Kamis, 29 Juni 2017

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Solo, Haedar Nashir. Salah satu hasil putusan Sidang Komisi Organisasi dalam Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, Selasa (4/8) menetapkan bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kembali masuk menjadi Badan Otonom (Banom) NU.

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

PC PMII Solo: Putusan NU di Muktamar Ibarat Arahan Orang Tua

Terkait hal ini, Ketua Umum PC PMII Kota Surakarta, Ahmad Rodif Hafidz menyatakan siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. 

“Prinsipnya kita siap berikan yang terbaik untuk PMII, NU, dan Indonesia. Apapun keputusannya,” tegasnya saat dihubungi Haedar Nashir, Rabu (5/8).

Haedar Nashir

Meski begitu, Rodif menyatakan keputusan PMII kembali menjadi Banom NU,  sejatinya bukanlah domain dari NU secara kelembagaan. Sikap dari cabang-cabang PMII hari ini baik yang pro maupun kontra juga tidak serta-merta menjadi keputusan PMII secara kelembagaan.

Haedar Nashir

“NU boleh mengeluarkan putusan tersebut, namun bagaimana sikap PMII harus diputuskan melalui forum tertinggi organisasi, yakni Kongres PMII,” ujarnya.

Ia menambahkan dalam Kongres PMII nantinya, apa yang menjadi keputusan NU ini ibarat arahan dari orang tua yang perlu dipertimbangkan oleh PMII. Namun jangan sampai ada intervensi dari NU dalam Kongres PMII.

“Kami meyakini bahwa PMII sudah mampu berpikir bagaimana baiknya hubungan PMII dengan NU,” lanjut Rodif.

Memikirkan dan mengurusi NU

Rodif menambahkan, PC PMII Kota Surakarta sependapat dengan pernyataan Ketua Umum PB PMII periode 1977-1981, KH Ahmad Bagja dalam sambutannya di acara Halal bi Halal Keluarga Besar PB IKA PMII dan PB PMII, beberapa waktu lalu.

“Benar apa yang dikatakan KH Ahmad Bagja, justru PMII hari ini dan ke depan harus lebih memikirkan dan mengurusi NU agar lebih baik. Karena ironisnya justru seringkali kader PMII yang sibuk bertengkar di NU,” kata Rodif.

Lebih lanjut, Rodif menegaskan, baik menjadi Banom NU ataupun tidak, PMII Kota Surakarta tetap teguh dalam memperjuangkan dakwah Islam Aswaja di kalangan mahasiswa dan siap membantu mencetak pemimpin-pemimpin bangsa yang siap menghadapi juga menyelasaikan berbagai permasalahan bangsa.

“Selagi telah dipertimbangkan secara matang dan hasilnya baik, kami siap apapun keputusannya baik dari NU maupun PMII,” tutupnya. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, Haedar Nashir. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

Haedar Nashir

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Haedar Nashir

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Quote, PonPes Haedar Nashir

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Sleman, Haedar Nashir. Keberadaan pondok pesantren dalam rentang sejarahnya perlu selalu dibaca sebagai warisan dan juga kekayaan budaya-intelektual Nusantara. Oleh karena peran sejarah yang dimainkannya, dalam sejumlah aspek tertentu, pesantren perlu dipandang sebagai benteng pertahanan kebudayaan itu sendiri.

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Akulturasi, Kitab Kuning Cerminkan Kelembutan Islam

Demikian KH Jazilus Sakhok Ph.D yang akrab disapa Gus Sakhok membuka diskusi bersama tamu kunjungan dari APTEP (Asia Pasific Theologi Encounter  Programe) di STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta, Jumat (8/05), pagi.

"Pesantren merupakan institusi pendidikan tertua di Indonesia yang bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral dan nilai Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari" terang Gus Sakhok.

Haedar Nashir

Ia menjelaskan, pesantren merupakan hasil pergulatan dan dialektika kebudayaan yang kreatif, antara tradisi, masyarakat, dan pola interaksi kiai-santri-kitab kuning. Karenanya keunikan pesantren juga terlihat pada sifat akulturatif yang menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif, sehingga terhindar dari konflik.

"Salah satu unsur dari pesantren yang berperan penting dalam membentuk karakter Islam yang jauh dari karakteristik ekstrem dan radikal adalah kitab kuning. Kitab kuning adalah tradisi klasik warisan Wali Songo dan para ulama Nusantara. Kitab kuning itu mencermikan kelembutan Islam, sebab terdapat akulturasi budaya di dalamnya," imbuhnya.

Haedar Nashir

Gus Sakhok mengatakan, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai rujukan dan paduan nilai-nilai universal dalam menyikapi perubahan zaman. Aspek dinamis yang diperlihatkan kitab kuning adalah adanya transfer pembentukan tradisi keilmuan tauhid-fiqih-sufisme yang didukung penguasaan ilmu-ilmu instrumental, seperti nahwu dan sharaf (adab).

"Karenanya, tanpa kitab kuning dalam pengertian yang lebih luas, tradisi intelektual di Indonesia agaknya sulit untuk keluar dari kecenderungan ekstremitas pemahaman keagamaan," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Berita, Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 25 Juni 2017

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kini telah berusia 57 tahun. Organisasi yang didirikan di Surabaya tersebut, telah memiliki kader dari Sabang sampai Merauke. Para alumnusnya telah memasuki beragam bidang, baik di kemayarakatan maupun di pemerintahan.?

Meski demikian, organisasi yang baik adalah organisasi yang melihat masa lalu, potensi saat ini dan terutama tantangan masa depan. Agar PMII bisa terus eksis menjadi organisasi di kalangan mahasiswa.?

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Sebagai salah satu upaya menjawab atau saran untuk PMII, Abdullah Alawi dari Haedar Nashir mewawancarai salah seorang alumnusnya, Juri Ardiantoro, yang saat ini menjadi salah seorang Ketua PBNU dan pernah menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Berikut petikannya: ? ?





Bagaimana melihat kaderisasi PMII hari ini?

Haedar Nashir

Kaderisasi harus diperluas orientasinya tidak hanya sekadar menambah jumlah kader. Tapi menambah bobot kader. Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. Dan mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu.

Caranya agar PMII bisa seperti itu bagaimana?

Harus ada pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah. Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah, seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip tata, nilai, ideologi harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan, ya harus memperhatikan karakater atau keunikan daerah. Sehingga kader PMII tidak setiap kader PMII harus ke Jakarta. Caranya harus pemetaan kader dulu yang membangun satu strategi penguatan kelembagaan dan kader serta bisa memanfaatkan sumber daya di lokal. Jadi, tidak harus ke Jakarta.

Haedar Nashir

Kenapa politik masih pusat perhatian PMII?

Makanya harus diperluas framenya, PMII tidak melulu urusan politik. Dunia profesional harus digeluti. Kalaupun politik, adalah politik dalam upaya penyiapan kader kepemimpinan bangsa, yang lebih luas, bukan sekadar anggota DPR.

Hubungan dengan alumni untuk membangun upaya PMII seperti itu?





Alumni harus menjadi inspiratif, bukan sekadar membangun patronase. Kelemahan organisasi mahasiswa itu kan alumninya membangun patronase sehingga membangun blok-blok. Nah, itu yang tidak bagus. Alumni harus bisa mengemong semua. Ini kader siapa, itu kader siapa. Nah, ini mestinya tidak begitu.?

Selain itu, tantangan PMII ke depan itu apa?

Salah satu tantangan organisasi Islam itu sekarang adalah memoderasi menguatnya kelompok garis keras di kalangan anak muda. Bagaimaana memoderasi radikalisme di kalangan anak muda ini yang harus digarap PMII. Jagan asyik di dunianya, lupa urusan gerakan keislaman di kalangan muda yang sudah mulai menguat unsur-unsur Islam garis kerasnya. Bukan hanya membaca buku, tapi memperkuat gerakan praksis untuk memoderasi gerakan Islam garis keras itu.?

PMII mampu melakukan hal itu? ?

Ya mampu karena PMII itu kan sudah menjadi organisasi besar ya, hampir di seluruh daerah mempunyai basis. Cuma ya itu tadi, orientasinya harus diubah tidak hanya urusan politik. Tapi kalaupun politik harus politik tingkat tinggi, jangan melupakan urusan lokal, mushala, kampus.?

Sebagai alumnus PMII, bagi Anda, apa manfaat berorganisasi di PMII itu?

Pada zaman saya itu kan di PMII menjadi tempat, menjadi media dimana kita diperkenalkan dengan bagaimana cara mengkonkretkan semangat kepemudaan yang berbasis agama. Itulah manfaatnya. Kemudian dengan ber-PMII, kita punya pandangan lebih luas, tidak sempit karena bertemu dengan banyak orang dan bertemu banyak perspektif pemikiran, banyak orang; dan kita juga bertemu dengan banyak potensi di tempat lain yang mungkin tidak kita temukan kalau tidak ikut organisasi. ?

