat bersama ribuan masyarakat Karanganyar di Alun-alun Karanganyar, Jawa Tengah.

Para jamaah yang juga berasal dari luar Karanganyar ini sengaja datang,? Sabtu (8/3) malam,? untuk menggemakan salawat di Bumi Intanpari bersama Mafia Salawat pimpinan KH Muhammad Ali Shadiqin.

Ratusan Anak Jalanan Bersholawat di Alun-alun Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Anak Jalanan Bersholawat di Alun-alun Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Anak Jalanan Bersholawat di Alun-alun Karanganyar

Uniknya, dalam acara Karanganyar Bersalawat dengan tema Manunggaling Fikiran lan Ati ing Dalem Salawat ini sebagian besar jamaah yang hadir bukan saja dari kalangan yang berpakaian busana muslim seperti pengajian pada umumnya. Kebanyakan justru memakai kaus hitam bertuliskan Mafia Salawat.

Haedar Nashir

“Ini campur, ada anak jalanan dan macam-macam. Kemarin kita nyebar kaus 300 itu kurang. Jadi memang antusias sekali,” kata Wakil Ketua Mafia Salawat, Pramono Jati di sela-sela acara.

Haedar Nashir

Sementara itu, Gus Ali dalam ceramahnya terus mengajak agar seluruh elemen masyarakat, termasuk anak jalanan yang telah tergabung dalam Mafia Salawat ini untuk semakin menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw.

Selain itu, ia juga menegaskan agar tetap mempertahankan NKRI bagaimanapun kondisinya. “Kita doakan leluhur kita. Mereka adalah akar dari bangsa ini. Jangan sampai kita lupa dan meninggalkan NKRI,” kata kiai bergaya metal ini kepada ribuan jamaah. (Ajie/Rodif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Lomba, Hikmah Haedar Nashir

Rabu, 19 Juni 2013

Pasca Pilgub, Warga NU Jatim Diharap Jaga Soliditas

Jakarta, Haedar Nashir

Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf meminta warga NU Jatim menjaga soliditasnya pasca berlangsungnya pemilihan gubernur, Kamis (30/8). Sejumlah kader NU bersaing dalam pilgub tersebut.

Pasca Pilgub, Warga NU Jatim Diharap Jaga Soliditas (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Pilgub, Warga NU Jatim Diharap Jaga Soliditas (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Pilgub, Warga NU Jatim Diharap Jaga Soliditas

Ia berharap perbedaan pilihan dimaknai secara dewasa, dan setelah proses pemilihan tersebut selesai, semuanya kembali kepada aktifitas sehari-hari secara produktif.

“Mari kita tunggu proses akhirnya yang sedang berlangsung. Selanjutnya, kita kembali pada aktifitas sebelumnya, yang bekerja kembali pada pekerjaannya, yang menjadi pengurus NU harus tetap menjaga amanahnya,“ katanya, Jum’at. 

Haedar Nashir

Ia berharap agar semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian akhir penghitungan suara ini menjunjung tinggi politik keadaban. Jangan sampai gaya-gaya politik Machiavelis yang berlangsung sebelum pilgub digunakan.

“Semuanya harus menjunjungi tinggi politik yang berkeadaban. Dan jika ada masalah selesaikan melalui jalur hukum di MK,“ tandasnya.

Haedar Nashir

Berdasarkan hasil sejumlah quick count pasangan Karwo-Syaifullah (Karsa) menang, tetapi pasangan Khofifah-Herman (Berkah) yang diusung PKB juga mengklaim menang berdasarkan perhitungan riil dari saksi-saksi yang diturunkan di lapangan. 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Jumat, 07 Juni 2013

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini

Ponorogo, Haedar Nashir

Berselang dua hari setelah diantik, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Ponorogo mendapat kehormatan untuk mengikuti apel siaga bencana. Apel bertajuk “Apel Gelar Pasukan Satgas Bencana Alam Tahun 2017” ini digelar oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo didukung Kodim dan Polres setempat.

Apel dipimpin Wakil Bupati H. Sudjarno, Rabu (26/7) di lapangan Tengger Desa Slahung Kecamatan Slahung. Kali ini LPBINU Ponorogo mendelegasikan satu kompi relawan dipimpin langsung Ketuanya Ahmad Subeki beserta jajara pengurus harian.

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Ponorogo Libatkan LPBINU Tanggulangi Bencana Sejak Dini

Kepada awak media, Sudjarno mengungkapkan keinginan kuat Pemkab Ponorogo beserta seluruh aparat dan komponen masyarakat untuk mengantisipasi bencana alam sejak dini.

Haedar Nashir

“Saat ini di Ponorogo mulai terjadi bencana alam, utamanya kebakaran hutan. Bahkan, semua musim di sini ada ancaman bencana. Kita sudah koordinasi dengan pemerintah pusat. Yang terpenting, kita harus selalu selalu siaga, maka hari ini kita gelar apel ini. Kita sadari, SDM kita masih kurang, untuk itu seluruh komponen masyarakat akan kita ajak berperan serta,” katanya usai memimpin apel.

Perlu diketahui, PCNU Ponorogo resmi melantik LPBINU dalam forum pembukaan rapat kerja, Sabtu (22/7), di Hotel Sukowati Sarangan Magetan. PCNU menunjuk Ahmad Subeki atau yang akrab dipanggil Kalibek sebagai ketua untuk masa khidmat 2017-2019. Mantan Kasatkorcab Banser Ponorogo yang masih aktif di Satkorwil dan Satkornas Banser ini didampingi mantan Sekretaris PW IPNU Jawa Timur Novi Trihartanto sebagai sekretaris.

Haedar Nashir

Selain terdapat wakil Sekretaris, bendahara dan para wakilnya, jajaran pengurus harian juga terdiri dari 6 orang direktur yang membawahi bidang dan relawan. Tak kurang dari 100 orang yang berasal dari para aktivis GP Ansor, Banser, Pagar Nusa, LAZISNU, IPNU, dan IPPNU dilibatkan sebagai pengurus bidang dan relawan.

Ke depan Ahmad Subeki mengungkapkan komitmennya untuk membawa LPBINU menjadi lembaga yang profesional dan akan selalu membangun sinergi dengan lembaga-lembaga lain dan Banom NU.

“Kami tegaskan, LPBINU ini adalah bapaknya penanganan bencana oleh PCNU, adapun lembaga-lembaga di bawah Banom lain adalah anak-cucunya. Untuk itu kita harus membangun sinergi agar tampil profesional,” kata Kalibek berkelakar, disambut gelak tawa para relawan LPBINU.

Berbekal Renstra dan Renop yang disusun saat raker, Ahad (23/7), untuk tahap awal LPBINU akan membenahi administrasi kelembagaan dan mengadakan audiensi dengan para pemangku kepentingan. (Idham/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Hikmah Haedar Nashir