Kamis, 30 November 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, Haedar Nashir - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

Haedar Nashir

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

Haedar Nashir

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Kajian Islam Haedar Nashir

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi

Jombang, Haedar Nashir. KH Hasib Abdul Wahab putra salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah mengingatkan bahaya paham Wahabi yang semakin gencar melakukan propaganda melalui sejumlah kanal media.?

Hal ini disampaikan Gus Hasib saat membuka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ? Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Jombang di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (11/3).

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Putra KH Wahab Chasbullah Ingatkan Sepak Terjang Wahabi

"Tantangan ideologi dari kelompok non-NU yang ada sekarang semakin gencar. Salah satunya gerakan Wahabi, mereka menggunakan media dan bahkan menguasai media dalam gerakannya," tutur Gus Hasib kepada kader-kader Ansor.

Gus Hasib yang juga salah satu Ketua PBNU ini mengungkapkan, kelompok Wahabi dalam gerakannya di tengah masyarakat juga banyak mengaku Sunni, bahkan mengaku beraliran Ahlussunah wal Jamaah sebagaimana NU.?

"Mereka sudah masuk hingga ke desa-desa mengaku Sunni seperti kita. Karenanya untuk membedakan itu, PBNU mempertegas Aswaja yang dianut adalah Aswaja An-Nahdliyyah," imbuhnya.

Haedar Nashir

Karenanya, lanjut Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum ini menambahkan, Pengkaderan semacam PKD Ansor ini sangat penting. Pengkaderan dalam organisasi menurutnya tidak hanya dilakukan GP Ansor, PBNU juga melakukan pengkaderan.

"Bahkan di beberapa pengkaderan yang dilakukan PBNU, Banom diharuskan mengikuti termasuk juga lembaga-lembaga yang ada," tandasnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang, Zulfikar D. Ikhwanto mengatakan, pelaksanaan PKD di Jombang sudah memasuki angkatan ke-4.?

"Alhamdulillah kali ini PKD didekatkan pada pendiri NU dan Ansor, yakni di Pesantren Tambakberas yang merupakan kelahiran Pendiri NU KH Wahab Chasbullah," ujarnya.

Kegiatan PKD PAC GP Ansor Jombang Kota yang digelar di Stikes An-Najiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang diikuti sekitar 80 kader. Mereka berasal dari pengurus Anak Cabang Jombang Kota, dan ranting.?

"Kita sempat khawatir, karena kemarin kader-kader baru mengikuti DTD Banser. Tapi Alhamdulillah semangat kader Ansor masih tinggi. Terbukti pesertanya tidak hanya dari PAC Jombang Kota, PAC Kudu, PAC Jogoroto, juga PAC Wonosalam mengirimkan kader untuk PKD di sini," katanya. (Muslim Abdurahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Sholawat, Pendidikan Haedar Nashir

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Tasikmalaya, Haedar Nashir. Baru satu hari diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya Jawa Barat, Husna Mustofa yang juga Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya langsung mencanangkan program "Nikah Gratis".

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

KUA Cihideung Tasikmalaya Canangkan Program Nikah Gratis

Dengan menggandeng GP Ansor Kota Tasikmalaya, Kepala KUA termuda di Jawa Barat ini akan memprioritaskan anggota Ansor/Banser yang belum menikah untuk mengikuti program nikah massal gratis yang dilakukan KUA Kecamatan Cihideung.

"Awal tahun 2017 sudah kita programkan. Sekaligus dalam memperingati Harlah NU pada 31 Januari," kata Husna di Kantor KUA Cihideung, Senin (14/11).

Menurut Husna, data base Ansor Kota Tasikmalaya ada sekira 300 anggota yang belum menikah. Dari usia 20 sampai 40 tercatat masih bujang termasuk ada yang duda.

"Maka program awal saya untuk Ansor itu. Nikah massal gratis," ujarnya.

Haedar Nashir

Husna pun mengaku sudah berkomunikasi denga jajaran pengurus Ansor dan seluruh pegawai KUA Cihideung agar program tersebut menjadi agenda rutin tahunan dalam rangkah memperingati Harlah NU.

"Waktu tiga bulan dari sekarang cukup untuk persiapan. Bayar nikah di luar kantor 600 ribu. Nikah di kantor nol rupiah. Nikah di luar kantor bisa nol rupiah asal ada surat keterangan miskin dari desa atau kelurahan setempat," ucapnya.

Ketua GP Ansor Kota Tasikmalaya, Ricky Assegaf mengatakan rencana program nikah massal gratis itu sudah masuk agenda kerja 2017. Kebetulan ada kader Ansor yang jadi Kepala KUA sehingga dengan mudah akan terealisasi.

"Ya klop saja langsung. Istilahnya gayung bersambut karena kader ansor ada yang jadi Kepala KUA. Tinggal tekhnis dan saya wajibkan yang belum menikah agar segera menikah. Biar biaya ditanggung Ansor," tuturnya. Program Nikah Gratis ini, kata Ricky, berlaku bagi umum juga tak mesti harus anggota Ansor.

Haedar Nashir

Sebelumnya, Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya melakukan pelantikan Kepala KUA baru pada Jumat (11/11/2016). Dari tiga yang dilantik, salah satunya Husna Mustofa yang berusia 30 tahun menjadi Kepala KUA Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya. Husna merupakan Sekretaris GP Ansor Kota Tasikmalaya periode 2015-2019. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Haedar Nashir

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Mojokerto. Haedar Nashir. Adam  terpilih menjadi Ketua Umum PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Mojokerto Masa Khidmat 2013-2014 pada Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Kota Mojokerto X di Gedung Praja Wijaya Mojokerto, Sabtu (5/01/12).

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)
Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto (Sumber Gambar : Nu Online)

Adam Faizal Pimpin PMII Mojokerto

Forum tertinggi tingkat Cabang ini berlangsung dua hari yakni Kamis-Jum’at (04-05). Acara ini dibuka oleh Majelis Pembina Cabang PMII Kota Mojokerto. Setelah proses permusyawatan dan tatip pemilihan ditetapkan kemudian muncul nama Adam Faizal Farid Said asal komisariat STIT Raden Wijaya yang kemudian didukung oleh tiga komisariat yaitu: STIT Raden Wijaya, UNIM  dan STAI Uluwiyah maka secara aklamasi sahabat adam sebagai ketua umum terpilih untuk periode 2013-2014.

Ketika dikonfirmasi Haedar Nashir Adam mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut mensukseskan sebagai ketua Umum terpilih untuk periode 2013-2014. 

Haedar Nashir

“Kami ucapkan terimaksih kepada semua pihak yang ikut serta mendukung saya untuk memimpin PMII kota Mojokerto untuk lebih baik,” katanya.

Haedar Nashir

Pria yang juga pernah menjabat Ketua I PC PMII Kota Mojokerto ini menyatakan bahwa Grand Tema untuk periode ke depan adalah kaderisasi sesuai dengan kearifan lokal. Karena kaderisasi dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu langsung bisa di aplikasikan di tingkatan lokal.

“Adapun grand tema untuk periode yang saya pimpin nanti adalah kaderisasi dengan disesuaikan kearifan lokal karena sistem kaderisasi non-formal dan informal dari PB PMII dan PKC PMII Jatim belum tentu bisa di aplikasikan di daerah.” Terangnya.

Menanggapi tentang dinamika organisasi kedepan untuk bisa solid Adam berjanji untuk mengakomodir semua pihak yang nantinya akan ikut dalam pengembangan PMII lebih baik ke depannya. 

“Saya berjanji akan mengakomodir semua pihak untuk kami ajak bicara dan memajukan PMII kota mojokerto lebih baik,” pungkasnya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kudus, Haedar Nashir

Menjelang Ramadhan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus menggelar pelatihan penguatan tenaga pengolah data lembaga pendidikan keagamaan Sabtu (5/6) di hotel Proliman Kudus.

Acara yang diikuti oleh 30 perwakilan dari pondok Pesantren, 30 perwakilan dari TPQ, dan 50 perwakilan dari madrasah diniyyah (madin) ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas tenaga pengolah data di lembaga pendidikan keagamaan.

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Kudus Mutakhirkan Data Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Kudus Mutakhirkan Data Pesantren

Kasi Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Kudus, HM Khafid, mengatakan, kegiatan ini untuk meningkatkan kemahiran pengolah data di dalam pondok pesantren, TPQ, dan Madin. “Tujuannya adalah untuk validasi pendataan di masing-masing lembaga,” terangnya.

Haedar Nashir

Ia berharap, peserta kegiatan ini akan menjadi pengawal sekaligus ujung tombak dalam pengisian sekaligus pemutakhiran pendataan di pesantren, TPQ dan madrasah diniyah. Selama ini, ia mengaku, salah satu kesulitan pendataan riil di lembaga pendidikan nonformal adalah keengganan dari pihak lembaga bersangkutan untuk didata.

“Dengan ini kita berharap, mereka akan dengan sendirinya melakukan pendataan sendiri, mulai dari melengkapi data-data lembaga, sarana prasarana lembaga, serta yang paling penting, data santri yang belajar di lembaga itu,” kata Khafid.