Apa pesan pribadi kepada kader-kader PMII di seluruh Indonesia?

Mumpung masih muda dan PMII, berorganisasi tidak sekadar ingin bergaul atau memperoleh status di organisasi, tapi berorganisasi harus memiliki makna untuk dirinya sendiri dan bagi organisasi sendiri, dan bagi masyarakat pada umumnya. Jadi, organisasi menjadi alat untuk memberdayakan dirinya sebelum juga memberdayakan lingkungannya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Haedar Nashir

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Jakarta, Haedar Nashir?

Alasan membela ulama, membela agama, dan membela Allah tidak boleh digunakan untuk merusak pihak lain. Hal tersebut diungkapkan oleh Rais Syuriah PBNU Kiai Ahamd Ishomudin pada “Silaturahim Ustadzah Majelis Taklim An Nisaa NU se-DKI Jakarta” di Gedung Langen Palikrama Pegadaian, Jakarta Pusat, Kamis (13/4) sore.

“Orang teriak Allahu akbar lalu lemparkan batu. Apa jadinya Islam kalau modelnya begitu,” kata kiai yang disapa Gus Ishom pada kegiatan yang dihadiri sedikitnya 250 ustadzah.

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Ia menegaskan semestinya seorang ustad/ustadzah mengajarkan kepada umat dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Kasih sayang dan juga kelembutan telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Gus Ishom juga mengingatkan hadirin agar setiap akan menulis di akun media sosial dipikirkan apakah tulisan tersebut akan menyinggung pihak lain atau tidak, walaupun pihak lain tersebut adalah non-muslim.

“Non-muslim adalah saudara yang harus dihormati hak-haknya. Sehingga walaupun berbeda keyakinan, mereka memiliki hak seperti kita. Jangan menganggap non-muslim sebagai musuh,” kata Gus Ishom.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Ita Rahmawati mengungkapkan, silaturahim bertema “Satukan Langkah Membangun Negeri, Menjaga NKRI” diadakan untuk memberi pemahaman kepada para ustadzah agar menyampaikan informasi yang benar saat melakukan dakwah kepada jamaah, termasuk kaitannya dengan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan dihelat tidak lama lagi.

“Para ustadzah harus membantu menciptakan suasana yang kondusif, jangan saling menjelekkan. Mayoritas masyarakat Jakarta adalah kaum muslim, kalau sesama umat muslim ada perpecahan tentu akan merugikan umat muslim sendiri,” kata Ita.

Ia juga mengatakan dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti, masyarakat harus memilih sesuai dengan hati nurani.

“Pilihlah calon gubernur dan wakil gubernur sesuai hati nurani. Tidak usah takut dengan anggapan bahwa memilih gubernur non muslim akan masuk neraka. Karena urusan masuk syurga atau neraka adalah urusan manusia dengan Allah SWT,” pungkasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pesantren, Warta Haedar Nashir

Sabtu, 24 Juni 2017

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ahmad Syauqi menilai, pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideal. Kondisi ini, antara lain, diindikasikan oleh kualitas sumber daya manusia yang belum memuaskan.

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

“Kualitas pendidikan nasional belum bisa dibanggakan. SDM (sumber daya manusia) yang menjadi standar pengukuran kualitas pendidikan nasional justru menjadi persoalan,” katanya di Jakarta, Rabu (21/11).

Menurut dia, persoalan tersebut tak hanya terjadi di jenjang pendidikan dasar dan menengah, tapi juga pendidikan tinggi. “Dari 160.000 dosen yang ada di Indonesia, hampir 54% masih belum bergelar S2 dan S3. Sementara guru, dari 2,7 juta guru, 1,5 juta di antaranya belum bergelar S1,” tuturnya.

Haedar Nashir

Hal ini diperunyam lagi oleh SDM hasil pendidikan nasional yang secara umum tetap rendah. Laporan United Nation Development Program (UNDP) menyatakan, indeks pembangunan manusia Indonesia tahun 2011 berada di peringkat 124 dari 187 negara.

Haedar Nashir

“Posisi ini merosot dari posisi sebelumnya di peringkat 108 pada tahun 2010. Di bandingkan beberapa negara ASEAN, Indonesia masih jauh ketinggalan,” imbuhnya.

Syauqi berharap, permasalahan ini dapat segera ditangani, termasuk sejumlah faktor yang melatarbelakanganinya, seperti ketidakmerataan akses pendidikan, desentralisasi pedidikan yang kurang terarah, dan porsi anggaran yang belum jujur.

Pihaknya sepakat menjadikan persoalan ini sebagai fokus pembicaraan pada Kongres XVII IPNU di Palembang, Sumatera Selatan, akhir November nanti. Dengan mendatangkan sejumlah pakar, 3000 pelajar Nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia akan menyoroti pendidikan nasional bertema “Pendidikan Untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa”. 

Redaktur : A. Khoiriul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Senin, 19 Juni 2017

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Brebes, Haedar Nashir. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakatnya untuk menunaikan shalat di awal waktu. Dengan Shalat di awal waktu mampu membentuk budaya hidup disiplin di berbagai segi kehidupan.

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Bupati menyampaikan pesan tersebut saat kembali dari menunaikan ibadah umroh Senin malam, (11/1).

Menurutnya, kedisiplinan amat penting untuk mencapai kesuksesan.Terbukti negara-negara yang menerapkan budaya disiplin telah maju dan rakyatnya sejahtera.

Haedar Nashir

Dirinya juga akan membuat surat edaran terkait imbauan kepada PNS, atau pekerja pabrik ketika datang waktu shalat untuk menghentikan sementara pekerjaannya guna menunaikan shalat fardlu ain di awal waktu.

“Saya akan membuat surat imbauan terkait, shalat di awal waktu,” ucapnya.

Haedar Nashir

Dia yakin, dengan shalat diawal akan mendatangkan keberkahan. Bila kita mengutamakan shalat, shalat pula yang menjadikan amalan mendapat penilaian pertama kali ketika dihisab. “Jangan khawatir akan keduniaan karena Allah SWT menjamin apa pun bila warganya beriman dan bertakwa. Insya Allah barokah,” tuturnya.

Saat turun dari bis yang mengangkut rombongan umroh bersama 38 warga masyarakat Brebes, bupati disambut hangat oleh keluarga, dan beberapa pejabat pemerintah kabupaten Brebes.

Dia menambahkan, umroh bukan perjalanan wisata. Namun perjalanan religi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Haji kecil ini diperlukan disamping ziarah ke raudlah juga melakukan aktivitas peribadatan lainnya.

“Saya sangat bangga dengan banyaknya warga Brebes yang melakukan perjalanan umroh, hampir setiap minggu ada yang berangkat ke tanah suci,” ungkapnya.

Ini menandakan, sambungnya, masyarakat Brebes sudah tambah sejahtera dan keimanannya makin meningkat. “Mudah-mudahan Brebes makin aman, nyaman, sejahtera di bawah perlindungan Allah SWT, baldatun toyibatun warobun ghofur,” pungkasnya.

Perjalanan Umrah Bupati Brebes yang didampingi suami Drs Kompol H Warsidin MH dipandu Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah I KH Labib Sodiq Suhaemi. Bupati melakukan perjalanan Umrah sejak 3 hingga 11 Januari. Tugas pokok dan fungsi selama itu dipegang Wakil Bupati Narjo SH. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

FKB Ancam Duduki Istana

Jakarta, Haedar Nashir. Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI mulai geram atas penganan kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang hingga kini belum tuntas. FKB memberikan batas waktu dua minggu kepada pemerintah untuk menetapkan sebagai bencana nasional. Jika tidak, mereka mengancam akan menduduki Istana Negara.

"Jika dalam dua minggu pemerintah tidak mengambil langkah-langkah tersebut, kami dari FKB akan memimpin langsung demo ke Istana bersama korban Lapindo," ujar Wakil Ketua FKB Marwan Jafar di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/3).

Ketua FKB Ida Fauziah menegaskan, penetapan kasus semburan lumpur Lapindo sebagai bencana nasional tidak akan menghilangkan tanggung jawab Lapindo untuk membayar ganti rugi kepada warga.

FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

FKB Ancam Duduki Istana

Penetapan semata-mata dimaksudkan agar penyelesaian kasus lumpur itu lebih cepat dan efektif. "Usulan agar bencana Lapindo menjadi bencana nasional tidak akan sedikit pun memberikan ruang kepada Lapindo lari dari tanggung jawab tapi kita lihat Timnas tidak efektif karena itu pemerintah harus ambil alih," urainya.

