Rabu, 31 Januari 2018

Para Perempuan Teladan

Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.

Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Firaun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.

Asiyah binti Muzahim adalah isteri Firaun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Firaun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.

Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Perempuan Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Perempuan Teladan

Menjadi isteri Firaun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Firaun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Firaun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Firaun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)

Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Quran. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Haedar Nashir

Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)

Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.

Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)

Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, "Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, "Allâhussalam waminhum salam wa alaikassalam wa ilaihi yaudussalam wa ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)

Haedar Nashir

Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116)?

Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)

Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.

Data buku:

Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit

Penulis: Ririn Astutiningrum

Penerbit: Mizania

Cetakan: I, 2016

Tebal: 274 halaman

ISBN: 978-602-418-035-5

Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Daerah, PonPes Haedar Nashir

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Haedar Nashir - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

Haedar Nashir

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Haedar Nashir di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

Haedar Nashir

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Makam Haedar Nashir

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Pangkalpinang, Haedar Nashir. Sebuah buku baru memperkaya literatur tentang sejarah Islam di Nusantara. Seorang habib muda asal Pulau Bangka, Sayyid Deky Baraqbah (32), menerbitkan hasil penelitiannya selama delapan tahun dalam bentuk buku berjudul “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka”.

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbit Buku Baru, Tentang Sejarah Islamisasi di Bangka

Buku tentang sejarah masuknya Islam di Tanah Bangka ini memiliki tebal 550 halaman. Sayyid Deky Baraqbah, Rabu (16/7), di kediamannya di Kelurahan A Yani, Pangkalpinang, Bangka Belitung, mengatakan, buku tersebut sejak terbit Februari lalu telah mendapat respon positif baik dari dalam maupun luar negeri.

Buku terbitan Penerbit Ombak, Yogyakarta, ini telah menjangkau negara Belanda, Amerika Serikat dan Australia lebih dari 500 eksemplar.  Ia menilai belum ada buku yang secara mendetail mengisahkan bagaimana perjalanan masuknya Islam di Pulau Bangka.

Haedar Nashir

Menurut Zaky, panggilan akrab sang penulis, referensi yang menceritakan sejarah masuknya Islam di Pulau Bangka selama ini hanya didasarkan pada cuplikan-cuplikan yang tidak rinci dari buku-buku yang pernah terbit sebelumnya. Sedangkan buku “Korpus Mapur Dalam Islamisasi Bangka” merupakan hasil penelitian langsung. Zaky mengaku terjun langsung meneliti berbagai artefak, manuskrip yang tersebar di Pulau Bangka, Aceh, Cirebon, Palembang, Italia, dan Belanda.  

Haedar Nashir

Dengan menggunakan penelitian atom dari unsur batu nisan dan tembikar yang temukan di areal pemakaman, buku ini menyajikan tesis bahwa pada abad 10 masehi, Islam telah masuk di Pulau Bangka. Menurut penulis buku ini, Islam di pulau tersebut dibawa oleh para mubaligh dari Timur Tengah, dan bukan dari Gujarat, India, sebagaimana mana tertulis dalam buku-buku sejarah selama ini. Dalam buku ini juga dibahas tentang kelompok penentang ziarah kubur (Wahabi) dan peranan tasawuf pada perjalanan Islam di Pulau Bangka.

Rencananya, buku ini akan dibedah pada pertengahan Agustus mendatang di Ruang Serbaguna PT Timah Tbk, Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan mengundang beberapa pakar sejarah dan tokoh Islam nasional.

Sebelumnya, buku yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta, Februari 2014 ini, juga telah dibedah di kampus IAIN Raden Fatah Palembang. Lima profesor dan ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan turut serta dalam diskusi yang digelar Juni itu. (Hardy Alqadry/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Sunnah, Hadits, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja

Depok, Haedar Nashir. Perkembangan kejahatan terorisme telah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan baik modus, kuantitas maupun kualitasnya. Indonesia tidak lepas dari sasaran aksi terorisme.

Hal itu mengemuka pada kegiatan bertajuk “Silaturahim Nasional Tentang Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional” di Pondok Pesantren Al-Hikam pada Sabtu-Ahad, (6-7/12).

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung: Terorisme Bertentangan dengan Islam Aswaja

Pada silaturahmi yang diadakan Pesantren Al-Hikam bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan sejumlah peristiwa terorisme menunjukkan adanya mata rantai antara kelompok dalam dan luar negeri.

Haedar Nashir

Aktivitasnya mereka tidak dapat terdeteksi secara dini sehingga sulit untuk dicegah dan ditangkal apabila hanya ditangani pemerintah. Untuk menanggulanginya, harus melibatkan peranan para ulama.

Salah satu ulama yang hadir pada kegiatan tersebut adalah Ketua PWNU Lampung KH Soleh Bajuri. Ia mengajak para ulama di Lampung agar lebih meningkatkan kewaspadaan akan masuknya terorisme di di provinsi tersebut.

Haedar Nashir

"Mari kita lebih berhati-hati dengan terorisme serta paham-paham keagamaan yang menyimpang dari ajaran Islam Aswaja".

Terorisme, kata dia, sangat bertentangan dengan ajaran Islam Aswaja, yang mengedepankan prinsip rahmatan lil alamin, serta tawassuth (moderat), tasawuf sufisme dan i’tidal (adil).

Penguatan dan pengembangan Aswaja, lanjut dia, harus terus dilakukan secara intens. Sebab, di tengah perang pemikiran ideologi global, ideologi transnasional akan terus menggempur ajaran dan tradisi NU hingga pelosok desa.

“Aksi terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam Aswaja serta merugikan bangsa dan negara,” ujarnya. (Rudi Santoso/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Selasa, 30 Januari 2018

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Lumajang, Haedar Nashir

Untuk menggali dan mengembangkan potensi pesantren, khususnya dalam mengelola media, sejumlah santri menyelenggarakan Safari Jurnalistik. Kegiatan yang telah dilaksanakan di salah satu pesantren di Lumajang tersebut akan terus diselenggarakan di empat kota lain di Jawa Timur.

"Untuk tahap pertama, Safari Jurnalistik diselenggarakan di Pondok Pesantren Darun Najah Petahunan Lumajang," kata Abdul Hady JM, Senin (1/2). Pengasuh sekaligus narasumber utama Safari Jurnalistik ini mengemukakan bahwa acara serupa akan diselenggarakan di Sumenep, Surabaya, Trenggalek, dan Lamongan.

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Media Gelar Safari Jurnalistik di Sejumlah Pesantren

Wartawan Majalah Gatra ini mengemukakan bahwa potensi pesantren sangat besar. Baik dari sisi sumber daya manusia, maupun muatan yang ada di dalamnya. Akan tetapi, yang cukup disayangkan, tidak banyak kalangan yang mengetahui secara detail potensi tersebut.

Upaya untuk semakin mengoptimalkan potensi pesantren tersebut antara lain dengan membekali dan mengasah keterampilan mengelola media. "Baik cetak maupun online, bahkan audio visual," kata lajang asal Sumenep ini.

Dan selama dua hari yakni Ahad (31/1/2016) hingga hari ini, sekitar seratus peserta mengikuti kegiatan safari jurnalitik tersebut. "Para peserta adalah utusan dari sejumlah pesantren dan madrasah di Lumajang. Diharapkan, usai mengikuti kegiatan, mereka dapat mengelola media di masing-masing lembaga secara mandiri,” kata Ilyasin Yusuf sekretaris panitia ini.

Haedar Nashir

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teknik penulisan berita, wawancara, resensi dan opini, serta menajemen redaksional. "Sedangkan untuk melihat lebih dekat kemampuan peserta dalam menyerap materi, dilakukan praktik pada hari kedua," kata Ustadz Sisin, sapaan akrabnya.

Safari Jurnalistik merupakan kegiatan pengenalan sekaligus pendampingan ke sejumlah pesantren di Jawa Timur. Acara didukung penuh oleh Santri Media yang merupakan personil dari website santrinews.com. Para narasumber yang dihadirkan antara lain Abdul Hady JM, Imam Hambali, Set Wahedi, serta Achmad Jazuli Ghufron. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Pondok Pesantren Haedar Nashir

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Jakarta, Haedar Nashir. International Interfaith Youth Summit atau konferensi pemuda lintas agama internasional 2012 akan digelar di Bali, 5--7 Oktober 2012.

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferensi Pemuda Lintas Agama 2012 digelar di Bali

Konferensi yang digelar oleh Indonesia Youth Forum (IYF) bekerja sama dengan Global Peace Festival Indonesia Foundation (GPFIF) tersebut mengangkat tema "New Interfaith Paradigm for The 21st Century".

"Tujuan acara ini adalah untuk membangun pemahaman bersama akan pentingnya kerukunan umat beragama dan ikut mengambil peran nyata dalam pembangunan perdamaian," kata Direktur Eksekutif IYF Achmad Syamsuddin dalam siaran pers yang dikirim ke media, Jumat.

Haedar Nashir

Ketua GPFIF Chandra Setiawan mengatakan bahwa acara seperti itu patut didukung karena selain mengampanyekan kerukunan antarumat beragama, penggagasnya justru anak-anak muda. 

