Rabu, 19 Desember 2012

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

Jakarta, Haedar Nashir



Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta para demonstran memahami prosedur hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masih sedang berjalan.

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

"Tentu proses hukum kan tidak bisa seperti membalik telapak tangan ya, perlu ada tahapan yang harus dilampaui, ada pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan, sampai lalu dibawa ke pengadilan," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Gerbang Wisma Negara Jakarta, Jumat.

Ia juga menegaskan bahwa bukan berarti pemerintah tidak menghormati dan menempuh jalur hukum.

"Proses hukum ini sudah berlangsung, bahkan Polri kemarin sudah mengatakan sudah dilayangkan undangan kepada yang bersangkutan, Senin mendatang," katanya.

Haedar Nashir

Menurut Menag, beberapa saksi sudah dipanggil dan dimintai keterangan.

"Pemerintah sadar menengahi sengketa apakah yang bersangkutan sudah menodai agama atau tidak, itu hukum yang jawab. Kita harus komitmen tunduk dan patuhi hasil hukum. Apapun keputusan hakim melalui pengadilan, kita harus tunduk dan menghormatinya," katanya.

Ia juga mengatakan, unjuk rasa besar yang digelar 4 November 2016 tidak akan mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan.

Menag berharap para hakim tetap memiliki kearifan dan indenpendensi selain juga integritas yang ada dalam diri untuk mengatasi dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

"Tentu, hakim haruslah merdeka sehingga betul-betul nanti saat mengambil putusan, adalah putusan berdasarkan fakta-fakta, berdasarkan fakta hukum dan juga, sejumlah keterangan para saksi, baik saksi yang ikut menyaksikan peristiwa itu, maupun saksi ahli sehingga kemudian betul-betul objektif untuk memenuhi rasa keadilan kita semua," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Nahdlatul, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 13 November 2012

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren

Surabaya, Haedar Nashir. Rencana perbaikan program kaderisasi dan penyusunan kurikulum pengkaderan dari Pimpinan Cabang IPNU Surabaya langsung direspon dengan cepat oleh Pimpinan Anak Cabang, Ranting dan Komisariat IPNU yang ada di Surabaya.

Salah satunya adalah Pimpinan Komisariat IPNU Pondok pesantren Nyai Hj Ashfiyah yang dengan cepat merespon hal tersebut dengan melaksanakan salah satu program pendidikan anggota yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta).

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren

Agenda ini berlangsung pada tanggal 25-27 Januari 2013 lau di auditorium STAI Ar-Rosyid Surabaya. Kegiatan yang diikuti sekitar 35 peserta yang berasal dari para santri-santriwati pesantren ini terselenggara atas inisiatif para pengurus PK IPNU Pesantren Nyai Hj Ashiyah serta dukungan dari pengurus PAC IPNU-IPPNU Sambikerep, serta para alumni Pondok pesantren yang pernah berproses di IPNU maupun IPPNU.

Haedar Nashir

Acara Masa kesetiaan anggota, merupakan pintu gerbang awal yang harus dilalui calon anggota sebelum memasuki organisasi IPNU dan IPPNU, hal ini dilakukan untuk memberikan bekal pengetahuan tentang IPNU-IPPNU dan dasar-dasar keorganisasian bagi calon anggota.

Haedar Nashir

“Sudah lama kami menyiapkan secara matang kegiatan, ini dengan harapan agar nantinya proses kaderisasi di tubuh PC IPNU Surabaya khususnya, yang selama ini masih sangat kurang menyentuh lembaga pendidikan seperti pesantren bisa kembali bergairah untuk menengok kembali pesantren sebagai basis kader untuk IPNU maupun IPPNU,” kata Ketua PK IPNU Pesantren Nyai Hj Ashfiyah, Kholid Affandi.

Acara ini dihadiri langsung oleh Mundir, Ketua PC IPNU Surabaya, para senior serta alumni PAC IPNU-IPPNU Sambikerep dan perwakilan dari pengurus Pondok Pesantren.

Selama proses pendidikan, para peserta ? yang rata-rata masih duduk di bangku aliyah dan mahasiswa semester awal, mengaku sangat senang karena banyak menerima pengetahuan baru di forum ini.

“Saya sangat senang mengikuti forum-forum seperti ini, karena mendapat banyak wacana-wacana baru yang bisa saya jadikan bekal awal untuk memasuki dunia mahasiswa,” kata Wafiq Azizah, salah satu peserta yang juga mahasiswi semester awal STAI Arrosyid di sela-sela acara penutupan kegiatan.

Acara Makesta ini diakhiri dengan proses pembai’atan atau pengambilan sumpah setia kepada organisasi yang dipimpin langsung oleh ketua PAC IPNU, dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan kenang-kenangan dari panitia untuk peserta.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Harun Rosyid

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 01 November 2012

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor

Jakarta, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama merasakan sejumlah dampak buruk liberalisasi yang diterapkan di sektor ekonomi, kebudayaan, dan politik.

Pengalaman selama ini menunjukkan, meski berangkat dari keinginan luhur, liberalisasi telah membuahkan kemiskinan, konflik sosial, dan dekadensi kebudayaan bagi banyak orang.

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor

Menghadapi keresahan ini, Panitia Munas dan Konbes NU 2012 telah menyiapkan serangkaian seminar menjelang puncak acara pada 14-17 September nanti di Pesantren Kempek Cirebon. Isu yang diangkat meliputi sejumlah persoalan aktual di tanah air.

Haedar Nashir

Salah satunya adalah seminar “Dampak Liberalisasi di Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan” yang digelar Ahad (9/9) mendatang di Jakarta. Sebelumnya, seminar “Mengawal Entitas Kebudayaan Indonesia di Tengah Liberalisasi dan Keterbukaan Informasi dan Komunikasi” diadakan di Surabaya, Jumat, sehari lebih awal.

Seperti dijelaskan Panduan Munas dan Konbes NU 2012, liberalisasi telah menimbulkan banyak mudarat. Di sektor politik, liberalisasi kerap menciptakan konflik sosial, terutama tiap menjelang pergantian pemimpin. Di bidang kebudayaan, gempuran informasi yang tak terbatas mengancam hilagnnya jati diri budaya bangsa.

Haedar Nashir

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, NU mengajak untuk kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini,” seru Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Panitia baru-baru ini juga telah menyelenggarakan agenda serupa bertajuk “Dampak Liberalisasi Pertanian dan Pangan” di Makasar, Senin (3/9) lalu. Forum seminar ini mempersoalkan penindasan sekelompok elit yang mewakili kepentingan kapitalisme global terhadap para petani.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Pendidikan Haedar Nashir

Sabtu, 27 Oktober 2012

Media Islam harus dengan Modal Besar

Jakarta, Haedar Nashir. Eksistensi media sekarang ini tidak terlepas dari ketergantungan modal yang kuat. Modal yang besar akan menjadikan kelangsungan semua media juga media Islam itu juga kuat. Karena itu sulit jika hanya dengan semangat idealisme atau ideologi, sebuah media akan bertahan tanpa dibarengi dengan orientasi bisnis, yang akan menghidupi media itu sendiri.



Media Islam  harus dengan Modal Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Islam harus dengan Modal Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Islam harus dengan Modal Besar

Ada beberapa perbandingan sederhana terhadap kelangsungan media Islam tersebut. Misalnya majalah Panji Masyarakat, Umat, Sabili dan lain-lain. Panji dan Ummat sudah tutup. Tinggal Sabili, yang mungkin mengalami kesulitan dana. Demikian pula media Islam yang lain. “Jadi, tanpa modal yang kuat sulit akan berkembang sekarang ini,”kata mantan wartawan Majalah Ummat Ahmad Baso di Jakarta, Rabu.

Namun, anggota Komnas HAM itu menilai apakah media itu dalam arti Islam simbolis atau substantive, di mana eksistensinya itu tidak bisa diukur apakah oplahnya besar atau kecil, bahkan sudah tutup. Besar kecilnya oplah dan jumlah pembaca itu tidak mencerminkan bahwa media itu diterima atau tidak oleh masyarakat. Yang pasti katanya, kelangsungan media itu tetap akan tergantung terhadap kuatnya modal.

Haedar Nashir

Oleh sebab itu, jika tetap harus memperjuangkan idealisme atau ideologi, sebaiknya membuat media berdasarkan segmentasi. Yaitu ada yang hanya berorientasi ideology dan idealisme, umum, bisnis, ekonomi, hiburan dan lain-lain. Katanya, “Dengan segmentasi tersebut, maka media yang satu secara pendanaan bisa membantu media yang lain. Sehingga saling menghidupi dan bukan saling mematikan. Media NU pun harus demikian.”

Haedar Nashir

Dan, segmentasi itu bukan berarti menghalalkan segala cara. Misalnya dengan memasukkan berbagai jenis iklan. Seperti iklan rokok, minuman keras, perjudian, prostitusi dll. “Sebagai satu perbandingan, saya kira media Islam mana pun tidak bisa disejajarkan dengan Kompas, Majalah Tempo, Jawa Pos dll. Media ini eksis karena modal yang kuat,” tutur pengurus Lakpesdam NU ini.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, AlaSantri, Anti Hoax Haedar Nashir

Jumat, 26 Oktober 2012

Semarak Maulid dari Kampung

Jepara, Haedar Nashir. Bait-bait shalawat dilantunkan Suwandi, pemimpin jalannya mauludan. Lalu jamaah menirukan persis seperti yang ia lantunkan.

Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid dari Kampung

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli alaihi wasallim

Haedar Nashir

Ya Rabbi alaihi wasallim

Haedar Nashir

Begitulah semarak peringatan maulid Nabi yang dilakukan di musholla Baitur Rohman desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan mulai Sabtu malam (12/1) hingga 12 hari kedepan. Tidak hanya di musholla, langgar, masjid, majlis taklim dan pesantren melakukan hal serupa. Waktunya bisa siang hari, sehabis maghrib maupun setelah isyak. 

