Rabu, 31 Mei 2017

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Probolinggo, Haedar Nashir. Terkait tragedi Mina, Mustasyar PCNU Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta keluarga jamaah haji untuk tidak memercayai informasi selain rilis resmi Kementerian Agama (Kemenag) dan sumber berita korban Mina. Pasalanya, Hasan menambahkan, validitas informasi yang beredar diragukan.

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Tragedi di Mina, Percayakan Informasi Kepada Kemenag

Demikian disampaikan Hasan kepada sejumlah wartawan usai pulang dari melaksanakan ibadah haji, Selasa (29/9). “Saya saja yang ada di sana tidak tahu kronologis pasti kejadian itu. Karena itu, meskipun ada teman yang telepon, sms atau BBM tanya kondisi di sana tidak saya jawab. Karena saya tidak tahu persis, kalau tidak tahu persis kemudian bercerita maka khawatir keliru,” ujarnya.

Informasi terkait kejadian Mina itu baru dia dapatkan dari sumber berita korban Mina, Saiful Bahri. Di mana anggotanya banyak yang menjadi korban.

Haedar Nashir

“Di Bandara Jeddah saya bertemu dengan pimpinan Komisi VIII yang bertindak sebagai pengawas haji. Mereka menyampaikan akan segera menggelar RDP (Rapat Dengan Pendapat) begitu jamaah haji pulang ke Indonesia,” katanya.

Haedar Nashir

Tidak hanya itu, dalam RDP itu Hasan juga diminta untuk mengajak serta Saiful. Sebab, Komisi VIII ingin mengetahui kondisi yang ada di sana versi Saiful yang juga sebagai korban. Apalagi dirinya mengaku sudah berbicara dengan Saiful usai melaksanakan rukun haji dan mengetahui kondisi sebenarnya saat tragedi itu terjadi.

Menurut Hasan, saat itu seluruh jamaah di kloter 48 berangkat ke Mina melalui jalur yang semestinya. Tetapi sampai di pertigaan, askar meminta untuk berbelok. Pengalihan itulah yang membuat tragedi itu terjadi. Saiful mengaku sudah melayangkan protes pada askar, namun tidak dihiraukan.

Saat itulah tragedi terjadi. Mulanya, ada 3 kursi roda yang seharusnya memuat orang ternyata memuat barang. Kursi roda itu macet dan ada mobil berhenti. Sehingga, banyak jamaah yang terhalang untuk lewat.

Di tengah padatnya manusia dan cuaca yang cukup terik, banyak jamaah yang panik dan ingin segera sampai. “Saat itu gelombang manusia menurut Saiful seperti ombak. Semuanya histeris, apalagi banyak yang kehausan gara-gara cuaca yang terik. Semuanya berteriak dan minta tolong, kondisi saat itu sangat tidak menguntungkan,” jelasnya.

Di kanan dan kiri jalur tersebut terdapat maktab jamaah dari negara lain. Sebagian jamaah yang selamat karena memanjat pagar. Anehnya, tidak satupun orang yang membuka pintu pagar di kanan dan kiri.

“Seandainya pagar dibuka, munngkin bisa mengurai kepadatan jamaah. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan, apa alasan askar mengalihkan jalur jamaah,” terangnya.

Oleh karena itu, Hasan berharap pemimpin-pemimpin negara yang mengirimkan jamaah untuk mendesak Arab Saudi menjelaskan alasan askar tersebut. Sehingga ke depan manajemen tata kelola haji bisa dilakukan dengan baik. Dengan demikian, jamaah bisa beribadah dengan khusyuk. “Solusinya perlu keterlibatan dari Negara-negara Islam dalam rangka perbaikan pelayanan ibadah haji di Arab Saudi,” tegasnya.

Hasan juga meminta agar masyarakat tidak saling menyalahkan supaya bisa menyejukkan. “Sekali lagi, jangan percaya sms dari siapapun yang tidak tahu persoalannya. Saya berani bicara karena tahu dari sumber berita yang juga menjadi korban,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tokoh, AlaNu Haedar Nashir

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusivitas pascapencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari Tempat Pemungutan Suara di samping kediamannya di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pascapencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," nasihat kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqofah Ciganjur ini.

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusivitas ini, bagi Kiai Said Aqil, merupakan kemajuan luar biasa. "Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil.?

Haedar Nashir

Sebelumnya, ia mengeluarkan seruan agar warga bersikap bijak terhadap pilkada ini, termasuk dalam hal perbedaan pilihan politik. Menurutnya, perbedaan aspirasi harus disikapi secara wajar dan dianggap sebagai proses pendidikan politik warga.?

Haedar Nashir

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, PonPes Haedar Nashir

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional

Makassar, Haedar Nashir - Ketua Umum PBNU masa khidmah 1999-2010 KH Achmad Hasyim Muzadi mengatakan, saat ini kondisi umat Islam terbagi atas dua gerakan alur pemikiran, yakni Iran di satu sisi dan Saudi Arabia di sisi lain. Keduanya tidak hanya berperang melalui fisik, ideologi pun gencar mereka suarakan di seluruh dunia. Akhirnya, perpecahan ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, untuk menghancurkan Islam itu sendiri.

"Nah, posisi Indonesia sebagai umat Islam terbanyak yang berpaham Ahlusunnah wal Jamaah di dunia, harus ada perjuangan untuk men-counter gerakan ini. Dua kekuatan besar ini berperan menghancurkan ideologi dan mengamcam keutuhan NKRI," ujarnya saat memberikan kuliah umum di hadapan 2000 mahasiswa baru Universitas Islam Makassar (UIM) di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Makassar, Sabtu (8/10).

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Aswaja Hadapi Perang Dua Ideologi Transnasional

Menurutnya, Islam memang menjadi agama mayoritas di Indonesia, tetapi belum tentu mayoritas dalam hal peranan. Posisi NU dan Muhammadiyah sebagai ormas yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tentunya harus bertindak menyikapi ideologi transnasional ini.

Di sinilah, katanya, Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) berperan dalam membela negara dalam suasana ghazwatul fikr (peran ideologi/persepsi) yang terjadi dewasa ini. Menurut anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI ini, Aswajalah yang mampu meredam gerakan ini.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Islam adalah agama yang benar, tetapi cara untuk menyebarkan Islam harus juga benar. Dulu Wali Songo mengislamkan orang kafir, tetapi saat ini orang Islam yang dikafirkan. Ini kan kacau cara beragama kita? Kalau memang ia menujukkan sifat kekafiran, maka jangan dikafir-kafirkan, tetapi ajaklah mereka untuk kembali, itulah cara para ulama menyebarkan Islam Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdiah,” paparnya dalam acara bertema "Penguatan Nilai-nilai Islam Ahlusunnah wal Jamaah dalam Rangka Bela Negara" itu.

Ia juga menjelaskan, dari sisi budaya saat ini Indonesia digempur berbagai budaya yang tidak sesuai dengan kondisi Tanah Air. “Lihat saja kemajuan teknologi saat ini menghabisi moral pemuda kita. Tidak perlu menghabisi syariatnya, tetapi yang terjadi adalah seluruh sendi kehidupan kita diserang, sehingga dengan sendirinya syariat beragama kita habis dengan sendirinya,” tambahnya.

Rektor UIM Majdah Agus Arifin Numang mengungkapkan komitmennya untuk senantiasa berdiri di atas pondasi Nahdlatul Ulama. "UIM dalam mewujudukan cita-cita kelembagaan, tentunya memiliki tanggung jawab menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliah yang merupakan aktualisasi dari nilai-nilai ajaran Islam Rahmatan lil alamin," katanya.

Tampak hadir Rais Syuriyah PWNU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco, anggota DPR RI Komisi VII Andi Jamaro Dulung, segenap pengurus NU tingkat cabang dan wilayah setempat, pengurus Yayasasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, para wakil rektor UIM, para dekan fakultas/direktur pascasarjana UIM, serta para ketua badan otonom serta Lembaga NU Sulsel. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, menyambut baik segera ditayangkannya film "Sang Kiai" garapan Rapi Films. Karya layar lebar yang mengisahkan perjalanan hidup dan perjuangan pendiri NU KH Hasyim Asyari, dinilai sarat catatan sejarah yang layak tonton.

"Saya secara pribadi dan atas nama NU mengimbau seluruh Nahdliyin untuk menyaksikan film ini. Ini film bagus," kata Kiai Said sesaat setelah menerima pimpinan Rapi Films Gope T. Samtani di PBNU, Jakarta, Rabu (15/5).

