Rabu, 30 Agustus 2017

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Solo, Haedar Nashir. Menjelang pelaksanaan Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama XVIII di Boyolali, Jawa Tengah, pada Desember mendatang, sejumlah kader IPNU di wilayah Soloraya menitipkan harapan pada acara tertinggi di ranah pelajar NU tersebut.

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Kongres Ke-18, Ini Harapan Kader IPNU Soloraya

Harapan pertama datang dari salah satu pengurus PW IPNU Jawa Tengah, Ahmad Saefuddin. Mantan Ketua PC IPNU Klaten tersebut berharap, Kongres mampu menelurkan program-program yang berdampak langsung kepada wilayah, cabang dan seterusnya.

“Selain itu, PP IPNU juga mampu merapikan struktur IPNU di setiap tingkatan terkait peraturan baru yang dikeluarkan oleh PBNU bahwa maksimal pengurus IPNU sampai 26 tahun,” kata Saefuddin, saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (12/11).

Haedar Nashir

Ia juga berharap, agar Kongres tidak dijadikan hanya sebagai ajang pemilihan pimpinan, tetapi pemilihan pemimpin. “Optimalisasi sinergi PP IPNU dengan LP Maarif dan RMI juga masih belum maksimal, sehingga ini masih menjadi tugas besar bagi IPNU ke depannya,” ujar dia.

Senada dengan Saefuddin, alumni kader IPNU asal Boyolali, Agus Luqman, juga menantikan sebuah asa untuk Kongres mendatang.

Haedar Nashir

“Masih banyak agenda besar yang harus dikawal dan dilaksanakn oleh IPNU ke depannya. Tentunya terkait dengan kaderisasi di segmen pelajar dan santri. Pengalaman saya dari kongres ke kongres, peserta tidak fokus membahas materi, yang itu tentunya sangat penting untuk masa depan IPNU, tetapi peserta disibukkan dan terfokus masalah suksesi calon ketum. Seharusnya paradigma itu harus dirubah,” paparnya.

Sementara itu, dua Ketua PC IPNU Sukoharjo dan Klaten, Atsani Imam Ghozali dan Lystyanto Achmad berharap, Kongres IPNU kali ini dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan yang ada di IPNU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Pondok Pesantren, Jadwal Kajian Haedar Nashir

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Denpasar, Haedar Nashir. Keberhasilan program keluarga berencana (KB) banyak dipengaruhi oleh sikap dan pandangan hidup masyarakat yang terbentuk dari ajaran serta nilai-nilai agama.

"Pengalaman Indonesia dalam menggerakkan program KB itu, sejak awal telah melibatkan peran ulama dan tokoh-tokoh masyarakat," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni di Sanur, Bali, Selasa.

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Agama Pengaruhi Keberhasilan KB

Dalam acara "International Conference of Muslim Leaders to Support Population and Development to Achieve the Millennium Development Goals," Maftuh Basyuni mengemukakan, pengalaman KB di Indonesia barangkali bisa menjadi model bagi negara-negara lain.

Ulama dan tokoh masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam pemasyarakatan program tersebut melalui bahasa agama kepada umat, melainkan juga memiliki kontribusi pemikiran dan peranan yang besar dalam merintis dan mengembangkannya.

"Program KB pada dasarnya mempunyai tujuan yang mulia yaitu terciptanya keluarga bahagia. Karena keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang juga wadah pembentuk dan dasar dari kepribadian manusia," ujarnya.

Menteri Agama mengatakan, setelah hampir empat dasawarsa sejak dicanangkan program KB, maka peran ulama dan tokoh agama perlu direaktualisasi agar sprit, nilai dan norma yang melandasi kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB.

Haedar Nashir

Dikatakan, selain masalah kependudukan umat Islam dewasa ini juga menghadapi bahaya sekularisasi baik dalam bidang politik, pendidikan, hukum, sosial dan budaya.

Dalam konteks masyarakat Barat, sekularisasi dipandang sebagai suatu keseinambungan dari kemajuan sosial dan sejarah masyarakat itu sendiri dan dilukiskan sebagai capaian tertinggi dari budaya Barat.

Haedar Nashir

"Sedangkan dalam Islam, seluruh aspek kehidupan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama," ucap Maftuh Basyuni.

Maftuh Basyuni menambahkan sekularisasi berasal dari peradaban Barat bergerak begitu cepat menyebar dan dikembangkan ke negara-negara Islam melalui berbagai strategi.

"Proses itu telah mentransformasi atau memberi corak tertentu dalam pengaruh terhadap beberapa aspek fundamental dan tradisi keagamaan dalam kehiduapan umat Muslim di berbagai negara," ungkapnya.

Kegiatan konferensi yang berlangsung selama dua hari (14-15 Pebruari) itu dihadiri oleh tokoh agama dari 17 negara antara lain yakni Bangladesh, Malaysia, Iran, Indonesia, Turki, Jordan dan lainnya. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara BKKBN, ICIS-NU dan UNFPA. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Selasa, 29 Agustus 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Haedar Nashir



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Haedar Nashir



Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

Tunisia, Haedar Nashir. Sebanyak 50 mahasiswa Indonesia di Tunisia mengunjungi makam dua sahabat Rasulullah SAW. Sejumlah sepuluh dari mereka ialah mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang menempuh program bahasa di Universitas Zitouna. Ziarah ini digagas oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia.

Ketua mahasiswa STAINU di Tunisia, Izzul Madid menyatakan pentingnya acara ziarah semacam ini.

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nahdhiyyin di Tunis Ziarahi Makam Sahabat Rasul

“Selain mendapat pengalaman baru dan wawasan, kita juga dapat menemukan insiprasi atau keteladanan dari para sahabat. Perjuangan mereka yang mau datang jauh dari Hijaz ke Afrika Utara untuk penyebaran agama Islam, perlu kita teladani,” tutur Madid. 

Haedar Nashir

Mereka mengunjungi makam sahabat Abu Zam’a al Balawi terletak di kota Kairouan sekitar 156 km dari Tunis, Sabtu-Ahad (15-16/3). Sementara makam Abu Lubabah al Anshari berlokasi di kota Gabes, 404 km dari Tunis.

Dua makam sahabat ini menjadi situs wisata ziarah terpenting di Tunisia saat ini. Makam Abu Zam’a al-Balawi sering menjadi pusat acara hari besar keagamaan. Sedangkan di makam Abu Lubabah al-Anshari, biasa diadakan festival seni kaum sufi internasional yang lazim digelar setiap bulan ramadhan.

Haedar Nashir

Abu Zam’a al-Balawi seorang sahabat yang hadir dalam perjanjian Hudaibiyah serta mengikuti beberapa peperangan bersama Rasulullah saw. Ia juga pernah menjadi tukang cukur rambut Rasulullah SAW. Ketika turut serta dalam penyebaran Islam ke Afrika Utara, ia membawa beberapa helai rambut Rasulullah.

Sedangkan  Abu Lubabah al-Anshari adalah sahabat asal Madinah. Ia masuk Islam sejak sebelum hijrah. Ketika Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, Abu Lubabah termasuk salah seorang warga Madinah yang turut menyambut kedatangan Rasulullah.

Selain berziarah ke dua makam sahabat, mereka juga berziarah ke makam mantan presiden Tunisia Habib Borguiba di kota Monastir, Masjid Uqbah bin Nafi di kota Kairouan, serta situs wisata sahara di kota Matmata, Tunisia Selatan. (Dede Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Sampang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, prihatin dengan bencana banjir yang merendam rumah warga. Seperti aksi-aksi sebelumnya, Sabtu (21/12), para aktivis PMII membagikan sejumlah makanan untuk para korban.

Selain nasi bungkus, mereka juga membagi-bagikan mie instan yang menjadi kebutuhan korban banjir di wilayah pedesaan. Aksi sosial ini berlangsung di  tiga titik lokasi, yaitu Desa Kemuning, Desa Pandiyan dan Desa Panggung.

PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sampang Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sampang Bantu Korban Banjir

Abdullah (45), salah satu korban banjir, mengaku sangat gembira dan bersyukur atas bantuan dari para aktivis PMII. "Kami merasa terbantu dengan bantuan yg berharga ini,” katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, musibah banjir yang menimpanya Jumat kemarin telah melenyapkan bahan makanan sehingga keluarganya tidak bisa memasak.

Ketua PC PMII Sampang Syaifullah mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk senantiasa berada di garda depan dalam aksi kepedulian sosial.

Haedar Nashir

"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong, walau dengan dana seadanya hasil urunan para kader. Kami tidak akan pernah diam untuk bahu membahu meringankan beban korban banjir," tandasnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Senin, 28 Agustus 2017

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Sleman, Haedar Nashir. Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa resmi dibuka, Senin (03/03). Pelatihan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan (3-9/3), di Gedung Youth Centre Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka Majelis Pendekar Pencak Silat PSNU Pagar Nusa, yang diwakili oleh Zainal. Sebelum membuka, Zainal menyampaikan mengapa pelatihan tersebut perlu diadakan.

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Pihaknya mengatakan bahwa salah satu hal utama adalah karena masalah penyeragaman gerakan dasar yang harus sesuai dengan buku panduan. “Sebab selama ini belum ada yang sama antara daerah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Haedar Nashir

Berdasarkan penuturan ketua panitia, M. Roghib, acara pelatihan pelatih nasional ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang merupakan delegasi dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya.

