Selasa, 31 Oktober 2017

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri!

Jakarta, Haedar Nashir?

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyeru tindakan main hakim sendiri harus dihentikan. LBH PP GP Ansor, di Jakarta, Rabu (9/8) menyikapi tindakan "main hakim sendiri" (eigenrechting/lynching) yang belakangan ini kian kerap menyasar anggota kelompok minoritas maupun individu-individu yang dituduh sebagai pelaku tindak kriminalitas.

Terlebih lagi yang dilakukan dengan cara kekerasan yang teramat keji dan tidak manusiawi. Maka LBH GP Ansor perlu menyampaikan seruan kepada legislatif, eksekutif, yudikatif, dan juga terutama kepada advokat dan paralegal LBH GP Ansor serta seluruh pengurus dan kader GP Ansor dan Banser, sebagai berikut:

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri! (Sumber Gambar : Nu Online)
LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri! (Sumber Gambar : Nu Online)

LBH GP Ansor: Stop Main Hakim Sendiri!

?

1. Fenomena tindakan main hakim sendiri di Indonesia tidak dapat dipandang remeh karena frekuensinya terbukti sangat tinggi. Sebagai gambaran, data terakhir Sistem Nasional Pemantauan Kekerasan (SPNK) saja menunjukkan jumlah insiden main hakim sendiri di 34 Provinsi sepanjang Maret 2014 s.d. Maret 2015 sebanyak 4.723 insiden, dengan jumlah korban tewas 321 jiwa. Data tersebut ditambah dengan fakta-fakta brutalitas dalam insiden-insiden yang terjadi belakangan ini semestinya cukup untuk menyadarkan kita bersama bahwa tindakan main hakim sendiri ini adalah persoalan serius yang butuh penanganan segera;

Haedar Nashir

2. Tindakan main hakim sendiri hendaknya tidak dilihat semata-mata pelanggaran hukum sebagaimana pada umumnya. Tindakan main hakim sendiri yang kerap terjadi adalah ancaman serius terhadap sistem hukum itu sendiri, karena terus menggerogoti wibawa hukum dan aparat penegak hukum. Oleh karenanya, LBH GP Ansor mendorong lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk segera merespon dengan mengevaluasi dan merevisi norma hukum dan sanksi hukum, baik melalui legislasi maupun penemuan hukum (Rechtsvinding), guna semakin menimbulkan efek jera (detterent effect);

Haedar Nashir

3. Tindakan main hakim sendiri, terlebih yang melampaui batas dan yang tidak berperikemanusiaan, jika terus dibiarkan maka akan semakin merusak keadaban publik serta berpotensi menambah kerawanan sosial di masyarakat dalam bentuk konflik yg berkepanjangan. Oleh karenanya, warga negara yang patuh hukum seyogyanya mengambil peran lebih aktif dalam mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri dan timbulnya bibit-bibit konflik sosial. Dalam rangka itu, LBH PP GP Ansor menyerukan kepada khususnya seluruh Advokat dan Paralegal LBH GP Ansor, juga kepada seluruh pengurus dan kader GP Ansor dan Banser untuk secara pro-aktif menjadi mediator dan rekonsiliator konflik di masyarakat serta berkoordinasi dan bekerjasama dengan Kepolisian Republik Indonesia guna mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri demi mewujudkan keadaban publik;

?

"Demikian seruan ini kami sampaikan," ujar M. Alfarisi Fadjari dari LBH PP GP Ansor. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Pertandingan Haedar Nashir

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Jakarta, Haedar Nashir



Kementerian Agama resmi meluncurkan Aplikasi Al-Qur’an Digital Kementerian Agama.

Peluncuran dilakukan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersamaan dengan diselenggarakannya Seminar Internasional Al-Qur’an di Jakarta, Selasa (30/8), sebut keterangan tertulis Kemenag.

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Resmi Luncurkan Al-Qur’an Versi Digital

Peluncuran aplikasi Al-Qur’an ini ditandai dengan penekanan tombol Enter aplikasi oleh Menag disaksikan oleh Kabalitabangdiklat Abdurrahman Masud dan Dirjen BImas Islam Machasin.

Dikatakan Menag, aplikasi Al-Qur’an ini diharapkan dapat memberikan kemudahan umat Islam dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik dalam bentuk bacaan maupun pemahaman.

Haedar Nashir

"Saya berharap langkah awal peluncuran aplikasi ini dapat terus dikembangkan dari segi teknis dan kontennya, sehingga membantu masyarakat luas untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an," ucap Menag.

Menag mengatakan, upaya memelihara kesahihan Al-Qur’an tidak hanya dilakukan dalam bentuk teks/tulisan mushaf, tetapi juga dari segi maknanya. Di era digital yang penuh keterbukaan, ujar Menag, informasi apa pun dengan mudah diterima oleh masyarakat, tak terkecuali pemahaman keagamaan.

Menurutnya, informasi itu tidak selalu bermuatan positif, tetapi juga bisa berupa propaganda kebencian dan kekerasan yang tersebar melalui media sosial, kenyataan ini sulit dibendung.

Oleh karena itu, ujar Menag, pemerintah terus berupaya mengimbangi derasnya arus pemahaman keagamaan yang ekstrem dengan menyediakan berbagai literatur berisi pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an yang moderat, toleran dan menghargai keragaman, melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

"Atas kenyataan dimaksud, dengan penuh rasa bahagia, hari ini, bersamaan dengan seminar internasional Al-Qur’an dalam rangka memperingati 1.450 tahun turunnya Al-Qur’an, Kementerian Agama mempersembahkan kepada masyarakat aplikasi Al-Qur’an digital yang dilengkapi dengan terjemah dan tafsirnya," ujar Menag.

Haedar Nashir

Aplikasi Al-Qur’an Kemenag ini selanjutnya dapat didownload di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag.

Sementara itu, Pjs. Ketua Lajnah Pentashian Mushaf Al-Quran Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, Muchlis Hanafi menjelaskan, pengguna ponsel smartphone dapat mengunduhnya aplikasi Al-Qur’an di Google Play Store (smartphone berbasis Android) dan secepatnya nanti juga bisa di AppStore dan Windows Phone Store.

Dikatakan Muchlis, aplikasi generasi pertama ini menyajikan teks Al-Qur’an lengkap 30 juz, aplikasi ini juga dilengkapi dengan terjemahan. Selain itu, juga di lengkapi dengan tafsir dalam dua varian: Tahlili (30 juz) ataupun tafsir ringkas.

Fitur lainya yang tersedia di aplikasi ini, yaitu suara murattal Al-Quran dari Syekh Mahmud Khalil al-Hushary. Dan Tulisan Al-Quran yang digunakan dalam aplikasi ini, terang Muchlis, bersumber dari Mushaf Attin yang mengikuti Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia.

"Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia adalah Mushaf Al-Qur’an yang dibakukan cara penulisan teks, harakat, tanda baca, dan tanda waqafnya sesuai dengan hasil yang dicapai Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Qur’an yang berlangsung sebanyak 9 kali dari tahun 1974 s.d. 1983, dan dijadikan pedoman bagi mushaf Al-Quran yang dicetak dan diterbitkan di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Agama," jelas Muchlis.

Ada pun terjemahan Al-Qur’an yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari Al Qur’an dan Terjemahnya yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Kementerian Agama. Sedangkan Tafsir Tahlili yang terdapat dalam aplikasi ini bersumber dari Al Quran dan Tafsirnya yang diterbitkan Kementerian Agama.

Sementara itu, untuk fitur Tafsir Ringkas Al Qur’an Al-Karim adalah sebuah buku hasil kajian tafsir yang disusun oleh tim yang dibentuk Kementerian Agama bekerjasama dengan Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Saat ini, tafsir ini baru hadir satu jilid yang terdiri juz 1 - 15. Adapun jilid kedua yang berisi juz 16-30.

"Aplikasi ini akan terus dikembangkan dan ditambahkan nanti juga ada tafsir tematik, tafsir ilmi dan lain sebagainya. Juga akan ada fitur Asbabun Nuzul yang terdapat dalam aplikasi ini berasal dari buku Asbabun Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Quran yang diterbitkan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Kementerian Agama pada tahun 2015," ucap Muchlis yang berharap demi pengembangan aplikasi ini, saran dan masukan dari masyarakat melalui email lpmajkt@kemenag.go.id. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Lomba, News Haedar Nashir

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban

Jika ada masalah di suatu negara, organisasi atau lembaga, yang memiliki tanggung jawab paling besar atas kinerja adalah pemimpinnya. Kualitas seorang pemimpin menentukan capaian atas organisasi yang dipimpinnya. Karena itulah upaya merekrut pemimpn yang terbaik dalam setiap tingkatan menjadi tema besar yang dibahas oleh para ahli dari waktu ke waktu. Menemukan orang yang tepat untuk memimpin berarti sudah menyelesaikan setengah dari pekerjaan.

Secara teknis, banyak orang yang memiliki kemampuan manajerial, tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah mencari orang yang amanah, yang dapat dipercaya untuk menjalankan visi dan misi lembga yang dipimpinnya. Keberhasilan seorang pemimpin adalah ketika ia menempatkan amanah yang dipercayakan kepadanya di atas kepentingan pribadinya, bukan sekedar soal keahlian teknis bagaimana mengelola orang lain. Lembaga pendidikan, banyak mengajarkan bagaimana teknik-teknik kepemimpinan. Nilai kepemimpinan, lebih banyak dilahirkan dalam ajaran agama dan moral.

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencari Pemimpin yang Berani Berkorban

Momentun hari raya Idul Adha ini mengingatkan kembali tentang pentingnya kemauan pemimpin untuk bersedia berkorban atau menunda kepentingan pribadinya demi kepentingan yang lebih besar. Kebanyakan orang yang berebut untuk menjadi pemimpin dikarenakan motivasi untuk kaya, terkenal, berkuasa, atau motif-motif pribadi lainnya, sekalipun retorika yang diucapkan adalah demi kepentingan rakyat atau masyarakat. Perilaku yang ditampilkan ketika memimpin adalah membuat kebijakan yang menguntungkan dirinya atau dalam banyak kasus adalah melakukan tindakan korupsi.

Nabi Ibrahim dan Ismail telah memberi teladan kepada kita, bagaimana bapak dan anak atau pemimpin dan pengikut ini mematuhi ketetapan yang Maha Kuasa untuk mengorbankan apa yang paling mereka cintai, yaitu anak kesayangan bagi Ibrahim dan bahkan hidup itu sendiri bagi Ismail. Nabi Ismail bersedia menjalani perintah ayahnya karena adanya keyakinan penuh bahwa perintah yang dilakukan mengandung kebenaran, apa pun risikonya. Ujian akan? pengorbanan diri tersebut berakhir dengan kebahagiaan ketika malaikat datang menggantikan Ismail yang akan disembelih dengan kambing.

Haedar Nashir

Pesan inilah yang setiap tahun kita ulang-ulang melalui perayaan Idul Adha. Sayangnya, pesan paling inti tersebut tak banyak menginspirasi para pemimpin untuk meniru Nabi Ibrahim. Bukan berarti Idul Adha tidak memiliki makna, pembagian daging kurban bagi fakir miskin tetap memberi sesuatu yang berharga, sekalipun hanya bisa menikmati daging kurban selama beberapa dalam satu tahun. Jika pemimpin memiliki integritas sehingga pengikutnya percaya, maka orang-orang yang termarginalkan bukan hanya bisa makan daging satu-dua hari pada Idul Adha, tetapi mereka akan berdaya dan memiliki pilihan makan apa saja yang dikehendaki, kapan saja dia mau. Itulah yang terjadi pada negara-negara yang sudah sejahtera.