Adapun yang mereka baca adalah shalawat nabi sekaligus maulid al-barjanzi, ad-dibai, simtuth durar dan lain sebagainya. Bagi kelompok yang memiliki alat musik rebana kemeriahan 12 hari mauludan semakin membahana. 

Kiai Khoirul Kamal mewakili nadhir musholla mengungkapkan kegiatan mauludan yang dilaksanakan selama 12 hari di bulan Rabiul Awwal merupakan agenda untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Siapa orangnya yang mengagungkan datangnya maulid nabi kelak akan disyafaati oleh kanjeng Nabi,” jelas Kamal sembari mengutip hadits. 

Kegiatan diawali dengan pembacaan shalawat, maulid, mahallul qiyam dan doa. Setelah itu jamaah diberi jadah, penganan yang dibawa oleh jamaah.

“Di musholla kami yang membawa penganan dibagi setiap malam ada 5 orang plus 2 orang yang membawa teko isi minuman. Itu kami lakukan agar penganan bisa dibagi rata untuk semua jamaah,” papar H Sururil Anwar, sekretaris Musholla. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

Minggu, 21 Oktober 2012

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara

Surabaya, Haedar Nashir. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur baru pertama kali ini mengadakan bazar di bulan Ramadhan. Bazar yang digelar di utara gedung PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Timur No 9 Surabaya, itu diberi nama “Bazar Nusantara”.

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kesejahteraan, NU Jatim Gelar Bazar Nusantara

Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH M Hasan Mutawakkil Alallah yang membuka resmi kegiatan tersebut, Rabu (24/6), memberikan apresiasi terobosan lembaga pimpinan H Arif Afandi itu. "Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir," kata Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya.

Dengan menggunakan sistem ekonomi ritel (eceran) LPNU diharapkan bisa melangkah lebih jauh dalam misi memperkuat ekonomi masyarakat bawah. "Ritel LPNU kami menyakini mampu menciptakan (kesejahteraan) ekonomi masyarakat bawah," tambahnya.

Haedar Nashir

Kiai Mutawakkil berharap, momentum Ramadhan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Menurutnya, Ramadhan adalah satu-satunya bulan dengan perputaran ekonomi yang begitu cepat. Ia menilai langkah LPNU mengadakan Bazar Nusantara sudah tepat, di samping sekaligus untuk menyemarakkan suasana menjelang Muktamar Ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang.

Haedar Nashir

Ke depan bangsa Indonesia akan menghadapi perekonomian global. Di akhir tahun ini, Indonesia memasuki masa perekonomian Asean, di mana impor dan ekspor terbuka lebar. Kalau tidak dihadapi dengan persiapan yang matang, perekonomian Indonesia akan turun dan warga NU yang pertama akan merasakan dampaknya.

"Untuk itu, melalui bazar ini dijadikan pintu masuk perekonomian global dan menghadapi MEA," jelas Kiai Mutakkil. (Rofii Boenawi/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Aswaja, Budaya Haedar Nashir

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro

Sidoarjo, Haedar Nashir. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo bekerja sama dengan Lembaga Kesehatan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LK PWNU) Jawa Timur akan mengerahkan sedikitnya ? 250 personil tim medis pada acara istighotsah kubro PWNU Jawa Timur, di Gelora Delta Sidoarjo, Ahad (9/4) mendatang.

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar dan LKNU Jatim Kerahkan 250 Tim Medis di Istighotsah Kubro

Kepala marketing RSI Siti Hajar Sidoarjo, Riza Ahmadi menjelaskan, dari Siti Hajar Sidoarjo sendiri mengeluarkan 2 tim kesehatan. Tim kesehatan ini akan ditempatkan disebelah panggung utama dan mobil keliling (kesehatan). Masing-masing pos RSI ada timkes, 1 ambulance dan driver, ? 2 perawat serta ? 1 dokter.

"Untuk satu mobil ini diseediakan barangakali ada yang perlu dirujuk ke Rumah Sakit. Tim kesehatan tersebut hasil koordinasi dengan LK PWNU Jawa Timur, selaku lembaga NU yang ? membidangi kesehatan," kata Riza, Kamis (6/4).

Riza mengungkapkan, 250 personil itu di antaranya 10 RS anggota Arsinu (asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama) Jawa Timur, 3 perguruan tinggi kesehatan, 11 ambulans, 50 dokter, 100 para medis dan 100 relawan medis.

Haedar Nashir

Lebih lanjut Riza mengatakan, ada 9 pos kesehatan yang akan ditugaskan di Gelora Delta Sidoarjo, di antaranya pos kesehatan (poskes) RSI Siti Hajar Sidoarjo selaku poskes komando, RS Syuhada Haji Blitar, RSI Unisma Malang dan Rumah Sehat Baznas, RSI Jemursari Surabaya, RSNU Lamongan, RSI Darus Syifa Surabaya, RSNU Jombang dan RSI Sakinah Mojokerto.

Setiap poskes diperkuat 2 mahasiswa fakultas, 2 relawan, 1 Banser. Setiap poskes menyiapkan, 1 ambulance, 1 dokter, 2 paramedis, obat-obatan emergency dan obat-obatan ringan lainnya serta o2 tabung, 1 tenda, bed lipat, ht (handy talky), 1 spanduk posko kesehatan, 2 x-banner, 1 meja dan 3 kursi (akan disiapkan oleh panitia lokal), konsumsi untuk tim medis dan pasien.?

“Untuk timkes yang berada di dalam Gor (poskes 1, poskes 2 dan poskes 3). Ambulance stand by diluar Gor dan disiapkan 20 tandu yang akan dibawa oleh mahasiswa fakultas dan relawan," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kiai, Kajian Sunnah, Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 07 Oktober 2012

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50

Banda Aceh, Haedar Nashir - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh menggelar pelatihan itiqad 50 di aula gedung LPTQ Kadis Syariat Islam Provinsi Aceh, Rabu (23/11). Kedua lembaga ini mencoba melibatkan kalangan muda dalam rangka menguatkan akidah Aswaja.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Kadis Syariat Islam Aceh, Dispora Aceh, unsur PWNU Aceh, PCNU, Fatayat, banom, lembaga dan beberapa perwakilan dari badan eksekutif mahasiswa se-Kota Banda Aceh.

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Generasi Muda, PCNU Banda Aceh Gelar Pelatihan Itiqad 50

Ketua PCNU Kota Banda Aceh Tgk Rusli Daud mengajak seluruh elemen pemerintah khususnya dan masyarakat Kota Banda Aceh pada umumnya untuk melakukan even-even yang dapat menjadikan generasi muda Kota Banda Aceh sebagai generasi yang diprioritaskan dan dapat dibanggakan para pendahulunya.

"Mengingat fenomena dan paradigma yang terjadi, baik secara nasional maupun secara internasional peradaban dekadensi moral sudah merajalela. Adanya isu terorisme dan gerakan-gerakan yang sangat tidak sesuai dengan wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Semua itu dikarenakan dekadensi moral, bobroknya akhlak mereka, lebih-lebih akhlak secara jiwa mereka," kata Tgk Rusli Daud dalam acara yang berlangsung selama sehari penuh.

Haedar Nashir

Acara yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan siswa se Kota Banda Aceh ini diharapkan menjadi pencerahan dan menjadi bukti bahwa mempelajari, mengetahui, dan mengaplikasikan itiqad/aqa’id 50 sangat penting. Hal ini dimaksudkan agar akidah dapat membimbing manusia ke jalan yang benar, sekaligus mendorong mereka untuk mengerjakan ibadah dengan penuh keikhlasan. (Fauzi E/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 27 September 2012

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid!

Subang, Haedar Nashir. Dalam rangka memeriahkan bulan suci Ramadhan sekaligus menyambut Idul Fitri, Masjid Besar Baiturrohman yang berlokasi di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang setiap menjelang idul fitri rutin menggelar kegiatan lomba bedug. Tahun ini kegiatan  digelar pada Senin (5/8) malam.

Demikian disampaikan KH. Agus Syarifudin, Ketua DKM Masjid Besar Baiturrohman Kecamatan Purwadadi dalam sambutannya di acara babak final lomba bedug yang diikuti oleh 10 peserta/kelompok terbaik dari 21 peserta yang sudah diseleksi dalam babak penyisihan pada 2 malam sebelumnya.

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid! (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Kembalikan’ Bedug ke Masjid!

Menurut Haji Agus, demikian ia biasa disapa, salah satu motivasi Masjid Besar Baiturrohman menggelar lomba bedug ini adalah untuk ‘mengembalikan’ bedug ke masjid, sebab sejak bedug ‘diusir’ oleh kelompok yang tidak menyukai keberadaan bedug di masjid, bedug dijadikan sebagai sebuah kesenian Tardug (gitar dan bedug), tardug tersebut sudah berkembang di Kabupaten Subang.

Haedar Nashir

“Kegiatan ini sudah 15 tahun, sejak 1998, dulu bedugnya cuma satu, terus berkembang dan berkembang, ini sebagai upaya untuk mengembalikan bedug ke masjid, mengingatkan kepada masyarakat bahwa tempatnya bedug ini ya di masjid, bukan dimana-mana,” ungkap Wakil Ketua PCNU Subang itu.

Haedar Nashir

Sebab, lanjut Haji Agus, semakin ke sini bedug yang seharusnya mengingatkan shalat dan dzikir kepada Allah, setelah bedug itu ‘diusir’ oleh orang yang membid`ahkan bedug, akhirnya ahli seni memanfaatkan bedug yang ‘diusir’  itu menjadi kesenian tardug, dipakai nyanyi-nyanyi, joged dan lain sebagainya, seharusnya bedug itu dipakai untuk mengingatkan shalat dan dzikir, tardug ini dipakai sebaliknya.

Dalam kegiatan yang memperebutkan total hadiah sebesar 5 juta rupiah tersebut berlangsung meriah, ribuan orang tampak memadati Masjid untuk dapat melihat para peserta lomba dari jarak dekat, menurut Haji Agus, para hadirin ini sengaja dibawa oleh para peserta untuk memberikan doa dan dukungan kepada mereka agar dapat menjadi juara dalam lomba yang disponsori oleh para jamaah masjid dan perusahaan rokok tersebut.

