Selasa, 22 Desember 2015

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel

Muktamar ke-33 di Kota Santri Jombang merupakan momentum untuk menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan yang berpegang teguh pada Islam yang wasathiyah (moderat), Islam Nusantara, Islam yang hidup ditengah-tengah ke-Bhineka-an. Tema yang diusungkan dalam Muktamar tersebut adalah Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Tema ini menegaskan komitmen NU untuk memajukan peradaban dari Indonesia untuk dunia dengan pendekatan yang harmonis (pendekatan agama, sosial) secara kultural dan dalam konteks ini NU sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban.

Tema itu juga sejalan dengan doktrin Islam Aswaja Annahdliyyah yang sering diperdengarkan oleh organisasi Nahdlatul Ulama bertujuan agar hubungan antar manusia bisa bersikap tawasuth (moderat), tawazun (berimbang), i’tidal (tegak lurus dalam prinsip), dan tasamuh (toleransi). Hal ini sesungguhnya implementasi dari al-maslahah al-mu’tabarah (hifd din, nafs, ’aql, nasl, dan mal). Ketika lima tujuan ajaran universal Islam ini diintegrasikan dengan empat pilar kebangsaan, maka Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa akan menjadi negara yang maju dan berperadaban.

Terminologi “Islam Nusantara” mendapatkan respon yang hangat baik pro dan kontra atas istilah tersebut, di luar itu muncul banyak pendapat dan argumen untuk menegaskan bahwa istilah “Islam Nusantara” bukanlah model Islam atau aliran baru akan tetapi sebuah istilah yang memang hadir atas realita bahwa Islam di Indonesia adalah agama yang hidup di tengah-tengah agama-agama lain. Di luar perdebatan tersebut, layak untuk dibaca buku baru yang terbit awal tahun 2016 dengan judul Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel.



Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Islam Lokal Tuan Guru Bengkel



Buku ini hadir menguraikan sejarah perjalanan intelektual seorang ulama dan tokoh besar Lombok NTB. TGH. M. Shaleh Hambali yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Bengkel (Bengkel merupakan nama sebuah desa tempat kelahiran dan dimakamkan TGH. M. Shaleh Hambali) merupakan salah satu perintis kebangkitan Islam di Lombok awal abad 20 dan merupakan Rais Syuriah pertama NU NTB. Tuan Guru Bengkel juga merupakan salah satu tokoh yang memformulasikan dakwahnya melalui tulisan atau seperti yang diistilahkan penulis buku “Era Fatwa” menuju “Era Baca”.?



Haedar Nashir



Tuan Guru Bengkel dalam beberapa pemikiran dan fatwanya sering dianggap kontroversi karena beberapa pandangannya dalam persoalan agama berbeda dengan ulama pada masanya. Buku ini merupakan hasil penelitian yang didasari pada tugas akhir (disertasi) penulis ketika menempuh doktor di bidang Islamic Studies di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.?

Pemikiran-pemikiran Tuan Guru Bengkel dibagi menjadi tiga tema bidang pemikiran yaitu bidang tauhid, fiqih dan bidang tasawuf. Pemikiran Tuan Guru Bengkel dalam persoalan tauhid merepresentasikan bahwa Tuan Guru Bengkel adalah ulama yang memegang paham ahl-Sunnah wa al-Jama’ah An-Nahdlyah. Tema yang disajikan merupakan tema besar yang menjadi perhatian ulama ahl-Sunnah wa al-Jama’ah diantaranya 1) Masalah sifat Allah dan para rasul-Nya, 2) Masalah kekuasaan Allah dan perbuatan manusia, dan 3) Masalah keimanan dan keislaman (hal 134).

Haedar Nashir

Adapun dalam bidang fiqih merupakan bidang kajian yang banyak menjadi bahan diskusi karena dianggap kontroversi, diantaranya masalah mati syahid dunia akhiratnya salah satu tokoh yang meninggal disebabkan oleh perisean. Perisean merupakan sebuah tradisi dalam masyakarat Sasak dimana dua orang pepadu saling mengadu ketangkasan (halaman 228). Masalah kedua yang dianggap kontroversi ? adalah tidak adanya Sorong Serah dalam perkawinan (halaman 238). Sorong Serah merupakan upacara yang dilakukan untuk membayar harga seorang perempuan dalam tradisi adat Sasak. Perkara lain dalam bidang fiqih adalah karya Tuan Guru Bengkel tentang haji yang terdapat dalam kitab Jamuan Tersaji pada Manasik Haji. Kitab ini menyajikan masalah haji lengkap yang diawali penjelasannya tentang masalah rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam.

Sedangkan dalam bidang tasawuf, ? Tuan Guru Bengkel mengajarkan salah satu bidang tasawuf yaitu tarekat. Tarekat yang dikembangkan adalah tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Khalwatiyah. Selain tarekat, topik pembahasan yang masih dalam kajian tasawuf adalah masalah lagu atau nyanyian dan tarian. Tuan Guru Bengkel menulis masalah ini dalam kitab Luqthatul Jawharah? yang ditulis pada tahun 1933. Kitab lainnya yang ditulis adalah tentang tasawuf, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan, dan Permaiduri.?





Walhasil bahwa buku karya Adi Fadli tentang sosok Tuan Guru Bengkel menjadi bahan bacaan dan kajian awal bahwa betapa produktifnya ulama yang hidup diparo abad ke-20 yang dianggap sebagai tokoh sang pembaru dalam model dakwah yaitu bil lisan, bil kitabah, dan bil hal. Selain itu buku ini menambah khazanah pengetahuan kita tentang teori masuknya Islam ke Lombok. Dalam penelitian Adi Fadli ini menjelaskan bahwa Islam masuk ke Lombok dengan tiga teori.?

Buku ini seperti yang dikatakan salah satu Guru Besar Sejarah UGM dalam pengantarnya layak untuk menjadi bacaan khalayak ramai, khususnya bagi mereka yang menggeluti kajian sejarah Islam di Indonesia, atau Islam di Nusantara, maupun sejarah lokal. Selain itu mereka yang tertarik pada persoalan sejarah keagamaan, sejarah sosial-budaya, dan segi-segi lainnya perlu untuk menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi penting.

Info Buku

Judul Buku : Pemikiran Islam Lokal TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel

Penulis : Adi Fadli

Penerbit ? ? ? ? ? : Pustaka Lombok?

Cetakan ? ? ? ? ? : i, 2016

Tebal ? ? ? ? ? : xxvi – 358

Peresensi

Retno Sirnopati





Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 16 Desember 2015

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia

Khartoum, Haedar Nashir. PCINU Sudan berhasil mendatangkan rombongan mahasiswa-mahasiswi baru dari Indonesia. Rombongan yang terdiri atas 12 mahasiswa dan 7 mahasiswi ini mendarat dengan selamat di bandara Khartoum pada Ahad (30/8) dini hari.

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Sambut Mahasiswa Baru 2015-2016 Asal Indonesia

Rombongan ini disambut hangat oleh para pengurus Syuriyah, Tanfidziyah, dan segenap warga PCINU Sudan.

Ketua Lembaga Kaderisasi Nahdlatul Ulama’ Sudan (LKNU) Istikhori Akhyar menegaskan bahwa selama proses dalam mendatangkan para mahasiswa baru dari mulai mengirim berkas dan lainnya berjalan dengan mulus tanpa ada halangan.

Haedar Nashir

Alhamdulillah semua proses berjalan dengan lancar, dan semua para mahasiswa-mahasiswi baru mendapatkan qabul khas yang berarti mereka semua sudah terdaftar menjadi mahasiswa di International University of Africa,” kata Istikhori.

Haedar Nashir

Sementara pada sambutan di sekretariat PCINU Sudan pukul 9 malam pada Ahad, Rais Syuriyah PCINU Sudan Shidiq Ismanto memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru untuk selalu aktif dan giat dalam menuntut ilmu.

“Kita semua sekarang sudah berada jauh dari keluarga, rumah, dan kampung halaman, dan tak sepatutnya bagi kita untuk bersantai di sini. Kita semua adalah kader-kader NU di masa depan,” tegas Shidiq Ismanto.

Kini para mahasiswi baru telah mendapatkan asrama masing-masing. Untuk sementara waktu para mahasiswa masih bertempat tinggal di Sekretariat PCINU Sudan, sambil menunggu kabar dari pihak asrama universitas yang sedang diusahakan oleh lembaga kaderisasi. (Yerri Syaf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, Cerita, Kajian Islam Haedar Nashir

Senin, 07 Desember 2015

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Bogor, Haedar Nashir. Pernikahan tanpa melalui Kantor Urusan Agama (KUA) masih menjadi problem di tengah masyarakat. Problem ini menjadikan mereka tidak terdaftar sehingga belum memiliki surat-surat nikah.

Permasalahan ini ditangkap oleh mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Program Studi Ahwalus Syakhsiyah untuk memfasilitasi Sidang Itsbat Nikah, Jumat (8/9) dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Cisuuk, Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa KKN Unusia Fasilitasi Warga Lakukan Itsbat Nikah

Dosen Pendamping KKN Unusia Hayaturrahman mengungkapkan, proses fasilitasi ini untuk kedua kalinya setelah KKN tahun 2016 lalu juga mengadakan sidang itsbat nikah di Kampung Pulo, Cibeuteung Udik yang diikuti oleh 25 pasangan nikah.

“Di Kampung Cisuuk ini diikuti oleh 45 pasangan nikah. Ini bagian dari praktik Tri Darma Perguruan Tinggi bidang pengabdian masyarakat,” jelas Hayaturrahman saat dikonfirmasi Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, proses advokasi ini mempunyai peran penting untuk kelangsungan masa depan warga terutama anak-anaknya. Mereka tidak mungkin bisa mengurus identitas kependudukan dan akte kelahiran anak jika belum mempunyai surat-surat nikah.

Sementara itu, Kepala Desa Cibeuteung Udik, Bambang Indra Gunawan mengungkpkan, sangat berterima kasih kepada pihak mahasiswa dan kampus Unusia yang telah mengfasilitasi program yang sangat dibutuhkan masyarakat ini. 

“Karena dengan itsbat nikah ini program pemerintah bisa sangat terbantu dalam mendukung program tertib administrasi dan berimplikasi pada peningkatan pelayanan pemerintah kepada keluarga yang bersangkutan,” ucap Bambang.