Haedar Nashir

Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari pemutakhiran data pesantren yang dilakukan pihaknya satu tahun terakhir. Sebelum pemutakhiran, ada 155 pondok pesantren di Kudus yang terdaftar. Setelah dilakukan pemutakhiran izin operasional, baru 72 pesantren di Kudus yang melaksanakan pemutakhiran izin operasional. “Bagi pesantren yang? belum melakukan pemutakhiran, diharapkan segera? melaksanakannya. Bagi yang sudah, dimohon untuk segera melengkapi data-data ini kemudian akan kami setorkan ke pusat,” pungkasnya. (Muhammad Kharis/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Aswaja, Ahlussunnah Haedar Nashir

Rabu, 29 November 2017

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Jakarta, Haedar Nashir. Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) terus mendalami kemungkinan adanya pelanggaran aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kasus Kebakaran Pabrik Kembang Api, PT Panca Buana Cahaya Sukses di Kosambi, Tangerang. Kemnaker telah menerjunkan tim pengawas ketenagakerjaan  ke lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk mendalami kasus tersebut.

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Selidiki Dugaan Pelanggaran K3 Ledakan Pabrik Kembang Api Kosambi

Menaker Usut Kecelakaan Kerja di Gudang Kembang Ap

Dalam pelaksanaannya, tim fokus mendalami kemungkinan pelanggaran pada aspek ketenagakerjaan. Diantaranya kepatuhan perusahaan dalam menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3). 

“Apakah perusahaan tersebut sudah menerapkan norma keselamatan kerja dengan baik dan benar. Norma keselamatan kerja tersebut adalah meliputi aspek-aspek ketenagakerjaam terutama ya, keselamatan bagi para pekerja,” kata Dirjen Pembinaan  Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3) Kemnaker  Sugeng Priyanto di Kantor Kemnaker, Jakarta, Jumat (27/10).

Haedar Nashir

 

Sugemg menjelaskan, aspek K3 yang diselidiki berkaitan dengan sarana dan prasarana K3  di lingkungan kerja. Seperti penyediaan alat pelindung pekerja, pintu evakuasi, dan sebagainya.

“Ini yang merupakan kewajiban kerja perusahaan, untuk menyiapkan sarana dan prasarana kerja yang aman, yang terkait dengan keselamatan pekerja,” jelasnya.

Selain itu, tim Kemnaker tersebut juga akan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak pekerja, seperti jaminan sosial dan upah.

Haedar Nashir

“Kami akan melihat satu persatu tenaga kerja yang bekerja di perusahaan tersebut. Terutama yang menjadi korban untuk memperoleh hak-haknya,” Sugeng menguraikan.

Sugeng juga mengucapkan bela sungkawa yang mendalam bagi korban dan keluarganya. Hal ini menurutnya harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, pekerja, dan masyarakat umum. Hal itu untuk meningkatkan awareness terhadap pentingnya K3.

“Kami, sekali lagi ingin menyampaikan ungkapan bela sungkwa dan duka cita yang sedalam-dalamnya atas terjadinya kecelakaan kerja ini yang menimbulkan korban baik luka-luka maupun meninggal dunia,” ujarnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

“Festival Lintas Budaya,” Tampilkan Karya Anak Negeri

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dengan suku-sukunya memiliki khasanah budaya yang luar biasa dan masing-masing memiliki keunggulan. Islam juga diterima dengan mudah melalui akulturasi kebudayaan, seperti yang dilakukan oleh wali songo.

Pengembangan dakwah melalui kebudayaan ini harus terus dipertahankan dan dikembangkan sebagai Islam yang menghargai tradisi. Dalam upaya inilah pada Bulan Harlah ke 82 NU, akan digelar Festival Lintas Budaya.

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas”

Probolinggo, Haedar Nashir. Para santri Pondok Pesantren Nurul Jadid dilatih memiliki nilai sportivitas tinggi. Upaya itu dilakukan melalui lomba “Tarung Bebas” yang dilaksanakan di halaman pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Selasa (14/5).

Pertandingan yang disaksikan ribuan santri putra tersebut merupakan kegiatan tahunan. Perguruan Bela Diri Nurul Jadid (PBDJ) yang berada di bawah naungan Pagar Nusa di Kabupaten Probolinggo sebagai penyelenggara.

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)
Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)

Latih Sportivitas, Santri Nurul Jadid “Tarung Bebas”

Menurut Ketua PBDNJ, Ubaidillah, Tarung Bebas tersebut dilakukan dalam rangka mengolahragakan dan menumbukan semangat sportivitas santri dalam mengikuti berbagai ajang kompetesi.

Haedar Nashir

“Santri di pondok ini bukan hanya diajarkan mengaji, melainkan diajak berolah raga juga, karena bagaimanapun, kalau badan tidak sehat, santri tidak akan mungkin mengaji,” katanya.

Haedar Nashir

Di samping itu, tambah Ubaidillah, pertandingan ini merupakan ajang seleksi para pendekar muda berbakat, sehingga potensi dan keahlian mereka dapat diketahui, guna diikutkan pada festival lomba setingkat lebih tinggi. Bahkan ada yang masuk seleksi tingkat nasional.

Ada tiga kategori yang diperlombakan, yaitu kategori pra-remaja, remaja, dan dewasa. Pertandingan tersebut memeprlombakan 98 kategori, yang mana nantinya akan dipilih jura 1 dan 2.

Lebih jauh, Ubaidillah mengatakan, di Nurul Jadid ada perkumpulan pencak silat yang terdiri dari Harimau Terbang, Tapak Sakti, dan Cimande. Kemudian semua perguruan tersebut dimasukkan dalam satu wadah, yaitu PBDNJ, “Tentunya PBDNJ ini berada di bawah komando Pagar Nusa Kabupaten Probolinggo, mengingat pengasuh kita adalah tokoh NU,” katanya.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Nusantara Haedar Nashir

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Islamabad, Haedar Nashir. Bertepatan dengan hari Asyura atau 10? Muharam, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) bekerja sama dengan Bagian Bahtsu-Masail (BM) Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Pakistan menyelenggarakan diskusi reguler di Islamabad, Pakistan.

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pakistan Kaji Sejarah Syiah di Indonesia

Menurut Koordinator diskusi, Ikmal Thoha, kegiatan yang digelar 4 November ini mengusung tema "Syiah dalam Lingkup Sejarah dan Eksistensinya di Tanah Air".? Saat ini, katanya, Syi’ah memang menjadi topik yang hangat diperbincangkan di Pakistan.

“Diskusi berjalan menarik dan tentunya memberi memberikan antusias yang besar kepada rekan-rekan PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Pakistan dan juga dalam rangka meramaikan suasana di bulan Muharram dan mengisi kekosongan pada hari libur,” ujar? mahasiswa IIUI Pakistan asal Tuban ini.

Haedar Nashir

Hadir sebagai Narasumber dua mahasiswa Indonesia Program Magister di Pakistan, Eris Rismatullah, S.Phil.I? dan Syamsul Hadi, S.Th.I. Dalam pemaparannya Eris Rismatullah mengatakan bahwa Syi’ah awalnya adalah salah satu kelompok politik di dunia Islam.

“Sejarah aliran Syi’ah masuk ke Tanah Air adalah bersamaan dengan masuknya Islam ke Tanah Air. Bahkan, menurut Jalaluddin Rahmat, tokoh Syi’ah Indonesia, Syi’ah lebih dulu yang datang ke Tanah Air dari pada Islam Sunni,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, masuknya aliran Syi’ah ke Indonesia merupakan misi visualisasi dari cita-cita dan tujuan dari Revolusi Iran. Tujuan utamanya, menerapkan ajaran atau aliran Syi’ah secara komprehensif melalui kekuasan politik.

Sementara? narasumber kedua, Syamsul Hadi mencoba menyambung dengan menjelaskan sepak terjang aliran Syi’ah secara lebih rinci. Menurutnya, Syi’ah mulai masuk ke Indonesia secara sembunyi-sembunyi dalam artian hanya sebatas keyakinan masing-masing dalam keluarga dan tidak terang-terangan untuk berdakwah.

“Pada periode kedua, tepatnya pasca Revolusi Iran, penyebaran Syi’ah sudah mulai terang-terangan dengan adanya pondok-pondok pesantren Syi’ah yang telah bermunculan di Tanah Air, karena Syi’ah mulai berdakwah dari dunia pendidikan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rais Syuriah PCI-NU Pakistan Ahmad Badruddin mengatakan, perbedaan dalam agama memang tidak bisa dihindarkan, dan perbedaan pemikiran dalam ragam itu pasti ada. Menurutnya, hal itu merupakan cermin dinamika intelektualitas, dinamika rasionalitas dalam Islam.

Ia juga menegaskan, bahwa diskusi ini tidak mengarah pada tuduhan sesat pada siapapun, melainkan kajian ilmiah perihal sejarah dan ideologi sebuah kelompok. “Kita harus selalu berhati-hati untuk masalah takfir dan tahkim kepada sesuatu,” tuturnya. (Muhammad Taufiq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Internasional, Humor Islam Haedar Nashir

Perihal Penyebutan Nama Allah

Oleh Rusdi Mathari*

Di sebuah grup WhatsApp, seorang kawan telah menegur kawan lainnya karena menulis “4JJI” untuk menyebut “Allah.” Alasan yang menegur, “4JJI” berbeda artinya dengan “Allah.” Dia meminta yang bertanya perbedaannya, agar bertanya pada kawan yang lain lagi yang dianggapnya lebih mengerti dan berkompeten untuk urusan semacam itu.

Diskusi agak memanas, dan saya lalu teringat pertanyaan istri saya untuk perkara yang sama.

Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Perihal Penyebutan Nama Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Perihal Penyebutan Nama Allah

Apa yang disebut sebagai “Allah” oleh terutama orang-orang Islam, sebetulnya hanya istilah yang dibuat untuk menyebut sesuatu yang luar biasa (maha) di luar dirinya. Tapi karena berbagai alasan, banyak orang kemudian percaya bahwa orang-orang Islam menyembah Allah yang berbeda dari Allah orang-orang Kristen dan Yahudi.