Sementara itu, Sekreteris FKB Helmy Faisal Zaini meminta agar kasus ini juga ditangani secara hukum. Jika kasus tersebut terus dibiarkan, Lapindo tidak akan bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam pengeboran.

Haedar Nashir

"Maling ayam di kampung saja dihukum, masa ada orang yang nyata-nyata telah melanggar prosedur pengeboran tapi dibiarkan saja," kata Helmy.

Sekretaris Tim Pemantau Lumpur Lapindo FKB Aryo Widjanarko meminta pemerintah merelokasi korban lumpur ke tempat yang layak. Selain itu juga merelokasi infrastruktur yang rusak akibat luapan lumpur Lapindo. "Pemerintah harus melihat sisi sosial masyarakat Lapindo. Jangan dibiarkan terbengkalai," tandasnya.

Di tempat terpisah, Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap mendukung upaya yang ditempuh warga untuk menuntut ganti rugi yang dibayarkan secara cash and carry.

Haedar Nashir

"Saya rasa masyarakat inilah yang lebih tahu di mana mencari tempat yang lebih nyaman bagi kehidupan mereka. Resettlement (pemukiman kembali) bukan solusi yang solutif," ujar Khofifah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

Menurut Khofifah, masyarakat lebih baik diberi keleluasaan di mana mereka akan berdomisili sesuai dengan sumber nafkah mereka selama ini. "Saya rasa itu akan lebih wise, karena ada tradisi masyarakat kita berpola rumah terbuka. Petani, misalnya, butuh rumah yang dekat dengan lahan pertanian. Petambak juga butuh yang dekat tambak," urainya.

Mengenai persyaratan sertifikat tanah yang diperlukan untuk memperoleh ganti rugi, Khofifah menganggap perlu diberikan kebijakan khusus yakni tidak harus mempunyai sertifikat. Sebab, katanya, banyak masyarakat Indonesia yang belum akrab dengan sertifikat tanah.

"Solusinya boleh petok D (surat tanah warga yang diarsip di kantor desa), boleh juga kesaksian. Mungkin bisa dilokalisir oleh Bupati dengan melibatkan RT/RW setempat bahwa ini milik si A, luas sekian, sehingga kalau dikompensasikan ganti ruginya sekian," terang Khofifah. (dtc/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal

Tegal, Haedar Nashir 

Haul atau peringatan tahunan Ki Ageng Anggawana digelar Ahad (18/11) di Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru Kab Tegal telah digelar. Turut hadir dalam kesempatan itu Plt Bupati Tegal Moch Hery Sulistyawan, melalui staf ahli bupati Masykur Sholeh, Camat Dukuhwaru Noor Alini Agustini, dan jajaran Muspika Kecamatan Dukuhwaru. 

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal

Ki Ageng Anggawana merupakan tokoh sentral di daerah Tegal. Penyebaran Islam di tanah Tegal tidak lepas dari perjuangannya liku–liku untuk mengembangkan Islam sangatlah ia rasakan sehingga membuat kelompok–kelompok diskusi dan padepokan–padepokan untuk mencari jalan keluar terhadap persoalan yang ada.

Riwayat singkat Ki Ageng Anggawana itu dibacakan oleh KH Maktub Efendi “Kita harus mengambil hikmah,” kata Maktub yang merupakan putra daerah kelahiran Kalisoka yang sekarang berdomisili di Jakarta.

Haedar Nashir

Menurutnya Ki Ageng Anggawana sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Tegal. Ia berada di balik semua sisik melik perkembangan Islam di Tegal.

Taushiyah dalam kegiatan haul itu disampaikan oleh Wakil Wali Kota Tegal, Habib Ali Zainal Abidin. Dalam tausiyahnya dia menuturkan agar tetap berpedoman terhadap ulama, karena satu-satunya pewaris keselamatan dunia akhirat adalah ulama. Al Ulama’u warosatul anbiya ulama adalah pewaris nabi. 

Haedar Nashir

“Kiai itu berkedudukan mulia, maka sudah meninggal pun banyak orang yang berdatangan berziarah,haul ini adalah bentuk kepatuhan menghargai sesepuh yang telahg berjasa besar dalam mengemban amanah,“ tuturnya. 

Lebih lanjut Habib Ali berpesan, hidup tidak harus kaya tetapi harus ada berkah karena kalau sudah berkah maka akan dilapangkan dunia akhiratnya, kuncinya ibadalah untuk mendapatkan itu semua dengan bersyukur. Tetapi tidak cukup dikatakan saja oleh lidah kita perlu tindakan tepat yaitu dengan menjalankan tuntunan Gusti Allah subhanahu wata’ ala . 

“Dadi yen urip pengin selamet dunia akhetrate kudua merek maring ulama aja tinggal maring ulama. jadi kalau mau hidup selamat dunia dan akhirat harus dekat dengan ulama jangan menjauh dari ulama. Insya Allah.” tukasnya. 

Ketua Panitia Torikin mengatakan kegiatan haul ini berkat adanya kerjasama dari berbagai kalangan antara Muspida Kabupaten Tegal dan Muspika Kecamatan Dukuhwaru serta Warga masyarakat.

Kegiatan haul Ki Ageng Anggawana diawali dengan kegiatan Santunan Yatim dan Yatim Piatu dari anak yatim yang berada di desa Kalisoka dan sekitarnya. Sebanyak 100 lebih anak yatim piatu, sebelum acara santunan dimulai, diarak mengelilingi Desa Kalisoka dan sekitarnya.

“Segenap semua pihak kami ucapkan banyak terima kasih,“ pintanya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz TGL 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Kiai, Ulama Haedar Nashir

Minggu, 18 Juni 2017

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Sidoarjo, Haedar Nashir. Maraknya gerakan radikalisme yang masuk di Indonesia, membuat beberapa kalangan muda terutama aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk turut andil dalam membentengi generasi penerus bangsa dari ancaman gerakan garis keras.

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Ketua Rayon PMII Univeritas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Fakultas Ekonomi Manajemen, Bakri Irwan kepada Haedar Nashir menyatakan siap membentengi kadernya dari serangan-serangan yang bersifat kekerasan tersebut.

"Langkah pertama yang akan kami lakukan dalam membentengi kader PMII yakni dengan memberikan paham-paham Islam Nusantara, melakukan kajian-kajian ataupun membedah radikalisme itu sendiri," ungkap Bakri, Ahad (28/6).

Haedar Nashir

Pria yang baru mendapatkan amanah menjadi Ketua Rayon PMII Unsuri itu juga akan melakukan terobosan-terobosan baru untuk mencetak para kadernya, sehingga menjadi kader yang benar-benar militan.

Haedar Nashir

"Kami ingin menciptakan iklim pergerakan yang berbasis intelektualitas, spiritualitas, sosial, serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan yang berlandaskan Ahlu Sunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhajul fikr," tegasnya.

Menurutnya, dengan mencetak kader yang berintelektual tinggi, berakhlakul karimah serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan, merupakan tanggung jawab yang harus dia jalankan pada estafet kepemimpinan selama kurang lebih setahun (satu periode 2015-2016) kedepan.

"Kami akan terus membangun sistem pengkaderan yang berkesinambungan, membangun sistem organisasi yang profesional, melakukan evalauasi demi menjaga kesolidan antara kader dengan pengurus, berinteraksi sesama kader yang lain sehingga tidak mengakibatkan putus hubungan," paparnya.

Pemilihan Ketua Rayon PMII Unsuri Fakultas Ekonomi Manejemen yang digelar di kampus Unsuri gedung C, Jumat (26/6) lalu dihadiri beberapa pengurus PMII lainnya terdiri dari Rayon Nusantara, Rayon Al-Azhar, Komisariat Unsuri dan komisariat PMII perjuangan Unitomo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Ramadhan sudah mendatangi kita. Otomatis kewajiban puasa pun mesti dilakukan bagi orang yang memenuhi persyaratan. Puasa menjadi pembeda bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Bulan ini menjadi mulia dengan sendirinya karena terdapat kewajiban puasa di dalamnya.

Ibadah puasa tentu berbeda dengan ibadah lainnya. Ia sangat bersifat rahasia. Tidak ada yang mengetahui kelangsungan puasa seseorang, kecuali pelakunya dan Allah SWT. Meskipun ada orang yang terlihat makan sahur dan buka puasa bersama kita, itu bukan jaminan bahwa dia telah berpuasa seharian. Bisa saja di waktu siang dia makan tanpa sepengetahuan orang.

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Karenanya, puasa dikatakan amanah. Sebuah amanah haruslah dilangsungkan dan dikerjakan. Terlebih lagi yang memberi amanah itu Allah SWT. Pemberian amanah puasa ini tentu bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya.

Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tak heran bila ada yang puasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang dilakukan. Oleh sebab itu, al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah puasa orang awam. Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Hal ini berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang shaleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

Selanjutnya puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga? memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat formalitas, tetapi juga bermanfaat dan berdampak positif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Pertandingan Haedar Nashir

PCNU Se-Jawa Barat Diminta Aktif di Dunia Maya

Bandung, Haedar Nashir - Pengurus Wilayah NU Jawa Barat meminta 27 Pengurus Cabang NU se-Jawa Barat untuk aktif di dunia maya, hal ini dilakukan untuk menjawab perkembangan zaman yang semakin pesat dan masyarakat lebih banyak beraktivitas melalui internet.

Demikian disampaikan Iip Yahya, Pemimpin Redaksi website nujabar.or.id pada pertemuan admin PCNU se-Jawa Barat di Kantor PWNU Jabar, Sabtu (12/7)

PCNU Se-Jawa Barat Diminta Aktif di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Se-Jawa Barat Diminta Aktif di Dunia Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Se-Jawa Barat Diminta Aktif di Dunia Maya

"NU itu organisasi besar tapi kalau kita kurang aktif di dunia maya akan terlihat kecil, sebab saat ini masyarakat lebih banyak beraktivitas di dunia maya," tandasnya.

Dikatakannya, PCNU diminta untuk membuat website organisasi dengan domain or.id, dari 27 PCNU yang ada di Jawa Barat baru beberapa saja yang sudah mempunyai website organisasi dengan domain or.id, yaitu Majalengka, Garut dan Sumedang.

Haedar Nashir

"Selain website, PCNU juga harus punya medsos, minimal facebook dan twitter, PCNU lalu meneruskan kepada MWCNU di wilayahnya masing-masing agar MWCNU punya akun facebook," tambahnya.

Haedar Nashir

Targetnya, kata dia, dalam satu tahun ke depan PCNU yang ada di Jawa Barat sudah punya website dan medsos, sedangkan MWCNU sudah punya facebook dan semua kegiatan-kegiatan NU yang ada di daerah bisa diketahui dan diakses oleh semua orang.

"Kita siap memberikan bantuan teknis pembuatan web dan pelatihan," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Fragmen Haedar Nashir

Prihatin Kasus Yuyun, NU Surabaya Desak DPRD Tetapkan Perda Miras

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus NU Kota Surabaya menyatakan prihatin atas kasus pemerkosaan dan kekerasan yang menimpa Yuyun (14 th) oleh 14 pemuda/remaja yang dipengaruhi minuman keras. Pihak NU Kota Surabaya karenanya kembali mendesak DPRD Surabaya agar segera menetapkan Rencana Peraturan Daerah terkait pelarangan minuman beralkohol di Surabaya.

"Pengesahan ini sekaligus sebagai gerakan sosial nyata untuk diikuti daerah-daerah lainnya di Indonesia, dari Surabaya menuju Indonesia bebas dari mihol," kata Ketua NU Surabaya Muhibbin Zuhri di Aula PCNU Surabaya, Sabtu (7/5).

Prihatin Kasus Yuyun, NU Surabaya Desak DPRD Tetapkan Perda Miras (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Kasus Yuyun, NU Surabaya Desak DPRD Tetapkan Perda Miras (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Kasus Yuyun, NU Surabaya Desak DPRD Tetapkan Perda Miras

NU Surabaya menilai tragedi Yuyun merupakan peringatan yang jelas bagi semua warga bangsa bahwa miras merupakan sumber masalah kejahatan dan kerusakan lain.

Haedar Nashir

"Kita sangat sedih mendengar kejadian yang memilukan itu. Kasus pemerkosaan dan kekerasan yang dilakukan oleh 14 pemuda/remaja yang dipengaruhi miras. Tragedi ini sangat menyayat rasa kemanusiaan kita. Betapa manusia dengan mudahnya menjadi lebih hina dari hewan dan bisa sejahat iblis, karena pengaruh miniman keras,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kasus serupa telah banyak terjadi. Demikian juga dengan kasus-kasus kejahatan lain akibat pelaku di bawah pengaruh minuman beralkohol di antaranya pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, kecelakaan lalu lintas, dan lainnya.

"Cukup kasus Yuyun menjadi tragedi terakhir bagi bangsa ini. Ini pelajaran yang sangat terang dari Allah swt kepada bangsa ini," tambahnya.

Ia menyayangkan adanya sementara pihak termasuk aparat pemerintah, wakil rakyat, pengamat yang masih enggan mengesahkan regulasi pelarangan total mihol ini. Menurutnya, mereka berdalih bertentangan dengan norma legislasi, melawan aturan di atasnya, pendapatan negara-daerah, dan lain-lain.

"Mereka ini seperti sedang menyuarakan kepentingan pengusaha mihol dan mengabaikan ancaman serius bagi rakyatnya. Apakah kita menunggu anak-anak kita, istri, saudara perempuan, atau keluarga kita menjadi korban selanjutnya. Regulasi apa pun yang mengandung pembolehan produksi, peredaran, dan konsumsi mihol harus segera dicabut demi hukum dan kepentingan nasional-kemanusiaan. Karena peraturan apa pun itu semua bertentangan dengan Pancasila, terutama sila pertama,” tegasnya.

NU Surabaya juga mendukung pernyataan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang menyarankan perlunya aturan yang jelas dan tegas mengenai pelarangan mihol. Pihaknya juga mengapresiasi sikap DPD RI yang sedang mematangkan rencana pembuatan UU pelarangan mihol. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 17 Juni 2017

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI

Jakarta, Haedar Nashir?



Sekitar 13 oraganisasi massa (ormas) Islam yang tergabung di Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mendukung pemerintah untuk membubarkan HIzbut Tahrir Indonesia. ? Pernyataan tersebut disampaikan di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (1/6).

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI

Ketiga belas ormas Islam tersebut adalah Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikadi, Azzikra, Syarikat Islam Indonesia, Alwashliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Ummat Islam, dan HBMI.?

Pernyataan ormas-ormas tersebut disampaikan Sekretaris Umum LPOI ? Lutfi A. Tamimi didampingi Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia ? Wiranto dan Ketua DPD RI Osman Sapta Odang.?

Selain mendukung pembubaran HTI, LPOI juga mendukung untuk menjaga keutuhan NKRI, mendukung presiden untuk mengemban jabatan sampai akhir periode, pemberantasan narkoba, dan terorisme.?

Berikut pernyataan lengkap LPOI tersebut.?

Haedar Nashir



Haedar Nashir

1. Membela dan menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2. Mendukung Presiden sebagai kepala negara yang dipilih secara konstitusional sampai masa jabatannya berakhir.?

3. Mendukung upaya pemerintah dalam memerangi terorisme dan radikalisme dalam segala bentuk.

4. Mendukung pemerintah dalam memerangi narkoba dan korupsi

5. Menindak tegas ormas-ormas radikal dan media sosial yang memecah belah bangsa

6. Lembaga Persahabatan Ormas Islam mendukung Pemerintah Republik Indonesia membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia.?

(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 16 Juni 2017

Pendidikan Jadi Kelinci Percobaan, Ribuan Warga NU Cirebon Ikuti Aksi Tolak Kebijakan FDS

Cirebon, Haedar Nashir - Ribuan warga nahdliyin Kabupaten Cirebon mengikuti aksi tolak kebijakan Full Day School (FDS). Aksi yang digelar di lapangan petiraksa Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon pada 30 Agustus 2017 ini dihadiri lebih dari 17.000 warga nahdlyin se-Kabupaten Cirebon.

Acara ini bertujuan agar presiden menghentikan permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah yang merugikan pesantren dan madrasah diniyah.

Pendidikan Jadi Kelinci Percobaan, Ribuan Warga NU Cirebon Ikuti Aksi Tolak Kebijakan FDS (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Jadi Kelinci Percobaan, Ribuan Warga NU Cirebon Ikuti Aksi Tolak Kebijakan FDS (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Jadi Kelinci Percobaan, Ribuan Warga NU Cirebon Ikuti Aksi Tolak Kebijakan FDS

Hal ini sama seperti apa yang disampaikan oleh Ketua PCNU Kabupaten Cirebon H Aziz Hakim Siradj. Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa permendikbud nomor 23 tahun 2017 merugikan pesantren dan madrasah diniyah.