Haedar Nashir

Hadir dalam kesempatan itu beberapa tamu undangan, seperti PCNU Sleman, Polres Sleman, TNI, Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa DIY, Pimpinan Pusat PS NU Pagar Nusa, dan sejumlah undangan lain, termasuk pendiri PSNU Pagar Nusa.

Acara pun tampak meriah dengan penampilan group hadrah PMII Ashram Bangsa dan sejumlah atraksi dari PSNU Pagar Nusa. Keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebelumnya, dikatakan bahwa acara pelatihan pelatih ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Harlah Ke-28 Pagar Nusa, dan telah didahului oleh beberapa kegiatan lain. Seperti bedah buku, silaturrahmi majelis pendekar Pagar Nusa, dan puncak peringatan Harlah yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (Harlah) Pagar Nusa yang jatuh pada tanggal 3 Januari. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

.

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Warta, Nasional Haedar Nashir

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

Sidoarjo, Haedar Nashir - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Menteri Sosial Hj Khofifah Indar Parawansa memberikan bantuan berupa uang senilai Rp.15 juta yang diberikan kepada 8 orang keluarga korban bencana perahu terbalik yang menelan korban jiwa, yang terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo, 13 April lalu.

Bantuan ini diberikan oleh Khofifah kepada keluarga korban bencana di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Jumat (23/6) malam dengan didampingi Bupati Sidoarjo, Wakil Bupati Sidoarjo, Kapolresta Sidoarjo, Kepala Dinas Sosial Gresik dan Kepala Dinas Sosial Mojokerta serta jajaran Dinas Sosial Sidoarjo.

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Berikan Bantuan Uang kepada Keluarga Korban Perahu Terbalik

"Dengan waktu yang sangat singkat, akhirnya bantuan ini segera cair sehingga bisa kami bagikan. Awalnya memang Bupati Sidoarjo cerita kalau keluarga korban mendapatkan bantuan uang senilai Rp.3 juta dari APBD dan harus SK Bupati," kata Hj Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu menirukan cerita Bupati.

Para keluarga korban yang menerima bantuan itu di antaranya Kusnari warga Gagang Kepuhsari Balongbendo, Nur Kholis dan Choirun Nisa warga Desa Bangkalan Wringinpitu Kecamatan Balongbendo, Suriasih dan Misah warga Kalimati Kecamatan Tarik. Selain itu, ada dua orang lainnya, yaitu Ujang warga Desa Wringin Anom Gresik dan Rozikin warga Mojosari Mojokerto.

Haedar Nashir

Bantuan uang total sebesar Rp.120 juta diberikan kepada delapan orang. Masing-masing dari mereka menerima sebesar Rp.15 juta.

Insiden perahu penyeberangan yang terbalik diduga kelebihan muatan itu terjadi di Desa Bogem Pinggir Kecamatan Balongbendo Sidoarjo pada 13 April lalu. Saat itu, perahu sedang menyeberangkan 11 hingga 12 orang dan 7 motor. Diduga kelebihan muatan, akhirnya perahu terbalik dan menelan korban jiwa. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin”

Demak, Haedar Nashir. Haul Agung ke-509 Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo memasuki acara puncaknya, Sabtu (5/4) kemarin dengan mengadakan tahlil akbar dan pengajian umum di depan Masjid Agung Demak sampai ke alun alun.

Hadir dan tampak di panggung kehormatan yang sangat besar dan megah itu Gubernur Jawa Tengah, H Bibit Waluyo, Kakanwil Kemenag Jateng H Imam Khurmain, Wakil Bupati Demak H Dachirin Sa’id, Ketua DPRD Demak H Muchlasin Daenuri beserta Muspida, ketua MUI Demak KH Moh. Asyiq, puluhan habaib, ulama dan kiai.

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)
Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin” (Sumber Gambar : Nu Online)

Raden Fattah Sebarkan Islam yang “Rahmatan lil Alamin”

Dalam tausiyahnya KH Ahmad Khalwani menyampaikan sejarah dan keteladanan Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo sebagai raja Islam pertama di pulau Jawa dalam mengembangkan Agama Islam melalui kekuasaanya yang didampingi wali songo.

Haedar Nashir

Kiai Khalwani menandaskan, Sultan Fattah dan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa tidak menggunakan kekerasan dan paksaan namun dengan menggunakan adat kultur toleran dan kasih sayang. Ia menyebarkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, memberikan kedamaian untuk alam semesta. Karena itu dakwanya diterima umat yang pada waktu itu mayoritas beragama Hindu.

Haedar Nashir

“Dalam mengajak rakyatnya, Raden Fattah tidak memakai tombak, keris, pedang apalagi bom, padahal beliau itu kan raja bisa saja pakai kekuasaannya untuk menekan rakyatnya, justru sebaliknya Sultan Fattah dengan telaten syiar dengan adat istiadat, akhirnya bisa diterima dan masuk Islam,” tuturnya

Lebih lanjut Kiai Khalwani mengimbau agar umat Islam berterimakasih kepada Sultan Fattah yang telah berhasil mengislamkan rakyatnya. Cara berterimakasih dapat diwujudkan dengan  melanjutkan perjuangannya dengan prinsip saling menghormati sesama, toleran dan didasari kasih sayang.

“Sultan Demak yang didampingi Walisongo ini mewarisi sifat Nabi Muhammad SAW, santun, sopan, tapi justru mengena di hati rakyatnya sehingga bersedia masuk Islam dan asultan pun menguasai tanah Jawa. Maka tidak ada alasan jika kita berziarah ke Raja Islam dan wali ini dikatakan bid’ah,” tegasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : A.Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Lomba Haedar Nashir

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Sukabumi, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Simpenan dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi berupaya berperan di tengah-tengah masyarakat baik secara jam’iyah maupun jama’ah. Untuk peran tersebut, GP Ansor perlu meningkatkan kapasitas dan kreativitas pemuda, salah satunya melalui Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD).

Dua GP Ansor yang bertetangga tersebut menggelar PKD untuk pertama kalinyaa di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kampung Cihurang RT 3/8, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan pada (25/2) dengan tema Membentuk Pemuda Ansor yang Cerdas demi Kokohnya Persatuan Kebangsaan.?

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperan untuk Pemuda, Dua PAC GP Ansor Sukabumi Gelar PKD

Menurut Ketua PAC GP Ansor Simpenan Tendi Satriadji berharap kegiatan itu menjadi titik awal kemajuan GP Ansor Kecamatan Simpenan dan Palabuhan Ratu dan bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi PAC lainnya.?

Saat ini, kata dia, di Simpenan dan Palabuhanratu, pemuda dari mulai berumur 17 tahun sudah mulai jauh dari pondok pesantren sehingga membaca dan memahami Al-Qur’an sangat rendah. Tak hanya itu, kepedulian mereka terhadap kegiatan hari hari besar keagamaan sangat minim.

“Kami sangat khawatir moral dan paradigmanya ini bisa terpengaruh dan terpancing dengan isu-isu yang berbau SARA dan menebar konflik mengatasnamakan Islam,” katanya kepada Haedar Nashir, Jumat (3/3).

Haedar Nashir

Berdasarkan kehawatiran ini, lanjutnya, sehingga kami mengambil sikap untuk meraih para pemuda dengan cara mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar ? yang ? dalam AD/ART Organisasi, yaitu sebagai tujuan organisasi menegakan ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir RMI NU, Humor Islam Haedar Nashir

Sabtu, 26 Agustus 2017

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka

Tangerang Selatan, Haedar Nashir. Sebagai salah satu cabang utama ilmu keislaman, studi dan pengajaran hadits relatif tertinggal dibandingkan dengan studi Al-Quran, pengajaran fiqh, dan studi tentang tauhid dan tasawuf. Bisa dikatakan bahwa studi hadits di Indonesia relatif marjinal, kalau tidak dikatakan sangat langka. 

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Sayangkan Studi Hadist di Indonesia Masih Langka

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat Wisuda Sarjana ke-13 Darus Sunnah International Institute for Hadits Science di Ciputat-Tangerang Selatan, Sabtu (6/6). Selain Pimpinan Darus Sunnah Ali Musthafa Yaqub, hadir pula Rektor UIN Jakarta Dede Rosada seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

“Kondisi ini terjadi baik di pesantren, madrasah, diniyah maupun perguruan tinggi. Dari sekitar 16.000 lembaga, pesantren yang mendalami studi hadits dapat dihitung dengan jari,” kata Menag.

Haedar Nashir

Dikatakan Menag, pada umumnya pembelajaran hadits di pesantren bukan sebagai ilmu, tetapi lebih banyak mempelajari matan atau periwayatan hadits (sanad) sebagai bagian dari bayan (penjelas) dalam kajian Al-Quran atau tafsir. Metode yang digunakan pun sama dengan pengajaran fiqh, yakni sorogan atau bandongan.

“Hanya ada satu dua pesantren yang secara khusus mengajarkan dan mempelajari hadits sebagai ilmu dan salah satu dari pesantren itu adalah Darus Sunnah,” ucap Menag.