Haedar Nashir

Sebuah anggapan yang sebetulnya sama sekali keliru, karena sesungguhnya tidak ada keraguan seorang Muslim adalah menyembah Allah yang juga disembah oleh Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, Yesus, dan Muhammad (shalawat dan salam untuk mereka semua).Bahwa orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam kemudian memiliki konsep yang berbeda tentang Allah, tentu benar adanya.

Haedar Nashir

Orang Islam, seperti halnya orang Yahudi misalnya, menolak kepercayaan Trinitas dan Inkarnasi Ilahi dari ajaran Kristen. Akan tetapi penolakan itu tak lalu, masing-masing penganut dari tiga agama menyembah Tuhan yang berbeda karena Allah hanya satu. Yahudi, Kristen dan Islam adalah kepercayaan yang mendaku sebagai “Agama Ibarahim” (Abrahamic Faith), dan ketiganya diklasifikasikan sebagai “monoteistik.”

Realitasnya, ada sebagian penganut Yahudi dan Nasrani yang kemudian selalu ingin membuat orang percaya, bahwa “Allah” adalah sebutan untuk para “dewa” orang Arab (silakan baca: The Moon-god Allah in the Archeology of the Middle East), dan Islam adalah benar-benar sesuatu yang “lain,” yang berbeda, dan tidak memiliki akar yang sama dengan Yahudi dan Kristen.

Tentu argumen semacam itu menggelikan, sebab dengan menganggap umat Islam menyembah “Allah” yang berbeda (karena mereka mengatakan “Allah”) adalah sama tidak logisnya dengan pendapat yang mengatakan, orang-orang Prancis menyembah Allah yang lain karena mereka menyebut “Dieu.” Orang-orang berbahasa Spanyol juga menyembah Allah yang berbeda karena berseru “Dios.” Atau mereka yang berbahasa Ibrani menyembah Allah yang tidak sama, karena mereka kadang-kadang memanggil Allah dengan sebutan “Yahweh.”

Sebagian yang lain lalu mengatakan, tentang “Allah” adalah bukan sekadar soal logika, dan itu problemnya. Sebab mereka yang mendaku setiap satu bahasa hanya menggunakan kata yang benar untuk menyebut Allah, sama artinya dengan menyangkal universalitas pesan Tuhan kepada umat manusia, untuk segala suku dan bangsa melalui para nabi yang berbicara dalam bahasa yang berbeda. Dan hanya sedikit orang yang paham, tentang Allah sesungguhnya adalah kata yang sama dalam bahasa Arab yang digunakan orang-orang Kristen dan Yahudi untuk menyebut Allah.

Tengoklah Alkitab (Injil) berbahasa Arab, maka di sana akan tertera kata “Allah” digunakan seperti halnya “Allah” digunakan dalam bahasa Inggris: “Allah” adalah kata dalam bahasa Arab dan sama dengan kata dalam bahasa Inggris “God” dengan huruf “G.” Kata “Allah” itu pun bahkan tidak dapat dibuat jamak.

Lihatlah kata “El” dalam bahasa Aram yang adalah kata untuk Tuhan ketika Yesus berbicara, niscaya lebih mirip pengucapannya dengan kata “Allah” dibandingkan dari kata “God” dalam bahasa Inggris. Itu pula berlaku untuk berbagai macam kata untuk menyebut Tuhan dalam bahasa Ibrani: “El” dan “Elah,” atau “Elohim” (dimuliakan) itu.

Alasan kesamaan itu, karena baik bahasa Aram, Ibrani dan Arab adalah bahasa yang berasal-usul sama yaitu bahasa Semit.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” pada dasarnya sama dengan kata “Ilah” yang artinya Tuhan, dan karena itu makna dari kata “Allah” adalah juga sama dengan makna dari kata “Ilah.”

Perbedaan mutlak kedua kata tersebut terletak pada penggunaannya.Dalam bahasa Arab, kata “Ilah” dikenal sebagai bentuk mufrad (umum) dan bersifat jamak dengan kata aalihat, sementara kata “Allah” adalah nama khusus dan tidak mempunyai bentuk jamak.

Ucapan seperti “Ya Ilahi” atau “Ya Allah” menunjukkan, tidak ada perbedaan antara kata “Allah” dan “Ilah” kecuali yang satu (“Allah”) digunakan hanya untuk makna khusus, dan yang lain (“Ilah”) lebih digunakan untuk yang bersifat umum. Dalam buku “Tauhid dan Syirik,” Syrekh Ja’far Subhani bahkan menyebut kedua kata itu memiliki persamaan yang lebih dekat, sebab berasal dari satu akar kata yang sama.

Kalau kemudian ada kekhususan makna dari kata “Allah” seperti yang sejauh ini disebut oleh kaum Muslim, hal itu tak lain karena kebiasaan orang-orang Arab yang selalu menggunakan lafal “Al Ilah.” Penambahan kata “al” pada “Ilah” dimaksudkan untuk menunjuk sesuatu yang telah dikenal dalam pikiran (isyarah dzihniyah). Dalam kitab “Majma’ul Bayan Jilid 9,” Al Thabarsi menerangkan, huruf “i” pada “Al Ilah” kemudian menjadi hilang dalam percakapan sehari-hari, sehingga “Al ilah” diucapkan sebagai “Allah.”

Penjelasan yang kurang lebih sama tentang asal usul penyebutan nama “Allah” juga diungkapkan Thabarsi dalam “Majma’ul Bayan Jilid 1”. Mengutip pendapat Imam Sibawaih (pakar gramatikal tentang asal-usul lafal “Allah”) Thabarsi menjelaskan, perubahan dari “Ilah” menjadi “Allah” disebabkan penisbian atau peluluhan huruf “hamzah” di atas huruf “i” (alif), sehingga menjadi al ma’rifah, yang tak bisa dipisahkan.

Maka ketika menyebut “Ya Allah,” pengucapannya bukan “Yallah” melainkan “Ya Allah.” Seandainya tidak ada huruf “hamzah” dalam kata aslinya, menurut Thabarsi, niscaya pengucapan “hamzah” tidak dibenarkan sebagaimana dalam kata-kata lainnya.

Tentang “Allah” yang berasal dari kata “Ilah” dengan menghilangkan huruf “hamzah” dan menggantinya dengan kata “al” juga dijelaskan oleh Ar Raghib di buku “Al Mufradat.” Dalam pandangan Ar Raghib, sebutan “Allah” dikhususkan bagi nama Allah sebagai wajibul wujud, atau zat mutlak yang wajib ada.

Bisa dimengerti karena itu, para ahli tauhid memaknai “Allah” dan “Ilah” sebagai makna yang satu, yaitu Tuhan. Namun menurut sebagian ahli tafsir, dalam kalimat tauhid “laa ilaha illallah” kata “Ilah” mempunyai makna ma’bud (yang disembah) dan karena itu penggunaan maknanya harus disertai penjelasan bihaqqin (secara benar).

Maka kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” maknanya adalah “Tidak ada Tuhan yang wajib disembah secara hak kecuali Allah.”

Problemnya: banyak penganut agama Samawi, belum mengerti tentang asal-asal istilah dan sebutan “Allah,” sehingga banyak di antara mereka lalu saling mendaku soal Allah. Orang-orang Islam di sini, bahkan menuliskan “Allah” dengan “Alloh.” Alasannya bermacam-macam.

Sebagian menganggap, pengucapan “Allah” dengan “lah” tebal menyulitkan banyak orang mengucapkannya, dan untuk mempermudah dan agar mendekati pengucapan yang seharusnya, maka digantilah tulisan “Allah” dengan “Alloh.” Dan itulah rancunya, karena bahasa Arab, tidak mengenal vokal e dan o, kecuali hanya tiga vokal: fathah (a), kasrah (i) dan dammah (u).

Aneh rasanya, “Allah” kemudian ditulis “Alloh” apalagi diucapkan menjadi “Al-loh,” atau “rahman” ditulis “rohman” dan diucapkan “roh-man,” dan sebagainya, sebab tidak ada dasar bahasanya kecuali hanya dicari-cari. Itu sama dengan menuliskan “Jos” untuk pengganti “George,” atau “Nyu Yok” untuk “New York.” Dampaknya, kemudian berkembang juga penulisan “Awloh,” “Awoh,” dan sebagainya, yang jauh lebih ngawur dan berkesan olok-olok.

Muncul kemudian penulisan “4JJI” yang dipersoalkan dalam satu grup di WhatsApp itu. Mungkin maksudnya untuk memudahkan dan tidak terjebak dengan penulisan “Alloh,” tapi tulisan itu, hanya mendekat-dekatkan atau memirip-miripkan dengan tulisan “Allah” dalam bahasa Arab yang terdiri dari huruf alif, lam, lam dan ha. Dan karena disusun dengan huruf Latin, tulisan “4JJI” semestinya dibaca “empat-je-je-i” bukan “Al-lah.”

Alasan dari sebagian yang lain malah lebih ekstrem. Sengaja “Allah” dituliskan “Alloh”, karena alasan untuk membedakan “Allah” dalam Islam dan “Allah” yang disebut oleh kaum Nasrani. Allah lalu diklaim hanya milik agama tertentu, dan agama lain tak boleh memilikinya.