Haedar Nashir

Kini, yang banyak terjadi adalah, pemimpin yang tidak mau berkorban dan karena tingkat kepercayaan pengikut terhadap pemimpin yang rendah, mereka juga tidak mau berkoban. Akhirnya masing-masing pihak berusaha memanfaatkan segala kesempatan yang ada untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dengan kasat mata, kita melihat para pemimpin yang hidup bermewah-mewahan berupa rumah besar, mobil mahal, makanan dan pakaian kelas satu sementara di sisi lainnya, rakyat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan. Masyarakat merasa hidup dalam kondisi tidak aman, saling curiga satu sama lain karena masing-masing mencari kelengahan orang lain untuk keuntungan pribadi. Sesungguhnya, para pemimpin pun sekarang juga merasa hidup tidak aman karena perilaku penyalahgunaan wewenangnya kapan saja bisa terkuak. Sekarang atau ketika sudah selesai menjabat.

Dalam situasi saling menyendera ini, apa yang harus dilakukan. Pemimpin mementingkan diri sendiri dan rakyat berusaha berusaha mengambil segala kesempatan yang ada. Apakah kerusakan akan dibiarkan sampai taraf yang menghancurkan atau semua pihak bersedia berkorban untuk memperbaiki yang ada. Idealnya semua? pihak menyadari permasalahan yang ada, lalu bersama-sama memperbaiki keadaan. Tetapi kondisi ideal tersebut susah tercapai. Karena itu, pemimpin harus mulai membangun kepercayaan bahwa segala kebijakan dan tindakan yang dilakukan untuk kepentingan orang banyak. Dan itu membutuhkan waktu yang panjang karena rakyat sudah bosan dibohongi terus menerus oleh pemimpinnya. Jika modal dasar kepercayaan tersebut sudah diperoleh, maka pelan tapi pasti rakyat akan mengikuti pemimpin dan negeri ini akan bisa maju dengan cepat.

Tapi yang pasti pengorbanan itu harus kita mulai dari masing-masing kita sendiri, menyebarkannya kepada orang terdekat, dan dari waktu ke waktu meluas. Jangan sampai kita berteriak-teriak meminta perubahan sedangkan diri kita sendiri tidak mau berubah. (Ahmad Mukafi Niam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Tokoh, Sejarah Haedar Nashir

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Banyuwangi, Haedar Nashir



Setelah beberapa hari lalu jajaran Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program LAZISNU yang bertajuk "Koin Bakti NU". Kini perwakilan pengurus LAZISNU MWC NU Kecamatan Banyuwangi membagikan puluhan kaleng bersticker "Koin Bakti NU" atas bantuan IPNU-IPPNU tingkat kecamatan, di beberapa perwakilan pengurus inti MWC NU Kecamatan Banyuwangi, banom, lembaga dan puluhan Alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Senin (17/4).

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Mulai Sebarkan Koin Bakti NU

Pasalnya sebelum menggerakkan ? keterlibatan pengurus dan banom NU di ranah ranting, perlu jajaran pengurus di tingkat MWC untuk memberikan teladan melakukan ini.?

"Berawal dari pengurus sendiri, setelah itu baru pada ranah akar rumput yaitu pengurus dan anggota di tingkat ranting NU di Kecamatan Banyuwangi," terang Wakil Ketua Tanfidziyah Haikal Kafili.

Haikal menegaskan, program ini patut dilaksanakan sesegera mungkin supaya organisasi ini dapat lebih mandiri pada setiap pelaksanaan rencana kegiatan yang sedang dan akan dilakukan. "Hakikinya program ini dari umat untuk umat. Tak mungkin disalahgunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi," tegas Haikal.

Selain itu, berdasarkan pengalaman kendala-kendala tahun lalu, diantaranya adalah kurang istikomahnya pengurus LAZIS untuk turun ke bawah guna menariki kaleng yang telah disebar, sambung Haikal.

Haedar Nashir

"Karenanya butuh kerja sama antar banom khususnya IPNU dan IPPNU di tingkat kecamatan ? dalam hal penarikan. Selain, nanti juga akan dibantu oleh kader-kader alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU). Ini antisipasi permasalahan kurangnya ke-istikomah-an pengurus untuk turun ke bawah (turba)," tutur Haikal.

Ditambah masih ada permasalahan, katanya, yaitu kurangnya profesionalitas dalam mengelola keuangan yang telah terkumpul. "Karenanya kita tunjuk salah satu pengurus NU yang berprofesi di salah satu bank konvensional untuk membantu mengelolanya. Selain itu, kita juga bisa gabungkan sarjana-sarjana IPNU-IPPNU lulusan manajemen dan akuntansi. Insyaallah dengan ini, semua akan jauh lebih baik," yakinnya.

Begitu juga kita akan anggarkan dana untuk pembuatan laporan keuangan setiap bulan. Di mana laporan tersebut dilaporkan saat malam lailatul ijtima satu bulan sekali, katanya.

"Ini menambahkan akuntabilitas kinerja pengurus kepada setiap anggota. Supaya kita semua terbuka untuk saling percaya," tegasnya.

Haedar Nashir

Nanti ketika dana awal ini sudah terkumpul, terkait penggunaannya ? terbagi dua kategori. Pertama digunakan untuk kepentingan perjalanan program organisasi, jelas Haikal.

"Artinya, ketika lembaga atau banom akan melaksanakan kegiatan akan mendapatkan kucuran dana bantuan dari LAZIS sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZIS. Juga dapat digunakan sebagai bakti sosial, program beasiswa, dan pemberian dana untuk modal usaha bagi warga Nahdliyin yang kurang mampu," tuturnya.

Dan yang kedua, kata Haikal, dibutuhkan untuk kebutuhan administrasi antar lembaga dan banom, besarannya sesuai dengan kesepakatan pengurus LAZISNU.?

"Karena administrasi tak kalah penting sebagai dokumentasi perjuangan," tutup Haikal. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Ubudiyah, Sholawat Haedar Nashir

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

Jakarta, Haedar Nashir



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta masyarakat bersabar agar densus bisa membuktikan bahwa Siyono memang benar-benar teroris.?

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Beri Kesempatan Densus Tunjukkan Siyono Teroris

“Terorisme adalah musuh negara, siapapun orangnya. Densus 88 perangkat negara. NU, Muhammadaiyah merupakan kekuatas sipil yang di luar wilayah negara. Oleh karena itu, dalam kasus Siyono, berikan kesempatan kepada Densus. Buktikan itu teroris. Kalau itu terbukti, maka NU berada di belakang negara,” katanya di gedung PBNU, Kamis.?

Kiai Said mengakui, idealnya siapapun yang melanggar hukum, ditangkap hidup-hidup dan kemudian diadili. Maka yang memutuskan kemudian adalah pengadilan.?

“Tapi kadang sering terjadi dalam keadaan darurat, Densus sendiri juga manusia biasa, maka terjadi seperti ini,” paparnya.?

Karo Penmas Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan Siyono ditangkap Tim Densus 88 Antiteror Polri pada Selasa (8/3) yang merupakan pengembangan dari tersangka T alias W.

Haedar Nashir

Ketika diminta menunjukkan senjata api yang sudah diserahkan kepada orang lain, ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah dan orang yang dimaksud.?

Haedar Nashir

Akhirnya, setelah pencarian gagal, mereka balik lagi dan di dalam mobil, terjadi perkelahian. Siyono akhirnya dapat dikendalikan disertai dengan kelelahan dan lemas.?

"Ternyata nyawa tersangka tidak dapat ditolong dan meninggal dunia di rumah sakit. Selanjutnya jenazah dibawa ke Rs Polri Kramatjati, Jakarta," ucap Agus seperti dikutip dari detik.com. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Nahdlatul Haedar Nashir

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah

Depok, Haedar Nashir



Pengurus Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama Kota Depok menggelar doa Qunut Nazilah untuk Rohingnya di masjid Baitul Kamal, Kamis (7/9). Pada kesempatan tersebut pembacaan doa dipimpin Ustadzah Luluk Muflikhah dan dibimbing KH Fathuri. 

"Melalui pembacaan Qunut Nazilah pada pengajian bulanan ini, kita berharap agar agar tragedi ini segera berakhir dan saudara Muslim Rohingya bisa kembali hidup dalam keadaan aman," ujar Ketua PC Muslimat NU Depok Hj. Dewi Syarifah.

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Konflik Myanmar Berakhir, Muslimat NU Depok Bacakan Qunut Nazilah

Menurutnya, krisis kemanusiaan yang menimpa saudara Muslim Rohingya tentu membuat dunia prihatin.  Bangsa Indonesia juga merasakan keprihatinannya dengan mengirimkan  Menteri Luar Negeri untuk menyampaikan pesan dan ikut memberi solusi. 

Muslimat NU menyambut bangga relawan yang dikirim PBNU untuk bertugas memberi bantuan kemanusiaan. 

Haedar Nashir

"Selanjutnya PCNU Depok berkiprah dalam penggalangan dana . Kami Muslimat NU adalah bagian dari PCNU, merasa sedih dan sangat prihatin. Yang bisa kami lakukan memohon kepada Allah SWT agar tragedi ini segera berakhir. Kita juga mengadakan pengumpulan dana spontanitas yang akan dititipkan ke PCNU Kota Depok. Kami juga mengajak anggota Muslimat NU di Anak Cabang dan Ranting untuk berempati setidaknya melakukan doa bersama di Majlis Talim masing-masing," terangnya.

Hal senada diutarakan Sekretaris PC Muslimat NU Depok Hj. Neni Argaeni menilai bahwa kasus Rohingnya adalah tragedi kemanusiaan yang akan mengusik perasaan siapa pun mengetahuinya. 

Haedar Nashir

Ia menambahkan, sebagai seorang ibu tentu tahu bagaimana beratnya menghadapi kekacauan ini. 

"Anggota keluarga yang berserakan, tempat tinggal tidak layak, terkatung-katung di perjalanan yang sangat melelahkan lapar dan dahaga yang mendera. Serta ketakutan akan ketidakpastian masa depan. Untuk itu, Muslimat NU Depok turut mendoakan agar semua penderitaan ini segera berakhir dan semua pihak bisa membantu mencari jalan keluar yang terbaik demi rasa kemanusiaan,"tandasnya. (Aan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Senin, 30 Oktober 2017

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren

Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah adalah kitab mungil karangan Syekh Mahmud Mukhtar Al-Bode, ulama dari Cirebon. Kitab ini merupakan terjemah dari kitab Matan Al-Ajruymiyyah yang ditulis dalam bentuk syair berbahasa Jawa dengan menggunakan bahar Rajaz.

Kitab Matan Al-Ajrumiyyah sendiri adalah kitab ringkas yang memuat pokok-pokok ilmu Nahwu. Kitab untuk pemula ini telah tersebar di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Penulisnya adalah ulama besar Maroko pada zamannya, yaitu Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad Ibnu Ajrum As-Shanhaji (672 H-723 H).