Sidang itsbat nikah ini dipimpin langsung oleh Hakim dari Pengadilan Agama Kabupaten Bogor dibantu beberapa anggotanya. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Warta, Sholawat, Nusantara Haedar Nashir

Kamis, 03 Desember 2015

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Jakarta, Haedar Nashir - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menyatakan keprihatinannya melihat aksi-aksi intoleran yang belakangan marak. Menurutnya, para pelaku aksi intoleransi kadang mengatasnamakan Pancasila untuk aksi intoleransinya itu.

Demikian disampaikan Ghopur saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan LKSB di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Orang Tafsirkan Pancasila secara Sempit

Ia melihat adanya kesalahpahaman di kalangan pemuda terutama dalam hal berbangsa dan bernegara. Kesalahpahaman ini, menurutnya, dipicu oleh kurang maksimalnya transfer pengetahuan kebangsaan atau tidak menyebar secara merata di kalangan generasi muda saat ini.

“Tidak heran kalau itu penyebabnya banyak orang menafsirkan Pancasila secara sempit,” kata Ghopur yang juga Wakil Ketua PP Lesbumi.

Haedar Nashir

Sementara Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Crhisman Damanik menegaskan, banyak anak bangsa sekarang tercerabut dari akar historis Pancasila. Mereka kehilangan arah.

Haedar Nashir

“Mereka melakukan praktik-praktik sosial dan politik yang jauh dari cita-cita persatuan dan semangat keadilan sosial yang digariskan para pendiri bangsa Indonesia,” kata Chrisman.

Diskusi ini sebelumnya diberi sambutan oleh Wakil Ketua Umum PBNU Prof Dr M Maksum Machfoedz. Forum ini diikuti oleh puluhan aktivis pemuda yang tergabung dalam gerakan-gerakan kemahasiswaan dari pelbagai latar belakang agama. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Minggu, 29 November 2015

Ahmadinejad Tolak Batas Waktu Nuklir PBB

Teheran, Haedar Nashir

Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad menolak batas waktu PBB yang membayang bagi Iran untuk menangguhkan pengayaan uranium, dan mengatakan tidak akan menghentikan aktivitas nuklir yang sensitif sebagai prasyarat bagi pembicaraan.

"Kami setuju dialog. Namun agar supaya kami berbicara mereka menerapkan syarat yang akan mencabut kami dari hak kami," Ahmadinejad mengatakan dalam satu rapat umum di Rasht, ibukota provinsi Gilan, Iran utara, Selasa (20/2).

Ahmadinejad Tolak Batas Waktu Nuklir PBB (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmadinejad Tolak Batas Waktu Nuklir PBB (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmadinejad Tolak Batas Waktu Nuklir PBB

Komentarnya itu tiba sebelum habis berlakunya batas waktu Dewan Keamanan PBB bagi Iran untuk menghentikan pekerjaan pengayaan uranium yang sensitif dan juga laporan pengawas PBB Jumat mengenai pemenuhannya pada tuntutann tersebut.

"Kami katakan pada mereka (Barat), bagaimana dapat pabrik kekayaan anda terus bekerja ketika anda minta penangguhan kegiatan kami?," katanya dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah.

Ahmadinejad mengatakan pada kerumunan ribuan orang itu, satu-satunya skenario tempat Iran dapat menghentikan pengayaan tersebut adalah jika kekuatan nuklir lainnya menangguhkah pengayaan mereka sendiri.

"Jika mereka mengatakan bahwa pabrik produksi nuklir kami dan putaran bahan bakarnya harus ditutup, ini tidak masalah. Namun keadilan mengharuskan bahwa mereka yang ingin berunding harus menghentikan putaran bahan bakar nuklir mereka sendiri," katanya.

Haedar Nashir

"Hari yang mana rakyat Iran dapat menggunakan bahan bakar nuklir dan putaran produksinya penuh dalam pertanian, kedokteran dan bidang lainnya, akan menjadi satu langkah besar dalam kehidupan rakyat Iran," Ahmadinejad menambahkan.

"Jika mereka mengira mereka dapat menciptakan pembagian di antara rakyat Iran dengan gertakan, upaya dan rencana mereka, mereka akan tahu mereka 100 persen salah. Rakyat Iran telah bertahan keras dan akan mempertahankan hak nuklir mereka hingga akhir."(ant/afp/dar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Cerita, Internasional, Olahraga Haedar Nashir

Senin, 16 November 2015

Cerita Yenny Wahid tentang NU dan Muhammadiyah

Jakarta, Haedar Nashir. Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengakui, antara NU dan Muhammadiyah ada sedikit perbedaan dalam beberapa hal yang sifatnya cabang agama, bukan inti agama itu sendiri. Dulu, perbedaan-perbedaan tersebut menjadikan pengikut kedua ormas tersebut menjadi tegang dan ada jarak.

Namun menurut Yenny, perbedaan-perbedaan tersebut luntur dan tidak menjadi persoalan lagi seiring dengan perkembangan zaman. Bahkan, kedua pengikut ormas tersebut sudah tidak mempermasalahkan lagi apakah Shalat Subuh memakai doa qunut atau tidak dan perdebatan apakah jumlah rakaat Shalat Terawih sebelas atau dua puluh tiga.

Cerita Yenny Wahid tentang NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Yenny Wahid tentang NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Yenny Wahid tentang NU dan Muhammadiyah

“Lha mereka tidak Shalat Tarawih. Jadi, apa yang diperdebatkan,” kata Yenny disambut derai tawa peserta saat ia menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Merawat Pemikiran Guru-guru Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina dan Nurcholish Madjid Society di Jakarta, Rabu (12) sore.

Lebih jauh, Yenny menceritakan tingkah lucu Katib ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf dan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’thi saat menghadiri acara di Denmark.

“Yang paling saya nikmati adalah interaksi antara NU yang dalam hal ini diwakili oleh KH Yahya Cholil Staquf dan Pak Mu’thi. Pak Mu’thi mengirimkan postingan di grup WA dengan kaos bertuliskan sudah berisitri jangan digoda kecuali mau jadi yang kedua,” katanya diikuti tawa peserta diskusi.

Haedar Nashir

“Langsung dibalas sama Pak Cholil Yahya Tsaquf. Postingan seseorang pakai kaos tulisannya rela dimadu asal kamu rela diracun,” lanjut Yenny kemudian disambut gelak tawa peserta.?

Haedar Nashir

Dari kejadian tersebut, ia menyimpulkan bahwa hubungan antara NU dan Muhammadiyah itu sudah cair dan tidak tegang lagi. “Ini menggambar betul NU dan Muhammadiyah ya seperti ini,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen Haedar Nashir

Minggu, 15 November 2015

Mahasiswa Pesantren Annuqayah Juara Umum Pekan Arabi 2015

Sumenep, Haedar Nashir. Hari Santri menjadi berkah tersendiri bagi para santri pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Pasalnya, di Hari Sanstri ini kafilah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) keluar sebagai juara umum dalam acara Pekan Arabi 2015 di Universitas Negeri Malang.

"Alhamdulillah berkat doa dan dukungan segenap Masyayikh Annuqayah, dewan guru/dosen, sahabat, dan semua tanpa terkecuali, malam ini 22 Oktober 2015 (bertepatan dengan hari santri), kami Kafilah Institut Ilmu Keislaman Annuqayah telah dinobatkan sebagai Juara Umum dalam acara Pekan Arabi 2015," terang salah satu juara dari Annuqayah Musyfiqur Rahman.

Mahasiswa Pesantren Annuqayah Juara Umum Pekan Arabi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Pesantren Annuqayah Juara Umum Pekan Arabi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Pesantren Annuqayah Juara Umum Pekan Arabi 2015

Rincian pencapaian lomba tersebut, ialah sebagai berikut:

Haedar Nashir

1). Musyfiqur Rahman (Juara 1 Lomba Debat Bahasa Arab dan Juara 3 Lomba Esai Bahasa Arab)

Haedar Nashir

2). A Munawwir dan Mukhlis (Juara 1 Lomba Debat Bahasa Arab)

3). M. Rahmat (Juara 1 Lomba Baca Puisi Bahasa Arab)

4. Achmad Ainul Yaqin Amrullah (Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Arab) 

5. Faishal Anam (Juara 3 Lomba Nasyid Arabi) 

"Kami sangat berterima kasih kepada kiai sepuh Annuqayah yang selalu membimbing dan mendoakan kami. Kami haturkan terima kasih pula kepada guru-guru dan kiai muda Annuqayah yang terus mendidik dan memompa semangat berprestasi kami, seperti Kiai Mohammad Husnan, Kiai.Muhammad Musthafa, Kiai Nail Filhaq, Kiai Ubaidillah Tsabit dan semuanya tanpa terkecuali," tukas Musyfiqur Rahman. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Pertandingan, Hadits Haedar Nashir

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Jember, Haedar Nashir - Diakui atau tidak, saat ini tengah terjadi upaya penggerusan yang luar biasa terhadap legitimasi NU. Kepercayaan masyarakat terhadap NU digembosi pascademo anti-Ahok beberapa waktu yang lalu. Tokoh-tokoh NU –dan siapa saja—yang menolak mendukung demo antiAhok seolah-olah menjadi musuh bersama umat Islam. Padahal tidak demikian.

Hal tersebut diungkapkan aktifis NU Jember Muhaimain Kamal saat mengisi acara Mapaga (Masa Pemantaban Anggota) di gedung Ansor Cabang Jember, Ahad (18/12).?

Menurut Muhaimin, ada skenario besar dari pihak-pihak tertentu untuk mendelegitimasi NU dengan memanfaatkan isu anti-Ahok. “Disebarkanlah isu seolah-olah NU tidak membela Islam. NU seakan-akan pro penista agama. Padahal tidak demikian. Untuk soal membela Islam, NU tidak penah menawar. Tapi itu tidak harus dengan demo,” ucapnya.

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-hati, Ada Skenario Agar NU Ditinggalkan Jamaahnya

Dosen IAIN Jember tersebut menambahan, upaya-upaya pihak tertentu dalam mengikis kepercayaan masyarakat terhadap NU dilakukan secara massif. Dan mereka berhasil membikin opini seolah-olah NU salah karena tidak mendukung demo anti-Ahok. Begitu juga ulama yang tidak setuju? demo anti-Ahok dianggap tidak membela Islam.