Selain dihadiri oleh para peserta dan supporter, tampak juga KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang yang memimpin doa pembukaan kegiatan, serta para pejabat daerah, mulai dari Kepala Desa se-kecamatan Purwadadi, Camat Purwadadi dan Bupati Subang, H. Ojang Sohandi.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kiai Haedar Nashir

Senin, 17 September 2012

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Oleh Ayung Notonegoro



Salah satu tokoh NU yang paling fenomenal sepanjang sejarah adalah KH Abdul Wahid Hasyim. Putra Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari tersebut, tak hanya menjadi tokoh NU yang militan, tapi juga cerdas dan berintegritas. Perjuangannya tak hanya untuk NU semata, tapi juga untuk bangsa Indonesia. Maka, ketika kecelakaan mobil pada 19 April 1954 itu, merenggut nyawa Menteri Agama pertama Republik ini, menyebabkan luka mendalam bagi bangsa Indonesia. Lebih-lebih bagi warga NU. 

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Kiai Wahid untuk Indonesia

Dalam Muktamar ke-20 NU di Surabaya, lima bulan setelah kejadian tragis tersebut, rasa kehilangan masih tampak jelas di wajah orang-orang NU. Saat sambutan, Rais Aam PBNU  KH Wahab Chasbullah, mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat. 

"Ada kejadian yang sebaiknya kita peringati, sekalipun sangat berat tekanan dan akibatnya dalam hati dan jiwa kita, ialah kejadian yang sangat mengerikan, kejadian wafatnya Saudara Yang Mulia Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, dengan cara yang sangat mengejutkan, akibat dari suatu kecelakaan yang tiada orang dapat mencampurinya. Tiada orang yang mampu berhadapan dengan qodar kepastian yang datang dari langit," ungkap Kiai Wahab. 

Haedar Nashir

Meski demikian, Kiai Wahab tak lantas menyeret Nahdliyin terus-menerus bersedih. Ia menguatkan, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti. "Dahulu, ada seorang ahli syair berkata: Barangsiapa yang tidak mati karena pedang atau senjata lain dalam pertempuran, maka orang itu akan mati juga dengan sebab lain. Bermacam-macam sebab yang mendatangkan kematian, tetapi kematian itu satu," ungkapnya. 

Kemudian ia mengajak para muktamirin yang datang dari seluruh penjuru Nusantara tersebut, untuk meneladani sikap dan perjuangan Kiai Wahid. Perjuangan yang tidak hanya sebatas perjuangan fisik dan pikiran saja, tapi juga dilengkapi dengan perjuangan batiniyah. 

Haedar Nashir

Perjuangan fisik dan pemikiran Kiai Wahid sudah banyak tulisan dan buku yang mengupasnya. Bagaimana kiprahnya di masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, mempersiapkan kemerdekaan dan lebih-lebih di masa perang mempertahankan kemerdekaan. Akan tetapi, tak banyak yang mengupas tentang perjuangan batiniyahnya Kiai Wahid untuk bangsa Indonesia. 

Dalam konteks batiniyah tersebut, salah seorang penyusun Piagam Jakarta itu, memperjuangkan Indonesia dengan bertirakat. Sebagai umat Islam, Kiai Wahid percaya, bahwa segenap ikhtiar harus senantiasa diiringi dengan doa. Dan, doa yang paling ijabah harus disertai dengan laku tirakat. 

Tirakat yang dilakukan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu, adalah puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan sepanjang tahun. Kecuali pada hari-hari yang diharamkan, seperti dua hari raya dan hari tasyrik. Kiai Wahid berjanji pada dirinya sendiri, sebagai permohonan kepada Allah SWT, agar bangsa Indonesia dianugerahi kemerdekaan yang sesungguhnya, terlepas dari pelbagai belenggu, berdaulat sepenuhnya dan diberikan kedamaian dan kesejahteraan. 

Biasanya, ia akan memulai puasa yang cukup panjang dalam situasi-situasi yang genting. Seperti halnya saat terjadi Agresi Militer Kedua Belanda. Saat itu, Belanda bersama pasukan Sekutu mampu menguasai ibu kota Indonesia yang pada saat itu bertempat di Yogyakarta. Sejak kejadian yang berlangsung pada 19 Desember 1948 itulah, Kiai Wahid memulai puasanya. 

Saban hari Kiai Wahid berpuasa hingga ajal menjemputnya saat usianya masih belum genap 40 tahun. Terhitung sejak awal, Kiai Wahid telah berpuasa selama 1500 hari lebih. Sungguh perjuangan yang tak mudah di tengah aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran.

Sebenarnya, puasa yang dilakukan di atas bukanlah yang pertama kalinya. Sepanjang hidupnya, Kiai Wahid kerap kali berpuasa sunnah. Sebagaimana diceritakan oleh KH. Saifuddin Zuhri, junior sekaligus kolega perjuangannya, dalam Authorized KH Saifudin Zuhri: Berangkat dari Pesantren.

Pada medio 1942, terjadi peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Belanda telah terusir dan digantikan oleh Jepang. Tak membawa kebaikan sebagaimana yang dijanjikan, pasukan Dai Nippon tersebut, justru menunjukkan kebengisannya. Seorang tokoh panutan umat Islam di Indonesia, Hadratussyekh Hasyim Asyari ditangkap oleh Jepang.

Tentu saja ini menjadi keguncangan bagi Nahdlatul Ulama karena Kiai Hasyim merupakan sosok sentral di organisasi yang memuliakan para ulama tersebut. Lebih-lebih kepada Kiai Wahid. Selain karena pemimpinnya di NU, Kiai Hasyim juga merupakan ayah kandungnya.

Menghadapi situasi ini, Kiai Wahid tidak hanya mengambil alih tanggung jawab peran-peran ayahandanya dan berupaya membebaskannya, tapi juga mengimbanginya dengan berpuasa. Hingga pada suatu hari, di saat terik matahari begitu menyengat, Kiai Wahid sedang melakukan kunjungan kerja di Sokaraja, Jawa Tengah.

Di kampung halaman Kiai Saifuddin Zuhri tersebut, ia ditawari minum oleh tuan rumah. Namun, dengan sigap Kiai Wahid menolaknya.

“Nanti dulu, sabarlah,” tukasnya seraya memandang Kiai Saifuddin yang sedang minum.

“Berpuasa pada hari yang begini panas? Orang musafir kan dapat rukhsoh?” Goda Kiai Saifuddin yang sebenarnya tahu kalau tamunya tersebut, telah berpuasa sejak beberapa minggu yang lalu.

Di luar dugaan, Kiai Wahab menjawabnya dengan cukup mantap dan layak direnungkan bagi kita semua.





“Laqod shumtu li yaumin huwa aharru minhu,” jawabnya.

Saya berpuasa untuk meningkatkan suatu hari yang lebih panas ketimbang hari ini, yaitu di padang mahsyar kelak!!!

Penulis aktif di Komunitas Pegon yang mengulik hal ihwal pesantren dan NU. Bisa ditemui di akun facebooknya: Ayunk Notonegoro

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 13 September 2012

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Kudus, Haedar Nashir. Pernah suatu ketika Sayidina Utsman bin Affan merasa malu kepada Nabi Muhammad. Perasaan malu itu justru membuat Sayyidina Utsman memborong seluruh barang dagangan yang dilelang pedagang dari Syam. Kisah ini disampaikan oleh KH Sya’roni Achmadi pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsho Menara, Kudus, Kamis (15/6).

“Ceritanya, dulu ketika waktu sholat Jumat dimulai rombongan pedagang dari Syam datang. Itu menyebabkan mayoritas umat Islam lari dan memilih ikut lelang dagangan daripada khutbah Nabi Muhammad SAW,” tutur Kiai Sya’roni mengawali cerita.

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Keprihatinan Sayidina Utsman saat Umat Tinggalkan Khutbah Nabi

Akibatnya, jamaah atau sahabat yang ikut khotbah dan sholat jumat tinggal 12 orang. Seketika itu Sayyidina Utsman merasa malu karena umat lebih memilih dagangan daripada khutbah Nabi.

“Dalam kondisi seperti itu, Sayyidina Utsman langsung ikut lelang dan menawar dengan harga tertinggi,” lanjut Kiai Sya’roni.

KH Sya’roni menjelaskan setiap harga yang ditawarkan pedagang dan disetujui sahabat lain ditawar lebih oleh Sayyidina Utsman. Misalkan harga kain 10 juta Sayyidina Utsman berani membeli 11 juta.

Haedar Nashir

“Kemudian sampai pada harga tertinggi akhirnya Sayyidina Utsman menang lelang. Seluruh barang dagangan terbeli oleh Sayyidina Utsman,” katanya.

Selanjutnya, semua sahabat yang kalah lelang itu meminta agar Sayyidina Utsman mau menjual beberapa kepada para sahabat yang tidak mendapat barang dagangan. Permintaan itu dituruti dengan syarat mau membeli sepuluh kali lipat dari harga belinya.

Sahabat-sahabat yang meminta itu semua tidak berani membelinya. Lalu Sayyidina Utsman bilang jika mau dijual sendiri. Namun, yang terjadi Sayyidina Utsman justru memanggil para fakir miskin dan membagikan barang yang dibeli itu kepada mereka.

Haedar Nashir

“Kok malah ngundang fakir miskin? Oo, dijual kepada Gusti Allah,” ujar Mbah Sya’roni seolah-olah menirukan kata sahabat.

Setelah membagikan itu Sayyidina Utsman berkata kepada sahabat yang tadi ikut lelang. “Memalukan, hanya karena barang dagangan kalian sampai tega meninggalkan khotbah Nabi Muhammad,” kata Mbah Sya’roni menirukan dalam bahasa Jawa.