"Kami dari GPFIF menilai bahwa acara seperti ini sangatlah penting karena anak-anak muda terlibat aktif memikirkan perdamaian dunia. Saat ini saja mereka sudah mau untuk memberikan kontribusi nyata, bagaimana kelak ketika mereka akan menjadi pemimpin dunia, tentunya mereka akan senantiasa mengusung semangat mulia ini," kata Chandra.

Haedar Nashir

Rencananya, kurang lebih 200 orang pemimpin muda dunia dari berbagai negara akan hadir, diantaranya dari Pakistan, Philipina, Kamboja, Amerika Serikat, Korea Selatan, China, Malaysia, Timor Leste, Inggris, Bangladesh, Bosnia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Myanmar, Uzbekistan, India, Bangladesh, Vietnam, Madagaskar, Gambia, Mesir, Zimbabwe, Laos, Somalia, dan Indonesia.

Direktur Program IY Muhammad Abdul Idris menjelaskan bahwa konferensi pemuda lintas agama kali ini adalah konferensi keempat yang digelar IYF.

"Ini adalah tahun keempat kami mengundang pemuda dari berbagai negara untuk duduk bersama membangun dialog saling pemahaman, menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kegiatan ini sangat penting sebagai upaya ikut ambil bagian dalam perdamaian dunia," kata Idris yang juga Wakil Sekretaris Jenderal PP IPNU.

Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung terselenggaranya konferensi tersebut, terutama pemerintah Indonesia dan perwakilan negara-negara sahabat yang ada di Jakarta.

"Juga ucapan terima kasih kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di luar negeri, yang membantu kelancaran proses kedatangan teman-teman dari berbagai belahan dunia ini," demikian Idris. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, Santri Haedar Nashir

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta

Yogyakarta, Haedar Nashir. UNU Yogyakarta akan menjadi kampus kaderisasi yang khas. Para mahasiswa akan digodok dengan ilmu-ilmu khas kepesantrenan tapi juga dibekali dengan keilmuan umum masa kini. Sehingga keluar dari UNU Yogyakarta, memiliki kemampuan mumpuni dalam ilmu keagamaan sekaligus mempunyai keilmuan umum yang mumpuni.?

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU DIY Jelaskan Kekhasan UNU Yogyakarta

Demikian disampaikan oleh Ketua PWNU DIY, Prof Nizar Ali pada acara konferensi pers peluncuran UNU Yogyakarta di Jalan Lowanu 47, Sorosutan Umbulharjo, Yogyakarta, Ahad (6/3).

“Oleh karena menjadi kampus kaderisasi, maka studi Islam menjadi inti dari kampus ini. Mahasiswa akan disiapkan untuk menjadi mujtahid. Kuat dalam ilmu ushuluddin, fiqih dan akhlak,” tegas Nizar.?

Alumni yang lulus dari UNU Yogyakarta, lanjut Nizar, kalau jadi pengurus NU ya Syuriah-nya. Karena sudah kita bekali dengan keilmuan agama yang cukup. Dan juga mampu mengintegrasikan keilmuan pesantren dan ilmu umum dalam kehidupan sehari-hari.?

“Alasan itulah yang membuat kita menjadikan Dirosah Islamiyah menjadi ujung tombak atau ruh dalam kampus ini. Bukan ekonomi Islam, bukan dakwah dan lain sebagainya tapi Dirosah Islamiyah,” tegasnya.?

Haedar Nashir

Pada kesempatan tersebut, dia juga menceritakan latar belakang berdirinya UNU Yogyakarta yakni untuk menjaga keberlangsungan paham ahlu sunnah wal jamaah annahdiyah yang merupakan warisan para ulama terdahulu.?

Haedar Nashir

“UNU Yogyakarta akan berbasis pesantren sehingga lulus dari sini, para alumni memiliki moral dan akhlak yang bagus,” tandasnya. (Nur Rokhim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh

Jakarta, Haedar Nashir. Presiden Joko Widodo mengunegerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat orang anak bangsa yang dinilai berkontribusi besar untuk Indonesia. Masing-masing yaitu TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid tokoh asal Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati (Keumalahayati) tokoh asal Nanggroe Aceh Darussalam, Sultan Mahmud Riayat Syah tokoh asal Kepulauan Riau, dan Lafran Pane tokoh asal Daerah Istimewa Yogyakarta.?

Upacara penganugerahan tersebut dilakukan di Istana Negara, Kamis (9/11). Penganugerahan ini diputuskan melalui Kepres RI No 115/TK/tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan. Keputusan ini diambil setelah sebelumnya Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan bersidang pada Oktober lalu.

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada 4 Tokoh

Hadir dalam acara penganugerahan tersebut keluarga ahli waris keempat tokoh, para menteri kabinet kerja, dan para pejabat tinggi negara lainnya.?

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengatakan dengan penganugerahan keempat pahlawan nasional baru tersebut, maka jumlah Pahlawan Nasional Indonesia saat ini berjumlah 173 orang yang terdiri dari 160 orang laki-laki dan 13 orang perempuan. Para pahlawan tersebut berasal dari sipil dan juga TNI/Polri.?

Khofifah menjelaskan Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan pemerintah kepada seorang Warga Negara Indonesia yang semasa hidupnya melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara yang semasa hidupnya tanpa cela.?

Haedar Nashir

"Mereka yang menyandang gelar pahlawan nasional tidak hanya yang berjasa di medan perang tapi juga di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional," terangnya.?

"Permohonan usul pemberian gelar pahlawan nasional kepada presiden melalui Dewan Gelar. Sebelumnya diadakan verfikasi, penelitian dan pengkajian melalui proses seminar, diskusi, serta sarasehan," katanya.?

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras mengatakan ada syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum akhirnya tokoh tersebut diputuskan memperoleh gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden. Dikatakan, empat tokoh yang memperoleh anugerah tahun ini telah memenuhi seluruh persyaratan.?

Haedar Nashir

Hartono menerangkan, TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid lahir di Nusa Tenggara Barat 19 April 1908 dan wafat pada 21 Oktober 1997. Beliau merupakan seorang nasionalis pejuang kemerdekaan, dai, ulama, dan tokoh pendidikan emansipatoris. Ia merupakan pendiri organisasi Islam Nahdatul Wathan. Organisasi ini menjadi organisasi Islam terbesar di Lombok yang memberikan perhatian kepada pendidikan dan agama.

Gelar pahlawan nasional kedua diberikan kepada Laksamana Malahayati yang merupakan tokoh pejuang asal Nanggroe Aceh Darussalam. Malahayati lahir pada tahun 1550 dan wafat pada 1615 dimakamkan di Krueng Raya, Aceh Besar. Malahayati adalah laksamana perempuan pertama dari Aceh. Ia membentuk pasukan "Inong Balee" yang berisi para janda prajurit Aceh yang mahir menembakkan meriam dan menunggang kuda.?

Tahun 1559 Malahayati memimpin armada laut berperang melawan Belanda dan berhasil menewaskan Cornelis De Houtman. Di Tahun 1606, Malahayati bersama Darmawangsa Tun Pangkat (Sultan Iskandar Muda) berhasil mengalahkan armada laut Portugis. Sebelumnya nama Malahayati telah diabadikan sebagai nama kapal perang jenis perusak kawal berpeluru kendali kelas Fatahillah milik TNI AL dengan nomor lambung 362.?

Sementara itu, lanjut Hartono, gelar ketiga Pahlawan Nasional diberikan kepada Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau. Sultan Mahmud lahir di Sulu Sungai Riau Agustus 1760 silam dan wafat pada 12 Januari 1812. Pada rentang tahun 1782 hingga 1784, Sultan berhasil mengalahkan Belanda yang ingin menanamkan pengaruhnya di Riau dalam Perang Riau I. Kapal Komando Belanda Malakas Walvaren berhasil diledakkan.

Ditahun 1784, Sultan kembali memimpin perang melawan Belanda yang dipimpin Pieter Jacob van Braam di Tanjung Pinang. Sultan Mahmud menolak ajakan Belanda untuk berdamai dan menerapkan startegi gerilya laut untuk mengacaukan perdagangan Belanda di Selat Melaka dan Kepulauan Riau. Tahun 1811 Sultan Mahmud mengirimkan bantuan kapal perang lengkap guna melawan ekspansi Belanda ke Sumatera Timur, Sumatera Selatan, dan Bangka Belitung.?

Adapun, gelar pahlawan nasional keempat diberikan kepada Lafran Pane tokoh asal Yogyakarta. Lafran Pane lahir di Sipirok 12 April 1923 dan wafat di Yogyakarta 24 Januari 1991. Lafran Pane dikenal sebagai tokoh pergerakan pemuda dan memprakarsasi pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam pada tanggal 5 Februari 1947.?

Dalam perjalanannya, HMI secara konsisten menolak gagasan Negara Islam yang digagas oleh Sekar Maridjan Kartosoewiryo pendiri gerakan Darul Islam. Lafran Pane menjadi salah satu tokoh utama penentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Warta Haedar Nashir

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Magelang, Haedar Nashir. Pagi yang cerah di lereng Gunung Sumbing disambut riuh kicau burung di pepohonan, 200 siswa Madrasah Ibtidaiyah tampak bersemangat mengikuti kegiatan hari itu, Rislah Ruhiyyah atau perjalanan spiritual yang diadakan Kelompok Kerja Madrasah Ma’arif  se-Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang yang diikuti siswa kelas VI  dari 11 Madrasah dibawah yayasan Ma’arif  NU. 