"Mulai besok saya pastikan bahwa permendikbud no 23 tahun 2017 harus dicabut karena itu sangat merugikan pondok pesantren dan madrasah diniyah," ujarnya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kang Aziz juga menambahkan bahwa pendidikan kita jangan jadi kelinci percobaan. "Bahwa pendidikan kita tidak boleh dijadikan kelinci percobaan oleh orang orang yang berkepentingan," pungkasnya. (Kustano/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemenkominfo tidak perlu khawatir perihal pemblokiran situs bermuatan provokasi dan hasutan. Menurut Kang Said, pemblokiran itu memang kewenangan keduanya sebagai tangan pemerintah.

“NU sudah paham betul kalau kelompok Wahabi ini dibiarkan pasti selangkah lagi mereka menjadi teroris,” kata Kang Said saat diskusi bertajuk “Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal” di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (10/4) siang.

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu

Mereka bergerak bebas pascareformasi. Mereka mengalirkan dana dari pengusaha-pengusaha Arab Saudi yang tergabung dalam WAMI, asosiasi pengusaha Wahabi.

Haedar Nashir

Wahabi, kata Kang Said, tidak mengajarkan teror, tetapi ajarannya sangat radikal. Kalau tidak begini, salah, sesat, neraka. Kalau begitu, kelompok di luar mereka halal untuk dibunuh. Tinggal kesempatan, keberanian, rasa tega. Kalau sempat, berani, dan tega, mereka akan membunuh siapapun.

“Jangan sampai api dalam sekam ini berkembang besar. Sebaiknya memang diantisipasi dini. Mari kita tingkatkan kewaspadaan. Musuh kita sama. Ancaman kita pun sama,” kata Kang Said.

Haedar Nashir

Sementara Kepala BNPT Komjen Saud Usman Nasution menyambut baik dukungan kelompok Nahdlatul Ulama. “Dengan dukungan NU, alhamdulillah sudah puluhan juta orang di belakang BNPT,” kata Saud.

Kami tidak bisa sendirian. Kami sudah melakukan kerja sama dengan 17 perguruan tinggi agama Islam negeri. Terus terang, kalau sendirian kami tidak sanggup. “Kami berikut karyawan hanya berjumlah 55 orang. apa artinya jumlah segitu.”

Ia menceritakan bahwa selama ini BNPT dicecar banyak pihak. Banyak anggota DPR mempertanyakan usulan pemblokiran situs bermuatan negatif oleh BNPT. Kementerian Agama RI justru tampak kurang tegas. Ada pula pihak tertentu yang menuding rekomendasi BNPT ini merupakan konspirasi Amerika.

Belum lagi Ustadz Arifin Ilham yang melayangkan surat terbuka kepada BNPT. Menurutnya, BNPT menghalangi syiar Islam. “Apa pula semua ini. Saya pusing. Padahal ini bahaya terorisme sudah di depan mata,” kata Saud.

Staf Ahli Menkominfo Prof DR Henri Subiyanto yang juga hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa BNPT secara hukum memiliki kewenangan dalam melakukan pemantauan dan penilaian terhadap perkembangan di masyarakat yang ditilik dari sisi potensi kerawanan terorismenya.

“Secara de facto BNPT memiliki kelembagaan dengan personal yang memiliki kemampuan dalam penanganan dan pencegahan terorisme dan mampu memantaunya. Hal yang menjadi target pantauan merupakan hal-hal yang terjadi di masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya maupun saluran komunikasi lain,” kata Henri, pengajar di Universitas Airlangga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Kamis, 15 Juni 2017

Poros Muda NU Banten Libatkan Cagub dan Cawagub Banten dalam Aksi Lawan Korupsi

Jakarta, Haedar Nashir - Generasi NU dan seluruh komponen gerakan muda yang tergabung dalam Poros Muda NU Banten berencana menggelar aksi penandatanganan pakta integritas cagub dan cawagub Banten lawan korupsi, Ahad (4/12) siang. Aksi ini diadakan dalam rangka menyambut 9 Desember sebagai Hari Antikorupsi Internasional.

“Setiap para peserta yang hadir lebih awal akan mendapatkan buku Jihad Nahdlatul Ulama Melawan Korupsi terbitan Lakpesdam PBNU,” kata Koordinator Poros Muda NU Banten Cecep Ahmad Khudori.

Poros Muda NU Banten Libatkan Cagub dan Cawagub Banten dalam Aksi Lawan Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Poros Muda NU Banten Libatkan Cagub dan Cawagub Banten dalam Aksi Lawan Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Poros Muda NU Banten Libatkan Cagub dan Cawagub Banten dalam Aksi Lawan Korupsi

Kegiatan ini akan diisi dengan peluncuran aplikasi digital JAGA dan peluncuran Gerakan Pesantren Antikorupsi se-Banten. Cecep mengajak segenap warga Banten untuk terlibat dalam aksi ini.

Aksi ini rencananya akan dihadiri oleh pasangan cagub dan cawagub Banten H Wahidin Halim-H Andika Hazrumy dan H Rano Karno-H Embay Mulya Syarif. Aksi ini juga diramaikan oleh seluruh jaringan NU se-Banten, pesantren, partai politik, OKP, organisasi kemahasiswaan, ormas dan masyarakat umum.

Haedar Nashir

Aksi ini juga rencananya dihadiri Ketua KPK Agus Raharjo, Komisioner Bawaslu Pusat Daniel Zuchron, Ketua PWNU Banten Sholeh Hidayat, Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala Kejaksaan Tinggi Banten E Shahputra.

Haedar Nashir

Mereka akan melangsungkan aksi ini di Gedung PWNU Banten Jalan Raya Jakarta Kemang, Penancangan, Cipocok Jaya, Kota Serang, Ahad (4/12) pukul 13.00-16.00. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Warta Haedar Nashir

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi DKI Jakarta mengadakan istighotsah, Ahad (13/8). Setelah istighotsah puluhan nahdliyin ini mengikuti upacara peletakan batu pertama pembangunan kantor PWNU DKI Jakarta di Jalan Utan Kayu Raya Nomor 112 Jakarta.

Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Mahfudz Asirun mengatakan, pilihan hari Ahad adalah sesuai dengan penciptaan gunung oleh Allah SWT dengan harapan nantinya agar PWNU Jakarta akan kokoh seperti gunung.

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung PWNU DKI Jakarta

Turut hadir dalam acara itu Ketua PBNU H Eman Suryaman, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah yang Sekda DKI Jakarta, pengurus harian syuriyah dan tanfidziyah, serta perwakilan dari banom dan lembaga di lingkungan PWNU DKI Jakarta.

Saefullah menyampaikan agar pembangunan nanti dapat lebih bermanfaat khususnya bagi warga NU di Jakarta, maupun secara umum bagi masyarakat Jakarta.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Ia berpesan kepada hadirin agar membantu dengan doa, terutama agar cita-citanya selanjutnya yaitu akan menggunakan tanah di sekitar Kuningan, Jakarta Selatan untuk pengembangan ekonomi dan pendidikan bagi Nahdlatul Ulama.

"Kita berharap apapun yang kita perbuat kali ini, semoga bisa bermanfaat untuk umat sekaligus dalam rangka ikut perintah PBNU dalam upaya mengembangkan potensi ekonomi dan pendidikan warga NU," ujar Saefullah.

Hadir dalam acara ini KHMahfudz Asirun, KH Ibrahim Karim, KH Ibnu Abidin, KH Shodiqin Maqsudi, KH Syaroni Hadi, KH Lukmanul Hakim, para kiai dan pengurus NU lainnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Berita, Pertandingan Haedar Nashir

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

Jakarta, Haedar Nashir

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menyatakan prihatin dengan kondisi dan perhatian terhadap guru di DKI Jakarta. Ada beberapa indikator yang dinilai menjadi bukti bahwa guru di ibu kota negara ini masih dipandang sebelah mata.

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

“Masih ada guru DKI Jakarta yang hanya mendapatkan gaji 300 ribu per bulan, padahal biaya hidup di Jakarta cukup tinggi. Bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya, menjamin kehidupan yang layak untuk anaknya, serta jaminan pendidikan yang berkelanjutan untuk anak turunnya?” kata Ketua PW Pergunu Aris Adi Leksono dalam siaran pers, Rabu (4/5).

Ia menambahkan, tahun 2015 kemarin gaji guru honorer terlambat bayar hingga 10 bulan. Bahkan, di tahun 2016 belum ada kepastian honor untuk guru honorer di lingkungan Kementerian Agama. Tunjangan kesejateraan daerah (TKD) juta tak diterima semua guru, terutama guru yang lingkungan Kementerian Agama.

Haedar Nashir

“Padahal guru DKI Jakarta adalah sama mendidik anak Jakarta. Bahkan beban kerja guru Kementerian Agama lebih besar daripada lainnya dalam hal menanamkan akhlak dan moral pada generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Aris, terbitnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 235 Tahun 2015 tentang Honorarium Guru Non Pagawai Negeri Sipil Dan Tenaga Kependidikan Non Pegawai Sipil semakin menambah kesenjangan perlakuan pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap guru honorer, terutama bagi guru di sekolah swasta, apalagi bagi guru honorer di lingkungan Kementerian Agama.