Haedar Nashir

Ditambahkan Menag, kita sebenarnya berharap dari institusi formal Perguruan Tinggi Islam seperti UIN, IAIN, STAIN atau universitas-universitas islam lainnya dalam kajian hadits. Perguruan tinggi Islam ini sebenarnya memiliki sumberdaya ahli hadits, program studi tafsir hadits di fakultas/jurusan ushuluddin, perpustakaan yang memadai, dan koleksi kitab-kitan hadits standar, disamping sistem pembelajarannya yang menekankan berpikir secara kritis dalam kajian Islam dibandingkan pesantren.

“Namun harapan itu tidak sepenuhnya tercapai, karena kajian hadits di perguruan tinggi Islam tampaknya juga masih belum berkembang secara maksimal,” ujar Menag.

Menurut pandangan Menag, program studi tafir hadits yang ada lebih menekankan kajian tafsirnya dibandingkan hadits, sehingga tetap marjinal. Meskipun sudah dibuka kemungkinan memisahkan stusi hadits tersendiri, belum ada perguruan tinggi Islam yang mengkhususkan diri sebagai lembaga kajian hadits.

“Hal ini jauh tertinggal dengan program studi yang populer, seperti pendidikan agama Islam, ekonomi, syariah, penyiaran Islam, atau justru ilmu-ilmu non-keislaman yang tidak merupakan mandat utama perguruan tinggi Islam seperti matematika, bilogi, fisika, kedokteran dan lainnya,” terang Menag.

Menurut Menag, hal ini sebenarnya ironi, karena hadits merupakan sumber otoritatif kedua dalam pengajaran Islam setelah Al-Quran. Disamping fungsi hadits sebagai bayan atau penjelas terhadap ayat-ayat Al-Quran, seluruh ajaran, nilai, dan sendi-sendi keislaman berdasarkan atau bersumber pada sunnah qawliyah, fi’liyah, dan taqririyah baginda Rasulullah SAW. 

“Karena itu, memahami hadits secara benar dan tepat adalah kemestian dalam memahami Al-Quran,” tandas Menag. (mukafi niam).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News Haedar Nashir

Kamis, 24 Agustus 2017

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Bogor, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatu Ulama (PC LTMNU) se-wilayah Bogor (Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok) mengadakan silaturahim dan konsolidasi.

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Acara ini dalam rangka menjawab keluhan warga ahlusunnah waljamaah (Aswaja) yang belakangan banyak diganggu oleh kelompok lain, bertempat di Kantor PCNU Kabupaten Bogor Jl.bina Citra No.5 Kp.Cipayung Kelurahan Tengah kecamatan Cibinong.

Hadir KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PP LTMNU, KH Suaedy, wakil ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatu Ulama (PP LPNU), pengurus cabang NU dan Pengurus Lembaga Takmir Masjid NU se-korwil Bogor.

 

Haedar Nashir

KH Abdul Manan, mengatakan; masjid jangan hanya dibangun megah-megah tapi sepi dari jamaah. Sepinya warga yang berjamaah, menurutnya dikarenakan beberapa hal, di antaranya; pembangunan masjid hanya mempertimbangkan kemegahan fisiknya. Oleh karena itu ia menegaskan kepada seluruh pengurus lembaga takmir masjid, agar ikut memikirkan persoalan ummat. Kita harus siap menjadi pemimpin sekaligus khadimul ummah (pembantu ummat), baik dalam pencerahan keagamaan dan problem-problem yang dihadapi jamaah.

Haedar Nashir

Adapun ancaman dari kelompok lain, tidak perlu dirisaukan karena nantinya jamaah akan tahu sendiri siapa yang lebih pantas untuk menyampaikan agama. Sebab belakangan ini masyarakat sudah sadar untuk menanyakan segala sesuatunya pada ahlinya. Jika tanya soal mesin pasti ke bengkel, begitu juga tanya agama, masyarakat sudah sadar pasti tanya pada orang yang pernah di pesantren.

Di sisi lain, Takmir masjid harus memperhatikan kesejahteraan ummat. Meminjam Istilah Kiai Masdar Farid Masudi, Rais Syuriyah PBNU, takmir masjid harus bisa menjadikan masjid sebagai spirit kesejahteraan dan kesalehan sosial. Dari rumah (masjid)-Nya kita makmurkan bumi-Nya, imbuhnya.

Sementara Kiai Suaedy mengatakan; kedepan masjid harus mempunyai koperasi tersendiri agar menjauhkan jamaahnya dari pinjaman pasukan rentenir yang dapat mencekik perekonomian keluarga. Dengan adanya koperasi yang dikelola tiap masjid nanti kita dapat membantu mengkoordinasi pemasaran hasil produksi jamaah antara masjid satu dengan masjid yang lain, bahkan masjid antar daerah dan propinsi lain. Dengan usaha ini masjid nantinya tidak perlu lagi meminta-minta sumbangan di tengah jalan. Bahkan dengan adanya koperasi masjid nanti dapat memberikan bantuan-bantuan kepada warga yang kurang mampu, baik untuk beasiswa pendidikan, kesehatan dll.

Kiai Romdon berterimakasih di datangi banyak kiai dan berharap menjadi berkah buat PCNU dan warga Bogor pada umumnya. Ketika ditanya bagaimana persoalan masjid, ia mengatakan keresahan jamaah ahlu sunnah waljamaah terutama di wilayah Bogor dan sekitarnya saat ini sama, yaitu ada aliran-aliran Islam yang berbeda dengan yang sudah berjalan saat ini.

“Tapi, saya sudah menghimbau kepada seluruh Pengurus LTMNU dan LDNU Kabupaten Bogor untuk mengajak dialog dengan baik dengan mereka yang berbeda. Prinsipnya persoalan agama harus kembali kepada al-Quran, Hadist dan ilmunya para sahabat serta ulama. Dalam konteks sekarang yang banyak bermunculan aliran-aliran Islam, mau tidak mau harus kembali pada ulama. Karena mereka adalah pewaris para Nabi (al-Ulama warastatu al—anbiya),”

Sementara Ahsan Ustadzi, sekretaris PCNU Kab. Bogor menghendaki agar silaturahim antar pengurus LTMNU se-wilayah Bogor dapat diagendakan bulanan. Sehingga problem yang dihadapi masyarakat dapat segera terjawab dengan baik. Sebagai ummat Islam tentu tidak dapat dipisahkan dengan masjid sehingga tanpa diundangpun warga masyarakat sudah berduyun-duyun ke masjid. Dengan demikian, masjid tetap menjadi tempat yang paling strategis untuk pengembangan kemaslahatan dan kesejahteraan ummat.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa Haedar Nashir

Senin, 21 Agustus 2017

Balita-balita yang Mengalami NU

Bogor,Haedar Nashir

Sekitar 20 anak di bawah usia limat tahun (balita) ikut serta pada Rapat Kerja Lembaga Kajian dan Pengambangan Sumber Daya (Lakpesdam) PBNU yang berlangsung di Ciloto, Bogor, Jawa Barat mulai Jumat (27/1) akan berlangsung sampai Ahad (29/1).

Balita-balita yang Mengalami NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Balita-balita yang Mengalami NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Balita-balita yang Mengalami NU

Mereka turut serta dengan orang tuanya yang tengah mendesain rencana setahun lembaga tersebut. Namun, mereka punya jadwal dan aktivitas sendiri seperti tendang-tendang bola di halaman. Naik kuda di pagi hari dan merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya.

Para balita dihadirkan pada perkenalan seluruh pengurus dan pelaksan harian Lakpesdam PBNU pada Jumat malam di aula Wisma Karya Jasa. Sebagian duduk lesehan, sebagian duduk di kursi-kursi yang ditata melingkari lesehan tersebut. ?

Haedar Nashir

Lalu para orang tua memperkenalkan istri atau suami serta anak-anaknya satu per satu di depan mereka. Setelah memperkenalkan suami atau istri, orang tua memperkenalkan anak-anak yang hadir dan tidak. Termasuk bayi. Ada yang memperkenalkan hobi anaknya, sekolahnya, dan prestasinya. Kemudian tepuk tangan dari seluruh hadirin. ?

Haedar Nashir

“Anak saya ini hobinya mempertahankan tanah air, membela negara,” ungkap Wakil Bendahara Lakpesdam PBNU Iftah Sidik saat memperkenalkan anaknya yang bernama Muhammad Luthfi yang suka bermain COC di android. Nama anaknya itu diberikan oleh Rais Aam Jam’iyyah Ahlut Thariqah Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya.

Ia bercerita, anak pertama bernam Aqila yang berusia sepuluh tahun telah hafal mars IPPNU dan bercita menjadi pengurus IPPNU kelak. Muhammad Luthfi juga hafal mars IPPNU karena yang sering didengarnya adalah mars itu.

Iftah mengaku kerap membawa anaknya ke kantor Lakpesdam NU supaya mengalami dan melihat aktivitas NU. Hal itu menjadikan NU sebagai pengalaman. “Pengalaman tentang NU buat anak itu penting. Usia anak saya itu saat golden age. Ia akan mengingat seumur hidup tentang NU. Hal itu juga yang dilakukan ayah saya.

Ia mengaku tertarik dengan pesantren dan NU karena bapaknya tidak habis-habis bercerita tentang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pesantren. Ia ketika kelas lima SD telah mendengar nam Gus Dur.