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Nazham Al-Ajrumiyyah Jawa dari Cirebon Ini Jadi Kurikulum Nahwu di Banyak Pesantren

Dalam kata pengantar kitab Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah, Syekh Mahmud Mukhtar berkata,

Haedar Nashir

"Wa badu ikilah tarjamah Jurmiyyah ** kanggo pelajar madrasah ibtidaiyyah

Kang masih ora ngerti bahasa Arab ** jalaran ora kulino ngaji kitab

Haedar Nashir

Mulo podo ngajio kitab ulama ** luwih penting tinimbang ilmu dirgama

Akeh wong kang pinter ilmu dirgamane ** tapi bodoh ilmu syara agamane

Ing hale ilmu syara fardlu hukume **  ngaweruhi tinimbang ilmu umume

Zaman kewalik barang haq dadi batal ** salah dadi bener harom dadi halal

Wenang dadi ferdlu menang dadi kalah ** bidah dadi sunah koyo mutazilah

Akeh wong ahlis sunah pengakuane ** tetapi bidah amal perbuatane

Mugo-mugo Allah maringi hidayat ** lan maringi terjemah iki manfaat
"

Artinya, "Wa badu, ini adalah terjemah kitab Al-Ajrumiyyah yang diperuntukkan kepada pejalar madrasah ibtidaiyyah, pelajar yang masih belum paham bahasa Arab karena tidak terbiasa mengkaji kitab.

Maka, pelajarilah kitab para ulama. Hal ini lebih penting daripada (mempelajari) ilmu umum.

Banyak orang yang pintar dalam ilmu umum, akan tetapi dia bodoh dalam ilmu syariat agamanya. Padahal yang hukumnya wajib adalah mempelajari ilmu syariat, bukan ilmu umum.

(Sekarang) adalah zaman yang terbalik. Hal yang haq jadi bathil. Salah menjadi benar. Haram jadi halal. Jaiz menjadi wajib. Menang jadi kalah. Bidah menjadi sunah, seperti Mutazilah. Banyak orang yang mengaku Ahlussunah, tetapi yang diperbuat adalah hal-hal bidah.

Semoga Allah menganugerahi kita hidayah dan menjadikan terjemah ini bermanfaat."

Kitab yang diterbitkan Pondok Pesantren Darul Ulumisy Syariyyah Bode Plumbon Cirebon dalam 16 halaman ini terdiri atas 26 bab yang memuat 171 bait. Ke-26 bab itu adalah Muqaddimah (10 bait), Babul Kalam (8 bait), Al-Irab (5 bait), Marifatu Alamatil Irab (25 bait), Al-Afal (10 bait), Al-Fail (6 bait), Naibul Fail (4 bait), Al-Mubtada wal Khabar (8 bait), Kana wa Akhawatuha (3 bait), Inna wa Akhawatuha (2 bait), Zhanna wa Akhawatuha (3 bait), An-Natu (2 bait), Al-Marifah wan Nakirah (13 bait), Al-Athf (3 bait), At-Taukid (3 bait), Al-Badal (4 bait), Al-Maful Bihi (7 bait), Al-Mashdar (5 bait), Az-Zharaf (7 bait), Al-Hal (3 bait), At-Tamyiz (2 bait), Al-Istitsna (13 bait), La (7 bait), Al-Munada (7 bait), Al-Maful min Ajlih (2 bait), dan dipungkasi dengan Babul Maful Maah (9 bait).

Berikut adalah contoh untaian bait Nahwu dalam kitab,

"Huruf Khofadl Yoiku Min Fi An Ala *** kaya mengkono Rubba Ba Kaf Lam Ila"

Artinya, "Huruf Khofadl (Jar) adalah Min, Fi, An, dan Ala. Begitu juga Rubba, Ba, Kaf, Lam, dan Ila."

Kitab Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah sudah menyebar di berbagai daerah. Tidak hanya itu, kitab ini juga dijadikan kurikulum wajib banyak pesantren di Jawa, di antaranya adalah Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Banyumas Jawa Tengah. Di pesantren asuhan Sidna KH Zuhrul Anam Hisyam ini kitab karya Syekh Mahmud Mukhtar ini menjadi kurikulum wajib yang harus dihafalkan setiap santri. Para santri Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 selalu melalar hafalannya secara berjamaah setiap hari sebelum memulai pelajaran.

Syekh Mahmud Mukhtar adalah ulama asal Desa Bode, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Kiai satu ini terbilang sangat produktif dalam menulis kitab. Selain Nazham Tarjamah Al-Ajrumiyyah, ia juga menulis puluhan kitab dalam berbagai fan ilmu lainnya. Kebanyakan kitab tersebut ditulis berupa nazham (puisi), baik dalam bahasa Arab maupun Jawa. Di antara kitab karangan Syekh Mahmud Mukhtar adalah Nafhat al-Ithr fi Qishshatil Khadlir, Qashidatul Awam fil Istighatsati bil Auliyail Alam yang mempunyai nama lain At-Tiryaqul Mujarrab bil Waliyyil Muqarrab, Syarhus Shadr fit Tawassuli bi Ahlil Badr, Ianatur Rafiq ala Nazhmi Sullamit Taufiq, Burdatul Mukhtar fi Nazhmi Tarikh Khairil Akhyar, Manzhumatud Durratis Saniyyah fi Ilmit Tafsir, Bidaul Masajid, Kifayatu Ghulam fi Ma Yajibu Alaihi minal Ahkam, Tarjamatul Mahmud linazhmil Maqshud, dan Ghayatuz Zain lil Muhtadin Nadzm Qurratul Ain bimuhimmatid Din.

Alfaqir (Penulis) meriwayatkan seluruh kitab-kitab Syekh Mahmud Mukhtar dengan ijazah dari Kiai Habib bin Makhmud Mukhtar, dari penulisnya. Ijazah ini alfaqir dapatkan sewaktu sowan ke kediaman Kiai Habib di Bode Plumbon Cirebon pada akhir Ramadlan 1438 H yang bertepatan pada bulan Juni 2017 M.

Syekh Mahmud Mukhtar wafat di Bode pada 2008 M. Ia dimakamkan di depan rumahnya, di samping masjid dan pesantren Darul Ulumisy Syariyyah, pesantren yang asuhannya semasa hidup. Rahimahullah Taala wa nafaana bi ulumihi. Amin. (Direktur Turats Ulama Nusantara Nanal Ainal Fauz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Tahun 2001 silam, angin kencang berhembus kepada Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sampai-sampai berbagai cara dilakukan oleh lawan politiknya untuk melengserkannya dari jabatan orang nomor satu di Indonesia, termasuk kriminalisasi.

Namun hingga sekarang, hukum tidak pernah bisa membuktikan bahwa Presiden Gus Dur bersalah dalam kasus yang dilemparkan oleh lawan politiknya di Parlemen. Sehingga kasus Gus Dur murni politisasi.

Baik secara hukum pidana maupun tata negara, Gus Dur tidak jatuh pada kasus Bulog dan Brunei seperti yang dituduhkan parlemen. Penjatuhan Gus Dur adalah persoalan pertarungan politik dimana yang satu kalah yang satu menang. Bukan soal hukum yang satu benar, yang satu kalah. Dan Gus Dur kalah dalam pertarungan politik itu, karena dikeroyok ramai-ramai.

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Surat Sakti Lurah Gambir

Gus Dur saat itu berpikir daripada perang saudara hanya gara-gara mempertahankan jabatan duniawi, lebih baik ia mundur dari jabatan Presiden RI. Mundur bukan karena mengalah, tetapi Gus Dur lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan negara. Sebab, jutaan rakyat Indonesia kala itu akan membela mati-matian agar Gus Dur tetap pada tampuk pimpinan tertinggi negara.

Gus Dur sekuat tenaga menahan amarah rakyat yang mendukung penuh dirinya. Namun, Gus Dur masih belum menemukan alasan yang tepat untuk keluar dari Istana Negara kala itu. Karena yang dituduhkan parlemen jelas tidak bisa diterima, sebab inkonstitusional dan tidak rasional (irrasional).

Yang menarik dalam persitiwa itu adalah cara Gus Dur yang menolak untuk menjadikan pelengseran itu sebagai tragedi personal. Ia tak merengek atau curhat di depan publik terkait dengan serangan politik terhadapnya. Sikap Gus Dur masih nampak sama, dengan logika komunikasi publik yang gitu saja kok repot.?

Haedar Nashir

Dalam sebuah acara, Gus Dur pernah bercerita tentang perbincangannya dengan Luhut Pandjaitan. Saat itu Gus Dur bercerita pada Luhut tentang hukum Islam yang mengatur bahwa kalau orang diusir dari rumahnya dia harus melawan, kalau perlu dengan menggunakan kekerasan. Namun karena Gus Dur tak ingin mengambil jalan kekerasan, dia lalu meminta bantuan Luhut untuk menguruskan surat perintah pengosongan Istana Negara dari kantor Kelurahan Gambir karena Istana Negara berdomisili di Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Karena pengosongan Istana adalah kehendak pemerintah setempat yang sah, maka Gus Dur tak perlu melawan sama sekali. Kewajiban mempertahankan “rumah” pun gugur. Urusan selesai, dan Gus Dur keluar dari Istana tanpa gejolak. Gus Dur tak menjadikan pelengseran dirinya sebagai beban personal.

Dalam perbincangan lain dengan KH Maman Imanulhaq, Gus Dur ditanya kenapa harus membuat surat perintah dari Lurah Gambir? "Supaya nanti ketika di hadapan Allah ditanya, kenapa kamu meninggalkan Istana Negara? Tinggal saya jawab: monggo (silakan) ditanya saja ke Lurah Gambir,” ujar Gus Dur.?

Itulah Gus Dur, sang Guru Bangsa. Bukannya susah payah mengumpulkan energi politik untuk melawan kekuatan para pengeroyok, Gus Dur justru menegaskan pada orang di sekitarnya bahwa “tak ada kekuasaan yang begitu berharga hingga harus dipertahankan dengan darah.” Bangsa Indonesia patut mencatat bahwa berbeda dengan kejatuhan Bung Karno dan Pak Harto yang diawali dan/atau disusul dengan konflik sosial yang berdarah-darah, pelengseran Gus Dur di tahun 2001 justru berjalan aman karena langkah brilian kemanusiaan (humanisme) yang ada pada diri Gus Dur.

Haedar Nashir

Inilah refleksi paling konkret dari visi kemanusiaan yang secara ajeg ditunjukkan oleh Gus Dur. Bagi putra sulung KH Abdul Wahid Hasyim da cucu Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari ini, kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Dalam hal ini, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat dan sama sekali tak berkehendak mengorbankan kemanusiaan itu demi kepentingan kekuasaan.

(Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Cerita, AlaNu Haedar Nashir

Minggu, 29 Oktober 2017

KMNU Belanda Sorot Posisi Indonesia di Tengah Konflik Palestina-Israel

Amsterdam, Haedar Nashir - Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Belanda merespon konflik Palestina dan Israel yang makin memanas saat ini. Bekerja sama dengan PPI Amsterdam dan ILUNI UI, KMNU Belanda menggelar diskusi publik bertajuk Palestina Merana, Indonesia Harus Bagaimana? di Kampus Vrije Universiteit Amsterdam, Senin (31/7).

Hadir sebagai narasumber aktivis Lakpesdam NU Belanda Hadi Rahmat Purnama (Kandidat Ph.d bidang Transnational Legal Studies, Faculty of Law, Vrije Universiteit Amsterdam) dan Ketua KMNU Belanda Dito Alif Pratama (Kandidat Master bidang Peace, Trauma and Religion, Vrije Universiteit Amsterdam). Forum ini dimoderatori oleh Abdullah Muslich Rizal Maulana (Kandidat Master bidang interreligious studt, Vrije Universiteit Amsterdam).

KMNU Belanda Sorot Posisi Indonesia di Tengah Konflik Palestina-Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Belanda Sorot Posisi Indonesia di Tengah Konflik Palestina-Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Belanda Sorot Posisi Indonesia di Tengah Konflik Palestina-Israel

Hadi Purnama yang juga Ketua ILUNI UI menjelaskan pentingnya melihat konflik ini dari dua sudut pandang hukum internasional, pertama peremptorynorms artinya bahwa wilayah mandat mempunyai hak untuk “menentukan nasib sendiri” (self-determination) atau merdeka. Kedua, pelarangan penguasaan wilayah yang dianeksasi melalui perang.