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: “Sang Kiai” Sarat Sejarah, Layak Tonton

Kiai Said mengisahkan, salah satu penggalan menarik dari film Sang Kiai adalah saat utusan Presiden Soekarno mendatangi KH Hasyim Asyari untuk menanyakan hukum ikut peperangan melawan penjajah Belanda. 

Haedar Nashir

"Saat itu Mbah Hasyim (sapaan KH Hasyim Asyari) menjawab hukumnya wajib. Jadi jihad dalam konteks bela negara memang wajib dilakukan oleh setiap warga negara, termasuk saat itu Nahdliyin," ungkap Kiai Said. 

Lebih lanjut Kiai bergelar Doktor lulusan Universitas Ummul Qura, Mekah, tersebut menambahkan, banyak catatan sejarah keikutsertaan NU dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan yang terangkum dalam film Sang Kiai. "Banyak sejarah NU yang di zaman Orde Baru disembunyikan, diungkapkan di film Sang Kiai," pungkasnya. 

Haedar Nashir

Pemutaran perdana film Sang Kiai dijadwalkan pada tanggal 20 Mei mendatang di Tethre XXI Epicentrum, Jl. Rasuna Said, Jakarta. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa KH Hasyim Asyari terhadap Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga dijadwalkan menghadiri pemutaran perdana film tersebut. Film akan diputar serentak di bioskop Indonesia mulai 30 Mei ini. 

Penulis: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Senin, 29 Mei 2017

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Assalamu’alaikum. Pak Ustadz, saya bekerja di Jakarta sejak tahun 2005 lalu dan sekarang tinggal di Depok bersama keluarga. Setiap akhir Ramadhan saya rutin pulang ke kampung halaman saya di Probolinggo, Jawa Timur. Yang ingin saya tanyakan apakah zakat fitrah saya nanti lebih baik disalurkan di Depok (mengingat saya setiap hari tinggal di sana dan di sana juga banyak masyarakat yang berhak menjadi mustahiq zakat), atau lebih baik saya sampaikan zakat fitrah untuk saya dan anak istri saya di Probolinggo? Syukron atas jawabannya. (Sobirin M.)

Jawaban

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja? (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Fitrah di Kampung atau di Tempat Kerja?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Bahwa hukum zakat fitrah itu adalah wajib. Salah satu hadits yang menjadi dasarnya adalah hadits berikut ini:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ?, ? ? ? ?: ? ? ?, ?, ?, ?, ?, ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Haedar Nashir

“Dari Ibnu ‘Umar ra ia berkata, Rasulullah saw mewajibkan zakat fithr satu sha` dari kurma atau satu sha` dari gandum baik kepada budak, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan orang muslim. Dan Rasulullah saw memerintah zakat tersebut ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk menunaikan sahalat ‘id." (Muttafaq ‘alaih)”.

Haedar Nashir

Kewajiban menunaikan zakat fitrah harus memenuhi tiga syarat. Yaitu, Islam, terbenamnya matahari pada akhir puasa Ramadlan (meskipun hukumnya boleh disalurkan di bulan Ramadhan), dan adanya kelebihan makanan pokok baginya dan keluarganya pada hari itu (malam idul fitri).

Sedang mengenai penyaluran zakat menurut mayoritas ulama berpendapat harus diberikan di tempat kita tinggal dan tempat mencari nafkah. Namun menurut madzhab Hanafi boleh zakat tersebut disalurkan ke daerah lain.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika didapati golongan penerima zakat atau sebagiannya di suatu wilayah maka wajib memberikan zakat kepada mereka baik wilayah itu luas maupun kecil, dan haram memindahkan zakat ke tempat lain dan tidak diperbolehkan kecuali oleh madzhab hanafi yang berpendapat atas kebolehannya. Pendapat madzhab Hanafi kemudian dipilih oleh banyak ulama (ashab) dari kita khususnya ketika penyalurannya diberikan kepada keluarga dekat, teman atau orang yang memiliki keutamaan. Dan mereka berkata, dengan model seperti itu gugurlah kewajiban zakatnya. Dengan demikian ketika zakat itu didistribusikan ke keluar daerah disertai mengikuti aturan yang terdapat dalam madzhab Hanafi itu diperbolehkan. Inilah yang menjadi dasar kami dan selain kami dalam mempraktikkannya. Karena terdapat beberapa alasan”. (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Bairut-Dar al-Fikr, tt, h. 217)

Pandangan madzhab Hanafi yang memperbolehkan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain itu juga dikemukakan oleh Wahbah az-Zuhaili:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Madzhab Hanafi berpendapat, memindahkan distribusi zakat dari satu wilayah ke wilayah lain hukumnya makruh tahzih (boleh), kecuali pemindahan tersebut diberikan kepada keluarga dekatnya yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka, ke suatu kaum yang paling membutuhkannya, yang lebih baik, yang lebih wirai, yang lebih bermanfaat buat kalang muslim, atau dari dar al-harb (wilayah perang) ke dar al-islam, kalangan penuntut ilmu, orang-orang yang zuhud, atau zakat tersebut disegerakan penunaiannya sebelum masa haul tiba. Dalam konteks ini maka tidak makruh untuk memindahkan distribusi zakat ke wilayah lain. Dan seandainya pemindahan zakat tersebut bukan dalam konteks ini maka boleh karena penerima zakat adalah orang-orang faqir secara mutlak”. (Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-3, 1409 H/1989 M, juz, 2, h. 892)

Penjelasan singkat ini jika ditarik dalam konteks pertanyaan di atas maka dapat dipahami bahwa pada dasarnya pemindahan distribusi zakat fitrah dari tempat tinggal sekaligus tempat mencari nafkah tidak diperbolehkan. Jadi lebih baik disalurkan di tempat tinggal dan tempat bekerja, atau sebelum mudik atau pulang kampung.

Tetapi hal ini diperbolehkan dalam pandangan madzhab Hanafi dengan catatan zakat fitrah diberikan kepada orang-orang dengan kriteria yang telah dijelaskan dalam madzhab Hanafi, atau zakat fitrah itu diberikan sebelum jatuh temponya (haul). Dan jika demikian maka pemindahan distribusi zakat tersebut ke daerah lain dihukumi makruh tanzih atau boleh-boleh saja.

Namun pendapat madzhab Hanafi ini dapat diamalkan sepanjang kita mengikuti aturan main yang terdapat dalam madzhab Hanafi. Seperti misalnya zakat fitrah diberikan kepada kerabat kita di kampung yang membutuhkan atau orang-orang yang lebih membutuhkan. Jadi yang menjadi pertimbangan dalam hal kebolehan pemindahan distribusi zakat ke daerah lain adalah kemaslahatan atau kemanfaatan.

Demikian jawaban dapat kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat. Dan sebelum memutuskan untuk memindahkan zakat fitrah ke kampung halaman maka sebaiknya mempertimbangkan aspek kemaslahatannya. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Doa, Syariah Haedar Nashir

Minggu, 28 Mei 2017

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Jakarta, Haedar Nashir. Sebanyak 32.379 dari 70.611 desa yang tersebar di Indonesia diidentifikasi masuk dalam kategori desa tertinggal, sembilan di antaranya adalah kelurahan yang ada di wilayah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

"Ini baru hasil identifikasi kami, belum diverifikasi," kata Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertingal Safullah Yusuf di sela-sela seminar tentang strategi pembangunan desa yang digelar kementeriannya di Jakata, Selasa (12/5).

Dari sembilan kelurahan di DKI yang teridentifikasi tertinggal, enam di antaranya berada di Kabupaten Kepulauan Seribu dan dua lainnya adalah Kelurahan Manggarai dan Manggarai Selatan di Kodya Jakarta Selatan, serta Kelurahan  Cipayung di Kodya Jakarta Timur.

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

32.379 Desa Masuk Kategori Tertinggal

Dikatakan, data tersebut bisa saja berubah setelah dilakukan verifikasi. Saat ini baru desa-desa  di Kalteng, Sumut, Sumsel, Bengkulu, Kepri, DIY, Sulsel, Sultra, Gorontalo, Sulbar yang telah selesai diverifikasi, katanya.

Kementerian PDT kini mengubah sasaran pendataan kawasan tertinggal dari sebelumnya mengambil ukuran setingkat kabupaten menjadi tingkat desa karena faktanya ada juga desa atau kelurahan tertinggal di kabupaten atau kotamadya yang relatif maju.