Karena itu, Pergunu DKI meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta agar dapat memutuskan regulasi yang dapat memperhatikan nasib guru, secara berkeadilan tanpa dikotomi negeri-swasta, Diknas-Kemenag.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemangku kebijakan juga diharapkan bisa menjadi “rumah besar” pelayanan pendidikan di Jakarta yang berkeadilan dengan langkah konkret memberikan TKD untuk semuan Guru dan UMP untuk semua Guru.

“Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Agama perlu menerbitkan peraturan bersama untuk guru sebagai wujud sinergi kebijakan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru di DKI Jakarta. Jakarta adalah daerah khusus, dengan APBD yang sangat besar, sangat memungkinkan menebitkan peraturan dengan pendekatan leg spesialis,” papar Aris.

PW Pergunu DKI Jakarta, Selasa (3/5) lalu juga menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta tersebut adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan". (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Pesantren, Kyai Haedar Nashir

Rabu, 14 Juni 2017

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jepara, Haedar Nashir. Keberadan madrasah saat ini harus benar-benar berada di tengah-tengah masyarakat. Semakin membuka diri (inklusif) tidak terkesan eksklusif. Hal itu dikemukakan Achmad Makhali, Sekretaris Yayasan Pendidikan Islam (YPI) NU Safinatul Huda Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Jika dulu menyebut madrasah murni pendidikan agama dan terkesan eksklusif, sekarang lanjutnya, hampir sama antara sekolah dan madrasah.? Madrasah ada pelajaran umum juga pelajaran agama. “Murid madrasah pinter sains juga pinter kitab salaf,” terang Kepala MA NU Safinatul Huda ini.?

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberadaan Madrasah Harus Membumi di Masyarakat

Jika pelajaran salaf dan umum dikuasai, menurut dia, siswa akan menjadi manusia yang seutuhnya.? Mestinya, madrasah saat ini harus semakin mempunyai kepercayaan diri. Sebab nilai plusnya pembelajaran akhlak tidak ditemukan di sekolah umum.?

“Guru dan siswa madrasah tidak boleh minder,” katanya yang juga Sekretaris Pergunu Jepara disela-sela kegiatan Sarasehan “Madrasah Dulu, Sekarang dan Akan Datang” di Madrasah Safinatul Huda, Kamis (15/9) lalu.

Ia menegaskan kini kualitas madrasah juga semakin bagus. Misalnya guru madrasah tidak hanya menempuh S1 dan S2 saja tetapi sudah masuk ke jenjang S3. Itu tidak lain, tambahnya, dalam rangka menerjemahkan slogan Lebih Baik Madrasah, Madrasah Lebih Baik.?

Haedar Nashir

Kegiatan Sarasehan merupakan rangkaian Harlah YPI NU Safinatul Huda ke-61. Dalam Harlah yang berlangsung dua hari itu Rabu-Kamis (14-15/9) juga diisi ? dengan Praktik Qurban, Aneka Lomba, Pentas Rebana, Istighotsah, Tahlil, Ziarah Wali dan Pendiri dan Kilas Balik Berdirinya Yayasan. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Tegal Haedar Nashir

Haedar Nashir

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri

Jombang, Haedar Nashir. Muktamar ke-33 NU yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus akan memberikan landasan normatif dan rekomendasi bagi permasalahan hutan luar negeri. Pembahasan ini menjadi kajian Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudlu’iyah yang mendiskusikan persoalan-persoalan secara tematik.

Dalam Draf Materi Muktamar ke-33 NU, tim perumus komisi yang diketuai KH Afifuddin Muhajir ini menjelasan, sejak Indonesia merdeka pada 1945, utang luar negeri tidak pernah terlepas dari Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan I-2015 mencapai 298,1 miliar dollar AS.

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Ke-33 NU Soroti Persoalan Utang Luar Negeri

Utang tersebut terdiri dari utang luar negeri pemerintah sebesar 132,8 miliar dollar AS (44,5%) dan utang sektor swasta sebesar 165,3 miliar dollar AS (55,5%). Posisi ini tumbuh melambat yakni 7,6 % year on year (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya, yakni 10,2 % (yoy).

Haedar Nashir

“Jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman,” bunyi draf materi tersebut.

Haedar Nashir

Akumulasi? utang yang menumpuk membuat pertumbuhan ekonomi tidak bergerak, rawan resiko, dan menimbulkan disinsentif bagi pengelola ekonomi untuk mencapai kinerja baik akibat terlalu besarnya transfer keluar untuk memenuhi kewajiban? utang luar negeri.

“Sebagai bangsa yang mendambakan kemandirian dan bermartabat di mata dunia, kita menginginkan negara yang bebas utang. Walau tidak mudah, sudah saatnya kita merenungkan kembali kebijakan defisit anggaran yang digunakan untuk mendukung ekspansi fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Kita tidak boleh selamanya terjebak pada skema pembiayaan utang untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan formulasi baru agar pembiayaan pembangunan tidak lagi mengandalkan dari utang.”

Karena itu, Muktamar ke-33 NU akan menjawab tiga pertanyaan utama soal utang luar negeri, antara lain, “Dalam situasi apa negara boleh utang?”, “Untuk kepentingan apa uang hasil utang bisa digunakan?”, dan “Apa yang perlu dilakukan agar negara terbebas dari? utang?”. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, RMI NU Haedar Nashir

Jumat, 09 Juni 2017

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet

Jakarta, Haedar Nashir
Sekitar 200 orang yang menamakan diri mereka anggota Forum Komunikasi Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (FK-GMNU) melakukan unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa siang, menuntut agar kasus dugaan korupsi di lembaga penyelenggara pemilu itu diusut tuntas, termasuk dengan memeriksa seluruh anggotanya.

Unjuk rasa FK-GMNU, yang antara lain beranggotakan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Assafi’iyah Jakarta, Universitas Bung Karno, Universitas Nasional, Sekolah Tinggi Agama Islam NU dan anggota Gerakan Pemuda Anshor juga menuntut agar Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, yang mantan anggota KPU, dicopot jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu.

Menurut koordinator aksi, Ali Abel, kasus dugaan korupsi di KPU perlahan-lahan mulai terungkap, bahwa semua anggotanya terlibat dalam penyelewengan dana penyelenggaraan pemilu 2004 namun pengusutan kasus itu mulai menemui ketidakjelasan.

"Sebab, salah satu tonggak penegakan hukum di Indonesia, yaitu Kementerian Hukum dan HAM masih dijabat oleh salah seorang anggota KPU yang ikut menikmati dana taktis sebesar 20 miliar," kata Abel.

Terkait kasus dugaan yang melibatkan Hamid, FK-GMNU menagih komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam pemberantasan korupsi, karena saat pengambilan sumpah para anggota kabinet 20 Oktober 2004 dinyatakan akan mundur jika terlibat korupsi dan siap menerima sanksi hukum yang berlaku.

Selesai menggelar aksi di KPU, rombongan pengunjuk rasa melanjutkan aksinya ke Departemen Hukum dan HAM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, guna menyuarakan tuntutan yang sama.

"Kami belum lupa Pak Susilo Bambang Yudhyono berkali-kali menyatakan akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi jika terpilih sebagai presiden. Kini kami juga rakyat Indonesia menunggu realisasi janji tersebut," kata Abel.

Dalam aksinya para pengunjuk rasa mengusung sejumlah poster, yang salah satu di antaranya bertuliskan penagihan janji Presiden Yudhoyono untuk memberantas korupsi.

Mereka juga membentangkan spanduk untuk menyatakan empat tuntutan, yaitu "Usut Tuntas Kasus Korupsi di KPU Sampai ke Akar-akarnya, Copot Hamid Awaluddin dari Jabatan Menteri dan Adili Sesuai dengan Hukum yang Berlaku, Tegakkan Supremasi Hukum Tanpa Pandang Bulu, dan Tuntaskan Agenda Reformasi".(ant/mkf) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah, Nahdlatul Ulama, Amalan Haedar Nashir

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)
FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet

Kamis, 08 Juni 2017

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim

Majalengka, Haedar Nashir. Dalam rangka menjaga tradisi baik dan mempererat tali silaturrahim, warga Sindangwangi menggelar muludan dan marhabanan yang bertempat di halaman Pondok Pesantren Sabilul Mardiyah Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat, Jumat, (9/1).

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mauludan, Warga Sindangwangi Jaga Tradisi dan Pererat Silaturrahim

Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan warga nahdliyin dari NU ranting, ulama dan santri atas inisiatif Satkoryon Banser Sindangwangi.