Ketua Panitia Rozib Sulistyo menjelaskan, rihlah ruhiyyah adalah perjalanan menggunakan hati dan jiwa spiritualisme siswa agar dapat meneladani sifat, sikap dan perjuangan tokoh-tokoh NU, tidak hanya sekedar perjalanan fisik belaka dari pagi hingga sore mendatangi makam di kabupaten Magelang.

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Ma’arif Bandongan Gelar Rihlah Ruhiyah

Acara ini merupakan dukungan riil terhadap visi misi Nahdlatul Ulama yaitu “al mukhafadhotu “alal qodimi wal ahdhu bil jadidil aslahi” mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik dan mempertahankan hal lama yang masih baik. Di sisi lain secara akademis siswa kelas VI Madrasah Ma’arif Nahdlatul Ulama harus menjalani ujian praktek mata pelajaran ke-NU-an sebagai mata pelajaran kelembagaan yang salah satunya membaca tahlil, siswa diperkenalkan kepada tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama di wilayah Magelang agar menghargai dan melanjutkan perjuangan mereka.

Haedar Nashir

Tujuan lain adalah menjadi ajang silaturahmi dan menghilangkan kejenuhan bagi siswa yang dalam waktu beberapa minggu ini bergelut dengan berbagai model soal guna menghadapi Ujian Nasional.

Haedar Nashir

Pukul 8 pagi semua siswa dan guru pendamping menggunakan 15 angkudes dan 4 mobil pribadi telah berada dititik awal kegiatan di makam Kiai Raden Abdullah di Tonoboyo Bandongan kemudian menuju Banjaragung Kajoran makam Kiai Raden Abdul Chamid, dilanjutkan makam KH Nur Muhammad di Ngadiwongso Salaman, tujuan berikutnya adalah makam Kiai Haji Raden Ma’sum di Tempuran dan kompleks makam Keluarga Kerajaan Mataram di Gunung Pring Muntilan, tempat terakhir pukul 3 sore adalah kompleks makam KH Chudlori di Tegalrejo Magelang.

“Siswa tidak diajarkan untuk meminta kepada arwah tokoh yang diziarahi namun mendoakan agar waliyullah tersebut diampuni dosanya, sedangkan siswa tetap berdoa kepada Allah dengan masing-masing sesuai hajat atau keinginannya,” tutur Rozib

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail Haedar Nashir

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Jakarta, Haedar Nashir. Katib Aam PBNU KH  Malik Madani menilai, peredaran uang suap untuk mendongkrak suara dalam pemilihan kepada daerah (pilkada) sudah dalam kondisi menyedihkan. Praktik haram ini menjalar hampir di seluruh lapisan masyarakat.

”Di antara mudarat pilkada adalah rusaknya moralitas bangsa, termasuk masyarakat Nahdliyin karena money politic itu. Politik uang dianggap kewajaran. Padahal itu risywah siyasiyah, suap politik,” katanya, Rabu (20/2).

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Politik Uang Pilkada Memprihatinkan

Masyarakat dinilai telah mulai menganggap politik uang sebagai suatu kelaziman. Mereka cenderung acuh tak acuh terhadap dampak buruk dari sikap tersebut bagi dirinya dan masa depan daerahnya.

Haedar Nashir

Menurut Kiai Malik, politisi yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk usaha pemenangan pilkada sangat potensial berlaku korup ketika memimpin. Pasalnya, hampir tidak mungkin pengeluaran miliaran rupiah semasa kampanye akan dilunasi dengan gaji jabatannya.

”Belum lagi konflik horisontal yang terjadi di antara para pendukung masing-masing calon,” imbuhnya.

Haedar Nashir

Kiai Malik menegaskan, uang suap untuk maksud dukungan pencalonan, meski diistilahkan dengan sedekah, tetap berstatus haram dan dilaknat menurut ajaran Islam. Umat Islam diimbau hati-hati dengan godaan ini, termasuk dengan upaya adu domba sejumlah pihak yang akan merusak kerukunan antarwarga.

Terkait dengan pilkada, PBNU melalui Musyawarah Nasional Alim Ulama di Cirebon 2012 lalu merekomendasikan penghapusan pemilihan langsung di tingkat daerah dan mengembalikannya ke tangan DPRD. Hal ini didasarkan pada asas preferensi mudarat terkecil di antara keduanya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Syariah, Habib Haedar Nashir

Senin, 29 Januari 2018

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Jepara, Haedar Nashir. Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda, Barang siapa puasa Ramadhan secara murni karena berdasarkan iman dan mencari ridha Allah, dalam satu riwayat dijelaskan orang itu bersih dari dosa-disa seperti ketika bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

Pada tanggal 1 syawal berani mengatakan tidak punya dosa? Jika tidak ada yang berani berarti tidak ada yang puasa secara sungguh-sungguh. Puasa paling hanya meninggalkan makan dan minum saja. Padahal Nabi sudah bersabda seperti hadis di atas.

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 4 Ciri Orang Bersih dari Dosa Bagaikan Bayi

Demikian disampaikan Ketua Jami’iyyah Ahbabul Musthofa Kudus KH Ahmad Asnawi dalam Roadshow Pengajian dalam rangka 1 Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus di lapangan desa Gemiring, kabupaten Jepara, Kamis (14/7) malam.

Bagi Kiai Asnawi, potongan hadis seperti bayi yang baru lahir di atas menunjukkan tatkala Nabi menyamakan puasanya orang beriman dengan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya berarti alamat orang yang tidak mempunyai dosa mirip dengan bayi yang baru lahir.

Ia menyebutkan ada empat ciri orang yang bersih dari dosa. Pertama, tidak mempunyai rasa benci kepada orang lain. “Kalian pernah atau tidakmenjenguk bayi, terus kalian diludahi bayi karena menghinanya?” tanya Kiai Asnawi disambut tawa ribuan masyarakat yang hadir.

Haedar Nashir

“Makanya dulu Kanjeng Nabi ketika diludahi, dipukul bahkan dilempar kotoran orang tidak sakit hati. “Seandainya kalian dilempar kotoran oleh orang, terus mau kalian apakan?Selama dalam hati masih benci kepada orang lain itu menunjukkan masih mempunyai dosa,” sambungnya.

Kedua, tidak dibenci orang lain. Sebagaimana tidak ada yang benci ketika ada orang menjenguk seorang bayi, tentu pasti pada suka apapun keadaan bayi tersebut. “Lalu pasti ada pertanyaan, Nabi Muhammad kan tidak punya dosa, tapi kok banyak yang membenci?” singgung kiai yang mengajar ilmu Balaghah di MA Qudsiyyah itu.

“Ketika ada orang tidak mempunyai dosa kok dibenci, orang yang membenci pasti rusal akalnya. Makanya ada yang membencibayi, malah ibunya sendiri. Seperti bayi yang lahir di luar nikah dibenci ibunya, lalu kenapa begitu lahir, dibungkus plastik, lalu membuang bayinya ke sungai.Bayi pasti tidak salah,sedangkan ibu tersebut rusak akalnya,” jawabnya.

Haedar Nashir

Ketiga, semakin kuat dan tawakal kepada Allah. Seperti halnya bayi, tidak ada bayi yang ragu besok mau makan apa, atau bayi yang bingung sebab harga susu melonjak mahal. “Ada atau tidak bayi yang bingung karena gas LPG telat? Pasti bapaknya yang bingung, karena mempunyai dosa,” tuturnya kembali disambut gemuruh tawa ribuan hadirin.

Empat, orang yang tidak mempunyai dosa itu tidak ada yang ditakuti selain Allah. Makanya, bayi tidak takut apabila ditidurkan di samping macan, atau didudukkan di atas bom pasti cuma diam dan tertawa.

“Para wali Allah itu cerdas semua, tapi walinya Allah tidak takut apabila disandarkan sama macan,karena mereka tahu kalau Allah tidak memerintahmacat menggigit juga tidak akan menggigit. Yang mereka teakuti apa? Kenapa kita takut, itu karena kita mempunyai dosa,” terangnya.

“Monggo dibenahi, empat alamat tersebutdiraba sendiri-sendiri. Makanya bulan ini disebut syawal yang berarti peningkatan. Sehingga manusia kembali ke naluri kesucian,” ajar Kiai Asnawi. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Fragmen Haedar Nashir

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Jam bencet yang ada di serambi Selatan Masjid Tegalsari Surakarta menjadi penanda waktu shalat. Inilah karya ulama tempo doeloe yang hingga kini masih akurat. Bencet atau sundial, salah satu khazanah ilmu falak.

“Jam bencet ini sejak dulu digunakan untuk penentuan jadwal sholat di Masjid Tegal Sari, sampai sekarang,” terang Erma Yohansyah, Imam Masjid Tegalsari.

Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)
Jam Bencet di Masjid Tegalsari (Sumber Gambar : Nu Online)

Jam Bencet di Masjid Tegalsari

Keakuratan jam ini, pernah dibuktikan oleh pak AR, guru fisika dan pakar ilmu falak di Solo. Ketika itu ia menghitung waktu dzuhur untuk waktu bagian Kota Solo dan sekitarnya.