Haedar Nashir

Pada pendataan kabupaten tertinggal, dari 400-an kabupaten/kota, tercatat 199 kabupaten di antaranya masuk kategori tertinggal, sedangkan kawasan kota dianggap sebagai daerah yang relatif maju karena, untuk memperoleh status kota, suatu daerah harus memenuhi persyaraan tertentu.

Untuk menentukan suatu desa dikategorikan tertinggal atau relatif maju, Kementerian PDT menggunakan sejumlah variabel, seperti kondisi jalan utama desa, lapangan usaha mayoritas penduduk, fasilitas pendidikan, kesehatan, tenaga kesehatan, sarana komunikasi, kepadatan penduduk perkilometer persegi, sumber air minum/masak penduduk, sumber bahan bakar penduduk, persentasi rumah tangga pengguna listrik dan persentase rumah tangga pertanian.

Haedar Nashir

Sementara untuk desa atau kelurahan yang ada di perkotaan,  varibel-variabl, seperti sanitasi dan pembuangan sampah juga dimasukkan. "Variabel-variabel itu diberi skor. Yang tidak mencapai skor minimum masuk kategori tertinggal," kata Saifullah Yusuf yang biasa dipanggil Gus Ipul.

Untuk menangani desa-desa tertinggal tersebut, Kementerian PDT memperkirakan kebutuhan dana sebesar Rp20 triliun per tahun. Namun dikatakan, anggaran yang dimiliki pemerintah sangat terbatas sehingga realisasinya belum tentu angkanya mencapai jumlah tersebut.

"Karena itu perlu disusun prioritas dan pemaduan program antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota sehingga dana pemerintah yang terbatas itu bisa tepat sasaran," Gus Ipul.  (nam/ant)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Khutbah, Internasional Haedar Nashir

Sabtu, 27 Mei 2017

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Ternate, Haedar Nashir?

Pimpinan Wilayah Muslimat NU Maluku Utara memperingati hari lahir yang ke-71 dengan berbagai kegiatan sosial mulai pemeriksaan kesehatan hingga bantuan bagi keluarga miskin tidak mampu .

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Ketua PW Muslimat NU Maluku Utara Rosita Alting mengatakan, kegiatan-kegiatan tersebut adalah upaya ibu-ibu NU untuk menumbuhkan nilai solidaritas dan kepekaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan.

Menurut dia, kegiatan pemeriksaan kesehatan dini kanker payudara merupakan kerja sama NU dengan klinik Nur Armein Santiong. Kegiatan itu melibatkan ibu-ibu majelis taklim dan masyarakat kota Ternate.

“Ini upaya memberikan informasi terhadap pentingnya kesehatan,” katanya.?

Selain itu, lanjut dia, Muslimat Malut melakukan anjangsana ke panti jompo Himo-himo Ternate serta memberikan bantuan kepada keluarga miskin tidak mampu di Kelurahan Perumnas Jati. Juga menyalurkan bantuan sembako untuk korban kebakaran di Kelurahan Sulamadaha.

Haedar Nashir

Menurut Rosita Alting, kegiatan itu merupakan bagian dari penguatan kembali nilai-nilai sosial di masyarakat dalam membangun Indonesia.?

Haedar Nashir

“Dalam membangun Indonesia, maka kesehatan dan kesejahteraan harus menjadi tumpuan gerak sosial di masyarakat sesuai dengan tema secara nasional harlah Muslimat NU ‘Satu Langkah Membangun Negeri dan Menjaga NKRI’,” jelasnya.?

Kegiatan yang dimulai sejak 1 April 2017 itu merupakan rangkaian memeriahkan peringatan hari lahir Muslimat NU yang ke-71. Puncaknya akan dilaksanakan pada 9 April 2017 di Taman Nukila Ternate bersama dengan seluruh keluarga besar NU Maluku Utara.?

Muslimat NU adalah banom NU yang berdiri pada 29 Maret 1946. Muslimat didirikan bertujuan mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia melalui bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, da’wah, dan sosial. (Abdu Haris Doa/Abdullah Alawi)

? ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Quote, Khutbah Haedar Nashir

Jumat, 26 Mei 2017

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental

Jakarta, Haedar Nashir. Asisten Deputi Pemberdayaan dan Kerukunan Umat Beragama Kemenko PMK Aris Darmawansyah sangat mengharapkan kerja sama dengan PBNU dalam menyosialisasikan Gerakan Revolusi Mental ini bisa terwujud.

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Pemerintah kepada PBNU untuk Wujudkan Gerakan Revolusi Mental

Demikian disampaikan Aris Darmansyah pada acara Workshop Finalisasi Penyusunan Buku Modul dan Panduan Pemimpin Agama Pelopor Perubahan Gerakan Revolusi Mental di lantai 5, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (12/10).

Pada Gerakan Revolusi Mental sendiri terdapat lima poin, yakni Gerakan Indonesia bersih, Gerakan Indonesia melayani, Gerakan Indonesia tertib, Gerakan Indonesia mandiri, dan Gerakan Indonesia bersatu.

Di antara kelima gerakan revolusi tersebut, setidaknya ia berharap PBNU bisa bekerja sama untuk menitikberatkan pada gerakan Indonesia mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu.

Haedar Nashir

Gerakan Indonesia Mandiri dalam bentuk pemberdayaan umat, baik dari segi potensi maupun dari segi ekonomi. Sementara Gerakan Indonesia bersatu ialah terkait radikalisme.

Melalui kerja sama ini, diharapkan anatara Keminko PMK dengan PBNU bisa bersama-sama menangkal radikalisme.

Haedar Nashir

"Kita bisa mengurangi gerakan radikalisme yang Akhir-akhir ini sepertinya semakin banyak, " kata Aris.

 

Ia berharap, buku modul yang akan disusun tersebut tidak hanya dicetak dan disosialisakin, tapi juga harus diterapkan.

Tampak hadir pada acara tersebut Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman, Wasekjen PBNU H. Masduki Baedowi,  Wasekjen Sultonul Huda, dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Kiai, Internasional Haedar Nashir

Kamis, 25 Mei 2017

Soal 5 Hari Sekolah, Ribuan Warga Banyumas Tuntut Jokowi Copot Muhajir

Purwokerto, Haedar Nashir - Lebih dari? 10 ribu massa Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyumas menuntut Presiden Joko Widodo untuk mencopot Muhajir Effendi dari jabatan Mendikbud dalam sebuah aksi massa di alun-alun Kota Purwokerto, Banyumas, Senin (7/8). Tuntutan ini lahir dari sikap Mendikbud Muhajir yang dinilai tidak mau mendengarkan usulan banyak elemen masyarakat termasuk NU untuk membatalkan program 5 hari kerja di sekolah.

"Oleh karena itu kita minta Presiden Jokowi Tegas dan menindak Mendikbud agar dunia pendidikan kita tidak gaduh. Mendikbud telah melecehkan banyak suara penting di negara ini dengan tetap memberlakukan program fullday school," kata Ketua PCNU Banyumas KH. Maulana Ahmad Hasan kepada pers, di sela-sela aksi, Senin (7/8).

Soal 5 Hari Sekolah, Ribuan Warga Banyumas Tuntut Jokowi Copot Muhajir (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal 5 Hari Sekolah, Ribuan Warga Banyumas Tuntut Jokowi Copot Muhajir (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal 5 Hari Sekolah, Ribuan Warga Banyumas Tuntut Jokowi Copot Muhajir

Ia mengatakan, tuntutan agar mendikbud Muhajir mundur dan dicopot dari jabatannya bisa dibatalkan jika ia bersedia mencabut permendikbud No.23 tahun 2017 tentang 5 hari sekolah.

"Maka tuntutan kami tegas, batalkan 5 hari sekolah atau copot Muhajir," tegas KH Maulana Ahmad Hasan (Gus Hasan).

Haedar Nashir

Ia mengatakan jika tuntutanya tidak dikabulkan Keluarga Besar NU Banyumas akan menggelar aksi lagi baik di Banyumas ataupun di Jakarta.

Haedar Nashir

Gus Hasan mengatakan, dengan program 5 hari sekolah, ribuan pelajar SMP dan SMA di Banyumas tidak bisa mengikuti pendidikan agama di madrasah diniyah karena waktunya habis di sekolah. "Bagaimana mau ngaji (belajar di madin), jika pulang sampai rumah sudah menjelang maghrib. Sedangkan madin rata-rata dimulai sehabis ashar atau sekitar pukul 15.00," kata Gus Hasan.

Sementara itu, Korlap Aksi, Taufik Hidayat, mengatakan, aksi damai ini diiukti oleh seluruh Keluarga Besar NU Banyumas yang melibatkan PCNU, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, PMII , IPNU-IPPNU, pelajar Maarif, dan santri-santri pondok pesantren.