Haedar Nashir

Ia menegaskan bahwa berdasarkan “Partition Plan” Majelis Umum PBB tahun 1947, 43% wilayah mandat Palestina adalah klaim sah dari populasi Arab, maka dari itu tambahan 25% klaim wilayah dari Israel atas wilayah Palestina setelah perang kemerdekaan Israel tahun 1948 adalah tidak sah.

Hal ini diperkuat oleh Resolusi 242 dan 338 dari Dewan Keamanan PBB yang mengharuskan Israel untuk mundur sampai garis Armistice 1949 bukan garis yang sesuai dengan “Paritition Plan” 1947. Di sisi lain dalam Perjanjian Oslo 1988 dan 1993, PLO? mengakui batas wilayah Israel yang diperluas.

Haedar Nashir

Oleh karenanya, pemukiman Israel yang saat ini berada di wilayah Palestina dan Jerusalem Timur merupakan pelanggaran atas kesepakatan antara Israel dan PLO. Hal ini diperkuat oleh Putusan Mahkamah Internasional (MI) pada tahun 2004 tentang “Legal consequences of the construction of a wall in the ocuppied Palestian territory.

Ia menegaskan bahwa tindakan Israel dan negara-negara pendukungnya yang menolak resolusi Majelis Umum PBB merupakan pelanggaran hukum internasional yang serius.

Hadi menegaskan, pemerintah Indonesia harus konsisten untuk mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak boleh goyah sedikitpun.

“Yang penting dan harus kita lakukan saat ini adalah konsisten dengan langkah politik yang kita pilih. Kalau saat ini kita mendukung kemerdekaan Palestina dan menolak hubungan diplomatik dengan Israel, langkah ini yang harus terus kita pertahankan, sampai nantinya suasana berubah, yaitu saat konflik Israel-Palestina mereda, Palestina merdeka secara utuh, baru kita pikirkan langkah membangun hubungan diplomasi dengan Israel,” kata Hadi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian Haedar Nashir

Awan NU Lampung Terbitkan Buku Prinsip Dasar Transaksi Syariah

Lampung Tengah, Haedar Nashir

Satu lagi buku karya kader muda NU menghiasi khazanah keilmuan di Indonesia. Kali ini buku cocok untuk para peminat meminati kajian ilmu perbankan syariah baik sebagai praktisi maupun akademisi.

Kiai Andi Ali Akbar, salah satu Awan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung masa khidmah 2012 – 2017, menerbitkan buku yang berjudul "Prinsip-Prinsip Dasar Transaksi Syariah ". ?

Awan NU Lampung Terbitkan Buku Prinsip Dasar Transaksi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
Awan NU Lampung Terbitkan Buku Prinsip Dasar Transaksi Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

Awan NU Lampung Terbitkan Buku Prinsip Dasar Transaksi Syariah

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum Kauman, Kotagajah, Lampung Tengah ini, Senin (25/1), mengatakan, buku ini hadir dari kegelisahannya terhadap berbagai problem ekonomi yang berkembang di masyarakat. Andi mengaku termotivasi untuk menampilkan kembali dasar pemikiran ulama salaf tentang sistem akad dan aturan transaksi secara islami.

Haedar Nashir

?

KH Hisyam Syafaat, Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Bayuwangi, Jawa Timur dalam kata sambutannya sangat? mengapresiasi atas terbitnya buku ini. Menurutnya, kiai muda alumnus Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Bayuwangi, Jawa Timur ini menulis dengan dalam gaya bahasa yang sangat mudah, praktis, dan ensiklopedis.

Haedar Nashir

“Semoga buku ini turut memperkaya khazanah ilmu pengetahuan tentang sistem ekonomi Islam di Tanah Air,” katanya. ?

Buku karya Dr Kiai Andi Ali Akbar, M. Ag yang berjudul " Prinsip-prinsip Dasar Transaksi Syariah" diterbitkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Blok Agung, Karang Doro,Tegal Sari, Banyuwangi, Jawa Timur. Buku ini dicetak pertama kali, Mei 2014, dengan nomor ISBN 978–602–142–18–2–6. Editornya adalah Tim Mufada (Musyawarah Fathul Qorib dan Fathul Muin Darussalam) Blok Agung, Jawa Timur. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya ketika memimpin perang shifin. Padahal sebagai panglima, baju itu sangat dibutuhkannya. Maka alangkah gembirannya Ali beberapa hari kemudian tatkala ada yang memberi tahu bahwa baju itu berada di tangan pedagang beragama Yahudi.

Kepada pedagang itu Ali menegur, ”Baju besi yang kautawarkan itu kepunyaanku. Dan seingatku, tidak pernah kuberikan atau kujual kepada siapa pun.”

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Khalifah Ali Kehilangan Baju

Yahudi itu menjawab, ”Tidak baju besi ini milikku sendiri. Aku tak pernah diberi atau membelinya dari siapapun.”

Saling klaim kepemilikkan terjadi berlarut-larut, hingga mereka sepakat membawa perkara itu ke meja hijau. Yang menjabat kedudukan hakim kala itu adalah sahabat Ali yang setia bernama Syuraikh.

Haedar Nashir

Ali mengadu,”Tuan hakim, aku menuntut orang Yahudi ini karena telah menguasai baju besi milikku tanpa sepengetahuanku.”

Syuraikh menoleh ke arah si pedagang Yahudi da bertanya, ”Betulkah tuduhan Ali tadi bahwa baju besi yang berada di tanganmu itu miliknya?”

Haedar Nashir

”Bukan. Baju besi ini kepunyaanku,” sanggah Yahudi berkeras.

”Bohong dia,” ucap Ali agak marah. ”Baju besi itu milikku. Masak aku seorang panglima tidak mengenali baju besiku sendiri?”

Syuraikh menengahi agar Ali tidak berpanjang-panjang. ”Begini, Saudara Ali bin Abi Thalib. Yang terlihat, baju besi itu kini berada dalam penguasaan Yahudi ini. jadi, kalau engkau mengklaim baju besi itu milikmu, engkau harus mengajukan dua saksi atau bukti-bukti lainnya.

”Ada aku punya saksi.”

”Siapa mereka?”

”Anakku Hasan dan Husain,” jawab Ali.

Syuraikh memotong, ”Maaf. Kesaksian anak kandung berapa pun jumlah mereka, tidak sah menurut hukum yang berlaku. Jadi, kalau tidak ada bukti-bukti lain, tuduhanmu itu batal dan baju besi ini mutlak kepunyaan Yahudi ini.”

Vonis dijatuhkan. Tuduhan sang panglima yang juga kepala negara dibatalkan pengadilan. Sementara Yahudi yang tak seagama dengan hakim itu pun memenangkan perkara.

Ketika Syiraikh ditanya mengapa ia tidak memberi keputusan yang menguntungkan Khalifah yang juga orang dekatnya itu, ia menjawab:

”Maaf. Kita ini penggembala. Dan setiap penggembala akan ditanya tentang tanggung jawab penggembalaannya (kullukum raa’in wa kullukum mas-ulun ’an ra’iyyatih).”

Mahbib Khoiron

Disadur dari Hikmah Keprihatinan (KH Abdurrahman Arroisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Sabtu, 28 Oktober 2017

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Solo, Haedar Nashir. Menyambut datangnya bulan Maulud Nabi di tahun 1435 H ini, Pengurus Takmir Masjid Agung Surakarta memeriahkannya dengan menggelar berbagai kegiatan. Menurut Pengurus Masjid Agung Solo, Saiful Hadi, kegiatan sudah dimulai sejak awal pekan lalu (6/1) dan puncaknya akan digelar saat diadakan Grebeg Maulud, Senin (13/1) mendatang.

“Pada malam hari ini, diadakan Pengajian Jamuro (Jamaah Muji Rosul) Surakarta, mengawali kegiatan yang akan berlangsung selama 1 minggu ke depan,” terang Saiful saat memberikan sambutan acara pada pengajian Jamuro, beberapa waktu lalu (6/1).

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid Nabi di Masjid Agung Solo

Setelah itu, menurutnya akan diadakan berbagai rangkaian kegiatan, yang dalam hal ini juga melibatkan Keraton Surakarta.

Haedar Nashir

“Juga ada acara Festival hadrah, lomba dakwah, muazin, tilawah, hafalan, dan kaligrafi yang diikuti oleh anak-anak usia 10-20 tahun.

Tak hanya itu, di Masjid kebanggaan warga Kota Solo ini, selama bulan Maulud ini, juga diadakan pengajian dan pembacaan kitab maulid Al-Barzanji, yang dilaksakan setiap bakda Isya.(ajie najmuddin/mukafi niam)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Jumat, 27 Oktober 2017

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation

Jakarta, Haedar Nashir. Dalam rangka meningkatkan sektor ekonomi mikro yang selama ini kurang tersentuh oleh perbankan, PBNU menjalin kerjasama dengan Rabobank Foundation.

MoU kerjasama tersebut sebelumnya sudah ditandatangani oleh Executive Director Rabobank Foundation Mart Jan Krouwel di Belanda dan kemudian baru ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dengan disaksikan perwakilan Rabobank Foundation Frank Bakx pada hari Rabu, 18 Juli di Gd. PBNU.

Rabobank Foundation merupakan sebuah yayasan yang independen di dalam kalangan Rabobank Group yang sudah ada di 25 negera dengan pendekatan memperkuat lembaga koperatif dan organisasi berbasis anggota. Beberapa program yang telah dijalankan di Indonesia adalah pinjaman kepada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Jatim, Lombok, Toraja, Nias dan Jateng sebagai penasehat sampai dengan memperkenalkan Electronic Data Capture (EDC) untuk transaksi tunai kecil.

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Jalin Kerjasama dengan Rabobank Foundation

Dalam kerjasama ini, terdapat tiga aspek yang akan digarap bersama untuk jangka waktu dua tahun yang meliputi institusional building bagi BPR, membuat pilot proyek Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dan membuka akses terhadap informasi pasar.

Ketua PBNU Ir. Mustofa Zuhad Mughni yang juga direktur utama PT Nusumma Utama menjelaskan bahwa program ini selanjutnya akan diserahkan penyelenggaraannya oleh PBNU kepada PT Nusumma Utama yang kini mengelola 12 BPR Nusumma.

Haedar Nashir

Dalam upaya pengembangan institusional building, Rabobank Foundation yang telah berpengalaman dalam pengembangan koperasi di Belanda akan berbagi pengetahuan, teknologi, pendidikan dan fasilitas training untuk meningkatkan kualitas bisnis BPR.

Cak Mus, panggilan akrab Mustofa Zuhad juga menjelaskan bahwa untuk itu, akan dibentuk sebuah kelompok kerja diantara kedua belah fihak ini untuk menangani institusional building.

Berkaitan dengan pembuatan pilot project KSP, akan didesain, didirikan dan dikelola berdasarkan prinsip koperasi dengan kualitas yang baik yang nantinya diharapkan dapat dijadikan model untuk replikasi. Dalam hal ini, dimungkinkan adanya fihak ketiga yang ditunjuk untuk mengimplementasikannya.

Untuk akses terhadap informasi pasar, Cak Mus menjelaskan ini merupakan upaya untuk mengembangkan UKM, baik yang merupakan klien dari BPR maupun para anggota KSP agar usaha ini semakin berkembang.