Haedar Nashir

Menurutnya, waktu Dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam (dari catatan Prof. Thomas Djamaluddin).

Sedangkan waktu Dhuhur untuk Masjid Tegalsari dan sekitarnya menurut RHI Surakarta pada waktu dihitung saat itu adalah sebagai berikut: Pada 27 Feb 2010 jatuh pada jam 11:53 waktu setempat atau 11:54 waktu setempat.

Haedar Nashir

Koordinat Masjid Tegalsari adalah 7° 34? 13.38? LS, 110° 48? 15.41? BT, 100 m, GMT+07. Pada Sabtu, 27 Feb 2010, solar noon atau matahari tepat di atas kepala bila kita berada di Masjid Tegalsari ini adalah jam 11:49.44 waktu setempat (WIB).

Setelah diadakan pengamatan, tampak bahwa cahaya matahari yang masuk lewat lubang bencet tepat berada di atas garis Utara-Selatan sejati. Itu artinya, waktu Dluhur yang selama ini dipakai sudah benar dan sudah sesuai atau tepat pada waktunya. Waktu Dhuhur tidak mengalami kemajuan atau terlalu cepat.

Jam bencet ini sudah ada bersamaan dengan dibangunnya masjid pada 28 Oktober 1928. Masjid Tegal Sari sendiri merupakan masjid yang dibangun oleh Kiai Shofawi, Prof KHR M Adnan dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 28 Januari 2018

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif

Pesawaran, Haedar Nashir

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Lampung berkomitmen meningkatkan kapasitas kader dengan menggelar pelatihan wirausaha baru produktif di Pesantren Minhadlul Ulum, Trimulyo, ? Tegineneng, Pesawaran asuhan KH M Syaifudin Fatoni.?

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Lampung Dorong Kader Terampil dan Produktif

"Ilmu itu penting, Insyaallah ilmu yang diberikan akan bermanfaat dengan aplikasi di lapangan oleh kader," ujar Sekretaris Ansor Lampung, Budi H Yunanto, Rabu (26/10).

Pelatihan Wirausaha Baru Produktif tersebut bertema "Meningkatkan Keterampilan dan Produktifitas Menciptakan Nilai Tambah dan Mampu Menjawab Tantangan Baru". Kerja sama Pimpinan Pusat GP Ansor dan Kementerian Tenaga Kerja RI.

Pelatihan berlangsung 24-27 Oktober 2016 tersebut diikuti kader Ansor dari 7 kabupaten/kota: Lampung Tengah, ? Lampung Timur, Lampung Barat Metro, Pesawaran, Way Kanan dan Pringsewu.

Haedar Nashir

Materi diberikan meliputi motivasi wirausaha, budidaya tanaman organik, pembuatan pupuk serta pakan organik.

Peningkatan kapasitas kader Ansor Lampung dipimpin Hidir Ibrahim juga dilakukan pada 17-20 Oktober 2016 dengan menggelar Pendidikan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) ? digelar PW GP Ansor Lampung di Pesantren Darus Sholihin Kabupaten Tulang Bawang Barat. (Disisi Saidi Fatah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pendidikan, AlaNu Haedar Nashir

Haedar Nashir

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Solo, Haedar Nashir. Para santri SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Jombang, mengadakan kunjungan kampus ke Fakultas Pertanian dan Kedoketran Universitas Sebelas Maret Surakarta, Senin (21/4).

Di kampus itu, kedatangan mereka disambut Kaprodi Agribisnis Pertanian UNS, Dr. Mohd Harisudin, MSi. Dalam sambutannya Harisudin menyemangati para santri untuk tetap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Darul Ulum Kunjungi UNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Darul Ulum Kunjungi UNS

Kepada para santriwati, ia juga memaparkan potensi pesantren dalam bidang pertanian. “Pesantren punya peluang besar karena punya tenaga "gratis" santri yang bisa digunakan pesantren, sekaligus praktek santri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Harisudin yang juga pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Solo menyerukan kalimat sholawat dan dibalas secara spontan oleh para santri, dengan suara kencang dan bersamaan.

“Baru kali ini anak SMA yang berkunjung ke sini, sangat antusias mengucap shalawat,” katanya diikuti senyuman para santri. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Internasional Haedar Nashir

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Sumenep, Haedar Nashir. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep, Ubaidillah, melakukan klarifikasi seputar warta di Haedar Nashir (17/11) terkait ditundanya pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto, Sumenep. Menurutnya, kabar bahwa pelantikan tersebut tertunda gara-gara LSM Fajar Nusantara (Fans), tidak benar adanya.

“Yang benar adalah, acara pelantikan tersebut ditunda karena ada sisi teknis yang belum matang dalam kepanitiaan,” terang Ubaidillah kepada Haedar Nashir melalui telepon selulernya, Senin (18/11) siang.

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Ditambahkan Ubaidillah, Anwar Nuris yang menyebar kabar penyebab tertundanya pelantikan di jejaring sosial, bukanlah salah seorang pengurus PAC IPNU Bluto. Karenanya, apa yang disampaikan Anwar Nuris tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Haedar Nashir

“Anwar Nuris ini berada di luar struktur kepengurusan PAC IPNU Bluto,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kepada Haedar Nashir, Ubaidillah menceritakan kronologi tertundanya pelantikan yang sedianya akan dilangsungkan pada Jumat (15/11) lalu itu. Pihaknya menekankan betapa hal itu tidak ada kaitannya dengan LSM Fans.

“LSM Fans ini yang mengelola murni adalah Syaiful Harir. Dia minta bantuan ke teman-teman cabang (PC IPNU Sumenep, red) untuk mengurus acara. persiapan segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada saat itu, Ketua PAC IPNU Bluto Abdul Wahid memberitahukan kepada Ubaidillah melalui telepon, bahwa acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto dilangsungkan ba’da Jumat.

“Dan saya menyampaikan ke rekan-rekan PAC IPNU-IPNNU Bluto bahwa di cabang ada acara. Saya juga sampaikan bahwa apabila acara pelantikan itu memang sudah disepakiti, mohon tidak ditunda. Kami tetap akan hadir,” tambah Ubaidillah.

Tak berlangsung dari pemberitahuan yang pertama itu, Ubaidillah menerima pemberitahuan kedua. Pemberitahuan kedua ini menegaskan acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto ditunda, atas kesepakatan panitia.

“Diberitahukan kembali ke saya, acaranya diundur. Saya jawab tidak apa-apa walau diundur. Ketika saya tanyai alasannya, jawabannya karena ada sisi teknis yang belum matang. Mereka menghendaki acara sangat sukses,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hasil rapat pengurus PAC IPNU-IPNU Bluto, Jumat lalu, di Masjid Baiturrahman Gilang Bluto, pelantikan dan orasi Ke-IPNU-IPPNU-an akan ditunda sampai pada tanggal 22 November 2013 bertempat di Kantor MWC NU Bluto dengan tema “Menelaah Kembali Visi-Misi IPNU-IPPNU”. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Ahlussunnah Haedar Nashir

Jumat, 26 Januari 2018

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

KH Usman adalah putra pertama KH Abdurrohman Mranggen Demak, yang pada awalnya dididik langsung oleh orangtuanya sebelum disuruh mondok ke Brumbung Mranggen Demak yang di asuh oleh KH Ibrohim.

Selepas dari Brumbung, ia meneruskan belajar di pondok pesantren Lasem yang diasuh oleh KH Kholil dan KH. Mashum. Sekembalinya dari pesantren Lasem, pada tahun 1926 beliau berusaha mengembangkan pesantren Futuhiyyah dan pada tahun 1927 diserahi tanggung jawab mengelola pesantren di bawah pengawasan KH. Abdurrohman.

Usaha dawah yang dilaksanakan oleh beliau lebih banyak yang berorientasi keluar, dalam arti lebih sering melakukan dakwah keliling. Dawah keliling yang beliau lakukan berbentuk masrokhiyah (seni teater, sandiwara) dengan musik rebana yang dipandu dengan tarian zipin dan pencak silat yang disisipi ceramah agama.

Beliau lebih terkenal sebagai sosok seorang pendekar yang alim, karena pada saat itu wilayah Mranggen lebih dikenal dengan kaum abangan, jadi dawah dengan teater lebih menguntungkan.

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal KH Usman Abdurrahman Mranggen

Pada tahun 1927 ia dibantu oleh adiknya, KH Muslih, berusaha mendirikan madrasah yang kemudian diberi nama Futuhiyyah atas usulan adiknya. Namun madrasah yang baru berjalan satu tahun ini diminta NU untuk merealisasikan progam pendidikannya, tetapi perkembangan tersendat sendat dan akhirnya hilang. Selanjutnya tahun1929 beliau mendirikan madrasah lagi, namun tidak lama dibedol lagi oleh NU cabang Mranggen, dan nasibnya pun sama.

Sekitar tahun 1931, pimpinan diserahakan kepada KH. Muslih dan berhasil mendirikan madrasah tidak boleh dipindah atau dibedol. Setelah itu KH. Muslih pergi mondok lagi dan kepemimpinan pondok diserahkan lagi kepada KH. Usman dan madrasah diserahkan kepada KH Murodi beserta para guru.