Rata-rata anak-anak mau turut tampil ke depan. Ketika perkenalan ada anak yang merebut mikropon orang tuanya. Kemudianberbicara apa saja. Semaunya. Namun, ada pula anak yang tidak mau ke depan, tapi asyik dengan permainan di ponsel pintar milik orang tuanya.

Kemudian keluarga yang telah memperkenalkan diri, diperkenankan mengambil undian. Lalu dibuka satu per satu sesuai jumlah keluarga yang hadir. Setelah dibuka, undian itu ada yang berisi bola, jam tangan besar, kanebo, tisu, dan lain-lain yang dibungkus rapi oleh panitia. Lalu setiap keluarga yang telah memperkenalkan diri diabadikan melalui kamera digital.

‘Awan PBNU Hj. Sri Mulyati menyaksikan keakraban pengurus Lakpesdam PBNU dan keluarganya itu. Menurut dia, hal itu adalah bentuk perhatian lembaga NU kepada anggota keluarga pengurusnya. Hal itu penting dilakukan karena pengurus NU tidak terlepas dari dukungan dari anggota keluarganya.

“Ibu-ibu yang ada di sini tidak terlepas dari dukungan suami dan putra-putrinya. Begitu juga bapak-bapak tidak terlepas dari dukungan istri dan putra-putrinya,” katanya.

Keberhasilan suami atau istri yang menjadi pengurus NU, lanjutnya, tidak bisa dilepaskan dari dukungan pasangan dan anggota keluarganya.

Salah seorang pengurus Lakpesdam NU, Dadi Darmadi berpendapat, melibatkan keluarga pada Raker Lakpesdam menjadikan kegiatan profesional itu ramah keluarga.

“Dan menurut saya Lakpesdam berkepentingan untuk itu dengan konsep kesetaraan dan keadilan. Kedua sebagai internalisasi nilai-nilai dan sikap keagamaan yang terbuka wawasan kebangsaan sedini mungkin. Di situ strategisnya.”

Jadi, lanjutnya, dengan melibatkan keluarga, aktivis NU bukan hanya tercerahkan pemikirannya secara pribadi, tapi terefleksikan di keluarga. Pemikiran aktivis NU yang memandang kemajemukan sebagai hal yang positif, menerima perbedaan, itu bisa tersampaikan sejak kecil.

“Saya tidak merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak teman-teman. Itu asyik malah. Menjadikan kehidupan aktivisme profesional dan keluarga menjadi lebih dekat. Keluarga itu sebagai cerminan dari nilai-nilai sosial yang paling mendasar,” lanjutnya.

Menurut dia, hal itu patut dicontohlembaga lain di NU. Karena dengan begitu, kejam’iyyahan NU didekatkan kepada konteks bermasyarakat yang paling dekat, anggota keluarga agar tidak tercerabut dari akar NU. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Humor Islam, Tegal Haedar Nashir

Hukum Memilih “Kotak Kosong” dalam Pilkada

Oleh: KH Ahmad Nadhif Abdul Mujib



Hukum Memilih “Kotak Kosong” dalam Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memilih “Kotak Kosong” dalam Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memilih “Kotak Kosong” dalam Pilkada

Tulisan ini semata-mata berangkat dari keprihatinan penulis terhadap fatwa yang berisi “vonis sesat dan zalim” terhadap calon pemilih kotak kosong dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada). Pembahasan ini tidak bermaksud untuk menggiring opini, mengajak, atau menyerukan memilih salah satu dari dua pilihan yang sudah dijamin oleh konstitusi yang sah.



Haedar Nashir

Pertama; “vonis sesat dan zalim” atas calon pemilih kotak kosong adalah vonis yang tidak berdasar sama sekali, baik dalam kacamata agama maupun kacamata hukum negara. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa hak memilih kotak kosong adalah hak yang dijamin oleh undang-undang nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada. Karenanya, menghormati hak konstitusi adalah wajib menurut agama.



Dalam Bughyatul Mustarsyidîn, kitab yang berisi tentang ringkasan fatwa para ahli hukum Islam (fuqahâ`) karya Sayyid Abdurrahman (w. 1320 H), mufti Hadlramaut Yaman, pada halaman 189 disebutkan:

Haedar Nashir



? ? ? ? ? ? ? ? ? ?





“Wajib mentaati segala perintah pemimpin dalam segala hal yang menjadi kewenangannya”.



Dalam hal ini pemerintah memiliki kewenangan mengatur jalannya Pemilu atau Pilkada, di mana di antaranya dinyatakan bahwa “hak memilih kotak kosong adalah hak yang legal”.






Masih dalam kitab dan halaman yang sama disebutkan:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?



“Kesimpulannya adalah wajib menaati pemimpin dalam setiap perintahnya secara lahir dan batin selama tidak haram atau makruh. Maka (yang semula) wajib, menjadi semakin kuat (kewajibannya atas perintah pemimpin), dan (yang semula) sunnah, menjadi wajib (atas perintah pemimpin) dan demikian juga yang mubah.”




Kesimpulan poin pertama adalah bahwa hak memilih siapa
pun dan apa pun adalah hak konstitusional dan Islam memberikan tambahan legalitas atas hak tersebut, sehingga tidak ada alasan untuk menganggap sesat calon pemilih kotak kosong, sebagaimana juga tidak ada alasan mengecam secara agama dan negara bagi yang menjatuhkan pilihan kepada pasangan calon.

Kedua; Jika orang yang memberikan fatwa atas sesat dan zalim memilih kotak kosong berdalih bahwa kewajiban memilih pimpinan adalah “memilih orang” bukan “memilih kotak”, maka itu hanya permainan kata-kata belaka.





Semua orang paham bahwa tidak mungkin kotak kosong akan menjadi pemimpin. Ini hanya merupakan permainan kata yang tidak layak disampaikan di muka umum dalam situasi menjelang Pilkada.





Memilih kotak kosong bukan berarti menjadikan kotak kosong sebagai pemimpin, melainkan sebagai bentuk keinginan dilaksanakannya pengulangan Pilkada supaya terbuka peluang pencalonan yang lebih dari satu pasangan calon.





Dalam kacamata agama, hal ini sama sekali tidak ada madlarat-nya, tidak ada kerugiannya. Barangkali ada yang memiliki pemahaman bahwa jika Pilkada diulang, maka akan menghambur-hamburkan anggaran negara. Jika demikian halnya, maka dapat dinyatakan pemikiran seperti berikut: “Dalam Pilkada biasa terdapat pasangan calon lebih dari satu, kemungkinan pengulangan Pilkada menjadi dua putaran juga akan tetap terbuka lebar dan kas negara telah menyiapkan back-up anggaran untuk Pilkada yang berlangsung lebih dari satu putaran.”





Ketiga; Tugas ulama adalah sebagai pengayom ummat, bukan pemberi vonis. Dalam Islam ada aturan “nahnu du’ât, lâ qudlât (kita hanya bisa menyeru, bukan menghakimi)”. Hanya hakim pengadilan yang berhak memberi vonis soal-soal duniawi. Dan hanya Allah yang berhak memberi vonis di akhirat.





Keempat; wajib ditandaskan sekali lagi, bahwa hak memilih apa pun dan siapa pun adalah hak legal dan tidak sesat, apalagi zalim.





Kelima; yang lebih wajib lagi adalah menjaga kesatuan dan persatuan warga baik sebelum maupun sesudah Pilkada.





Tulisan ini hanya ingin memberikan tanggapan terhadap fatwa yang menyatakan “sesat” memilih kotak kosong dalam Pilkada. Apalagi sebenarnya soal nashbul imâm atau memilih pemimpin hukumnya fardlu kifâyah (kewajiban komunal yang cukup ditunaikan oleh satu atau dua orang sebagai perwakilan), bukan fardlu ‘ain (kewajiban individual). Karena itu, memilih kotak kosong dalam Pilkada jelas tidak ada kaitannya dengan sesat atau zalim. Tak kurang dan tidak lebih. Soal menjatuhkan pilihan adalah soal hati nurani, tidak ada yang berhak merampas kebebasan individu untuk memilih “ini” atau “itu”. Wallahu A’lam bi-shshawâb.





Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 18 Agustus 2017

Ansor Pamekasan Siaga Pencurian Sapi

Pamekasan, Haedar Nashir

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan turut prihatin atas kian maraknya aksi maling di Pulau Madura belakangan ini. Pasalnya, maling sapi tersebut menjadi teror bagi masyarakat desa; nyaris tiap malam mereka tidak bisa tidur lantaran diteror oleh bayang-bayang para maling sapi.

Ansor Pamekasan Siaga Pencurian Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pamekasan Siaga Pencurian Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pamekasan Siaga Pencurian Sapi

"Bagi masyarakat Madura, maling sapi adalah teroris. Dan ini kian diperparah oleh kinerja polisi yang kurang getol menyikapi aksi para maling sapi itu. Itu bisa dibuktikan dari hampir nihilnya penangkapan terhadap maling sapi selama ini," terang Ketua GP Ansor Pamekasan Fathorrahman, Jumat (12/2).

Atas kondisi itu, PC GP Ansor Pamekasan akan segera berkoordinasi dengan Pimpinan Anak Cabang Ansor yang terdapat di 13 kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Tujuannya, supaya juga aktif terlibat dalam menanggulangi maraknya aksi maling sapi.