"Maka aksi ini tidak main-main, NU selama ini diam diolok-olok dan dibully oleh kelompok Islam garis keras, tetapi jika lembaga pendidikan diusik dan dirugikan, maka kita tidak akan tinggal diam. Kami akan beraksi," kata Taufik Hidayat. (Agus Azka/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Rabu, 24 Mei 2017

Tata Krama dan ‘Ummatan Wahidatan

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Dalam terbitan perdana sebuah jurnal ilmiah bulanan Nahdlatul Ulama, yang diterbitkan pada 1928 dan bertahan sampai tahun 60-an, KH. M. Hasyim Asy’ari menuliskan fatwa: bahwa kentongan (alat dari kayu yang dipukul hingga berbunyi nyaring) tidak diperkenankan untuk memanggil shalat dalam hukum Islam. Dasar dari pendapatnya itu adalah kelangkaan hadits Nabi; biasanya disebut sebagai tidak adanya teks tertulis (dalil naqli) dalam hal ini.

Tata Krama dan ‘Ummatan Wahidatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Krama dan ‘Ummatan Wahidatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Krama dan ‘Ummatan Wahidatan

Dalam penerbitan bulan berikutnya, pendapat tersebut disanggah oleh wakil beliau, Kyai Faqih dari Maskumambang, Gresik, yang menyatakan bahwa kentongan harus diperkenankan, karena bisa dianalogikan atau di-qiyas-kan kepada beduk sebagai alat pemanggil shalat. Karena beduk diperkenankan, atas adanya sumber tertulis (dalil naqli) berupa hadits Nabi Muhammad SAW mengenai adanya atau dipergunakannya alat tersebut pada zaman Nabi, maka kentongan pun harus diperkenankan.

Segera setelah uraian Kyai Faqih Maskumambang itu muncul, KH. M. Hasyim Asy’ari segera memanggil para ulama se-Jombang dan para santri senior beliau untuk berkumpul di pesantren Tebu Ireng, Jombang. Ia pun lalu memerintahkan kedua artikel itu untuk dibacakan kepada para hadirin. Setelah itu, beliau menyatakan mereka dapat menggunakan salah satu dari kedua alat pemanggil itu dengan bebas. Yang beliau minta hanyalah satu hal, yaitu hendaknya di Mesjid Tebu Ireng, Jombang kentongan itu tidak digunakan selama-lamanya. Pandangan beliau itu mencerminkan sikap sangat menghormati pendirian Kyai Faqih dari Maskumambang tersebut, dan bagaimana sikap itu didasarkan pada “kebenaran” yang beliau kenal.

Haedar Nashir

Dalam bulan Maulid/Rabi’ul Awal berikutnya, KH. M. Hasyim Asy’ari diundang berceramah di Pesantren Maskumambang. Tiga hari sebelumnya, para utusan Kyai Faqih Maskumambang menemui para ketua/pemimpin ta’mir mesjid dan surau yang ada di kabupaten Gresik dengan membawa pesan beliau: selama KH. M. Hasyim Asy’ari berada di kawasan kabupaten tersebut, semua kentongan yang ada harus diturunkan dari tempat bergantungnya alat itu. Sikap ini diambil beliau karena penghormatan beliau terhadap Kyai Hasyim Asy’ari, yang bagaimanapun adalah atasan beliau dalam berorganisasi. Meyakini sebuah kebenaran, tidak berarti hilangnya sikap menghormati pandangan orang lain, sebuah sikap tanda kematangan pribadi kedua tokoh tersebut.

Sikap saling menghargai satu sama lain, antara kedua tokoh tersebut yaitu antara Rois ‘Am dan Wakil Rois Aam PBNU waktu itu, menunjukkan tata krama yang sangat tinggi di antara dua orang ulama yang berbeda pendapat, tapi menghargai satu sama lain. Inilah yang justru tidak kita lihat saat ini, terlebih-lebih di antara pemimpin gerakan Islam dewasa ini, yang tampak mencuat justru sikap saling menyalahkan, sehingga tidak terdapat kesatuan pendapat antar mereka. Yang menonjol adalah perbedaan pendapat, bukan persamaan antara mereka. Penulis tidak tahu, haruskah kenyataan itu disayangkan ataukah justru dibiarkan?

Haedar Nashir

Mungkin ini adalah sisa-sisa dari sebuah nostalgia yang ada mengenai “keagungan” masa lampau belaka. Tapi bukankah seseorang berhak merasa seperti itu? Bukankah kitab suci al- Qur’ân menyatakan, “Sesungguhnya telah Kuciptakan kalian (dalam bentuk) lelaki dan perempuan dan Kujadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa (innâ khalaqnâ kum min dzakarin wa untsâ wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû innâ akramakum ‘inda Allâhi atqâkum)” (QS al-Hujurat [49]:13) Ayat ini jelas membenarkan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin.

Namun Allah juga berfirman dalam kitab suci-Nya itu: “Dan berpeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpecah belah (wa’ tashimû bi habli allâhi jamî’an wa lâ tafarraqû)” (QS Ali Imran [3]:103). Ayat ini menunjukkan kepada kita, bahwa yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lain. Hal ini diperkuat oleh sebuah ayat lain: “Bekerjasamalah kalian dalam (bekerja untuk) kebaikan dan ketakwaan (ta’âwanû ‘alâ al-birri wa al-taqwâ)” (QS al-Maidah [5]:2) yang jelas-jelas mengharuskan kita melakukan koordinasi berbagai kegiatan. Tetapi, kerjasama seperti itu hanya dapat dilakukan oleh kepemimpinan tunggal dalam berbagai gerakan Islam.

Masalahnya sekarang adalah langkanya kepemimpinan seperti itu. Para pimpinan gerakan Islam saling bertengkar, minimal hanya bersatu dalam ucapan. Mengapakah demikian? Karena para pemimpin itu hanya mengejar ambisi pribadi belaka, dan jarang berpikir mengenai umat Islam secara keseluruhan. Seharusnya, mereka berpikir tentang bagaimana melestarikan agama Islam sebagai budaya, melalui upaya melayani dan mewujudkan kepentingan seluruh bangsa. Ambisi politik masing-masing akan terwujud jika ada pengendalian diri, dan jika diletakkan dalam kerangka kepentingan seluruh bangsa.

Dalam ajaran Islam dikenal istilah “ikhlas”. Keikhlasan yang dimaksudkan adalah peleburan ambisi pribadi masing-masing ke dalam pelayanan kepentingan seluruh bangsa. Di sinilah justru harus ada kesepakatan antara para pemimpin berbagai gerakan atau organisasi Islam yang ada, dan ketundukkan kepada keputusan sang pemimpin dirumuskan. Untuk melakukan perumusan seperti itu, diperlakukan dua persyaratan sekaligus, yaitu kejujuran sikap dan ucapan, yang disertai dengan sikap “mengalah” kepada kepentingan berbagai gerakan organisasi itu. Tanpa kedua hal itu, sia-sialah upaya “menyatukan” umat Islam dalam sebuah kerangka perjuangan yang diperlukan.

Dalam hal ini, penulis lagi-lagi teringat kepada sebuah adagium yang sering dinyatakan berbagai kalangan Islam: “Tiada Islam tanpa kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepemimpinan tanpa ketundukan” (La islama illa bi jama’ah wala jama’ata illa bi imarah wala imarata illa bi tha’ah). Adagiumnya memang benar, walaupun sekelompok kecil pernah mengajukan klaim kepemimpinan itu dan minta diterima sebagai pemimpin. Namun sikap mereka yang memandang rendah kelompok lain, justru menggagalkan niatan tersebut, sedangkan kelompok-kelompok lain tidaklah memiliki kepemimpinan kohesif seperti itu. Herankah kita, jika wajah berbagai gerakan Islam di Tanah Air kita saat ini tampak tidak memiliki kepemimpinan yang jelas? Di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan” umat (ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan?

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute). Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Tempo, 5 Desember 2002.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Kajian Haedar Nashir

Minggu, 21 Mei 2017

Islam Ramah dan Pondok Pesantren

Oleh Suwendi



Islam Ramah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Ramah dan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Ramah dan Pondok Pesantren



Seperti yang dimaklumi bersama, Indonesia merupakan negara yang amat besar. Negara ini telah dikaruniakan oleh Allah SWT dengan limpahan kenikmatan yang beragam. Bentangan luas wilayah dari Sabang sampai Merauke, dengan luas daratan sepanjang 1.922.570 Km2 dan luas perairan 3.257.483 Km2, yakni terletak di antara 6° LU sampai 11° LS dan 95° BT sampai 141° BT. Ia memiliki setidaknya 17.000 pulau. Posisinya terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga dikenal sebagai posisi silang (cross position).?