Ia lalu mencontohkan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Siapa pun tahu bagaimana teduh dan bijaknya pemikiran-pemikiran Gus Mus. “Tapi ketika beliau tidak mendukung demo (anti-Ahok), minimal ada yang mempertanyakan kenapa tidak mendukung. Seolah-olah Gus Mus salah. Muara dari semua itu, ya delegitimasi NU. Agar NU ditinggalkan massanya. Kalau NU sudah rapuh, maka mereka punya agenda lain,” tuturnya.

Haedar Nashir

Karena itu, katanya, tiada cara lain kecuali NU harus mengonsolidasi diri. Fikrah nahdliyyah berbasis Ahlussunnah wal jama’ah ala NU, perlu diteguhkan dan ditanamkan terus di simpul-simpul massa akar rumput NU. “Amaliah NU yang berbasis Aswaja dan mu’malah NU yang bercirikan tawasshuth, i’tidal dan sebagainya, perlu dijadikan pegangan,” cetusnya.

Mapaga tersebut digelar oleh PMII Rayon Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember, dan diikuti oleh 30 anggota baru PMII. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Nusantara Bershalawat, Sekaligus Pelantikan Syekher Mania Lampung

Metro-Lampung, Haedar Nashir. Bertajuk Nusantara Bershalawat, Syekher Mania Provinsi Lampung dikukuhkan oleh Habib Syeh bin Abdul Qadir Assegaf dengan mengambil lokasi di samping Gedung NU Kota Metro, Kamis (20/04) malam.

Nusantara Bershalawat, Sekaligus Pelantikan Syekher Mania Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusantara Bershalawat, Sekaligus Pelantikan Syekher Mania Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusantara Bershalawat, Sekaligus Pelantikan Syekher Mania Lampung

Selain pengukuhan Syekher Mania Lampung, acara tersebut digelar dalam rangka Harlah 2 Windu, Khotmil Quran Juz 30, dan Juz Amma PP Roudlotul Quran Kota Metro, Lampung.

Dihadiri oleh puluhan ribu Syekher Mania dari seluruh penjuru Lampung dan sekitarnya yang tentu sudah kangen dengan sosok Habib Syeh dan lantunan shalawatnya. Maklum saja, karena Habib Syeh terakhir hadir di Lampung yaitu pada acara Lampung Tengah Bershalawat jilid II pada bulan September tahun lalu.

Hadir pula di acara tersebut, Pengasuh PP Raudloutul Quran Metro KH Ali Komarudin, Bupati Pringsewu KH Sujadi Saddat, Pengurus PP Sabilun Najah Kotagajah KH Daroini Ali, Mantan Bupati Tanggamus Fauzan Sai, Wakil Bupati Tanggamus H Samsul Hadi, Pengasuh PP Daruk Ulum Seputihbanyak KH Fathul Mujid dan tokoh-tokoh penting lainya yang masuk dalam jajaran Dewan Penasehat Syekher Mania Lampung.

Haedar Nashir

Bupati Lampung Tengah H Mustafa didaulat menjadi Ketua Syekher Mania Lampung dan ditunjuk langsung oleh Habib Syeh saat Habib Syeh hadir dalam acara Lampung Tengah Bershalawat jilid 2 bulan September tahun lalu.

Jadi tidaklah mengherankan jika ditunjuknya H Mustafa sebagai ketua Syekher Mania Propinsi Lampung karena Lampung Tengah adalah satu-satunya kabupaten/kota di Propinsi Lampung yang sering mendatangkan Habib Syeh dalam beberapa momen kegiatannya. Terhitung sudah tiga kali ini Habib Syeh hadir di Lampung Tengah.

Habib Syeh dalam kesempatan tersebut menyatakan apresiasinya kepada Syekher Mania"Saya sangat mengapresiasi dengan semangat para Syekher Mania di Lampung, terutama di Lampung Tengah. Jamaahnya selalu penuh untuk melantunkan shalawat. Agar ini terus terjaga, saya berharap Pak Mustafa bisa menjadi Pembina Syekher Mania di Lampung. Saya percaya di bawah kepemimpinan beliau, Syekher Mania Lampung bisa lebih aktif lagi," ujar Habib saat itu. (Henudin/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir

Selasa, 10 November 2015

LBMNU: Nikah Siri Online Bisa Jadi Ajang Perzinaan

Jakarta, Haedar Nashir. Umat Islam diimbau sangat berhati-hati dalam melakukan praktik nikah secara online. Pasalnya, dengan maksud dan ketentuan yang menyimpang dari aturan syari’at, nikah lewat dunia maya ini bisa menjadi sarana melakukan perzinaan bagi kedua pasangan.

"Jika nikah siri online akadnya abal-abal, jelas haram, dan hal itu menjadi pembuka kesempatan perzinaan," kata Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PBNU KH Arwani Faisal, Rabu (18/3), menaggapi maraknya fenomena menikah siri dengan hanya berbekal koneksi internet belakangan ini.

LBMNU: Nikah Siri Online Bisa Jadi Ajang Perzinaan (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU: Nikah Siri Online Bisa Jadi Ajang Perzinaan (Sumber Gambar : Nu Online)

LBMNU: Nikah Siri Online Bisa Jadi Ajang Perzinaan

Kiai Arwani menjelaskan, memang ada sebagian ulama yang memperbolehkan nikah secara online. Namun hal tersebut tetap dengan melengkapi syarat dan rukun yang sudah menjadi keharusan dalam akad nikah. Ulama yang menganut pendapat ini memaknai keharusan menikah dalam satu majelis sebagai akad yang tak boleh terputus alias harus dilakukan dalam satu waktu, bukan tempat.

Haedar Nashir

Fenomena nikah online menjadi tren lantaran sarana kemudahan yang diberikan. Tak jarang hal ini dimanfaatkan oleh pria hidung belang dan perempuan malam untuk melampiaskan nafsu mereka dengan berlindung di balik aturan fiqih nikah. Dalam praktiknya, sering terjadi pelanggaran terhadap ketentuan nikah yang semestinya.

"Hukumnya tetap haram dan hubungan senggama yang kemudian dilakukan termasuk zina, jika syarat dan rukun nikah yang mesti terpenuhi itu ternyata abal-abal. Misalnya, walinya bukan wali yang sebenarnya, dan saksinya bukan saksi yang sah," tambahnya lewat surat elektronik.

Haedar Nashir

Kiai Arwani mengingatkan, jangan ada kemasan dengan sebutan apapun yang mengesankan nikah sah padahal kenyataannya adalah perzinaan karena syarat dan rukunnya tidak terpenuhi. "Jika fenomena ini benar, Kementerian Agama wajib segera mengambil tindakan cepat dan tegas," katanya.

Menurut Kiai Arwani, sebagian ulama tidak menganggap nikah online sebagai praktik yang sah. Karena menurut mereka, akad nikah harus dilakukan dalam satu majelis, dengan pengertian ada pertemuan langsung dalam satu tempat antara pihak yang melakukan ijab dan qabul. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 06 November 2015

LDNU Subang Prihatin Wali Murid Pidanakan Guru

Subang, Haedar Nashir - Maraknya kasus guru yang dipidanakan oleh orang tua murid merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan. Karena sesungguhnya guru tidak mungkin menghukum murid kecuali dengan sebuah alasan yang jelas.

Demikian disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Subang Ajengan Toto Ubaidillah Haz (Kang Toto) saat walimatul khitan di Subang, Sabtu (13/8) malam.

LDNU Subang Prihatin Wali Murid Pidanakan Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Subang Prihatin Wali Murid Pidanakan Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Subang Prihatin Wali Murid Pidanakan Guru

"Kalau tidak terima anaknya dihukum oleh guru, silakan didik sendiri anaknya, bikin kelas sendiri, bikin raport sendiri. Karena menurut sabda Rasulullah, salah satu kewajiban orang tua adalah mendidik sendiri anaknya. Jadi mendidik itu adalah tugas dan kewajiban orang tua, bukan guru," tegas Kang Toto.

Haedar Nashir

Menurutnya, tidak semua orang tua bisa mendidik anaknya. Sementara kewajiban mendidik ini harus tetap dilaksanakan. Hal ini bisa diatasi dengan cara menitipkan anaknya tersebut kepada guru agar bisa mewakili orang tua dalam hal melaksanakan kewajibannya mendidik anak.

"Kalau anak salah, jangan dibela supaya dia tahu mana yang salah dan mana yang benar. Kalau anak berbuat salah tapi orang tua tetap membelanya, maka anak tersebut akan menjadi generasi yang lemah," tandasnya.

Haedar Nashir

Selain mendidik, kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah memberikan nama yang baik. Jangan sampai anak diberi nama sembarangan karena nama bisa menjadi sebuah doa. Jika anak diberi nama yang baik, maka setiap hari anak tersebut selalu didoakan oleh setiap orang yang memanggil namanya. Begitu pun juga sebaliknya.

Kewajiban orang tua selanjutnya adalah memberikan makanan yang halal, karena makanan halal sangat mempengaruhi terhadap kepribadian anak dan juga akan berdampak terhadap perilaku anak di masa kini dan masa yang akan datang.

"Kalau ada orang tua yang memberikan makanan haram kepada anaknya, jangan harap anak tersebut akan menjadi anak yang saleh. Jangan harap anaknya itu menyukai perkara yang halal," ujar alumni UPI Bandung ini.

Kewajiban terakhir, ketika anak sudah beranjak dewasa, orang tua diwajibkan menikahkan anaknya. Setelah menikah, orang tua tidak perlu ikut terlibat dalam urusan rumah tangga anaknya karena itu sudah menjadi wilayah pribadi anaknya dan bukan menjadi wilayah kewajiban orang tua. Dalam kondisi seperti ini, hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah hanya memberi nasihat.

Di akhirat kelak, Allah akan menanyakan dan meminta tanggung jawab para orang tua terhadap empat kewajiban ini. Kalau ada kewajiban yang tidak dilaksanakan, anak akan menuntut para orang tua. Jika kewajiban orang tua itu dilaksanakan, anak akan memberi pertolongan di alam akhirat nanti. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Lomba, Tokoh Haedar Nashir

Senin, 02 November 2015

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham

Jakarta, Haedar Nashir. Otoritas bursa saham, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalin kerja sama dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU). Kerja sama ini merupakan wujud keseriusan BEI untuk terus meningkatkan jumlah investor pasar modal.