Untuk diketahui, selama Januari hingga pertengahan Februari tahun ini, masyarakat desa di Kabupaten Pamekasan diresahkan oleh aksi maling sapi yang berkeliaran nyaris tiap malam. Pada Selasa (5/1) lalu, pencurian tersebut menimpa H Karim (60), warga Dusun Tengginah, Desa Tampojung, Kecamatan Waru, Pamekasan. Sebelumnya, terjadi di Dusun Daleman Daya, Desa Sokolela, Kecamatan Kadur, Pamekasan.

Haedar Nashir

Kondisi tersebut berbanding lurus dengan kinerja polisi yang terbilang melempem. Parahnya, selalu saja ada alasan untuk menutupi kinerja butuk tersebut. Salah dalihnya, kekurangan personel.

Seperti yang diungkapkan Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Waru AKP Junaidi. Dia mengaku tidak bisa memberikan keamanan yang maksimal terhadap masyarakat di Kecamatan Waru. Alasannya, lantaran keterbatasan personel. Hanya saja, pihaknya akan meningkatkan patroli di jam rawan.

"Tidak selamanya kami mengamankan desa A, C atau B, karena kami kekurangan personel. Tetapi, kami upayakan memberikan yang terbaik kepada masyarakat," janjinya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kajian, Ulama, Ubudiyah Haedar Nashir

Optimalkan Program JKN-KIS, BPJS Kesehatan Teken Kerja Sama dengan PBNU

Jakarta, Haedar Nashir. Badan Penyelengga Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meneken perjanjian kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU). Melalui sinergi ini, PBNU diharapkan dapat mendukung BPJS Kesehatan mencapai? universal health coverage? di tahun 2019 mendatang.

“PBNU merupakan salah satu organisasi terbesar dalam bidang sosial, keagamaan, dan masyarakat dengan jaringan kepengurusan yang sangat luas di Indonesia. Dengan kondisi tersebut, diharapkan PBNU memiliki kekuatan yang besar untuk menjadi akselerator dalam mencapai tujuan pemerintah, baik di bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan kesehatan,” kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris, dalam acara Penandatangan Nota Kesepahaman antara BPJS Kesehatan dengan PBNU tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat di gedung PBNU Jakarta, Rabu (15/6) sore.

Optimalkan Program JKN-KIS, BPJS Kesehatan Teken Kerja Sama dengan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimalkan Program JKN-KIS, BPJS Kesehatan Teken Kerja Sama dengan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimalkan Program JKN-KIS, BPJS Kesehatan Teken Kerja Sama dengan PBNU

Fahmi mengungkapkan, hingga minggu ke II bulan Juni tahun 2016, tercatat sebanyak 166.858.548 jiwa penduduk Indonesia telah menjadi peserta program JKN-KIS. Di harapkan pada 1 Januari 2019 seluruh penduduk Indonesia telah tercakup dalam program JKN-KIS serta mendapat jaminan kesehatan.?

“Untuk mewujudkan hal tersebut, BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara program JKN-KIS senantiasa berupaya menjalin kerjasama dan memperkuat hubungan kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dengan NU yang memiliki jaringan luas sehingga implementasi program JKN-KIS di lapangan dapat berjalan lancar,” ujar Fachmi Idris.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada pihak BPJS Kesehatan yang telah berkenan melakukan kerja sama dengan NU. Menurutnya, NU sebagai organisasi masyarakat (civil society) menjadi tempat yang tepat untuk mensukseskan program-program pemerintah.

“Insyaallah (programnya) akan sukses karena NU memiliki jaringan yang kuat dan luas dari atas sampai bawah,” kata Kiai Said.

Haedar Nashir

“Semoga kerja sama ini membawa berkah bagi semua pihak,” harap Kiai Said.?

Terdapat beberapa ruang lingkup cakupan nota kesepahaman tersebut di antaranya (1) Perluasan Kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat, (2) Optimalisasi pemanfaatan fasilitas kesehatan yang digunakan oleh peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat, (3) Sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (4) Kolekting Iuran Peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional–Kartu Indonesia Sehat dan (5) Kerjasama lainnya yang disepakati para pihak.

Haedar Nashir

Nota kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu dua tahun, terhitung sejak 8 April 2016 sampai dengan 8 April 2018.

Acara? ini? juga dihadiri Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Bendahara Umum Bina Suhendra, Marsudi Syuhud, dan? jajaran Pengurus Besar NU serta? Direksi BPJS Kesehatan. (Zunus) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, Haedar Nashir. Sebagai salah satu pusat rujukan masyarakat, pesantren dituntut mengembangkan peran untuk menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungannya. Di samping menjadi wahana dakwah Islam dan kaderisasi ulama, pesantren bisa pula menjadi lokomotif pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat.

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Semangat inilah yang diperjuangkan Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama atau asosiasi pesantren NU melalui program “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pesantren”. Selama tiga bulan terakhir RMI secara gencar melatih ratusan santri dan masyarakat di sekitar pesantren untuk aktif di bidang kewirausahaan.

Akhir April lalu (28-30/4), RMI menggelar pelatihan usaha kecil menengah (UKM) di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa diadakan di Pesantren Al-Ikhlas, Boyolali, dengan segmen usaha penggemuakan sapi, serta di Pesantren Al-Huda, Ciamis, dengan segmen usaha pertukangan dan industri mebel.

Haedar Nashir

Program yang diikuti para santri senior dan pemuda dari masyarakat di sekitar pesantren ini merupakan hasil kerja sama antara RMI dan Corporate Social Responbility (CSR) Bank Mandiri. Selain menggelar pelatihan, gerakan pemberdayaan ini disertai pendampingan selama kurang lebih satu tahun, untuk mematangkan kesiapan peserta menjadi wirausahaan sesuai bidang yang digelutinya.

Ketua Pengurus Pusat RMI KH Amin Haedari mengakui, pesantren sejak lama menyimpan potensi besar dan beragam. Karena itu, pesantren harus mampu berkontribusi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. “Yang penting, bagaimana semangat kita untuk membangun diri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Supaya tetap relevan, RMI sengaja memilih segmen pelatihan yang disesuaikan dengan potensi pesantren dan lingkungannya. Selanjutnya, pesantren bersangkutan diharapakan sanggup mengembangkan pengalaman ini kepada pesantren-pesantren lain.

Saat ini RMINU tengah mulai melakukan pendampingan dan bantuan modal usaha sebagai kelanjutan program ini. Di luar pembangkitan etos wirausaha, program kerja sama ini juga telah menyiapkan program pembangunan sanitasi dan air bersih di sejumlah pesantren di Indonesia.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 17 Agustus 2017

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

Kupang, Haedar Nashir. Pengurus GP Ansor NTT menginstruksikan anggotanya untuk berperan aktif membantu Polda NTT dalam gerakan pemberantasan narkoba. Para anggota Ansor NTT setidaknya melaporkan indikasi peredaran narkoba dengan jenis apapun ke pihak kepolisian.

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, generasi muda NTT harus mendukung gerak langkah satuan Narkoba Polda NTT dalam memberantas narkoba di NTT. 

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

"PW Ansor NTT mendukung penuh upaya kepolisian dalam upaya pengentasan Narkoba jenis apapun yang masuk NTT," katanya.

Haedar Nashir

Jangan sampai generasi muda NTT terpengaruh peredaran narkoba yang semakin luas. Ia juga berharap kepada masyarakat, selalu respon dengan informasi peredaran narkoba dan jika ditemukan atau mengetahui segera memberikan informasi kepada polisi, ungkapnya.

Sebelumnya Polda Nusa Tenggara Timur melalui Direktorat Narkoba melakukan gelar perkara Kasus Narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkotika) di Mapolda NTT.

Haedar Nashir

Dua orang tersangka pengedar narkoba Hairil alias Herry warga saleko desa Parangina kecamatan Sape kabupaten Bima NTB dan Abdul Haris alias Rijes warga dusun Sumpi desa Rosabou kecamatan Sape kabupaten Bima NTB, ditangkap saat melakukan pengedaran narkoba jenis ganja ke NTT melalui penyeberangan laut dari Bima menuju Labuan Bajo.

Polisi berhasil menyita 6,7 Gram dari tangan Haris sedangkan 318,2 gram ganja kering siap edar di NTT. Keduanya kerap mengirim pasokan ganja siap edar ke NTT, kata Direktur Direktorat Narkoba Polda NTT Kombes Pol Kumbul KS di Mapolda NTT, Senin (27/1).

Mereka ditangkap oleh satuan direktorat narkoba pada Kamis (22/1) di kantin Kapal KM Cakalang II pelabuhan Kapal Fery Labuan Bajo kecamatan Komodo kabupaten Manggarai Barat. Keduannya dikenakan pasal 114 ayat 1 dan atau pasal (1) undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoba. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, PonPes, Daerah Haedar Nashir

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

“Gusti pernah bilang bila air senantiasa mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu memiliki permukaan yang datar. Ini adalah gambaran kodrat Gusti Allah. Dan air tidak pernah melawan kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Watak air akan membawa seseorang menempuh jalan kehidupan dengan irama yang paling mudah, dan pada akhirnya akan masuk ke samudra anugerah Gusti Allah,” ujar Patih Keling.?

“Bagaimana ketika air itu mengalir ke Pakuan Pajajaran, hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kanjeng Eyang,” batin Syarif Hidayatullah. ?