Pasca kejadian itu setiap waktu sholat jumat tiba para sahabat tidak ada yang berani meninggalkan Khotbah Nabi Muhammad lagi. Kisah ini disampaikan sebagai penjelasan hadits Ana khodimul khaya’ wa Utsman babuha. Artinya Saya (Nabi Muhammad) adalah gudangnya perasaan malu dan Utsman adalah pintunya.

Kisah ini sekaligus menjadi dasar ijtihad madzhab Imam Syafi’i dalam qoul qodim bahwa batas minimal jumlah jamaah sholat jumat adalah 12 orang. Begitu juga menurut madzhab Malikiyah. Namun hukum itu oleh Imam Syafi’I dalam qoul jadid berubah menjadi 40 orang minimal.

“Keterangan Qoul Qodim maksudnya adalah ucapan Imam Syafi’i sebelum memasuki daerah Mesir. Sedangkan Qoul Jadid adalah setelah Imam Syafi’I masuk daerah Mesir. Masing-masing beda hukumnya,” terang Mbah Sya’roni. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Selasa, 04 September 2012

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya

Jakarta, Haedar Nashir. Memperingati satu tahun kepemimpinan Jokowi-JK menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) limpah ruah ke jalan pada Senin (19/10) untuk mengingatkan pemerintah bahwa mereka sudah satu tahun menjadi nakhoda negeri ini, namun kehidupan rakyat semakin susah, ekonomi Indonesia semakin buruk, dan berbagai persoalan sosial terus terjadi.

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana bahwa ada ratusan ribu kader PMII seluruh Indonesia, khususnya di DKI Jakarta turun ke jalan mengkritik kinerja Jokowi-JK sebagaimana diinstruksikan oleh Pengurus Besar (PB) PMII.?

PMII DKI Jakarta bersama PB PMII dan beberapa cabang PMII terdekat seperti PC PMII Ciputat, PC PMII Bekasi dan PC PMII Bogor menggelar demonstrasi di depan istana negara supaya bisa didengar langsung oleh Presiden Jokowi.

Haedar Nashir

"Ratusan ribu kader PMII seluruh Indonesia hari ini turun untuk mengingatkan dan mengevaluasi kerja Jokowi-JK selama 1 tahun ini, khususnya para kader PMII Jakarta yang ada di 35 kampus," tutur Mulyadin.

Haedar Nashir

Mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control tidak boleh lupa dan terlena dengan popularitas kepemimpinan Jokowi-JK, tetapi harus melihat secara jernih dan obyektif semua persoalan yang hadir karena ketidakmampuan pemerintah mengurus rakyatnya.

"Mahasiswa (PMII) mengajak seluruh rakyat untuk menyadari apa saja yang telah diperbuat oleh pemerintah saat ini, kita tidak boleh terlena, apalagi tertidur melihat segala persoalan yang muncul," tegas Mulyadin.

Persoalan yang paling mencolok saat ini adalah soal ekonomi Indonesia yang merosot bahkan hampir terjadi krisis akibat Rupiah yang terus melemah, perusahaan-perusahan mulai mem-PHK-kan karyawannya, terjadi krisis dan konflik sosial seperti di Tolikara Papua dan Singkil Aceh, pembakaran hutan dan bencana asap, serta kebijakan impor pangan yang menyengsarakan para petani.

Atas segala persoalan tersebut, PMII mengindikasikan pemerintah tidak bekerja maksimal mengurus negara dan rakyat. Penyerapan anggaran di kementerian-kementerian pun tidak maksimal untuk kesejahteraan rakyat. Padahal rakyat saat ini sedang susah dimana harga kebutuhan terus naik sejak pencabutan subsisdi BBM oleh pemerintah beberapa bulan lalu. Ironisnya, utang luar negeri terus ditumpuk oleh pemerintah untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur yang tidak menyentuh langsung kesejahteraan rakyat, malah akan membebani rakyat karena utang dibayar oleh rakyat.

"Kita ingat janji Jokowi-JK ketika menaikkan harga BBM bahwa subsisdi BBM akan dialokasikan kepada proyek-proyek infrastruktur, namun faktanya negara ngutang 300 Triliun buat proyek-proyek tersebut, nah mana janji Jokowi-JK? Ke mana uang subsidi BBM? jangan-jangan dikorupsi oleh penguasa!" tegas Mulyadin.

Aksi PMII berjalan lancar dengan berjalan kaki dari stasiun Gambir menuju istana negara. Ratusan mahasiswa bernyanyi dan meneriakkan yel-yel yang dipimpin koorlap aksi melalui mobil komando. Belum lama aksi berjalan di depan istana, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan ratusan polisi. Karena semangat mahasiswa yang menggebu-gebu, mahasiswa mendorong polisi, dan disikapi represif oleh aparat kepolisian. Polisi memukul mahasiswa, menembakkan gas air mata, dan membubarkan massa aksi secara paksa. Ada puluhan mahasiswa yang terluka akibat pukulan dan injakan polisi.

"Kami sangat menyayangkan tindakan represif aparat kepolisian yang membubarkan paksa dengan memukul, menginjak dan menembakkan gas air mata kepada mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi depan istana. Ketua Umum PC PMII Jakarta Pusat sampai terluka parah karena diinjak-injak oleh polisi. Oleh karena itu, kami meminta polisi bertanggungjawab atas pemukulan kader-kader kami," tutur Mulyadin.

"Kami tidak ingin perjuangan kami mengevaluasi 1 tahun pemerintahan Jokowi-JK dinodai dengan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang digaji oleh rakyat," lanjut Mulyadin.

Dalam aksi Evaluasi 1 tahun Pemerintahan Jokowi-JK tersebut, PMII menuntut:

1. Tinjau ulang proyek infrastruktur yg berasal dr pinjaman luar negeri

2. Stabilkan nilai tukar rupiah

3. Percepat serapan APBN

4. Cabut ijin perusahaan pembakar hutan

5. Tolak impor pangan, wujudkan kedaulatan pangan

6. Wujudkan kedamaian beragama, negara harus menjamin hak beragama setiap warga negara

7. Usut tuntas kasus atas nama agama khususnya di Tolikara Papua dan Singkil Aceh. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Ulama, Lomba Haedar Nashir

Minggu, 02 September 2012

Muslimat NU Jember Gelar Pelatihan Pembuatan Tahu Nonlimbah

Jember, Haedar Nashir. Sebagai upaya mempemberdayaan kaum perempuan sekaligus membuka lapangan kerja, Pimpinan Cabang Muslimat NU Jember menggelar pelatihan pembuatan tahu nonlimbah. Pelatihan tersebut digelar Sabtu (6/9) di halaman Kantor PCNU Jember, Jember, Jawa Timur.

Muslimat NU Jember Gelar Pelatihan Pembuatan Tahu Nonlimbah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jember Gelar Pelatihan Pembuatan Tahu Nonlimbah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jember Gelar Pelatihan Pembuatan Tahu Nonlimbah

Peserta yang terdiri dari 35 orang berasal dari perwakilan Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU dan para pengurus harian. Menurut Sekretaris PC Muslimat NU Jember Emi Kusminarni, pelatihan tersebut dimaksudkan untuk memberikan keterampilan bagi para kader NU agar bisa mandiri.

“Saya kira ini bisa kita lakukan. Tidak sulit kok. Sehingga ibu-ibu mempuyai kerja sampingan, dan bisa mandiri,” tuturnya kepada Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Pelatihan ini mendatangkan narasumber Ali Asegaf dari Tim Pesantren Kemandirian Pangan dan Energi Jawa Timur. Pembuatan tahu nonlimbah ini cukup menarik minat peserta. Keterampilan tersebut memungkinkan limbah tahu yang berbahan baku kedelai itu tidak terbuang sia-sia. Semuanya bisa dimanfaatkan.

Misalnya, ampas tahu bisa diolah menjadi perkedel, koya, rolade, dan lainnya. Sementara air perasan tahu bisa diolah jadi minuman segar sari kedelai dengan penambahan rasa sesuai selera. “Jadi tidak ada yang menjadi limbah, yang terbuang sia-sia dari pembuatan tahu ini,” jelas Emi.

Haedar Nashir

Ia berharap agar ke depan bekal keteterampilan yang diperoleh peserta bisa dikembangkan di rumah masing-masing sebagai industri rumahan. “Kalau ilmu ini bisa diterapkan, apalagi bisa ditularkan, insyaallah kita akan menuai hasil,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Mataram, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Abhariyah Jerneng ? Asuhan Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat TGH Ulul Azmi keluar sebagai juara Group A setelah mengungguli Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah dengan skor 2-0 di Stadion Kediri Lombok Barat, Senin (21/9).

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Babak penyisihan Liga Santri Nusantara (LSN) Zona NTB sudah berjalan dua hari dengan jadwal tiga kali pertandingan setiap hari. Pagi satu kali pertandingan dan sore dua kali pertandingan.

Jalannya pertandingan

Haedar Nashir

Kemenangan Abhariyah diraih setelah Hariadi, pemain dengan nomor punggung 6 menjebol gawang Qomarul Huda dari Bagu di babak pertama.

Kemudian di babak kedua, pemain lini tengah, Lalu Zainul Hafidz dari Abhariyah melepaskan tendangan dari luar kotak penalti hingga kembali menjebol gawang lawan. Kedudukan 2-0 bertahan hingga pluit panjang berbunyi tanda pertandingan telah selesai.

Haedar Nashir

Suharto, Pelatih Abhariyah ? menargetkan, timnya bisa meraih kemenangan pada semi final yang akan dihelat Jum’at (25/9).

Guru senior Abhariyah ini juga berspesan kepada pemain asuhannya agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan bermain sportif. "Saya berpesan kepada semua pemain dan para suporter agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan tetap mejaga sportivitas," katanya. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Nahdlatul Ulama, IMNU Haedar Nashir

Selasa, 28 Agustus 2012

Inspektur Bersarung dalam Apel Harlah NU di Pringsewu

Pringsewu, Haedar Nashir. Mengenakan sarung berwarna putih dipadu dengan Seragam batik NU, Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi memimpin Upacara Apel Hari Lahir NU ke 91 di Lapangan Gedung PCNU, Selasa (31/1). Setiap Peserta Apel yang merupakan pengurus NU, Badan otonom dan para siswa Lembaga Maaarif tersebut juga mengenakan seragam masing-masing.