Selain penandatanganan memorandum of understanding (MoU), kerja sama Muslimat dengan BEI juga ditandai dengan ? pembukaan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI oleh Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muslimat NU Diperkenalkan Bursa Saham

Pada kesempatan tersebut, Khofifah mengajak kader Muslimat giat berinvestasi. Salah satunya melalui perdagangan di lantai bursa saham.

Haedar Nashir

"Mulai sekarang kita menginisiasi pembukaan perdagangan. Semoga kehadiran Muslimat NU di pasar saham memberi kesejahteraan dan membangun kedaulatan ekonomi bangsa serta memperkuat perekonomian, win-win profit," katanya.

Sebelumnya, sejumlah saham yang tercatat di BEI memang sudah ada yang memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sehingga, ormas perempuan ini sangat yakin untuk mengajak 12 juta kadernya di 33 provinsi untuk ikut ambil bagian di pasar saham.

Haedar Nashir

Wakil Sekretaris Jenderal PP Muslimat NU, Yenny Zannuba Arifah Chafsoh melihat langkah ormasnya bisa mengembangkan dan memajukan pengetahuan tentang pasar modal sebagai sesuatu yang luar biasa. Perempuan yang akrab disapa Yenny Wahid ini sebagai bentuk peningkatan partisipasi serta menambah keterampilan dari kalangan perempuan.

Menurutnya, impian menjadi investor Muslimat didukung potensi kuantitas anggota. Partisipasi aktif anggota Muslimat NU pun diyakininya bisa memberi nilai tambah bagi perekonomian umat.

"Keuangan nasional berimbas pula pada rumah tangga, perempuan harus bisa menyiasati agar tak menjadi korban," kata Yenny.

Dikatakannya, pengetahuan finansial yang didapatkan diiringi praktik di lapangan bakal menambah keistimewaan fungsi perempuan. Sehingga perempuan bukan hanya sekadar menjadi kasir, tapi manajer yang strategis mengatur keuangan.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo, mengatakan, kerja sama yang dibuat kedua pihak ini sebagai wujud untuk mengembangkan sektor pasar modal.

"NU memiliki konstituen di wilayah timur cukup banyak. Kami optimistis kerja sama BEI dan Nahdlatul Ulama ini dapat memberikan kontribusi positif untuk pasar modal Indonesia," kata Uriep.

Direktur pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dengan penandatanganan kerja sama itu diharapkan menjadi kegiatan sosialisasi dan perencanaan investasi bagi muslimat Nadhatul Ulama.

Apalagi, katanya, saat ini di dalam Bursa Efek Indonesia terdapat daftar efek syariah yang bisa dijadikan acuan pilihan investasi. "Kami optimis kerja sama BEI dan Nadhatul Ulama ini dapat memberikan kontribusi positif untuk pasar modal Indonesia dan turut serta memberi kontribusi positif dan meningkatkan jumlah investor," katanya.

Ia menambahkan, saat ini jual-beli saham di BEI juga sudah mendapatkan sertifikat halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Rabu, 28 Oktober 2015

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang

Jember, Haedar Nashir - Kisah perjuangan KH As’ad Syamsul Arifin yang sukses “menumpas” serdadu Jepang? di Desa Garahan, Kecamatan Silo,? Jember, Jawa Timur, bukan semata-mata mengandalkan usaha fisik tapi juga doa dan wiridan yang tak putus-putus meluncur dari bibir sang kiai dan para pejuang lainnya.

Hal ini terekam dalam penelusuran tim pencari fakta peringatan “Napak Tilas Nasional 2016, Sejarah Perjuangan Pengusiran Penjajah Jepang di Curah Damar”? yang akan digelar pada 9-10 November 2016.

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai As’ad Baca Ratibul Haddad Sebelum Dicegat Serdadu Jepang

Alkisah, saat itu Desa Garahan menjadi markas serdadu Jepang untuk Jember bagian timur. Kiai As’ad selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia, berinisiatif untuk mengusir mereka sejauh mungkin. Maka Kiai As’ad dan sejumlah kiai serta petinggi tentara Hizbulloh berkumpul di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Kecamatan Sukowono terkait rencana itu. Dan memang, pesantren yang ketika itu diasuh oleh? Kiai Umar tersebut, sejak lama menjadi markas perjuangan melawan penjajah.

Haedar Nashir

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah Kiai As’ad dan rombongan menuju markas Jepang di Desa Garahan. Desa Garahan sendiri terletak sekitar 45 kilometer ke arah tenggara dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang menjadi start gerilya. Mereka berjalan kaki melewati arah selatan. Sampai di Desa Sumberwaru, tepatnya di rumah Kiai Sholeh, sekitar 5 kilometer dari start, Kiai As’ad dan rombongan berhenti. Di situ Kiai? As’ad berembuk, mencari cara yang tepat untuk menghadapi serdadu Jepang.

Haedar Nashir

“Seperti kata Nyai Sholeh, beliaulah yang saat itu selama sekian hari melayani kebutuhan konsumsi Kiai As’ad dan rombongan. Nanaknya dini hari untuk makan setelah rapat dan koordinasi dengan para kiai,” tukas Ketua Panitia Bidang Perlengkapan sekaligus tim pencari fakta Napak Tilas 2016, Ustadz Fauzi kepada Haedar Nashir di Jember, Selasa (13/9).

Setelah dirasa cukup berkoordinasi, Kiai As’ad dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun sekitar 4 kilometer kemudian, Kiai As’ad dan rombongan kembali berhenti, tepatnya di? Pesantren Sayyidul Ali, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono. Saat itu pesantren tersebut diasuh oleh KH. Syarkowi. “Di? situ Kiai As’ad hanya satu malam. Beliau dan rombongan membaca rotibul haddad semalam suntuk,” lanjut Ustadz Fauzi yang juga alumni? Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Asembagus, Situbondo tersebut.

Keesokan harinya, Kiai As’ad dan rombongan bergerak menuju Desa Garahan. Tapi perjalanan belum begitu jauh, serdadu Jepang sudah menunggu di sungai Kramat. Mereka mencegat Kiai As’ad, hingga pertempuran pun tak bisa dihindari. Atas pertolongan Allah, Kiai As’ad berhasil memaksa mereka lari terbirit-birit, menyelinap dalam kelebatan hutan. (Aryudi A Razaq)

Bersambung…



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Sabtu, 24 Oktober 2015

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?


Jakarta, Haedar Nashir
"Pendidikan semakin mahal, buku berganti-ganti. Belum iuran ini dan itu, susah !" ungkap seorang ibu rumah tangga di Kramat Raya, kepada Haedar Nashir, Senin (1/8) ketika mengantar anaknya sekolah.

Mira, nama ibu itu juga mengeluhkan masih adanya kewajiban anak-anak mereka yang mesti membeli buku pelajaran dari sekolahnya yang umumnya harus pula sekaligus dibayarkan pada awal tahun ajaran baru ini.

Untuk pelajar SD, misalnya, paling tidak harus disediakan buku matematika (seharga Rp 25.000), bahasa Indonesia (Rp 15.000), IPA (Rp 15.000), IPS (Rp 15.000). Belum lagi buku-buku yang lain. Paling tidak, untuk keperluan buku-buku pelajaran anak SD diperlukan biaya antara Rp 125.000 hingga Rp 170.000.

"Padahal dulu buku-buku sekolah relatif murah dan bisa dipakai secara turun-temurun, tapi sekarang tiap semester bukunya beda-beda, mahal lagi," papar Mira yang memiliki 3 putera dan 1 puteri yang masih duduk di SD dan SMP ini.

Keluhan ini, parahnya ditengah rencana pemerintah menerapkan kebijakan  Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang semestinya diikuti dengan penghentian berbagai pungutan bagi siswa yang memberatkan para orangtua itu.

Menanggapi kondisi ini pegiat di dunia buku, G Aris Buntaran menilai hampir tak ada Presiden yang memberi perhatian khusus terhadap dunia perbukuan, selain Soekarno. Presiden Soekarno dalam sebuah rapat akbar memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Priyono, ketika itu, untuk menerbitkan buku murah, kenangnya.

Setelah itu, tak ada lagi rezim yang memberi perhatian untuk menerbitkan buku murah. Padahal, kata Aris, India saja memiliki political will untuk menerbitkan buku murah. Dengan kebijakan itu, rakyat bisa membaca buku tanpa harus merogoh kantong terlalu dalam.

Bila negara mau serius, buat saja kertas khusus yang ringan dan murah khusus digunakan untuk mencetak buku murah, paparnya. Untuk kalangan masyarakat yang mampu, bisa membeli buku yang sama namun dengan kualitas kertas yang lebih baik. Hal itu, sudah berlangsung di India.

Hal senada juga dikemukakan Kabid Hukum Humas dan Kerjasama Antarlembaga Ikapi Cabang DKI Jakarta, HR Harry. Menurutnya, sebenarnya harga buku bisa lebih murah. Asalkan, imbuh dia, beberapa komponen bahan pembuat buku seperti kertas dan tinta disubsidi pemerintah.

Pemerintahkan memiliki beberapa perusahaan kertas. Buat saja kertas khusus yang disubsidi untuk menerbitkan buku murah, paparnya. Ia pun berharap agar royalti penulis yang hanya 10 persen dari oplah buku ditingkatkan, dan pajak buku 10 persen dihapus saja. Pemerintah bisa mengalokasikan dana kompensasi BBM untuk buku murah. tandasnya.

Sementara itu menurut sumber Haedar Nashir yang enggan disebutkan namanya mengatakan, mahalnya harga buku sekolah karena masuknya mavia percetakan ke lingkungan Diknas dengan proyek-proyek perbukuan yang disusun berdasarkan kurikulum Diknas. "Mavia ini bekerjasama dengan orang dalam, dan ini sudah berlangsung lama," tandasnya tanpa mau menyebutkan siapa mavia itu.(cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Syariah, Humor Islam Haedar Nashir

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Sekolah Kok Mahal Sih...? (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Sekolah Kok Mahal Sih...?

Kamis, 15 Oktober 2015

Ada Keringanan dalam Beribadah

Jakarta, Haedar Nashir. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al-Baqarah 2: 286). Potongan ayat ini menjadi pengantar dalam Pengajian Online Ramadhan kitab “Manahijul Imdad” bidang fikih-tasawuf karya ulama besar Nusantara Syeikh Ihsan Jampes di ruang redaksi Haedar Nashir, lantai V gedung PBNU Jakarta, Jum’at (21/9), yang diasuh oleh KH Arwani Faisal dari Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU. Pengajian kali ini membincang keringanan-keringanan dalam menjalankan ibadah puasa.