Haedar Nashir

Letak geografis ini sangat strategis untuk negara Indonesia, sebab tidak hanya kondisi alam yang mempengaruhi kehidupan penduduk Indonesia, tetapi juga lintas benua dan samudera ini berpengaruh terhadap kebudayaan yang beragam, yakni dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama dengan keanekaragaman suku-bangsa yang dimiliki.?

Kondisi agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia juga demikian beragam. Setidaknya ada 6 agama yang berkembang di Indonesia, yakni Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Berdasarkan Data Jumlah Penganut Agama dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, penganut agama Islam merupakan mayoritas, yakni sebanyak ? 207.176.162 jiwa (87,18%), disusul dengan penganut Kristen Protestan sebanyak 16.528.513 jiwa (6,96%), Katolik sebanyak 6.907,873 jiwa (2,91%), Hindu sebanyak 4.012.116 jiwa (1,69%), Buddha sebanyak 1.703.254 jiwa (0,72%), dan Kong Hu Cu sebanyak 117.091 jiwa (0,05%).

Sebagai agama mayoritas, Islam yang hadir di Indonesia merupakan Islam yang damai, Islam yang rahmatan lil’alamin, yakni Islam yang memiliki karakter tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (tenggang rasa) dan berkarakter keindonesiaan. Islam lahir dan berkembang selaras dengan kondisi budaya dan tradisi Indonesia.?

Relasi antara Islam dengan Indonesia yang dikembangkan di Indonesia mengambil format relasi substansialisik. Yakni, Indonesia bukanlah negara yang secara formal menjadi negara Islam, tetapi negara yang substantif menjamin keberlangsungan dan memenuhi semua kebutuhan dalam menjalankan kehidupan semua agama, termasuk agama Islam.?

Demikian juga, Islam di Indonesia adalah Islam yang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karenanya, masyarakat muslim di Indonesia memiliki militansi kebangsaan (nasionalisme) yang bersatu padu dengan semangat keagamaan (keislaman). Masyarakat muslim memperjuangkan keindonesiaan dengan tanpa melupakan keislamannya; demikian juga Islam-Indonesia adalah Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keindonesiaan dan menegakkan jati diri bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Antara Islam dan Indonesia, keduanya tidak bisa dipisahkan. Inilah karakter Islam yang berkembang di Indonesia.

Haedar Nashir

Dalam kondisi seperti ini, Islam di Indonesia sangat menghargai keragaman dan perbedaan baik agama, pendapat, maupun budaya. Perbedaan-perbedaan agama dan kultural ini tidak dipapahami sebagai lawan yang harus disisihkan, tetapi sebagai kawan sekaligus kekayaan bangsa yang terus dipelihara dan menjadi perekat bangsa.?

Semua itu dapat disatukan dan diikat dalam satu pandangan yang sangat prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disusun oleh pendiri bangsa Indonesia yang kemudian dikenal dengan 4 Pilar Berbangsa-Indonesia, yakni Pancasila berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keempat pilar berbangsa dan bernegara inilah yang menjadi penguat dan landasan bagi seluruh bangsa Indonesia sehingga Islam di Indonesia tampil dengan Islam yang penuh kedamaian.

Indonesia menjadi berpenduduk mayoritas muslim dan mengembangkan Islam yang rahmatan lil’alamin sesungguhnya itu tidak dapat dilepaskan dari peranan pondok pesantren. Melalui jaringan intelektual yang dikembangkan oleh pondok pesantren dan alumninya yang kemudian berperan dan mengakar pada sejumlah lembaga pendidikan Islam, seperti madrasah diniyah takmiliyah yang tersebar di setiap peloksok desa dan kelurahan, majelis taklim yang tersebar di hampir setiap RT dan RW, serta pengisi acara di sejumlah ceremoni peringatan hari besar Islam, serta tokoh-tokoh agama di tengah masyarakat pedesaan dan perkotaan, penyebaran dan penanaman nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas sangat nyata. Dalam amatan sederhana, mereka-mereka inilah yang sesungguhnya sangat berperan dalam mempertahankan Islam di tengah masyarakat Indonesia.?

Pondok pesantren merupakan dunia tradisonal Islam yang mampu mewarisi dan memelihara kesinambungan tradisi Islam yang dikembangkan ulama dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu. Ketahanan lembaga pesantren agaknya secara implisit menunjukkan bahwa dunia Islam tradisi dalam segi-segi tertentu masih tetap relevan di tengah perkembangan zaman.?

Keniscayaan bahwa pesantren tetap utuh hingga kini itu bukan hanya disebabkan oleh kemampuannya dalam melakukan akomodasi-akomodasi tertentu, tetapi juga lebih banyak disebabkan oleh karakter eksistensialnya. Karakter yang dimaksud adalah, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim Indonesia, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan.?

Di samping berkarakter keindonesiaan, pesantren senantiasa mentransmisikan pemahaman keagamaan Islam yang ramah, damai, toleran, saling menghargai, dan tidak radikal. Jauh dari doktrin terorisme, saling mengkafir-bid’ahkan, apalagi pembenaran atas gerakan takfiri dan letupan-letupan bom bunuh diri. Dalam kondisi Indonesia yang begitu pluralistik, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.?

Kita patut untuk melakukan revitalisasi atas budaya yang berkembang di pondok pesantren. Di antara budaya dimaksud pesantren adalah budaya ilmu pengetahuan, persaudaraan, dan saling gotong royong. Di pondok pesantren, dilatih dan dibiasakan untuk mendapatkan kekuatan dan semangat menimba ilmu pengetahuan yang tinggi. Para santri diajari dengan berbagai disiplin ilmu yang sangat luas sehingga tidak picik dan berwawasan sempit serta tidak mudah menyalahkan pendapat orang lain.?

Di pondok pesantren, para santri juga dilatih untuk saling membantu antar sesama. Meski santri itu berasal dari daerah yang berbeda, jika ia?

kehabisan bekal atau uang, dibantu dengan semampunya. Rasa persaudaraan antar santri benar-benar ditumbuhkembangkan dalam suasana kebersamaan di pondok pesantren. Demikian juga, para santri terbiasa dengan melakukan kegiatan secara bergotong royong, yang di sebagian pesantren dikenal dengan sebuta ro`an. Kebersihan, keamanaan, dan upaya melakukan perbaikan suatu bangunan di sekitar pesantren, dilakukan secara bersama-sama dengan penuh ketulusan dan keikhlasan.?

Budaya-budaya yang berkembang di pesantren ini sangat tepat untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara luas. Jika budaya-budaya yang sudah terbiasa dilaksanakan di pesantren itu diterapkan di masyarakat, diyakini masyarakat Indonesia akan menjadi damai, tenteram, dan bahagia.

Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat, sekaligus menjadi teladan dalam pembinaan masyarakat, termasuk dalam mengasah nilai-nilai kebangsaan dan keumatan. Oleh karenanya, pondok pesantren patut untuk menjadi garda terdepan dalam membangun bangsa ini, dengan pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin.

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Luhur Sabilussalam Ciputat

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Sabtu, 20 Mei 2017

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku

Oleh M. Haromain

Di antara sekian banyak keistimewaan bulan Ramadhan adalah diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad untuk pertama kalinya pada bulan suci ini. Teristimewanya lagi dan ini juga yang membedakan Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci agama lain ialah bentuk atau susunan kalimat pertama dalam Al-Qur’an. Al Quranlah satu-satunya kitab suci yang redaksi kalimat pertamanya menggunakan kata perintah (fiil amar), tidak redaksi kalimat berita (khabariyah). Tidak hanya itu, konten perintah dari kata pertama tersebut sifatnya menggebrak, yaitu perintah membaca. Suatu ajakan yang kini telah terbukti menjadi landasan dan basis untuk membangun peradaban dan kebudayaan.

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan dan Spirit Peradaban Buku

Perintah membaca ini (iqra) barangkali untuk konteks sekarang terkesan biasa-biasa saja. Tapi pada empat belas abad yang lalu saat Nabi menerima wahyu pertama, perintah tersebut jelas sangat revolosioner, ketika masyarakat Arab jahiliah sama sekali belum mengenal tradisi baca-tulis, melainkan hanya mengandalkan tradisi hafalan. Bahkan Nabi pun dalam menggambarkan kejahiliahan bangsa Arab masa itu pernah bersabda: Orang-orang yang pandai membaca dan menulis dari kalangan bangsa Arab dapat dihitung dengan jari.