Mansyur, Kasatkoryon Banser Sindangwangi mengatakan, agenda ini dilaksanakan dengan berpegangan pada Al-mukhafadzotu ala al-qodimi al-sholih wal akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (menjaga tardisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).?

Haedar Nashir

“Atas dasar menjaga tradisi itu kami bersama menggelar acara ini,” terang Mansyur.

Haedar Nashir

Mansyur menambahkan, tak hanya untuk menjaga tradisi pesantren, kami pun berusaha merangkul seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu dan mempererat tali silaturrahim antarwarga nahdliyin sebagai pencegahan dari rongrongan islam radikal.

Ia berharap, kedepan ketika menggelorakan semangat jaga tradisi dan pererat silaturrahim ini menjadi satu kesatuan utuh dalam menjaga keutuhan NKRI serta memelihara nilai toleransi.

Acara ini dimulai pukul 08:00 WIB dipimpin oleh Ketua MWC NU Sindangwangi, KH. Zaenudin, dilanjutkan tausiyah ditutup doa dan dilanjutkan makan besar bersama seluruh warga yang hadir. (Aris Prayuda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Fragmen, Sunnah Haedar Nashir

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Jombang, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menggelar pelatihan kerajinan tangan di aula MWCNU Ngoro, Selasa (17/6).

Sebanyak 20 pelajar NU setempat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Mereka belajar membuat asesoris berupa bros dan gantungan kunci.

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Ngoro Jombang Belajar Kerajinan Tangan

Ketua PAC IPNU Ngoro Mohamad haris mengatakan, kegiatan ini menjadi agenda mingguan pelajar NU Ngoro. “Pelatihan ini merupakan kelima kalinya,” tutur guru SDI Trunojoyo ini.

Haedar Nashir

Menurutnya, pelatihan kerajinan tangan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi antarkader, di samping memberi bekal keterampilan kepada pelajar NU agar siap menghadapi  tantangan zaman.

Uswatun Hasanah, Ketua PAC  IPPNU Ngaro, menambahan, hasil kerajianan tanggan berupa bros dan gantungan kunci itu akan dipasarkan di toko-toko di daerah Ngoro.

Haedar Nashir

“Setidaknya ada empat  toko yang siap untuk menerima hasil kerajinan tanggan yang kami buat yaitu koperasi pondok pesantren At-Tadzib , Ponpes Padar dan yang lain di pasar Ngoro Jombang,” pungkas mahasiswa STIT  Urwatul Wusqo Diwek Jombang ini. (Muhamad Anwar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Semarang, Haedar Nashir. Warga Banjardowo kecamatan Genuk, kota Semarang menggelar jalan sehat bersama sebagai puncak peringatan Hari Kemerdekaan Ke-69 RI di Banjardowo, Ahad (24/8) pagi. Ketua RW 6 kelurahan Banjardowo, Sutiman, menggunting pita yang menandai awal jalan sehat setelah sepekan sebelumnya mengadakan tirakatan dan tumpengan.

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tirakatan Kemerdekaan Hingga Jalan Sehat

Jalan sehat ini, kata Sutiman, bukan sekadar puncak kemeriahan, tetapi upaya membangun kebersamaan untuk saling memupuk rasa persaudaraan. Sementara Ketua RT 2 RW 6 Muslimin menambahkan, seluruh rangkaian peringatan ini menjadi bentuk rasa syukur warga demi menumbuhkan rasa keberpihakan kepada Tanah Air.

“Puncak peringatan semarak kemerdekaan ini semoga menguatkan tali silaturahmi dan mendekatkan antarwarga,” imbuh Muslimin.

Haedar Nashir

Sementara para remajanya yang tergabung dalam Ikatan Remaja Telaga Muda melanjutkan kemeriahan Hari Kemerdekaan RI dengan menggelar perlombaan balap kelereng dan memasukkan pensil ke dalam botol khusus untuk anak-anak.

Peserta jalan sehat yang terdiri atas kalangan dewasa turut aktif memeriahkan perlombaan dengan mendampingi anak mereka. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 06 Juni 2017

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas

Kasus mati karena binatang buas sudah banyak dijumpai. Cerita selamat dari keganasan binatang ? berbahaya juga kerap kita dengar. Namun, bagaimana dengan kasus lepas dari maut justru karena pertolongan binatang mematikan? Yang terakhir ini kedengarannya aneh tapi betul-betul dialami Abu Hamzah al-Khurasani, ulama sufi pada abad pertengahan.

Dalam sebuah perjalanan ibadah haji, entah bagaimana, ia tiba-tiba terperosok ke lubang sumur. Tentu saja ia kewalahan kembali ke atas. Di tengah ancaman keselamatan jiwanya itu, Abu Hamzah al-Khurasani sempat akan berteriak minta tolong tapi urung. "Tidak. Demi Allah aku tak akan berteriak minta tolong."

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas

Belum habis gumam batinnya itu berujar, tiba-tiba ada dua orang melintas di bibir sumur. Tahu ada lubang di dekat mereka, salah seorang di antara keduanya bertutur, "Mari kita tutup bibir sumur ini agar tak ada orang jatuh ke dalamnya."

Bibir sumur pun ditutupi rerimbunan pohon tebu hingga penuh. Ingin sekali Al-Khurasani berteriak. Namun lagi-lagi hatinya melarang. "Aku akan berteriak kepada yang lebih dekat ketimbang mereka berdua (yakni Allah)," gumamnya.

Al-Khurasani akhirnya cuma bisa diam. Tak disangka, beberapa saat kemudian bibir sumur terbuka kembali. Lalu ada yang menurunkan kakinya dan seperti menyuruh al-Khurasani untuk memegangnya. Al-Khurasani pun bergelayutan dengan kaki itu dan keluar dari sumur dengan selamat.

Haedar Nashir

Ia baru sadar bahwa kaki yang menolongnya itu adalah kaki seekor binatang buas (sabu). Sabu juga bisa berarti singa. Kemudian terdengarlah suara, "Wahai Abu Hamzah, bukankah ini lebih baik? Kami selamatkan kami dari kematian dengan hewan mematikan."

Kisah ini bisa kita baca dalam kitab an-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi. Cerita tersebut menggambarkan betapa kuatnya keyakinan al-Khurasani terhadap pertolongan Allah. Ia tak berteriak minta tolong karena sedang membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya, bukan lantaran menolak ikhtiar, apalagi bermalas-malasan. Ia sedang menampilkan sikap tawakal yang total, di saat bersamaan meyakini bulat-bulat akan kehadiran Allah setiap saat.

Kasus pertolongan oleh binatang buas yang tak lazim tersebut bisa dilihat sebagai kemuliaan (karomah) dari Tuhan atas kesungguhan Abu Hamzah al-Khurasani dalam bersabar dan berpasrah diri secara penuh kepada-Nya. (Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 05 Juni 2017

GP Ansor Tabanan Bali Perkuat Silaturahmi dengan Tarawih Keliling

Tabanan, Haedar Nashir?



Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Tabanan Bali berupaya meningkatkan silaturahim sesama anggota dan masyarakat secara umum. Upaya itu dilakukan dengan Tarawih Keliling.

Tarawih keliling pada Selasa (6/6) diadakan di Masjid Miskatul Huda Bajera Kecamatan Selemadeg. Kegiatan ini diawali dengan berbuka puasa bersama para tokoh agama dan masyarakat setempat.

GP Ansor Tabanan Bali Perkuat Silaturahmi dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Tabanan Bali Perkuat Silaturahmi dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Tabanan Bali Perkuat Silaturahmi dengan Tarawih Keliling

Ketua Cabang GP Ansor Tabanan Antoni mengatakan bahwa Tarawih Keliling merupakan bagian dari cara agar anak muda NU dapat terus terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

"Momen berkunjung ini, adalah momen untuk memperkenalkan sayap organisasi kepemudaan NU kepada masyarakat, selain juga mendengarkan keluh-kesah masyarakat muslim di sini," terangnya.

Haedar Nashir

Ia menambahkan, yang tak kalah penting dari kegiatan ini adalah untuk mempersempit pergerakan kelompok radikal masuk ke masjid masjid di Kabupaten Tabanan. Selama ini penyebaran paham yang bertentangan dengan amaliah NU biasanya diawali dengan penguasaan masjid sebagai ruang doktrin kepada jamaah.

"Setidaknya mereka yang berpaham keras akan berpikir ulang untuk menguasai masjid ketika nantinya banyak anak muda NU yang tergabung dalam Ansor Banser ini sering mengadakan kegiatan di masjid-masjid," tegasnya.