Bahwa Allah SWT memberikan keringanan (rukhshoh) bagi orang yang berkesulitan dalam menjalankan ibadah puasa. Namun definisi “kesulitan” (masyaqqah) dulu dan sekarang sangat berbeda. Sebagai misal adalah kesulitan apa yang membebani orang yang sedang bepergian (musafir), sementara betapa mudah alat transportasi saat ini.

Ada Keringanan dalam Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Keringanan dalam Beribadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Keringanan dalam Beribadah

Syeikh Ihsan Jampes dalam kitab Manahijul Imdad jilid 1 hal 491 mengutip pendapat dari madhab Syafi’i bahwa puasa lebih utama bagi musafir yang kuat menjalankan ibadah puasa atau tidak merasa mendapat masyaqqah, berbeda dengan para ulama madzab lainnya yang lebih memilih untuk membatalkan puasa, itupun dengan syarat bepergian dilakukan sejak sebelum waktu puasa.

Namun peserta pengajian dari Kebumen dan Jakarta yang mengikuti pengajian secara online melalui akun pbnu_online@yahoo.com justru menyoal definisi masyaqqoh yang dimaksud. Pada hampir semua kitab fikih masyaaqqah selalu didefinisikan dengan jarak perjalanan (masafah) yakni sepanjang 16 marhalah atau sekitar 96 km menurut madhab Syafi’i. Sementara masyaqqah saat ini tidak bisa didefinisikan sesederhana itu.

Menurut Kiai Arwani, masyaqqoh mengandung maksud sesuatu yang bisa mendatangkan kesengsaraan atau bahkan mendatangkan kejelekan (madzorot). “Misalnya Jakarta-Cikampek kan bisa menjapai 100 KM, padahal bisa ditempuh dengan cepat, dan pakai mobil ber-AC, apa lantas boleh meninggalkan puasa? Masyaqqah tidak seperti itu,” kata Kiai Arwani.

Dicontohkan juga pada kasus ibu yang hamil tua atau sedang menyusui, masyaqqoh yang dimaksud adalah kekhawatiran akan adanya kesengsaraan yang dalami oleh ibu atau bayinya. Menjawab pertanyaan Ibu Erwin, seorang peserta pengajian yang berada di Australia, mengenai wanita hamil dan menyusui, masyaqqah yang dimaksud adalah kehawatiran adanya bahaya bagi ibu atau anaknya menurut dokter ahli.

Haedar Nashir

Namun demikian, ditambahkan Kiai Arwani, faktor terpenting adanya masyaqqah dalam setiap ibadah sebenarnya lebih diketahui oleh indivudu yang bersangkutan. Pada persoalan musafir dapat dipastikan bahwa masing-masing orang lebih tahu apakah dia merasa berat atau tidak dalam menjalankan ibadah pada saat dia bepergian, dan ini tentu tidak dimaksudkan bagi individu yang selalu manja dan menuntut keringanan dalam beribadah.

Keringanan lain dalam ibadah puasa adalah bagi orang yang sakit (maridl) dan para manula. Orang sakit sekiranya akan bertambah parah penyakitnya jika dia puasa diperkenankan mengganti atau meng-qodlo puasa di hari yang lain. Sementara para manula atau orang sakit yang sudah tidak mungkin menjalankan ibadah puasa diperkenankan mengganti puasanya dengan tebusan (fidyah) sebanyak 1 sho’ atau sekitar 0,6 kg atau 6 ons makanan pokok perhari puasa yang ditinggalkan.

Ditambahkan, madzab Syafi’i tetap tidak membolehkan membayar fidyah dengan uang, sementara madzab Hanafi membolehkan mengganti fidyah dengan uang senilai 1 sho’ makanan pokok. Namun demikian para ulama sepakat untuk memberikan fidyah kepada fakir-miskin di daerah mana orang yang bersangkutan tinggal.(nam)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Selasa, 13 Oktober 2015

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Sumedang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Lembaga Ta’mir Mesjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) kabupaten Sumedang akhir pekan kemarin mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas yang melibatkan imam-khotib dan pengurus masjid sekecamatan Buahdua. Di desa Cilangkap, Ahad (7/6), peserta diajak untuk membaca kembali peran mereka di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Sumedang Ngaji Etika Imam dan Khotib

Peserta yang berjumlah 35 orang ini mengupas etika imam dan khotib. Pada kesempatan ini, mereka juga mengaji materi Fiqh Jum’at, materi Al-Qur’an, serta teknik penyusunan kepengurusan masjid.

"Pelatihan ini sangat bermanfaat dan penting, sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, wawasan, dan kualitas seorang yang dipercaya sebagai salah satu komponen penegak amar ma’ruf ? nahi mungkar. Terlebih dalam menghadapi tuntutan zaman dengan problem masyarakat yang semakin kompleks, maka dibutuhkan kemampuan yang cukup bagi seorang imam dan khatib,” kata Ketua LTMNU Sumedang ustadz Eman Sulaeman.

Haedar Nashir

Ustadz Eman menyebut beberapa peran dan fungsi yang harus diwujudkan seorang imam dan khatib di tengah masyarakat. Mereka, kata Eman, harus mampu menjadi pemersatu umat, menjadi benteng aqidah, menjadi contoh teladan, menjadi rujukan dalam masalah keislaman, dan membangun soliditas umat.

"Khusus mengenai perannya sebagai rujukan dalam masalah keislaman, hendaknya imam dan khatib untuk selalu menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang keislaman. Karena, bagaimanapun seorang imam dan khatib pasti akan menjadi tempat bertanya masyarakat soal keislaman,” Ketua LTMNU menambahkan.

Haedar Nashir

Ketua PCNU Sumedang KH Sa’dulloh yang hadir sebagai pemateri berharap kegiatan bertema “Meningkatkan Peran NU dalam Upaya Membentuk Imam-Khotib dan DKM yang Berkualitas dan Profesional” ini dapat menjadi dorongan untuk meningkatkan kemampuan imam-khotib masjid.

“Saya berharap pelatihan ini dapat menjadi suatu motivasi untuk meningkatkan kemampuan para imam masjid,” kata Kiai Sa’dulloh. (Ayi Abdul Kohar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

Kudus, Haedar Nashir. Ulama asal Semarang Habib Umar al-Muthohar menyampaikan taushiyah dalam pengajian umum dalam rangka peringatan haul ke-56 KHR Asnawi di Pondok Pesantren Raudlotuth Thalibin Bendan Kudus, Jum’at malam (26/4) kemarin.

Habib mengajak umat Islam untuk selalu menghormati maupun memuliakan yang tua dan memberi kasih sayang kepada yang muda. Bila sikap itu terjaga, kehidupan di dunia akan selalu suasana yang indah dan penuh kedamaian.

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Umar Sampaikan Taushiyah di Acara Haul KHR Asnawi

“Hal itu sesuai tuntunan Nabi Muhammad dalam haditsnya yang menegaskan barang siapa yang tidak memuliakan orang tua dan tidak sayang kepada yang muda, maka ia bukan termasuk golonganku,” katanya.

Haedar Nashir

Ia menerangkan orang tua yang patut dihormati ini tidak hanya dilihat dari sisi usianya saja melainkan orang yang mempunyai kelebihan ilmu, akhlak, ibdahnya, kejiwaan maupun perjuangannya. Meskipun masih berusia muda tetapi memiliki daya linuwih kealiman harus lebih dihormati.

Haedar Nashir

“Begitu pula orang biasa yang sudah berlanjut usia pun harus kita hormat kepadanya baik dalam kondisi masih hidup maupun sudah mati,” tegas Habib di depan ribuan jamaah yang menghadirinya.

Habib juga  mengutarakan orang tua dengan daya lebihnya mampu menjadi tumbal tidak turunnya hari kiamat secara cepat. Mengutip sebuah hadits, Habib menegaskan selama masih ada orang tua yang mau beribadah dan bayi yang menyusui ibunya Qiyamat tidakakan dijatuhkan oleh Allah.

Terhadap yang muda, Habib menjelaskan perlu diberi kesempatan menunjukkan kemahiran untuk mengganti peran yang tua. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang kepada yang muda supaya mampu membentuk generasi penerus yang sudah memiliki kesiapan dan pengalaman.

“Bila yang muda memiliki keinginan baik kita hargai sehingga bisa maju dan yang tua merestui atau mendoakan. Termasuk kita memperingati haul KHR Asnawi ini juga untuk menghormati orang yang mempunyai kelebihan ilmu,akhlak maupun kejiwannya guna meraih keberkahan untuk kita,” tandasnya lagi.

Habib Umar yang menyampaikan ceramahnya dengan nada kocak ini juga menyinggung prilaku masyarakat saat pemilu kemarin memilih calon legislatif karena adanya uang. Menurutnya, sikap demikian tidak baik karena akan melahirkan prilaku politisi yang duduk menjadi anggota DPR/DPRD melakukan penyelewengan.

“Mereka yang duduk di DPR nanti yang dilakukan pertama kali tentu mencari sauran atas uang yang dibagikan kepada anda semua. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka caleg nanti akan bertindak korupsi melalui proyek-proyek pembangunan,”tandasnya lagi.

Pengajian yang dihadiri ribuan jamaah dari Kudus dan daerah lain ini menghadirkan juga KH Abdul Qoyyum Mansur (Lasem) yang berceramah sebelum Habib Umar. Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin Habib Ja’far al Kaff. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Makam, Tokoh Haedar Nashir

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Kudus, Haedar Nashir. Pada Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Jawa Tengah Rabu (24/7) pagi tadi, Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi mengingatkan jangan suka bercanda (guyon) kebablasan yang hanya mengumbar kebohongan. Karena hal tersebut bisa berakibat hati menjadi keras dan fasik.

“Kalau guyon maton diperbolehkan saja, tetapi kalau guyon yang membohongi untuk mengundang tawa belaka itu tidak baik,” katanya saat menerangkan ayat 15- 20 Surat Al-Hadid Juz 27.

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni: Jangan Guyon Kebablasan!