Setelah KH Muslih pulang dari Termas sekitar tahun 1935 kepemimpinan pondok diserahkan kepadanya. Hal ini karena ia lebih memusatkan perhatiannya da’wah keliling dan NU cabang Mranggen, sedangkan KH. Murodi melanjutkan belajar di Makkah.

Haedar Nashir

Disamping itu ia juga membuka pesatren khusus putri yang diberi nama An Nuriyyah, sampai akhir hayat beliau tetap membantu pengajaran di pondok Futuhiyyah meski ia sudah memiliki pesantren sendiri. Beliau wafat pada tahun 1967 dengan menorehkan berbagai kemajuan selama masa kepemimpinan beliau di Futuhiyyah. Kemajuan selama masa kepemimpinan KH Usman diantaranya penataan manajemen pesantren, penataan manajeman madrasah, dan pendidikan seni dan keterampilan.

Selain itu masih banyak kemajuan kemajuan dan peran sertanya dalam pendidikan pesantren atau dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

?

Haedar Nashir

Abdus Shomad, Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Berita Haedar Nashir

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi

Oleh Yudi Latif



Saudaraku, tahun 638 Masehi, ketika Khalifah Umar dipandu menyusuri Yerusalem oleh Patriarch Sophoronius, Sang Khalifah menolak untuk menunaikan shalat di Anastasis; yang dipercaya sebagai tempat kematian dan kebangkitan Kristus. Ia khawatir, jika ia salat di sana, kaum Muslim akan mengubahnya menjadi tempat peribadatan Islam.

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Politik dan Pudarnya Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Politik dan Pudarnya Toleransi

Tidak hanya itu. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat menonjol dalam mengakui keabsahan agama-agama lain. Di bawah kejayaan Islam, orang Yahudi dan Nasrani dilindungi sebagai ahli kitab dan diberi kebebasan (relatif) untuk menjalankan agamanya.

"Sekali menyerah," tulis Karen Amstrong, "tak ada pembunuhan, tak ada perusakan properti, tak ada pembakaran simbol agama lain, tak ada pengusiran atau perampasan, dan tak ada usaha memaksa penduduk setempat untuk memeluk Islam." Ditambahkan oleh Montgomary Watt, "Secara keseluruhan, lebih banyak toleransi yang lebih jujur (genuine) bagi non-Muslim di bawah Islam, ketimbang bagi non-Kristen di bawah Kristen pada zaman pertengahan."

Haedar Nashir

Kedamaian memang tidak selamanya mewarnai sejarah Islam, tapi setidaknya ada monumen pencapaian. Semenanjung Iberia sering dirujuk sejarawan sebagai pusat teladan. Kedamaian Cordoba menarik orang-orang dari latar multikultur dan menjadi melting pot bagi seni dan kerajinan, ragam bahasa, budaya, filsafat, dan tradisi keagamaan. Raja Al-Hakam II terkenal sebagai patron para penyair, penulis, dan penari. Toledo dikenal sebagai kota tiga budaya, sebagai kristalisasi perjumpaan damai dari tiga agama (Islam, Kristen, Yahudi).

Haedar Nashir

Namun, hari ini, warisan luhur seperti itu lebih sering digunakan kalangan Islam sebagai alasan untuk menyudutkan lawan ketimbang sebagai sumber inspirasi untuk mempertahankan toleransi Islam. "Sekalipun sejarah Islam menunjukan toleransi yang kuat," ujar Trevor Mostyn (2002), "Islam politik belakangan cenderung menolak toleransi."

Di bawah politisasi agama oleh Islam politik, "pedang Tuhan" tidak hanya mengancam kebebasan orang/kelompok agama yang berbeda, melainkan juga sesama penganut Islam sendiri.

Dalam dua dekade terakhir, dunia mencatat beberapa landmark dari aksi-aksi kekerasan dan pembungkaman kebebasan di dunia Muslim. Terjepit di antara kekerasan negara, kekerasan pasar, dan kekerasan kelompok keagamaan, membuat watak sejati Islam kehilangan ekspresinya.

Dalam bayangan murung seperti itu, Indonesia banyak dipuji dunia sebagai komunitas Muslim yang paling menjanjikan. Dalam belasan tahun terakhir, represi negara terhadap kebebasan sipil dan politik berkurang secara drastis. Namun ancaman baru muncul berupa kekerasan dan fanatisisme kelompok-kelompok "sipil" (yang sebenarnya uncivil).

Di sini terbukti, masyarakat sipil tidaklah homogen seperti yang dibayangkan. Melainkan menjadi pertarungan di antara kelompok-kelompok ideologis yang berlawanan. Jika kata civil society itu merujuk pada istilah "societas civilis" yang menjunjung tinggi keadaban, maka benarlah pandangan para pemikir pencerahan bahwa kata civil society tidaklah diperhadapkan dengan "negara", melainkan dengan "fanatisisme".

Fanatisisme adalah paham yang melakukan penolakan terhadap representasi. Bentuk paling eksplisit dari penolakan tersebut adalah ikonoklasme: kebencian dan perusakan terhadap ikon dan citra.

Dalam seni, fanatisisme menolak representasi dengan melamurkan pandangan terhadap adanya "aesthetic gap" yang memisahkan realitas sungguhan dengan realitas rekaan sebagai karya seni. Padahal, interes seni terletak pada fakta bahwa tak ada aturan yang tetap dan diterima secara umum yang menghubungkan realitas yang direpresentasikan dengan representasi karya seni. Dengan menolak prinsip representasi yang memungkinkan seniman mengembangkan interpretasi dan rekaan, fanatisisme telah membunuh kreativitas imajinatif sebagai nyawa kesenian.

Dalam politik, fanatisisme menolak representasi dengan mengabaikan adanya "ruang antara" yang memungkinkan interpretasi manusiawi, antara "kota Tuhan" dan "kota duniawi", antara agama dan negara, antara teks-teks kitab suci dan konteks-konteks yang spesifik, antara rakyat dan lembaga-lembaga perwakilan. Dengan menolak prinsip representasi dalam politik, fanatisisme menghadirkan Tuhan dalam wajah yang bengis, membunuh akal pikiran, membungkam perbedaan pendapat, dan memaksakan hukum besi.

Fanatisme, yang lahir dari ketidakpercayaan diri untuk menghadapi perbedaan pikiran, merendahkan kemuliaan bani Adam. Kebebasan berekspresi (al-hurriyah al-ray wa al-tabir) merupakan unsur konstitutif kemuliaan itu. Al-Qur’an menyatakan bahwa martabat dan hak asasi manusia harus dijunjung tinggi: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak adam" (Q.S. 17: 70). Dengan begitu, menjaga martabat manusia lebih penting dari semua hambatan rasial, sosial, atau religius yang mengotak-ngotakkan kemanusiaan.

Syariat menjamin kebebasan ekspresi selama itu tidak meluncurkan fitnah, penistaan, penghinaan, dan kebohongan (manipulasi dan distorsi informasi) serta tidak membangkitkan kemerosotan moral (keadaban publik), korupsi, dan permusuhan.

Saatnya menghormati perbedaan!

Penulis adalah pemikir bidang keagamaan dan kenegaraan; penulis buku "Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila"



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Daerah Haedar Nashir

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Tegal, Haedar Nashir.



Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Umi Azizah : Muslimat Perkuat Ketahanan Keluarga

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Dra Hj Umi Azizah menjamin Muslimat NU mampu memperkuat ketahanan keluarga. Pasalnya, seluruh anggota yang terlibat mampu membentengi diri dan keluargannya dari virus virus negative perkembangan zaman. Bahkan lewat Muslimat NU, mampu mengantarkan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.

Demikian disampaikan Umi Azizah dalam perbincangan dengan Haedar Nashir di ruang kerjanya kantor Wakil Bupati Tegal, Kamis (8/12).?

Menurutnya, ketahanan keluarga sangat vital karena berpengaruh langsung terhadap ketahan negara. Bila keluarga rapuh, maka Negara akan ambruk. Peranan itu, tentu saja sangat bergantung kepada seorang Ibu, Wanita yang merupakan tiang Negara.?

Haedar Nashir

Muslimat NU Tegal, lanjutnya, dalam menjaga ketahanan keluarga melalui berbagai bidang program. Seperti bidang pendidikan, social, ekonomi, lingkungan hingga dakwah. ? Dari bidang bidang tersebut, diarahkan untuk menjaga delapan fungsi keluarga sebagai pusat agama, social, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pelestari lingkungan dan fungsi reproduksi. “Dengan memanfaatkan fungsi fungsi tersebut, akan tercipta keluarga yang berkualitas, berdaya guna dengan hiasan anak yang saleh saleha,” ucapnya.?

Tidak dipungkiri, kata Wakil Bupati Tegal ini, perubahan dunia menjadi tantangan yang tidak ringan bagi seorang ibu, termasuk organisasi kewanitaan seperti Muslimat NU. Juga lahirnya gerakan radikalisme dan bahaya narkoba, menjadi pekerjaan rumah tersendiri agar anak-anak kita tidak terpengaruh. “Upaya penguatan sebagai benteng dan filter dari berbagai tantangan tersebut, menjadi fardlu ain bagi Muslimat NU,” tegasnya.