Masih ada beberapa masjid yang akan dijadikan lokasi kegiatan positif ini. Sehingga menurut Antoni, Ansor Tabanan akan mengagendakan Tarawih Keliling sebagai acara tahunan setiap memasuki bulan Ramadhan. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kyai, Aswaja, Pertandingan Haedar Nashir

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Sidoarjo, Haedar Nashir

Dalam rangka mempersiapkan mutu lulusan, Universitas NU (UNU) Sidoarjo telah memastikan diri dengan barbagai kegiatan di antaranya dengan mengikuti seleksi Proposal Hibah Pusat Karir di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada April 2016.

Irviandi Yudhotomo, dosen UNU Sidoarjo yang mengikuti seleksi tersebut menjelaskan, Hibah Pusat Karir merupakan program dari Kemenristekdikti untuk peningkatan kualitas lulusan di sebuah perguruan tinggi. Selain itu, program Pusat Karir dapat diikuti mahasiswa tanpa ada batasan semester dan jurusan.? ?

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Artinya, apapun jurusannya dan berapapun semesternya, bagi mahasiswa yang memiliki nilai tambah berupa bakat dan minat selain jurusan yang diambil dapat dimaksimalkan potensinya di Pusat Karir. Selain itu juga untuk pematangan dan pemetaan karir melalui program Karir Kompas yang dijalankan sebelum mereka lulus.

Haedar Nashir

"Jadi mahasiswa yang memiliki potensi lain selain jurusan yang dia ambil bisa dimaksimalkan melalui program Pusat Karir," ujar dosen yang akrab disapa Pak Irviandi itu, Senin (9/5). ?

Haedar Nashir

Ia menambahkan, dengan adanya hibah tersebut peluang mahasiswa UNU Sidoarjo dalam mengembangkan karir dapat dimulai sebelum mereka lulus. Selain itu, program tersebut juga membantu mahasiswa mengurangi masa tunggu masuk dunia kerja setelah lulus –permasalahan yang masih terjadi pada lulusan perguruan tinggi.

Berdasar pada Nota Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Bantuan Pengembangan Layanan Pusat Karir 2016 Nomor: 642.172/B3.4/KM/PK/2016 tertanggal 25 April 2016, UNU Sidoarjo bersama Kementerian Ristekdikti akan melakukan sederetan program pembinaan karir mahasiswa selama 6 bulan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Kyai, Aswaja Haedar Nashir

Minggu, 04 Juni 2017

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor

Jombang, Haedar Nashir. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) RI M Nasir berharap program Pesantren Kilat Sukses Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang digelar Gerakan Pemuda Ansor terus berlanjut. Kepada para peserta, ia meminta tetap semangat dalam mengembangkan potensi.

"Saya berharap agar para santri istiqomah dalam belajar," katanya memberi motivasi saat mengunjungi peserta Sanlat Sukses Masuk PTN yang diprakarsai Pimpinan Cabang GP Ansor Jombang, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Nasir mengingatkan bahwa untuk menjadi orang sukses, semangat haruslah terus dipupuk.

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Menristek Dikti Motivasi Peserta Sanlat Masuk PTN GP Ansor

"Kembangkan dan tunjukkan terus potensi diri yang dimiliki," katanya. Karena melalui ikhtiar tanpa kenal lelah dan diimbangi dengan doa, maka kesuksesan akan dapat diraih, lanjutnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, Ketua PC GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto mengemukakan, sanlat kali ini memasuki angkatan ke-5 dan akan diselenggarakan setiap tahun di sejumlah pesantren di Jombang secara bergantian.

Haedar Nashir

"Sejak angkatan ke-1, jika dihitung sudah hampir 200 santri yang diterima di sejumlah kampus negeri ternama," katanya. Keuntungan mengikuti sanlat GP Ansor ini, tambahnya, selain mendapat bimbingan belajar dalam menghadapi seleksi masuk kampus negeri, para santri ini juga dibekali dengan paham Aswaja ala NU.

Sanlat GP Ansor Jombang terselenggara atas kerja bersama GP Ansor dengan sejumlah badan otonom, lembaga dan lajnah di PCNU Jombang. "Ini merupakan bentuk kepedulian Ansor dan banom NU terhadap pendidikan kader NU dalam menghadapi masa depan," kata Gus Antok, sapaan akrabnya. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan motivasi yang diberikan Menristek Dikti.

Turut mendampingi dan menerima kehadiran Menristek Dikti RI adalah Pengasuh Sanlat, H Juaharul Afif, yang juga salah seorang pengasuh pesantren setempat, ketua panitia sanlat Hafis Muaddab dan pengurus lain.

Sekedar diketahui, dari 80 santri yang mengikuti Sanlat, ada 15 yang dinyatakan lolos masuk PTN tanpa tes. Sementara santri lainnya tinggal mengikuti tes tulis, namun telah diberikan pembekalan secara optimal melalui sanlat. Kegiatan tahunan rutin PC GP Ansor Jombang tahun ini dilangsungkan? di Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar. (Syaifullah/Mahbib)

?

Foto: Menristek Dikti M Nasir (baju batik merah) saat berpose bersama sebagian peserta Sanlat Sukses Masuk PTN

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir

Jumat, 02 Juni 2017

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

Malang, Haedar Nashir

Soal tokoh yang memiliki kapasitas dan kapabilitas mumpuni, Nahdlatul Ulama di kota ini tidak kekurangan Sejumlah kampus terkenal dan disegani tersedia. Para akademisi dan praktisi juga tidak terhitung jumlahnya.

"Kalau dilihat dari potensi sumber daya manusia, NU di sini sangat berlimpah," kata Mahmudi, Ahad (27/3). Pria yang setiap hari menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PC LTN NU ) Kota Malang ini menyadari akan potensi yang ada. "Tinggal bagaimana mengoptimalkan ketersediaan yang ada untuk khidmat kepada NU," lanjutnya.

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Jurnalistik, Cara NU Kota Malang Lahirkan Pewarta Muda

Bahkan secara berkelakar, Bapak Mahmudi mengemukakan bahwa semua potensi dimiliki NU. "Yang tidak dimiliki ormas keagamaan lain yakni para dukun, ternyata NU punya," katanya disambut tawa hadirin.

Yang menjadi problem cukup mendesak agar ditemukan solusinya adalah melahirkan para jurnalis muda. "Karena kalau pandangan para tokoh yang ada tidak dioptimalkan, maka keberadaan mereka juga akan percuma," katanya di hadapan utusan PW dan PC LTN NU se-Jatim.

Karena itu PC LTN NU Kota Malang mengadakan madrasah jurnalistik yang dilangsungkan satu minggu sekali. "Kami selenggarakan secara gratis dengan instruktur para praktisi media dari NU," katanya.

Haedar Nashir

Madrasah Jurnalistik sendiri diselenggarakan setiap hari Ahad dari mulai jam 1 siang hingga 3 sore. "Pesertanya masyarakat umum khususnya aktifis muda NU baik di IPNU maupun IPPNU serta Fatayat yang mamiliki ketertarikan di dunia tulis menulis, khususunya pers," terangnya.

Kepada para peserta Madrasah Jurnalistik tersebut selalu diingatkan bahwa tidak ada kewajiban bagi mereka untuk akhirnya memilih profesi sebagai pegiat media atau menjadi jurnalis. "Minimal mereka bisa mengisi web yang ada di PCNU Kota Malang," kata dia kata dia sembari mengenalkan laman http://nu-kotamalang.org/ sebagai situs resmi NU setempat.

Dan secara khusus, kepada PW dan PC LTN NU se-Jatim yang hadir, Bapak Mahmudi juga berharap ada saling komunikasi dan sinergi antara para pegiat media di berbagai tempat. "Masih banyak yang dapat kita sisipkan di masing-masing website, disamping berita kegiatan dan pangangan para tokoh NU" katanya. Salah satunya adalah  radio streaming, mp3 serta video pengajian maupun taushiyah singkat yang dapat diunggah secara bersama, lanjutnya.

Dengan dibantu rekan pewarta lain, Bapak Mahmudi juga telah berhasil menulis setidaknya 30 ulama Malang. "Ini kerja kolektif dan alhmadulillah baru bisa menulis profil 30 ulama di sini," katanya merendah.

Haedar Nashir

Tidak terasa, PCNU Kota Malang akan segera paripurna. "Sebentar lagi akan ada konferensi cabang yang bisa jadi para pengurusnya akan berganti," kata dia. Namun demikian, paling tidak keberadaan website dan para jurnalis muda NU dapat dioptimalkan dalam mengunggah kelebihan Kota Malang di dunia maya. "Apa yang sudah kami dermabhaktikan semoga bisa diteruskan generasi penerus NU di masa mendatang," harapnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, Nasional Haedar Nashir