Itu misalnya pernah terjadi di Malaysia, ketika pemerintah dan ulama di sana melarang penggunaan “Allah” oleh orang Nasrani. Mereka menganggap tak satu manusia pun yang tidak memiliki pandangan keimanan yang sama dengan mereka, layak dan pantas menyebut “Allah.” “Allah” adalah milik mereka, kendati mereka juga tidak paham, siapa Allah dan mengapa harus disebut “Allah.”

Sungguh dengan semua nama dan sebutan “Allah,” manusia sesungguhnya tak bisa mengetahui hakikat Allah, kecuali hanya sedikit orang. Nama-nama, istilah atau apa pun sebutan yang ditujukan untuk menyebut Allah, hanyalah salah satu cara manusia untuk mengenal Allah. Dan di balik semua nama dan istilah itu, Allah adalah Allah, dan hanya Allah yang tahu akan Allah. Bukan manusia.

* Jurnalis. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Tinggal di Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Kiai, Sunnah Haedar Nashir

Gubernur Lampung: Kiai-kiai NU Orang Tua Kita Penjaga NKRI

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Saat bertemu dengan Ketua-Ketua Pengurus Cabang Nahdltul Ulama Se-Provinsi Lampung Gubernur Lampung Ridho Ficardo menyatakan bahwa Para Kiai dan Ulama NU adalah para orang tua Penjaga NKRI. Ia juga menyatakan bahwa NU adalah salah satu organisasai pendiri negara Indonesia ini.

Gubernur Lampung: Kiai-kiai NU Orang Tua Kita Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Lampung: Kiai-kiai NU Orang Tua Kita Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Lampung: Kiai-kiai NU Orang Tua Kita Penjaga NKRI

"Mayoritas yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesian adalah para laskar santri dan kiyai yang perang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia sampai mati dan sahid adalah santri-santri dan kiyai kiyai NU," katanya saat pertemuan di Mahan Agung, Kamis Malam (12/4).

Pada kesempatan tersebut Ia juga menjelaskan bahwa bahwa dirinya dan keluarganya adalah orang NU tulen. "Saya ? serta keluarga besar saya dan mbah-mbah saya adalah warga Nahdlatul Ulama, mungkin di Lampung kurang terkenal ke-NUan Saya, tapi Kalau di Tulung Agung Jawa Timur, karena keluarga kami adalah santri dan Jamaah dari Pondok Pesantren Peta, Asuhan Kiyai Jalil, maka tidak di ragukan lagi ke-NUan saya dan keluarga," Kata Gubernur Muda ini.

Ridho juga mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung selalu bersinergi denga NU dalam membangun Bumi Rua Jurai ini. Salah satu Pembangunan disektor keagamaan dicontohkannya dengan program rutin tahunan yang telah Ia canangkan berupa Ziarah Wali Songo.

Haedar Nashir

Pertahun menurutnya sudah diberangkatkan sekitar 6000 warga Provinsi Lampung untuk Program Wisata religi ziarah wali songo. Dan pada tahun ini lanjutnya akan ditambah dengan ziarah ke beberapa Kiai Pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Haedar Nashir

Selasa, 28 November 2017

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial

Jember, Haedar Nashir. Dalam rangka meningkatkan kemampuan para kader NU untuk membuat penelitian sosial, Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Jember menggelar “Halaqoh Riset” di kampus Universitas Islam Jember (UIJ), Ahad (21/11). Halaqoh dengan materi metodologi penelitian tersebut ditutori dosen senior UIJ, Samanhudi.

Peserta kegiatan tersebut terdiri dari 20 orang yang merupakan perwakilan dari Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember dan IAIN Jember. “Peserta memang kami batasi agar halaqoh ini lebih efektif hasilnya. Ini kami rencanakan hingga empat kali pertemuan,” ujar Pengurus IPNU Jember Muhammad Ardi Wiranata.

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Jember Tingkatkan Kemampuan Penelitian Sosial

Menurut Ardi, keterampilan atau kemampuan mahasiswa dalam membuat penelitian, secara umum masih rendah. Padahal, selain merupakan syarat mutlak bagi mahasiswa untuk membuat skripsi, penelitian juga menjadi ciri khas akademis dalam memetakan persoalan dan mencari jalan keluarnya.

Oleh karena itu, katanya, IPNU-IPPNU Jember akan terus mendorong terselenggaranya kegiatan halaqoh, pelatihan dan sejenisnya untuk meningkatkan wawasan kemampuan kader dalam membuat penelitian. “Ini sudah menjadi komitmen kami untuk meningkatkan wawasan kader, khususnya dalam penelitian. Ini nanti juga direncanakan ada halaqoh riset gelombang kedua dan seterusnya,” tambah Ardi.

Sementara itu, Samanhudi berharap kader NU di manapun agar bisa menunjukkan jati dirinya sebagai pelajar atau mahasiswa yang mumpuni. Sebab, yang berbicara akhirnya adalah kemampuan individu, bukan lembaga.

Artinya, kata Simon, sapaan akkrabnya, di manapun mahasiswa menimba ilmu,? kementerengan lembaga sesungguhnya tak terlalu penting. Tapi yang jauh lebih penting justru kemampuan atau kecakapan sang kader. “Oleh karena itu, mari kita tunjukkan bahwa kita kader NU yang hebat dan mumpuni,” pungkasnya. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)?

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Aswaja, Khutbah Haedar Nashir

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Gresik, Haedar Nashir. Kejuaraan Pencak Silat Pagar Nusa tingkat pelajar? se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan digelar di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Kec. Dukun, kab. Gresik, mulai Rabu (19/6) hari ini. Kejuaraan digelar dalam dalam rangka peringatan haul ke-50 pendiri pesantren, KH Ma’shum Shufyan.

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kejuaraan Silat Pagar Nusa Digelar di Gresik

Sekitar 350 pendekar yang merupakan utusan Ranting/Rayon Pagar Nusa se-Kabupaten Gresik dan Lamongan akan memerebutkan “KH. Ma’shum Sufyan Cup 2013” untuk beberapa kategori dan kelas.?

Ada tiga kategori yang bertanding yakni usia dini (7-12 tahun), pra remaja (12-14 tahun), dan remaja (14-17 yahun). Masing-masing kategori terdiri dari beberapa kelas yang didasarkan pertimbangan berat badan.

Haedar Nashir

Dalam Rilis kegiatan yang diterima Haedar Nashir, setiap Ranting/Rayon hanya mengikutsertakan 1 peserta dari tiap-tiap kategori yang dipertandingkan.

Sementara itu, pakaian pesilat dan pendampingnya adalah seragam resmi Pagar Nusa (hitam-hitam). Sebelum bertanding, setiap pesilat tanding harus sudah menggunakan cap protector. Pesilat putri harus memakai pembalut dan aksesoris yang membahayakan pertandingan dilepas.?

Haedar Nashir

Peraturan pertandingan yang digunakan dalam kejuaraan kali ini adalah Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antara Bangsa hasil Keputusan Munas IPSI tahun 2012. Sementara sistem pertandingan yang digunakan adalah sistem gugur tunggal.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Lomba, Pondok Pesantren Haedar Nashir

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

Jombang, Haedar Nashir. Ulama sufi Ahlusunnah wal Jamaah, Syaikh Mustafa Masud al-Haqqani, menasihati kaum muda NU untuk instrospeksi diri dan merenungi kondisi serta peran perjuangan jamiyyah Nahdlatul Ulama terhadap bangsa Indonesia.

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syaikh Mustafa Masud Nasihati Kaum Muda NU

"Semoga NU akan menjadi suatu majelis yang bertumpu pada kesadaran, segala sesuatu karena rahmat Allah, supaya kami dapat merasakan betapa nikmatnya rahmat-Mu itu. Tercapai sudah perjuangan bangsa Indonesia untuk memulihkan kembali kemerdekaannya. Ini berkat rahmat Allah yang Mahakuasa," tuturnya saat memimpin Istighotsah penutupan Musyawarah Kaum Muda NU, Senin (3/8) sore, di halaman Universitas Wahab Chasbullah, Jombang.

Syeikh Mustafa mencontohkan tentang sosok tokoh NU yang juga menteri agama KH Abdul Wahid Hasyim. Kiai Wahid, dahulu pukul 10 pagi masuk kantor dengan melantunkan surat al-Baqarah, kemudian ashar pulang sudah sampai surat an-Nas.

Haedar Nashir

"Berarti (Abdul Wahid Hasyim) satu hari khatam sekali al-Quran. Ini akhlaknya NU. NU kok shalatnya telat, NU kok ngrasani (menggunjing) orang," singgung Mursyid Tarekat Naqshbandi Haqqani itu di hadapan ratusan kamu muda NU yang tergabung dari GP Ansor, Fatayat NU, PMII, IPNU, IPPNU, JNM, PPM Aswaja, HIPSI, dan lain-lain.

Haedar Nashir

Dalam istighotsah tersebut, Syeikh Mustafa Masud membacakan dzikir yang mengandung asmaul husna, shalawat Nabi, pujian kepada para wali, dan dzikir-dzikir lainnnya.

"Alhamdulillah petang ini kita bisa menjalani prosesi istighasah yaitu mengambil kesejukan dari Allah. Setiap orang mempunyai aura. Insyaallah lewat Istighotsah ini aura kalian semakin besar untuk mewarnai Nahdlatul Ulama sampai muktamar yang akan datang," doanya diamini serentak oleh hadirin.

Syeikh Mustafa mengimbau kepada kaum muda NU supaya tidak sembarang menyalahkan situasi dan kondisi Muktamar Ke-33 NU di Jombang kali ini. "Jangan mencela yang salah, kita tidak bisa menghakimi orang tua. Kita doakan, agar beliau-beliau diberi petunjuk Allah," harapnya.