Untuk itu, lanjutnya, program yang dijalankan Muslimat pun selalu berpihak pada kepedulian kebutuhan Nahdliyin. Diantaranya, menggelar kursus pra nikah untuk memberi pencerahan kepada calon pengantin tentang kesehatan reproduksi. Apalagi trend pernikahan dini tidak bisa dibendung. Padahal, pernikahan dini rentan dengan peningkatan Angka Kematian Ibu atau Maternal Mortality Ratio (MMR), Angka Kematian Anak (AKA), Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Ibu (AKI).

Muslimat juga membantu keluarga tak jelas, dengan menggelar sidang terpadu itsbat nikah. Atau menetapkan Akad Nikah yang telah dilaksanakan sesuai dengan Syari’at Islam (Hukum Munakahah) akibat poligami misalnya, agar tercatat dalam Register Nikah di Kantor Urusan Agama Kecamatan yang berwenang. “Dengan demikian, hak-hak anak akan terpenuhi. Muslimat NU juga membantu percepatan pembuatan akte kelahiran yang ditangani PAC,” ujarnya.

Selain itu, Umi gembira karena Muslimat lebih intensif dalam menyelenggarakan pengajian. Istilah Tegalnya, laka dina gabuk (tiada ada hari kosong) dalam hal pengajian. PC pun menyelenggarakan Pengajian keliling ke 19 PAC. Yang paling menggembirakan se Kabupaten Tegal ada 987 majelis taklim.

Haedar Nashir

Program lain, pelatihan ketrampilan hasil usaha kreatif. Dari kelompok usaha terbentuklah Kelompok Usaha Bersama (KUBE), hingga mencapai 319 Kube di seluruh ranting se Kabupaten Tegal. “Koperasi Anisa Muslimat, turut membantu pemasaran dan penyertaan modalnya juga,” terang ibu dari 6 anak ini,?

Di bidang social, masih kata Umi, Muslimat NU Tegal menangani Pendidikan Anak Usia Dini, Tercatat ada 97 Taman Kanak-kanak (TK) Muslimat NU, 67 Kelompok Bermainn (KB), dan 39 Raudlatul Athfal (RA) serta 548 Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).?

Karya Muslimat NU berupa Metode Asyifa telah direkomendasikan oleh Yayasan pendidikan Muslimat NU (YPM NU) pusat, untuk dijadikan bahan pembelajaran resmi di TPQ TPQ seluruh Indonesia. “Metode Asyifa telah digunakan di Tegal sejak Juni 2002 dan tahun 2016 baru direkomendasikan untuk digunakan di berbagai TPQ seluruh Indonesia,” ucapnya bangga.?

Untuk Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) telah mendirikan Darul Yatama dengan ratusan anak yatim piatu yang diasuh. Yayasan Haji Muslimat NU (YHM NU) juga terus berkembang. Pada musim haji 2016, KBIH YHM NU memberangkatkan 160 jamaah haji. Sedangkan untuk tahun 2017, sudah masuk 137 calhaj yang tergabung ke KBIH YHM NU. Tapi biasanya, akan terus bertambah jumlah calhaj yang tergabung ketika mendekati manasik,” tuturnya.?

Kepada para ibu-ibu muda maupun sepuh, Umi mengajak untuk tidak jemu-jemu berorganisasi di Muslimat ataupun Fatayat. Karena nilai faedahnya lebih besar jika dibandingkan dengan mudlaratnya. “Yang penting tidak melupakan pendidikan anak-anaknya dan selalu menjadi pendamping suami setia,” pungkasnya. (wasdiun).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Humor Islam Haedar Nashir

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Jombang, Haedar Nashir. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) Jawa Timur mengingatkan anggotanya akan tantangan ke depan khususnya menjeleng perdagangan bebas kelak. Banjirnya produk luar negeri dan tenaga kerja asing ke Tanah Air hanya dapat ditangani dengan penguatan jaringan pengusaha santri.

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Perdagangan Bebas, HIPSI Jatim Sinergikan Potensi Santri

Demikian disampaikan Ketua HIPSI Jatim Sulayman yang akrab disapa Pak Leman dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) sekaligus silaturahim dan pelatihan Informasi dan Teknologi di Pondok Pesantren Al-Ilahiyah Ngoro Jombang, Jawa Timur, Sabtu (30/11).

Pak Leman yang juga pengusaha kertas bekas di Jombang ini mengingatkan tantangan berat itu dapat dilawan dengan mempererat tali silaturahmi dan kelengkapan struktur organisasi HIPSI di setiap kota dan kabupaten.

Haedar Nashir

Sejumlah kepengurusan di tingkat pusat dan wilayah harus juga diimbangi dengan kelengkapan kepengurusan di level kecamatan hingga desa. Karena, bila hal itu dapat dilakukan, maka ketersediaan barang dan jasa dari sejumlah pengusaha santri dapat disinergikan dan didistribusikan hingga level paling bawah, lanjutnya.

Senada dengan Leman, Ketua Umum HIPSI Muhammad Ghozali yang hadir pada kegiatan itu juga mengingatkan pentingnya sinergi sejumlah potensi ekonomi para santri yang sebenarnya berpotensi sangat besar.

Haedar Nashir

“Kita prihatin karena negeri ini hanya dikuasai orang kaya yang tidak berlatar belakang santri,” katanya saat memaparkan hasil survey sebuah majalah yang menampilkan sejumlah orang kaya di Tanah Air.

Tampilnya pengusaha kaya dari kalangan nonsantri dan bukan warga negara kita mengindikasikan bahwa pemilik negeri ini adalah ternyata orang lain, ungkapnya.

Dengan sejumlah fakta itu, ia mengajak para pengurus untuk terus bergerak mengisi kesempatan untuk bakti kepada bangsa dan masyarakat. Kalau saya mengibaratkan, kita adalah setetes air mata. Bila diakumulasikan, maka akan menjadi lautan samudera, terangnya.

Dengan visi menciptakan satu juta santri pengusaha di tahun 2022 kelak, HIPSI akan terus bergerak dalam upaya melengkapi kepengurusan di berbagai kawasan. Kita optimis akan lahir pengusaha besar nasional dari kalangan santri, imbuhnya.

Di HIPSI ada jabatan ketua, sekretaris, wakil sekretaris, bendahara, dan ketua bidang. Sedangkan kepengurusan dibedakan dengan tugas organisasi dan pengkaderan, pendidikan wirausaha dan pembinaan usaha pemula, usaha, koperasi dan UKM, bidang IT, publikasi dan media, industri kreatif dan seni, kerjasama luar.

Ada juga hubungan pesantren dan sosial kemasyarakatan, perdagangan dan perindustrian, pertanian serta peternakan, properti dan konstruksi, dan pemberdayaan wanita. ? Kami juga memiliki bidang koordinator kampus, serta penelitian dan pengembangan, lanjut Ghazali. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail, Kajian Haedar Nashir

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

Pekalongan, Haedar Nashir. Habib Luthfi bin Yahya menyarankan, uang yang masuk ke masjid jangan diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, sebab nanti alokasinya hanya akan kembali ke masjid saja. Jika diatasnamakan wakaf atau sedekah jariyah, maka kas masjid akan menumpuk karena tidak bisa dialokasikan ke yang lain. 

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi: Sebaiknya Uang Masjid Jangan Diatasnamakan Wakaf atau Sedekah Jariyah

"Sebaiknya uang masjid diatasnamakan dana sosial saja, supaya pihak takmir lebih leluasa mengelolanya dan bisa mengalokasikan labanya kepada selain masjid," jelas Habib Luthfi di majelis Jumat Kliwon yang berlangsung di Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (5/1).

Dikatakan Habib Luthfi, melalui dana sosial yang terkumpul di masjid tersebut, dapat dibuat untuk mendirikan supermarket, toko kecil-kecilan, sampai bisa membeli lahan sawah atau kebun. Tanamilah lahan itu dengan singkong atau padi. 

"Hasil dari usaha itu semua bisa untuk kepentingan umum masyarakat, seperti membantu biaya pemakaman, membelikan sarung untuk jamaah masjid yang tidak punya sarung, membantu modal usaha, dan lain-lain," ujarnya.

Haedar Nashir

Habib Luthfi kurang setuju jika dana masjid menumpuk karena diatasnamakan wakaf, namun kaum fakir-miskin masyarakat setempat tidak terurus. Nanti kalau ada missionaris masuk dengan membawa mie instan, beras dan lain-lain, baru geger.

Bukannya kita ingin memanjakan kaum fakir-miskin, tapi ingin memberdayakan mereka. Jangan beri mereka ikan, tetapi berilah kail agar mereka bisa mencari ikan sendiri.

Selanjutnya Habib Luthfi mempersilahkan dana yang masuk ke masjid atau musholla dimanfaatkan untuk mendirikan lembaga keuangan mikro tanpa riba. 