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati (Sumber Gambar : Nu Online)
Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati (Sumber Gambar : Nu Online)

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

Dialog spiritual di atas menjadi semacam energi yang mengantarkan Sunan Gunung Jati menemui eyangnya, menghabiskan waktu untuk berdakwah. Jauh sebelum itu secara emosional ibunya, Syarifah Mudaim – telah memberi bekal berbagai kearifan yang tak ditemukan di tanah kelahiran suaminya. Kearifan yang akan menjadi modal utama dalam melakukan dakwah, maupun bergaul dengan para wali tanah Jawa. Melalui cerita, ia telah memberi pemahaman bagaimana bibit Islam disemaikan di daerah Caruban, diawali oleh seorang saleh bernama Syaikh Datuk Kahfi.?

Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis Pangeran S. Sulendraningrat, penyebar islam ini disebut dengan nama Syeh Nurjati. Santri generasi pertama yang berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi, tak lain putra-putri Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang. Nama Nyimas Rarasantang, putri kedua Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang, setelah menunaikan ibadah haji dan menjadi istri Syarif Abdullah, Sultan Palestina.?



Jauh sebelum itu di Tanjungpura, Karawang, juga telah berdiri Pesantren Quro. Salah seorang santrinya adalah Nyai Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa dari Kerajaan Singapura Muara Jati yang masih keturunan Raja Sunda, Prabu Niskala Wastu Kancana. Nyai Subang Larang kemudian dijodohkan dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Dari rahim Nyai Subang Larang ini kemudian lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang.?

Haedar Nashir

Sebelum berkenan dipersunting, Nyai Subang Larang mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu disediakan bintang saketi. Dalam Novel Prabu Siliwangi: Bara Di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya (Edelweiss (Pustaka IIMaN Group), 2009) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang saketi tak lain adalah tasbih, yang merupakan simbol islam. Sehingga sekalipun diperistri seorang raja yang agama negaranya belum Islam, Nyai Subang Larang tetap bersikeras agar diperkenankan melaksanakan wirid dan ritual Islam lainnya. Anak-anaknya kelak harus jadi muslim dan muslimah.?

Perjalanan dakwah Syarif Hidayatullah – kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati – ke bumi Jawa memetakan apa yang telah dilakukan ibu dan uwaknya, Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang. Sejarah memang senantiasa berulang. Ketika meninggalkan istana di Palestina – padahal ia telah diangkat sebagai sultan menggantikan almarhum ayahnya – seperti mengulang apa yang dilakukan uwaknya, Pangeran Walangsungsang dan ibunya Nyimas Rarasantang saat meninggalkan Keraton Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayatullah memperdalam nur muhammad dari satu guru mursyid kepada guru lainnya, sama persis seperti yang telah dilakukan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang dulu. Langkah Syarif Hidayatullah pun sebenarnya menapak jejak orang tuanya dari arah sebaliknya. Bila perjalanan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang bisa dipetakan dari Keraton Pakuan Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, maka langkah Syarif Hidayatullah dimulai dari Palestina – Mekkah – Pasai – Muara Jati – Amparan Jati, lalu menempa diri di Caruban Larang sebelum menjadi bagian dari simpul perjuangan wali songo.

Syarif Hidayatullah lahir di Palestina, ketika kota itu sedang menggeliat menjadi salah satu kota metrolopolis terpenting di timur tengah. Di kota ini ayahnya, Syarif Abdullah memimpin negeri dengan latar belakang sosio culture dimana tiga agama samawi hidup tumbuh berdampingan. Masyarakat islam berdampingan dengan kaum kristiani dan Yahudi, yang ketiganya memiliki sejarah dan keterkaitan dengan kota itu sangat tinggi baik histori maupun religi.?

Haedar Nashir

Hanya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mental untuk mendudukkan ketiga masyarakat yang berbeda secara adil itulah yang akan mampu memimpin Palestina, sebab percikan ketegangan sedikit saja bisa menimbulkan kobaran api. Dan hal itu berhasil dilakukan Syarif Abdullah, yang kemudian menurunkan sikap bijak dan tepa selira itu kepada Syarif Hidayatullah. Watak yang kemudian sangat membantu ketika menghadapi masyarakat Caruban dan Sunda, yang kala itu lebih menonjol sikap sempit wawasan, agak malas, dan tidak memiliki pengetahuan agama yang baik, sehingga melahirkan watak yang mudah menyerah dan gampang tersinggung.

Kenapa Syarif Hidayatullah memilih Jawa? Bila ibunya, Nyimas Rarasantang dan uwaknya, Pangeran Walangsungsang keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran terdorong oleh ilham untuk mengejar nur muhammad, Syarif Hidayatullah memilih meninggalkan Palestina setelah selesai mengkaji kitab Usul Kalam. Kitab ini mengisahkan perjalanan keluarga ahlul bait yang tercerai-berai setelah peristiwa perang Jamal dan Shiffin. Nasab dari ayahnya, Syarif Abdullah, merujuk kepada keluarga bagida Ali r.a. Pertemuannya dengan Syaikh Abdullah Sidiq di Samudera Pasai, semakin menentukan bagaimana Syarif Hidayatullah akan menjadi satu titik penting dari perkembangan islam di Jawa.?

Ia kemudian bersinggungan dan saling mempengaruhi dengan para dewan wali yang telah lebih ada. Dengan Sunan Ampel yang bila dirunut akan mempertemukan pada satu leluhur yang sama. Secara historis pertemuan dengan Sunan Ampel adalah membagi daerah dakwah menjadi dua bagian besar di barat dan timur yang dibatasi Sungai Cipamali. Dari Cipamali ke barat sampai Ujung Kulon adalah wilayah dakwah Syarif Hidayatullah, yang tak lain masyarakat Sunda dan pesisir.

Sedangkan dari Cipamali sampai Blambangan yang menjadi wilayah kekuasaan Sunan Ampel, tak lain adalah masyarakat Jawa. Pemisahan ini tidak saja memisahkan dua wilayah, tapi lebih kepada memisahkan dua kultur dan histori yang berbeda – Sunda dan Jawa. ? Peristiwa ini akan mengingatkan kita kepada Rakeyan Darmaraja ketika memberi wilayah jajahan kepada putranya, Raden Wijaya. Saat itu tidak ada pemisahan ini, sehingga menyatukan dua kultur yang berbeda itu dihadang banyak hambatan.

Kekuasaan Syarif Hidayatullah mulai terlihat dominan ketika Pangeran Cakrabuana menyerahkan Caruban Larang kepadanya. Ia kemudian berinisiatif menghentikan seba kepada Pakuan Pajajaran dan menyatakan sebagai negeri mandiri. Langkah politis yang kemudian telah melukai perasaan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang tak lain eyangnya sendiri. Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya untuk memberi peringatan kepada Syarif Hidayatullah, tapi siapa yang mengira rombongan itu dihadang pasukan Caruban dan Demak.?

Prabu Siliwangi tidak menyadari bila sebelum langkah itu diambil, Syarif Hidayatullah telah memetakan wilayah dari Cipamali ke barat itu dalam genggamannya dengan menyebarkan ajaran islam di beberapa titik penting. Sehingga ketika Prabu Siliwangi melangkah jauh, wilayah Pajajaran sendiri telah terkepung. Begitu pula ketika Pajajaran berhasil mengikat kerjasama dengan Portugis, Caruban Larang telah mengikat hubungan erat dengan Demak dan Banten, yang terikat tidak saja secara politis melainkan lebih jauh dari itu – mengikat hubungan kekeluargaan melalui pernikahan.

Akhirnya langkah Syarif Hidayatullah sampai pula di Pakuan Pajajaran, bertemu dengan Prabu Siliwangi ketika Banten Surosowan telah berdiri dan Demak telah semakin matang baik secara politis maupun militer. Pertemuan mengharukan itu berakhir ketika Prabu Siliwangi menyetujui untuk menyebarkan islam di mana pun, dengan satu syarat jangan dengan paksaan dan pertumpahan darah.?

Langkah jihad Syarif Hidayatullah berkobar di Sunda Kalapa menghadapi Portugis yang telah disokong Pajajaran. Demikianlah yang bisa ditemukan dalam novel sejarah ini. Tentu saja tidak saja konflik keyakinan dan politis, ketika meretas jihad di bumi leluhur, Syarif Hidayatullah tak bisa menghindari dari kisah dramatis dan romantis, seperti juga yang dialami Nyimas Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana ketika memilih keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.

?

Syarif Hidayatullah-di Jawa Barat lebih dikenal dengan Syaikh Sunan Gunung Jati-meninggalkan tanah kelahiran ayahnya untuk berguru kepada beberapa orang guru seperti kepada Syeikh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun, Syeikh Athaillah Syazali. Di Baghdad berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya selama 2 tahun (Sunarjo, 1983:51). Dalam waktu singkat Syarif Hidayatullah telah mempunyai banyak nama di antaranya Syaid Al kamil, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultan Mahmud al-Khibti.

Nama-nama yang menyiratkan tahapan perjalanan kehidupannya intelektual dan keimanannya dari remaja hingga dewasa. Ketika ayahnnya wafat yang secara historis menjadi penerus kesultanan, dia menolak dan meminta adiknya Syarif Nurullah untuk menggantikan dirinya. Syarif Hidayatullah lebih memilih pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya ke Jawa, Syarif Hidayatullah singgah di Gujarat.?