Musyawarah Kaum Muda NU yang berlangsung 2-3 Agustus 2015 di arena Muktamar Ke-33 NU ini merupakan forum perbincangan, silaturrahim, dan jumpa gagasan kaum muda NU dari berbagai profesi, komunitas, keahlian, konsentrasi keilmuan, serta gerakan di masyarakat. Sementara forum yang dimusyawarahkan mulai dari keislaman Aswaja, persoalan keumatan, hingga perpolitikan. (M. Zidni Nafi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Meme Islam Haedar Nashir

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba

Jakarta, Haedar Nashir - Pimpinan Pusat GP Ansor (PP GP Ansor) ke depan menggalang gerakan nasional antinarkoba. Mereka melihat peredaran narkoba sedemikian rupa maraknya di Indonesia. Pihak GP Ansor berupaya sedapat mungkin menanggulangi penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan pemuda.

Gagasan ini disepakati dalam Rapat Kerja (Raker) GP Ansor di The Media Hotel, Jakarta, Sabtu  (23/4). Raker yang dihadiri seluruh pengurus PP GP Ansor, Ketua Wilayah GP Ansor, dan tamu undangan berjalan penuh khidmah.

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Canangkan Nusantara Bebas Narkoba

Agenda Raker berisi pemaparan program kerja setiap bidang masing-masing. Ketua bidang Sosial, Budaya, dan Lingkungan Hidup Idy Muzayyad menjelaskan bahwa salah satu program utamanya adalah mencegah penyalahgunaan narkoba.

“Narkoba ini sangat berbahaya dan sudah menjangkiti para generasi muda secara luas. Untuk itu kami ingin Ansor bergerak cepat menanggulangi dan membantu para korban untuk kembali hidup sehat”, ujarnya.

Haedar Nashir

Wasekjen GP Ansor Mohamad Fadlilah mempertegas komitmen Ansor dalam  menghadang narkoba. “Kami berkoordinasi dengan BNN untuk melakukan tes urine para pengurus GP Ansor. Memang sengaja kami tidak menginformasikan kepada para pengurus lainnya sehingga banyak yang kaget. Kami juga akan menularkan ini ke daerah-daerah,” tutur Fadil.

Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qaumas (Gus Tutut) dan Sekjen GP Ansor Adung Abdul Rahman juga terlihat mengikuti tes urine. “Ini menjadi contoh para pengurus Ansor, baik di pusat maupun daerah,” kata Gus Tutut.

Haedar Nashir

Tes urine ini diikuti oleh banyak pengurus lainnnya secara bergiliran.

Idy mempertegas bahwa GP Ansor harus bergerak cepat dan tepat. “Ansor telah membentuk Badan Ansor Antinarkoba (Baanar) yang akan berperan aktif melakukan pencegahan, pemberantasan, dan pendampingan korban narkoba. Ansor juga akan bekerja sama dengan pihak manapun yang mempunyai misi sama. Intinya Nusantara bebas penyalahgunaan narkoba,” tegas Idy. (Ogie/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Olahraga, RMI NU Haedar Nashir

Senin, 27 November 2017

Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker

Jakarta, Haedar Nashir

Sebanyak 1000 peserta Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) mengikuti ujian Tes Potensi Akademik (TPA) Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) tahun ajaran 2017-2018 di ruang serbaguna kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (3/10).



Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker

Para peserta  yang mengikuti  TPA ini telah lulus tahapan pertama yaitu seleksi administrasi berdasarkan kelengkapan berkas data dan persyaratan lainnya. Gelombang pertama  tes TPA diikuti 600 peserta dan 400 peserta menyusul di gelombang kedua.

Dari 1000 peserta TPA, didominasi lulusan SMA sebanyak 53 persen dan 42 persen lulusan SMK, lulusan pesantren dan SLTTA ke atas masing-masing 1 persen, madrasah Aliyah 3 persen.

Sementara dari segi usia, rata-rata peserta TPA Poltek Ketenagakerjaan berusia kurang dari 21 tahun sebanyak 83 persen dan 15 persen berusia 21-30 tahun. Sebanyak 2 persen berumur lebih dari 30 tahun,

Menurut Direktur Politeknik Ketenagakerjaan Retno Pertiwi, proses seleksi penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan dengan prinsip adil, akuntabel, transparan, dan tidak diskriminatif dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras.

Haedar Nashir

“Para peserta diwajibkan mengikuti seluruh proses penerimaan mahasiswa baru sesuai prosedur yang telah ditentukan. Kita ingin memastikan hanya calon terbaik dan yang memenuhi persyaratan dan sesuai kriteria yang bisa mengikuti perkuliahan di Politeknik Ketenagakerjaan,“ kata Retno.

Retno mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk mengikuti pendidikan di Politeknik Ketenagakerjaan dalam rangka  meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang ketenagakerjaan.

Haedar Nashir

“Sesuai arahan dari Menaker M Hanif Dhakiri, kehadiran Politeknik Ketenagakerjaan Ini merupakan sebuah terobosan untuk menyiapkan SDM yang kompeten di bidang ketenagakerjaan,“ kata Retno.

Rencananya, pada tahun ini, Politeknik Ketenagakerjaan akan membuka tiga program studi (prodi) , yaitu Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Program Studi D4 Relasi Industri, dan Program Studi D3 Manajemen Sumber Daya Manusia dengan kuota 90 orang mahasiswa.

Dari 1000 peserta yang mengikuti TPA sebanyak 56 persen berjenis kelamin laki-laki dan 44 persen perempuan. Peminat program diploma (prodi) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sebanyak 47 persen, prodi relasi industri (34) dan prodi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) sebanyak 19 persen.

"Kehadiran Polteknaker dharapkan menjadi  solusi untuk mewarnai pembangunan ketenagakerjaan sehingga akan lebih kondusif dan semakin sejahtera dengan memperhatikan kondisi terhadap angkatan kerja, tingkat pendidikan, pengangguran dan link and match, “kata Retno.

Dari tiga prodi yang dibuka, Retno mengungkapkan tahap seleksi pertama adalah seleksi administrasi dengan melihat kelengkapan berkas. Pada proses ini terdapat pendaftar oline sebanyak 3.552 orang. Namun yang mengirim berkas melalui surat elektronik atau email sebanyak 1.302 peserta, yang akan memperebutkan 90 kursi dari tiga prodi.

 

Ditambahkan Retno, tahap selanjutnya usai TPA adalah test psikotes dan wawancara yang diikuti oleh peserta yang lulus TPA, pada tanggal 6 Oktober nanti di Pusdiklat Kemnaker. Peserta yang dinyatakan lulus psikotest dan wawancara akan diumumkan pada 7 Oktober 2017, mengikuti tes kesehatan dan bebas narkoba pada 9 Oktober 2017 di Pusdiklat Kemnaker. Rencananya Peserta PMB secara final akan diumumkan pada 10 Oktober dan langsung mendaftar ulang pada 11-13 Oktober 2017. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

Depok, Haedar Nashir. Rektor Universitas Indonesia M Anies mengungkapkan, saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman yang bukan hanya fisik semata. Untuk itu, bela negara saat ini bukanlah dengan mengangkat senjata. 

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)
Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

"Dalam menjaga NKRI melalui bela negara harus melibatkan semua elemen; yaitu ulama, umara, perguruan tinggi,” ujarnya pada Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara, di Pesantren Al-Hikam, Kukusan, Beji, Depok, Senin (24/10).

Bela negara melalui pendidikan terkait dengan ideologi dan cara berpikr. Perguruan tinggi, dikatakan Anies mencetak generasi  yang bertanggungjawab, sehingga bisa  menjadi mitra dalam menyelesaikan dan menjawab tantangan  global. 

"Demi jaga keutuhan,  cara tepat dengan melibatkan dunia pendidikan. Kita sadari bagaimana medsos menjadi ancaman keutuhan bila menyampaikan hal negatif. Tentunya bila ada kesamaan pemahaman tentang ke-Indonesia-an, maka bisa menjadi filter tersendiri," terangnya. 

Haedar Nashir

Menurutnya, salah satu upaya dalam pendidikan adalah dengan menekankan kembali dalam kesamaan pemahaman ke-Indonesia-an. Ia menilai, perwujudannya melalui nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45.

"Perlu dicari metode menanamkan nilai Pancasila sejak dini. Tidak bisa anak sekarang disuruh menghafal Pancasila dan P4. Tentunya, generasi milenium beda dalam penyampaian dan metodenya," paparnya. 

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok KH. Yusron Ash-Shidqi menilai tugas bela negara bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun semua elemen bangsa turut aktif. 

“Antara ulama dan umara memiliki kesamaan dalam maslahat. Terlebih lagi, dalam upaya menjaga keutuhan NKRI,” tutur Kiai Yusron.

Ia menegaskan Al-Hikam adalah rumah aswaja dalam menegakkan dan menjaga NKRI. 

Kegiatan Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara menghadirkan 200 ulama dan cendekiawan.  Gagasan kegiatan tersebut dicetuskan almarhum KH Hasyim Muzadi sebagai upaya menyatukan visi misi ulama umara menjadikan aswaja dan bela negara sebagai sumbangsih pada NKRI. (Aan Humaidi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat

Semarang, Haedar Nashir. Shalat menjadi hadiah terbesar bagi umat Islam. Peristiwa Isra Miraj menjadi titik balik bagi kaum Muslim untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Dalam peringatan Isra Miraj yang dibarengkan dengan Khotmil Quran Pondok Pesantren Al-Aziziyah Beringin, Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/4) ini, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir untuk memberikan mauidhoh hasanah.