Dalam apel tersebut, H Sujadi mengingatkan seluruh pengurus dan warga NU di Kabupaten Pringsewu untuk senantiasa memegang teguh Qanun Asasi Nahdlatul Ilama yang merupakan Undang-undang Dasar NU dan dibacakan oleh kahdratus Syaikh KH Hasyim Asyari saat didirikannya NU.

Inspektur Bersarung dalam Apel Harlah NU di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Inspektur Bersarung dalam Apel Harlah NU di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Inspektur Bersarung dalam Apel Harlah NU di Pringsewu

Abah Sujadi juga mengingatkan pentingnya memegang teguh Resolusi Jihad yang merupakan cikal bakal penyulut semangat kemerdekaan RI. "Resolusi jihad merupakan ruh dalam memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Mari terus berkhidmah di NU sebagai bentuk upaya memperjuangkan NU untuk indonesia," ajaknya.

Dalam mempertahankan Negara Sujadi juga mengingatkan untuk memegang teguh PBNU yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45. "Dengan mempertahankan NU dan Ahlussunnah wal Jamaah kita terus jaga negara kita. NKRI harga mati," tegasnya.

Ia juga mengingatkan segenap pengurus NU untuk memegang teguh khittah NU yang menjiwai seluruh pergerakan jamaah dan jamiyyah NU. Dengan prinsip berkhidmah  ini warga NU khususnya di Kabupaten Pringsewu akan dapat berkiprah membantu upaya kemaslahatan daerah.

Haedar Nashir

"Dengan kiprah NU di Kabupaten Pringsewu kita optimis akan tercipta Baldatun Thayuibatun warabbun ghafur. Semoga keberkahan akan senantiasa menaungi Jamaah dan Jamiyyah NU Pringsewu," harapnya.

Dalam Apel tersebut juga dilaksanakan pelantikan Pimpinan Anak Cabang Persatuan Guru NU di 9 Kecamatan di Kabupaten Pringsewu oleh Pimpinan Wilayah Pergunu Provinsi Lampung. Selain itu diumumkan pula para  pemenang lomba dai dan daiyyah yang dilaksanakan sehari sebelum Apel Harlah NU sekaligus penyerahan Hadiah dan piala oleh Inspektur Upacara. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Budaya, Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 17 Agustus 2012

Bertemu Kapolres, IPNU Kudus Desak Polisi Cegah Penyakit Masyarakat

Kudus, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus mengadakan audiensi dengan Kapolres daerah setempat Kamis (10/10). PC IPNU yang dipimpin ketuanya Dwi Syaifullah diterima Kepala Polres Kudus AKBP Bambang Murdoko bersama jajarannya.

Bertemu Kapolres, IPNU Kudus Desak Polisi Cegah Penyakit Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu Kapolres, IPNU Kudus Desak Polisi Cegah Penyakit Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu Kapolres, IPNU Kudus Desak Polisi Cegah Penyakit Masyarakat

Bertempat di ruang Polres itu, IPNU meminta pihak kepolisian proaktif melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap penyakit masyarakat, seperti perjudian, minuman keras dan tawuran antarpelajar. IPNU menilai pembiaran atas kondisi ini sangat mempengaruhi prilaku remaja dan pelajar.

“IPNU berharap polres mengawasi tempat-tempat yang berpotensi menjadi sumber-sumber maksiat semacam warung penjual alkohol ataupun bilik warnet yang tertutup,” kata Ketua IPNU Dwi Syaifullah dihadapan Kapolres Kudus.

Haedar Nashir

Pelajar atau remaja, lanjut Dwi, seringkali menjadi korban penyakit masyarakat. Selama ini, IPNU Kudus memberikan advokasi kepada remaja dan pelajar sehingga sering mendapat keluhan dari orang tua bahwa anaknya terkena dampak prilaku negaif.

“Melalui pengawasan dan pencegahan intensif, insya Allah akan mampu mengurangi kenakalan remaja,”imbuhnya.

Haedar Nashir

Kapolres Kudus AKBP Bambang Murdoko menyambut baik permintaan dari IPNU. Menurutnya, sebagai ormas remaja dan pelajar memang seharusnya menjadi pelopor menyuarakan kepentingan masyarakat.

“Kepolisian selalu berupaya melakukan pengawasan melalui operasi  supaya berbagai bentuk penyakit masyarakat,”katanya.

Dalam audiensi itu, jajaran PC IPNU yang menyertai ketua Dwi Syaifullah adalah Sekretaris IPNU Ali Shofi’i, KomandanCBP Kudus Khoirul Anam dan pengurus harian. Sedangkan dari polres antara lain Kapolres Kudus Bambang Murdoko, Wakabinmas Polres Rahma, Kasatlantas bagian Kecelakaan Bambang N. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Syariah Haedar Nashir

Minggu, 12 Agustus 2012

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan

Pekalongan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan dijadwalkan Ahad (29/10) akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) untuk memilih rais dan ketua masa khidmah 2017-2022.

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan

Kegiatan yang akan berlangsung di Gedung Aswaja, Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan dihadiri delegasi dari Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Ranting NU se-Kota Pekalongan. 

Meski sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hasil Muktamar di Jombang Jawa Timur bahwa konferensi cabang dihadiri dan dipilih oleh utusan dari MWC, akan tetapi karena PCNU Kota Pekalongan hanya memilik 4 MWC, maka sesuai dengan aturan PCNU dapat mengundang Ranting NU sebagai peserta.

Ketua Panitia Konfercab H Muhtarom mengatakan, untuk memastikan ranting NU bisa menjadi peserta yang memiliki hak pilih, pihaknya sedang berkonsultasi ke PWNU Jawa Tengah.

"Karena NU Kota Pekalongan hanya terdapat 4 MWC, maka panitia berkonsultasi ke PWNU untuk dapat mengundang ranting sebagai peserta penuh," ujar Muhtarom yang juga Sekretaris PCNU Kota Pekalongan.

Haedar Nashir

Dikatakannya, ada empat komisi yang akan dibahas dalam konfercab, yakni bahtsul masail diniyah, program kerja, rekomendasi dan organisasi. Akan tetapi selain empat komisi yang akan dibahas, menurut Muhtarom ada satu hal yang ramai dibahas sebelum Konfercab, yakni figur yang menakhodai PCNU Kota Pekalongan lima tahun mendatang.

Meski dalam penentuan rais syuriyah tidak lagi menggunakan sistem voting, namun sistem baru yakni ahlul halli wal aqdi (Ahwa) tetap menjadi menarik bagi peserta konfercab.

Pasalnya, banyak figur yang dimunculkan selain rais sekarang yang masih menjabat KH Zaenuri Zainal Mustofa, beberapa kandidat rais berupaya dimunculkan antara lain KH Abdul Fatah Yasran, KH Zakaria Ansor dan KH Romadlon Abdul Jalil. 

Haedar Nashir

Sedang di jajaran Tanfidziyah yang masih menggunakan voting ada beberapa nama bermunculan antara lain KH Romadlon Abdul Jalil, H Salahudin, H Tubagus Surur, dan H Muhtarom.

Acara Konfercab yang bakal dibuka oleh PWNU Jawa Tengah juga akan diisi pameran foto-foto kegiatan PCNU selama lima tahun terakhir oleh Lembaga Talif Wan Nasr (LTN) NU Kota Pekalongan.  

Beberapa kegiatan sebelum Konfercab yang berhasil digelar  antara lain Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) angkatan ketiga, Muskercab  3, apel peringatan hari santri nasional, dan pembacaan 1 miliar sholawat nariyah. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 28 Juli 2012

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Sleman, Haedar Nashir. Tidak ada orang yang berhasil tanpa berkorban. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula peluang untuk menuju keberhasilan. Kita mengetahui betapa Nabi Ibrahim as dengan tulus melakukan segala ? pengorbanan semata-mata untuk Allah SWT. Karenanya pantas, jika Nabi Ibrahim menyandang gelar Khalilullah.

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Demikian ungkap Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada acara Dzikir dan Shalawat dalam rangka Walimatussafar Ibadah Haji di dusun Turgo Gede, Sleman, Yogyakarta, Selasa (25/8) malam. Habib Syech Mengajak para jamaah untuk mencontoh Nabi Ibrahim yang selalu ikhlas ketika Allah SWT mengujinya.

"Cobaan terberat bagi Nabi Ibrahim adalah ketika Allah mengujinya dengan perintah mengorbankan Ismail putranya. Sementara Ismail adalah anak yang telah lama dinantikan oleh Nabi Ibrahim. Namun demikian, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT, lantaran ketaqwaan Ibrahim kepada Tuhannya" kata Habib Syech.

Haedar Nashir

Demikian pula, lanjut Habib Syech, Ismail sebagai putra dengan legowo mentaati inatruksi ayahnya, lantaran mengetahui bahwa yang demikian itu adalah perintah Allah SWT. Padahal usia Ismail kala itu tergolong muda. Bahkan terbilang usia kanak-kanak. "Inilah bukti konkret, bahwa karunia Allah berupa anak yang sholeh lantaran orang tua yang selalu berdoa untuk anaknya," tegasnya.

Haedar Nashir

Habib Syech mengatakan, jika menginginkan keluarga yang indah dan baik, tirulah Nabi Ibrahim. Ketika menanti kehadiran putra tercintanya, Nabi Ibrahim dan istrinya selalu berdoa (rabbi habli mina al-sholihin) kepada Allah SWT. Ketangguhan Ibrahim sebagai suami dan ayah juga perlu dicontoh. Sementara kesabaran Siti Hajar sebagai istri juga penting dalam membangun keluarga yang baik. Karenanya, tidak heran jika Nabi Ibrahim dikaruniai putra seorang Ismail dengan kepribadian yang istimewa.