"Jika saya memberi penjelasan lebih, mungkin sedikit akan menyinggung perasaan sebagian orang. Mereka yang sering umroh, mungkin dalam setahun bisa 2 atau 3 kali, coba uangnya dialokasikan saja untuk kesejahteraan umat. Taruhlah jika biaya umroh 1 kali adalah 20 juta, maka sudah berapa dana yang akan terkumpul ? Itu baru 1 orang, bagaimana jika dari banyak orang? Kalau umroh mungkin hanya untuk mendapat nama saja, agar disebut mampu umroh berkali-kali," tandasnya.

menurut Habib Luthfi, biaya yang akan digunakan umroh tersebut bisa digunakan untuk memberi pinjaman modal pada tetangganya yang kekurangan, dengan tanpa bunga dan pengembaliannya dibebaskan kapan saja, jangan sampai bisa umroh berkali-kali namun tetangga kanan-kirinya kelaparan. (Abdul Muiz/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Haedar Nashir

Kamis, 25 Januari 2018

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa shalat Jumat di jalan raya tidak sah, bahkan bisa haram jika menggangu ketertiban umum dan masalah sosial.

"NU melalui Lembaga Bahtsul Masail sudah mengeluarkan fatwa, Jumatan di jalan tidak sah," ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj saat memberikan sambutan dalam Kongres ke-17 Muslimat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (24/11).

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Tegaskan Shalat Jumat di Jalanan Tidak Sah

(Baca: Ini Pandangan Fiqih PBNU Soal Shalat Jumat di Jalanan)

Kiai Said menjelaskan kembali kepada awak media usai memberikan sambutan bahwa fatwa itu didasarkan pada kajian kiai dan ulama NU selama beberapa waktu terakhir. Para ulama dan kiai NU mendasarkan fatwa itu kepada mazhab Imam Besar Syafii dan Maliki.

"Madzhab Maliki dan Syafii itu kalau imamnya di masjid, makmumnya keluar-keluar di jalan enggak apa-apa, tetapi kalau sengaja keluar rumah mau shalat Jumat di jalanan, shalatnya enggak sah," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Haedar Nashir

Menurut kedua madzhab tersebut, lanjutnya, Jumatan harus di dalam bangunan yang sudah diniati untuk shalat Jumat di sebuah kota atau desa. Madzhab tersebut patut diterapkan di Indonesia saat ini. Sebab, jika shalat dilakukan di sembarang tempat, apalagi di tempat umum, mengurangi kekhusyukan ibadah itu sendiri sekaligus mengganggu ketertiban umum.

Seperti diinformasikan, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) akan menggelar Aksi Bela Islam III pada 2 Desember 2016. Mereka kembali melakukan aksi tersebut karena Gubernur DKI Jakarta Nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sampai saat ini belum ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar

Jakarta, Haedar Nashir. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menegaskan untuk mengatasi kesenjangan sosial yang terjadi di sekitar kita harus dibarengi dengan tabayun ke arah internal, agar tidak mudah menyalahkan pihak-pihak di luar kita.

Hal tersebut disampaikan Mensos saat mengisi “Pelatihan Dai Daiyah Kader NU” di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (31/5) pagi.

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Introspeksi ke Dalam Agar Tak Mudah Menyalahkan Pihak Luar

Dirasakan Presiden, lanjut Khofifah, kesenjangan ekonomi masih lebar. Jadi kita harus senafas dan searah dengan kebijakan presiden dalam mengatasi kesenjangan. Dalam MoU PBNU dengan Kementerian Ekonomi, pemerintah menggulirkan 1,6 triliun untuk permodalan usaha.

“Kita harus lihat kemampuan kita dalam menyerap modal itu,” kata Mensos.

Haedar Nashir

Kemampuan menyerap sangat penting diperhatikan, karena dilakukan validasi oleh Kemenkeu. “Ketika dibuka peluang, perlu pertanyaan kembali baru bisa terserap berapa persen,” lanjut Khofifah.?

Khofifah mengaku sering menyampaikan hal tersebut di banyak kesempatan, termasuk peluang redistribusi aset yang dilakukan pemerintah. Hal itu memberi peluang bagi NU seberapa banyak ? memanfaatkannya.

Haedar Nashir

Khofifah mengibaratkan, peluang-peluang tesebut bagi NU ibarat hujan ekonomi, tinggal bagaimana dan dengan apa menampungnya.

“Kalau hanya punya mangkok, ya hanya mangkok itu yang bisa menampung hujan tadi. Mestinya tidak hanya mangkok, tapi bisa ember, danau, atau waduk,” ungkapnya.

Khofifah menyebut forum tersebut sangat penting untuk melakukan tabayun dan muhasabah bersama.“Mari tanya dan koreksi apa yang jadi penyebab kesenjangan kita,” tandas Khofifah. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga

Bogor, Haedar Nashir

Forum antar-Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan (Fapsedu) kumpulkan ratusan tokoh lintas agama se Indonesia untuk membahas masalah revolusi mental melalui keluarga. Pembahasan itu di rangkai dalam seminar nasional yang digelar di Hotel Pangrango 2 Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/4).   

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental Harus Dimulai dari Lingkungan Keluarga

Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty dalam pembukaannya mengatakan, bahwa revolusi mental berarti siap menjadi orang yang berintegritas, etos kerja yang tinggi dan semangat gotong royong. Pembentukan karakter inilah menjadikan manusia jujur, cerdas dan mau bekerjasama, serta saling tolong menolong demi kemaslahatan umum. "Jadi, manusia yang dikatakan berhasil melakukan revolusi mental adalah manusia yang merdeka dan demokratis, tentu bebas dari sifat feodalistis," ujarnya dihadapan para peserta seminar.

Dikatakannya, saat bicara penduduk, tentu tidak lepas dari masalah kuantitas, kualitas dan mobilitas penduduk. Tiga masalah pokok inilah yang menjadi konsen dan tugas BKKBN dalam menggarap penduduk Indonesia sesuai dengan peraturan Undang-undang nomor 5 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga yakni KKBPK (Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga). "Ini berarti, soal kuantitas, soal kualitas kependudukan dan soal data kependudukan yang harus kita tingkatkan," ujar Surya.

Revolusi mental berbasis Pancasila ini, akan menghasilkan tri sakti Bung Karno yakni berdikari dalam ekonomi, keadilan dan kerakyatan yang sesuai dengan lima sila Pancasila. "Inilah yang menjadi semangat kami untuk menghadapi tantangan kependudukan dalam menghadap bonus demografi," ujarnya

Haedar Nashir

Untuk itulah, peran tokoh agama didalam melakukan revolusi mental masyarakat sangat penting, karena kualitas, kuantitas kependudukan menjadi berbeda menakala karakter masyarakat menjadi baik. Tanpa itu, tentu akan menjadi bencana yang sangat mengerikan. "Kerusuhan, pembegalan, dan kriminal di masyarakat akan menjadi bencana negara Indonesia, belum lagi menghadapi MEA, makanya tanpa revolusi mental penduduk kita tidak akan bisa bersaing dengan negara lain," terang Surya. 

Ia berharap, seminar tokoh lintas agama berhasil merumuskan dan menghasilkan pokok-pokok penting tentang  revolusi mental kependudukan yang digali dari berbagai sumber pedoman dan kitab lintas agama. "Kami meminta para tokoh agama yang tergabung dalam Fapsedu merumuskan revolusi mental dalam mendukung program nawa cita," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Fapsedu KH. Cholil Nafis mengatakan, pasca reformasi diantara institusi negara yang lemah adalah BKKBN dalam artian pegawai yang terbatas dan kewenangan yang berkurang. Karena bahasan kekeluargaan terbagi di banyak institusi lain, ada di Kemensos, Kemenag dan lain sebagainya. "Kami ingin saat bicara keluarga tidak perlu di pecah-pecah melainkan hanya ada di BKKBN, agar lebih fokus mengurusi keluarga Indonesia," ujar mantan pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) ini.

Oleh karena itu, lanjutnya, kekurangan ini, tentu butuh tokoh agama yang  lebih maksimal dalam berperan. Bahwa berdirinya republik ini  tidak lepas dari peran tokoh agama. Berani berjuang, berani mati juga karena peran tokoh agama. Meskipun agama tidak diformalkan menjadi sebuah negara agama namun dan memilih Pancasila sebagai dasar negara demi keutuhan NKRI. "Maka sangat tepat sekali para tokoh agama berkumpul untuk membicarakan peran tokoh agama didalam melakukan revolusi mental melalui jalur keluarga demi terciptanya karakter bangsa," ungkapnya.

Menurutnya, peran tokoh agama didalam keluarga, dan bahkan dalam menentukan arah tujuan bangsa adalah sangat sentral. Tidak mungkin perubahan hanya menyerahkan kepada sekolah, apalagi dengan masyarakat atau institusi lain. "Mari kita bersatu bersama-sama untuk merevolusi mental dengan spirit agama," ujar Cholil.

Haedar Nashir

Banyaknya kasus perceraian di  Indonesia, terjadinya pelecehan anak, kekerasan rumah tangga dan tindak kriminal didalam kelurga adalah bukti bahwa didalam keluarga butuh sentuhan tokoh agama untuk meluruskan dan menjadi keluarga yang baik dan kokoh. "Sekali lagi, peran tokoh agama di dalam keluarga sangat penting, karena tanpa revolusi mental selamanya tidak ada perubahan," pungkas Cholil. (Huda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh, Hikmah Haedar Nashir

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

Jakarta, Haedar Nashir

Puncak peringatan Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jumat (23/12) menjadi ladang mencari rezeki bagi puluhan pedagang, tasbih, kaos, makanan cepat saji, minuman dan mainan anak, termasuk pedagang sayuran.