Haedar Nashir

Selain penandatanganan MoU ini, juga diselenggarakan Lokakarya Nusumma-Rabobank Foundation dengan tema Meningkatakn Kesejahtaraan Warga NU Lewat LEmbaga Kegiatan Keuangan Mikro dan Koperasi yang diikuti oleh para direktur BPR Nusumma dan para pimpinan koperasi baik KSP atau KSU dari berbagai daerah yang diselenggarakan pada 18-21 Juli. Mereka juga akan mengadakan studi banding ke Koperasi Ponpes At Ittihad di Ciwidey Bandung yang telah berhasil menjadi pemasok sayuran untuk Hero Group. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Kajian, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka

Kedangkalan wawasan, minimnya ilmu serta fanatisme ekstrem terhadap agama, ideologi, madzhab dan paham tertentu acap menyebabkan seseorang bersikap eksklusif. Bahkan ketika bergaul atau bersosialisasi pun orang tersebut tidak mau bertoleransi dengan orang atau kalangan yang berbeda dengan dirinya dalam segi agama, ideologi, madzhab dan perbedaan primordial lainnya. Ironisnya sikap dan pendirian eksklusif seperti itu ternyata juga masih menghinggapi tidak sedikit para tokoh dan pemuka agama.

Tapi tidak demikian dengan sikap KH. Wahid Hasyim. Bagi putra pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini baik perbedaan agama,ideologi maupun perbedaan haluan politik tidak menghalanginya untuk tetap menjalin persahabatan. Terbukti ayah Gus Dur, ini dalam sejarah hidupnya tidak hanya berkawan dengan orang yang berbeda agama. Melainkan beliau juga bersedia berteman dengan Tan Malaka, seorang tokoh pejuang bangsa yang berhaluan komunis. Bahkan Tan Malaka merupakan anggota komintern (jaringan komunis) internasional. ? ? ? ?

Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka (Sumber Gambar : Nu Online)
Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka (Sumber Gambar : Nu Online)

Keakraban KH Wahid Hasyim dengan Tan Malaka

Kisah pertemanan KH. Wahid Hasyim dengan Tan Malaka ini sudah kerap disampaikan Gus Dur dalam berbagai kesempatan. Salah satunya adalah sebagaimana pernah diberitakan oleh koran Duta Masyarakat edisi 28 Januari 2000. ? Berdasarkan informasi media tersebut, Gus Dur selaku Presiden RI tahun 2000 menyampaikan cerita tentang persahabatan antara ayahandanya itu dengan Tan Malaka dihadapan ? umat Hindu saat mereka merayakan pringatan Nyepi di Candi Prambanan. ? ? ?

Waktu itu Gus Dur bercerita, "Ayah saya yang kebetulan seorang kiai sering didatangi orang di waktu sore. Saya ingat betul, saat saya masih kecil, sekitar pukul 7 ada orang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya tanya cari siapa pak?

Tamu yang mengaku bernama Husein tersebut kemudian menjawab bahwa dia mencari ayahnya. Tamu tersebut menurut Gus Dur seperti orang Indonesia lainnya, yaitu juga pakai peci. Kemudian Gus Dur yang masih anak-anak, itu memberitahukan kepada ayahnya yang sedang di dalam bahwa beliau dicari Pak Husein.

Begitu mendengar nama Husein, kata Gus Dur, ayahnya langsung bangun dan menemui tamunya sambil berpelukan mesra. Dan selanjutnya memerintahkan Gus Dur yang waktu itu masih berumur sekitar 4-5 tahun agar meminta ibunya menata hidangan.

Haedar Nashir

Baru belakangan setelah Gus Dur berumur 50 tahun lebih, ibunya mengatakan kepadanya, "Kamu tahu siapa itu pak Husain, yang datang pada malam-malam dahulu, itu Tan Malaka".

Haedar Nashir

Dari pengalaman di atas, menurut Gus Dur, memberikan bekas yang sangat dalam kepada dirinya. Hal itu menambah kuatnya keyakinannya bahwa sudah dari dulu pun nenek moyang kita (bangsa indonesia) sudah demikian saling menghargai.

Gus dur mengajukan alasan, bagaimana tidak saling menghargai. "Banyangkan, Tan Malaka, anggota komintern yang dianggap tidak bertuhan itu datang berpeluk-pelukan dengan seorang kiai. Inilah Indonesia," ungkap Gus Dur dengan nada serius.

Lewat riwayat singkat di atas juga secara implisit memberi pesan bahwa semua komponen dan elemen bangsa ini seharusnya dapat menerima kehadiran yang lain. Bahwa semua golongan dan semua agama juga ikut mendirikan Republik Indonesia atas dasar saling menghargai. Layaknya kemajemukan masyarakat dan pluralisme beragama tetap dihargai.

M Haromain, pengajar di pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, bergiat di Forum Santri Temanggung, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Aswaja Haedar Nashir

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora

Subang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Subang menuntut pemerintah setempat membentuk Dinas Kepemudaan yang terpisah dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora).

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Tuntut Dinas Kepemudaan Terpisah dari Disbudparpora

Hal ini disampaikan puluhan massa PMII Subang lewat aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Subang seiring peringatah hari Sumpah Pemuda ke-85, Senin (28/10).

“Kami minta agar Kabupaten Subang mempunyai dinas kepemudaan tersendiri yang sekarang berbaur dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda Dan Olah Raga. Karena Disbudparpora hari ini tidak becus mengurus kepemudaan,” jelas Ketua PMII Subang Saeful Imron disela-sela unjuk rasa.

Haedar Nashir

Imron mengatakan, peran DPRD yang di dalamnya ada sebuah unit kerja utama yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian, dan kebudayaan itu seharusnya respek dengan kondisi yang ada. “Salah satunya masalah kepemudaan di Kabupaten Subang yang sangat miris kondisinya,” ujarnya.

Sambil meneriakkan yel-yel kecaman terhadap institusi DPRD, PMII menuntut kepada DPRD Subang untuk lebih memperhatikan nasib dan peran pemuda di Kabupaten Subang. “Kami minta agar dilakukan transparansi anggaran untuk OKP, realisasikan UU No 40 tentang kepemudaan dan berdayakan serta buka lapangan pekerjaan untuk para pemuda di Kabupaten Subang,” teriak salah seorang orator PMII, Abdun Nasir.

Haedar Nashir

Plh. Ketua DPRD Subang, Beni Rudiono yang mendatangi para pengunjuk rasa mengatakan apresiasinya kepada PMII Subang yang masih komitmen dalam memperjuangkan cita-cita pemuda di Kabupaten Subang.

“Kami sangat berterima kasih sekali atas kedatangan adik-adik mahasiswa PMII. Tentu ini menjadi cambuk untuk kami agar ke depan peran pemuda benar-benar bisa diperhitungkan untuk kesejahteraan masyarakat. Dan yang menjadi tuntutan itu, pasti akan kami pelajari dulu,” jelas Beny. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Tegal, Kiai Haedar Nashir

Kamis, 26 Oktober 2017

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

Gresik, Haedar Nashir. Penyerasian Almanak Tingkat Nasional dibuka oleh Dirjend Bimas Islam Kementerian Agama RI H Abdul Djamil di Pendopo Kabupaten Gresik, Kamis (9/5) malam. Kegiatan ini digelar oleh Lajnah Falakiyah PBNU dan dihadiri pakar hisab-rukyat NU dari berbagai daerah.

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyerasian Almanak Tingkat Nasional Dimulai

Abdul Djamil mengatakan, penyerasian hisab merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir perbedaan dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan hari raya.

“Berbagai upaya tetap kita lakukan meskipun sampai saat ini belum ada titik temu. Kita tidak akan berputus asa,” katanya kepada Haedar Nashir usai acara pembukaan.

Haedar Nashir

Acara pembukaan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional juga dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum, Bupati Gresik H Sambari Halim dan Wakil Bupati Muhammad Qosim, dan Dirjen Biman Islam Kemenag RI H Abdul Jamil, dan Kasubdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat H. Ahmad Izzuddin.

Rais Syuriyah PCNU Gresik KH Mahfudz Ma’shum mewakili panitia daerah mengatakan, hisab penentuan awal bulan menjadi bagian tugas yang harus dilakukan oleh umat Islam karena berkaitan dengan persoalan ibadah.

Haedar Nashir

“Hukum melakukan hisab adalah fardu kifayah. Semoga para ahli falak mendapatkan pahala yang besar karena berkat mereka ini orang Islam lepas dari dosa,” katanya.

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri mengatakan, sedikitnya ada 20 metode hisab yang berkembang di Indonesia, dan diantaranya memiliki tingkat perbedaan yang cukup signifikan. Maka perlu ada upaya yang disebut oleh NU sebagai “penyerasian hisab”.

“Perbedaan hisab bisa menjadi persoalan. Maka kita lakukan penyerasian hisab atau hisab jama’i yang nantinya akan dipublikasikan dalam bentuk almanak,” kata Kiai Ghazali.

Kegiatan Penyerasian Almanak Tingkat Nasional ini akan berlangsung sampai Sabtu (12/5) besok. Sekretaris Lajnah Falakiyah PBNU H Nahari Muslih mengatakan, kegiatan ini diikuti sedikitnya 60 ahli falak dari berbagai daerah. Sidang akan dibagi ke dalam empat komisi. Dua komini membahas persoalan hisab, dan dua komisi lainnya membahas soal program dan pengembangan Lajnah Falakiyah.

Penulis: A. Khoiru Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Sejarah, News Haedar Nashir

Khofifah Dirayu Gabung ke PPP

Jombang, Haedar Nashir. Hasrat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjadi partai besar di Indonesia yang berbasis NU tak terbendung lagi. Berbagai langkah dilakukan pimpinan PPP agar hajat partai berlambang Ka’bah itu terwujud. Salah satunya dengan merayu bekas Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) MPR yang juga Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Rayuan tersebut dilontarkan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali (SDA) dalam acara ulang tahun Muslimat NU ke-61 dan GP Ansor ke-73, di alun-alun Kota Jombang, Jawa Timur Ahad (4/3) kemarin. Di hadapan warga Nahdiyin (warga Nahdatul Ulama) tampak Menteri Koperasi dan UKM itu duduk berdampingan dengan Khofifah. Dalam kesempatan itu, SDA mencoba melamar politisi PKB itu untuk masuk ke dalam partainya.

Khofifah Dirayu Gabung ke PPP (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Dirayu Gabung ke PPP (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Dirayu Gabung ke PPP

Rayuan tersebut di sambut gelak tawa para hadirin, termasuk anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Saifullah Yusuf yang telah lebih dulu masuk PPP.  SDA mengatakan bahwa hal itu hanya ajakan sebagai kawan lama, karena Khofifah pernah di partainya. “Saya dan Khofifah kawan lama,” katanya singkat.

’’Ansor dan Muslimat harus selalu progresif dalam setiap perjuangannya. Begitu juga untuk urusan politik. Jejak pemuda energik seperti Gus Ipul ini bisa ditiru. Artinya tidak ada salahnya jika afiliasi politik Anda disalurkan lewat PPP,” serunya saat menyampaikan sambutan.

Ajakan mantan Ketua Umum Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang kini menjabat Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) ini disampaikan berkali-kali kepada peserta gerak jalan sehat. Saifullah sendiri hanya tersenyum melihat semangat Suryadharma. “Lha kok jadi acara kampanye, sudah nanti keburu siang. Ayo dimulai acara jalan sehatnya,” celetuk keponakan Gus Dur tersebut memotong pidato Surya.