"Jika menginkan hadirnya anak yang sholeh tirulah juga Nabi Ibrahim, yang tidak pernah putus asa berdoa kepada Allah SWT. Sebab, Doa orang tua untuk anaknya adalah penting, supaya kedepannya tercetak generasi-generasi yang baik dan bermutu. ? Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah mendidik anak dengan baik, agar tidak salah langkah dalam mengambil jalan" terang Habib Syech

Habib Syech mengingatkan kepada kaum muda, bahwa satu kebaikan anak muda lebih baik dari seratus kebaikan yang dilakukan orang tua. ? Hal demikan karena usia muda adalah masa dimana berbagai persoalan semakin kompleks dan butuh langkah taktis untuk memutuskan sesuatu. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Kamis, 19 Juli 2012

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Wonosobo, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menggenjot pemahaman Islam Ahlussunah wal-Jamaah di tingkat Ranting-ranting. Kegiatan tersebut akan digelar tiap dua minggu sekali secara bergiliran.

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosobo, Slamet Nurochman mengatakan, kegiatan rutin yang akan digelar tiap Jumat malam tersebut diformat dengan agenda mujahadah, kajian kitab kuning, dan diskusi.

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Tujuannya, Slamet menerangkan, sebagai silaturahim antar-anggota dan pengurus, sehingga komunikasi lebih efektif dan up to date, “Dalam pertemuan itu, peserta bebas mengutarakan unek-unek, juga membicarakan program yang sedang dan akan dijalankan,” katanya kepada NU Online di kediamannya, Senin (13/5).

Haedar Nashir

Salamet menambahkan, kegiatan tersebut akan dipusatkan di masjid sebagai tindak lanjut Rakornas GP Ansor yang mewajibkan pengkaderan digelar di tiap-tiap masjid, “Kegiatan ini adalah turba (turun ke bawah) yang akan dimulai minggu depan. Pengurus PAC siap diterjunkan secara bergiliran,” tambahnya.

Upaya lain menggenjot Aswaja, sambung Slamet, dalam waktu dekat akan menggelar pelatihan kader NU. Kegiatan tersebut intinya adalah pemantapan pemahaman dan penanaman Aswaja An-Nahdhiyyah supaya melekat di hati kader, “Kita tak ingin kader sekadar cashing, tapi bisa berguna untuk kemajuan NU secara jamaah dan jamiyyah," pungkasnya.

Haedar Nashir

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? : Budi BH

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 10 Juli 2012

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian

Makassar, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Selatan menilai, proses kaderisasi IPNU di Indonesia Timur hingga saat ini masih jauh tertinggal di banding daerah-daerah lain, khususnya di Pulau Jawa. Pimpinan Pusat mesti memberi perhatian lebih terhadap persoalan ini.

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian

Demikian aspirasi yang akan disampaikan Ketua PW IPNU Sulsel Ramli Syamsuddin  pada rapat kerja nasional (Rakernas) yang bersamaan dengan peringatan Hari Lahir ke-60 IPNU di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, 24-27 Februari 2014. Ramli menegaskan rencana tersebut pada rapat persiapan IPNU Sulsel menghadiri Rakernas, Ahad Malam.

Menurut dia, usia 20-25 tahun dalam proses kaderisasi menjadi tumpuan bagi kelanjutan generasi kepemimpinan NU maupun bangsa secara luas. Ramli juga menegaskan, IPNU Sulsel siap menjadi tuan rumah kegiatan kaderisasi nasional.

Haedar Nashir

IPNU Sulsel berharap, melalui forum Rakernas ini, IPNU dapat menghasilkan keputusan-keputusan startegis, mulai dari soal manajemen organisasi, penguatan basis data, penguatan sistem manajemen informasi, serta sinergitas program kerja dari pusat hingga ranting.

Haedar Nashir

Melalui pokok pikiran tersebut, IPNU Sulsel berharap, ke depan IPNU bisa jauh lebih baik dan mampu membuktikan pengabdiannya terhadap bangsa, sesuai dengan motonya, “Belajar Berjuang Bertaqwa”. (Andy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Khutbah, Pahlawan Haedar Nashir

Kamis, 05 Juli 2012

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api

Jombang, Haedar Nashir . Di semua pondok pesantren, berbagai kegiatan dihelat untuk menyambut akhir tahun pelajaran (haflah). Ini juga yang dijumpai di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Diwek, Jombang, Jawa Timur. Sabtu (13/6), semua santri putra berkumpul di lapangan sepak bola. Malam itu mereka menggelar pertandingan sepak bola api.

Kegiatan ini adalah rangkaian akhir tahun pelajaran di pondok Seblak. “Acara ini sangat ditunggu para santri sebelum mereka liburan, bahkan tidak jarang juga ditonton oleh masyarakat sekitar, karena memang selalu ramai dari tahun ke tahun,” kata Ketua Pengurus Pondok Pesantren Seblak, Arif Wicaksono.

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api

Seperti tahun lalu, pertandingan pun dimulai tepat pukul 19.30 WIB. Setiap tim terdiri dari lima pemain. “Aturan pertandingan sama dengan pertandingan futsal seperti biasa,” kata Fery Sriafandi, salah satu guru pondok. Jika sudah menang dua gol, maka tim yang kalah akan diganti tim lainnya.

Namun jika sampai tidak terjadi gol, pertandingan diakhiri dalam durasi 20 menit. “Itu untuk menjaga agar bola tetap diselimut kobaran api,” lanjut Fery.

Malam itu sengaja disiapkan enam kelapa yang sudah direndam minyak tanah sehari sebelumnya. “Tidak ada persiapan atau ritual khusus, cuma pemainnya sengaja kita ambil dari santri yang sudah SLTA,” imbuhnya. “Cuma anak-anak pasti tidak ada yang berani melakukan sundulan bola dengan kepalanya,” katanya lantas tertawa.

Haedar Nashir

Saat kick off dimulai, sorak sorai dari para santri di pinggir lapangan ramai terdengar. Baik santri putra maupun putri. Saat bola tidak sengaja keluar lapangan, para penonton pun semburat berlarian. “Ya jelas takut dengan kobaran apinya,” kata Nurul Yani, warga sekitar pondok yang mengaku datang sekeluarga untuk menonton.

Saat terjadi gol, justru ganti para penonton yang masuk ke lapangan untuk merayakan. Namun situasi kembali kondusif saat bola api sudah berada di dalam lapangan. Pertandingan pun dilanjutkan sampai terjadi gol berikutnya.

Malam itu, sampai terjadi lima kali pergantian tim. Artinya, sudah terjadi sepuluh gol. “Anak-anak ternyata antusias, meski awalnya masih takut untuk menendang bola api,” jelas Fery.

“Awalnya memang takut saat api berkobar dari bola, namun setelah ditendang tidak terasa panas,” kata Alifil Ma’luf, salah satu pemain. Siswa kelas X SMK Khoiriyah Haysim Seblak ini mengaku baru pertama kali ikut pertandingan sepak bola api. “Ternyata asyik juga main sepak bola api, tidak seperti yang saya takutkan selama ini,” ujarnya.

Haedar Nashir

Saking semangat, tim yang dipimpin Alifil menang sampai tiga babak. “Hanya satu babak yang kami cuma menang 1-0,” imbuhnya. Sedangkan tim lainnya maksimal menang di satu babak.

Hal senada juga diungkapkan Eko Santoso. Santri dari Nganjuk ini mengaku tidak ada pemain yang mengalami cedera. “Padahal teman-teman tidak ada persiapan khusus untuk ikut pertandingan ini,” katanya. “Apalagi puasa khusus, ya ini kan cuma bermain saja sebelum santri pulang masuk menikmati liburan,” ujarnya.

Pertandingan bola api ini akhirnya ditutup dengan makan bersama. “Menunya khas pondok, sambal terong dan tempe penyet,” ujar Fery. Masakan itu, lanjutnya, semua diolah para santri. Termasuk singkong rebus. “Agenda penutup itu untuk semakin mengakrabkan semua santri,” pungkasnya. (Mukani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, IMNU, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Selasa, 03 Juli 2012

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah

Jakarta, Haedar Nashir

Melalui program Jenesys 2017, pemerintah Jepang memilih santri, pemuda dan pelajar Indonesia ke Jepang selama 9 hari untuk memngenalkan Islam khas Indonesia. Pemerintah Jepang memilih dua puluh peserta yang terdiri dari santri, pelajar dan pemuda dari NU dan Muhammadiyah. Jepang memilih peserta dari dua ormas tersebut karena dinilai mengajarkan Islam ramah.

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah

Para peserta tiba di Tokyo, Jepang sejak Rabu (11/1). Setibanya di negara tersebut, para peserta langsung mendapatkan kuliah umum dari Executive Managing Diretor dari Strategic International Management Associate (SIMA) Prof. Hideo Kimura.

Menurut Prof. Hideo Kimura program Japan East Asia Network Exchange For Students and Youths (Jenesys 2016) sangat bagus agar masyarakat kedua belah negara ini saling mengenal kebudayaan satu sama lain.

Haedar Nashir

“Saya yakin program ini sukses dan memberi keuntungan bagi kedua belah pihak,” tuturnya.

Haedar Nashir

Menurut pria pemilik lisensi pengajar pilot di perusahaan pesawat raksasa Amerika, Boeing, itu, Jepang telah maju tanpa meninggalkan identitas pribadinya sehingga dapat menjadi contoh bagi negara lain.

Kemajuan Jepang saat ini salah satunya telah berhasil membuat benang bercahaya yang terbuat dari sutra. Tak hanya itu Jepang juga telah berhasil membuat jarum suntik yang tidak sakit saat digunakan karena besar jarum yang sangat kecil. Bahkan diameter jarum sutik tersebut mencapai 0.18 mm, lebih kecil dari diameter rambut manusia dan tetap berlubang.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H. Imam Pituduh mengatakan, dirinya sangat berantusias atas permintaan pemerintah Jepang tersebut. Menurutnya program tersebut diharapkan santri dan pemuda Nahdlatul ulama dapat menambah pengalaman dan belajar kebudayaan Jepang.