Di sana Syaid Kamil betemu dengan Dipati Keling beserta anak buahnya. Dipati Keling dan anak buahnya masuk Islam dan mengabdi pada Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bersama-sama meneruskan perjalannannya menuju Jawa. Sebelum ke Jawa, Syaid Kamil singgah di Pasai. Disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaid Ishak. Di Pasai mereka tinggal selama dua tahun. Setelah itu, Syaid Kamil dan rombongan meneruskan perjalan menuju ke Jawa, yang diawali dengan persinggahannya di negeri Banten. Di negeri itu sudah banyak yang memeluk agama Islam berkat binaan dari Syaid Rakhmat atau Ali Rakhmatullah seorang guru agama dari Ampel Gading yang kemudian bergelar Susuhunan Ampel.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk meneruskan Ali Rakhmatullah untuk mengajar agama Islam di negeri Banten. Ketika Syaid Rakhmatullah pulang ke Ampel, Syarif Hidayatullah ikut pula ke Ampel guna lebih memperdalam agama Islam. Ketika tiba di Ampel, di sana telah berkumpul para wali. Pada saat itu para wali sedang membagi pekerjaan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Setelah bersilaturahmi dengan para wali, maka diatur mengenai siasat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu Syaid Kamil atau Syarif Hidayatullah diminta untuk menyebarkan agama Islam di Jawa bagian Barat yaitu di tatar Sunda.

Kisah Syaikh Sunan Gunung Jati – terutama dalam kisah tradisional – lebih banyak dihiasi kisah-kisah mitos. Tentu saja kisah-kisah ini bukan untuk mengacaukan alur sejarah. Kisah-kisah mitos tumbuh dari kecintaan dan penghormatan rakyat yang mungkin berlebihan kepada sosok Syaikh Sunan Gunung Jati ini. Dan dibanding dengan fakta sejarah – terutama sumber primer – tentu kisah bercampur mitos ini terasa lebih dramatik dan tetap mengandung nilai-nilai spiritual dan moral. Sehingga dalam kaitannya untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang tak banyak terungkap dalam fakta sejarah primer itulah, pembaca dapat menemukan kisah-kisah bercampur mitos dalam alur novel Suluk Gunung Jati : Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syaikh Syarif Hidayatullah ini.?

Novel Suluk Gunung Jati: Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah, bukanlah laporan dokumenter. Kendati fakta-fakta sejarah menjadi landasan utama, pada akhirnya tetap memerhatikan unsur-unsur dramatik sebuah novel. Sehingga Syaikh Gunung Jati dalam interaksi kesehariannya tetap dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki emosi. Sisi romantisme sebagai seorang lelaki dewasa berkelindan dalam alur yang tidak paralel ini. E. Rokajat Asura berhasil menghubungkan dan menyambungkan antara sejarah dan kebenaran mengenai riwayat dan ajaran Sunan Gunung Jati.?

Di dalamnya tersaji tidak hanya dinamika perjuangan dakwah dan konflik politik, penulis juga menampilkan romansa percintaan. Inilah yang menjadikan novel ini manusiawi dan menyentuh hati pembaca. Dengan dasar sumber tertulis maupun cerita tutur, lewat novel ini kita seperti diajak menyelami tafsir atas perjalanan ruhani Syarif Hidayatullah dalam berdakwah. Islam yang diperkenalkan Sunun Gunung Jati adalah Islam yang ramah dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.?

Novel sufistik ini menjadi menarik, setidaknya karena dua hal. Pertama, kehadiran novel ini mengisi kelangkaan, untuk tidak dibilang ketiadaan, novel sejarah Islam di Indonesia masa kini. Kedua, lewat novel ini kita diingatkan kembali pada metode dakwah para wali di masa lampau yang bersemangat merangkul, bukan menggertak apalagi menghukum seperti yang mulai marak akhir-akhir ini. Dan sungguh novel ini terbit pada saat yang tepat, saat Indonesia membutuhkan inspirasi untuk kembali belajar ramah dan menghargai nilai-nilai budaya dalam bingkai kebhinekaan. Saya kira, dua hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan novel ini wajib ain untuk disebarkan dan dibaca.

Data buku:

Judul: Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah?

Penulis: E. Rokajat Asura

Terbit: Agustus, 2016

Tebal: 347 halaman

ISBN: 978-602-7926-26-4

Peresensi: Faried Wijdan,? warga NU, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 16 Agustus 2017

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

Cirebon, Haedar Nashir. Sebanyak 50 peserta pelatihan agen santri anti kejahatan terorisme di pesantren Kempek, mengidentifikasi situs jejaring sosial yang membawa semangat kekerasan dan keresahan. Mereka mendata situs jejaring sosial dengan aneka bentuk konten yang mengampanyekan kekerasan atas nama agama.

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

“Pada era digital seperti ini website kerap menjadi rujukan paling cepat dan mudah bagi masyarakat. Namun demikian, daya kritis tetap sangat diperlukan ketika seseorang mengakses gambar, video, atau tulisan di internet,” kata peniliti dari PAKAR, Badrus Samsul Fata memandu peserta pelatihan gerakan santri anti terorisme di pesantren Kempek, Cirebon, Senin-Rabu (29/9-1/10).

Situs jejaring anti aswaja, lanjut Badrus, memuat ajakan untuk berbuat kekerasan. Pengelola jejaring ini menarik simpati pengguna dengan mengabarkan pembantaian umat Islam dari pelbagai belahan dunia.

Haedar Nashir

“Selain bercampur opini dan fakta, berita yang ditayangkan tidak bisa diverifikasi kebenarannya,” kata Badrus di hadapan santri dari pelbagai pesantren di Jawa Barat.

Konten jejaring mereka menyuarakan paham anti demokrasi. Mereka menolak NKRI dan Demokrasi. Semangat jihad kekerasan begitu tinggi. Jejaring mereka tidak segan menyebut Pancasila dan NKRI sebagai sistem Thaghut.

Haedar Nashir

Sejumlah website yang teridentifikasi mengarah pada terorisme, antara lain arrahmah, muslimdaily, attawbah, kiblat, voa-islam, nahimunkar, daulahislamiyah, kompas islam, salam online. Daftar ini, kata Badrus pada pelatihan yang difasilitasi RMI NU, bisa diperpanjang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Tegal Haedar Nashir

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Brebes, Haedar Nashir - Grup drumben Ansoruna GP Ansor Brebes turut memeriahkan Kirab Budaya pada Hari Jadi Ke-338 Kabupaten Brebes. Penampilan Ansoruna menarik simpati para pengunjung kirab di sepanjang jalan yang mengambil rute dengan awal di gedung dewan, Jalan Jend Sudirman, Jalan Tritura, dan berakhir di alun-alun kabupaten setempat.

“Kami ingin menghibur sekaligus memperkenalkan Ansor di tengah masyarakat,” kata Koordinator drumben Ansoruna Bayu Murohman di sela kegiatan, Selasa (19/1) sore.

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Sepanjang pementasan, grup ini mempersembahkan lagu-lagu nasional dan shalawatan dalam ritme yang indah dan enak didengar. Tak terkecuali dua mayorete lelaki sesekali menghempaskan tongkat ke angkasa kemudian ditangkap kembali.

Haedar Nashir

Kirab dilepas dari Halaman DPRD Brebes oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang ditandai dengan pemberiaan Pataka Brebes dari Ketua DPRD Brebes yang diwakili anggota Hery Fitriyansah.

Di alun-alun sembari menyaksikan kirab, masyrakat dipersilakan makan gratis sesuka hati yang disediakan oleh pedagang alun-alun. “Saya menggratiskan kepada masyarakat, karena malam harinya sudah dibeli oleh Bupati,” terang salah seorang pedagang di alun-alun, Gareng.

Haedar Nashir

Selain drumben, kirab budaya juga menampilkan kereta kencana yang ditumpangi Hj Idza Priyanti bersama suami Kompol H Warsidin. Sementara 30 andong ditumpangi Wakil Bupati Narjo beserta istri Srilegiastuti, para Forkompinda, Kepala SKPD, camat dan pejabat instansi vertikal lainnya.

Tampak batik karnaval yang diperagakan oleh para Sinok Sitong Kabupaten Brebes. Terlihat juga barisan kesenian khas daerah dari 17 kecamatan se-Kabupaten Brebes seperti barongsai, singa barong, rebana, dan lain-lain.

Di sepanjang perjalanan, Hj Idza menaburkan beras kuning kepada masyarakat yang tentu saja ada uang recehan. Anak-anak dengan sigap berebut uang tersebut. Siapa saja yang mendapatkan, ia bisa menggunakannya untuk membeli minuman. Bupati Brebes ini menaburkan permen sehingga menambah suasana meriah.

Di panggung kehormatan, tari Rumangsa sebagai pembuka acara dipentaskan. Tarian ini mencerminkan kegembiraan, keceriaan, dan suka cita remaja putri yang menginjak dewasa. Karenanya dalam tarian tersebut para penari sangat energik dalam setiap gerakannya.