Ulama kharismatik yang biasa disapa Mbah Sya’roni ini menjelaskan bahwa ayat 15 Surat Al-Hadid menerangkan sikap para sahabat Muhajirin yang bercanda berlebihan saat menerima sambutan luar biasa dari sahabat Ansor (sahabat yang sudah mukim di Madinah).

Haedar Nashir

“Kaum Muhajirin diingatkan supaya tidak meniru orang Yahudi yang senang guyon sehingga menjadi fasik sampai lupa kitab Taurat dan Injil,” katanya menerangkan ayat selanjutnya.

Haedar Nashir

Nabi Muhammad, tutur mbah Sya’roni, suka bercanda namun gaya dan materi yang disampaikan tidak pernah bohong. Dikisahkan, Nabi Muhammad menyapa seorang perempuan tua yang selalu menyapu jalan menuju masjid yang sering dilaluinya. Nabi bertanya alasan perempuan tua menyapu jalan itu, sang perempuan menjawab, ingin masuk surga bersama Nabi. 

“Nabi menjawab dengan canda bahwa di surga tidak ada nenek-nenek seperti ibu. Sang perempuan tua itu menangis. Lalu Nabi menyahuti lagi, di surga itu perempuan tua-tua akan menjadi muda lagi. Jadi, ibu tetap masuk surga. Sang nenek tadi bisa tersenyum lega,” cerita Mbah Sya’roni mencontohkan. 

Diterangkan ayat selanjutnya, meskipun banyak orang yang lupa akibat guyonan berlebihan, Allah bisa mengubah kembali menjadi khusuk sehingga ingat kembali kepada Allah maupun membaca Al-Qur’an. 

“Makanya, guyon ya guyon tapi yang maton. Jangan kebablasan. Lebih baik untuk dzikir atau membaca Al-Qur’an,” tegas mbah Sya’roni dalam bahasa Jawa.

Mbah Sya’roni juga menerangkan hidup di dunia adalah permainan, kesenangan, perhiasan untuk kebanggaan manusia belaka. Banyak harta dan anak, merupakan kesenangan di dunia yang hanya sementara. 

“Oleh karenanya kita harus berusaha menggunakan harta benda kita untuk kebaikan termasuk berinfak juga,” ajaknya lagi kepada  ribuah jamaah yang memenuhi ruangan dan halaman masjid Menara Kudus.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 11 Oktober 2015

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Sejarah Nusantara mengatakan kepada kita bahwa Islam di Indonesia lebih menonjol penyebarannya dengan menggunakan budaya sebagai media utama. Meskipun tidak mengalami perkembangan yang berarti selama lebih kurang 500 tahun, namun kemudian terjadi secara massif di masa wali songo.

Moderatisme, toleransi dan sikap tawazun (penuh pertimbangan) dalam kehidupan sosial setidaknya menjadi kunci sukses para Wali Songo itu. Meskipun perkembangannya juga dipengaruhi kondisi politik, namun praktis bisa dikatakan bahwa Islam berkembang dengan pesatnya tampa menimbulkan pertumpahan darah sedikitpun.

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Depan Dakwah Islam di Indonesia

Pada masa para wali ini, Islam kemudian berkembang sedemikian rupa hingga membentuk sebuah institusi sendiri yang mengatur sendi kehidupan masyarakat. Hal ini ditandai dengan beridirnya kesultanan Demak yang menggunakan Islam sebagai konstitusinya. Hukum Islam digali dari berbagai referensi kitab fiqih abad pertengahan khususnya madzhab Syafi’i.

Pada masa berikutnya, agama nasrani datang bersamaan dengan kolonialisme negara-negara Eropa. Pada masa inilah maka kondisi perubahan peta politik Islam di Nusantara mulai terjadi. Kolonial Belanda telah memasangkan pengaruhnya di Nusantara dan relatif berhasil dalam memecah belah politik Islam.

Bersamaan dengan itu, pada sekitar tahun 1700-an datanglah ke Indonesia paham Islam puritan Wahabi yang dibawa dari timur tengah. Sikapnya yang begitu ekstrim terbukti telah mengakibatkan perang saudara di Nusantara yang kemudian dimanfaatkan oleh penjajah. Hal demikian ini membuat politik Islam semakin melemah. Maka secara politis semakin berkuasalah penjajah di bumi nusantara.

Haedar Nashir

Hal demikian ini membuat Belanda mampu memasang sebuah konstitusi yang secara lambat laun kemudian melemahkankonstitusi islami yang telah dibangun sejak masa sebelumnya. Dampak logisnya, kondisi demikian telah mampu sedikit demi sedikit telah mampu menggeser pola hidup Islami masyarakat yang sejak sebelumnya telah dilaksanakan mereka secara sistematis.?

Memang bisa dikatakan bahwa para Wali Songo telah mampu mengislamkan masyarakat Islam dan Islam sebagai agama menjadi dipeluk oleh sebagian besar warga negara Indonesia. Namun jika membicaakan kualitas keislaman dalam arti ketaatan beragama secara penuh, maka prosentasenya berbeda-beda. Hal inilah yang mendorong Greetz dan Feillard membagai masyarakat Islam menjadi abangan dan santri. Bahwa Islam abangan adalah Islam yang tidak begitu taat dalam menjalankan syariat dan santri adalah yang lebi taat.?

Dalam menyikapi hal ini, kalangan Islam di Indonesia telah berbeda-beda dalam gayanya. Beberapa diantara ummat Islam menginginkan sistem Islam kembali digunakan secara formal. Kelopok ini kemudian mati-matian berjuang dari atas. Kelompok yang lain memilih perjuangan dalam menyadarkan masyarakat bawah dalam beragama Islam. Meskipun berbeda gaya, namun tujuannya sama, yakni dakwah, dalil yang digunakan pun juga sama yakni, Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jelasnya, bagaimana Islam mampu dihayati oleh masyarakat. Contoh Kasus gerakan Islam yang ditampilkan organisasi-organisasi seperti Syarikat Islam, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dan Masyumi dapat dijadikan contoh dalam kasus ini.

Pasca kemerdekaan, politik Islam menjadi tolok ukur yang paling mudah untuk dijadikan ukuran seberapa kuantitas santri dan abangan di Nusantara setelah dakwahnya yang berlangsung selama ratusan tahun. Dari sudut pandang politis, Islam terpecah setidaknya ke dalam dua kelompok besar yang pada mulanya bersatu. Kelompok Islam yang mengaku lebih progresif kala itu bergabung dalam Masyumi, sedangkan Islam pesantren (yang notabane-nya dianggap lebih kolot) berada dalam NU. Secara kuantitas ketika itu, seandainya bersatu maka Islamlah pemenangnya (Masyumi 20%, NU 18% disamping PNI 22% dan PKI 14%). Namun karena terpecah menjadi dua maka hal tersebut tidak terjadi.

Haedar Nashir

Pada masa kemudian, peran politis NU menjadi semakin melemah bahkan sampai saat ini. Di mana dalam pandangan penulis, keadaan itu disamping disebabkan peran pemerintah dalam menekan Islam, juga disebabkan oleh keributan di antara ummat Islam sendiri.

Bahwasanya Islam sebagai kekuatan budaya di Indonesia adalah dapat dipercaya meskipun secara formal tidak dipakai sebagai konstitusi negara. Namun kekuatan budaya ini harus senantiasa diimbangi dengan proses institusionalisasi di sisi lain yang dilakukan setahap demi setahap. Para elit muslim selayaknya sudah harus memikirkan hal ini. Hal demikian ini karena sudah menjadi sunnatullah bahwa kondisi kehidupan dunia ini yang karena pengaruh modernitas, budayanya semakin tergerus dan mengalami degradasi. Di sinilah maka proteksi dari sebuah konstitusi menjadi diperlukan.?

Ada yang mengatakan bahwa, “Dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat diajak menjadi baik. Sedangkan dalam sistem yang jelek, orang baik diajak menjadi jahat.” Dalam hemat penulis, Islamlah sistem yang baik itu. Oleh karena Fiqih Islam tidak sebagaiman hukum sekuler yang semata-mata bertumpu pada kondisi sosial masyarakat belaka, namun juga diwarnai oleh campur tangan Tuhan.

Demikianlah maka perntanyaannya kemudian, bisakah para elit Islam mampu berpikir di manakah dia harus mengedepankan perbedaannya dengan kelompok Islam yang lain. Dan dimana pula ia harus bersatu dalam sebuah ikatan Ukhuwwah Islamiyah.

Nahdlatul Ulama sejak tahun 1985 telah merumuskan konsep persatuan ini kedalam 3 (tiga) bentuk, yakni Ukhuwah Islamiyah (Pesatuan Islam), Ukhuwah Wathaniyah (Persatuan Kebangsaan), dan Ukhuwah Basyariyah (Persatuan Kemanusiaan). Namun apakah ketiga prinsip ini mudah dalam tataran praktik untuk membantuk Ummatan Wahidah, nampaknya ini masih menjadi PR besar umat Islam khususnya para elitnya.

Ketidaksadaran akan hal ini hanya akan membuat penghayatan masyarakat akan Islam sebagai bagian hidupnya semakin lama semakin berkurang. Sungguh berat rasanya mengemban amanat dakwah. Tapi hal inilah yang menjadikan kita umat Islam sebagai ummat terbaik (Khaira Ummah).

Penulis tinggal di Karangploso, Malang, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Jumat, 09 Oktober 2015

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Demak, Haedar Nashir. Menggelar haflah akhirus sanah, pesantren Al-Amin yang bernaung di bawah Yayasan Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak mewisuda santri berprestasi dengan predikat Khatam Al-Quran bin-Nazhri. Haflah ini diadakan dalam rangka memperingati haul KH M Ridwan.

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Tahun, Pesantren Al-Amin Wisuda Santri Khatam Al-Quran

Tampak hadir dalam haflah segenap keluarga dan dewan guru pesantren Al-Amin serta guru di Yayasan Futuhiyyah, para tamu undangan serta orang tua murid yang diwisuda. KH Yahya Cholil Staquf yang hadir sebagai pemberi taushiyah menekankan pentingnya warga NU menghadiri haul kiai.

“Selain mengalap berkah, kita mendatangi haul seorang kiai juga berarti ikut ‘mendaftar’ rombongan kiai yang dihauli untuk masuk ke surga. Jika mau jujur melihat amaliyah ibadah, kita tidak bisa masuk surga sendiri-sendiri. Karenanya kita semua akan memasuki surga secara rombongan seperti keterangan surat Az-Zumar ayat 73,” terang Gus Yahya mengawali ceramahnya.