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat

Gus Mus menerangkan, pengertian ulama bisa diartikan dari bahasa Arab dan Indonesia. Kedua hal ini berbeda secara makna. Konteks yang melatarbelakangi kata ini pun akan lain. Kata ulama tak bisa diartikan secara langsung dengan kata kiai. Ulama itu bukan terjemahan dari kiai.

"Ulama adalah produk masyarakat, mengenali masyarakat dan masyarakat tahu persis track record ulama tersebut," papar Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini.

Menurutnya, banyak yang mengaku ulama, akan tetapi tak pantas menyandangnya karena keilmuan dan perilakunya tidak tepat dengan peran dan tugasnya sebagai ulama. Secara sanad keilmuan, tak jelas menganut kepada siapa. Keilmuan tak dapat secara instan. Kadang mereka hadir tanpa diketahui masyarakat rekam jejaknya seperti apa.

"Kiai memiliki pandangan yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah (melihat umat dengan pandangan kasih sayang)," tambah alumni pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Haedar Nashir

Inilah yang membedakan antara kiai dan ulama pada masa sekarang. Kiai merupakan ciri khas (istilah) bagi masyarakat Jawa. Benda-benda yang dihormati dinamakan dengan kiai. Secara tak langsung kiai adalah orang yang dihormati.

Haedar Nashir

Selain itu, harapan besar Gus Mus bagi mutakharrijin (alumni) yang telah diwisuda ini menjadi ahli Quran. Setelah hafal kemudian masuk dalam tingkatan memahami dan mengerjakan apa yang termaktub di dalamnya. “Hafal merupakan fase awal,” tegasnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad dahulu, tandas Gus Mus, perangainya Al-Quran. Masyarakat atau sahabat cukup dengan melihat tingkah lakunya saja. Nabi telah mengerjakan terlebih dahulu apa-apa yang akan diperintahkan kepada umat Islam. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Ilmu dan Derajat Manusia

Nabi Muhammad memerangi perilaku jahat, kelaliman, dan tindak kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Arab saat itu dengan mengajak dan mendidik umat manusia supaya memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

?

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.
Ilmu dan Derajat Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu dan Derajat Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu dan Derajat Manusia

? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?..

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ?? . ? . ? ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

Para jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah,? . Sebelum agama Islam datang, dunia ini diliputi dengan kekerasan dan penindasan yang disebabkan oleh kebodohan. Manusia terbagi menjadi dua kelas sosial, masyarakat kaya dan masyarakat miskin. Masyarakat kaya berisi para raja dan orang-orang yang memiliki hamba sahaya atau budak. Sedangkan masyarakat kelas bawah adalah para budak, petani, dan masyarakat secara umum. Masyarakat kelas atas menindas masyarakat kelas bawah. Kekerasan terjadi secara sistematis, bahkan undang-undang dalam masyarakat yang bias keadilan hanya memihak kepada masyarakat kelas atas yang menindas kaum tak punya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Menghadapi kenyataan yang bengis dan penuh kelaliman itu, sekitar tahun 610 M. nabi Muhammad Saw menyeru kepada umat manusia untuk menghilangkan penindasan di muka bumi dengan mengajak umat manusia untuk belajar. Salah satu ayat al-Quran yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca: ? ? ? ? ? (Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang Menciptakan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada umat manusia supaya membaca, yakni mendayagunakan akal-pikirnya untuk memahami wahyu yang tertulis, yakni al-Quran dan wahyu yang tidak tertulis, yaitu alam semesta. Melalui ilmu pengetahuan, nabi Muhammad mengajak umat manusia untuk berperilaku baik, menjadikan semua lapisan masyarakat setara di hadapan hukum, dan menghilangkan tindak kezaliman.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Setelah nabi menerima wahyu, yang pertamakali tertarik dan mengimani dakwah nabi, selain istrinya, Khadijah binti Khuwailid, adalah orang-orang yang pada masa itu digolongkan sebagai kelompok mustadl’afîn (orang-orang lemah), yaitu hamba sahaya dan masyarakat yang tak punya. Kepada penganutnya yang rata-rata dari kaum dlu’afâ`, nabi mengumpulkannya di masjid, lalu nabi mengajarkan ajaran Islam kepada mereka. Taqiyuddîn al-Maqrîzî dalam kitabnya yang berjudul Imtâ’ al-Asmâ’ menginformasikan, ketika nabi Muhammad Saw duduk di masjid, maka kaum dlu’afa yang mengikutinya seperti ‘Ammâr, Khabbâb, Shuhaib, Bilâl, Abû Fukaihah, ‘Âmir bin Fuhairah, dan yang lainnya ikut duduk bersama nabi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sementara itu, kufar Quraisy yang secara ekonomi dan kekuasaan takut dirugikan oleh dakwah nabi yang membela masyarakat tertindas itu, terus berusaha membendung dakwah nabi dengan cara melarang masyarakat untuk mengikuti agama Islam, hingga memerangi serta mengusir nabi dan sahabatnya dari tanah kelahirannya, yakni Makkah.

?

? ? ? ? ? ? ? ?. Jamaah shalat idul fitri yang berbahagia,. Nabi Muhammad memerangi perilaku jahat, kelaliman, dan tindak kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Arab saat itu dengan mengajak dan mendidik umat manusia supaya memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, dan mana yang membahayakan. Karenanya, belajar atau sekolah di dalam Islam memiliki tempat yang sangat istimewa.

Allah Swt berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujâdalah 11).

Dalam QS. Ali ‘Imrân 18 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.”

Kata “ûlûl ‘ilmi” dalam ayat di atas artinya adalah orang yang memiliki ilmu. Allah menyebutkan “orang berilmu” dalam ayat tersebut pada urutan ketiga setelah penyebutan diri-Nya dan malaikat. Hal ini menunjukkan bahwa “orang yang berilmu” memiliki tempat yang sangat istimewa di sisi Allah, dan orang yang berilmu akan menegakkan keadilan.

Sedangkan hadis nabi yang menjelaskan tentang perintah mencari ilmu atau sekolah dan keutamaannya juga banyak sekali. Antara lain:

? ? ? ? ? ?. Artinya: “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi semua orang Islam.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Orang bodoh tidak boleh diam atas kebodohannya, dan orang berilmu tidak boleh diam atas pengetahuan yang dimilikinya.”?

Kepada sahabatnya yang bernama Kumail, Ali bin Abi Thalib mengatakan:

? ? ? ? ? ?. “Wahai Kumail, ilmu itu lebih baik daripada harta benda.”

? ? ? ? ?. “Ilmu akan menjagamu, sementara engkau akan menjaga harta.”

? ? ? ? ?. “Ilmu akan menjadi hakim (pemutus), sementara harta akan menjadi sesuatu yang dihakimi (diputuskan).”

? ? ? ? ? ?. “Harta akan berkurang sebab digunakan, sementara ilmu akan bertambah bila diberikan atau diamalkan.”

Lebih jauh Sahabat Ali bin Abi Thalib mendendangkan syair:

? ? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

“Tidak ada kebanggaan kecuali bagi orang-orang yang punya ilmu, mereka menjadi petunjuk bagi orang yang meminta ditunjukkan.”

? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

“Derajat setiap orang adalah dapat memperbaiki sesuatu, sementara orang-orang bodoh memusuhi orang-orang yang berilmu.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Maka menangkanlah dengan ilmu. Dengan ilmu engkau akan hidup selama-lamanya. Semua manusia akan mati, sementara orang berilmu akan tetap hidup.

Hadirin, hadirat yang dimuliakan Allah,. Kemiskinan dan mencari ilmu atau belajar kerap kali dipertentangkan. Hanya gara-gara tak punya biaya kemudian mencari ilmu ditinggalkan. Seharusnya tidak demikian.

Apabila membaca sejarah peradaban Islam, maka akan didapati; betapa banyak para ilmuan-ilmuan muslim justru lahir dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat jelata. Beberapa nama yang mungkin bisa disebut dalam kesempatan ini, antara lain: Muhammad bin Idris As-Syâfi’î atau biasa dikenal dengan Imam Syâ’fi’i yang menjadi panutan umat Islam Indonesia dan negara lainnya dalam bidang hukum Islam (fikih). Imam Syâfi’î lahir pada tahun 150 H di Ghazzah (Gaza) atau sekarang menjadi salah satu kota di Palestina dan wafat pada tahun 204 H di Mesir. Beliau lahir dari keluarga miskin dan bukan dari keluarga raja atau ulama, namun ketekunannya dalam belajar dapat mengantarkan Asy-Syafi’i menjadi ilmuan besar dan punya banyak karya, antara lain; kitab Al-Umm dalam bidang fikih dan Ar-Risâlah yang menjelaskan tentang ushûl al-fiqh. Namanya harum dan dikenal di belahan dunia, dan terus dikenang sepanjang masa, serta hasil pemikirannya diikuti oleh banyak umat Islam.