Kegembiraan itu tergambarkan pula dalam tarian Rumangsa dengan gerak lincah dan penuh semangat. Terlihat sekelompok remaja putri menari dengan lincah. Tarian Rumangsa juga menggambarkan keragaman budaya yang dimiliki Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Kajian, Kiai Haedar Nashir

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean

Bawean, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean menggelar daurah II Aswaja NU Center. Pihak PCNU setempat mendatangkan dua narasumber dari Aswaja NU Center Jatim KH Abdurahman Nafis dan KH Makruf Khazin. Ratusan peserta yang terdiri atas guru, mahasiswa dan pengurus NU mulai ranting hingga cabang mengikuti kajian Aswaja NU sejak Jumat-Sabtu (19-20/11).

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean

Daurah Aswaja digelar untuk meneguhkan aqidah warga NU. Pihak PCNU Bawean menilai, arus informasi memberikan banyak pengaruh bagi keyakinan warga NU. Mereka berharap daurah ini memantapkan aqidah dan amaliyah nahdliyin menjadi lebih kokoh.

Sejumlah materi disampaikan dalam daurah aswaja ini seperti firqah-firqah dalam Islam, bid’ah dan fikih jenazah. Khusus untuk fiqh jenazah, mereka membedah buku karya KH Makruf Khazin. Daurah ini dilaksanakan di tiga tempat, pondok pesantren Hasan Jufri, Nurul Huda, dan Manbaul Falah.?

Haedar Nashir

Menurut Direktur Aswaja NU Center Bawean Syamsudin, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan daurah III yang fokus pada pendalaman. “Daurah pertama ? dan kedua ini masih bersifat umum. Nanti daurah yang ketiga akan lebih fokus. Jadi pesertanya terbatas,” ujar Syamsudin.

Pada kesempatan ini, pengurus Aswaja NU Center Bawean masa khidmat 2015-2020 dilantik. (Kuncoro/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi

Banyuwangi, Haedar Nashir



Syarat menjadi seorang pengusaha sukses adalah pantang menyerah. Konsekuensi itu juga dimiliki Abdul Majid Firdaus, pengusaha jajanan kripik asal Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Sebelum meraup omzet Rp 6 juta per bulan dan memiliki empat orang karyawan, ia harus melewati pahit dan manisnya perjuangan.

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi

Tahun 2003 adalah sejarah awal merintis usaha jajanan keripik bagi Majid. Ia harus melakoni usahanya dengan penuh kesabaran dan keterbatasan bersama sang istri Siti Nur Qoyimah.

 

"Hanya bermodalkan sebesar Rp 300 ribu. Saya ingat, waktu itu hanya cukup untuk membeli bahan baku berupa pisang, minyak goreng, dan plastik untuk kemasan," jelas Majid yang juga salah satu Pengurus Ranting NU di Kalipuro saat dimintai keterangan.

Haedar Nashir

Setiap pagi ayah dari kedua anak ini mengawali hari-harinya dengan proses pengupasan bahan baku, perendaman, penggorengan, sampai tahap pengemasan. Ia melakukan proses produksi ini mulai selepas Shalat Shubuh sampai pukul 16.00 WIB. 

"Nasib, karena masih belum ada karyawan sama sekali. Jadi, seluruh tahapan itu saya bersama istri yang melakukan secara keseluruhan," tegas Majid.

Berbekal kesederhanaan manajemen pemasaran, ia pasarkan jajanan keripik pisang ke warung dan tetangga terdekat. Ia gunakan kurun waktu satu minggu; tiga hari untuk proses produksi, tiga hari untuk pemasaran, dan satu hari untuk istirahat.

Haedar Nashir

"Memasarkan dengan sepeda ontel yang saya miliki ke beberapa warung terdekat. Selang beberapa hari, saya kontrol kembali, apakah produknya sudah laku," tuturnya.

Saat kontrol ke warung-warung dan para tetangga, ternyata barang masih belum juga laku. Konsumen masih belum semua menerima. Hal yang sama, terjadi selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Hampir saja membuat Majid merasa putus asa dan kewalahan. Karena waktu itu, usahanya masih seumur jagung.

Melewati masalah itu, Majid akhirnya membuka diri dan pikiran untuk terlibat dalam pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh dinas-dinas daerah. Banyak sekali pelatihan yang ia ikuti, mulai dari produksi pembuatan kripik, kemasan, sampai pemasaran.

Ternyata semua itu ada manfaatnya. Pada 2005, usahanya mulai tumbuh. Di tahun ini pula, Majid mulai melebarkan sayap pemasaran seiring dengan perkembangan koneksi yang dibangun.

"Setalah mengikuti pelatihan, membuat usaha saya semakin berkembang mulai kualitas produk sampai dengan perkembangan jaringan pemasaran. Ditambah dengan adanya empat orang karyawan yang memiliki dedikasi tinggi. Saya sangat berharap sekali pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakatnya melalui pelatihan-pelatihan," tutur ayah yang berusia 51 tahun ini.

Majid juga menitipkan produknya di beberapa pusat toko oleh-oleh khas daerah juga bergabung dengan market place milik pemerintah daerah (banyuwangi-mall.com) sampai menembus konsumen di daerah Jakarta, Jepara, sampai Semarang.

"Alhamdulillah, mulai bermodal Rp 300 ribu sekarang meraup omzet sebesar Rp 6 juta tiap bulan dengan varian keripik yang lebih beragam mulai pisang, singkong, talas, sampai jajanan rengginang," ujar Majid.

Ia juga memdapat manfaat saat era kepemimpinan bupati Abdullah Azwar Anas dengan festival-festivalnya yang diimbangi dengan dibukanya stand pameran untuk para pelaku usaha mikro.

Intinya dalam merintis usaha apa pun, kata Majid, tidak pernah berhenti melakukan tiga hal. Pertama belajar, kedua berjuang, dan ketiga berdoa.

"Ini saling terikat, tidak apat dipisahkan. Apalah belajar dan usaha yang kita lakukan, tanpa adanya kemudahan dan ridha dari Allah SWT," pesan Majid. (M.Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Hikmah, Berita Haedar Nashir

Selasa, 15 Agustus 2017

Al Falah Jabar Maju ke Semifinal Usai Tumbangkan Assalam Bangkalan

Yogyakarta, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Al Falah (Jawa Barat II) menghentikan langkah PP Assalam Bangkalan (Jawa Timur IV) untuk melaju ke babak semifinal LSN 2016. Pertandingan yang berlangsung pada Jumat (28/10) di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta ? ini berakhir dengan skor 1-0.?

Sejak pertandingan dimulai, pada menit-menit awal Assalam tampak mendominasi permainan. Namun berbalik keadaan ketika sudah separuh pertandingan babak pertama. Al Falah mengambil alih permainan.?

Serangan yang dibangun Assalam selalu kandas di pertahanan Al Falah. Penyerang Assalam kesulitan menembus rapatnya pertahanan Al Falah. Sementara seranghan Al Falah, beberapa kali mengancam gawang Assalam. Skor tidak berubah sampai turun minum bapak pertama.

Al Falah Jabar Maju ke Semifinal Usai Tumbangkan Assalam Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Al Falah Jabar Maju ke Semifinal Usai Tumbangkan Assalam Bangkalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Al Falah Jabar Maju ke Semifinal Usai Tumbangkan Assalam Bangkalan

Memasuki babak kedua, PP Al Falah merubah strategi menyerang. Terbukti baru di menit 3 babak kedua, tepatnya pada menit ke 36, Dariun pemain berpunggung 11 berhasil menciptakan gol setelah menerima umpan terobosan dari Ihasan (8).?

Tertinggal satu gol, Tim As Salam FC meningkatkan daya serang. Pada menit 40, tim Asuhan M Arif Ismail ini mendapatkan hadiah penalti setelah penyerang mereka Dani (7) dijatuhkan di kotak terlarang. Namun sayang kesempatan emas As-Salam tidak dimanfaatkan dengan baik. Dani yang menjadi eksekutor gagal menyarangkan bola ke gawang lawan.

Haedar Nashir

Gagal dalam penalti, tak membuat semangat As-Salam menurun. Serangan demi serangan terus dilakukan dan memaksa Al Falah Bandung bermain bertahan dan hanya sesekali melakukan serangan balik.?

Di menit 55 Al Falah punya peluang memperbesar keunggulan. Satu lawan satu antara Bagas dengan kiper Assalam gagal menjadi gol. Hingga peluit panjang dibunyikan skor tetap 0-1 untuk kemenangan PP Al Falah.

Arif Hariawan, palatih Al Falah bersyukur mendapatkam kemenangan. Menurtnya itu berkat anak asuhnya kompak, daya juang di lapangan dan sesama tim tidak mudah menyalahkan di lapangan.?

"Konsep keseharian di pondok kita terapakan, tidak mudah menyalahkan teman tapi saling mengingatkan,” katanya seusai laga.

Haedar Nashir

Sementara Arif Ismail, pelatih Assalam mengaku jika lini depan kesulitan untuk mencetak gol. Ia beralasan striker andalannya terkena akumulasi kartu merah pada pertandingan babak 16 besar kemarin. Aliran bola ke lini depan juga tak mampu diselesaikan dengan baik untuk menjadi gol.

"Perjuangan anak-anak cukup keras. Namun mereka kurang beruntung saja. Termasuk penalti gagal karena mentalnya kurang tenang," ungkapnya.(Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Pesantren, Nasional Haedar Nashir