Secara eksplisit perintah membaca itu sejatinya mengarahkan umat manusia agar membangun peradaban buku, masyarakat yang memuliakan keberaksaraan, bukan kelisanan yang dangkal, kendati penulisan Al-Qur’an secara sistematis dalam bentuk kodifikasi lengkap baru dimulai pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.

Haedar Nashir

Komitmen Nabi Muhammad dalam memperjuangkan dan menyadarkan urgensitas budaya literasi bagi umat manusia bisa dijumpai dalam pelbagai usaha dakwah beliau dalam membumikan risalah Islam, salah satunya pada perang Badar. Nabi Muhammad kala itu mensyaratkan mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh anak kaum muslimin sebagai tebusan bagi tawanan perang dari pasukan musuh. ?

Haedar Nashir

Selanjutnya terang sekali generasi pascawafatnya Nabi, yaitu generasi sahabat, tabiin dan generasi ulama setelahnya, sangat menyadari hakikat perintah membaca itu untuk terus mengembangkan peradaban buku. Berkat upaya para penerus Nabi generasi awal ini, bersumber dari pembacaan Al-Quran lantas mereka berhasil melahirkan bejibun karya dan mengembangkan banyak cabang ilmu. Al-Qur’an menjadi satu kitab yang setelah dieksplorasi kandungannya mampu melahirkan beribu-ribu buku lain dengan aneka disiplin ilmu mulai bahasa, fiqih, tafsir, balaghoh (sastra), usul fiqh, arudh, kalam, tasawuf, dan lain sebagainya.

Pendek kata perintah membaca sebagai wahyu yang pertama kali turun telah menjadi pemantik dan inspirasi bagi lahirnya pelbagai cabang dan disiplin ilmu baru yang tertuang dalam pusparagam khazanah kitab, terlebih puncaknya pada masa periode khalifah Al Mamun dari Daulah Abbasiah. Al-Ma’mun yang memang sangat gandrung pada ilmu, terutama filsafat, mencanangkan proyek besar-besaran penerjemahan literatur Yunani ke dalam bahasa Arab, yang pada akhirnya Islam berhasil menjadi kiblat peradaban dunia berkat penghargaan yang sangat tinggi pada budaya literasi.

Penulis bergiat di "Rumah Pena" NU Temanggung dan Kontributor NU online kawasan Kedu



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita Haedar Nashir

Jumat, 19 Mei 2017

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

Kudus, Haedar Nashir. Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN) menegaskan kehadirannya sebagai organisasi mahasiswa penganut tarekat adalah untuk membendung gerakan radikalisme yang telah berkembang di berbagai kampus.

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

“MATAN mempunyai tanggung jawab mendidik generasi muda sebagai upaya penyelamatan umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pergolakan global,” kata Ketua Pimpinan Pusat  MATAN Hamdani Muin dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Cabang MATAN Kabupaten Kudus  di Aula Kantor NU setempat, Sabtu (29/9) malam.

Ia menandaskan, sebagai bagian dari Jamaah Ahli  Thariqah, MATAN akan selalu mendarmabaktikan kepada umat dan NKRI. Ditegaskan, thariqah atau tarekat tidak hanya sekedar berdzikir melainkan juga memikirkan kepentingan umat. 

Haedar Nashir

“Apa artinya Dizikir siang malam tetapi tidak memikirkan kepentingan umat. Begitu pula, tarekat bukan hanya milik para masyayih atau orang tertentu.  Thariqah adalah rahmatal lil Alamin.”tandasnya lagi.

Haedar Nashir

Hamdani menjelaskan  MATAN memiliki lima asas (al-asas al-khomsah)sebagai semangat pergerakan yakni Tafaqqu fi al din (mengasah kemampuan dan ketajaman intelektual), Iltizamut Thoat (semangat ketaatan kepada Allah,Rasulullah dan Ulil Amri), Tasfiah al qalb wa tazkiyat al-nafsi (pembersihan dan pensucian diri), hifdz-al-aurad wa al-adzkar (menjaga waktu untuk kemanfaatan dan pahala Allah SWT) dan  dan khidmah lil –ummah (mendarmabaktikan kepada umat manusia kepada bangsa dan negara).

“Kelima asas itu muaranya  hidmah kepada umat dan bangsa. Maka tidak aneh, Habib lutfiy selalu menggelorakan Indonesia Raya di setiap kesempatan,” tegas Dosen pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada terlantik, Hamdani mengajak pengurus MATAN selalu mengikuti mursyid (guru) dan berakhlakul karimah. Ia juga  melarang pemanfaatan  organisasi untuk kepentingan politik. 

“Thariqah itu milik masyayih, jadi jangan sampai narik-narik ke politik. Kalau ada yang melakukan hal itu , pasti akan kualat.” tambah dia menandaskan.

Sementara Pengurus Cabang Jamiyah ahli Thariqah An Nahdliyyah (JATMAN) KH. Syafiq Nashan mengharapkan MATAN mampu meredam gejolak situasi yang panas terutama di kalangan anak muda. 

“Kita perlu meredam situasi panas ini dengan selalu berdzikir sebagai ajaran thariqah.  Karena itu, kita bersama-sama memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat melalui matan.” Ujar KH Syafiq yang juga ketua MUI Kudus ini.

Sementara sebelumnya,  pengurus Cabang MATAN Kudus secara resmi telah dilantik ketua PP Hamdani Muin. Dengan disaksikan para kyai thoriqah dan tamu undangan lain, Deklarasi dan prosesi   pelantikan berlangsung hidmah.

Adapun susunan PC MATAN Kudus yang dilantik yakni Ketua Muhammad Mawahib dan wakilnya Ah.Amir Faisol, Malik Khoirul Anam dan Wahyu Setiadi. Sekretaris Moh saifudin Nawawi, wakil sekretaris saifudin Bachri, Khoirul Anwar dan Riza Jauharatul Muniroh, sedangkan Bendahara Ismail dan wakil bendahara Muslihatul Izza. 

Kepengurusan dilengkapi  tujuh departemen  yakni Manajemen dan Pengembangan sumber daya Manusia, Pengkaderan, Cinta tanah air, Kajian dan Litbang, Seni dan Budaya, Komunikasi dan Informasi serta Ekonomi dan entrepreneur.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Haedar Nashir

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Haedar Nashir

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Daerah, Nusantara Haedar Nashir

Selasa, 16 Mei 2017

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nasional Haedar Nashir

Senin, 15 Mei 2017

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Oleh Nur Kholik Ridwan

Menurut para founding fathers NU, Islam yang diperjuangkan fiddin waddunya wal akhirah dinamakan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, yang mengakui empat madzhab fiqih yang berkembang (Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali), bertasawuf menurut tradisi Imam Junaid, Imam al-Ghazali dan imam-imam lain di lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah, dan beri’tiqad mengikuti jalan Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar NU dalam berbagai periode tahun. Oleh generasi berikutnya, hal ini kemudian disebut Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, Ahlussunnah wal Jama’ah yang berlaku di lingkungan NU, yang berpijak dalam konteks masyarakat Indonesia dan Nusantara.

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Negara Nasional dan Formulasi KH Achmad Siddiq

Islam yang demikian, oleh KH Achmad Siddiq kemudian diformulasi dengan nama Islam rahmatan lil `alamin, jauh sebelum Gus Dur mengemukakan istilah-istilah Islam rahmatan lil `alamin dalam tulisan-tulisannya.

KH Achmad Shidiq mengatakan: “Nahdlatul Ulama didirikan untuk meningkatkan mutu pribadi-pribadi Muslim yang mampu menyesuaikan hidup dan kehidupannya dengan ajaran agama Islam, serta mengembangkannya sehingga terwujudlah peranan agama Islam dan para pemeluknya sebagai rahmat bagi seluruh alam” (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 12). Rais Am PBNU tahun 1984-1991 itu, juga menegaskan bahwa ciri-ciri diniyah Nahdlatul Ulama itu tercermin pada beberapa hal, di antaranya: “Bercita-cita keagamaan, yaitu izzul islam wal muslimin menuju rahmatan lil`alamin.” (hlm. 15).

Haedar Nashir

Islam rahmatan lil`alamin itu, penamaannya mengambil dari banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan di antaranya wama arsalnaka illa rahmatan lil`alamin (QS. Al-Anbiya ayat 107).