Ilmuan muslim lainnya yang juga lahir dari keluarga miskin yaitu Abû Hâmid al-Ghazâli atau dikenal dengan Imam Ghazâli, lahir pada tahun 450 H di Thûs, Khurasan (sekarang Iran) dan wafat pada tahun 505 H di tempat yang sama. Beliau lahir dari keluarga tak punya, namun kemiskinan yang dialami keluarganya tak menghalangi Imam al-Ghazâli menempuh ilmu hingga kemudian berhasil menjadi orang besar. Karangannya sangat banyak, antara lain: Faishal at-Tafriqah baina al-Islâm wa az-Zandaqah, Minhâj al-‘Âbidîn, Tahâfut al-Falâsifah, Misykâtu al-Anwâr, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, al-Mustashfâ, dan yang paling terkenal yaitu kitab Ihyâ` ‘Ulûmiddîn.

Nama lainnya yaitu Râbi’ah al-‘Adâwiyah, tokoh tasawuf perempuan yang lahir di Bashrah pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Dalam ilmu tashawuf, nama ini sangat dikenal. Râbi’ah adalah wali perempuan yang lahir dari keluarga miskin, bahkan saat dirinya lahir, orangtua Râbi’ah tidak punya uang sepeser pun untuk membeli minyak lampu buat penerangan persalinan. Namun, penderitaannya dalam perekonomian tidak mengantarkan Râbi’ah menjadi glandangan, tapi ia giat mencari ilmu hingga menjadi orang sukses, menjadi kekasih Allah Swt.

?

? ? ? ? ? ? ? ?. Jamaah idul fitri yang berbahagia,. Tidak hanya tiga ilmuan di atas, masih banyak lagi orang-orang besar sejak dahulu hingga sekarang yang lahir dari kaum dlu’afâ. Bahkan nabi Muhammad Saw sendiri lahir bukan dari kalangan ningrat, tapi dari rakyat jelata, miskin, dan yatim piatu. Tapi dengan ilmu pengetahuan, nabi Muhammad, sahabatnya dan para ulama yang memperhatikan ilmu pengetahuan demi menghilangkan kebodohan telah terbukti dapat membangun masyarakat, bisa membangun peradaban, hidupnya dapat memberikan manfaat kepada banyak orang.

Mencari ilmu atau berusaha menjadi manusia yang sempurna (al-insân al-kâmil) yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain tidak selamanya berkaitan dengan harta benda. Tapi kuncinya adalah kemauan. Di sinilah pentingnya orangtua, keluarga, dan lingkungan untuk turut serta mendidik anak sejak dini supaya mencintai ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

Artinya: “Tidak ada anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci, atau bersih. Lalu kedua orangtuanya yang menjadikannya memeluk Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadis ini memberikan pemahaman bahwa anak kecil bagaikan kertas kosong yang bersih dari coretan apapun. Orangtua dan keluarga sebagai lingkungan pertama yang dihadapi anak dalam berinteraksi, tentu sangat memberikan pengaruh terhadap watak dasar anak yang sedang berproses. Oleh karenanya, jika ingin anak itu kelak menjadi orang yang baik, dan ini menjadi keinginan semua orangtua, maka orangtua harus mendidiknya sejak kecil supaya anak terbiasa dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Bahkan, dalam Islam mendidik anak harus dimulai sejak masih dalam kandungan, yakni dibacakan al-Quran, dzikir, dan lantunan-lantunan doa. Itu semua demi masa depan anak, agar menjadi anak yang shâlih yang dapat menjadi warisan berharga bagi yang meninggalkannya.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shâlih yang terus mendoakannya.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Meninggalkan warisan kekayaan melimpah terkadang dapat memicu pertengkaran dan permusuhan di antara keluarga, tapi meninggalkan 3 hal di atas dapat mengantarkannya ke sorga dan membahagiakan orang-orang yang ditinggalkannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Dengan meneladani para tokoh terdahulu yang lahir dari rakyat jelata dengan ekonomi yang serba kekurangan, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan bukan penghalang seseorang mencari ilmu, karena kemiskinan dapat dikalahkan dengan peran keluarga yang menanamkan kemandirian kepada anak-anaknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Jadi, langkah yang harus dilakukan dalam mengatasi benyaknya perilaku kasar, zalim, keterbelakangan dan kemunduran bangsa, serta berbagai tindakan yang tidak bermoral yang setiap hari menjadi tontonan adalah dengan mendidik anak dan menyekolahkannya. Masa depan orangtua ditentukan oleh keturunannya, dan masa depan bangsa ditentukan oleh generasi mudanya. Pepatah Arab mengatakan: ? ? ? ? (Generasi muda sekarang adalah pemimpin masa depan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kesalahan. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. [?: 9] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? . ?

=== ? ? ===? . ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?.. ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ?: ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? .

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? .

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? Oleh: Khoirul Anwar,? Aktifis Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah.?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Pringsewu, Haedar Nashir. Saat mengisi Kegiatan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (14/5), Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani mengajak umat Islam memaksimalkan masjid khususnya di lingkungan NU untuk pengembangan dakwah dan amaliyah ibadah.

"Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting," tegasnya di hadapan jamaah dan Pengurus NU di Kabupaten Pringsewu yang memenuhi Aula gedung tersebut.

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Maksimalisasi Masjid sebagai tempat dakwah dan ibadah lanjut Kiai yang sebelumnya merupakan Ketua Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) ini dapat ditempuh dengan berbagai langkah nyata. Lebih lanjut Ia memaparkan tujuh Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid.

Strategi tersebut terangkum dalam doa yang sering diucapkan setiap waktu yaitu "Allahumma Inna Nasaluka Salamatan Fiddin, Waafiyatan Fil Jasad, Wazidatan Fil Ilmi, Wa Barakatan Fi Rizq, wa Taubatan Qablal Maut, Warahmatan Indal Maut, wa Maghfiratan Badal Maut.

Pertama, salamatan fiddin yaitu memaksimalkan masjid sebagai tempat gerakan, pemeliharaan aqidah ummat Islam  ahlus sunnah wal jamaah (aqidah, syariah, akhlak) sesuai dengan sunah Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama Salafussalihin.

Haedar Nashir

Hal ini dapat ditempuh dengan langkah nyata seperti Menegakkan shalat berjamaah dan mendata jamaah, Pengajian Al-Qur`an dan Aqidah Aswaja, Sertifikasi Masjid dan pendataan Masjid-Masjid NU.

Haedar Nashir

Kedua adalah Waafiyatan Fil Jasad yaitu memaksimalkan Masjid sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan ummat. Dalam hal ini takmir Masjid dapat menjalin kerjasama Lembaga Kesehatan dalam melayani kesehatan jamaah masjid, penyuluhan kesehatan dan penyuluhan  pola hidup sehat dan menyelenggarakan Gerakan kebersihan masjid serta lingkungan sekitar masjid. Selain itu perlu menghidupkan majlis dzikir, baik jamaah yasin, istighosah, sholawat dan sejenisnya.

Ketiga adalah Waziyadatan fil Ilmi yaitu menjadikan Masjid sebagai tempat gerakan peningkatan Sumber Daya Manusia Jamaah Masjid dan putra-putrinya di bidang keilmuan dan keterampilan. Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah seperti menyelenggarakan bimbingan belajar putra-putri jamaah masjid berbagai bidang keilmuan dan keterampilan sekaligus kaderisasi Remaja Masjid seperti : bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pelatihan MC, dan lain-lain.

Keempat adalah Wabarakatan Fi Rizq yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi ummat. Membuat LAZ, UPZ masjid, GISMAS (Gerakan Infaq Shadaqah memakmurkan Masjid), Membangun Kewirausahaan, Warmas (warung masjid) merupakan salah satu usaha real yang bisa ditempuh.

Kelima adalah Wataubatan Qablal Maut yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat Islam dan dakwah untuk non-muslim sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. 

Hal ini dapat ditempuh dengan Pelatihan dakwah, Penyebarluasan materi Islam melalui berbagai media, Menyediakan pengajian (massal atau privat) untuk orang-orang yang ingin mempelajari dan memperdalam Islam tetapi terkendala waktu dan kesibukan lainnya serta Menyusun materi dan metodologi dakwah sesuai dengan perkembangan.

Keenam adalah Warahmatan Indal Maut yaitu maksimalisasi Masjid Sebagai pusat gerakan kepedulian sosial seperti Menjenguk jamaah yang sakit, Mengantar jamaah sakit ke rumah sakit, Menolong orang-orang yang terkena bencana, Pelatihan pemulasaraan jenazah dan lain lain.

Dan yang terakhir adalah Wa Maghfiratan Badal Maut yaitu Masjid sebagai tempat berdoa untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat dengan bentuk kegiatan seperti Talqin Mayyit, mengadakan tahlilan dan yasinan, Ratiban, dibaan, barzanjian, Istighatsah serta Lailatul Ijtima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Hadits, Pendidikan Haedar Nashir

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize

Gresik, Haedar Nashir. Heroisme perayaan Hari Santri Nasional juga menggema di kota santri Gresik Jawa Timur. Pesantren Mambaus Sholihin berpartisipasi dengan menggelar kirab santri yang melibatkan tak kurang dari 5000 santri dan alumninya untuk menggetarkan bumi Gresik, Sabtu (22/10).?

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize

"Momentum hari santri ini memang kita manfaatkan betul untuk penguatan kembali semangat nasionalisme bagi para santri dan alumni. Tidk hanya sekedar kirab, bahkan kami menyediakan doorprice bagi peserta kirab," kata Ketua Umum Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HIMAM), Maftuh.?

KH Agus Muhammad Maruf, Ketua Yayasan Pesantren Mambaus Sholihin dalam sambutannya saat melepas peserta kirab menyampaikan ucapan syukur atas disahkanya 22 Oktober sebagai hari santri. Menurutnya, dengan adanya hari santri, negara telah mengakui peran besar santri, khususnya dalam mempertahankan kermerdekaan Indonesia.