Haedar Nashir

Pedoman pesantren itu sanad, kata Gus Yahya. Ilmu NU itu memgang rantai sanad,sehingga amalan-amalan  NU itu ada sanadnya. Ikut rombongan kiai insya Allah selamat.

Atas nama pengasuh, KH Ali Makhsun dalam sambutan mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan para orang tua wisudawan. Ia juga mengharapkan para santri yang akan melanjutkan studinya lebih tinggi agar tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip pesantren.

Haedar Nashir

“Semoga santri yang telah khataman mendapatkan ilmu manfaat dan berkah. Keluarga besar pesantren Al-Amin selalu diberikan kemajuan istiqomah menyebarkan ilmu sesuai amanah perintis pondok KH Muhammad Ridlwan,” harapnya. (Ben Zabidy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Sholawat, Lomba Haedar Nashir

Minggu, 04 Oktober 2015

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung

Tasikmalaya, Haedar Nashir. Dua Desa, Sukarapih dan Wargakerta bergabung membentuk satu Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU). Ranting ini memiliki gedung lumayan mewah seluas 45x14 m dengan tinggi 9 m.

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Desa, Satu Ranting NU, Satu Gedung

Di depan gedung tersebut, terdapat bangunan dua lantai seluas 7x11 m, sebagai sekretariat NU dan banom-banomnya.

Menurut Ketua Ranting NU dua desa tersebut, Edeng Zainal Abidin, pada mulanya Sukarapih-Warga Kerta satu desa dengan nama Cimerah. Tahun 1990-an dimekarkan jadi dua. Meski sudah terpisah secara administratif, warga masih merasa tetap menyatu.

Haedar Nashir

Untuk mengeratkan kedua desa, dibangun gedung di area 910 m persegi. Di belakang gedung tersebut terdapat lapangan sepak bola sebagai sarana olah raga dan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Tanah tersebut dibeli Nahdliyin dan Nahdliyat secara gotong royong dan tidak mengikat, serta sumbangan-sumbangan tidak mengikat.

“75 % pembangunan gedung dikerjakan suka rela karena warga Nahdliyin banyak berprofesi sebagai tukang. Ada tukang tembok, tukang kayu,” ujar Edeng ketika ditemui di Tasikmalaya, akhir pekan lalu.

Haedar Nashir

Ranting NU-nya pun, Edeng yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Tasikmalaya ini, masih tetap dinamakan Ranting Cimerah.

Gedung tersebut digunakan kegiatan-kegiatan NU seperti “muslimatan” sebulan sekali yang dihadiri ratusan orang dan juga lailatul ijtima’. Selain itu, kadang digunakan bulu tangkis dan pencak silat anak-anak muda NU.

Sebagai lambang tetap menyatunya dua desa, gedung tersebut dinamakan Gedung Kebersamaan Muslimin. Penamaan itu diusulkan KH Ii Abdul Basith, salah seorang pengasuh Pesantren Sukahideng dengan santri sekitar 1600 orang.

“Kiai Ii, adalah Rais Syuriyah NU Ranting Cimerah, pernah jadi Wakil Rais Syuriyah NU Kabupaten Tasikmalaya, dan sekarang Ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya,” jelas Edeng.

Lebih jauh, Edeng menjelaskan, Kiai Ii adalah putra KH Zaenal Muhsin, Rais Syuriyah NU Kabupaten Tasikmlaya dari akhir tahun 80 hingga akhir 90-an. KH Zaenal Muhsin adalah keponakan Pahlawan Nasional KH Zaenal Musthafa, Wakil Syuriyah NU Tasikmalaya tahun 1930-an.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 27 September 2015

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Pati, Haedar Nashir - Pembukaan Diklatsar dilakukan pada Kamis (24/3) siang dengan upacara yang diikuti oleh Banser, panitia, Muspika, GP Ansor se-Kabupaten Pati, dan para kiai. Pendidikan yang diselenggarakan oleh GP Ansor Wedarijaksa Kabupaten Pati ini menggunakan kurikulum standar PP GP Ansor.

Kasatkorcab Banser X-7 Pati Imam Syafii memberikan beberapa instruksi terkait dengan pembinaan yang nanti akan diberikan kepada para peserta diklat. "Ada kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat berkaitan dengan pelatihan dan pendidikan Banser sekarang," ungkapnya.

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Banser di Wedarijaksa Terus Disempurnakan

Diklat kali, menurut Syafi’I, berbeda dari diklat sebelumnya karena? calon-calon Banser nantinya akan dididik menjadi pengawal loyal NU yang mampu menjadi benteng dan sekaligus sebagai penggerak organisasi terbesar di dunia.

Haedar Nashir

Peserta tercatat sudah mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. "Kebanyakan memang berasal dari Kecamatan Wedarijaksa tetapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa," kata Ketua Panitia Diklatsar GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi.

"Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat," imbuhnya.

Haedar Nashir

GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari GP Ansor Pati tetapi karena usulan ranting yang meminta untuk segera mengadakan pengkaderan Banser.

"Adanya Banser di tiap ranting akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang tinggi di wilayah ranting tersebut," kata salah seorang pemimpin ranting Wedarijaksa. Pergerakan Banser sebagai benteng ulama sekaligus pasukan bela Negara dan ulama telah memberikan ruang gerak positif untuk perkembangan gerakan-gerakan Islam yang ada di ranting. (Hasanudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Haedar Nashir

Minggu, 20 September 2015

Netizen Jatim Komit Jaga Akhlakul Karimah di Media Sosial

Surabaya, Haedar Nashir. Kini tengah marak informasi, gambar hingga video yang menyudutkan para ulama. Yang membuat miris, keberadaan informasi tersebut ternyata palsu atau bohong, yang tentu saja tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun keberadaannya tersebar luas, khususnya di dunia maya termasuk media sosial.

?

Netizen Jatim Komit Jaga Akhlakul Karimah di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Netizen Jatim Komit Jaga Akhlakul Karimah di Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Netizen Jatim Komit Jaga Akhlakul Karimah di Media Sosial

Menghadapi realitas tersebut, sejumlah anak muda NU pegiat di internet yang terhimpun dalam komunitas Netizen NU Jawa Timur menginisiasi kopi darat atau Kopdar yang dihadiri ? berbagai elemen nahdliyin baik kultural maupun struktural.

Bahkan pada acara yang berlangsung Ahad (29/1) di kantor PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya tersebut dihadiri utusan PBNU yakni, H Saifullah Yusuf dan H Robikin Emhas serta H Helmy Faishal Zaini. ?

Dalam paparannya, H Helmy Faishal Zaini mengemukakan, ada tiga tugas penting bagi Nutizen NU. "Pertama adalah melakukan counter narasi yang menyudutkan ulama-ulama dan amaliyah NU," kata Sekretaris Jenderal PBNU tersebut. Sedangkan kedua harus dilakukan integrasi dan interkoneksi antar kultural dan struktural NU, lajutnya.

Haedar Nashir

Tugas penting ketiga, dan ini harus dilakukan dengan sangat intensif adalah "Mengembangkan konten-konten edukatif dan berakhlakul karimah," jelasnya.

Sedangkan Robikin Emhas menandaskan harus ada komitmen dari netizen NU untuk menjaga kehormatan organisasi dan ulama NU. "Yang juga harus ditekankan adalah turut tetap menjaga keutuhan NKRI," terangnya. Sebab selama ini telah bermunculan pengguna media sosial atau medsos yang menyerang NU, ulama dan NKRI, lanjutnya.

Sedangkan Gus Ipul, sapaan akrab H Saifullah Yusuf meminta kepada para aktivis Netizen NU untuk mulai membuat dan memberikan pendidikan kepada generasi muda untuk santun dalam bermedia sosial. "Karenanya, diperlukan pendidikan bermedia sosial yang santun. Dan itu harus dimulai dari usia dini," kata Wakil Gubernur Jatim tersebut.

Hakim Jayli yang mewakili Netizen NU Jatim menyampaikan pentingnya relasi antara kegiatan off-air dan online. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh warga NU, lembaga dan banom NU kurang disiarkan melalui media online. "Demikian pula apa yang diberitakan oleh media online perlu ditindaklanjuti dalam aksi-aksi nyata di lapangan," kata Hakim.

Haedar Nashir

"Saat ini sangat mendesak agar NU memiiki ketahanan informasi," kata Usmayadi, Ketua LTN PBNU. Peran netizen NU di sini menjadi penting untuk melakukan perlawanan berbagai informasi yang menyudutkan posisi NU. "Pada saat yang sama juga memberikan informasi yang tepat bagi nahdliyin," ungkap Cak Usma, sapaan akrabnya.

Kopdar Netizen NU Jatim ini diakhiri dengan ikrar dan komitmen untuk bermedia sosial yang santun, edukatif dan berakhalkul karimah. (Ibn Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

Sabtu, 19 September 2015

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa

Judul Buku: Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa

Penulis: Ahmad Khalil, MFilI

Penerbit: UIN-Malang Press

Cetakan I: Mei 2008

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergolakan Islam dalam Tradisi Jawa

Tebal: xv + 344

Peresensi: Abdul Halim Fathani

Haedar Nashir



Salah satu ciri utama yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah keragaman budaya. Dari zaman kerajaan sampai dewasa ini, keragaman itu masih tetap “kokoh”, bahkan terus bertambah. Indonesia merupakan salah satu tempat bersinggungan berbagai macam budaya dan agama. Proses asimilasi atau akulturasi sering nampak dalam gerak-gerak praktis nuansa kehidupan yang ada di dalamnya, misal, budaya Islam Jawa.

Islam di Jawa terlalu banyak terkontaminasi unsur budaya. Bahkan, terlalu banyak yang mengamalkan budaya Jawa yang dianggapnya sebuah ajaran dalam Islam. Agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad adalah Islam sejati. Islam yang asli memancarkan budaya syari, yakni bentuk pemahaman dan pengamalan Nabi atas agama yang belum dipengaruhi unsur budaya lokal. Budaya Arab jahiliyah yang menyembah berhala itu oleh Muhammad dinamakan musyrik, sedangkan agama Islam memperkenalkan agama tauhid yang hanya menyembah Tuhan, Allah.