Dalam ayat ini, terdapat beberapa riwayat yang menyebut Nabi sebagai rahmat yang membentang dan rahmat untuk sekalian alam. Di antara beberapa riwayat itu disebutkan dalam Tafsir Durrul Mantsur fi Tafsir al- Ma’tsur, yaitu riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata: “Dikatakan kepada Rasulullah: ud`u `alal musyrikin. Nabi ber sabda: “inni lam ub`ats la’anan, wainnama buitstu rahmatan”; hadits lain dikeluarkan al- Baihaqi dalam ad- Dala’il dari Abu Hurairah dengan kata: “innama ana rahmatun mahdatun”; ada juga hadis dari Ibnu Hamid dari Ikrimah berkata: “Dikatakan kepada Nabi Muhammad: “Ya Rasulallah ala tal`anu quraisyan bima atau ilaika.” Nabi bersabda: “Lam ub`ats la`anan, innama buitstu rahmatan”; dan juga diriwayatkan oleh Imam athThayalisy, Ahmad, Thabrani, dan Abu Nuaim dalam ad-Dala’ il, dari Abu Umamah berkata: “Berkata Rasulullah Saw.: “Innallaha ba`atsani rahmatan lil `alamin wa hudan lilmuttaqin” (Jalaluddin as- Suyuthi, Durrul Man tsur fi Tafsir al-Ma’tsur, Jilid X, hlm. 405-406).

Haedar Nashir

Menyimak dari hadits-hadits Nabi itu, ketika diminta melaknat dan mencaci orang-orang Quraisy, justru Nabi Muhammad menimpali: “Saya tidak diutus sebagai caci maki (tidak untuk mencaci maki), tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat (untuk menebarkan kasih sayang).” Islam yang diajarkan itu adalah Islam yang mengedepankan akhlak mulia, bukan hanya pada dimensi apa yang diperjuangkan di mana Islam itu memang mulia, tetapi juga cara-cara memperjuangkan pun dengan akhlak yang mulia.

Oleh KH Achmad Siddiq watak dan ciri-ciri Islam rahamatan lil `alamin itu, disebutkan oleh Al-Qur’an sendiri yang kemudian disimpulkan dengan tiga hal penting: at-tawasuth (QS. Al-Baqarah? ayat 143), al-i’tidal (al- Ma’idah ayat 9), dan at-tawazun (QS. Al-Hadid ayat 25). Di dalam Khittah NU kemudian ditambah lebih lengkap dengan at- tasamuh, dan amar ma’ruf nahi munkar, yang sebelumnya dilengkapi juga dengan Mabadi’ Khaira Ummah (MKU) yang digagas KH Mahfudz Siddiq, yaitu ash-shidqu, al-amanah wa al-wafa bil `ahdi, dan at-ta`awun (disetujui Muktamar NU tahun 1937), yang ditambah pada Muktamar NU tahun 1992 di Lampung dengan dua hal penting, yaitu al-`adalah dan al-istiqamah.

Bentuk dari implementasi sikap at-tawasuth di dalam masalah kenegaraan, menurut KH Achmad Siddiq, tercermin dari sikap dan pandangan Nahdlatul Ulama yang melihat bahwa: (1) Negara nasional yang didiri kan bersama oleh seluruh nasion/ rakyat wajib dijaga dan dipelihara eksistensinya; (2) Penguasa Negara yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, atau memerintah ke arah yang tidak bertentangan dengan hukum Allah; (3) Kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tatacara yang sebaik-baiknya (KH Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyyah, hlm. 66).

Meski begitu haruslah disadari bahwa peran NU dalam merumuskan dasar negara dan pandangannya dalam bentuk kenegaraan, mengalami proses panjang, baik di dalam adu argumentasi ataupun dalam sejarah politiknya, termasuk dalam riak-riak kecil dan besarnya di tengah gejolak Geosospolek bangsa Indonesia. Dari sudut ini bisa dilihat dari peran NU dalam merumuskan pandangan kenegaraan sebelum Republik Indonesia berdiri, pada masa pendirian bangsa zaman BPUPKI-PPKI, setelah itu dalam perdebatan tahun 1955 di sidang Konstituante, penerimaan Pancasila dan UUD 1945 di dalam Dekrit Presiden Soekarno, dan kemudian sampai pada perumusan dalam soal Pancasila dan asas Pancasila di Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo.

Dari sejumlah peristiwa sejarah itulah, kemudian para kyai NU memberikan argumentasi dan formulasi argumentatifnya, agar bisa dimengerti generasi-generasi baru, seperti yang dilakukan KH Achmad Siddiq, KH Muchit Muzadi, KH Abdurrahman Wahid, KH Masdar Farid Mas`udi, dan banyak tokoh lain. Wallahu a’lam.

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Nahdlatul, Quote Haedar Nashir

Rabu, 10 Mei 2017

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Jakarta, Haedar Nashir. Mustasyar PBNU KH Hafidz Usman yang meninggal Senin (20/10) pagi di Bandung dimakamkan di makam keluarga di Menes, Banten. Jenazah tiba di masjid yang terletak tidak jauh dari rumah singgah keluarga Menes pada sekitar pukul 00.10 dini hari dan langsung disambut ratusan jamaah yang memenuhi masjid.

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahkan Belum Sempat Pulang, Langsung Berangkat Haji

Shalat jenazah dipimpin oleh Rais Syuriyah PWNU Banten, KH Tubagus Abdul Hakim. Sambutan atas nama keluarga disampaikan oleh KH Suhri Usman, adik dari almarhum.

Atas permintaan keluarga, jenazah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Menes Banten, tepatnya di makam keluarga dari istri Kiai Hafidz yang juga saudara dari istri KH Ma’ani Rusydi.

Haedar Nashir

Sejumlah pengurus NU hadir mengikuti pemakaman mewakili PBNU, antara lain Katib Syuriyah KH Mujib Qulyubi, Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Sarmidi Husna dan H Mahbub Ma’afi Ramdlan, Ketua Lembaga Wakaf PBNU H Mardini. Terlihat juga mantan politisi PPP Endin Sofihara, dan mantan Ketua PBNU Andi Jamaro.

Menurut Mahbub Ma’afi, Kiai Hafidz meniggal sehari setelah pulang dari haji. Ia datang ke kediamannya di Bandung pada Ahad (19/10). Keesokan harinya Kiai Hafidz tiba-tiba dikabarkan meninggal, tanpa didahului sakit sedikitpun.

Haedar Nashir

“Jadi beliau berangkat haji itu seolah-olah berpamitan. Apalagi tahun ini bertepatan dengan haji akbar. Bahkan sebelum berangkat haji pun beliau belum sempat pulang ke rumah sehabis berkeliling Sumatera dan Sulawesi dalam rangka menjalankan tugas BWI (Badan Wakaf Indonesia),” kata Mahbub.

Pengurus Lembaga Bahtsul Masai PBNU itu menceritakan pengalamannya bersama KH Hafidz Usman terutama saat mendampingi almarhum dalam menyelesaiakan pembukuan hasil bahtsul masail NU sejak Muktamar pertama NU tahun 1926.

“Beliau memimpin tim menyocokkan referensi dari semua keputusan bahtsul masail. Kalau ada kitab yang menjadi referensi tidak ada di PBNU, beliau pesen itu kitab ke Mesir. Beliau salah satu Kiai NU yang ensikopedis, tahu banyak hal. Beliau mempunyai semua kitab yang menjadi rujukan bahtsul masail NU,” katanya.

Sebagai kiai senior, KH Hafidz Usman cukup menghargai pendapat kiai-kiai muda di lingkungan lembaga bahtsul masail. “Beliau tidak pernah marah. Kalau kami membantah atau mendebat beliau, secara etika kan tidak bener, tapi beliau tidak marah,” katanya.

KH Hafidz Usman meninggal pada usia 74 tahun. Aktivitasnya di NU dimulai sejak usia muda, sampai menjadi ketua PWNU Jawa Barat. Di PBNU, Jakarta, pertama-tama Kiai Hafidz diminta oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menjadi salah satu Ketua PBNU. Pada periode berikutnya ia mendapatkan amanah sebagai Rais Syuriyah PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Ubudiyah Haedar Nashir

Senin, 08 Mei 2017

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof Dr Arief Hidayat memberikan ceramah dalam Seminar Nasional tentang Tata Kelola Air yang digelar oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), Rabu (20/5) di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat.

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Konsep Tata Kelola Air Menurut Ketua MK

Dalam pemaparannya, Arief menuturkan, air perlu dikelola dengan baik agar kebutuhan manusia dan seluruh makhluk hidup akan air dapat terpenuhi.?