Ia menilai, para pejuang kemerdekaan yang dimotori oleh pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihad mempunyai makna tersendiri bagi santri, bagi kaum santri, cinta tanah air merupakan manifestasi keimananan kepada Allah dan Rasul-Nya.?

Ia menambahkan, pada masa perjuangan kemerdekaan, cinta tanah air diwujudkan dalam bentuk berjuang mengusir penjajah, namun kini perjuangan itu bisa diwujudkan dalam bentuk dedikasi untuk membangun bangsa dari berbagai aspek.

Haedar Nashir

Dengan berbagai kostum yang merepresentasikan tradisi santri, 5000 peserta kirab dengan tertib dan penuh semangat mengelilingi kota gresik diselingi yel-yel santri. Dan di penghujung acara, peserta semakin riuh saat tiba pengundian kupon berhadiah 25 juta teridiri dari kulkas, TV LED 21, mesin cuci, dan kelengkapan rumah tangga lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Daerah Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

Nias Selatan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Karateker Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Jumat hingga Ahad (29-31/5). Kegiatan dilaksanakan di Aula Hotel Hernelys, Telukdalam Nias Selatan.

Ketua Karateker PC GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Alez Brianita Wau menjelaskan, PKD menjadi kewajiban bagi Kader Ansor sebelum membentuk kepengurusan PC GP Ansor. Acara bertemakan “Meneguhkan Komitmen Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Bingkai Kebangsaan dan NKRI” ini digelar untuk meningkatkan wawasan, kapasitas dan kreatifitas Kader Ansor.

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

“Apalagi Kader Ansor juga bertugas sebagai kader bangsa yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam keanekaragaman dan memperkuat keutuhan NKRI. Diharapkan dengan PKD para kader bisa mengembangkan pemahaman tradisi Aswaja sebagai pencerminan pengamalan sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lanjut Alez, Kader Ansor juga mengemban amanah menggemakan syiar Islam sebagai perisai bagi dampak negatif globalisasi, mempererat ukhuwah dan sebagai perekat warga Nahdliyin untuk Indonesia.

Haedar Nashir

“Untuk itu, kader perlu dibekali pemahaman Ke-Ansoran dan Ke-NU-an. Tujuannya, menanamkan rasa cita terhadap organisasi sebagai upaya meningkatkan kapasitas, kreatifitas dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Sebelumnya Ansor Nias Selatan dan Nias Barat juga telah mengikuti PKD di Gunungsitoli,” imbuhnya.

Hadir dalam acara, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nias Selatan Wajdin Telaumbanua. Dalam sambutannya, PCNU berharap Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat setelah Tim Karateker melaksanakan tugas melaksanakan PKD dan Konfercab I.

“Ansor adalah salah satu badan otonom NU wadah berkumpulnya pemuda-pemuda NU, dengan adanya Cabang NU di Kabupaten Nias Selatan maka sudah seharusnya PC GP Ansornya ada juga di Nias Selatan. Kita berharap agar Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat,” harapnya.

Acara PKD dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap yang berlangsung selama 3 hari. Armansyah Harahap mengatakan, GP Ansor pusat telah menetapkan tiga grand design untuk pengembangan GP Ansor se-Indonesia, yakni GP Ansor diberi amanah untuk mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

“Dalam materi kepemimpinan, materi Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu merupakan materi inti,” ujar Armansyah saat memberikan arahan dan bimbingan pada Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Barat. (Dedi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pahlawan, Makam Haedar Nashir

Minggu, 26 November 2017

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Jakarta, Haedar Nashir. Salah satu isu kesehatan yang disorot dalam Kongres XIV Fatayat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kamis hingga Senin (1-6/7), adalah soal rokok di kalangan anak.



Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)
Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok (Sumber Gambar : Nu Online)

Kongres Fatayat NU Soroti 2 Juta Anak Perokok

Saat ini jumlah perokok di Indonesia sekitar 60 juta orang. Menurut data Kementerian Kesehatan, hampir 2 juta dari para perokok itu adalah anak Indonesia yang berusia 7-18 tahun dan merokok rata-rata dua batang setiap hari.

Berdasarkan fakta itu, Fatayat mendorong pemerintah mengambil kabijakan yang tegas untuk mengurangi perokok dengan membatasi iklan rokok dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya merokok, terutama bagi anak-anak dan perempuan.

Haedar Nashir

Demikian disampaikan Ketua Panitia Muzaenah Zein dalam konferensi pers mengenai hasil Kongres XIV Fatayat di kantor PBNU, Jakarta, Senin (5/7) kemarin.

Secara khusus, Kongres Fatayat NU juga prihatin dengan maraknya kekerasan  terhadap anak dalam bentuk penculikan dan pemerkosaan di Indonesia yang kian hari kian massif. Padahal, anak sebagai investasi masa depan harus mendapatkan perlindungan dari negara.

Haedar Nashir

”Sebagaimana kita ketahui, kekerasan terhadap anak terus meningkat. Angka kekerasan terhadap anak meneapai 1.998 kasus pad a tahun 2009. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, sudah saatnya pemerintah meningkatkan penegakan hukum untuk melindungi generasi bangsa tersebut,” kata Muzaenah.

Menurutnya, Undang-Undang Perlindungan Anak sesunguhnya sudah cukup tegas memberikan sanksi terhadap pelaku kekerasan, namun di tingkat lapangan, penegakan hukum masih cukup lemah.

”Kongres Fatayat NU mendesak kepada aparat kepolisian untuk melakukan tindakan tegas, baik mengusut kasus-kasus penculikan maupaun melakukan upaya-upaya pencegahan,” tambahnya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Lomba, Nahdlatul Haedar Nashir

Sabtu, 25 November 2017

Menpora Buka LSN Sulawesi III dan Turnamen Bupati Cup Gorontalo

Gorontalo, Haedar Nashir. Kickoff Liga Santri Nusantara Piala Menpora U 18 regional Sulawesi III resmi dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di Sport Center Limboto Kabupaten Gorontalo, Ahad (28/08/2016). Regional Sulawesi III meliputi Provinsi Se Sulawesi Utara dan Provinsi Gorontalo.?

Selain membuka LSN Regional Sulawesi III, Cak Imam juga membuka Turnamen Olahraga Bupati Cup Gorontalo. Turnamen ini selain mempertandingkan sepak bola, juga ada pencak silat, bulu tangkis, dan lain sebagainya.

Menpora Buka LSN Sulawesi III dan Turnamen Bupati Cup Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Buka LSN Sulawesi III dan Turnamen Bupati Cup Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Buka LSN Sulawesi III dan Turnamen Bupati Cup Gorontalo

Pembukaan Kickoff LSN Sulawesi III dan Turnamen Bupati Cup Gorontalo dihadiri oleh Gubernur Provinsi Gorontalo Rusli Habibie dan Wagu Idris Rahim, Bupati dan Wabu Kabupaten Gorontalo Nelson Pomalingo-Fadly Hasan, Bupati Gorontalo Utara Indra Yasin, ? Kapolda Gorontalo Brigadir Jenderal (Brigjen) Polisi Hengkie Kaluara, Sekretaris LSN Khoiruddin Abbas, serta Panitia Regional LSN Sulawesi III.

Pada kesempatan tersebut Cak Imam panggilan akrab Menpora mengatakan kehadiran pemerintah dalam lini kehidupan masyarakat terus diwujudkan. "Salah satunya dengan menggalakkan olahraga."?

Haedar Nashir

Untuk itu kata Pria asal Bangkalan Madura ini butuh ketelatenan dan konsistensi untuk mewujudkan hasil yang membanggakan dan mengarumkan nama bangsa melalui prestasi olahraga. "Kemenpora tidak dapat bekerja sendiri dalam mencapai harapan masyarakat namun butuh kerjasama semua pihak dalam melakukan pembinaan dan pengembangan olahraga," lanjutnya.

"Untuk meraih prestasi dibutuhkan proses yang panjang dan keseriusan dalam pembinaan, sementara sebagian masyarakat hanya melihat hasil yang dicapai tapi tidak melihat proses yang sangat panjang dan butuh pengorbanan untuk menjadi sang juara."

Melalui LSN ini, tambah Cak Imam, merupakan momentum besar bagi santri dan pondok pesantren ikut andil dalam menciptakan bibit unggul pemain sepak bola yang berkualitas baik secara skill dan sikap sportifitas di lapangan.?

Haedar Nashir

"Liga Santri Nusantara Tahun 2015 telah menorehkan hasil yang sangat luar biasa dan membanggakan bagi bangsa kita dengan menjadi Juara Pertama pada Kejuaran Malindo (Malaysia-Indonesia) Cup yang dilaksanakan tanggal 19-22 Mei 2016 di Malaysia," tegasnya.

Sedangkan menurut Sekretaris LSN Khoiruddin Abbas mengatakan Liga Santri Nusantara yang pertama kali diselenggarakan pada kickoff yang dibuka oleh Menpora Imam Nahrawi pada 5 September 2015 di Stadion Singaperbangsa Karawang diikuti oleh 184 Pesantren di 16 Wilayah.?

"Pada tahun 2016 kali ini diikuti oleh hampir 1000 pesantren yang terbagi di 32 wilayah seluruh Indonesia. Ini sebuah peningkatan yang tinggi dari aspek kepersetaan. Insya Allah pada tahun ini Final Liga Santri Nusantara akan diselenggarakan pada momentum Hari Santri pada 22 Oktober nanti," katanya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, News, Hadits Haedar Nashir