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pedagang Sayur Cari Rezeki di Haul Gus Dur

“Alhamdulillah laris,” ujar Indra Aldiansyah, di areal kediaman Gus Dur, Jalan Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Sembari tersenyum, warga Ciganjur itu mengaku baru pertama kali berdagang sayuran di Haul Gus Dur. “Biasanya berdagang di pasar. Di Haul Ini baru pertama kali berdagang, yang unik biasanya yang dicari,” kata dia menjelaskan alasan memilih tetap berdagang sayuran.

Di antara lalu-lalang jamaah, pedagang makanan, minuman hingga souvenir yang memasarkan dagangan di sebelah perusahaan taxi, Indra memasarkan dagangannya seperti caisim atau sawi hijau, kol, bawang merah, bawang putih, kentang, jagung, kacang panjang, sawi, wortel, tomat, daun bawang, jeruk nipis, ? pepaya, salak dan buah naga.

“Bawangnya Rp25 sekilo, cabai merah panjangnya Rp35 sekilo,” teriak Indra yang malam itu mengenakan celana jeans coklat dan kemeja hijau.

Haedar Nashir

Ia mengaku, bawang yang dijualnya sudah habis satu karung, jumlahnya kira-kira lebih dari 50 kilogram. “Sebagian sayuran dari Pasar Induk, sebagian lagi dari Pasar Kemang, Bogor, Jawa Barat,” katanya.

Sejumlah pejabat negara hadir pada Haul Gus Dur, seperti Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Tito Karnavian, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.

Terlihat pula sejumlah seniman seperti Joko Pinurbo, Asep Zamzam Noor, Sujiwo Tedjo dan Zastrouw Al-Ngatawi. Termasuk Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas, Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna H Alfa Isnaeni, sejumlah pengurus DPP K Sarbumusi NU dan para pemuka lintas agama.

Haedar Nashir

Puncak Haul diisi tausyiah oleh Habib Umar Muthohar dan ditutup doa oleh Habib Jafar Alkaff yang memimpin doa agar Indonesia aman dan ekonomi rakyat menjadi lancar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

Dalam shalat dikenal istilah takbir intiqâl, yakni kesunahan mengucapkan kalimat takbir ? ? setiap kali perpindahan gerak. Ada satu yang berbeda, yakni ketika bangun dari ruku’, bukanlah kalimat takbir yang sunah diucapkan, melainkan kalimat tasmi’  ? ? ? ?.

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I’anatut Thalibin (Beirut: Darul Fikr, 1997) meriwayatkan sebuah kisah yang menjadi penyebab perbedaan kesunahan ucapan ketika bangun dari ruku’ ini sebagai berikut.

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Awal-awal Baca Samiallah Liman Hamidah saat Bangun dari Ruku

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ?: ? ?. ? ? - ? ? ? ? -. ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ?. … ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Sebab kesunahan ucapan ? ? ? ? ialah bahwasanya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq RA tidak pernah sama sekali tertinggal shalat berjama’ah di belakang Rasulullah SAW. Hingga pada suatu ketika, saat shalat ashar, Sahabat Abu Bakar RA tertinggal shalat bersama Rasulullah SAW. Sahabat Abu Bakar sangat bersedih dan bergegas masuk masjid.

Haedar Nashir

Sampai di masjid, ia masih bisa menemui ruku‘ Rasulullah, maka ia berucap: “Alhamdulillah” sebagai bentuk pujian terhadap Allah, lantas takbiratul ihram dan shalat di belakang Rasulullah SAW.

Haedar Nashir

Jibril kemudian turun saat Nabi sedang ruku‘ sambil berkata: “Wahai Muhammad, ucapkan ? ? ? ? . ‘Allah mendengar orang-orang yang memuji-Nya.’ …baca kalimat itu setiap shalat saat bangun dari ruku‘.

Sebelum kejadian ini setiap akan ruku‘ dan bangun dari ruku‘ yang dibaca adalah takbir. Berkah dari Sahabat Abu Bakar RA membuat tasmi’ jadi disunahkan.”

***

Dari kisah di atas bisa dipahami bahwa kesunahan tasmi’ saat bangun dari ruku‘ merupakan jawaban atas pujian yang disampaikan oleh Sahabat Abu Bakar RA karena ia masih tetap bisa menjaga keistiqamahan shalat berjama’ah bersama Rasulullah SAW. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Kajian Haedar Nashir

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Lampung Selatan, Haedar Nashir. Peresmian pesantren tahfidz El-Karimi Syah ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua PWNU Lampung KH RM Soleh Bajuri, Ahad (18/1). Pesantren yang berlokasi di desa Purwodadi Rulung Raya Natar, Lampung Selatan ini dimaksudkan menjadi sarana pembinaan agama bagi masyarakat setempat.

Dalam peresmian ini tampak hadir tokoh-tokoh NU Lampung Selatan, Camat, Lurah, dan masyarakat desa Purwodad.

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Lampung Resmikan Pesantren Tahfidz Lampung Selatan

Pendiri pesantren Huffadz El-Karimi Syah KH Munirul Ikhwan mengatakan, “Pesantren yang baru saja diresmikan Kiai RM Soleh Bajuri bertujuan menciptakan generasi yang memahami ilmu agama yang mendalam demi kemajuan umat Islam khususnya di Lampung.”

Haedar Nashir

Sementara Kiai RM Soleh Bajuri menyatakan apresiasi terhadap upaya pendirian pesantren yang dilakukan oleh pimpinan pesantren Huffadz El-Karimi Syah. Menurutnya, pendirian pesantren ini menjadi angin segar yang menrupakan bentuk kepedulian NU terhadap kondisi masyarakat.

Sudah tidak diragukan lagi pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua jauh sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini pesantren masih berkontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. (Rudi Santoso/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Pemurnian Aqidah Haedar Nashir

Rabu, 24 Januari 2018

Hasyim Muzadi Tokoh Paling Berpengaruh dari Indonesia

Jakarta, Haedar Nashir. Indonesia dianggap memiliki cukup banyak tokoh yang memiliki pengaruh penting di dunia Muslim. Dari 500 tokoh yang disebut dalam buku The 500 Most Influential Muslim 2009, terdapat 15 tokoh Indonesia, dengan KH Hasyim Muzadi sebagai tokoh terpenting yang menduduki urutan ke 18 tokoh dunia atau urutan pertama untuk Indonesia. Tokoh paling berpengaruh adalah Raja Abdullah dan dilanjutkan dengan Ayatullah Khamanei.

Buku yang baru diterbitkan untuk edisi pertama ini diterbitkan oleh The Royal Islamic Strategic Studies Center (di Jordan) bekerjasama dengan Georgetown’s Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding.

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Saat ini dunia maya khususnya Media Sosial menjadi medan pertarungan baru di era digital dengan konten-konten yang diproduksi untuk mempengaruhi siapa pun yang masuk di dalamnya. Berbagai informasi silih berganti tiada henti memenuhi dunia maya dan dengan tingkat keshahihan yang patut untuk diteliti lagi.

Hal ini dikatakan praktisi media yang juga Direktur Haedar Nashir Savic Ali di depan peserta Forum Dialog Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI bekerja sama dengan MUI Provinsi Lampung di Hotel Novotel Bandar Lampung, Sabtu (14/10).

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial Jadi Medan Pertarungan Baru di Era Digital

Ia mengingatkan bahwa saat ini sebuah tulisan dalam media sosial yang tidak jelas sumber dan penulisnya layak dan patut untuk tidak dipercaya. "Saat ini sebuah tulisan seperti hadits. Kalau sanad dan rowinya tidak jelas walaupun matannya bagus layak untuk tidak dipercaya," katanya.

Savic juga menambahkan bahwa konten-konten yang beredar di Media Sosial dari hari ke hari semakin beragam. "Jempol kita lebih cepat dari kepala kita dan saat ini yang dibaca di media online cenderung lebih gampang dipercayai," katanya.

Melihat manfaat media sosial untuk mempengaruhi masyarakat khususnya terkait pemahaman keagamaan, Savic menilai bahwa saat ini media sosial banyak didominasi oleh dai yang memahami ilmu agama secara tekstual.

Haedar Nashir

"Banyak Dai di dunia maya tekstualis. Tidak melihat dan merasakan kondisi sosiologis dan kultur masyarakat di Indonesia," katanya seraya mengingatkan jika kondisi ini dibiarkan maka dapat mengakibatkan perwajahan Indonesia berubah di masa depan.

Sehingga Ia mengajak kepada para kiai dan tokoh agama yang memiliki fikrah wasathiyah (moderat) untuk ikut mengisi dunia maya dengan konten-konten memyejukkan dalam bentuk tulisan, audio maupun video.

"Mari isi konten dunia maya dengan hal positif yang menerima keragaman di Indonesia. Kalau kita tidak aktif bisa jadi generasi kita akan dibentuk oleh orang yang tidak bertanggung jawab," ajaknya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan beberapa langkah dalam mengisi konten di antaranya menyiapkan konten yang akan dipublikasikan, menentukan platform yang akan digunakan sebagai media publikasi dan mengorganisir konten sehingga dapat maksimal diakses oleh warganet. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Budaya Haedar Nashir