“Pengelolaan air tidak boleh dikuasai oleh swasta, harus dikuasai oleh negara. Itu diatur dalam pasal 33 UUD 1945,” tegasnya di hadapan peserta seminar yang memadati Aula PBNU.

Haedar Nashir

Arief menerangkan, dalam pasal 33 tersebut, seperti yang tertuang dalam Putusan Nomor 36/PUU-X/2012, MK menegaskan bahwa frasa ‘dikuasai negara’ tidak dapat dipisahkan dari frasa ‘sebesar-besarnya kemakmuran rakyat’.?

“Karena jika kedua frasa ini tidak dikaitkan sebagai satu kesatuan yang utuh, maka akan menimbulkan tafsir konstitusional yang kurang tepat. Karena bisa jadi negara menguasai sumber daya alam secara penuh tetapi tidak digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” paparnya.

Haedar Nashir

Dalam berbagai putusannya, imbuh salah satu Dewan Pakar ISNU ini, MK selalu berupaya mennguatkan peran negara dalam mengelola, mengawasi, dan memenuh hak atas air untuk kebutuhan dan kesejahteraan rakyat banyak.

“Pengelolaan sumber daya air mesti secara mutlak diselenggarakan oleh negara, sedangkan swasta hanya mendapatkan peran residu manakala pengelolaan sumber daya air oleh BUMN/BUMD sebagai perpanjangan tangan negara tidak dapat melakukan fungsinya,” tegas Arief.?

Selama ini, menurutnya, swasta itu hanya menjual kemasan air. Agar air tetap bersih dan jernih. “Masa’ kita membuat pesawat saja bisa, tetapi mengelola air secara komersil dan mandiri tidak bisa. Inilah salah satu faktor, mengapa kelompok swasta, bahkan swasta asing dengan bebas menjarah, memprivatisasi, dan meliberalisasi mata air rakyat,” tuturnya panjang lebar. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 07 Mei 2017

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Yogyakarta, Haedar Nashir. Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) larut dalam dzikir bersama yang digelar rutin tiap malam Jumat Legi di Masjid Gede Kauman Yogyakarta yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-alun Utara Kraton, pada Kamis malam (7/11).

Majelis dzikir yang dikomandoni Gusti KGPH Joyokusumo (adik Sultan HB X) ini merupakan maejlis doa bersama seluruh elemen warga untuk kedamaian Yogya dan Indonesia.

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir Bersama, Upaya Kraton Yogya Jaga Kedamaian

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Jamiludin yang hadir pada kesempatan itu menilai, dzikir bersama rutin itu menjadi acara penting Kraton Ngayogyokarto untuk melestarikan tradisi dzikir bersama. “Ini merupakan cara khas kraton untuk menjaga kedamaian warganya,” katanya

Haedar Nashir

Jamiludin menambahkan, dzikir bersama merupakan dakwah yang sangat efektif, karena melibatkan banyak sekali jamaah majelis talim di Yogyakarta. Bukan saja warga NU, semua kalangan diundang untuk doa bersama.

Haedar Nashir

Maejlis ini dimulai dengan khataman Al-Quran, kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan wiridan. Dalam kesempatan ini, hadir Rais Syuriah PWNU DIY, KH Asyhari Abta, yang kemudian didaulat untuk memimpin doa. Hadir pula Wakil Ketua PWNU DIY H. Harsoyo. (Muyassaroh Hafidzoh/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, News Haedar Nashir

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Jakarta, Haedar Nashir

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin berharap jajaran syuriyah NU di seluruh tingkatan mampu berperan sentral dalam mengendalikan organisasi.?

“Syuriyah itu pengarah, karena itu fungsi-fungsi itu harus dijalankan dengan baik, supaya bisa menggerakkan tanfidziyah,” katanya di Gedung PBNU, Selasa (22/03).?

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Berharap Syuriyah Mampu Berperan Sentral

Ia menuturkan, dalam sejarahnya, jajaran syuriyah NU memiliki peran yang sangat sentral sebagaimana dijalankan oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah. Syuriyah harus mampu menjalankan tanpa meminta diperankan.?

“Masalahnya syuriyah itu minta diperankan, bukan memerankan diri. Kalau minta diperankan bukan penggerak, bukan pengarah,” evaluasinya.

Haedar Nashir

Dalam rangka meningkatkan konsolidasi ini KH Ma’ruf Amin secara rutin berkunjung ke sejumlah wilayah NU. “Saya berkunjung ke daerah ada yang memang diundang daerah, ada yang acara lain, kemudian saya menyempatkan untuk konsolidasi,” paparnya.

Sebagai langkah untuk meningkatkan peran tersebut, Kiai Ma’ruf meminta agar jajaran syuriyah membuat pertemuan-pertemuan secara periodik seperti di PBNU yang menggelar rapat setiap bulan.?

“Syuriyah bisa membuat arahan-arahan atau meminta informasi dari tanfidziyah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kapasitas, PBNU akan melakukan kaderisasi syuriyah, supaya syuriyah tidak hanya paham soal baca kitab, tetapi juga mampu melakukan penguasaan terhadap perkembangan dan tantangan organisasi.?

Haedar Nashir

“Dalam konsolidasi ini, kita juga membangun ghirah nahdliyah atau? semangat ke-NU-an. Bagaimanapun kalau tidak ada semangat tidak jalan,” tuturnya.?

Banyak hal telah dilakukan oleh PBNU, tetapi ia menegaskan, tak bisa langsung berubah karena semuanya butuh proses. Dengan membangun sistem yang lebih baik, maka organisasi akan berjalan dengan lebih baik pula. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, AlaSantri, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 01 Mei 2017

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

Jakarta, Haedar Nashir. Pemikir Keagamaan dan Kenegaraan, Yudi Latif, mengatakan bahwa nilai Pancasila seharusnya “mengatasi” Negara. Bukan di bawah negara. Jika Pancasila di bawah negara, maka ia menjadi alat negara untuk menekan lawan-lawan politik. Ini merupakan pengejawantahan Pancasila sebagai agama publik (civic religion).

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Yudi Latif: Pancasila Harus ‘Mengatasi’ Negara

“Pancasila harus menjadi kritik bagi negara. Salahnya, zaman Orba dulu negara yang berinisiatif, negara menatar, negara pula yang menafsir. Akhirnya, Pancasila menjadi alat negara untuk menakar rakyat,” kata Yudi dalam bedah bukunya bertajuk Revolusi Pancasila di Hotel A-One Jakarta Pusat, Senin (22/5).

Singkat kata, lanjut Yudi, jika pendekatan Pancasila yang dulu vertikal maka sekarang harus horizontal. “Harus melibatkan partisipasi berbagai pihak sehingga Pancasila nantinya menjadi kritik bagi kebijakan negara,” tegasnya.

Oleh karenanya, Yudi berpendapat, Pancasila bisa juga disebut sebagai ‘agama publik’ (civic religion). “Bukan berarti agama yang kita pahami selama ini. Artinya, lebih kepada nilai moralitas dalam kehidupan publik. Terpenting, jangan mengagamakan pancasila atau mempancasilakan agama,” tandasnya.

Pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini menambahkan, Pancasila disebut civic karena meskipun nilai-nilainya berasal dari agama tapi tidak identik dengan agama. Nilai-nilai universalnya itu sudah terbagi luas di masyarakat.

Haedar Nashir

“Jadi tidak bisa disamakan dengan yang ada di masjid atau di gereja. Dia sudah menjadi nilai-nilai agama yang menjelma properti publik. Pancasila menampung berbagai elemen dari agama-agama, adat istiadat, gagasan universal, dan lain-lain,” ujarnya.

Yudi Latif mengibaratkan agama-agama bak tower tinggi, lalu Pancasila memotong jembatan supaya antaragama bisa saling bertemu. Nilai-nilai publik inilah yang disebut sebagai agama. Bagi dia, Pancasila menjadi cermin bagi seluruh anak bangsa.?

Kegiatan yang dibuka resmi oleh Kepala Balitbang Diklat Kemenag Abdurrahman Mas’ud ini menghadirkan dua narasumber, Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad dan Direktur PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jamhari Ma’ruf.

Tampak juga Kepala Puslitbang Penda Amsal Bakhtiar, Kepala Pusdiklat Teknis Mahsusi, para pejabat Eselon III di lingkungan Balitbang Diklat, serta para Kepala Balai Litbang Agama (BLA) dan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) seantero Republik. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Amalan Haedar Nashir