Haedar Nashir

Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj yang ikut hadir dalam acara tersebut menilai manuver yang dilakukan pimpinan PPP tersebut sebagai hal biasa. Menurut dia, persoalan politik adalah urusan masing-masing individu, serta tidak bisa dipaksakan.

“Kalau memang acara ini jadi ajang kampanye, ya tidak masalah.Yang jelas, kader NU telah mengerti mana partai yang harus mereka ikuti,” katanya. Dia menampik acara tersebut sebagai upaya untuk menggiring kader Ansor dan Muslimat untuk masuk dalam gerbong PPP. Terkait kehadirannya, Said menolak disebut sebagai dukungan terhadap PPP.

Dia mengaku hadir karena murni ingin bersilaturahmi dengan kader-kader NU yang ada di bawah. “Kader NU itu cukup unik. Hampir di semua partai politik banyak massa NU, baik di PKB, PPP, Golkar, atau bahkan PDI Perjuangan. Dan ini tidak perlu dipersoalkan. Sebab, mereka memiliki alasan sendiri-sendiri. Sayyidina Ali dan Muawiyah saat itu juga berbeda. Tapi tidak ada persoalan, to,” ujar Said mencontohkan.

Haedar Nashir

Sementara Khofifah mengaku datang bersama Saifullah dan Suryadharma semata-mata karena alasan organisasi dan pertemanan. Apalagi, acara tersebut merupakan acara Muslimat. ‘’Sudahlah jangan kait-kaitkan kedatangan saya ini dengan urusan politik. Saya ingin konsentrasi ngurusi Muslimat. Jadi jangan dialihkan ke persoalan partai.Terkait kedatangan saya bersama pak Surya, itu karena kami teman sejak lama,” tandasnya.

Pernyataan serupa juga disampaikan musikus Franky Sahilatua yang ikut hadir dalam acara itu. Pencipta lagu-lagu balada yang sebelumnya dekat dengan PKB dan Gus Dur tersebut mengaku sekadar ingin reuni dengan Saifullah, bukan untuk pindah haluan politik

Dari informasi yang berhasil dihimpun, sebelum mendapat lamaran tersebut, Khofifah sempat mendapat teguran keras dari DPP PKB, bahkan sudah diancam direcall, karena pernah menyatakan tertarik hijrah kembali ke partai berlambang Ka’bah itu. Khofifah tercatat sebagai anggota PPP pada periode 1992 hingga 1998.

Meski begitu, anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PPP Saifullah Yusuf yang akrab dipanggil Gus Ipul, yang hadir pada perayaan itu punya pandangan lain, dia merasa yakin jika Khofifah akan menyambut lamaran ketua umumnya dengan bergabung ke PPP.

”Kalau lamaran kaya begini (duduk berdekatan) sudah, tinggal nunggu maharnya saja,” celetuk Gus Ipul yang disambut gelak tawa SDA dan Khofifah. (gp-ansor)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

Waykanan, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Waykanan menyatakan syukur atas pelaksanaan pilkada di daerah setempat yang berlangsung damai dan tertib. Suasana damai pemilihan ini menandai peningkatan pemahaman masyarakat setempat dalam perbedaan pilihan politik.

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

"Pesta demokrasi 9 Desember 2015 telah usai. Patut disyukuri perhelatan di Waykanan berlangsung dan berakhir damai. Suatu penanda proses dan pemahaman demokrasi berlangsung baik di masyarakat," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/12).

Pilkada Waykanan diikuti pasangan nomor urut 1 Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, dan Nasdem. Serta pasangan nomor urut 2 Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Haedar Nashir

Berdasarkan data KPU setempat sebanyak 337.827 pemilih terdiri atas pemilih lelaki berjumlah 172.810. sedangkan pemilih perempuan berjumlah sebanyak 165.017 orang sebagai pemilik suara yang bisa menggunakan suaranya di 780 TPS yang ada.

Berdasarkan hitung cepat Rakata Institute dari data masuk 95,10 persen dengan tingkat partisipasi 67,72 persen, Bustami-Adinata mendulang suara 39,73 persen. Lalu Berani meraup 60,27 persen.

Haedar Nashir

"Jabatan adalah amanah. Siapapun yang terpilih, tugas kami sebagai pemuda adalah berpartisipasi dalam pembangunan, bukan sebaliknya. Ini kami buktikan pada 2015, GP Ansor Waykanan dibantu sejumlah pihak seperti Tim Penggerak PKK, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN," kata Gatot lagi.

Gatot mengucapkan selamat kepada anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Waykanan H Raden Adipati Surya dan Ketua PD Muhammadiyah Waykanan Dr H Edward Anthoni atas perolehan suara terbanyak pada Pilkada 9 Desember 2015. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus

Bandar Lampung, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) adalah salah satu model organisasi dakwah gaya baru yang memfokuskan pergerakan dakwah Ahlussunnah Sunnah wal-Jamaah di kampus-kampus umum.? Setelah dideklarasikan secara nasional pada Januari 2014 lalu, banyak mahasiswa NU di perguruan tinggi tertarik bergabung dengan KMNU, contohnya mahasiswa Politeknik Negeri Lampung (Polinela).

“KMNU merupakan wadah yang sangat relevan menyatukan para anggota Nahdliyin yang selama ini belum memiliki wadah,” ujar seorang penggagas KMNU Polinela, Muhammad Ajid, di Bandar Lampung, Jumat (18/11).

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Polinela, Rumah Baru Aktivis Muda NU di Kampus

Dia berharap kehadiran KMNU di Polinela bisa memberikan warna dan nuansa baru dalam dunia perdakwahan kampus.

Ajid melanjutkan, di kampus-kampus umum dakwah dan kajian kampus dikuasai golongan lain, aktivitas muda NU hampir tidak diberi celah sedikit pun.

Haedar Nashir

“Sudah sangat jarang sekali saya melihat amaliyah dirasakan ketika di pesantren dan kampung,” paprnya.

Oleh karena itu, tambah ajid, keberadaan KMNU Polinela menjadi sangat penting. “KMNU Polinela bisa dijadikan rumah baru bagi aktivitas muda NU serta menjadi pelopor dakwah Islam ramah di kampus ini,” katanya.

Untuk diketahui, program pendidikan di Politeknik Negeri Lampung dikelompokkan dalam lima jurusan yaitu: Budidaya Tanaman Pangan, Budidaya Tanaman Perkebunan, Teknologi Pertanian, Peternakan serta Ekonomi dan Bisnis.

“Semoga dengan adanya KMNU para kader bisa belajar organisasi di rumah sendiri, serta menghijaukan kampus hijau Polinela,“ demikian Muhammad Ajid. ?(Ahmad Saroji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Fragmen, Internasional, Meme Islam Haedar Nashir

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Probolinggo, Haedar Nashir. Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat menggelar kegiatan bertemakan “Tarawih Bersama MWC, Ranting dan Warga NU”.

Ahad (12/6) malam, Tarawih bersama ini dilaksanakan di Masjid Darul Falah Desa Rejing Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini disambut dengan sangat antusias oleh warga NU. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jamaah yang hadir di masjid yang kebetulan ditempati acara tersebut tidak seperti biasanya.?

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tiris Barat Sapa Nahdliyin dengan Tarawih Keliling

Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah mengatakan kegiatan ini diadakan dengan tujuan supaya ada silaturrahim antara pengurus MWCNU Tiris Barat dengan Pengurus Ranting NU dan warga NU, khususnya takmir masjid di setiap ranting yang ditempati.?

“Selain itu, supaya warga NU lebih faham tentang ibadah puasa yang mereka jalani, karena pada kegiatan ini juga diisi dengan ceramah dan dialog interaktif seputar Ramadhan yang dilaksanakan setelah sholat Tarawih,” katanya.?

Kegiatan ini dimulai dari sholat Isyak berjamaah dan dilanjutkan dengan sholat Tarawih yang dipimpin oleh tim Imam dari pengurus MWCNU Tiris Barat yang telah mendapat pelatihan Imam Tarawih.

Haedar Nashir

“Secara tidak langsung kegiatan ini juga memberi pelatihan dan penyeragaman pada warga NU, khususnya para imam Tarawih di setiap Ranting agar tidak terjadi sholat Tarawih yang prosesnya tidak sesuai dengan tuntunan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Haedar Nashir

Dengan kegiatan ini Imron mengharapkan secara umum agar warga NU merasa dekat dan merasa diurusi oleh pengurus NU ditingkat MWCNU, sehingga akan muncul rasa emosional dan simpati yang tinggi terhadap organisasi NU secara keseluruhan. “Agar warga NU bangga terhadap organisasinya sendiri karena merasa didekati oleh NU secara organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Nusantara Haedar Nashir

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

Jakarta, Haedar Nashir. Dua ratus pendekar Ikatan Pencak Silat (IPS) Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa siap mengamankan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 14-17 September mendatang. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua PP Pagar Nusa Aizzuddin Abdurahman di kantor Pagar Nusa, gedung PBNU, Jakarta, Selasa (11/9).

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

“Kami akan menurunkan 200 pendekar. Mereka adalah pasukan inti yang akan mengamankan Munas dan Konbes,” ujarnya.

Haedar Nashir

Menurut Ketua Pagar Nusa yang biasa disapa Gus Aiz ini, pasukan inti berasal dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah Jawa Barat, ditambah Ansor dan Banser. 

Haedar Nashir

“Dan bisa dipastikan ada pasukan yang suka rela datang. Jadi, jumlahnya bisa lebih 200,” tambahnya. 

Sebenarnya, sambung Gus Aiz, 200 orang, tidak cukup untuk mengamankan acara sebesar Munas dan Konbes. “Tapi, saya mengharapkan, semoga berjalan lancar,” pungkasnya.  

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Budaya, Syariah Haedar Nashir

Rabu, 25 Oktober 2017

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Jadilah manusia agung

Bagai seorang syahid,

Seorang imam, bangkit, berdiri

Di antara rubah, serigala, tikus, domba

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Di antara nol-nol, bagai yang satu

Syair intelektual pejuang bernama Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya”, tak biasanya menjadi senjata untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlelap, bahkan mati jiwanya di alam dunia. Dibangkitkan kembali menjadi sejatinya manusia. Manusia adalah segalanya, manusia selalu menarik untuk dibedah untuk mencari jawab tentang arti kepastian. Pisau filsafat pembentukan manusia, dalam pandangan Syari’ati menyasar bahwa hanya manusia yang dibaptis Tuhan untuk menggerakkan jagat semesta, laksanakan amanah-Nya. Malaikat jauh sebelumnya sudah memprediksi kelakuan manusia, sebagai biang tengkar angkara murka di bumi. Tapi Tuhan sangat tahu yang tidak diketahui barisan malaikat. Karena itu, manusia punya darah juang pengetahuan, daya perang dan iman sejati untuk melaksanakan misi besar menjadi khalifah di bumi, bukan khalifah di syurga. Maka, maha benar deklarasi manusia yang dikaruniai dengan keberanian, strategi perang nafsu, keutamaan, kearifan dan kebijaksanaan di jagat semesta.

Haedar Nashir

Penyair besar Jalaluddin Rumi berkata bahwa amanah dan karunia itu adalah kehendak. Kehendak terbesar manusia yaitu membuktikan dirinya ada, ada untuk menjadi wakil Tuhan di bumi manusia, demikian petuah wali Nusantara bernama Syaikh Siti Jenar. Disanalah awal kisah misteri dosa Nabi Adam as, tragedi dosa yang melahirkan keluarga manusia agung sepanjang sejarah, puncak hamba yang memimpin sebaik-baik umat yakni Nabi Muhammad saw. Manusia terbesar yang diakui kawan dan lawan sampai detik ini, sebagaimana sering disampaikan Karen Armstrong dalam karyanya Muhammad: Prophet for our time. Puncak hamba yang menjadi teladan akhlak mulia dan kepemimpinan Indonesia, sebagaimana dicontohkan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apapun tak peduli resiko bahaya dan taruhannya. Membela kearifan lokal di seluruh penjuru negeri yang bertransformasi dalam wujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945 dan NKRI. Gus Dur yang selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya setiap waktu.