Haedar Nashir

Dalam pandangan Ahmad Noer (2008), Islam di Jawa memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan Islam lainnya di negeri ini, meski hal ini tidak mutlak dapat dijadikan pijakan, namun setidaknya Islam Jawa memiliki karakteristik tertentu dibanding yang lain. Bahkan, Gertz seorang antropolog terkenal dunia, sampai melakukan studi penelitian dalam waktu cukup lama untuk membaca wajah Islam di Jawa. Dengan sampling masyarakat Islam Mojokuto, Gertz berkesimpulan bahwa Islam Jawa memiliki tiga strata dalam praktiknya, santri, abangan, dan priyayi.

Keunikan Islam Jawa, merunut pada tesis Gertz (dalam Ahmad Noer, 2008) adalah terletak pada gerak spiritualitas yang dilakukan golongan Abangan. Di akar budaya yang dimiliki golongan ini, kekerasan budaya tidaklah nampak begitu menonjol. Bahkan, dalam pertemuan antara Islam dan budaya Jawa dalam diri mereka terlihat begitu mesra. Baik unsur Islam maupun Jawa, terlihat ada rasa saling mengerti.

Selain itu, pengaruh budaya Islam yang berasimilasi dengan budaya Jawa semakin mengukuhkan harmonitas sosial masyarakatnya. Karena Islam dengan pengayaan budayanya akan lebih diterima masyarakat, sehingga akan terbentuk suatu masyarakat yang memiliki jati diri muslim lewat lingkungan dan simbol-simbol edukatif-religius yang dimiliknya.

Adanya kemungkinan akulturasi timbal-balik antara Islam dengan budaya lokal Jawa, dalam hukum Islam secara metodologis sebagai sesuatu yang memungkinkan diakomodasi eksistensinya. Hal ini dapat kita lihat dalam kaidah fikih yang menyatakan “al-‘adah muhakkamah” (adat itu bisa menjadi hukum), atau kaidah “al-‘adah syariatun muhkamah” (adat adalah syariat yang dapat dijadikan hukum).

Hanya, tidak semua adat/tradisi bisa dijadikan pedoman hukum karena tidak semua unsur budaya pasti sesuai dengan ajaran Islam. Unsur budaya lokal yang tidak sesuai diganti atau disesuaikan sebagaimana misi Islam sebagai pembebas manusia dengan semangat tauhid. Dengan semangat tauhid ini, manusia dapat melepaskan diri dari belenggu tahayul, mitologi dan feodalisme, menuju pada peng-esaan terhadap Allah sebagai sang Pencipta. Pesan moral yang terkandung dalam kaidah fikih di atas adalah perlunya bersikap kritis terhadap sebuah tradisi, dan tidak asal mengadopsi. Sikap kritis inilah yang justru menjadi pemicu terjadinya transformasi sosial masyarakat yang mengalami persinggungan dengan Islam.

Dengan demikian, kedatangan Islam selalu mendatangkan perubahan masyarakat atau pengalihan bentuk (transformasi) sosial menuju ke arah yang lebih baik. Sunan Kalijaga, misalnya, dalam melakukan Islamisasi di Jawa, dia menggunakan pendekatan budaya, yaitu melalui seni pewayangan untuk menentang feodalisme kerajaan Majapahit. Melalui seni pewayangan, ia berusaha menggunakan unsur-unsur lokal sebagai media dakwahnya dengan mengadakan perubahan-perubahan lakon juga bentuk fisik dari alat-alatnya. (Madjid, 1992:550)

Proses dialektika Islam dengan budaya lokal Jawa yang menghasilkan produk budaya sintetis merupakan suatu keniscayaan sejarah sebagai hasil dialog Islam dengan sistem budaya Jawa. Lahirnya berbagai ekspresi-ekspresi ritual yang nilai instrumentalnya produk budaya lokal, sedangkan muatan materialnya bernuansa religius Islam adalah sesuatu yang wajar dan sah adanya dengan syarat akulturasi tersebut tidak menghilangkan nilai fundamental dari ajaran agama. Islam lahir memang tidak hanya dimaksudkan untuk mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan keakhiratan, tapi mengatur secara menyeluruh semua aspek manusia. Karena itu, umat Islam dituntut untuk selalu berijtihad dan berinovasi demi kejayaan Islam di mana pun dan sampai kapan pun (hlm.11).

Buku ini mengupas-tuntas tentang etika, kebijaksanaan hidup, dan tradisi masyarakat Jawa dalam perspektif tasawuf. Dilengkapi contoh nyata dari budaya Jawa tentang agama dan ritual seblang, yang merupakan hasil penelitian penulis di komunitas Jawa Osing (Banyuwangi, Jawa Timur) membuat buku ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hadirnya buku ini akan membuka “kran” pengetahuan pembaca untuk dapat menjalani hidup secara arif nan bijaksana.

Peresensi adalah Peneliti pada Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (Lacak), Malang, Jawa TimurDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Kamis, 17 September 2015

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Makassar, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah GP Ansor Makassar, pada hari Jumat (3/4) mendatangi kantor Redaksi Harian Amanah yang beralamat di jalan Kakatua Makassar.

Kehadiran mereka disambut baik Pimpinan Redaksi Harian Amanah, Firmansyah Lafiri, Koordinator Liputan Irfan Abdul Gani, dan Pimpinan Perusahaan Abdul Salim Camma.

Kedatangan GP Ansor ini guna meminta penjelasan terkait pemberitaan harian Amanah edisi Rabu, (30/3) terkait akar aliran sesat, di mana salah satunya yang disebutkan adalah paham Asy`ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hasan al- Asyari.

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebut Paham Asyari Sesat, GP Ansor Makassar Minta Koran Amanah Minta Maaf

Ketua GP Ansor Makassar, Agus Salim Said dalam pertemuan tersebut meminta kepada Pimred Harian Amanah, Firmansyah Lafiri segera menyelesaikan semua tuntutan yang ditujukan kepadanya.

"Saya meminta agar media Amanah ini meminta maaf secara langsung dan terbuka kepada masyarakat Nahdiyin dan kiai sepuh di Nahdatul Ulama (NU) dalam waktu 1×24 jam, dan jika hal itu tidak ditindak lanjuti, maka kami akan mengerahkan Banser untuk menyegel kantor Harian ? Amanah ini," tegas Agus.

Haedar Nashir

Menanggapi desakan tersebut, Firmansyah Lafiri mengaku kecolongan dan menyesal atas pemberitaan penyesatan paham Asyariyah itu. Pada waktu yang sama ia pun langsung menuliskan surat pernyataan permohonan maaf yang berisikan 4 poin, sebagai berikut :

1. Memohon maaf atas kelalaian kami kepada seluruh warga Nahdiyin.

Haedar Nashir

2. Berjanji tadak akan mengulangi hal tersebut.

3. Bersedia menjalin sinergi strategis dalam kerja ukwah.

4. Akan memohon maaf langsung kepada Kyai sepuh Nahdatul Ulama.

"Selain itu redaktur yang menangani rubrik yang memuat berita tersebut telah saya mutasi, bahkan jika teman-teman GP Ansor menginginkan saya untuk memecat dia saya akan lakukan." tegas Firmasyah. (Makmur Idrus/Zunus).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Lomba Haedar Nashir

Senin, 14 September 2015

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menyayangkan demonstrasi sejumlah ormas Islam yang bernada ancaman fisik terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Cahya Purnama (Ahok). Ancaman-ancaman fisik itu, menurutnya, merupakan bentuk pelanggaran dalam sebuah demonstrasi.

Demikian disampaikan Kang Said setelah acara Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah yang dihadiri sedikitnya 40.000 massa di kompleks Pesantren Lirboyo, Jalan KH Abdul Karim, Lirboyo, Mojoroto, Kediri, Jumat (21/10) malam.

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Ancaman Pribadi, Ketum PBNU: Lebih Baik Ahok Diproses Hukum

“Kalau ada ormas Islam mengancam pribadi Ahok, itu tidak dewasa. Karena itu proses hukum lebih baik daripada main hakim sendiri,” kata Kang Said.

Haedar Nashir

Meskipun telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada umat Islam, proses hukum terhadap Ahok harus terus berjalan.

“Kalau minta maaf, kita maafkan. Tetapi proses hukum harus berjalan. Ahok harus diperiksa, salah atau tidak nanti ketahuan. Periksa dari awal, dari nol, praduga tak bersalah,” kata Kang Said.

Haedar Nashir

Menurutnya, Indonesia adalah negara hukum. Jadi segala bentuk perilaku yang diduga melanggar hukum terlebih lagi meresahkan banyak orang mesti dibuktikan di pengadilan.

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah ini mengimbau umat Islam untuk menghargai dan menerima apapun hasil putusan lembaga peradilan di Indonesia. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Nasional Haedar Nashir

Minggu, 13 September 2015

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Klaten,Haedar Nashir. Ribuan jamaah menghadiri peringatan haul ke-60 KH Muhammad Manshur di kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Salah satu panitia acara, Darmadji, Senin (22/12), menjelaskan haul diadakan bersamaan dengan putaran pertama kegiatan bersholawat 12 malam Jamaah Muji Rosul (Jamuro) Surakarta.

Acara diawali dengan pembacaan khatmil Qur’an dan tahlil yang dipimpin Mbah Kiai Djablawi dan KH Nasrun. Kemudian dilanjutkan pembacaan maulid kitab al-Barzanji, karya Sayyid Ja’far Al-Barzanji. Sebagai penutup, mauidlah hasanah oleh Habib Umar Muthahar dari Semarang.

Haedar Nashir

Dalam ceramahnya, Habib Umar menerangkan tentang generasi salafi yang sebenarnya. “Salafi itu generasi yang hidup setelah tabi’it tabi’in seperti Imam Syafi’i dan lainnya,” katanya.

Menurut dia, mereka itu juga melakukan maulidan, tahlilan. “Lha, zaman sekarang ada orang yang mengaku sebagai kaum salafi, tapi tidak mau mengikuti amalan ulama salaf. Lalu, mereka itu salaf ikut siapa?” tanya Habib Umar.

Haedar Nashir

Habib Umar juga mengajak kepada para jemaah untuk bersama ikut mencintai Nabi Muhammad SAW.

Turut hadir dalam acara tersebut KH A Djablawi, KH Nasrun Minallah dan sejumlah pengurus NU Klaten. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Ribuan Jemaah Hadiri Haul ke-60 KH Manshur Popongan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Tegal, PonPes Haedar Nashir