“Permintaannya kan kita disuruh mengenalkan keislaman khas NU yang sering dikenal dengan Islam Nusantar. Selain itu, tentu kami sangat antusias agar para santri dapat belajar berbagai hal di sana,” tutur koordinator peserta dari Nahdlatul Ulama tersebut.

Senada dengan Imam Pituduh, koordinator peserta dari Muhammadiyah Debby Affianty mengatakan, para peserta Muhammadiyah juga sangat antusias dalam mengikuti program tersebut. (Hasyim Habiby/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 26 Juni 2012

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU

Manado, NU Onine 

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menghargai dan mendukung peran-peran yang selama ini telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dalam menjaga keharmonisan hubungan antaragama. Apa yang dilakukan oleh NU selaras dengan program pemerintah.

Olly menjelaskan, Sulawesi Utara selama ini telah menjadi miniatur kebinekaan Indonesia. Jauh sebelum ada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Sulut sudah memiliki Badan Kerjasama Antar Umat Beragama. 

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU

“Bagi kami, sangat-sangat penting agar seluruh masyarakat di Sulut mendengar peran NU seperti apa,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes NU dengan tema NU dan Kebinekaan yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, (11/11). 

Untuk mendukung kegiatan NU ini, pemerintah Sulut akan memberikan dukungan dana melalui APBD untuk menjalankan kegiatan-kegiatan organisasi dan dakwah sehingga aktifitas NU bisa sampai ke tingkat kecamatan.

Ia mengaku prihatin dengan banyaknya informasi hoaks yang menyebar dengan cepat melalui media sosial. Karena itulah, para pemimpin harus turun ke bawah untuk menyapaikan informasi yang benar.  

Haedar Nashir

“Banyak hal yang perlu kerjasama antara pemerintah dan tokoh agama agar ketenteraman dan kedamaian terus berjalan,” tandasnya.

Manado sendiri merupakan wilayah yang diapit oleh daerah konflik. Terakhir, konflik di Marawi, Filipina yang lokasinya sangat dekat dengan Sulut. Tapi karena peran tokoh agama, aparat keamanan dan masyarakat, serta pihak lainnya, maka konflik tersebut tidak meluas ke Manado. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaNu, Hadits Haedar Nashir

Selasa, 19 Juni 2012

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa?

Bandung, Haedar Nashir. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membincang seperti apa sosok pemimpin masa depan bangsa yang ideal. Gus Dur mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dimiliki, yaitu pemimpin harus memiliki ketulusan pengabdian, dedikasi yang tinggi dan pengalaman yang luas.

"Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam memilih seorang figur adalah tidak terlalu banyak kriteria, namun fokus pada figur yang tulus, berdedikasi tinggi dan punya pengalaman luas," kata Gus Dur kepada wartawan usai kunjungannya di Pesantren Al Falah II, Bandung, Selasa (5/2).

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kriteria Pemimpin Masa Depan Menurut Gus Dur, Seperti Apa?

Sehari sebelumnya, Ketua Umum Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sangat yakin bahwa mayoritas warga Nahdlatul Ulama (NU) tetap mendukung partainya.

Haedar Nashir

"Suara orang NU itu ke PKB," kata Gus Dur mantap usai mengukuhkan kepengurusan Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) PKB di Jakarta, Senin.

Gus Dur mengemukakan hal itu ketika diminta komentarnya tentang pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi agar partai-partai tak hanya bisa mengklaim sebagai "partai orang NU", namun benar-benar memperjuangkan aspirasi warga NU.

Haedar Nashir

Sumber Antara melaporkan, dua partai yang sama-sama merasa dilahirkan NU adalah PKB dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang saat NU memperingati hari lahirnya ke-82 berlomba-lomba meraih simpati warga NU baik melalui pemasangan spanduk, baliho, maupun iklan di media massa.

PKB merasa sebagai "anak kandung" NU karena dilahirkan oleh ormas Islam itu semasa Gus Dur menjabat ketua umum pada 1998. Sedangkan PPP lahir dari fusi empat partai Islam, di antaranya Partai NU, pada tahun 70-an.

Gus Dur sama sekali tidak gusar dengan peringatan Hasyim agar partai yang mengatasnamakan "partai NU" benar-benar menunjukkan "dharma bhaktinya" sehingga bisa memperoleh dukungan warga NU.

Sebab, Gus Dur mengaku telah berkeliling ke banyak tempat, termasuk ke daerah yang menjadi kantong NU, dan ia tahu dukungan pada PKB masih besar.

Sebelumnya, seperti diberitakan Haedar Nashir, pada puncak peringatan Hari Lahir ke-82 Nahdlatul Ulama (NU) di Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (3/2) lalu, Ketua Umum PBNU KH Hasyim mengingatkan kepada sejumlah partai politik (parpol) yang mengklaim memiliki basis massa pendukung warga NU.

"Kepada parpol-parpol yang berebut klaim, warga NU butuh amal kongkretnya, apakah amal saleh atau tidak. Jangan hanya mengklaim," ujar Hasyim. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Makam Haedar Nashir

Senin, 18 Juni 2012

Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal

Jakarta, Haedar Nashir. Dalam banyak kesempatan, Direktur ASBIHU Tour and Travel KH Hafidz Taftazani mengungkapkan rasa prihatin dengan banyaknya masyarakat yang tergiur oleh promo biaya umrah yang murah.?

Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal

Keprihatinan tersebut semakin bertambah tatkala ditemukan fakta biro-biro perjalanan umrah yang menawarkan biaya umrah, gagal memberangkatkan jamaahnya, padahal jamaah telah membayar biaya seperti yang disyaratkan.

Keinginan masyarakat untuk melaksanakan umrah seakan-akan dimanfaatkan oleh travel-trevel umrah yang ‘nakal’. Oleh karena itu Kiai Hafidz mengajak mengajak travel umrah menjadi travel umrah yang ideal, yaitu yang sehat jasmani dan sehat rohani.

“Sehat jasmani, artinya perusahaan itu profesional dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan oleh jamaah. Kemudian sehat rohani, yaitu travel umrah itu harus mampu memiliki tim pembimbing yang handal atau hebat, sehingga mampu memberikan bimbingan yang maksimal kepada jemaah,” kata Kiai Hafidz kepada Haedar Nashir, Sabtu (29/4).

Haedar Nashir

Menurut Kiai Hafidz, travel umrah yang ideal mampu menyediakan satu pembimbing untuk melayani kebutuhan 15 jamaah. Selain itu, lanjut Kiai Hafidz, travel umrah yang sehat itu sanggup melakukan kegiatan manasik kepada jemaah sebanyak tiga kali sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.?

Travel umrah yang ideal juga memiliki rutinitas pengajian minimal sebulan sekali. Ia memandang penting aktivitas mengaji ini karena dapaat menjadi ajang silaturahim dengan para jamaah maupun calon jamaah. Dalam pengajian juga dapat digunakan untuk saling mengingatkan ajaran Islam, misalnya zakat, infak dan sedekah.

“Selain dapat membayar pajak kepada pemerintah, travel umrah idela juga harus dapat memberikan zakat, infak, dan sedekah kepada yang membutuhkan; memberikan pembinaan, kenyamanan bimbingan dan keamanan kepada jemaah. Itu idealnya,” ujar Kiai Hafidz.

Haedar Nashir

Terkait dengan biaya umrah murah, ia menegaskan travel umrah akan memberikan harga minimal USD 1650.

“Seperti disampaikan Kementerian Agama tahun lalu, bahwa harga minimal umrah sebesar 20 juta rupiah,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 17 Juni 2012

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Bogor, Haedar Nashir. Akhir kepengurusan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor masa khidmat 2015 ditandai dengan terselenggaranya Musayawarah Besar yang berlangsung 28-29 November 2015.

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Bertempat di RK AGB 202 Kampus IPB Darmaga, Musyawarah Besar yang terdiri atas penyampaian Laporan Pertanggungjawaban, penetapan dan pengesahan kembali AD/ART, serta pemilihan ketua dan dewan pertimbangan ini dihadiri oleh peserta yang berstatus anggota tetap, anggota sementara, dan undangan.

Musyawarah Besar yang sedianya dilaksanakan hanya sehari pada Sabtu, terpaksa dilanjutkan pada hari Ahad (29/11) dikarenakan pembahasan AD/ART yang memakan waktu cukup lama sehingga pemilihan ketua tidak bisa dilakukan pada hari itu juga.

Haedar Nashir

Salah satu peserta Musyawarah Besar, Adhli, menyampaikan pendapatnya mengenai lamanya waktu pembahasan AD/ART KMNU IPB tahun ini. Menurutnya, pembahasan yang lama hanya merupakan dampak dari usaha segenap anggota untuk memberi sekaligus mendapat pendidikan dari adanya Musyawarah Besar.

Haedar Nashir

“Dalam Mubes, kami berharap semua anggota bisa belajar untuk menyampaikan pendapat dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap KMNU melalui kontribusi pemikirannya. Tidak apa kalau (berlangsung-red) sedikit lama,” ungkapnya.

Setelah pembahasan dan pengesahan kembali AD/ART, agenda Musyawarah Besar dilanjutkan dengan pemilihan ketua KMNU IPB masa khidmat 2015/2016. Dari empat calon,  terpilihlah Hamzah Alfarisi, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan IPB sebagai pimpinan tertinggi organisasi mahasiswa yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ini.

Sebelumnya, empat calon ketua tersebut merupakan orang-orang yang telah disepakati oleh forum khusus melalui serangkaian pertimbangan untuk kemudian diajukan menjadi calon ketua KMNU IPB. Meski sempat berlangsung alot, pemilihan ketua KMNU IPB ini dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan melalui musyawarah dan lobi mufakat.

Ketua KMNU IPB terpilih, Hamzah, menyampaikan harapannya untuk bisa melebarkan sayap organisasi dan meningkatkan kualitas anggota KMNU IPB. “Harapannya, KMNU IPB bisa lebih berkembang khususnya di lingkungan kampus ini sendiri,” ujarnya.

Musyawarah Besar KMNU IPB ini ditutup dengan pemilihan ketua Dewan Pertimbangan yang memiliki wewenang koordinatif dengan ketua KMNU IPB. (Tashwirul Afkar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Daerah, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 08 Juni 2012

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Pariaman, Haedar Nashir. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus didorong untuk melakukan berbagai kegiatan keagamaan yang dapat meningkatkan penguatan nilai-nilai Islam moderat yang berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Penguatan ini semakin penting dirasakan mengingat makin kuatnya tantangan yang dihadapi kader PMII di tengah pergulatan pemikiran global.

Ketua Umum PKC PMII Sumatera Barat Afriendi mengungkapkan hal itu pada puncak Harlah PMII ke-54 di PC PMII Kota Pariaman yang berlangsung, Kamis (17/4/2014) malam di sekretariat PCNU Kota Pariaman, Desa Simpang , Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman. Hadir Sekretaris Tanfizdiyah PCNU Kota Pariaman Muhammad Nur, MA, Bendahara PW GP Ansor Sumbar Armaidi Tanjung, Ketua Umum PC PMII Kota Pariaman Satria Effendi, Ketua PC PMII Kabupaten Padangpariaman Rodi, Mabincab PMII Kota Pariaman Ory Sativa Sakban, mantan Ketua Umum PMII Kota Pariaman Hendri dan Idris.

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pariaman Tingkatkan Kekuatan Islam Moderat

Menurut Afriendi, upaya yang harus dilakukan kader PMII dalam meningkatkan penguatan nilai-nilai Aswaja adalah melakukan kegiatan lebih banyak di pondok pesantren. Artinya, kader PMII harus lebih dekat dengan para ulama yang menjadi panutan di tengah masyarakat.

Haedar Nashir

“Kader PMII ke depan yang diharapkan adalah yang memiliki kekuatan Aswaja dan kepemimpinan. Kekuatan Aswaja ditumbuhkan dengan melakukan kegiatan di pondok pesantren, selain melalui pengkajian, diskusi dan pendalaman nilai dasar perjuangan (NDP). Sedangkan kekuatan kepemimpinan dibentuk melalui kekuatan organisasi. Dimana kader berproses di PMII ini,” kata Afriendi yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat ini.

Haedar Nashir

Afriendi juga menambahkan, sudah saatnya kader PMII memperbanyak zikir. Jangan hanya aksi di lapangan seperti demo, bakti sosial dan sebagainya. “PMII harus memiliki karakter tersendiri. Kehadiran PMII hendaknya sesuai dengan misi kelahiran PMII 54 tahun lalu,” kata Afriendi.

Terkait dengan pelaksanaan Pemilu 9 April lalu, Afriendi menilai masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan masih banyaknya masalah yang ditemui saat pelaksanaan pemunggutan suara. Diantara masalah yang ditemui, adanya kertas suara yang tertukar satu daerah pemilihan dengan daerah pemilihan lain, pencoblosan ramai-ramai oleh pihak tertentu, dan banyaknya indikasi money politik (politik uang) yang dilakukan caleg.  

PMII yang tergabung dalam Kelompok Cipayung, turut mendukung pelaksanaan Pemilu 9 April yang bersih, jujur, aman dan mendorong tingkat partisipasi pemilik. Namun upaya yang dilakukan baru sebatas himbauan dan ajakan di media massa agar semua pihak dapat menjalankan peran masing-masing sehingga pelaksanaan Pemilu 9 April berjalan lancar, aman, tertib dan sesuai dengan undang-undang.

PMII sangat prihatin adanya gejolak pasca Pemilu 9 April. Baik protes tim sukses caleg yang berujung dengan tindakan kekerasan, pembakaran kantor penyelenggara Pemilu karena tidak menerima kekalahan sebagai caleg,  sampai adanya caleg yang mengalami gangguan jiwa hingga masuk rumah sakit jiwa, kata Afriendi.

Dikatakan Afriendi, agenda Pemilu 2014 yang di depan mata adalah pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres). Pada Mei 2014 sudah mulai pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Kader PMII di semua tingkatan diminta untuk turut mengawal pelaksanaan pilpres sehingga dapat berjalan lancer. Kader PMII harus berperan aktif menyukseskan Pilpres tersebut,” kata Afriendi. (Armaidi Tanjung/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Minggu, 03 Juni 2012

Edisi Kedua Majalah Nahdoh PCNU Kota Tasik Diluncurkan

Tasikmalaya, Haedar Nashir?

Bertepatan dengan Hari Buku Dunia setiap 23 April, PCNU Kota Tasikmalaya kembali meluncurkan Majalah edisi keduanya. Dengan nama "Nahdoh", majalah yang diresmikan pada Harlah NU ke-91 Januari 2017 itu kembali menyapa Nahdliyin kota itu.

Pemimpin Redaksi Majalah Nahdoh Aos Mahrus mengatakan, untuk edisi April-Juni 2017, redaksi mengambil Laporan Utama tentang NU dan pesantren di Tasikmalaya. Dari laporan tersebut diperoleh informasi baru bahwa pesantren sebagai cikal-bakal pendidikan formal di Tasikmalaya bahkan Indonesia sudah begitu maju di Tasikmalaya.

Edisi Kedua Majalah Nahdoh PCNU Kota Tasik Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Edisi Kedua Majalah Nahdoh PCNU Kota Tasik Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Edisi Kedua Majalah Nahdoh PCNU Kota Tasik Diluncurkan

Terbukti, kata Aos, di era Ketua Tanfidziyah NU Tasikmalaya KH Otong Hulaemi dengan Rais Syuriah KH Ruhiyat (ayah dari KH Ilyas Ruhiyat) tahun 1935 sudah memiliki tanah luas pusat kota untuk kompleks pendidikan modern NU.

Cita-cita memiliki kompleks pendidikan modern pun terwujud di tahun 1953 dengan didirikannya Pendidikan Guru Agama (PGA) NU pertama di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Termasuk dengan lahirnya dua buah MI dan MTs NU tahun 1965, MA NU tahun 1981, SMK NU tahun 2016 dan STAINU tahun 2006 yabg telah meluluskan puluhan ribu anak didik.

Dan ketika masih berbentuk partai, pada 1971, NU memiliki sekolah umum formal yakni SMP, SMA, SMK dan STH Galunggung di bawah Yayasan Galunggung yang kala itu NU Tasikmalaya dipimpin KH Lukmanul Hakim.?

Haedar Nashir

Atas jasa KH Lukmanul Hakim dalam pendidikan tersebut karena STH Galunggung sebagai Perguruan Tinggi pertama di Tasikmalaya, nama KH Lukmanul Hakim diabadikan menjadi nama jalan perkotaan Kota Tasikmalaya.

Nahdoh pun, ujar Aos, tetap menyajikan liputan sejarah para pendahulu NU di Tasikmalaya yang salah satunya perjalanan Pengusaha Batik Tasikmalaya, H. Azhari yang mewakafkan tanah dan gedung untuk Kantor NU yang sekarang berdiri megah di Jalan dr. Soekardjo No 47 Kota Tasikmalaya.

Haedar Nashir

Hibah tersebut karena kepedulian H. Azhari pada NU meski kalau ditaksir dengan harga sekarang mencapai puluhan miliar rupiah. H. Azhari menghibahkan tanah dan gedung untuk menjadi Kantor PCNU Tasikmalaya sekira tahun 1935. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

LBM-PBNU Budayakan Tahqiqul Manath dalam Pengambilan Putusan

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Bahtsul Masail (LBM) membiasakan kegiatan bahstul masail dengan metode tahqiqul manath. Metode ini merupakan bentuk praktik pengambilan putusan hukum yang didasarkan pada dalil syar‘i dan kenyataan faktual.

“Hal ini perlu ditradisikan dalam Bahtsul Masail NU karena tahqiqul manath dapat menjembatani antara nash sebagai dasar hukum dan realita di lapangan,” kata Ketua LBM NU Kiai Zulfa Musthafa.

LBM-PBNU Budayakan Tahqiqul Manath dalam Pengambilan Putusan (Sumber Gambar : Nu Online)
LBM-PBNU Budayakan Tahqiqul Manath dalam Pengambilan Putusan (Sumber Gambar : Nu Online)

LBM-PBNU Budayakan Tahqiqul Manath dalam Pengambilan Putusan

Dengan demikian, lanjut Kiai Zulfa, hasil dari keputusan akan benar-benar berpijak pada nash dan membumi di tengah masyarakat.

Haedar Nashir

Penerapan metode ini dilakukan dalam bahtsul masail di Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, Selasa-Rabu (2-3/7). Peserta bahtsul masail dalam kesempatan ini ialah para kiai pesantren dan jajaran Syuriah PWNU se-Indonesia.

Mereka hadir secara khusus untuk membahas sejumlah masalah kemasyarakatan yang selama ini dianggap belum tuntas secara konseptual maupun masih mengganjal secara hukum.?

Haedar Nashir

Di antara masalah yang akan dibahas besok adalah tindak pencucian uang, dana optimalisasi haji, badal thawaf ifadahah, dan tenaga alih daya (outsourcing). Empat hal ini merupakan masalah yang secara fiqih belum jelas konsep serta hukumnya. Karennya, guna menghindari kesalahpahaman serta memperdalam empat masalah itu, LBM-PBNU terlebih dahulu akan mempelajari masalah secara faktual.

Bahtsul masail kali ini agak lain. Para musyawirin akan diberi kesempatan sepuasnya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya kepada pelaku dan para ahli yang sengaja diundang. Setelah itu, mereka pada kesempatan khusus membahas empat masalah itu dengan metode tahqiqul manath.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Hadits, Fragmen Haedar Nashir