GD: Lahir, Berjuang dan Syahid

Haedar Nashir

Kita semua seyogyanya bersaksi, bahwa biografi Gus Dur disimpulkan dengan tiga kata,’ ia lahir, berjuang, dan syahid. Gus Dur masuk geng manusia ideal, sosok khalifah Tuhan yang telah bergerak di jalan puncak penghambaan yang sulit, terjal dengan memikul beban-beban amanah. Sampai ia menuju ke ujung tapal batas dan membentuk diri jadi khalifah serta penggerak amanah Tuhan. Gus Dur bernyawa manusia ‘theomorphis’, manusia yang berjalan dan bergerak dengan berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Tipologi ‘manusia menuhan’ dengan segala risiko terbesar yang dialami hidupnya dalam perjalanan dari alam menuju Sang Pencipta alam.

Adalah filsuf Jerman, Dilthey yang mengatakan manusia adalah makhluk yang senang bercerita dan membangun hidupnya atas dasar kisah yang diimaninya. Tanpa cerita, hidup kita carut-marut. Dengan cerita dan kisah, kita susun pernak-pernik hidup kita yang berserakan dan centang perenang dalam narasi-narasi besar (grand narratives), yaitu untuk pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens), yang dipercayai juga oleh Hannah Arendt, pemikir besar abad kedua puluh. Narasi kisah Nabi Muhammad adalah salah satunya. Kita mendengarkan kisah beliau, menyampaikannya kepada yang lain. Bahkan manusia terkadang rela ‘bertempur’ melawan kekuatan hitam, yang menyampaikan cerita atau kisah yang berbeda tentang sang tokoh yang puja-puji.

Izinkan kami Gus, untuk menulismu, menceritahkan cerita dan kisahmu, titah pengorbananmu, setia demi Islam, Indonesia dan dunia yang lebih baik. Karena dengan jujur kami tak pernah bersentuhan secara langsung dengan Gus Dur, seperti halnya Soekarno kecil tak pernah dapatkan kehangatan kasih sayang langsung dari tokoh besar bernama HOS Cokroaminoto. Tak seperti kader-kadermu dan santrimu yang setiap hari engkau ajarkan kehidupan, ‘5 jurus dewa mabuk’ dan seluk beluk perlawanan serta gemerlap dunia malam para konspirator serta kisah hikmah dari kitab al-Hikam.

Dari geng kader-kader terbaikmu, yang kujadikan ‘shogun’ dalam ‘jalan ronin diriku’. Kami menimba jejak-jejak muliamu, samurai ilmumu, akar-akar kepemimpinanmu, jurus politikmu dan masuk dalam alam pikiranmu, ilhammu, kesetiaan visi geopolitikmu berjuang demi Islam dan Indonesia. Islammu, Islamku, Islam Kita. Indonesia, negeri tercinta kita. Hidupmu engkau abdikan sepanjang sejarah, dengan terang benderang, teguh, berani saat melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap orang-orang tertindas dan dilemahkan, antara lain kelompok minoritas dan kaum marjinal: Ahmadiyah, Syiah, etnis Tionghoa, dan orang-orang yang hancur hatinya di setiap waktu subuh menghadapmu.

Apakah sebuah perubahan besar dalam sejarah dunia sosial politik tidak ditentukan oleh kekuatan pribadi, poros individu sebagai agen sejarah? Baik secara teoritis maupun dalam kenyataannya, perubahan besar terdorong oleh agregasi berbagai faktor yang membentuk kekuatan besar untuk memfasilitasi sebuah kejatuhan dan kemunculan geng politik baru yang ditindas dan disingkirkan. Sebagaimana yang dialami NU (Nahdlatul Ulama) yang memang tidak diharapkan oleh kekuatan tertentu di bumi Indonesia. Postulasi bersifat teroritis ini juga berlaku misalnya untuk perubahan politik Indonesia tahun 1980 sampai akhir 2002. Tanpa krisis keuangan pertengahan 1997 yang merembes kepada krisis ekonomi dan akumulasi gelombang massa aksi mahasiswa dan rakyat yang berujung pada krisis kebangsaan sosial politik. Jatuhnya rezim penguasa Orde Baru yang mendominasi pentas politik dan ekonomi negeri ini selama lebih tiga puluh tahun bisa jatuh bagai ‘istana kertas’. Oleh pakar geopolitik, dibuat mudah bahwa keruntuhan rezim Soeharto lebih merupakan permainan hitam (black game) kekuatan-kekuatan ekonomi politik tingkat tinggi, tingkat supra negara-bangsa.

Sudah pasti dalam postulat pengetahuan perubahan sejarah manapun, ada postulasi teroritis bahwa peran strategis politik pribadi-pribadi besar tertentu sebagai agen sejarah yang merubah sejarah. Adalah Thomas Carlyle, ahli sejarah dari Inggris abad ke-19 yang berfatwa “ sejarah, pada dasarnya merupakan sejarah orang-orang hebat” dan Gus Dur adalah sebuah contoh utama. Sejarawan Inggris itu adalah pencinta the great man theory. Hal tersebut sangat kontras dengan kaum materialis, yang mengatakan bahwa perubahan sejarah yaitu teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan sosial. Bahkan kaum idealis bersabda bahwa ide dan gagasanlah yang mencipta perubahan sosial. Postulat the great man theory membumikan jejak pahlawan sebagai epicentrum dari segala perubahan sejarah dunia.

Kehadiran pahlawan adalah prototype manusia besar yang merubah dan membalik sejarah. “And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”, ucap Thomas Carlyle saat menggoreskan postulat teoritis tentang ‘manusia besar’ dalam panggung sejarah manusia. Saya katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.

Dan sosok Gus Dur adalah sebuah contoh utama di bumi Indonesia. Dari segenap pergerakan pemikiran dan tindakannya dilipat dalam hasrat untuk mendirikan ‘Republik bumi di syurga’. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai tujuan pertama dan utama, maka pemikiran apapun takkan jadi ideologi yang tertutup dan mendebarkan bagi nyawa manusia. Gus Dur adalah katalis perubahan, pengamal cinta kemanusiaan tanpa batas seperti yang diteladaninya dari Nabi Muhammad saw.

Pertarungan Serigala Politik

Masihkah kita semua, melupakan perlakuan rezim Orde Baru yang hegemonik terhadap siapapun yang berani berkata beda dengan penguasa tiran. Sejarah politik Orde Baru, sejak decade 1980-an penuh dengan warna-warni pertempuran negara dengan ‘manusia-manusia hebat’. Pembangkangan sipil terhadap negara, muncul dan menjamur di setiap sudut kota dan desa. Megawati Soekarno Putri dengan PDI dan ‘people powernya’, Gus Dur dengan kekuatan besar NU sebagai pemilik sah negeri ini dan melalui Forum Demokrasinya melakukan protes sosial dari negara yang abai mewujudkan keadilan sosial yang tak tentu arah.

Situasi itu membentuk semangat dan kondisi pikiran Gus Dur untuk melancarkan perang posisi (war of position) untuk bertarung hadapi hegemoni Orde Baru atas nama tunggalnya Pancasila. Melalui Rapat Akbar NU tahun 1991 dan front-front sipil tafsir epistemologi ideologi Pancasila tahun 1984. Sasaran operasinya adalah menolak tunduk pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden pada Pemilu 1992.

Inilah jurus politik Gus Dur yang membuat Republik ini pernah geger, melawan dengan caranya berhadapan dengan penindasan penguasa Orde Baru. Gus Dur, dan NU setia abadi pada ideologi negara bangsa, bukan kepada penguasa. Peran besar Gus Dur melahirkan gelombang kejut dan tekanan besar terhadap negara. Berbaris, menyemai dan mencipta budaya perlawanan elemen massa kota yang terkonsolidir pada pelbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta kekuatan rakyat di perkotaan yang digalang dan gerakkan mahasiswa di penjuru negeri. Menjalani target operasi, mengalami penderitaan dan ketidakpastian zaman, Gus Dur mengirimkan semangat dan harapan di setiap sudut jiwa manusia. Penderitaan demi kesetiaan tujuan bersama pengikutnya, yang mengingatkan kita kepada perjuangan Alexander, Yesus, Nabi Muhammad saw, Mao Zedong, Lenin, Castro, dan Nelson Mandela.? ?

Dalam kamus politik seperti yang kita ketahui, untuk menjadi manusia-manusia hebat sebagai tokoh politik Indonesia menjulang tinggi ke langit, seseorang mesti melalui 7 (tujuh) tangga yaitu laras senjata, bakat, kharisma (silsilah), kemampuan organisasi, manipulasi politik, pengetahuan kuasa dan kapital besar. Ibu Megawati adalah contoh politisi yang mengandalkan karisma ayahnya dan massa pengikut Soekarno. KH. Zainul Arifin, Ali Moertopo, Sarwo Edhie Wibowo, LB Moerdani, Subhan ZE, Akbar Tanjung jadi teladan baik dari jalur kemampuan berorganisasi baik sipil maupun militer. Nah, Gus Dur ini menjulang namanya sebagai tokoh politik, yang menggabungkan dan melewati jurus-jurus kekuasaan yaitu karisma, bakat, pengetahuan dan kekuatan besar NU (Nahdlatul Ulama). Kekuatan kharisma setara dengan charity (kedermawanan) dipandang filsuf politik Max Weber (1864-1920) sebagai kualitas diri, karakter yang memiliki kekuatan supranatural, berasal dari dukungan ilahi sebagai teladan hidup.

Atas dasar inilah Gus Dur diperlakukan sebagai pemimpin politik. Bagaimana mungkin Soeharto yang dipersenjatai laras senjata dan uang besar dari para konspirator, tumbang dengan tersenyum tanpa dendam kepadanya. Gus Dur dalam pandangan pakar strategi militer Joseph Nye berhasil menggabungkan kekuatan lembut (softpower) dan kekuatan berat (hardpower) untuk mendapatkan kekuatan cerdik yang memungkinkannya mengubah jalannya politik serta menciptakan perubahan arah baru Indonesia. Misalnya perubahan militer kembali dalam barak sejarah yang dipeloporinya, keputusan mengangkat Baharuddin Lopa sebagai Jaksa Agung, pemberantasan korupsi Soeharto, memeriksa Akbar Tanjung, Arifin Panigoro dan konglomerat hitam, menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan lainnya. Totalitas perjuangan Gus Dur jadi Presiden RI harus dibayar dengan kejatuhannya, seperti pernyataannya bahwa pelengserannya merupakan konspirasi politik dan tindakan yang inkonstitusional.

Tetapi, Gus Dur tidak dendam, tidak punya musuh politik. Soeharto adalah patner politik utamanya, bukan musuh politik yang banyak disalahpahami. Kemanusiaan haruslah di atas segalanya, walaupun resikonya kekuasaan Gus Dur dijatuhkan sekalipun oleh kekuatan hitam. Tanpa pertumpahan darah, tanpa benci dan dendam atas nama kebaikan negeri. Kekuatan spiritual Gus Dur di atas rata-rata pemimpin negeri manapun, sebagaimana contoh perebutan kuasa politik di Mesir, darah dan air mata ditumbangkan demi politik kepentingan semata. Biarlah sejarah yang mencatat, semoga tak ada presiden yang di jatuhkan di tengah jalan seperti yang disampaikan Kapolri Jenderal Sutarman, mantan ajudannya di Istana Negara. Sebuah ‘simphoni hitam’ kehidupan yang mendebarkan, di tengah kekuatan anak negeri yang porak-poranda, bergejolak atas nama dendam dan kebebasan.

Dari semua penulis buku yang memaparkan tentang Gus Dur dan NU, dari Greg Barton sampai Greg Fealy mestinya menulis kembali kualitas kepemimpinan dan visi geopolitiknya terhadap penataan ulang sistem dunia yang tak adil, dikendalikan superpower Amerika Serikat dan gengnya dalam group 5 Eyes (UKUSA). Visi geopolitiknya itulah yang menjadikan Gus Dur harus ditumbangkan oleh para konspirator dunia, pasca menggalang kekuatan dunia yaitu Brazil, dan Venezuela di Amerika Latin, serta menggalang Poros Jakarta, Beijing Cina dan New Delhi India. Kemudian pernyataan politik luar negeri perdananya yaitu mengumumkan rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel. Akar-akar kepemimpinan dan pertarungan geopolitiknya Gus Dur diperoleh dari kuasa pengetahuan dunia, sejarah Nusantara, Wali Songo, Soekarno dan transformasi jurus politik otentiknya sendiri. Sampai detik ini Gus Dur menjadi ‘sejarah hidup’ kekuatan pemain dunia baru yang terkonsolidir dalam BRIC (Brazil, Russia, India and China) sebagai kekuatan ekonomi yang dominan nanti di tahun 2050

Sayang sekali seperti halnya senior Gus Dur yaitu Soekarno yang dijatuhkan, karena tidak disenangi kelas menengah yang nyaman, yang hidup kebanyakan berpesta, berfoya foya dalam gemerlap malam di Amerika Serikat. Kaum muda itu memandang Amerika sebagai ladang dan medan kebebasan, sementara memandang Soekarno adalah anak manis ideologi komunis. Yang sejatinya, Soekarno bukanlah komunis, beliau berhasrat memerdekakan bangsanya 150%. Bahkan visi dan cita-cita geopolitiknya memang edan dan gila yaitu ingin memajukan Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia ini. Soekarno jadi ‘target operasi imperialisme dan kolonial baru’. Soekarno dan Gus Dur menyadari itu, risiko bahaya dan perjuangannya menjadi martir, jadi panah sejarah yang hidup sampai saat ini bukan hanya di Republik Indonesia, Gus Dur diberhentikan di tengah jalan. Tapi merka jadi pedoman dan bintang penuntun negara-negara tertindas dunia Asia Afrika dan Amerika Latin, sebagaimana negara Iran yang dikomandoi Ayatullah Ali Khamenei belajar bangkit dari Soekarno dengan Pancasila-nya.

Di sanalah letak kebenaran kepemimpinan Soekarno dan Gus Dur. Keduanya pernah bergerak, yang satu menggalang kekuatan Asia-Afrika, satunya lagi menggalang Amerika Latin. Soekarno menggalang kekuatan New Emerging Forces (NEFO), melempar gagasan non-alignment, Non Blok. Sungguh, Soekarno dan Gus Dur sadar dan tahu benar struktur penguasa dunia, takkan menjadi baik dan damai bumi manusia ini, jika di atasnya hanya bercokol dan berkuasa dua kekuatan apalagi hanya satu kekuatan saja. Manusia Soekarno dan Gus Dur adalah ‘target imperalisme dan kolonial baru’, karenanya, keduanya harus dirobohkan. Propaganda hitam dan opini diproduksi, dikembangkan bangsa-bangsa neo-liberal melalui juru dakwah intelektual tukang dan penjual negara untuk melengserkannya.

Bahkan terlebih ketika Soekarno gelorakan propaganda ‘berdikari’ ke seluruh penjuru negeri, juga ke belahan alam raya ini. Ingat, ingatlah Soekarno slogan yang sangat terkenal, “Nanti… ketika Banteng Indonesia, bersatu dengan Lembu Nandi dari India, Spinx dari Mesir, dan Barongsai dari China, saat itulah imperialisme akan mati!. Visi geopolitik Soekarno itulah yang dimodifikasi oleh Gus Dur, dengan memfatwakan semangat dan harapan sampai ke ujung dunia, spirit berdiri di atas kaki sendiri. Tekad tanpa ketergantungan kepada pihak mana pun dan bersiasat menyiasati angin globalisasi dengan bekal senjata akumulasi pengetahuan (modified capitalism), kecerdasan geopolitik. sebuah wasiat dan petuah dari pendiri bangsa salah satunya Soekarno, Tan Malaka, dan ayahnya KH. Wahid Hasyim. Bagaimana kancil bisa menang menyiasati singa dan serigala yang ganas, menghadapi kekuatan fasisme militer Jepang.

Sang visioner Gus Dur ingin berwasiat kepada kita semua sebagaimana pendahulu Nusantara, Raja Kertanegara yang menolak tunduk kepada imperium Jenghis Khan melalui Kubilai Khan, cucunya dan penjajah negeri selama berabad-abad lamanya di bumi Indonesia. Gus Dur menggelorakan negeri ini bukan bangsa tempe, bangsa kita adalah bangsa yang tak mau kalah, bangsa besar, keagungan, kemenangan, penaklukan, tak kenal takut, bangsa agung, bangsa paling berani dan bangsa paling gila dan edan di dunia. Sebagaimana disaksikan sendiri pelaut Italia, Diogo Do Couto, yang datang ke Nusantara tahun 1526 dalam karyanya yang berjudul Decadas da Asia, “ ……for he will permit no person to stand above him, nor would a javan carry carry any weight or burthen on his head, even if they should threaten him with death”.

Detik ini kita mesti bisa membayangkan, seandainya jika negara-negara besar seperti Indonesia, Cina, India, Mesir, Amerika Latin bersatu padu, mau apa Amerika Serikat dan geng Baratnya? Justru dalam keadaan terpecah, justru dalam keadaan tidak berdikari, neo-kolonialisme sangat merajalela melalui militer, investasi dan aparatus ideologi liberalnya. Lihatlah konflik dan titik merah berkobar di Timur Tengah, situasi tersebut diperparah dengan ketidak-kompakan, kesatuan di antara bangsa Arab sendiri. Negara-negara di luar Indonesia membutuhkan Soekarno, dan petarung sekaliber Gus Dur.? Karenanya, dalam panah semangat dan hasrat untuk menghidupkan kembali visi kebangkitan kesadaran Nusantara saat ini, semangat dan darah juang Gus Dur harus dihidupkan kembali dalam konteks kekinian di tengah prahara globalisasi.

Gus Dur mesti jadi ruh sejarah bangsa ini untuk maju dan bersatu padu di masa kini dan masa depan. Kita semua mesti menoleh dan memilih siapa tokoh penggerak bangsa, maka lihatlah di buku-buku sejarah, Nusantara, biografi dan autobiografi semua tokoh Indonesia. Gus Dur pasti sangat berpengaruh paling besar terhadap Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an sebagaimana para petinggi negeri menyampaikannya dari mulai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Jenderal Sutarman dan lainnya. Semoga pemimpin negeri kita Tahun 2014 tak kehilangan bimbingan Gus Dur, yakni 9 (Sembilan) nilai dasar pergerakan Gus Dur yaitu ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, ksatriaan, dan kearifan lokal. Jaring-jaring pemikiran Gus Dur antara lain pribumisasi Islam terpatri pada Islam sebagai etika sosial bagi kemanusiaan.

Dengan visi itu, mengapakah kita tidak datang lagi Di Bawah Bendera Revolusinya Bung Karno dan Visi Kemanusiaan Gus Dur, agar rakyat Indonesia terselamatkan dari kehancuran bangsa, kooptasi kapital asing, banjir bandang globalisasi demi mencapai kedamaian, keadilan sosial, kemajuan martabat negeri tercinta di tengah pergaulan dunia yang dipenuhi para serigala. Di titik pijak inilah Gus Dur bagi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan kaum muda NU adalah warga pergerakan, Gus Dur sebagai paradigma, weltanschauung. Pengetahuan Gus Dur terdiri dari semua ragam warna pemikiran dunia baik Islam, Timur dan Barat. Dari humanisme, marxisme, zarathustra Nietzsche sampai hikmah al Hikam Ibn Atha’illah. Dari nasionalisme, pluralisme, demokrasi, de-ideologi Islam, filsafat, toleransi, kebudayaan, kesetaraan gender sampai jurus-jurus politik tingkat dewa. Langkah Gus Dur merujuk pergerakannya pada buku ilmiah, film, kitab, hikmah tasawuf, kisah tokoh dunia, cerita silat, film dan riang gembira bergumul, bertarung dalam palung sejarah, power struggle. ?

Akhirnya, penulis bisa bersaksi bahwa Gus Dur adalah manusia “menuhan”, sang petarung kebaikan, yang hatinya dipenuhi keikhlasan berjuang demi negerinya dan sistem dunia yang lebih baik. Kesadarannya menjulang tinggi ke langit, tetapi amal bakti pertarungan hidupnya demi negeri menggores aktivisme di bumi manusia. Mewujudkan kesadaran sejarah human social life, seperti halnya peristiwa Isra’ Mi’raj Sang Nabi Muhammad SAW. Bergerak menemui Tuhan dan kembali menemui manusia. Gus Dur setia membela martabat kehormatan manusia tanpa pembeda dan pembatas, siapapun, dimanapun dari ujung bumi Sumatera, Papua sampai ujung dunia. Membela yang tertindas dan orang yang hancur hatinya. Kepemimpinan Gus Dur bukanlah kekuasaan yang berasal dari laras senjata, seperti dipandang sah oleh Nicollo Machiavelli, Jenghis Khan, Attila The Hun, Mussolini, Hitler dan Mao Zedong. Tapi bisa dari banyak cara, yakni pemilihan, demokrasi, musyawarah, kebaikan dan keikhlasan berjuang, mengabdi untuk negeri. Gus Dur sudah pernah memulai ‘pertarungan’ melawan blok sejarah yang tak adil. Akankah kita lanjutkan semangat dan visi abadinya sebagai petarung besar sampai ke ujung dunia? Membentuk cerita dan kisah Indonesia yang bagus dan lembut untuk dirapalkan oleh generasi muda pasca Gus Dur.

Jejak-jejakmu merahimi kebangkitan”, adalah mantra dan do’a yang dirapalkan dalam lukisan hidup yang dilukis dan dirupakan sebagaimana jejak tradisi perjuangan leluhurmu. Ada ruh Hadrussyaikh Sang Kiai Hasyim Asy’ari dan ayah-ibumu yang mulia. Berjuang tanpa henti demi setia kepada Islam dan Indonesia, rela mati demi kebaikan negeri. Di belakang lukisan leluhurmu, ada warisan jejak darah dan air mata rakyat Indonesia yang berjuang demi Tanah Air. Kami pernah menghadap dengan benar, bersujud di ruang pribadimu dan terharu di atas sajadah sembahyangmu di markas besar PBNU. Merapalkan kembali mantra itu di kedalaman jiwa, demi kebaikan bangsa.

Pendamlah dirimu dalam bumi kekosongan, Gus. Selamat “bersatu” bersama Tuhan dan tertawa bareng Ibn Atha’illah ya, Gus. Gitu aja kok repot!

Jakarta, 06 Januari 2014

DINNO BRASCO, Ketua Pengurus Besar PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

Periode 2011-2014

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir